[FF] Letters of Hearts part 6

I’d rather die than not see you even for a second

Because I need you so

If you’re gone, I’ll die


= = =

 

Sunghee terbangun keesokan paginya. Dia memekik pelan ketika menggerakkan kakinya. Seluruh tubuhnya sakit semua. Sunghee menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Wajahnya menyiratkan keterkejutan. Sunghee melihat ke balik selimut. Benar saja. Sunghee memejamkan matanya, berharap ini hanya mimpi. Ia lalu membukanya lagi. Dan ia tersentak melihat Hankyung duduk di kursi meja kerja sambil menatap ke arahnya dengan tajam.

“K-Kyung?” suara Sunghee serak.

“Kau tidak mencintaiku,” desis Hankyung. Matanya masih menyorot tajam.

“A-apa maksudmu?” Sunghee menelan ludahnya. Sebentar lagi tamatlah riwayatnya.

“Ketika kusuruh kau memanggil namaku, kau memanggil nama Hyukjae.”

“Be-benarkah? Aku tidak ingat apapun…”

“Tentu saja. Kau mabuk berat. Kau pikir yang menjamah tubuhmu itu Hyukjae? Salah, yang melakukan itu aku.” Hankyung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Sunghee terdiam memperhatikan Hankyung.

“Tapi sayang, meskipun kau mencintai Hyukjae, aku tidak akan pernah melepasmu. Kita sudah berjanji bukan? Aku tidak akan meninggalkanmu, dan kau tidak akan meninggalkanku.” Hankyung berkata di ambang pintu kamar mandi. Sunghee terpaku. Matanya berkaca-kaca. Sunghee mengerjap pelan. Setetes air mata menuruni pipinya, membentuk sungai kecil yang bermuara di dagunya.

= = =

“Sunghee tidak hadir?” tanya Hyukjae. Key mengangguk.

“Dia bilang dia sakit, jadi tidak masuk untuk hari ini saja. Jadi aku yang menggantikannya.”

“Sakit? Sakit apa?” Hyukjae khawatir. Key mengangkat bahu. Tangannya masih sibuk membereskan surat-surat dari pembaca. Hyukjae terdiam memperhatikan Key. Saat tangan Key menyentuh sebuah surat, Hyukjae dengan cepat merebutnya.

“Hey! Kau kenapa?” tanya Key kaget. Hyukjae menggeleng dan menyembunyikan surat tersebut di belakang punggungnya.

“Surat ini tidak layak dibaca.” Hyukjae memaksakan seulas senyum. Key mengernyit.

“Bagaimana kau tahu surat itu tidak layak dibaca?”

“Oh, aku sudah membaca beberapa surat tadi dan surat ini tidak layak dibacakan karena kontennya kurang menarik. Kita hanya membaca surat-surat yang terpilih, bukan?”

“Yah, baiklah. Terserahmu.” Key berlagak tidak peduli.

“Hyukjae, aku mau keluar dulu beli minuman. Kau mau nitip apa?” tanya Key.

“Ehm…susu stroberi saja.”

“Arasseo.” Key berjalan keluar studio. Hyukjae menghela napas lega. Dia lalu membuka surat itu. Hyukjae menarik napas dan memasukkan surat tersebut ke tasnya.

“Sunghee ya..kau sakit apa?” Hyukjae menatap keluar jendela. Gerimis mulai membasahi tanah. Hyukjae mengetuk-etukkan jarinya ke jendela.

“Hyukjae oppa!” Hyukjae tersentak kaget mendengar seseorang menyerukan namanya. Dia menoleh ke sumber suara. Min Seori langsung menggamit lengannya sambil tersenyum lebar. Hyukjae memaksakan seulas senyum dan menepis tangan Seori dengan lembut.

“Kau sedang apa di sini, Seori?” tanya Hyukjae.

“Aku kan bintang tamu ‘Letters of Hearts’ hari ini, Oppa! Masa kau tidak tahu?” Hyukjae tertegun. Dia merutuki nasibnya hari ini. Sudah tidak bisa bertemu Sunghee, bertemu makhluk tengil pula.

“Oh, hai, Seori.” Key datang menghampiri mereka sambil membawa sekaleng susu stroberi di tangan kirinya dan kaleng soda di tangan kanannya. Seori tersenyum lebar.

“Wah! Key Oppa tahu saja aku suka susu stroberi!” Seori menyambar kaleng susu stroberi di tangan Key. Hyukjae tersentak. Key meliriknya dengan pandangan pasrah.

“Gomawo, Key Oppa! Hyukjae Oppa, ayo mulai siaran!” Seori tersenyum dan melangkah masuk ke studio. Key dan Hyukjae berpandangan. Mereka sama-sama menghela napas.

“Ya sudah kau masuk saja ke studio. Aku mau membeli minuman.” Hyukjae melangkah menjauh. Tapi Key mengejarnya.

“Aku takut berduaan dengannya di studio,” bisik Key. Hyukjae tersenyum. Mereka berdua pun berjalan menuju mesin penjual minuman yang ada di lobby sambil bercanda-canda.

 

Sampai di lobby, Hyukjae langsung membeli susu stroberi kesukaannya. Dia membuka tutupnya dan meneguk susunya. Ia melihat sekeliling. Matanya tertuju pada mobil KIA hitam yag terparkir di depan pintu utama. Key mengikuti arah pandangnya.

“Min Seori datang dengan mobil itu. Aku melihatnya tadi,” terang Key tanpa disuruh. Hyukjae mengangguk tak peduli.

“Oh! Aku lupa! Tasmu masih ada di studio, kan?” seru Key. Hyukjae mengangguk heran. Mereka berdua tertegun.

“Aku akan mendapatkan tasmu!” Key berlari ke studio. Hyukjae hendak mengejar tapi kemudian ia terdiam. Biar Key saja yang mendapatkan tasnya. Dia pandai berkata-kata. Min Seori memang suka membuka-buka tasnya. Fotonya saat berada di Monas saja lenyap entah kemana. Untung saja ia masih punya foto itu di laptopnya.

Hyukjae berjalan santai sambil melihat-lihat. Matanya menatap ke arah KIA hitam itu lagi. Seorang pria berjalan mendekati mobil itu dan membuka pintunya. Ia masuk ke mobil terdiam sejenak sambil menatap jok di sebelahnya. Lelaki itu mengambil sebuah koran dan dibacanya sebentar.

Hyukjae membelalak. Jantungnya berdegup kencang. Itu Hankyung. Tadi Key bilang, Seori datang dengan mobil itu. Itu berarti Seori datang bersama Hankyung? Ada hubungan apa mereka berdua? Mengapa Hankyung lebih memilih pergi dengan Seori daripada mengurus Sunghee yang sakit?

Tiba-tiba hati Hyukjae terasa panas. Ia marah. Sejak awal dia sudah curiga Hankyung bukanlah pria baik-baik. Sikapnya sombong jika di belakang Sunghee. Dan sekarang ia malah pergi dengan gadis lain. Hyukjae mengambil ponselnya dan menulis pesan pada Key. Ia pun melesat keluar gedung menuju parkiran. Ia menyalakan mobilnya dan mulai mengikuti mobil Hankyung yang sudah meluncur lebih dulu.

= = =

“Heo? Apa ini?” Seori mengambil secarik kertas dari tas Hyukjae. Dia melihat sekeliling, sepi. Dia membuka surat itu sekilas dan membaca judulnya.

“Kepada Lee Sunghee…” Seori lalu membaca nama pengirim, “Dari Lee Hyukjae.” Seori terdiam sejenak. Dia lalu memasukkan surat itu ke saku celananya. Tiba-tiba pintu terbuka. Key berdiri di depan pintu.

“Oh, Key Oppa!” Seori memaksakan seulas senyum. Mata Key menatap pada tas Hyukjae. Dia lalu menatap ke Seori.

“Sudah jam berapa ini? Wah, sebentar lagi dimulai!” Seori tersenyum dan duduk di kursi.

“Mana Hyukjae Oppa?” tanyanya lagi. Ponsel Key bergetar. Key mengambilnya dari saku celana dan membaca pesan singkat yang masuk. Dia kemudian berdecak kesal. Isi pesannya seperti ini:

‘Aku harus pergi. Darurat. Titip tasku.’

“Dasar Hyukjae!” desisnya. Seori menatapnya bingung.

“Ah, gwaenchana. Hyukjae ada urusan mendadak. Kau yang menggantikannya ya.” Key tersenyum palsu. Dia mengambil tas Hyukjae dan menyampirkannya ke kursinya. Dengan begitu, Seori tidak bisa mengutak-atik tasnya.

Seori memasang tampang murung. Tapi kemudian dia mengangguk. Acara Letters of Hearts berjalan tanpa Sunghee dan Hyukjae.

= = =

Hyukjae berhenti tepat 7 meter di belakang mobil Hankyung. Dia berada di rumah sakit tempat Hankyung bekerja. Hyukjae memilih menunggu di mobol sebentar. Tapi ternyata, tak lama kemudian, Hankyung keluar dari rumah sakit dan kembali meluncur di jalanan kota Seoul. Hyukjae mengikutinya lagi. Ternyata Hankyung pergi ke sebah pusat perbelanjaan. Hyukjae memarkir mobilnya tak agak jauh dari mobil Hankyung. Dia memakai kaca mata dan topi lalu berjalan mengikuti Hankyung dengan diam-diam.

Hankyung masuk ke sebuah toko perhiasan. Hyukjae berhenti di depan toko dan memperhatikan Hankyung. Dia pun memutuskan untuk masuk ke toko dan berlagak melihat-lihat.

Ternyata Hankyung sedang membeli sepasang cincin. Hyukjae berdiri di bagian kalung. Telinganya ia pasang untuk mendengar percakapan Hankyung dengan penjaga toko.

“Yang ini bagaimana?” tanya Hankyung.

“Oh, itu terbuat dari emas pilihan. Ini cocok untuk dijadikan cincin pengantin. Harganya..”

“Aku tidak peduli harganya. Aku butuh yang kualitasnya bagus.”

“Apa Anda akan melamar seseorang?”

“Ya. Dia lebih muda beberapa tahun dariku. Lebih baik yang modelnya ini, atau yang ini?”

 

Hyukjae seakan tidak mendengarkan lagi. Hankyung akan melamar seseorang? Bukankah dia sudah menikah dengan Sunghee?

“Permisi, Tuan. Anda mau beli yang mana?” Seorang petugas toko menarik Hyukjae ke alam sadarnya. Dia mengerjap sejenak dan mencari sosok Hankyung. Ternyata Hankyung sedang melihat ke arahnya. Hyukjae cepat-cepat menarik menunjuk seuntai kalung.

“Aku ambil yang ini.”

“Anda tidak melihat-lihat dulu?”

“Aku sudah mengincar ini sejak lama. Sudahlah bungkus saja.”

 

= = =

Hyukjae memasuki apartemennya dengan lemas. Pikirannya terus tertuju pada kejadian tadi siang. Seori diantar Hankyung, dan Hankyung membeli cincin untuk melamar seseorang. Apakah Hankyung akan melamar Seori?

Hyukjae terduduk di sofa. Matanya menatap kosong. Pintu apartemen terbuka dan Donghae memasuki ruangan sambil membawa tas laptop. Tanpa bertegur sapa, Donghae duduk di sebelah Hyukjae. Pandangannya pun terlihat kosong.

“Hyuk…bekerja sebagai CEO perusahaan telekomunikasi ternyata tidak semudah bayanganku..” gumam Donghae. Hyukjae masih diam. Di hadapannya terdapat bingkisan kalung. Donghae meliriknya.

“Bungkusan apa itu?”

“Ambil saja. Untukmu.” Hyukjae beranjak berdiri dan berjalan menuju dapur. Donghae menatap bungkusan di meja dan mengambilnya. Dia membuka isinya dan tertegun.

“Hyuk, aku mengerti kau depresi dan sakit hati karena ditinggal Sunghee. Tapi bukan berarti kau pindah haluan menjadi penyuka sesama, kan?”

“Hah?” Hyukjae membalas dari dapur. Donghae berdiri dan berbalik. Di tangannya terjuntai kalung berbandul hati.

“Kau tidak menyukaiku, kan?” tanya Donghae. Wajahnya menunjukkan keprihatinan. Hyukjae menyemburkan susu stroberi yang belum sempat ia teguk. Ia terbatuk sejenak. Hyukjae tertawa. Terlebih ketika ia melihat ekspresi Donghae yang masih menyiratkan keprihatinan. Seakan-akan dirinya adalah seorang anak kecil dengan kelainan mental.

“HUAHAHAHAHAHAHAHA!! Ya Tuhan…Donghae…” Hyukjae menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Tapi kemudian ia terbahak lagi. Ia sampai bertumpu pada meja makan.

“Hae…itu…ya ampun..” Hyukjae tidak sempat melanjutkan kata-katanya. Ia terbahak lagi. Donghae sekarang menatapnya iba. Seakan Hyukjae telah menjelma menjadi orang gila yang menyukai sesama jenis.

“Hyukjae Hyung, aku benar-benar mengerti kalau sekarang kau benar-benar telah putus asa dan lebih memilih menyukai sesama jenis. Tapi..tolong sadarlah. Aku sepupumu. Kau tidak boleh menyukaiku seperti itu.” Mendengar kata-kata Donghae yang diucapkan dengan nada iba membuat Hyukjae semakin terbahak sampai sulit bernapas. Matanya berair.

“Donghae hentikan…jangan bicara lagi!” Hyukjae memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa terlalu kencang. Donghae menghela napas.

“Tadi aku iseng membeli kalung itu…maksud hati aku ingin menyuruhmu memberikan kalung itu pada Chaerin. Kau kan sibuk nih sebagai CEO, aku sepupumu yang baik hati ini membelikannya untuk kau berikan pada gadis pujaanmu,” ucap Hyukjae masih diselingi tawa. Donghae mengangguk mengerti. Hyukjae tersenyum. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya. Dia berdiri dan mendekati Donghae.

“Tapi kalau kau suka kalung itu, silakan saja kau pakai. Sebagai tanda cinta dariku. Terima kasih ya, Sayang, sudah membuat mood-ku baik.” Hyukjae mengedipkan sebelah matanya dan berlalu menuju kamarnya. Donghae terpaku di tempatnya berdiri. Matanya mengerjap kaget. Donghae menggeliat geli. Tubuhnya merinding.

“Hyuk, kau membuatku geli!”

“Memangnya kau tidak?” Tawa Hyukjae kembali terdengar. Donghae mendengus kesal.

“Geumanhae! Jangan tertawa lagi! Aku tahu aku polos dan bodoh, tapi jangan menertawaiku seperti itu!” ujar Donghae kesal. Hyukjae malah semakin tertawa.

“Oh ya, Donghae, aku sebentar lagi mau pergi ke rumah teman. Titip apartemen ini ya.” Hyukjae berjalan keluar kamar.

“Tapi sebentar lagi aku juga harus pergi ke PT. Technolife.”

“Ya berarti kunci apartemennya baik-baik, matikan lampu, dan pastikan kompor tidak menyala. Oke, sayang?” canda Hyukjae. Donghae mengepalkan tangannya dan mengarahkannya pada Hyukjae, berpura-pura hendak menonjoknya. Hyukjae tertawa dan keluar ruangan.

= = =

Sunghee terdiam di kamarnya. Hankyung sedang bekerja, jadi dia di rumah sendirian. Sunghee tidak mau menemui Hyukjae dulu. Barang hari ini saja. Mungkin besok dia sudah bisa bertemu lagi dengan Hyukjae.

Sunghee menyalakan radio. Pukul segini acara Letters of Hearts sudah dimulai. Tapi Sunghee mengernyit ketika Key berkata bahwa Hyukjae pun berhalangan hadir mengisi acara.

“Kemana anak itu?” gumam Sunghee.

Bel apartemennya berbunyi. Sunghee turun dari tempat tidur dan menyeret langkahnya. Dia pun membuka pintu. Sunghee terdiam menatap siapa yang bertamu ke apartemennya dengan membawa bungkusan makanan.

“Aku mendengar kau sakit. Jadi aku bolos bekerja dan menjengukmu. Kau tidak apa-apa?” Hyukjae bertanya dengan nada khawatir. Sunghee mengangguk. Dia melebarkan pintu apartemennya.

“Silakan masuk,” ucapnya canggung. Hyukjae pun masuk ke apartemen Sunghee dan Hankyung. Dia lalu meletakkan bungkusan itu ke dapur. Hyukjae mengambil dua mangkuk dan menungakan sup ayam jamur ke mangkuk. Sunghee diam memperhatikannya.

“Nah, di jalan aku membeli sup ayam jamur ini. Kau tahu sendiri aku tidak bisa memasak, jadi aku membelinya. Hehe..” Hyukjae terkekeh sambil menghidangkan sup tersebut.

“Aku juga membawa teh. Kau sangat suka teh, kan?” Hyukjae menghidangkan dua gelas teh di atas meja. Sunghee terdiam melihat perlakuan Hyukjae padanya. Hatinya terasa sesak. Sunghee menarik napas.

“Kau terlihat pucat. Kau memang benar sakit ya.” Hyukjae menyentuh kening Sunghee dengan punggung tangannya.

“Tapi kau tidak hangat. Mungkin kelelahan saja.” Hyukjae duduk di seberang Sunghee.

“Ayo dimakan.” Hyukjae tersenyum. Sunghee menunduk. Dia mengambil sendok dan memasukkan sesendok sup ke dalam mulutnya. Hyukjae masih diam tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.

“Bagaimana rasanya?” tanya Hyukjae.

“Enak.” Suara Sunghee bergetar. Hyukjae tersenyum hangat.

“Benarkah?” tanya Hyukjae lagi. Sunghee mengangguk. Matanya mulai menghangat. Sunghee memasukkan sesuap lagi ke dalam mulutnya. Badannya mulai bergetar menahan tangis. Hyukjae tetap tak menyentuh makanannya. Melihat Sunghee lebih menyenangkan daripada makan sup.

Sunghee menyuapkan sendok ketiga. Dari matanya, menetes setitik air bening. Sunghee mulai terisak. Dia meletakkan sendoknya ke mangkuk. Hyukjae berdiri dan duduk di samping Sunghee. Gadis itu melihat ke arah lain.

“Gomawo…kau begitu baik…maafkan aku..”

“Kau tidak perlu meminta maaf..”

“Maafkan aku karena tidak berusaha untuk menunggumu lebih lama..Maafkan aku yang tidak bisa membatalkan pernikahan ini…”

“Kau tidak salah. Aku yang salah.” Sunghee menggeleng.

“Bukan kamu yang salah, Hyukjae. Aku yang salah.”

“Tak ada yang salah. Kita saling mencintai, dan itu salah?” Suara Hyukjae terdengar agak serak. Sunghee semakin terisak. Hyukjae menarik pundak Sunghee dan memeluknya. Sunghee terisak di dada Hyukjae.

“Maafkan aku yang menyakiti hatimu…Maafkan aku yang membuang hatimu…”

“Membuang hatiku?” Hyukjae membeo. Sunghee mengangguk. Dia melepaskan pelukan Hyukjae.

“Mulai sekarang…aku ingin kita tidak bertemu lagi. Setiap bertemu denganmu, hatiku terasa sakit. Setiap menatap Hankyung, aku selalu merasa bersalah. Aku tidak mau hidup dalam keadaan seperti ini. Aku telah bertekad untuk…” Sunghee menarik napas sebelum melanjutkan,

“Membuang hatimu dan memberikan hatiku kepada Hankyung. Aku ingin mengambil kembali hatiku yang ada di tubuhmu. Bolehkah?” Sunghee menatap mata Hyukjae. Lelaki itu terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk. Bersamaan dengan anggukan itu, Hyukjae merasa ada sesuatu yang hilang di tubuhnya. Hatinya. Hatinya telah dibuang oleh Sunghee, dan hati yang membuatnya hidup pun telah diambil kembali oleh pemiliknya. Kini Hyukjae tidak punya hati. Maka dia pun tidak punya pintu hati untuk membuka hatinya kepada wanita lain. Dia benar-benar telah kehilangan hatinya. Dan itu berarti dia tidak bisa hidup lama.

“Aku akan mengundurkan diriku dari acara radio itu. Kelihatannya Min Seori lebih baik.” Mendengar nama itu, Hyukjae kembali teringat kejadian tadi siang.

“Sunghee, dengarkan aku. Min Seori bukan perempuan yang baik. Dia menakutkan. Hanya kamu yang baik untukku.”

“Tidak, Hyukjae. Aku ingin kau jangan putus asa. Cari wanita lain yang bisa membahagiakanmu lebih dari aku. Cari wanita yang akan menemanimu seumur hidupmu. Kau tahu itu bukan aku, Hyukjae. Sejak awal kita memang tidak bisa bersama. Kumohon kau mengertilah.”

“Tapi aku hanya mencintaimu.”

“Mencintai tidak harus memiliki. Ya, kan? Itu berlaku bagi kita. Maaf, Hyukjae. Aku sedang belajar mencintai Hankyung.”

“Sunghee, jebal…”

“Kalau kau mau menyalahkan seseorang, salahkan aku, jangan dirimu.” Nada suara Sunghee berubah menjadi dingin. Hyukjae terdiam.

“Aku sudah bilang sebelumnya. Aku butuh kamu untuk bernapas.”

“Aku bukan oksigen. Kau bisa hidup tanpaku. Seperti dua tahun itu. Kau masih hidup hingga saat ini, bukan?”

“Kalau kau berkata aku bisa hidup tanpamu selama dua tahun itu, kau salah. Aku memang hidup, tapi terasa mati. Sejak aku bertemu denganmu lagi, hidupku terasa hidup. Kalau kau memang sudah tidak mau mencintaiku lagi, biarkan aku terus mencintaimu. Karena mencintaimu sama dengan hidup bagiku.” Hyukjae menatap Sunghee sendu.

“Hentikan omong kosong itu. Terima kasih atas supnya. Aku sudah kenyang.” Hyukjae berdiri.

“Kalau begitu aku undur diri. Tenang saja, sesuai permintaanmu, besok dan seterusnya kau tidak akan meihatku lagi.” Hyukjae berjalan keluar ruangan. Sunghee terdiam. Tetes-tetes air mata kembali membentuk sungai kecil di pipinya.

“Mianhae…Mianhae…” Sunghee menyeka air matanya dan menatap sup dari Hyukjae. Dia mengambil sendok dan memakannya kembali. Air mata masih terus mengalir tanpa bisa dicegah. Jika ini akhir dari kisah cintanya dengan Hyukjae, Sunghee bisa terima.

 

Tapi Hyukjae tidak.

 

= = =

Hyukjae mengendalikan mobilnya ke bukit di perumahan Sunghee. Ia ingin melampiaskan perasaannya. Sesak, hampa, semuanya bercampur menjadi sebuah kesedihan. Tak terasa  air mata menuruni pipinya. Di mobilnya, lagu “Reset” mengalun, dilanjutkan dengan “Heartquake”,
Love Disease”, dan “One Love”. Hyukjae menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya berguncang hebat. Hyukjae memukul setirnya. Hyukjae menambah kecepatannya. Hyukjae kalap. Matanya menyorot tajam ke jalanan. Hyukjae tidak bisa tidak muncul di hadapan Sunghee lagi. Satu-satunya jalan agar dia tidak menunjukkan diri di hadapan Sunghee adalah…mati.

= = =

Donghae meregangkan otot-ototnya yang pegal. Seharian dia telah bekerja keras demi mengurus perusahaan ini. Donghae tersenyum. Dia berhasil mengajak Chaerin berkencan. Pulang kerja ini, dia akan mengajak Chaerin makan malam.

Donghae bersiul gembira sambil membereskan benda-benda pribadinya. Dia memasukkan laptopnya ke tas dan menyambar ponselnya yang bergetar. Ia kira itu dari Chaerin. Dan ternyata memang benar.

“Chaerin ah, annyeong!” sapa Donghae riang.

“Donghae, Hyukjae kecelakaan. Kondisinya kritis. Cepat ke rumah sakit!” Donghae merasa seperti tertampar. Dia langsung bergegas menuju rumah sakit.

 

Sampai di rumah sakit, terlihat Sunghee yang menunduk di kursi tunggu. Sendirian. Donghae berjalan mendekatinya.

“Sunghee ya..” panggil Donghae lirih. Donghae bisa mendengar isak tangis Sunghee. Donghae duduk di samping Sunghee dan merangkul gadis itu. Ia meremas pundak gadis itu untuk menegarkan gadis itu.

“Nan eottokhae…?” isak Sunghee.

“Wae?” tanya Donghae lembut.

“Hyukjae benar-benar tersiksa karena aku. Hyukjae ingin mati karena aku. Aku salah. Aku berkata padanya bahwa tidak ingin bertemu dengannya lagi. Dan dia…dia menabrakkan mobilnya saat truk gandeng sedang melaju kencang!”

“Sunghee…jangan menyalahkan dirimu. Akhir-akhir ini Hyukjae memang sedang banyak pikiran. Itu bukan salahmu, Sunghee.” Donghae mengelus punggung Sunghee. Gadis itu semakin terisak.

Dari arah kanan, Chaerin menghampiri mereka. Dia menghela napas.

“Bagaimana keadaan Hyukjae?” tanya Sunghee. Chaerin menggeleng pelan. Dia pun duduk di sebelah Sunghee.

“Dia…”

“Jantungnya sempat berhenti. Tapi sekarang dia bisa diselamatkan. Tapi kondisinya sangat kritis.” Sunghee terpaku.

“Aku ingin bertemu dengannya.” Sunghee berdiri namun ditahan Donghae.

“Kondisinya kritis, Sunghee. Kau tidak boleh menemuinya dulu,” kata Donghae.

“Tapi dia butuh aku! Dia butuh aku untuk bernapas!” seru Sunghee parau. Dia menepis tangan Donghae dan berlari ke ruangan Hyukjae. Chaerin hendak mengejar tapi Donghae menahannya.

“Dia benar. Hyukjae butuh Sunghee untuk bernapas.”

= = =

“Awas! Aku harus masuk! Aku harus bertemu dengan Hyukjae!”

“Jangan, agashi. Kondisinya masih kritis.”

“Tapi dia butuh aku untuk bernapas!” jerit Sunghee. Perawat yang berdiri di depan pintu mendengus.

“Dia butuh oksigen untuk bernapas. Bukan Anda.”

“Tapi aku oksigen baginya! Kumohon biarkan aku masuk…”

“Sunghee?” suara seorang lelaki menghentikan seruan Sunghee. Dia menoleh ke sumber suara.

“Hankyung ah…”

“Kenapa kau ada di sini? Ada apa? Kenapa menangis?” tanya Hankyung khawatir.

“Hyukjae…Hyukjae kecelakaan! Kumohon biarkan aku masuk!” mohon Sunghee. Hankyung terdiam mendengar nama yang ia benci. Ia lalu melirik ke dalam pintu.

“Hyukjae sedang ditangani, mungkin sebentar lagi.”

“Dia butuh aku! Dia butuh aku!” Sunghee mengulang terus kata-katanya.

“Tunggu sebentar.” Hankyung merapatkan jas putihnya dan masuk ke ruangan. Sunghee berdoa di depan pintu. Dia berharap semoga Hyukjae tidak apa-apa.

Tak lama kemudian, Hankyung keluar. Dia menyuruh Sunghee masuk. Sunghee menghela napas lega dan masuk bersama Hankyung. Gadis itu langsung menggenggam tangan Hyukjae yang tidak terluka. Para perawat melirik Sunghee dan Hankyung bergantian.

“Apa lihat-lihat? Cepat selesaikan operasi ini. Kita harus mengeluarkan serpihan kaca dari perutnya.”

“Tapi gadis itu..”

“Istriku berhak mendampingiku.” Hankyung berkata dengan tajam. Perawat itu pun terdiam. Mereka tidak bisa berkutik di depan Hankyung. Operasi pun masih berlanjut dengan Sunghee di ruangan itu. Sunghee terus berdoa demi kesembuhan Hyukjae. Tangannya terus menggenggam tangan Hyukjae.

“Sunghee, maaf, kau menghalangi. Tolong mundur sedikit.” Hankyung mendorong Sunghee lembut. Sunghee menurut dan berjalan mundur tiga langkah. Dia menyatukan kedua tangannya di depan dada dan terus berdoa untuk Hyukjae.

“Hyukjae…ada aku di sini. Bernapaslah. Ada aku di sini..” bisik Sunghee.

 

Seperti keajaiban, operasi yang diperkirakan hanya 20% berhasil pun selesai. Hyukjae berhasil diselamatkan. Sunghee menghela napas lega.

“Terima kasih, Tuhan..”

 

= = =

Hankyung mengajak Sunghee untuk bertemu di taman rumah sakit. Saat itu jam menunjukkan pukul 10 malam. Sunghee masih setia berada di rumah sakit, dan Hankyung masih sibuk mengurus Hyukjae.

“Terima kasih sudah mau menangani Hyukjae..” bisik Sunghee.

“Itu kewajibanku sebagai dokter.” Hankyung tersenyum.

“Aku…sebenarnya ada yang ingin kukatakan.”

“Apa?”

“Aku mencintai Hyukjae..” Sunghee berkata dengan pelan. Hankyung menghela napas.

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Lalu apa? Kau selamanya akan menjadi istriku.”

“Kau tidak marah?”

“Aku tidak marah, hanya cemburu.” Hankyung menendang kerikil. Sunghee menunduk. Mereka masih berjalan berdampingan.

“Maafkan aku yang kasar kemarin-kemarin,” ujar Hankyung.

“Tidak apa-apa. Aku mengerti.” Sunghee berhenti. Hankyung berbalik dan menatap Sunghee.

“Aku benar-benar tidak mengerti harus berbuat apa. Aku ingin belajar mencintaimu, Hankyung. Tapi aku tetap saja memikirkan Hyukjae.”

“Kau boleh mencintai Hyukjae dan belajar mencintaiku. Tapi kau tidak boleh memiliki keduanya. Itu saja.”

“Aku…boleh mencintai Hyukjae?”

“Yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan. Sebuah dosa besar jika melarang seseorang untuk mencintai. Kau boleh mencintai Hyukjae.”

“Jeongmal?”

“Demi istriku, aku mau melakukan hal seperti ini.”

“Gomawo!” Sunghee memeluk Hankyung erat. Hankyung membalas pelukannya.

“Tapi kau harus tahu satu hal, Sunghee. Aku sangat mencintaimu.”

“Terima kasih…”

 

= = =

“Aku mengundurkan diri,” ucap Sunghee tegas. Heechul membelalakkan matanya.

“Apa? Kau itu penulis produktif di sini, Sunghee! Kau tidak boleh mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas!”

“Aku tidak mau bekerja di sebuah perusahaan yang hanya membesar-besarkan masalah. Aku tidak mau membuat sebuah berita tanpa dilandasi fakta yang ada. Aku tidak mau mendapatkan uang dengan mengorbankan perasaan orang lain. Mulai detik ini, aku mengundurkan diri. Terima kasih atas kerja samanya selama ini.” Sunghee membungkuk dalam dan berbalik pergi, meninggalkan Heechul yang masih ternganga.

= = =

“Kau tidak akan mengundurkan diri dari Smile Radio, kan?” tanya Key. Sunghee menggeleng.

“Selama aku bisa bertemu Hyukjae di sini, aku akan terus bekerja di sini.” Sunghee tersenyum. Key membalas senyumnya.

“Hankyung memperbolehkanmu?”

“Iya. Dia lelaki yang sangat baik. Sayang sekali dia memperistriku, seseorang yang tidak bisa mencintainya seperti yang dia inginkan. Padahal masih banyak wanita lain yang lebih baik dariku.”

“Kau mempunya kepribadian yang baik, itulah kenapa banyak lelaki tertarik kepadamu. Kau tahu Ryeowook, kan? Dia mengagumimu lho.”

“Seharusnya aku yang mengaguminya.” Sunghee terkekeh. Key tersenyum.

“Bagaimana kabar Hyukjae?”

“Semakin hari semakin membaik.”

“Hari ini kau mau datang ke rumah sakit lagi?”

“Selalu. Setiap hari sampai ia sembuh.”

“Tidak capek?”

“Kau tahu, Key? Jika kita jatuh cinta, semuanya terasa menyenangkan. Bahkan datang ke rumah sakit yang jauh dan bau obat itu pun terasa dekat dan wangi taman seribu bunga!” Mata Sunghee berbinar. Key tak bisa menahan senyumnya.

“Aku ikut menjenguk Hyukjae ya.”

“Silahkan.”

= = =

“Hyuk ah, gwaenchanayo? Aku minta maaf, perkataanku tidak mengenakkanmu waktu itu. Tapi sekarang lain. Kau harus berterima kasih pada Hankyung, dia memperbolehkanku untuk mencintaimu.” Sunghee menggenggam tangan Hyukjae yang masih belum sadarkan diri.

“Aku mencintaimu, Hyukjae.” Sunghee mengecup kening Hyukjae.

“Aku memberikan hatiku kembali. Jadi, bertahanlah. Kau bisa hidup jika hatiku ada di tubuhmu, kan?” Sunghee tersenyum sambil membelai rambut Hyukjae.

“Hatimu tidak kubuang. Aku simpan di rongga tubuhku. Biarkan hati kita yang bersama, meskipun kita tidak bisa bersama.” Sunghee tersenyum.

“Oh ya, Key datang bersamaku. Lihat, bayangkan jika kau pergi. Orang-orang pasti sedih. Terlebih lagi Donghae. Dia menangis berhari-hari lho.” Sunghee terkekeh. Key tersenyum di sampingnya.

“Tapi dengan begitu dia malah semakin dekat dengan Chaerin. Gadis itu menemani Donghae hingga malam. Donghae beruntung bisa bertemu sahabatku.” Sunghee mengelus rambut Hyukjae lagi.

“Sadarlah, Hyukjae. Aku ingin bertemu denganmu setiap hari. Agar aku bisa bernapas.”

 

To be continued

14 thoughts on “[FF] Letters of Hearts part 6

  1. vidiaa says:

    waaaaaaaa dikirain hankyung bakalan malpraktekin hyuk ._. *plak
    terus ntar sunghee nya stress, bunuh diri deh ._.v tamat. *digampar

    suka alurnya, ga gampang ketebak ^^
    daebak😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s