[FF] Letters of Hearts part 8 (END)

“Mworago? Kau mendadak minta aku jemput lagi di bandara?”

Tidak mendadak kok, aku ke Paris besok.”

“Itu namanya mendadak, Hyukjae! Aku besok ada syuting drama musikal tahu! Dan satu hal, sejak kapan aku menjadi dongsaeng-mu?”

Sejak aku memanggilmu saeng tadi. Ayolah, Kyuhyun ah…tolong aku…ini menyangkut hidup dan mati..” Hyukjae memelas.

“Aish..” Kyuhyun berkacak pinggang dengan sebelah tangan, sedangkan tangan lainnya memegang ponsel. “Memangnya kau mau apa ke Paris?”

Aku ingin melamar seseorang.”

“Aigoo…Lee Sunghee ya?” Kyuhyun menahan senyumnya. Teman satu kamarnya, Kim Jonghyun yang juga seorang penyanyi dan berkolaborasi dengan Kyuhyun, meliriknya aneh. Kyuhyun menempelkan telunjuknya di depan bibir. Senyum menghias wajahnya. Jonghyun terlihat antusias, bibirnya bergerak mengucapkan suatu kata tanpa suara. Kyuhyun menjauhkan ponselnya dari telinga dan me-loudspeakernya.

Yeobosaeyo?” tanya Hyukjae heran karena tidak mendapat jawaban dari Kyuhyun.

“Ah, ne?”

Jadi bagaimana? Kau bisa mengatur semuanya?

“Kau bicaralah pada Jonghyun. Dia lebih romantis dan mengerti tentang hal seperti ini daripada aku.”

Ada Jonghyun di situ? Aigoo…lama tak bertemu.” Kyuhyun dengan bodohnya mengangguk, padahal Hyukjae tidak bisa melihatnya. Dia lalu menyodorkan ponselnya pada Jonghyun dan langsung diterima oleh lelaki itu.

“Yeobosaeyo, Hyung?”

Ne, Jonghyun ah~ Aku butuh bantuanmu.”

“Mau melakukannya dimana?”

Kau sudah tahu? Aish…devil dongsaeng itu pasti me-loudspeaker percakapan tadi.”

“Hehehe, memang, Hyung, aku yang menyuruhnya.”

Kau ini sama saja.”

“Tapi di Menara Eiffel pasti banyak orang yang datang.”

Memang itu tujuanku.”

“Gila…gila…kau benar-benar gila hanya karena satu perempuan. Ck.”

Ya sudah kau mau bantu tidak, Jjong?

“Bagaimana aku bisa bantu kalau rencananya saja tidak tahu?”

Aaahh ya benar. Begini, rencananya…

= = =

Donghae membuka pintu apartemennya dan mendapati apartemennya kosong. Dia mengernyit heran.

“Hyuk ah? Hyukjae Hyung?” panggil Donghae, namun yang dipanggil tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

“Aish kemana dia?” Donghae mengacak rambutnya.

“Lho? Kau tidak tahu, jagi? Hyukjae kan pergi ke Paris tadi pagi.” Chaerin tiba-tiba berada di ambang pintu. Donghae berbalik dengan heran.

“Tadi pagi?!” seru Donghae. Chaerin hanya mengangguk.

“Dia terlihat buru-buru dan membawa koper besar. Apa dia tidak mengatakan sesuatu padamu?” kini Chaerin heran. Donghae menggeleng dengan tampang bingung.

“Tidak sama sekali. Whoossh…dia tiba-tiba menghilang.”

“Aneh..kukira kau juga ikut bersamanya. Dimana ada dia, di situ ada kamu, kan?”

“Aish, memangnya kami kembar siam?” Donghae berdecak kesal. Chaerin mengangkat bahu. Dia lalu berjalan menuju kulkas untuk mencari minuman. Saat hendak membuka pintu, matanya menangkap secarik kertas ungu yang ditempelkan ke kulkas dengan magnet. Chaerin membacanya sekilas dan segera memanggil kekasihnya.

“Jagiya, aku menemukan sesuatu.”

“Apa?” Donghae berjalan mendekati Chaerin. Gadis itu menunjuk kertas di kulkas dan Donghae menatapnya. Dia mengambil kertas itu dan membacanya.

“Hae, maaf aku tidak berpamitan dulu. Aku pergi ke Paris untuk mengurus sesuatu. Detail acaranya aku kirimkan ke e-mail. Buka e-mail ya. Bye-bye! Hati-hati di rumah!” Donghae dan Chaerin bertukar pandang. Donghae pun segera menghambur ke meja komputer dan men-cek e-mailnya. Chaerin ikut di sampingnya.

“Woa…” Donghae terlihat kagum saat membaca isi e-mail tersebut. Chaerin sendiri sampai menutup mulutnya.

“Daebak..” bisiknya.

= = =

“Mwo?! Ke Paris?!” jerit Sunghee. Key dengan sigap menutup mulutnya. Sunghee melepas tangan Key dengan risih.

“Apa-apaan dia? Sudah menyerah denganku?” tanya Sunghee. Key mengangkat bahu.

“Aku dengar ini dari Donghae Hyung. Hyukjae Hyung tiba-tiba menghilang kemarin ke Paris.”

“Heo? Sejak kapan kau memanggil mereka ‘Hyung’?”

“Sejak aku tahu bahwa memanggil mereka tanpa embel-embel ‘Hyung’ itu tidak sopan.”

“Lalu Donghae tahu darimana?”

“Dia menemukan note kecil di kulkas. Kalau tidak salah isinya di Paris itu ia akan melakukan sesuatu. Kita diundang juga katanya.”

“Ha? Mau apa lagi dia?” Sunghee mengusap dagunya dengan tangan. Key mengangkat bahunya lagi.

“Bisakah kau berhenti mengangkat bahu?” desis Sunghee kesal. Key menghela napas.

“Sebaiknya sekarang kita siap-siap ke Paris juga.”

“Ngapain? Di Korea aku masih ada kerjaan. Lagipula aku ada proyek novel yang harus diselesaikan bulan depan!”

“Masih ada 720 jam lagi, kan? Itu masih lama!”

“Tidak pas 720 jam juga, kan…”

“Alah yang jelas di atas 600 dibawah 1000, ribet! Ayo ikut saja!”

“Lalu yang lain bagaimana?”

“Yang lain siapa? Semuanya sudah ke Paris!”

“Jinjayo?!” Sunghee membelalak. Key mengangguk cepat.

“Maka dari itu aku jauh-jauh ke tempat majalah ini! Ayolah, cepat! Ketinggalan pesawat lho!”

“Kenapa semua jadi serba mendadak sih? Aku belum siap apa-apa.”

“Kau tinggal membawa bajumu, urusan transportasi sudah aku urus. Ppali!!”

“Aish, chamkanman! Kau tidak lihat aku sedang membereskan barang bawaanku?” Sunghee jengah. Key mendengus. Dia pun membantu Sunghee membereskan barang-barangnya. Tak lama kemudian mereka bergegas menuju mobil dan meluncur menuju bandara setelah mampir ke apartemen Sunghee.

= = =

Di pesawat, Sunghee tidak bisa berhenti memikirkan Hyukjae. Key tertidur di sebelahnya, itu membuatnya menyibukkan sesuatu dengan berkhayal. Tapi yang ada malah wajah Hyukjae di otaknya. Dia bahkan ingat saat Hyukjae sedang berbincang dengannya di loteng apartemen. Itu terjadi sekitar 2 tahun yang lalu.

“Hee, nanti kalau kau mau menikah, mau menikah dimana?” tanya Hyukjae. Wajah Sunghee merona ditanyai seperti itu.

“Aku ingin menikah di Paris.”

“Wae?”

“Soalnya Paris itu tempat yang sangat romantis! Setelah menikah di Paris, aku ingin berbulan madu di Pulau Maladewa.”

“Pikiranmu sudah jauh sekali ya..”

“Hehehehe…” Sunghee tersipu. Hyukjae tersenyum.

“Suatu saat nanti, maukah kau menikah denganku di Paris?”

Sunghee terkesiap. Paris! Benar! Ia sekarang sedang terbang di Paris dan Hyukjae sedang mengurus sesuatu di sana. Benarkah…

Ah, tidak Sunghee, tidak! Tidak mungkin Hyukjae benar-benar melamarnya di Paris. Tidak mungkin! Sunghee menggelengkan kepalanya. Key yang terbangun pun menatap heran ke arahnya. Wajah Sunghee memerah kemalu-maluan dan ia pun melihat keluar jendela, berusaha menghindari tatapan aneh Key.

“Kau tahu, Hee? Karena aku sering bersama denganmu, pacarku memutuskanku.”

“Mworago?!” ucap Sunghee kaget. Key mengangguk, tampangnya terlihat serius.

“Tapi tenang saja, aku sudah menemukan penggantinya.”

“Nugu?”

“Dokter cantik yang ada di sana.” Key menatap ke suatu arah. Sunghee mengikuti arah pandangnya.

“Yang mana?”

“Itu…yang baju merah hitam.”

“Oh…” Sunghee memicingkan matanya. Dia lalu membelalak. “Key! Dia itu sahabatku!”

“Siapa namanya?” ujar Key antusias.

“Kang Raeki. Sepertinya dia masih single. Kau lihat saja jarinya.”

“Duh, kau yang sahabatnya kok tidak tahu dia masih single atau tidak?”

“Aku sudah lama tidak bertemu dengannya.”

“Ya sudah, sebentar ya..” Key berdiri dan berjalan menuju Raeki. Mereka terlihat berbincang sebentar sebelum Key kembali dengan wajah masam. Sunghee menunggu dengan tidak sabar.

“Dia sudah tunangan.” Key cemberut. Sunghee terkejut.

“Jinja? Dengan siapa?”

“Cho Kyuhyun!”

“Jeongmal?!” Sunghee nyaris menjerit. “Kenapa tidak memberitahu sih?”

“Molla…huwaa…tidak jadi ada penggantinya!”

“Sudah kau balikan dengan pacarmu saja. Dia kan baik.”

“Tapi dia cemburuan.”

“Ya salah sendiri dekat-dekat denganku.”

“Aish!” Key berlagak hendak memukul Sunghee. Sunghee terkekeh sementara Key cemberut. Sunghee tidak tahu, itu hanya taktik Key saja agar Sunghee tidak curiga dengan ‘penculikan’ tiba-tiba ini. Ternyata taktik Key berhasil. Sunghee sibuk berbincang dengan Key dan Raeki hingga melupakan Hyukjae untuk sejenak.

= = =

Key mengantarkan Sunghee ke sebuah hotel. Selesai mengantarkan Sunghee ke kamarnya, Key langsung melesat pergi. Dia bilang dia ingin bertemu dengan teman lamanya di Paris. Sunghee bisa mengerti dan dia pun menerima kesendirannya di sana.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.

“Room service!”

Sunghee segera berjalan menuju pintu dan membukanya.

“I got this from someone. He said it’s for you.” Petugas itu memberikan sebuah amplop merah dan Sunghee pun menerimanya dengan heran. Setelah berterima kasih pada petugas itu, Sunghee pun menutup pintu kamarnya. Sunghee berjalan sambil membuka amplop itu. Dia menjatuhkan diri di tempat tidur dan mulai membaca suratnya.

“Merah melambangkan keberanian. Satu jam lagi, datang ke restauran hotel.” Sunghee mengernyit. Itu saja? Surat macam apa ini? Siapa yang mengirimnya?

Awalnya Sunghee ragu apakah ia harus mengikuti perintah di surat itu atau tidak. Tapi karena penasaran, akhirnya ia berjalan menuju restauran hotel. Dia memilih satu meja dan duduk di sana. Seorang pelayan mendekatinya.

“Seseorang memberikannya untukmu,” ucap pelayan itu dengan bahasa Prancis. Sunghee mengangguk berterima kasih. Pelayan itu memberikan sebuah amplop berwarna hijau, kini disertai dengan bunga mawar merah. Sunghee mengernyit heran. Dia cepat-cepat membuka amplop itu dan membaca isinya.

“Hijau melambangkan kesucian. Setelah meminum green tea, datang ke toko bunga dekat menara Eiffel. Secepatnya.” Sunghee semakin penasaran. Siapa yang memberikan surat ini padanya? Ia pun bertanya pada pelayan tadi tapi pelayan itu berlagak tidak tahu. Sunghee merasa jengah. Dia pun memutuskan untuk mengikuti perintah di surat itu.

Sunghee sampai di toko bunga dan masuk dengan ragu ke dalamnya. Ibu penjual bunga itu menyambutnya ramah dan memberikan sebuket bunga Jonquil kepadanya. Di antara bunga-bunga itu, terselip amplop biru. Sunghee semakin penasaran dan heran. Apalagi ketika ibu itu memberikan air mineral beroksigen padanya. Sunghee tidak bisa berpikir dengan jernih ada apa dengan semua ini. Dia mencoba mengontak temannya tapi tak ada satupun yang menjawab. Sunghee akhirnya membuka amplop biru itu di depan toko.

“Biru melambangkan ketenangan. Bunga Jonquil berarti cintai aku. Setelah minum air mineral, datang ke puncak gedung seberang menara Eiffel. Kau akan tahu ada apa.” Sunghee tak bisa menunggu lagi. Dia segera meneguk air mineral itu dan segera menuju gedung tersebut. Tapi ternyata, di depan gedung, ia dicegat dua orang gadis.

“Seseorang menyuruh kami memberikannya padamu.” Gadis yang kurus memberikan amplop berwarna hitam, sedangkan yang pendek memberikan amplop berwarna putih. Tanpa sempat Sunghee bertanya, dua gadis itu telah pergi. Sunghee berdecak kesal dan bergegas menuju puncak gedung sambil membaca surat-surat itu di lift.

“Hitam melambangkan kegelapan. Sebentar lagi semuanya akan terungkap.” Sunghee lalu membaca yang putih.

“Putih melambangkan cahaya. Beberapa detik lagi..” Sunghee pun sampai di puncak gedung, seorang lelaki bertubuh tinggi tegap sedang berdiri membelakanginya. Sunghee kenal sekali siapa lelaki itu.

“Merah, hijau, biru, putih dan hitam. Semuanya melambangkan kita,” ujar lelaki itu. Sunghee mengernyit. Di puncak itu tak ada siapapun selain mereka.

“Keberanian kita mempertahankan cinta kita yang suci, yang menenangkan karena cahayanya di tengah kegelapan.” Sunghee terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Di hadapannya ini berdiri seorang pencuri, pencuri hatinya.

Lelaki itu berbalik. Sunghee tertegun. Matanya berbinar.

“Would you marry me?” ucap Hyukjae lembut. Di belakangnya terbang dua buah helikopter yang diikati dengan spanduk raksasa bertuliskan “Saranghaeyo, Lee Sunghee.” Sunghee menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berbinar haru. Dia menatap Hyukjae yang berlutut di hadapannya, lalu tatapannya beralih pada spanduk raksasa itu.

“Hyuk..ini..” Sunghee tak mampu menyelesaikan kata-katanya.

“Maukah kau menikah denganku, Sunghee? Aku tahu aku tidak punya apa-apa. Aku hanya seorang lelaki yang bodoh, yang tak sempurna, yang sayangnya malah mencintai seorang puteri yang cantik jelita sepertimu. Seorang malaikat yang baik hatinya. Seorang bidadari yang turun dari langit untuk mencari pasangan hidupnya. Sementara aku? Aku hanyalah sebutir kerikil diantara batu-batu besar, kerikil yang tidak bisa apa-apa. Maukah kau mengulurkan tanganmu untuk kerikil ini, wahai bidadariku?” Setiap kata menembus relung hati Sunghee, meninggalkan kesan indah di sana. Sunghee tersipu.

“Hyuk, kau tahu jawabanku..”

“Siapa tahu jawabannya..”

“Aku mau,” Sunghee memotong perkataan Hyukjae sambil mengulum senyum. Hyukjae terpana sejenak. Sunghee terkekeh.

“Kau…apa?” tanya Hyukjae.

“Aku..mau…” kata Sunghee pelan tapi dapat didengar dengan jelas oleh Hyukjae. Hyukjae tak bisa menahan senyumnya lagi. Ia pun menyematkan cincin ke jari Sunghee dan menatap matanya dalam.

“Saranghae..”

“Na ddo..”

Hyukjae mencium bibir Sunghee lembut. Bersamaan dengan itu, beberapa kembang api dinyalakan di belakang spanduk raksasa tersebut. Sunghee tersipu.

“Hyuk, ini lamaranmu yang terhebat!” kekeh Sunghee. Hyukjae hanya bisa tertawa pelan.

“Dan ini hari yang terindah! Akhirnya aku bisa mendapatkanmu, Sunghee..” Hyukjae menempelkan keningnya ke kening Sunghee. Mereka berdua bertatapan.

“Tapi…aku masih ada satu hal yang mengganjal..” Sunghee menjauhkan diri dari Hyukjae. Lelaki itu mengerutkan kening bingung.

“Apa itu?”

“Apa aku pantas bersanding denganmu? Kau itu kan idola, fansmu banyak, wajahmu selalu terlihat setiap hari di televisi dan bahkan suaramu selalu terdengar di radio. Sedangkan aku? Aku hanyalah gadis biasa yang ditipu oleh mantan suaminya sendiri. Aku bukan gadis lagi, kau tahu?”

“Aku tahu, dan aku tidak mempermasalahkannya. Selama kau masih bisa meneruskan keturunanku, apa itu masalah?”

“Kau tahu kondisiku, Hyuk..”

“Kau tidak bisa punya anak?”

“Bukan itu!”

“Lalu apa masalahnya? Tidak ada.”

“Tapi, Hyuk..”

“Dengar, Sunghee,” Hyukjae memegang kedua pundak Sunghee dan menatap matanya dalam, “Yang menikah itu aku dan kamu, bukan mereka. Yang saling mencintai itu kita, bukan mereka. Jadi apa kita harus mendengarkan perkataan mereka? Tidak. Kau memang sudah pernah dipakai Hankyung, tapi apa kau tidak bisa meneruskan keturunanku? Tidak. Jadi apa lagi yang salah? Kita berdua saling mencintai dan berjanji akan hidup bersama selamanya, itu salah?”

Sunghee terdiam mendengar kata-kata Hyukjae. Lelaki di hadapannya ini benar-benar serius. Dia bahkan menunggu Sunghee. Sunghee sendiri sudah kenal lelaki ini sejak lama, lelaki ini tidak pernah sekalipun menyakiti hatinya. Jadi apa lagi yang harus diragukannya? Status mereka pun setara. Sunghee sendiri seorang penulis terkenal yang sedang naik daun. Derajat mereka sama. Warga negara juga sama. Apa lagi yang kurang?

Oh, Sunghee ingat. Nama aslinya.

“Menikahlah denganku…Nisa..” lirih Hyukjae. Sunghee tertegun. Jantungnya berhenti berdegup dan kembali berdegup dua kali lebih cepat. Perlahan ia mendongak, menatap keseriusan di mata Hyukjae.

“Kau tahu…nama asliku?” bisik Sunghee tak percaya. Hyukjae mengedipkan sebelah matanya.

“Apa yang tidak kuketahui tentangmu?” Sunghee tersenyum. Dia lalu terkekeh dan memukul lengan Hyukjae pelan. Wajahnya memerah lagi. Hyukjae tertawa.

“Jadi..? Janji adalah janji lho, Sunghee. Kau harus menepatinya.”

“Arasseo! Aku tidak punya alasan untuk menolakmu!” Hyukjae terlalu senang untuk membalas kata-kata Sunghee. Dia menarik Sunghee ke dalam pelukannya dan mencium keningnya lembut.

“Saranghaeyo…yeongwonhi..”

“Na ddo saranghae yeongwonhi.”

= = =

EPILOG

Lee Sunghee berjalan cepat sambil menenteng kantung besar di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang ponsel di dekat telinga. Dia terlihat tergesa-gesa.

“Duh! Kenapa kalian cerewet sekali? I’m on my way!” Sunghee jengah.

“Mobilku sedang di bengkel! AC-nya bermasalah!” balas Sunghee. Langkahnya dipercepat lagi, nyaris berlari.

“Mwo?! 5 menit lagi mulai?! Andwae! Kemarin kau bilang shooting-nya mulai pukul 10! Sekarang masih pukul setengah 10! Rolex-mu menunjukkan jam belahan dunia mana?” ujar Sunghee kesal. Kelihatannya lawan bicaranya benar-benar membakar emosi Sunghee.

“Kau kan tahu sendiri aku tidak suka yang serba mendadak! Aku harus mempersiapkan sesuatu dulu!” Sunghee masih berbicara dengan kesal di telepon.

“Iya iya! Ini aku sudah dekat!” Sunghee berjalan cepat menuju lokasi shooting.

“Yah! Kenapa aku yang harus melakukan semua ini, sih?! Aku sudah capek-capek menulis naskah dan kalian malah enak-enakan menyuruhku mengambil kostum??” gerutuan Sunghee masih berlanjut.

“Sudah, berhenti bicara. Aku sudah sampai.” Sunghee mematikan ponselnya dan berjalan cepat menuju lapangan parkir, tempat shooting kali itu. Dia melihat banyak orang sedang melihat ke arahnya.

“Aigoo…sutradara kok lama sekali?” ujar Key, bintang film itu sekaligus orang yang cerewet menelepon Sunghee.

“Cerewet. Kau tidak mengerti hari ini Seoul panas sekali.” Sunghee menyerahkan kantung berisi kostum itu pada beberapa anak buahnya dan menghempaskan tubuhnya ke kursi sutradara. Tangannya bergerak mengipas-ipas lehernya yang berkeringat. Key tersenyum tipis.

“Nih, minum.” Dia menyodorkan sekaleng soft drink pada Sunghee. Dia menerimanya dengan senang hati.

“Gomawo. Aish, kalian membuatku menderita hari ini!” Sunghee membuka kaleng soft drink dan meneguk isinya.

“Oke, guys! Let’s start now! Key, stand by di sini, Raeki kau dari ujung sana datang menghampiri Key dan tampar wajahnya. Ara?”

“Waeyo?! Kenapa tampar? Di naskah tak ada adegan menampar! Kau dendam padaku?” ucap Key kesal. Sunghee terkekeh.

“Arasseo, bukan itu maksudku, aku hanya bercanda. Raeki kau datang dari ujung sana dan berjalan mendekati Key. Lalu…” Sunghee belum selesai bicara ketika seseorang tiba-tiba mengecup pipinya. Sunghee tersentak kaget dan sontak menoleh ke arah oknum yang mencium pipinya. Lelaki itu menyeringai.

“Sibuk sekali, yeobo?” Hyukjae tersenyum lembut. Sunghee tersipu. Dia lalu mengalihkan pandangan ke arah para pemain film. Tapi mereka malah menunduk dalam menyambut kedatangan Hyukjae.

“Pak produser, annyeonghasaeyo,” sapa mereka. Hyukjae tersenyum dan mengangguk. Sunghee tersenyum masam.

“Pulang kerja masih lama? Eunhyuk dan Eunhee ingin bertemu denganmu,” kata Hyukjae di telinga Sunghee.

“Oh, mungkin aku pulang jam 5. Kenapa dengan mereka?”

“Eiii…sutradara tak boleh berbohong. Kita pulang jam 8 malam hari ini,” ujar Yoonmin, staff juga yang memegang bagian editing.

“Mworago?! Tuh kan, aku tidak diberitahu lagi!” kesal Sunghee. Semuanya tertawa, termasuk Hyukjae.

“Hey kalian, bisa tidak jam pulangnya dimajukan jadi jam 6? Aku butuh sutradaranya,” kata Hyukjae lantang.

“Oh, boleh, boleh! Sangat boleh!” Sunghee menatap staff-nya dengan kesal. Hyukjae hanya tersenyum.

“Aku nanti naikkan gaji kalian deh.” Hyukjae mengedipkan sebelah mata. Sunghee mendengus.

“Memangnya punya hak apa kau?” gumamnya.

“Kau lupa Donghae masih sepupuku? Mudah untuk membujuknya menaikkan gaji mereka.” Hyukjae menarik kursi plastik dan duduk di samping Sunghee. Sunghee meliriknya.

“Kamu ngapain di sini?”

“Mendampingimu.”

“Tidak bekerja?”

“Ini lagi.”

“Kerja apa?”

“Mendampingimu.”

“Aish…ttwaeso! Ya sudah kita mulai saja adegannya…camera rolling…ACTION!”

= = =

“Eomma!! Appa!!” seru seorang anak perempuan. Sunghee dan Hyukjae tersenyum saat memasuki rumah mereka.

“Annyeong, Eunhee. Mana Eunhyuk? Kakakmu menjagamu dengan baik?” Sunghee membelai kepala putrinya dengan lembut. Eunhee mengangguk.

“Tadi Eunhyuk Oppa membuatkanku makanan karena aku lapar. Sekarang dia sedang membaca buku di kamarnya.” Seluruh tubuh Eunhee bergerak ketika menceritakannya. Rambutnya yang dikucir dua bergoyang-goyang. Lucu sekali, batin Sunghee. Hyukjae mendekati Sunghee dan membisikkan sesuatu di telinganya.

“Sifat Eunhyuk jiplakan sifatmu!” Sunghee terkekeh. Mereka bertiga memasuki ruang keluarga. Hyukjae membawakan tas Sunghee dan berlalu ke kamar mereka, sementara Sunghee masih asyik dengan Eunhee.

“Eunhee makan apa tadi?”

“Eunhyuk Oppa bilang itu jajangmyun, tapi rasanya seperti mi instan,” ucap Eunhee, gadis kecil berumur 4 tahun itu polos. Sunghee terkekeh.

“Itu memang mi instan, Sayang.” Sunghee lalu mendekat ke tangga dan melihat ke atas.

“Eunhyuk ah?” panggilnya.

“Ne, Eomma?” sahut Eunhyuk.

“Kau tidak kangen dengan Eomma?” goda Sunghee.

“Kangen. Tapi nanti, Eomma, setelah aku selesaikan bab novel ini dulu.” Sunghee berdecak. Hyukjae keluar dari kamar dengan memakai kaus dan celana panjang.

“Apa kubilang? Sifat Eunhyuk itu jiplakan sifatmu!”

“Memangnya Eunhee tidak mengikuti sifatmu?” balas Sunghee. Eunhee yang merasa dipanggil menatap kedua orang tuanya bingung. Tapi kemudian matanya berbinar cerah.

“Eomma! Tadi Appa mengajariku menari. Lihat ini..” Eunhee mulai menari dengan lincah. Sunghee bertepuk tangan.

“Kau lihat, Hyuk? Dia menjiplak sifatmu dan bahkan bakat dance-mu!”

“Eunhyuk juga memiliki bakat rap-mu kok.” Hyukjae berkata dengan ringan. Sunghee tersenyum. Tak lama kemudian Eunhyuk turun ke bawah dan bergabung dengan anggota keluarga yang lain.

“Ada apa sih? Kenapa semuanya harus berkumpul di bawah?” tanya anak laki-laki berumur 6 tahun itu. Sunghee dan Hyukjae berpandangan, lalu mereka menghela napas.

“Kita makan di luar yuk?” ajak Hyukjae ramah. Eunhyuk terlihat menimang-nimang ajakan ayahnya. Tapi kemudian ia mengangguk.

“Tapi nanti beli buku ya?” Mata Eunhyuk berbinar. Hyukjae hanya mengangguk. Eunhyuk tersenyum puas. Eunhee cemberut melihat kakaknya akan mendapatkan sesuatu.

“Eomma, Appa, aku juga minta dibelikan buku.”

“Hahahaha…iya, Sayang..nanti Eomma belikan.” Sunghee mengelus rambut Eunhee.

“Asyik!” Eunhee melompat gembira. Sunghee dan Hyukjae tertawa. Hyukjae lalu mengusap rambut Sunghee dan mengecup bibirnya sekilas.

= = =

South Korea, 09-09-2018

Dear my lovely husband, Lee Hyukjae, terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku. Kau mengubah semua hidupku, kau memberi hidup baru di dalam hidupku yang hanya satu kali ini.

Cintaku Lee Hyukjae, terima kasih sudah setia menungguku selama ini. Terima kasih kau mau memperjuangkan cintamu demi aku. Aku sangat tersentuh akan kesungguhan hatimu.

Hyuk-gun, rompi anti peluru ini sekarang sudah tidak rusak. Pelayar ini pun sudah menemukan pelabuhan abadinya. Kau benar, ini memang takdir kita. Kita dilahirkan untuk selalu bersama selamanya, bahkan jika maut memisahkan, aku yakin kita akan bersama di akhirat nanti.

Hyukjae sayang, aku benar-benar tersentuh ketika membaca suratmu yang kau masukkan dengan diam-diam ke tasku 7 tahun yang lalu, tepat setelah kau melamarku. Di sana kau tulis masa-masa yang indah saat kita berdua bersama, lengkap dengan fotonya. Lebih mirip kliping daripada surat, hehehe. Tapi aku benar-benar tersentuh sampai nyaris menangis. Itu menunjukkan kesungguhan hatimu untuk mencintaiku. Kau hebat. Aku bangga menjadi istrimu. Kamu rela menerima keadaanku apa adanya. Kamu mengerti bagaimana kondisiku dan kamu tidak mempermasalahkannya. Kamu benar-benar ingin memilikiku, kan? Sekarang kau sudah memilikiku dan bahkan memiliki dua anak yang lahir dari rahimku. Itu keinginanmu, kan?

Kau yang memberi nama mereka berdua, Hyukjae. Anak kita yang pertama bernama Eunhyuk. Eun itu artinya perak sementara hyuk itu dari namamu, kan? Anak kita yang kedua bernama Eunhee. Penjelasannya sama sedangkan hee itu dari namaku. Bukan begitu? Hyuk, aku kepikiran satu hal. Bagaimana jika kita punya anak yang ketiga? Namanya akan menjadi Eunsung kah? Atau Eunjae? Hahaha…

Oh ya, Happy 7th Annyversary! Semoga pernikahan kita akan langgeng sampai maut memisahkan! Amin.

Sekian dariku saja, Hyuk Yeobo. Aku sekarang sedang sibuk menjadi penulis naskah sekaligus sutradara. Jeongmal himdeuro! Keundae, nan haengbokkhaeyo!

From your wife,

Lee Sunghee

South Korea, 09-09-2018

Untuk istriku tercinta, Lee Sunghee!

Aku kadang tidak mengerti jalan pikiranmu. Kita satu rumah, tapi kenapa kita harus berkomunikasi dengan surat? Tapi setelah mendengar penjelasanmu, aku malah tersentuh. Kau ingin mengenang saat-saat kita masih bersurat-suratan, bukan? Kau juga menerapkannya sebagai kebiasaan diantara kita. Setiap tanggal cantik, kita selalu bertukar surat mengenai satu bulan yang telah terlewati kemarin. Setiap event penting pun kita selalu bertukar surat. You’re so sweet, my beautiful wife!

Justru aku yang ingin berterima kasih padamu. Kau sudah menjadi istri yang baik untukku juga ibu dari anak-anakku. Kau mau menerimaku, tapi tidak apa adanya. Kau berusaha merubah kebiasaan burukku, misalnya jarang cuci muka. Kamu selalu mengajak cuci muka bersama, jadi saja…aku ketularan rajin cuci muka! Tapi, terima kasih ya. Itu menunjukkan bahwa hal terkecil dari akupun kau ketahui dengan baik. Jeongmal gomawoyo, Lee Sunghee! Saranghaeyo!

Aku membuat surat itu sambil mendengarkan lagu “Reset”. Itu lagu kenangan kita, bukan? Aku juga membuatnya sambil memikirkan wajahmu. Jadilah dalam beberapa menit saja surat itu selesai. You’re my endless inspiration!

Hey, apa ini berarti anak ketiga akan lahir? Hahahahaha…jika itu laki-laki, berarti beri nama ia Eunsung. Apa namanya terlalu keperempuanan? Bagaimana dengan Eunji? Jika perempuan, beri nama Eunjae! Atau Eunsung juga bagus! Hahaha nan haengbokkhae! Aku jadi memikirkan hal ini, Eunhyuk mengikuti sifatmu, Eunhee mengikuti sifatku, lalu dengan anak ketiga….apa ia akan mewariskan kedua sifat kita sekaligus? Bagaimana jadinya? Dingin tapi humoris? Aku tidak sabar menunggu anak ketiga! Kalau bisa keempat juga, kelima, keenam! Hahaha ^^

Happy 7th Annyversary! Tak terasa kita sudah menikah selama 7 tahun. Wow! Tapi wajahmu masih sama seperti umur 25, aku juga sama. Hanya saja Eunhyuk dan Eunhee mengingatkanku bahwa semakin hari aku semakin tua. Mereka terlihat sangat muda dan menggemaskan. Dan lihat aku sekarang, 34 tahun! Wah, aku benar-benar merasa masih berumur 27 tahun!

Aku tahu kau sibuk, aku juga begitu. Tapi jangan lupakan Eunhyuk dan Eunhee ya! Aku juga tidak akan melupakan mereka. Beruntung Noona-ku ingin menjaga mereka selama kita bekerja. Tapi kurasa lain kali kita harus meluangkan waktu lebih banyak untuk mereka.

Oh, lusa ulang tahun Haerin, anak Donghae dan Chaerin, kita harus membeli kado. Berarti sekarang umurnya sama dengan Eunhyuk ya. Ah, coba saja Donghae bukan sepupuku, pasti sudah kujodohkan Eunhyuk dengan Haerin. Kekeke~!

Oke, sudah dulu ya, Sayang. Map-map berisi kerjaan kantor itu sedang memelototiku. Aku bisa mati jika tidak mengerjakannya.

From your husband,

Lee Hyukjae

PS: Liburan nanti, kita pergi berdua yuk ke Pulau Maladewa. Eunhyuk dan Eunhee kita titipkan ke Sungmin Oppa-mu. Eottae? Kekeke~

THE END

 

Note: Special thanks for Yoonmin yang menyumbangkan ide di awal-awal, Raeki yang menyumbangkan ide di tengah-tengah, dan Chaerin yang bersedia namanya dipakai ^^ Without you, this fanfic would never be like this. Adegan yang berasal dari ide mereka cuman di awal doang kok. Sekitar part 4 sampe part 8 aku buat sendiri dan melenceng dari alur yang udah aku siapin sebelumnya. Wkwkwkwkwk…tapi tetep suka, kan?

28 thoughts on “[FF] Letters of Hearts part 8 (END)

  1. Sangyoon1412 says:

    DAEBAAAAAAAK NISAAAAAAAA ^^
    NIH FF PALING BAGUUS YANG PERNAH ANEE BACAAAA ^^
    #ke caps bae lah

    hyuk-hee tiada dua ^^

    :bd

  2. vidiaa says:

    waaaa FFnya bagus banget asli!!! seriusan!!!!😄
    endingnya + epilognya apalagi wuiiiihhh….. keren abis!!!😄
    suka banget!!!!!
    hyuknya ganahaaaaan~ coba aja Sungheenya aku *plak
    (maunya .___.)

  3. Lena says:

    keren banget😉
    aku fans perdana kamukah ?
    ku kira tidak ! banyak banget yang suka karya kamu (idung nisa ngapung)😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s