[FF] Back to Normal

Aku dan dia bertubuh sama. Rambut kami sama-sama pendek. Tubuh kami sama-sama tegap. Tangan kami sama-sama kekar. Dada kami sama-sama rata. Namun kami sama-sama saling mencintai dan memiliki satu sama lain. Ada orang bilang, cinta yang kami rasakan ini tidak normal. Tapi kami tidak peduli. Yang merasakan cinta membara di dalam dada itu kami, bukan mereka. Yang berjanji untuk bersama selamanya itu kami, bukan mereka. Kekasihku pernah mengatakan hal ini padaku. Dari kata-kata itulah akhirnya kami bisa hidup bersama di sebuah rumah sederhana yang ia beli dari gajinya sebagai seorang penyanyi.

Ya, tak ada yang tahu bahwa seorang Kim Jongwoon yang bernama panggung Yesung itu seorang gay. Dan aku, Kim Ryeowook, seorang lelaki biasa yang bekerja sebagai stylish-nya adalah kekasihnya. Kami akrab dengan sendirinya karena pertemuan di studio dan orang-orang tak ada yang curiga dengan kedekatan kami. Woonie, begitu sebutan kesayanganku untuknya, bilang bahwa aku adalah teman masa kecilnya yang sudah lama tidak bertemu. Dia menjelaskan bahwa “Woonie” dan “Wookie” memang sebutan akrab kami semasa sekolah. Semuanya percaya akan kebohongan itu. Semuanya percaya bahwa hubungan kami hanyalah hubungan antara sahabat lama yang baru bertemu kembali setelah beberapa tahun berpisah. Semuanya begitu tertutup rapi. Semua kebohongan kami, sandiwara-sandiwara kami, tak ada satupun orang lain yang mengetahuinya. Tak ada yang tahu bahwa di balik itu ada rahasia besar. Rahasia yang hanya aku dan dia yang tahu.

 

Tapi, yang namanya kebohongan, suatu saat pasti terbongkar juga. Inilah hal yang paling kutakuti, dan akhirnya terjadi juga. Suatu malam, saat aku dan Woonie sedang asyik bercengkerama di depan TV, seseorang mengetuk pintu rumah. Aku segera melepaskan diri dari pelukan Woonie dan menatap ke arah pintu. Woonie mendengus pelan dan berjalan menuju pintu. Aku ikut di belakangnya. Woonie membuka pintu dan tertegun.

“Hyung, kau tidak akan percaya ini!” Hyukjae, rapper terkenal yang sedang naik daun, menunjukkan sebuah majalah ke hadapan muka Woonie. Aku melirik majalah tersebut.

“Wook, Hyung, kalian benar-benar harus berpisah…” Hyukjae Hyung menggeleng pelan. Aku tersentak, Woonie apalagi.

“Ba-bagaimana mungkin media mengetahui hubungan kami?” tanya Woonie. Hyukjae Hyung mendesah pelan.

“Entahlah. Yang jelas hampir semua orang membicarakan tentang kalian!”

“Mworago?!” seru Woonie. Aku masih terpaku, kata berpisah masih terngiang di telingaku. Haruskah ini benar-benar terjadi? Salahkah cinta yang kami alami?

“Lagipula kalau kalian bersama selamanya, mana ada yang mau menikahkan kalian!” Nada suara Hyukjae Hyung mulai meninggi.

“Di Los Angeles, gay pun bisa menikah.”

“Kau bisa menikah di sini, dengan seorang perempuan.” Hyukjae Hyung terlihat prihatin. Dia lalu melanjutkan, “Aku punya beberapa kenalan cantik, akan kukenalkan padamu.”

“Tidak usah, aku hanya mau Wookie.”

“Hyung, please, semua orang sudah mencapmu seorang gay!”

“Aku tidak peduli.”

“Kau HARUS peduli! Pikirkanlah masa depan kalian juga! Aku tidak mau orang tuamu meninggal karena mendengar anaknya gay!”

“Hentikan, Hyukjae! Orang tua Wookie sudah meninggal!” teriak Woonie. Aku menunduk dalam, tapi aku bisa merasakan Hyukjae Hyung menatapku. Aku bisa merasakannya berjalan ke arahku dan menyentuh bahuku. Ia meremas bahuku, seakan memberiku ketegaran.

“Maafkan aku,” ucapnya pelan. Aku hanya mengangguk, masih sambil menunduk.

“Oke, sekarang kalian benar-benar harus berpisah. Atau…” ucapan Hyukjae Hyung dipotong Woonie.

“Aku akan mencari seorang gadis yang bisa membantuku dengan kasus ini. Hubunganku dan Wookie masih berjalan. Gossip hanya bertahan selama 75 hari, bukan?” Aku tertegun. Hyukjae Hyung terlihat setuju dengan perkataan Woonie.

“Ya, lebih baik begitu. Mulai sekarang kau harus mendekatkan diri dengan seorang gadis, sebaiknya kau juga, Ryeowook, agar semua tidak curiga.”

“Arasseo…” lirihku.

“Oke..aku pulang dulu. Hati-hati. Annyeong!” Hyukjae Hyung pamit. Woonie menutup pintu. Kami terdiam beberapa saat.

“Wook, sepertinya aku harus pindah rumah. Kau tempati saja rumah ini.”

“Heo? Wae?”

“Aku takut media mengekspos tempat ini juga, dan kita akan kacau nantinya!”

“Ah…arasseo..”

“Jaga diri baik-baik ya.” Woonie menatapku sayu. Aku mengangguk.

“Oh ya, nanti-nanti panggil aku Jongwoon, aku akan memanggilmu Ryeowook.”

“Aku tidak boleh memanggilmu Woonie lagi?”

“Boleh, tapi jangan terlalu sering. Kecuali jika kita berdua saja yang ada di rumah. Kau bebas melakukan apapun denganku.” Woonie, maksudku Jongwoon, tersenyum. Aku memaksakan seulas senyum tipis.

 

Dan begitulah. Jongwoon pindah ke rumahnya yang jauh lebih besar, sedangkan aku masih menempati rumah sederhana itu. Sesekali Jongwoon memang menginap di rumah – yang katanya telah menjadi milikku – tapi dia lebih sering berada di rumahnya yang besar. Berita tentang dia yang gay memang masih ada, tapi tidak seheboh dulu. Sekarang foto mesra Jongwoon dengan seorang gadis yang mukanya diblur pun menyebar di masyarakat. Semuanya menghapus berita tentang Jongwoon yang gay.

Selama itu, Hyukjae Hyung terus membantu kami. Dia yang memotret pose-pose mesra Jongwoon dan gadis rahasia itu. Aku tidak diperbolehkan ikut. Alasannya klise, takut ada yang melihat dan gossip gay beredar lagi. Ya ampun Hyukjae Hyung, itu alasan terbodoh yang pernah kudengar! Aku adalah stylish pribadi seorang Yesung sekaligus manager-nya! Wajar saja jika aku berada di dekatnya!

 

= = =

 

“Wook, sudah makan?” tanya Hyukjae Hyung. Aku hanya menggeleng. Kami sedang berada di waiting room Yesung. Hyukjae Hyung mengisi bagian rap lagu Yesung, oleh karena itu ia selalu ada di dekat kami.

“Lho? Kenapa belum makan? Bukannya tadi Yesung Hyung sudah membeli makanan?” tanyanya agak sedikit terkejut.

“Ya mungkin untuknya sendiri. Kau tahu kan kalau dia memberiku makanan akan beredar gossip itu lagi?” ujarku sarkastis. Hyukjae Hyung terdiam menatapku. Aku yang merasa risih ditatap seperti itu pun berkata,

“Jangan tatap aku seperti itu, nanti orang kira kau gay.” Hyukjae Hyung mendengus kesal. Dia lalu bangkit berdiri dan meraih kunci mobilnya yang tergeletak di meja. Dia melirik jam tangan.

“Aku tampil satu jam lagi, jadi sebaiknya cepat kalau mau makan.” Hyukjae Hyung berjalan keluar ruangan. Aku terdiam sejenak. Apa ini berarti ajakan makan?

“Ayo cepat!” Kepala Hyukjae Hyung menongol di ambang pintu. Senyumku melebar. Aku berdiri dan bergegas mengejarnya.

“Makan di tempat yang dekat saja ya. Depan gedung kan ada kedai sushi tuh. Mau makan sushi ga?” tanyanya tanpa melihatku.

“Hm…boleh deh. Terus, kenapa ngambil kunci mobil?”

“Daripada hilang?” Ah benar juga. Kenapa aku berharap dia mengajakku makan di café atau restauran ya? Makan di kedai saja sudah cukup!

“Tapi…bukannya sushi itu bahan bakunya ikan ya? Hyung alergi seafood, kan?”

“Kata siapa aku ikut makan? Aku hanya menemanimu saja.” Hyukjae Hyung bersiul ringan. Aku tertegun.

“Jangan mikir aneh. Aku hanya kasihan melihatmu lemas begitu di ruang tunggu. Setidaknya makan dulu, kali ini aku traktir deh.”

“Serius, Hyung?”

“Iya, sebelum aku berubah pikiran. Mau, kan?”

“Asalkan gratis, aku mau, Hyung!” seruku riang. Hyukjae Hyung terkekeh.

“Maunya gratisan!”

= = =

 

Kedai itu terlihat agak sepi, jadi aku dan Hyukjae Hyung langsung dilayani dengan cepat. Aku asyik makan sedangkan Hyukjae Hyung hanya memesan secangkir teh. Ia asyik memainkan ponselnya sembari menungguku menghabiskan sushi ini. Sesekali Hyukjae Hyung tersenyum menatap layar ponselnya. Aku terpaku. Baru kusadari ternyata Hyukjae Hyung tampan sekali, bahkan menurutku lebih tampan daripada Jongwoon. Dia juga baik, ramah, humoris.

“Kenapa menatapku seperti itu? Habiskan dulu sushi-mu!” ujar Hyukjae Hyung. Aku tertegun dan menatap piringku. Masih ada sisa 3 potong. Hyukjae Hyung menatap jamnya lagi.

“25 menit lagi ya.” Aku berpikir, dia seperti pengawas ujian. Dengan terpaksa aku melahap sepotong demi sepotong sushi itu sampai habis. Ah, padahal masih ingin kunikmati terlebih dahulu.

“Sudah selesai?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Ya sudah, ayo.” Hyukjae Hyung berdiri dan berjalan mendahuluiku. Terpaksa aku mengejarnya lagi.

 

Di perjalanan kembali, aku bertanya pada Hyung-ku yang baik itu.

“Hyung, bagaimana rasanya mencintai seorang wanita?” tanyaku pelan nyaris berbisik.

“Hah? Ya…menyenangkan…seperti kau mencintai Woonie-mu?” Dia balik bertanya. Keningku mengkerut bingung.

“Apa rasanya sama?”

“Entahlah. Aku kan tidak pernah mencintai seorang laki-laki seperti itu. Laki-laki yang kucintai hanya ayahku.”

Aku terdiam lagi. Aku ingin sembuh. Aku ingin menjadi normal, mencintai seorang wanita seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria. Tapi apa yang harus kulakukan? Tadi saja aku nyaris menyukai Hyukjae Hyung!

“Ehm…Hyung, gadismu banyak kan?” tanyaku.

“Gadisku hanya satu, namanya Lee Sunghee. Kenapa?”

“Hm…tapi kau punya banyak teman perempuan, kan?”

“Tinggal pilih. Di kontak ponselku banjir tuh.” Hyukjae Hyung seakan mengerti maksudku. Aku terdiam. Hyukjae Hyung pun menyodorkan ponselnya. Aku bingung.

“Untuk apa ini?” tanyaku.

“Memilih gadis yang kau sukai. Di situ ada fotonya juga kok.”

“Wah, Hyung benar-benar cassanova..”

“Sejak lahir.” Hyukjae Hyung mengedipkan sebelah matanya dan bergegas menuju ruang tunggunya. Aku terkejut dan berseru memanggilnya.

“Ponselmu, Hyung!” seruku.

“Titip di kamu ya! 10 menit lagi aku tampil!”

“Eh, tapi…” ucapanku terpotong karena dia sudah menghilang. Aku terdiam sebentar sebelum masuk ke ruang tunggu Jongwoon. Aku duduk di atas sofa dan melihat-lihat kontak ponsel Hyukjae Hyung. Ponselnya canggih, kontak pun disertai foto. Aku melihat nama demi nama dan foto demi foto. Tak ada yang menarik. Tiba-tiba ponselnya berdering. Aku terkejut. Ada telepon! Apa yang harus kulakukan? Mengangkatnya atau membiarkannya?

Akhirnya panggilan yang pertama kubiarkan. Aku berjalan ke dekat pintu dan melongokkan kepala ke kanan dan ke kiri. Ramai, tapi tak ada Hyukjae Hyung. Ponselnya tiba-tiba berdering lagi. Aku tersentak kaget. Sepertinya penting sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk menjawabnya.

“Yeobosaeyo?” sapaku lirih.

“Hyuk! Aku butuh bantuanmu!” Gadis di seberang telepon terisak. Aku kelimpungan.

“Ehm…aku bukan Hyukjae, dia sedang menitipkan ponselnya padaku.”

“Ah, siapapun kau datang ke alamat yang kukirimkan lewat SMS ya. Kumohon ini penting sekali!”

“Eh tapi..” Tuut…gadis itu memutuskan hubungan telepon. Beberapa saat kemudian sebuah pesan singkat masuk berisikan alamat yang gadis itu maksud. Aku bingung. Hal pertama yang kulakukan adalah melihat siapa pengirim SMS itu. Park Chaeri.

 

Pintu terbuka, Jongwoon masuk ke ruangan dengan wajah penuh peluh. Dia tersenyum melihatku.

“Hai, sudah makan?”

“Sudah. Permisi, Hyung, aku harus pergi!” Aku berlari sekuat tenaga keluar ruangan. Aku tidak peduli teriakan Jongwoon yang memanggilku. Aku tidak peduli. Yang kupikirkan sekarang adalah menolong gadis itu.

 

= = =

 

Aku sampai di alamat yang gadis itu berikan. Aku tertegun ketika melihat seorang gadis tergopoh-gopoh membantu seorang wanita hamil keluar rumah. Tanpa ba-bi-bu aku segera menolongnya. Aku yakin ini alamat yang tepat.

“Aku orang yang kau telepon tadi. Teman Hyukjae,” ujarku singkat. Gadis itu mengangguk.

“Kau bawa mobil?”

“Bawa.”

“Tolong, temanku sepertinya akan melahirkan. Bawa ke rumah sakit…”

= = =

 

Wanita hamil itu tertolong dan segera dibawa ke ruangan bersalin. Gadis yang sepertinya bernama Park Chaeri itu terduduk di kursi lorong. Dia menghela napas lelah. Aku ikut duduk di sampingnya. Dia menoleh padaku dan tersenyum.

“Terima kasih. Tanpamu, mungkin dia tidak akan selamat…”

“Aku Kim Ryeowook. Tak masalah, aku senang membantu orang.”

“Namaku Park Chaeri. Maaf telah merepotkanmu.”

“Sudah kubilang tak masalah. Ngomong-ngomong, kemana suaminya?” tanyaku heran. Chaeri hanya tersenyum lemah. Ia menggeleng pelan.

“Hyeyoon hamil diluar nikah. Pacarnya tidak mau bertanggung jawab.”

“Apa? Pria macam apa itu?!” ujarku emosi. Chaerin hanya tersenyum tipis.

“Pengecut. Ya, dia pengecut. Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab. Begitu, kan?” ucapnya santai. Aku tidak membalas.

“Hyeyoon sahabatku sejak kecil. Dia sahabat sejatiku, selalu membantuku jika aku ada masalah. Dia termasuk orang kaya, sering membantuku membiayai sekolah. Tapi karena ia hamil diluar nikah, ia dicoret dari daftar keluarga. Padahal Hyeyoon gadis yang baik. Sayang, pacarnya pengecut begitu.”

“Sejak saat itu ia tinggal denganmu?”

“Tentu saja. Aku merasa aku harus membalas budinya. Aku mengajaknya tinggal di rumahku yang sederhana, bekerja dua kali lipat demi menghidupinya. Yah…begitulah..keuanganku kan biasa saja.”

“Lalu…kenapa kau minta bantuan Hyukjae Hyung? Dia kan sibuk..”

“Oh, dia Hyung-mu rupanya. Aku tahu dia sibuk, tapi aku benar-benar tidak tahu harus menelepon siapa lagi. Hanya Hyukjae satu-satunya teman baikku dan Hyeyoon. Dia mengerti keadaan Hyeyoon. Dia selalu berpura-pura menjadi suami Hyeyoon jika mengantar Hyeyoon cek kandungannya ke dokter. Padahal dia sudah punya pacar. Untung saja pacarnya mengerti.”

“Hyukjae Hyung memang pria yang baik..” gumamku samar. Chaeri tidak membalas. Dia menatap ke pintu ruangan.

“Seharusnya ada suami yang mendampinginya saat ini,” gumam Chaeri lirih.

“Kalau boleh tahu…siapa ayah dari anaknya?” tanyaku pelan.

“Ah, si bangsat itu. Namanya Kim Jongwoon, tahu dia? Kabarnya dia gay. Menjijikkan sekali. Mungkin itu kenapa ia tidak mau bertanggung jawab. Dasar banci,” maki Chaeri. Aku tertegun. Mungkinkah Jongwoon yang ini? Woonie-ku?

“Kalau gay, kenapa bisa menggauli Hyeyoon?” tanyaku tanpa ada niatan bertanya.

“Kata Hyeyoon malam itu Jongwoon sedang mabuk berat. Dia tidak sadar akan apa yang dilakukannya.”

“Lalu kalau gay, kenapa Jongwoon memacari Hyeyoon?”

“Ya untuk menutupi statusnya lah! Makanya baru sekarang kan dia ketahuan busuknya? Dulu, ia berusaha menutupi statusnya dengan memanfaatkan Hyeyoon. Sekarang setelah dia sukses, Hyeyoon ditinggalkan tuh.”

“…” Aku terpaku. Benarkah Jongwoon seperti itu? Ia memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri?

“Kalau kau bertemu dengannya, sampaikan salamku. Bilang dari Chaeri dan Hyeyoon, ‘Dasar pengecut!’ Oke?” Aku tidak mampu menjawab. Pikiranku blank. Awalnya aku tidak mau menyampaikan salam itu. Aku tidak mau memihak pada orang yang baru kukenal tadi.

Tapi niatku runtuh saat melihat malaikat kecil yang tertidur di samping Hyeyoon. Bayi mungil itu memang sangat lucu. Bentuk hidungnya seperti hidung Jongwoon. Bibirnya mengikuti bibir ibunya. Sedang matanya…entahlah. Matanya selalu terpejam.

“Kau boleh menggendongnya,” ucap Hyeyoon lemah. Aku terkejut. Chaeri tersenyum dan menggendong bayi mungil itu. Ia lalu memberikannya padaku. Dengan kikuk, aku menggendong bayi itu.

“Kau beri nama siapa?” tanyaku.

“Kim Jongyoon. Dia laki-laki. Tampan seperti ayahnya, ya?” Hyeyoon tersenyum. Aku tertegun. Sepertinya Hyeyoon benar-benar mencintai Jongwoon. Sampai namanya pun dibuat mirip seperti nama Jongwoon. Sayang sekali. Gadis sebaik dia diperlakukan seperti ini. Oleh kekasihku sendiri!

“Kau sudah menikah?” tanya Chaeri. Aku menggeleng.

“Kenapa memangnya?” kataku masih sambil menimang Jongyoon.

“Kau sudah pantas menjadi ayah. Kukira kau sudah menikah.” Chaeri tersenyum. Aku tersenyum tipis. Menjadi ayah? Tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Lagipula…berpacaran dengan seorang lelaki…mana bisa memikirkan anak?

= = =

Keesokan harinya aku kembali ke rumah sederhanaku. Tentu saja aku sudah mengembalikan ponsel Hyukjae Hyung. Kami berdua sepakat akan bergantian menjaga Hyeyoon dan Jongyoon.

Pintu rumah diketuk. Aku menyeret langkahku ke pintu dan membukanya. Jongwoon berdiri tegap di ambang pintu. Dia menatapku marah.

“Kemarin aku membutuhkanmu. Kau kemana?” tanyanya ketus.

“Aku ada urusan.”

“Urusan apalagi yang kau miliki selain mengurusiku? Hah? Kau tidak tahu aku kerepotan dengan rambutku kemarin. Sampai-sampai aku harus memanggil penata rambut Hyukjae.”

“Ada urusan yang jauh lebih penting daripada urusan rambut, Hyung.”

“Sejak kapan kau memanggilku Hyung?”

“Sejak aku memantapkan hatiku untuk menjadi seorang ayah.”

“A-ayah?” Jongwoon menggagu. Aku mengangguk mantap.

“Kita tidak usah berhubungan sebagai kekasih lagi. Aku tidak sudi menjadi kekasih seorang pengecut sepertimu.” Aku hendak menutup pintu namun dia menahanku.

“Wookie! Kau kenapa? Cerita padaku!”

“Tidak usah, Hyung. Aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai stylish dan managermu. Aku bisa bekerja di tempat lain. Selamat tinggal, Hyung. Aku juga akan pindah rumah. Rumah ini milikmu lagi.”

“Oh ya, satu hal. Bertanggung jawablah. Darah dagingmu menunggu untuk melihat sosok ayahnya.” Aku menutup pintu dan menguncinya. Aku tidak mau membiarkan ia masuk. Aku cepat-cepat membereskan bajuku dan berjalan keluar rumah lewat pintu belakang.

= = =

 

“Gegabah,” komentar Hyukjae Hyung ketika aku berdiri di depan apartemennya sambil membawa koper besar.

“Mian…aku tidak tahu harus kemana.”

“Itulah yang kukatakan dengan gegabah! Tengah malam begini seseorang mengetuk pintu apartemenku dan meminta untuk tinggal sementara hingga ia mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan tetap. Dasar, Wookie.” Hyukjae Hyung melebarkan pintu apartemennya. Aku cengengesan dan menyeret koperku masuk.

“Ada masalah dengan Jongwoon, hah?” tanya Hyukjae Hyung sambil mengunci pintunya.

“Ehm yah begitulah. Kami putus.”

“Jinjayo?” katanya agak kaget.

“Ne. Aku ingin menjadi ayah.” Aku tersenyum. Hyukjae Hyung menatapku curiga.

“Itu..bukan berarti kau menghamili seorang gadis, kan?”

“Tentu saja bukan, Hyung! Aku hanya ingin mencintai seorang perempuan, menikahinya, lalu membina sebuah keluarga bersamanya. Seperti orang normal lainnya. Seperti Hyung.”

“Aku bahkan belum menikah, Wook..”

“Tapi akan, kan?”

“Hehe..doakan saja semoga syarat menikahi Sunghee tidak terlalu berat.” Hyukjae Hyung terkekeh. Aku tertawa kecil.

“So, apa Hyeyoon menyadarkanmu?” tanya Hyukjae Hyung sambil duduk di sofa. Aku duduk di seberangnya.

“Tidak. Chaeri yang melakukannya.” Aku tersenyum. Hyukjae Hyung mengangkat sebelah alisnya.

“Sepertinya kau mulai menyukainya.”

“Kuharap begitu.”

= = =

“Kau jadi rajin kemari, Ryeowook..” kata Chaeri. Aku mengangguk. Kami sedang berjalan-jalan tanpa alas kaki di atas batuan di taman rumah sakit.

“Aku senang melihat Jongyoon.” Dia tertawa.

“Dan kamu,” ucapku. Tawanya terhenti.

“Aku? Kenapa aku?”

“Aku senang melihatmu. Kamu cantik, senyummu manis, hatimu juga baik.”

“Sudahlah, jangan berbohong. Aku tahu di hatimu kamu bilang kalau aku itu jelek, senyumku aneh, hatiku..” Entah apa yang kupikirkan tapi sekarang bibirku mendarat di bibirnya. Chaeri terkejut, tapi dia diam saja. Aku cepat-cepat melepaskan ciumanku, jika itu bisa dikatakan ciuman.

“Ma-maaf..aku..tidak…”

“Tidak apa-apa.” Diluar dugaanku, Chaeri tersenyum.

“Saranghae…Park Chaeri..” kataku pelan.

“Na ddo saranghae.”

“Menikahlah denganku..” kataku lirih. Chaeri terdiam.

“Aku…mau..”

= = =

Aku kembali ke kamar rawat Hyeyoon bersama dengan Chaeri. Di depan pintu, aku bertemu dengan Hyukjae Hyung dan pacarnya, Lee Sunghee.

“Ah, kenalkan ini tunanganku, Lee Sunghee.” Hyukjae Hyung tersenyum.

“Mwo? Sudah tunangan lagi, Hyung?” seruku kaget. Mereka berdua terkekeh.

“Jangan terlalu sibuk dengan Chaeri-mu. Aku dan Sunghee memang sudah bertunangan sejak 3 hari yang lalu.”

“Jinjayo?! Aish..kalian ini..” Aku pura-pura kesal.

“Hyeyoon bisa pulang hari ini, kan?” tanyaku. Hyukjae Hyung tersenyum. Dia lalu mengedikkan dagunya ke arah pintu. Aku pun masuk ke ruangan bersama Chaeri. Kami tertegun. Jongwoon ada di sana, sedang menggenggam tangan Hyeyoon erat dan mengecup kening perempuan itu lama. Tetesan air mata menuruni matanya, jatuh mengenai wajah Hyeyoon.

“Mianhae…mianhae…jeongmal mianhae..” bisiknya.

“Gwaenchana..” lirih Hyeyoon. Jongwoon lalu menatap Jongyoon yang terdiam di samping ibunya. Dengan hati-hati Jongwoon menggendong bayi itu dan menimangnya.

“Jongyoon..ini Appa, nak..” bisiknya haru. Aku dan Chaerin berpandangan. Tanganku mencari tangannya. Aku menggenggam tangannya hangat. Chaeri tersenyum.

“Oh..kalian sudah berpacaran?” tanya Hyeyoon. Aku tersenyum.

“Tidak perlu berpacaran. Kami sudah merasakan cinta masing-masing.” Chaeri tersipu malu mendengar kalimatku. Hyeyoon tertawa.

“Kalian kemarilah..ada yang ingin kukatakan.” Bergandengan tangan, kami menghampiri Hyeyoon. Sekilas mataku menatap Jongwoon. Diluar dugaan, dia tersenyum ramah padaku. Seakan-akan aku adalah teman lamanya, bukan mantan kekasihnya.

“Aku dan Jongwoon akan menikah. Bulan depan.”

“Benarkah?” seru Chaeri senang. Hyeyoon mengangguk. Aku tersenyum sambil menatap Jongwoon. Dia mengedipkan sebelah mata padaku. Aku tertawa.

= = =

“Aku minta maaf…dulu aku egois..” Jongwoon memulai. Aku hanya bergumam.

“Aku belajar mencintai seorang wanita. Dan ternyata aku berhasil…” lanjutnya.

“Aku juga.”

“Wook, tadinya aku ingin menghadiahkan cincin ini padamu, tapi sekarang lain. Berikan untuk gadismu.” Jongwoon menyodorkan sebuah cincin berlian mahal. Aku menggeleng pelan.

“Aku akan membelikan sebuah cincin hasil keringatku sendiri untuk Chaeri, bukan darimu.”

“Kau masih marah padaku?”

“Tidak. Aku hanya ingin ia merasakan cinta dan perjuanganku.” Aku tersenyum. Perlahan senyum Jongwoon mengembang.

“Tentang masa lalu kita…biarkan kita saja yang tahu?”

“Hyeyoon akan kaget jika tahu aku mantan kekasihmu.”

“Chaeri juga pasti akan pingsan ditempat ketika tahu si bangsat ini adalah mantan kekasihmu.” Kami berdua tertawa. Kami melanjutkan perjalanan kami menuju rumah Jongwoon dan Hyeyoon. Aku merasa bahagia. Bahagia karena kembali normal dan menemukan cinta sejatiku. Hanya dia yang bisa membuatku berdebar seperti ini, hanya dia yang bisa membuatku memimpikannya setiap malam, hanya dia. Park Chaeri, saranghaeyo.

 

= = =

Tiga tahun kemudian…

 

“Hyukjae Hyung!” seruku. Yang dipanggil berbalik dan melambaikan tangannya. Sunghee yang menggendong seorang balita pun ikut tersenyum.

“Annyeong! Siapa ini?” Aku mencubit pelan pipi balita di gendongan Sunghee.

“Namanya Eunhyuk. Eunhyuk, bilang annyeong untuk Ryeowook Ahjussi!” kata Sunghee.

“Annyeong..” Bocah berumur 2 tahun itu melambaikan tangannya. Aku gemas dan mencubit pipinya lagi.

“Anakmu lucu sekali, Hyung. Seperti aku ya?” ujarku. Hyukjae Hyung menjitak kepalaku.

“Hey, di depan anak kecil! Jangan berkelahi!” lerai Sunghee bercanda.

“Oke, kalian berdua pergi ke sana dulu ya, Sayang. Sepertinya aku akan menghajar orang ini habis-habisan.” Hyukjae Hyung tersenyum. Sunghee menggelengkan kepalanya dan beranjak pergi menuju mobil yang diparkir tak jauh dari situ.

“Oke, Wook, mau mulai darimana? Tonjok pipi, tendang perut, atau…?”

“Woah, Hyung, aku bercanda! Dia kan jelas-jelas anakmu ya mirip denganmu lah!” Aku terkekeh. Hyukjae Hyung tertawa. Dia menepuk bahuku.

“Aku juga hanya bercanda. Kerja dimana sekarang?”

“Yah…manager bagian HRD. Kau sendiri masih menjadi rapper?”

“Kadang kalau dapat job sebagai rapper. Aku lebih sering jadi koreografer.”

“Kau memang berbakat di bidang itu.”

“Ya…tidak juga..”

 

Hening sejenak. Aku mengulum senyum.

“Ehm…Hyung, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Hm?”

“Dulu…aku sempat menyukaimu.”

“Jeongmal?”

“Ne…”

“Sekarang tidak, kan?”

“Masih kok, Hyung.”

“Mworago?!” seru Hyukjae Hyung. Aku terkekeh.

“Kau itu Hyung favoritku, tau! Jangan mikir aneh-aneh!” Aku tertawa keras. Hyukjae Hyung menjitak kepalaku lagi.

“Aduh! Nanti apa kata anakku kalau melihat Appa-nya dijitak?”

“Mwo?! Kau sudah punya anak? Dimana dia?” Hyukjae Hyung celingukan.

“Di sini!” seru Chaeri. Hyukjae Hyung sontak menoleh ke arah kiri. Dia mengelus dadanya. Kaget.

Chaeri dan Kibum, anakku, tertawa bersamaan. Ketika tertawa mereka terlihat sangat mirip.

“Hehe, lucu sekali. Siapa namanya?”

“Kim Kibum.”

“Annyeong Kibum ah, berapa umurmu sekarang?” senyum Hyukjae Hyung ramah.

“Satu tahun..” Chaeri yang menjawab. Dia memain-mainkan tangan Kibum. Aku tersenyum.

 

“Hey, Jongyoon ah! Jangan lari-lari! Appa capek!” Aku dan Hyukjae Hyung tertegun. Kami memandang ke sumber suara. Terlihat Jongwoon sedang bersusah payah mengejar anaknya yang berlari-lari. Sementara di belakangnya Hyeyoon, yang sedang mengandung, kelihatan was-was.

“Jongyoon, awas jatuh!” Hyeyoon mengingatkan. Akhirnya Jongwoon berhasil menangkap Jongyoon dan menggendongnya.

“Semuanya kembali normal ya?” gumamku.

“Ya. Semuanya.” Hyukjae Hyung berjalan menuju mobilnya. “Guys, aku dan Sunghee berencana makan-makan di sebuah restauran keluarga langgananku. Enak lho, bisa dapat diskon karena pemiliknya itu temanku. Kalian mau ikut?”

“Asalkan diskon, aku mau!” ujarku dan Jongwoon bersamaan. Kami semua tertawa.

 

Aku tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Aku berhasil mencintai seorang wanita yang baik hati dan cantik. Aku berhasil menjadi ayah. Aku kembali menjadi normal kembali. Tidak seperti dulu yang menyukai sesama jenis. Asalkan mencoba, kita pasti bisa, bukan?

Oh, dan satu hal. Hyukjae Hyung menjelaskan padaku bahwa ada alasannya ia memberikan alasan klise saat ia memotret Jongwoon dan Seori, salah satu teman gadisnya. Ia dulu berkata takut mengira aku dan Jongwoon betul-betul gay, bukan? Ternyata ada alasan lain. Dia tidak ingin aku terluka karena melihat foto mesra Jongwoon dengan seorang perempuan. Hahaha…aku makin menyukaimu, Hyukjae Hyung!

 

THE END

12 thoughts on “[FF] Back to Normal

  1. Dhikae says:

    Sungheeeeeee i’m back
    ttp membaca ffmu hahahahaha
    setelah hiatus setengah2, akhirnya aku bs bca ffmu lg..
    Aaaaaaaa keren, apalagi ada wookie nya kekeke.. I love yaoi.. Yewook my fav pair hehehe..
    At least smua kmbali normal..
    Yipiiii so sweeet… Daebak dah ffny hehehe

    • sungheedaebak says:

      and now i’m back too!
      aku jg udah agak lama hiatus nih…kangen sama blog hehehe
      wah? aku ga menulis ini sebagai ff yaoi lho sbnernya…hehe..
      btw, makasih unnie! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s