[FF] Letters of Hearts part 7

Tiga bulan kemudian, Hyukjae telah sembuh total. Ia dan Sunghee kembali mengisi acara Letters of Hearts. Semuanya kembali seperti biasa. Hankyung tidak mengungkit-ungkit masalah Hyukjae lagi. Hyukjae sendiri sudah tidak terlalu curiga dengan Hankyung. Donghae dan Chaerin telah menjadi sepasang kekasih. Dan yang terpenting adalah, berita miring antara Hyukjae dan Seori pun telah lenyap tak berbekas.

Sunghee yang heran dengan kondisi itu pun mendatangi Heechul di ruang kerjanya. Tak disangka, Heechul menyambutnya dengan ramah.

“Kenapa berita Hyukjae-Seori itu sudah lenyap?”

“Gosip kan hanya bertahan selama 75 hari.”

“Iya tapi biasanya masih ada sisa-sisanya. Tapi ini benar-benar tak berbekas. Aku membeli majalah ini juga tidak ada berita miringnya. Bahkan isinya pindah haluan menjadi cerita fiksi dan ilmu pengetahuan umum. Bahkan ada pengetahuan tentang kedokteran.” Sunghee menunjuk majalah di tangannya. Heechul tersenyum.

“Selain kamu yang menyadarkanku, ada orang lain juga yang menyadarkanku.”

“Siapa?”

“Hey, kawan! Berhentilah mengetik artikel kedokteran! Sini, bertemu dengan temanku dulu.”

“Oke!” Sunghee mengernyit. Rasanya ia mengenal suara tersebut.

“Hai, Sunghee! Lama tidak bertemu denganmu.” Sunghee menoleh ke sumber suara.

“Leeteuk Oppa?” Sunghee mengernyit heran. “Kau jadi…banting setir menjadi author majalah?”

“Kata siapa aku banting setir? Aku masih menjadi dokter, tapi aku sekali-sekali mempublikasikan artikel kedokteran.”

“Begitukah?” Wajah Sunghee berubah cerah. Leeteuk tersenyum.

“Tapi, Heechul Oppa, bagaimana dengan berjuta-juta pelangganmu?” sindir Sunghee.

“Kau tahu, Sunghee? Pelanggan kita bertambah banyak!” seru Heechul bahagia.

“Kita?” ulang Sunghee.

“Aku ingin kau bekerja di sini lagi. Kita sudah berubah, kan? Tidak membesar-besarkan masalah, tidak mengorbankan perasaan orang lain, dan sekarang kita membuat artikel berdasarkan fakta yang ada.” Sunghee tersenyum.

“Oke, kalau begitu! Mulai sekarang aku menjadi bagian dari kalian lagi!”

“GOMAWO!!” Heechul berseru riang dan memeluk Sunghee. Sunghee tertawa dan menepuk-nepuk punggung Heechul.

= = =

“Hey, kawan. Senyum terus? Sedang bahagia?” sapa Chaerin. Sunghee mengangguk. Mereka berdua sedang berjalan-jalan di Apgujeong-street. Mereka berjalan-jalan sambil melihat-lihat. Siapa tahu ada barang bagus.

“Rumor Hyukjae-Seori hilang. Dan lagi, Heechul Oppa tidak membesar-besarkan masalah lagi.”

“Iya… ngomong-ngomong tentang Min Seori, akhir-akhir ini dia jarang muncul ya,” kata Chaerin. Sunghee mengangguk.

“Tapi baguslah. Aku kurang suka dengannya.” Sunghee hanya terdiam mendengar Chaerin. Matanya tak bisa diam untuk melihat keadaan sekitar. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Dua orang yang dikenalnya. Lelaki dan perempuan. Sunghee terpaku. Mereka begitu dekat dan mesra. Sunghee sampai lupa untuk bernapas.

“Sunghee?” tanya Chaerin. Dia lalu mengikuti arah pandang Sunghee.

“Ya ampun..” bisiknya. Sunghee berbalik dan berjalan menjauh. Chaerin mengejarnya.

“Sunghee! Sunghee tunggu dulu!” Chaerin menarik tangan Sunghee. Gadis itu berbalik.

“Dia pengkhianat! Aku tidak tahu kenapa dia bisa bersikap seperti itu! Kepribadian ganda!”

“Hee…mungkin mereka hanya kebetulan bertemu. Sudahlah…”

“Kalau kebetulan bertemu tidak mungkin sedekat itu! Aku memang tidak mencintainya tapi aku mempercayainya! Dia…dia pembohong…pengkhianat!” Sunghee berlari menjauh. Chaerin mengejarnya.

Hankyung dan Min Seori terlihat sedang bermesraan di dekat sebuah toko perhiasan. Hankyung terlihat membelikan Seori banyak perhiasan yang gadis itu inginkan. Sunghee marah, kecewa. Semua kata-kata Hankyung itu palsu. Semuanya palsu.

= = =

Hyukjae berjalan pelan menuju apartemennya. Dia melirik apartemen Chaerin yang terbuka. Tumben. Biasanya pukul segini apartemen itu tertutup rapat. Chaerin sibuk menjadi kepala koki di restaurannya sendiri.

Samar Hyukjae mendengar isak tangis. Dia mengurungkan niatnya membuka pintu apartemen dan berjalan ke apartemen Chaerin. Hyukjae tertegun melihat Sunghee sedang menangis. Hyukjae mengetuk pintu. Chaerin menoleh ke arahnya dan membiarkannya masuk. Hyukjae pun masuk dan duduk di sofa single.

“Sunghee kenapa?” tanya Hyukjae pelan.

“Dia memergoki Hankyung bermesraan dengan Min Seori..” jelas Chaerin. Hyukjae terpaku. Ternyata benar kecurigaannya selama ini. Hankyung bukan pria baik-baik. Dia selingkuh dengan Min Seori.

“Aku ingin cerai,” bisik Sunghee. Hyukjae dan Chaerin terperanjat.

“Ke-kenapa? Kan belum pasti buktinya?” tanya Chaerin. Sunghee menggeleng.

“Hankyung pembohong. Aku tidak mau lagi menjadi istrinya.”

“Tapi, Sunghee..”

“Keputusan Sunghee benar,” ujar Hyukjae. Chaerin menatapnya tajam.

“Jangan karena kau mencintainya jadi kau selalu membenarkan keputusannya!”

“Aku tahu seperti apa Hankyung. Di hadapanmu mungkin ia baik, Sunghee, tapi dibelakang! Dia selalu mengantar Seori kemanapun gadis itu pergi. Dia bahkan membeli cincin lamaran untuk seorang gadis padahal ia sudah menikah dengan Sunghee!”

“Benarkah?” bisik Sunghee serak. Hyukjae mengangguk.

“Kau percaya padaku, Sunghee?”

“Selalu.” Sunghee mengangguk. Chaerin terdiam.

“Jika benar begitu…kau harus berpisah dengan Hankyung. Aku tidak mau sahabatku disakiti seperti ini,” putusnya.

“Tapi apa benar keputusanku ini?” Sunghee mendadak ragu. Hyukjae menatap mata Sunghee dalam.

“Cara yang terbaik adalah, cerita dengan keluargamu.”

= = =

Sunghee mengundang kakaknya untuk berkunjung ke apartemen Chaerin. Sunghee tidak mau mengundang kakaknya ke apartemennya dengan Hankyung karena ia ingin membicarakan tentang lelaki itu. Orang tua Sunghee sendiri masih tinggal di Indonesia.

“Nan niga bogoshipoyo..” Sunghee memeluk Sungmin, kakaknya. Sungmin membelai kepala adiknya.

“Sudah lama tidak bertemu. Sudah 4 bulan ya?”

“Ne…nan niga jeongmal bogoshipo…”

“Na ddo. Bagaimana kabarmu sekarang? Baik-baik saja? Hankyung?” Mendengar nama itu, Sunghee murung. Sungmin menangkap perubahan ekspresi di wajah adiknya.

“Ada masalah dengan Hankyung?” tanya Sungmin. Sunghee mengangguk.

“Dia…dia pembohong.”

“Pembohong?” Sungmin mengernyit. “Maksudmu?”

“Dia bilang dia mencintaiku, tak ingin meninggalkanku…tapi ternyata, dia bermesraan dengan gadis lain dan bahkan ingin melamar gadis itu.” Sungmin terpaku mendengarnya. Sunghee menunduk dalam. Tangannya memainkan cincin yang diberikan Hankyung.

“Kau yakin, Sunghee?”

“Sangat yakin. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.” Sungmin terdiam. Dia nampak terkejut mendengar berita ini.

“Orang tua kita sudah tahu?” tanya Sungmin. Sunghee menggeleng.

“Yang tahu hanya aku, Chaerin, Hyukjae Oppa, dan Oppa.”

“Lalu kenapa kau memberitahukan ini padaku?”

“Karena di keluarga kita, hanya Oppa yang bisa kupercaya.”

“Eomma?”

“Semakin hari Eomma semakin mirip Appa. Tidak mau mengurus aku.”

“Mereka tidak begitu..”

“Oppa, hentikan. Aku tidak mau membicarakan mereka. Apa yang harus kulakukan pada Hankyung, Oppa?”

“Oppa akan pikirkan jalan keluarnya. Sementara ini bersikap biasalah pada Hankyung. Jika ia macam-macam, cepat beritahukan pada Oppa.”

“Baiklah…”

“Oke, sepertinya aku harus menginap di hotel…hotel terdekat dari apartemenmu ada dimana?”

“Jangan di hotel.”

“Lalu dimana?” Sungmin mengerutkan kening. “Di apartemenmu? Tapi kan kau ada Hankyung..”

“Di sini. Di apartemen ini.”

“Heo? Waeyo?”

“Hyukjae Oppa ingin bicara sesuatu.” Sunghee menatap kakaknya. Sungmin terdiam lalu mengangguk.

Chaerin dan Hyukjae menunggu di depan apartemen. Hyukjae tidak bisa diam. Dia terus berjalan resah di depan pintu. Chaerin yang bersidekap di dinding sampai bosan melihat Hyukjae.

“Tak bisakah kau tenang sedikit? Sunghee hanya berbicara dengan kakaknya, tapi kau terlihat seperti suami yang resah menunggu istrinya melahirkan,” kata Chaerin kesal. Hyukjae menghentakkan kakinya. Chaerin terkejut.

“Aku sedang latihan jika Sunghee melahirkan anakku! Ah tidak, aku pasti lebih resah dari ini.” Chaerin ternganga mendengar jawaban Hyukjae.

“Siapa yang melahirkan dan anak siapa?” Hyukjae terlonjat kaget. Di ambang pintu berdiri Sunghee yang menatap ke arah mereka. Di belakangnya berdiri Sungmin. Dia menatap Hyukjae.

“Bolehkah aku…menginap di sini untuk sementara?” Sungmin tersenyum. Hyukjae tertegun. Dia lalu melirik Sunghee. Gadis itu mengedipkan sebelah mata. Senyum Hyukjae merekah.

= = =

“Oppa, lihat ini! Sunghee dengan Hyukjae ternyata masih berhubungan.” Seori menunjukkan surat di tangannya. Hankyung meliriknya dan mengambil surat itu ia membacanya.

“Lee Sunghee yang baik hati, aku bersyukur kita bertemu lagi setelah dua tahun tidak bertemu. Aku sangat bahagia ketika bertemu denganmu. Rasanya kepingan-kepingan puzzle hatiku kembali tersatukan dengan otomatis. Itu karena kamu. Setiap hari bertemu denganmu sama dengan bernafas dengan oksigen bersih, tanpa terkontaminasi oleh polusi udara.

Sunghee sayang, aku tahu aku tidak layak menulis surat seperti ini karena kau telah bersuami, dan suamimu itu bukan aku. Tapi tak apa, mungkin ini surat terakhirku. Surat terakhir yang kukirimkan padamu tak kau balas. Tapi aku mengerti.

Hee-chan, tolong jangan membenciku. Tolong jangan menjauhiku. Aku sudah merelakanmu pergi dengan Hankyung jika dia memang yang terbaik untukmu dan kau bahagia berada di sisinya. Tapi tolong, jangan buang hatiku. Aku tak apa hidup tanpa hati. Tapi jangan menjauhiku. Jangan menatapku dengan tatapan dinginmu itu. Itu benar-benar menyiksaku.

Maafkan kesalahanku selama ini, Sunghee. Maafkan aku yang tidak bisa berhenti mencintaimu. Kau harus tahu satu hal, Sunghee. Mencintaimu sama dengan hidup bagiku.

Dari orang yang masih mengharapkan dirimu,

Lee Hyukjae.” Hankyung membaca surat itu sampai habis. Ia menggertakkan giginya dengan geram.

“Sudahlah, Oppa…ceraikan saja si Sunghee itu. Kau lebih menikmatinya denganku, bukan?” goda Seori. Dia duduk di pangkuan Hankyung dan membelai wajah Hankyung lembut. Hankyung menahan napas.

“Hhh…aku memang ingin menikahimu. Sunghee sekarang tidak terlalu terkenal. Karir penulisnya agak ia tinggalkan demi mengisi acara radio. Apa-apaan itu?”

“Tubuhku juga lebih bagus dari Sunghee, kan? Aku juga lebih muda.”

“Aku tahu itu, Seori sayang. Tenang saja, secepat mungkin aku akan menceraikan Sunghee. Dan aku akan menikahimu.”

= = =

“Kyung ah…aku…harus bicara..” Sunghee berkata dengan gugup di hadapan Hankyung.

“Apa itu, Sayang?” Mata Hankyung tetap terfokus pada televisi yang menyiarkan acara sepak bola.

“Kau….mencintaiku?”

“Tentu saja. Kau sudah menanyakan hal itu berapa kali?”

“Kyung ah, tatap aku.”

“Hm?” Hankyung melirik Sunghee sekilas. “Sebentar dulu, Sayang. Acaranya lagi rame.” Matanya kembali menatap TV.

“Kyung!” seru Sunghee kesal.

“Mau bicara apa sih, Sayang?”

“Berhenti memanggilku ‘Sayang’! Aku minta cerai! Aku tahu kau selingkuh!” Sunghee melemparkan foto-foto Hankyung dan Seori yang diambil diam-diam oleh Hyukjae. Hankyung hanya melirik ke foto-foto yang dilemparkan Sunghee. Hankyung mendengus. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.

“Tidak perlu meminta cerai. Aku sudah menyiapkan surat cerai.” Hankyung menatap Sunghee. Sunghee menggigit bibir bawahnya menahan tangis.

“Pengkhianat..pembohong!” jerit Sunghee. “Kau menikahiku hanya untuk kesenangan pribadi? Aku bahan pemuasmu, hah? Aku hanya babu yang membantu meningkatkan kepopuleranmu?! Lelaki macam apa kau?!”

“Kau sendiri? Sudah menikah denganku masih mencintai Hyukjae?” balas Hankyung dingin.

“Aku bersyukur aku mencintainya, bukan kau! Dia lelaki yang baik, jujur, bukan pengkhianat dan pembohong sepertimu!”

“Ya sudah jangan banyak bicara. Sebisa mungkin aku akan urus perceraian kita.” Hankyung kembali menonton TV. Sunghee tidak tahan lagi. Ia berbalik dan berlari menjauh.

“Jangan kembali lagi, Sunghee!” Seruan Hankyung membuat Sunghee semakin sakit hati. Tetes air mata menuruni pipinya. Dia tidak menyangka Hankyung adalah orang yang seperti itu. Kemana dokter yang bisa ia percaya? Kemana pria baik hati yang selalu mencintainya? Hankyung sama saja dengan ayahnya! Meninggalkan wanita yang baik-baik demi kepuasan pribadinya!

= = =

“Oppa….Sungmin Oppa!” Sunghee mengetuk pintu apartemen Hyukjae. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Tapi bukannya Sungmin, malah Donghae yang muncul. Sunghee langsung memeluk sosok di hadapannya.

“Sunghee?” Donghae kaget. “Kamu kenapa? Malam-malam begini kok menangis?”

“Hankyung…dia…” Sunghee tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Isak tangisnya semakin terdengar. Donghae kebingungan. Dia melihat ke dalam apartemen. Ternyata Sungmin keluar dari kamar dan mendekati mereka. Dia menatap Sunghee dan Donghae bergantian.

“Sunghee? Wae geurae?” tanya Sungmin lembut. Sunghee melepas pelukannya pada Donghae dan memeluk Sungmin. Dia menangis di dada kakaknya. Sementara Donghae berjalan masuk dan mencari Hyukjae.

“Wae geurae?” Sungmin membelai rambut Sunghee.

“Aku akan cerai…dengan Hankyung..”

“Lalu?”

“Ternyata…dia sudah menyiapkan surat cerainya…dia menikahiku hanya karena ingin menikmati tubuhku dan memperoleh ketenaranku. Saat dia menemukan yang lebih baik dariku, dia meninggalkanku!” isak Sunghee. Sungmin tertegun. Dia semakin mempererat pelukannya dengan Sunghee.

Di ambang pintu kamar Hyukjae, Donghae sedang mati-matian menahan Hyukjae yang mulai dibakar amarah. Lelaki itu benar-benar marah pada Hankyung. Dia telah menyakiti hati wanita yang dicintainya. Dia telah mencampakkan Sunghee.

Hyukjae melepaskan tangan Donghae dan berjalan menjauh dengan cepat. Donghae mengejarnya.

“Diam, Hae! Ini urusanku dengan Hankyung! Beraninya dia menyakiti hati Sunghee!” Hyukjae berseru marah dan kembali melanjutkan langkahnya. Donghae terdiam. Sungmin diam-diam mulai menaruh simpati pada Hyukjae. Lelaki itu benar-benar mencintai adiknya, bahkan jika adiknya sudah menikah.

“Donghae ssi…” panggil Sungmin.

“Ne?” Donghae berbalik.

“Hyukjae…selama ini..masih setia menunggu Sunghee?”

“Ne. Wae?”

“Waeyo, Oppa?” Sunghee melepaskan pelukannya dan menatap Sungmin heran. Ia menyeka air matanya. Donghae juga menatap Sungmin bingung. Sungmin mengulum senyumnya.

“Ani. Aku senang saja jika punya adik ipar seperti dia.” Sungmin mengedipkan sebelah mata pada Sunghee. Senyum Donghae merekah. Sunghee sendiri malah murung.

“Waeyo, Sunghee?”

“Aku sudah bertekad bahwa hanya akan menikah satu kali seumur hidup.”

“Tapi tidak mungkin kau mau sendiri seumur hidupmu! Aku tidak bisa selamanya menjagamu. Harus ada sosok suami yang bisa menjagamu,” Sungmin menatap Sunghee dalam. Sunghee menggeleng.

“Shireo..aku tidak layak untuk Hyukjae…aku sudah tidak pantas lagi..” Sunghee menunduk dalam. Sungmin dan Donghae berpandangan.

= = =

Hyukjae menggedor pintu apartemen Hankyung. Dia tidak peduli tatapan aneh orang-orang yang kebetulan lewat.

“YAH! HANKYUNG! KELUAR KAU!!” teriak Hyukjae. Pintu terbuka dan Hankyung menatapnya dengan malas.

“Ada ap..” BUGH…Hyukjae mendaratkan sebuah bogem mentah di pipi Hankyung. Pukulannya sangat keras hingga ujung bibir Hankyung mengeluarkan darah segar.

“Kau…berani-beraninya kau mengkhianati Sunghee..” Hyukjae menarik kerah Hankyung.

“Bagus, kan? Kau bisa kembali padanya.”

“Tapi kau menyakiti Sunghee! Jika kau menyakiti hatinya, sama saja dengan menyakiti hatiku!”

“Memangnya kalian apa? Anak kembar? Cih..”

“Sialan!” Hyukjae melempar tubuh Hankyung ke tembok. Cowok itu nyaris terbentur tapi ia berhasil menjaga keseimbangan.

“Aku sudah merelakan Sunghee pergi denganmu…tapi ternyata…kau tidak kalah menjijikkan dari segenggam lumpur. Aku menyesal tidak menghajarmu dari dulu.”

“Penyesalan memang selalu datang terlambat, Hyukjae..” Hankyung menyeringai. Hyukjae menatapnya marah. Dia menarik kerah Hankyung dan menonjoknya lagi.

“Memangnya siapa gadis yang lebih baik dari Sunghee, hah?!”

“Min Seori.” Hankyung tersenyum setengah. Hyukjae terkejut.

“Apa yang lebih bagus dari anak ingusan seperti dia?!”

“Dia lebih memuaskan di tempat tidur.” Hankyung menyeringai lagi. Amarah Hyukjae sudah mencapai puncak. Ia hendak menonjok Hankyung lagi namun lelaki itu menangkap tinjunya dan memelintir tangannya ke belakang. Hyukjae meringis kesakitan.

“Kekerasan tak akan menyelesaikan masalah, Hyukjae.” Hankyung tersenyum. Napas Hyukjae tersengal-sengal. Matanya menyorot tajam pada Hankyung.

“Aku akan bercerai dengan Sunghee, bukankah itu bagus? Kau bisa kembali lagi padanya.”

“Serakah.” Hyukjae menepis tangan Hankyung. Dia menatap Hankyung tajam.

“Jika kau terus mencari wanita yang lebih cantik, lebih kaya, lebih terkenal, kau tidak akan bertahan dengan dua-tiga kali pernikahan. Kau anggap apa pernikahan itu? Beli ponsel baru? 4 bulan sekali, hah?” Nada suara Hyukjae meninggi. Hankyung diam menunggu kelanjutan kata-kata Hyukjae.

“Aku bersyukur Tuhan masih mengijinkanku hidup, kalau tidak, aku tidak tahu harus kemana Sunghee pergi setelah kau tinggalkan.”

= = =

Sunghee berdiri di sisi jembatan dekat bukit. Tatapannya mengarah pada matahari yang mulai terbenam. Angin sore memainkan anak rambut Sunghee yang tidak terikat. Gadis itu melipat tangannya di selongsong besi. Matanya menatap kosong.

Tiba-tiba dua buah tangan lelaki dewasa melingkar ke perutnya. Sunghee masih diam, seakan tidak menyadari ada tangan yang melingkari perutnya. Sunghee merasakan tubuh seorang pria merapat pada punggungnya. Napas lelaki tersebut pun menggelitik tengkuk Sunghee, memberikan sensasi aneh pada gadis itu.

Sunghee tidak ingin bergerak sedikit pun. Dia menikmati pelukan lelaki itu. Ini seperti deja vu beberapa tahun yang lalu, saat dia dan Hyukjae menikmati lembayung sore di jembatan sungai Han.

“Apa kau ingat saat kita berduaan di jembatan sungai Han?” Suara lelaki itu menggelitik gendang telinga Sunghee. Dia lalu mengangguk.

“Kau menggenggam tanganku lembut dan berkata tidak akan pernah melepaskanku. Selamanya,” ucap Sunghee.

“Kulakukan. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat wanita lain, aku tidak pernah mencintai wanita lain selain dirimu. Sampai sekarang pun aku masih menantimu. Menikahlah denganku.”

“Sudah berapa kali kau katakan dua kata itu? Apa kau tidak bosan mengucapkannya?”

“Tidak, sampai kau menjadi istriku.”

“Jangan berharap dariku. Aku tidak pantas untukmu.”

“Tak ada wanita lain yang lebih pantas untukku selain kamu, Lee Sunghee.”

“Tapi aku bodoh. Aku ditipu oleh orang yang kupercaya. Aku barang bekas. Rompi rusak..”

“Rompi anti peluru yang rusak? Akan kuperbaiki.”

“Aku benar-benar tidak bisa…cari saja wanita lain, Hyukjae, yang bisa memberimu anak-anak yang lucu…”

“Aku hanya ingin anakku lahir dari rahimmu.”

“Hyuk…” Sunghee berbalik dan menatap wajah Hyukjae. Dia tertegun ketika melihat pipi Hyukjae yang membiru.

“Pipimu kenapa?” tangan Sunghee terulur hendak menyentuh pipinya tapi Hyukjae menggenggam tangannya.

“Jangan sentuh, masih sakit.”

“Kenapa?”

“Hankyung.”

“Kau diapakan olehnya?”

“Hanya sekedar pukulan ringan. Tenang saja, aku sudah menghajarnya habis-habisan.” Sunghee terperangah mendengarnya.

“Kau…kenapa kau menghajarnya?”

“Karena dia memang butuh dihajar.” Hyukjae berkata dengan tegas. Sunghee terdiam.

“Kau banyak berubah, sekarang lebih tegas, tidak seperti dulu.”

“Kalau kau mau aku yang seperti dulu, aku bisa saja mengabulkannya.”

“Tidak, jadi dirimu sendiri saja.” Sunghee menatap dada Hyukjae. Masih ada kalung yang Sunghee berikan sebagai hadiah ulang tahun Hyukjae yang ke-22.

“Kau masih menyimpannya?” Sunghee menyentuh kalung tersebut. Hyukjae tersenyum. Dia mengambil bandulnya dan membukanya. Terlihat fotonya sendiri dan foto Sunghee yang dipasang bersebelahan. Sunghee terharu. Tak disangka ada lelaki yang benar-benar mencintainya seperti ini.

Sunghee tertegun. Dia baru menyadari bahwa jarak tubuh mereka berdua hanya sekitar 20 cm. Sunghee ingin mundur, tapi selongsong besi menghalanginya. Dia mendadak gugup. Pantas saja Hyukjae berkata dengan pelan dan lirih, itu karena jarak mereka yang terlampau dekat.

“Hyuk, bisakah kau mundur sedikit?” pinta Sunghee. Hyukjae terdiam. Dia malah menatap mata Sunghee semakin dalam.

“Kau membenciku?” tanya Hyukjae. Sunghee menggeleng. Hyukjae menghela napas.

“Kau mencintaiku?” Sunghee terdiam lama.

“Kau tahu jawabannya.” Sunghee mendorong tubuh Hyukjae pelan. “Permisi, aku mau pulang.” Sunghee berjalan ke arah kanan. Hyukjae menatap punggung Sunghee.

“Sunghee yah!” seru Hyukjae. Sunghee berbalik.

“Rumahmu lewat sini!” Hyukjae menunjuk ke arah kiri. Sunghee mengerutkan kening.

“Rumahmu ada di apartemen dekat sungai Han, bukan lewat sana!” Hyukjae menyeringai lebar. Sunghee berpikir sejenak, setelah mengerti apa maksud Hyukjae, dia terkekeh. Hyukjae tertawa pelan. Tangannya melambai. Sunghee berjalan ke arah Hyukjae, lama-kelamaan langkahnya semakin cepat sampai akhirnya Sunghee berlari mendekati Hyukjae. Lelaki itu mengulurkan tangannya dan Sunghee dengan senang hati menyambutnya.

“Mau lari sampai kaki bukit, tidak?” tawar Hyukjae. Sunghee mengangguk cepat. Hyukjae pun menarik tangan Sunghee, membimbingnya berlari menuju kaki bukit dimana mereka memarkirkan mobilnya.

= = =

Sebulan kemudian, Sunghee dan Hankyung telah resmi bercerai. Beberapa hari setelah itu, Hankyung langsung meminang Min Seori sebagai istrinya. Hati Sunghee memang sakit dibodohi seperti itu, apalagi Min Seori juga menipunya dan Hyukjae. Gadis yang kini telah berumur 20 tahun itu hanya mengikuti perintah Hankyung agar orang-orang tidak curiga dengan hubungan mereka. Semua orang terfokus pada Hyukjae-Seori, bukan Hankyung-Seori.

Hati Sunghee memang sakit, tapi di sisi lain hatinya merasa lega. Lebih baik mengetahui kejahatan Hankyung sekarang, saat usia pernikahan mereka baru seumur jagung, daripada setelah bertahun-tahun. Itu akan membuat Sunghee semakin sakit.

Yang membuat orang-orang kagum adalah, cara Sunghee berpisah dengan Hankyung. Gadis itu tersenyum untuk terakhir kalinya pada Hankyung. Dia seakan tidak pernah disakiti oleh Hankyung. Jujur saja, di sudut terdalam hati Hankyung, ada sedikit rasa bersalah pada Sunghee. Tapi semua itu terkubur dalam-dalam dengan kebejatannya, nafsunya.

Setelah menikah dengan Seori, Hankyung memutuskan untuk tinggal di China. Dia sendiri tidak mau dihantui dengan gosip-gosip miring tentangnya. Seori pun memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Terlalu banyak berita miring yang menghampirinya. Reputasi Seori pun jatuh.

Sebaliknya, Sunghee malah semakin tenar, semakin disegani banyak orang. Hyukjae sendiri merasa bangga dengan mantan kekasihnya itu. Sunghee sudah disakiti terlalu dalam, tapi dia tidak pernah berpikir untuk putus asa, apalagi mengakhiri hidupnya. Hyukjae sendiri sempat putus asa dan nyaris bunuh diri. Dia merasa malu sendiri ketika mengingat kecelakaan bodoh itu.

Tapi meskipun keadaan sudah membaik, Sunghee masih saja belum menjawab lamaran Hyukjae. Lelaki itu sudah melamar Sunghee lebih dari 10 kali. Gadis itu selalu rendah diri, merasa tidak layak untuknya. Padahal yang Hyukjae butuhkan hanya Sunghee.

Hyukjae ingat kata-kata Sunghee dulu bahwa ia harus mengetahui nama Indonesia Sunghee jika ia ingin meminangnya sebagai istrinya. Hyukjae mengulum senyum. Dia sudah tahu siapa nama Indonesia Sunghee.

“Kau mau bicara apa, Hyukjae?” tanya Sungmin. Hyukjae berdeham pelan.

“Hyung, aku ingin melamar Sunghee lagi.”

“Lagi? Kau tidak takut ditolak lagi?”

“Jika aku tahu nama Indonesianya, dia tidak akan menolakku. Dia sudah berjanji seperti itu.”

“Aku sebenarnya bisa memberitahu siapa nama aslinya, tapi tidak lewat mulutku.”

“Lantas bagaimana?”

“Di rumah sepupunya Sunghee masih tersimpan berkas-berkas lama tentangnya. Akte kelahiran misalnya.” Wajah Hyukjae berubah cerah mendengar berita bagus dari Sungmin.

“Dimana rumahnya?”

“Masih daerah perumahanku yang dulu. Hanya saja berbeda dua blok. Sini, aku catatkan alamat lengkapnya.”

Dan dengan cara itulah Hyukjae mengetahui nama asli Sunghee. Dia tinggal pikirkan, cara apa yang ampuh untuk melamar Sunghee lagi. Hyukjae kehabisan ide, hampir semua cara telah ia lakukan. Sekarang ia tidak tahu harus pakai cara apa lagi.

Hyukjae ingat saat melamar Sunghee di bukit itu. Hyukjae tidak menyiapkan apapun, hanya cinta saja. Tapi Sunghee masih menolaknya. Alasannya sama.

“Menikahlah denganku, Sunghee.”

“Ini lamaranmu yang ketiga selama satu minggu terakhir.”

“Siapa tahu aku mendapat jawaban yang berbeda.”

“Sayang sekali jawabannya sama saja. Cari wanita lain yang lebih baik dariku. Aku sudah pernah dipakai Hankyung, tidak pantas untukmu.”

“Aku tidak peduli, yang jelas aku hanya ingin anak-anakku lahir dari rahimmu, bukan rahim wanita lain.”

“Bagaimana jika ternyata aku tidak bisa memberimu anak?”

“Kita adopsi anak.”

“Kenapa tidak menceraikanku dan mencari wanita lain?”

“Karena yang kucintai hanya kau. Memaksakan perasaan seseorang adalah dosa besar, bukan?”

Hyukjae menatap kalender. Tak terasa ternyata mereka sudah berada di penghujung tahun. Rasanya baru kemarin Sunghee bertemu dengannya di bukit itu. Hyukjae memang agak sedikit kecewa dengan perubahan sikap Sunghee, tapi dia bahagia juga karena semakin hari Sunghee semakin ramah padanya.

Hyukjae mengulum senyumnya. Dia telah menemukan bagaimana cara yang tepat untuk melamar Sunghee. Dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

“Saeng ah, aku butuh bantuanmu. Aku sebentar lagi akan pergi ke Paris, kau jemput aku di bandara nanti ya?”

To be continued

11 thoughts on “[FF] Letters of Hearts part 7

  1. vidiaa says:

    saeng? siapa dia? huaaa dikirain cuman sampe part 7 doang, eh taunya terus lanjut!!😄 bagus2 aku sukaaa, jangan sampe tamat yah, panjangnya harus nyaingin sinetron tersanjung (?) #abaikan

    tuh kan bener, min seori itu jahaaaat pengen bunuh deh rasanya.
    ditunggu next partnya!😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s