[FF] Peppermint Tea

Aku melihatnya lagi. Akhir-akhir ini gadis itu selalu datang ke Teaxpresso Café ini. Sudah berapa lama ya? Kira-kira seminggu tanpa absen dia kemari. Penampilannya selalu seperti biasa, cantik. Dan kali ini ia mengenakan dress selutut berwarna baby blue disertai dengan blazer putih. Sepatu heels putihnya sangat cocok dengan blazer yang dikenakannya. Rambutnya digelung, menyisakan beberapa anak rambut di depan kedua telinganya. Poninya ditata ke depan, membuatnya tampak lebih muda.

Seperti  biasa, dia menunggu pesanan datang sambil melihat keluar jendela. Dia menumpu dagunya dengan kedua tangan. Senyum tipis khasnya mengembang. Entah apa yang ia pikirkan. Aku berharap bukan lelaki yang ada di pikirannya.

“Permisi, Tuan, Anda belum memesan. Mau pesan apa?” tanya seorang pelayan cantik. Tanpa mengalihkan pandangan dari gadis cantik di sana, aku menjawab,

“Apa yang gadis itu pesan?” tanyaku sambil menunjuk ke arah gadis itu dengan daguku. Pelayan itu melihat ke arahnya.

“Dia memesan Peppermint Tea dan Fettuccini Carbonara.”

“Samakan pesananku dengannya.”

“Baik, permisi.” Pelayan itu pun pergi. Aku menatap ke arahnya lagi. Kali ini ia sibuk dengan bukunya. Senyum tipis khasnya itu lagi-lagi mengembang dan entah kenapa aku ikut tersenyum melihatnya.

“Permisi, ini pesanan Anda..” Pelayan tadi meletakkan pesananku di meja. Aku mengangguk. Gadis itu melihat ke sekeliling dan matanya menangkap ke arahku. Aku tertegun, jantungku berdetak cepat. Aku membeku, tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi ketika ia tersenyum, bukan senyum tipisnya, tapi senyum manisnya. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, sampai-sampai aku lupa di hadapanku ada secangkir Peppermint Tea dan Fettuccini Carbonara yang masih mengebul.

Gadis itu menghabiskan makanannya dengan cepat. Dia membereskan barang bawaannya dan beranjak berdiri. Ia berjalan melewatiku keluar café. Sekilas kulihat sebuah cincin emas melingkar di jarinya.

= = =

Hari berikutnya dia masih duduk di sana, di tempat yang sama. Hanya saja kali ini ia memakai skinny jeans berwarna hitam dengan blues putih dan blazer biru donker. Rambutnya diikat ke belakang. Tetap cantik seperti biasa. Dia melihat ke jendela sambil menggenggam cangkir tehnya. Sesekali ia menghirup tehnya. Gadis itu meletakkan cangkir tehnya dan terdiam sebentar. Terlihat dari mejanya, ia tidak memesan makanan. Aku terdiam menatapnya. Dia terlihat sedikit gelisah, lain dari biasanya. Aku ingin sekali mendekatinya dan bertanya ada apa, tapi aku tidak berhak. Aku bukan siapa-siapa.

Ponselnya bergetar dan ia segera menjawab panggilannya. Ia terlihat berbincang dengan serius dengan lawan bicaranya. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia bicarakan, tapi kurasa yang meneleponnya adalah seorang lelaki. Bisa kulihat dari matanya.

Dia memutuskan hubungan telepon dan segera membereskan barang-barangnya. Laptop kecilnya ia jinjing di tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang tali tas selempangnya. Dia tersenyum pada pelayan yang kebetulan ditemuinya dan berjalan menjauh. Bisa kulihat cincin di tangannya sudah hilang. Aku berbalik menatap punggungnya yang semakin menjauhiku. Dia membuka pintu dan berjalan keluar. Aku terdiam dan menatap Peppermint Tea di hadapanku. Seleraku tiba-tiba hilang begitu saja.

= = =

Esok harinya, entah apa yang menyuruhku tapi aku mendatangi café itu lagi. Bahkan kunjungan ke café ini sudah ada di dalam jadwalku setiap hari. Aku mencari gadis itu lagi tapi aku tidak menemukan sosoknya. Biasanya pukul segini dia selalu duduk di meja sebelah jendela dan menghirup Peppermint Tea-nya. Mungkin dia akan terlambat sedikit.

Sambil menunggu, aku memutuskan untuk memesan seporsi Lasagna dan Mocca Latte. Aku tidak tahu kenapa tapi tanpanya, aku tidak bisa memesan dua menu itu. Peppermint Tea dan Fettuccini Carbonara. Nyaris setiap hari aku memesan menu itu hanya karena gadis itu memesannya.

Lama menanti, gadis itu tak kunjung datang. Aku mendengus kecewa. Mungkin hari ini dia tidak datang. Aku memperhatikan pintu café. Siapa tahu gadis itu tiba-tiba muncul. Mungkin aku harus menunggu sebentar lagi.

Pintu café terbuka, aku segera menatap ke arah pintu. Namun sayang, yang datang ternyata bukan dia, tapi gadis lain. Gadis itu berjalan masuk dan menghampiri kasir. Karena posisi dudukku cukup dekat dengan kasir, aku bisa mendengar jelas percakapan tersebut.

“Annyeong, Sangyoon ah!” sapa sang kasir. Gadis itu, Sangyoon, tersenyum.

“Mana Sunghee? Biasanya dia ada di sini sambil menghirup Peppermint Tea-nya.”

“Entahlah,” kasir itu mengedikkan bahu. “Sejak kemarin kulihat ia agak murung. Mungkin ada masalah. Kau sebagai sahabatnya seharusnya tahu dong..”

“Dia bilang dia sibuk akhir-akhir ini. Jadi panitia inti katanya. Rapat sana..rapat sini..presentasi ini..presentasi itu..”

“Panitia inti? Panitia inti apa?”

“Aku kurang tahu soal acaranya, tapi dia bilang ada kaitannya dengan audisi musik. Itu kalau tidak salah sih…”

“Aku baru tahu Sunghee mengurusi hal seperti itu juga. Kukira dia hanya seorang penulis yang sibuk dengan laptop dan naskah-naskahnya.”

Kini giliran Sangyoon yang mengangkat bahu.

“Katanya event ini sebagai farewell party dengan teman-temannya di kampus.”

“Dia masih kuliah?” Kasir itu terkejut.

“Kemana saja kau, Hyemi? Dia baru ujian, sekarang dia sibuk bikin farewell party.”

“Aku selalu mendambakan farewell party. Pasti menyenangkan..” Hyemi menumpukan dagunya pada tangan. Sangyoon mengangguk-angguk.

“So..kau belum memesan. Mau pesan apa?” tanya Hyemi.

“Sepertinya Strawberry Milkshake di pagi hari ini enak juga.”

“Makanannya?”

“Ehm…Sandwich Tuna?”

“Oke. Ditunggu sebetar.”

Aku mencerna percakapan tadi. Jika dikaitkan, aku mendapat informasi bahwa gadis yang selalu duduk menghadap jendela sambil menghirup tehnya itu bernama Sunghee. Hm…nama yang bagus.

Sangyoon mengambil tempat duduk yang tak jauh dariku, jadi ketika Hyemi datang dan mengobrol dengannya sebentar, aku bisa mendengarnya dengan jelas.

“Aku dengar kabar Sunghee akan menikah. Benar tidak?” tanya Hyemi.

“Ya…iya sih. Tapi entah kenapa sepertinya hubungan mereka merenggang.”

“Heo? Wae? Siapa calonnya?”

“Molla. Namanya itu…Kim…Jonghyun kalau tidak salah.”

“Kim Jonghyun yang satu SMA dengan kita? Kingka sekolah yang terkenal playboy itu kan?”

“Yap. Selera Sunghee itu kan yang playboy-playboy.”

“Ah jinja…dia juga cassanova, kan?”

Aku tidak mau mendengarnya lagi. Mendengar kabar bahwa gadis itu akan menikah saja sudah cukup. Berarti memang tak ada harapan lagi untukku.

Aku memutuskan untuk pergi dari café ini. Setidaknya bermain game di apartemen bisa menghiburku sedikit.

= = =

Hampir 2 minggu gadis itu absen mendatangi café ini. Aku semakin membuang angan-anganku untuk bertemu dengannya lagi. Sudahlah, mungkin dia memang tidak ditakdirkan untukku. Lebih baik aku mencari wanita lain.

Tapi niatku tergoyahkan dengan kehadirannya hari ini. Sunghee memasuki café sambil membawa tas yang cukup besar. Bajunya kali ini sederhana, hanya skinny jeans hitam dan T-shirt putih. Rambutnya tergerai begitu saja. Tapi bagiku dia tetap sangat cantik. Dia mengambil tempat di pojok, bukan di sebelah jendela lagi. Dia meletakkan tas besarnya di sampingnya dan mulai melihat-lihat menu. Aku diam memperhatikannya. Dia tampak sangat kelelahan.

Pintu café terbuka lagi. Seorang lelaki masuk dan berjalan mendekati Sunghee. Aku terdiam memperhatikan semuanya. Tampaknya lelaki itu adalah Kim Jonghyun, calon suami Sunghee.

“Aku minta maaf,” ujar lelaki itu. Kebetulan tempat Sunghee duduk tidak begitu jauh dengan tempatku sekarang. Aku bisa mendengar semuanya dengan jelas ditambah lagi karena suasana café pagi ini sangat sepi.

“Untuk apa?” Sunghee memalingkan wajahnya.

“Menduakanmu.”

“Menigakanku maksudmu?” dengus Sunghee. Jonghyun mengela napas. Dia lalu duduk di kursi seberang Sunghee.

“Suruh siapa kau duduk di situ?” ketus Sunghee.

“Inisiatif sendiri. Agar bicara kita lebih enak.”

“Apa lagi yang harus dibicarakan? Sudah, kau pergi saja.”

“Tas apa itu, Jagi?” Jonghyun menunjuk tas besar itu.

“Bukan urusanmu.”

“Kau tidak akan pergi, kan?”

“Apa hubungannya denganmu? Aku pergi, dua perempuan akan datang padamu, kan?”

“Mereka bukan siapa-siapa.”

“Jangan berbohong. Aku melihatnya dengan jelas dari jendela itu. Kau merangkul mereka berdua dan mencium bibir mereka satu per satu. Ck, seharusnya aku tahu, kau itu playboy. Sifat playboy-mu itu tidak pernah menghilang.”

“…” Jonghyun terdiam.

“Daripada aku menyesal di kemudian hari, lebih baik aku menjauh sekarang. Kalau kau tidak mencintaiku, untuk apa kita menikah? Aku tidak mau.”

“Jadi kau mencintaiku?” Sunghee tidak menjawab. Dia mengeluarkan cincin dari saku celananya. Ia meletakkannya di meja.

“Sekarang tidak. Berikan ini pada salah satu gadismu itu. Maaf aku tidak punya dua cincin.” Sunghee berdiri dan memakai tasnya sambil berjalan pergi. Jonghyun tertegun di tempatnya. Dia lalu berdiri dan hendak mengejar Sunghee tapi aku segera menahannya. Dia menatapku garang.

“Siapa kau?”

“Bukan siapa-siapa. Aku hanya minta tolong padamu untuk tidak mempermainkan wanita seperti dia.” Aku berjalan menuju kasir dan membayar dengan uang lebih. Aku menyambar tissue dan segera berlari keluar, tanpa peduli seruan Hyemi.

= = =

Aku melihat Sunghee duduk menunduk di bangku taman kota. Aku menghampirinya. Sunghee terisak. Tubuhnya terguncang karena tangis. Aku tidak tega melihatnya. Aku menyodorkan selembar tissue padanya. Perlahan ia menatap tissue yang kusodorkan. Ia melihatku sekilas sebelum mengambil tissue itu dan menyeka air matanya.

“Terima kasih..” lirihnya. Aku mengeluarkan selembar tissue lagi dan mengulurkannya padanya. Dia tertegun. Dia menatap tissue itu dan membaca tulisan di atasnya. Di tissue itu tertulis, “Menangislah, jika itu menyelesaikan masalahmu.”

Sunghee mendongak menatapku. Tangisnya terhenti. Aku tersenyum.

“Kau…”

“Aku Lee Hyukjae, orang yang sering memperhatikanmu.”

“Kau yang selalu datang ke café itu kan?”

“Tepat sekali. Senang bertemu denganmu.”

“Aku Lee Sunghee, senang bertemu denganmu juga. Terima kasih tissue-nya.” Aku tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebelah Sunghee.

“Bagaimana kau tahu aku di sini? Kau mengejarku?” tanya Sunghee.

“Habisnya tak ada lagi yang bisa kukejar.” Aku tersenyum jenaka. Sunghee tersenyum geli.

“Konyol.”

“Selalu.” Kami terdiam. Aku merutuki keheningan ini. Dari dulu aku benci sekali suasana canggung dan aku malah tidak bisa berbuat apa-apa untuk memecahkan keheningan ini.

“Dikhianati itu…menyakitkan ya?” Sunghee memulai. Aku terdiam.

“Iya…tapi setiap penyakit itu ada obatnya, kan? Setiap kesulitan itu ada kemudahan, kan? Rasanya begitu juga dengan sakitnya dikhianati. Pasti ada obatnya, tenang saja.”

“Apa? Apa obatnya? Lukanya sudah terlalu dalam, pasti sulit mengobatinya.” Aku mengulum senyum. Sebuah rencana terancang dengan jelas di otakku.

“Berikan flyer tentang audisi musik itu. Nanti aku berikan obatnya padamu.” Sunghee menatapku bingung. Tapi akhirnya dia mengeluarkan selembar flyer dari tasnya dan memberikannya padaku. Aku mengambilnya dan membacanya sekilas. Aku lalu melipatnya dan memasukkan ke saku celana. Aku mengangkat tas Sunghee dan menggendongnya. Ransel ini berat juga. Sepertinya isinya pakaian.

“Mau apa kau?” tanya Sunghee heran.

“Rumahmu dimana? Kita pulang.” Aku tersenyum lagi. Sunghee terdiam. Perlahan bibirnya menyunggingkan senyum manis.

= = =

Dua minggu kemudian tepat hari H audisi itu dilaksanakan. Aku berdiri di depan gedung dan mengamati sekitar. Untung saja aku kenal beberapa orang di kampus ini, jika tidak mungkin aku sudah seperti anak hilang.

“Kamu ngapain di sini, Hyung?” tanya salah seorang temanku yang berkuliah di sini, Kim Ryeowook.

“Audisi musik di sebelah mana?”

“Gedung A dan kau ada di depan gedung D.”

“Lho? Ini kan depan gerbang, seharusnya gedung A dong yang di depan.”

“Tapi kau masuk dari pintu samping, Hyung. Gedung A ada di sebelah sana.” Ryeowook menunjuk ke suatu arah. Aku mengikuti arah tunjukannya. Benar saja, gedung A ternyata ada di sebelah sana. Aku cengengesan dan menatap Ryeowook tak berdosa. Dia hanya geleng-gelang kepala melihatku.

“Kau mau ikut audisinya, Hyung?”

“Begitulah..”

“Kalau begitu kita bersama saja ke gedung itu. Kebetulan aku menjadi jurinya.”

“Waahh…kalau begitu aku boleh dong minta kau untuk mendukungku?”

“Aku memang mendukungmu tapi bukan memenangkanmu ya.”

“Hehe dasar Wookie!” Aku mengacak rambutnya sekilas. Kami berdua pun berjalan menuju gedung A tersebut.

Dia ada di sana. Sunghee dengan rambut digelungnya, dress putih selutut dengan blazer hitam dan heels berwarna hitam-putih yang menghiasi kakinya. Sangat cantik, seperti biasa. Dia sedang menunduk membaca laporan di tangannya. Setelah selesai ia memberikan laporan tersebut pada temannya sambil tersenyum. Seketika jantungku berdetak kencang.

“Kau menyukainya ya, Hyung?” tanya Ryeowook.

“Siapa?”

“Lee Sunghee. Ya? Memang banyak sih yang suka padanya. Dia cantik sih. Dulu aku juga sempat suka padanya.” Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Ryeowook.

Aku masih berjalan sambil sesekali melirik Sunghee. Seorang temannya menepuk pundak Sunghee dan menunjuk ke arahku. Sunghee berbalik. Aku cepat-cepat memalingkan wajah dan mempercepat langkah. Tidak, jangan sampai Sunghee menyadari aku di sini.

“Aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini saja. Aku sendiri harus bersiap-siap. Fighting!” Ryeowook mengepalkan tangannya dan berjalan keluar ruang make up. Aku menatap sekeliling. Ruangan ini besar sekali dan ramai tentunya. Aku berjalan ke pojok ruangan dan meletakkan tasku di kursi. Aku mengeluarkan selembar tissue dan mulai menulis sesuatu. Setelah selesai, aku memasukkan tissue itu ke saku blazer-ku dan mengambil ponsel.

“Permisi, bisa kirimkan Peppermint Tea ke Dongbang University Gedung A? Ehm…tambahan lainnya seporsi Fettuccini Carbonara.”

= = =

Aku bersiap di posisiku. Semua peserta sudah tampil, aku yang terakhir. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Tirai terbuka, sorak sorai penonton menyambut telingaku. Aku memamerkan senyum gusiku. Kulihat, Sunghee yang duduk di sebelah Ryeowook menatapku kaget. Dia lalu berbisik pada Ryeowook dan lelaki itu hanya mengangkat bahu dengan santai. Sunghee menatapku lagi. Aku hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah mata. Sunghee tersenyum geli.

Lagu mulai diputar, penonton pun hening. Semuanya menanti pertunjukanku. Aku mengulum senyum. Semuanya akan terkejut.

Lagu yang tadinya slow mulai menghentak-hentak. Aku menggerakkan tubuhku sesuai irama musik. Semuanya terkejut. Tentu saja. Ini audisi musik, bukan menari.

Aku masih asyik menari sambil sesekali menatap ke arah Sunghee. Gadis itu tampak terkesima dengan gerakanku tapi juga heran dengan kemunculanku yang tiba-tiba ini. Aku mendaftarkan diri untuk memainkan piano tapi sekarang aku malah menari. Ini semua memang rencanaku sejak awal.

Lagu masih terputar dan gerakan tubuhku masih belum berhenti. Aku berjalan menghampiri meja juri dan mengajak menari juri-juri yang lain. Sunghee menatapku. Aku mengulum senyum ketika melihat raut wajah tak enaknya saat aku menari dengan juri perempuan. Aku lalu berputar dan tubuhku tepat berhenti di hadapan Sunghee. Aku membungkuk sambil meletakkan selembar tissue di hadapannya. Aku menegakkan tubuh sambil mengedipkan sebelah mata. Mengejutkan, Sunghee membalas kedipan mataku. Aku tertawa sekilas.

Lagu berhenti. Aku masih berdiri di depan Sunghee, menunggu reaksi gadis itu.

“Cinta itu seperti teh, menghangatkan ketika kamu dingin.” Sunghee membaca tulisan yang tertera di tissue. Dia menatapku. Aku tersenyum.

“Buka baliknya.” Sunghee menurut. Dia membaca tulisan yang lain.

“Peppermint tea terdiri dari dua unsur, teh dan daun mint. Tanpa salah satu dari unsur tersebut, tak akan menjadi peppermint tea.” Semuanya terdiam mendengarkannya. Aku lalu melanjutkan, “Jika aku adalah teh, kau adalah daun mint-ku. Tanpamu, aku hanyalah secangkir teh.”

Sunghee berdiri dan berjalan ke arahku. Ia berdiri tepat di hadapanku.

“Tanpamu, akupun hanya sekedar daun mint.”

“Saranghae,” ucapku.

“Na ddo saranghae…” Semua orang bertepuk tangan dan berseru. Wajah Sunghee merona merah. Aku tersenyum dan memeluknya hangat.

= = =

“Aku sebenarnya penasaran, pemandangan apa sih yang kau lihat sampai senyum-senyum sendiri di café?” tanyaku. Sunghee tersenyum.

“Sebentar lagi kita sampai di café. Sabar saja.” Sunghee berjalan mendahuluiku dan membuka pintu café. Dia pun mengambil tempat duduk favoritnya. Aku duduk di seberangnya.

“Lihat sampingmu,” kata Sunghee. Aku melihat ke arah kiri, tempat jendela besar itu. Aku terkejut. Ternyata, di seberang jalan ada sebuah papan iklan besar yang mengiklankan sebuah produk minyak wangi. Ternyata di sebelah kiri, ada aku yang sedang berbincang dengan temanku. Sepertinya aku tidak sengaja terpotret.

“Aku suka senyummu. Melihatmu tersenyum di papan iklan itu, membuatku ingin tersenyum juga.”

“Dasar!” Aku mengulurkan tanganku dan mengacak rambutnya. Sunghee tertawa. Seorang pelayan tiba-tiba mendatangi kami.

“Permisi, mau pesan apa?”

“Fettucini Carbonara dan Peppermint Tea satu,” ujar kami bersamaan. Kami berdua lalu saling berpandangan. Aku mengedipkan sebelah mataku dan Sunghee membalasnya. Kami tertawa.

~ Love is like a tea, it warms when you’re cold ~

THE END

12 thoughts on “[FF] Peppermint Tea

  1. vidiaf says:

    waaaaa so sweet banget😄
    suka deh alurnya, tapi jonghyun playboynya parah banget ==’
    ga kebayang Eunhyuk kayak gitu huaaaaa *nose bleed

      • vidiaf says:

        ne, cheonmaneyo
        gay? kasian juga ==’ bener deh mendingan playboy, abis mukanya muka mesum (?) *plak
        sungmin? ga dikemana2in haha, dianya lagi pengen beduaan bareng kyu, yaudah aku ngacir ke hyuk

      • sungheedaebak says:

        makanya pilih Jonghyun, kalo Taemin kan jauh banget = =”
        lho? bukannya hyuk lagi sama sunghee ya? kan mereka bulan madu ke Pulau Maladewa *letters of hearts* wkwkwkwkwkwk😄

  2. dhila_アダチ says:

    ya ampuuuun, so sweetnya kebangetan.>.<
    bener, bener, skua ama quotenya..
    'teh tanpa daun mint hanyalah secangkir teh'

    gaya nulisnya kereen…^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s