[FF] Letters of Hearts part 5

Everytime I see you, my heart beat faster

My eyes can’t stop looking at you

My ears are searching for your words

And my mind thought. It’s you.

The one who was destined for me.

Not for your husband.

“Sunghee ya! Lihat! Berita dariku berhasil dimuat dan membuat pelanggan kita menaik drastis!” Heechul berseru dengan riang. Sunghee melirik rekannya sekilas sebelum kembali berkutat dengan komputer.

“Hey, Sunghee…setidaknya lihat ini dulu sebentar..” Heechul menepuk pundak Sunghee. Mau tak mau gadis itu berbalik dan menerima majalah yang disodorkan Heechul. Mata Sunghee membelalak membaca artikel itu. Terlebih lagi dengan inisial penulisnya.

“Loh kok ‘SH’? Aku kan tidak mempublikasikan ini!” Sunghee memprotes.

“Itu SH untuk Seunghyun, Sayang. Lihat ada bintangnya di atas huruf H.” Heechul menunjuk huruf H dengan jarinya. Sunghee mengangguk-angguk. Tanda bintang itu sangat kecil hingga hanya sedikit orang yang menyadari keberadaannya. Dan Hyukjae termasuk ke orang yang tidak menyadarinya.

= = =

“Hae, jadwalku hari ini apa?” tanya Hyukjae sambil membetulkan letak dasinya.

“Hari ini jadwalmu agak lenggang. Kau hanya harus pergi ke Smile radio sebagai bintang tamu. Setelah itu kau boleh beristirahat.”

“Oke, gomawo.”

“Tapi, Hyuk…memikirkan pembicaraan kita semalam tentang pengunduran dirimu…apa kau yakin?”

“Aku sudah muak dengan pekerjaan kantoran. Kalau kau mau, kau saja yang menjabat sebagai CEO perusahaan telekomunikasi.”

“Bagaimana mungkin semudah itu?”

“Tentu mudah, karena itu perusahaan warisan dari kakekku yang satu lagi.”

“Jinjayo?! Kenapa tidak bilang?!” Donghae tampak terkejut.

“Aku sendiri baru tahu sesaat sebelum diterima bekerja di sana. Tapi untuk apa pula aku bilang-bilang? Tidak penting kok.”

“Tapi…kenapa banyak orang tidak tahu tentang latar belakangmu ya? Kakekmu yang dari ayahmu kan kaya.”

“Entahlah. Itu dia yang masih menjadi pikiranku hingga sekarang. Mungkin karena dulu aku bekerja sebagai penari jalanan, jadi orang-orang mengira latar belakangku tak bagus. Padahal apa salahnya sih dengan menari jalanan? Kegiatan membakar kalori begitu kok ditentang.” Hyukjae terlihat kesal. Donghae hanya tersenyum, mereka berdua memang sudah berbaikan.

“Tentang CEO itu..”

“Aku dengan senang hati memberikan jabatannya padamu, Hae. Toh kita masih saudara.”

“Serius?”

“Tak pernah seserius ini sebelumnya. Kau ambil perusahaan itu sedangkan aku banting setir menjadi penyiar radio dan bintang iklan.”

“Jadi kau mau bekerja sebagai penyiar radio juga?”

“Iya. Kegiatannya santai, aku butuh refreshing.”

“Oke, kalau kau menikmati acara siaran nanti siang, aku bisa minta tolong ke temanku untuk merekrutmu. Sepertinya akan mudah, kau kan artis.”

“Kenapa artis selalu mendapatkan semuanya dengan mudah?” Hyukjae berdecak kesal. “Aku ingin diperlakukan seperti orang biasa yang melamar pekerjaan. Apa yang harus kubuat? CV yang lengkap? Foto kopi KTP?”

Donghae terdiam sebentar. Rasa kagumnya pada sepupunya itu semakin menumpuk.

“Donghae?”

“Ah, kau siapkan saja surat lamaran kerja. Nanti aku urus semuanya.” Hyukjae hendak memprotes tapi Donghae memotong, “Aku akan mempersiapkannya dengan cara yang biasa saja. Tidak mengandalkan latar belakangmu.”

“Arasseo.” Hyukjae tersenyum sambil menepuk pundak Donghae.

= = =

Hyukjae berdiri di depan studio. Di dalam studio masih ada artis Shindong dan Ryeowook yang sedang melakukan siaran. Donghae sedang pergi menemui temannya. Mau tak mau Hyukjae menunggu dalam diam.

Suara sepatu hak menembus gendang telinga Hyukjae. Tempat yang sepi membuat suara sepatu hak itu menggaung di lorong gedung. Hyukjae melihat ke sumber suara. Dia tertegun sejenak ketika melihat siapa yang berdiri sekitar 5 meter darinya. Gadis itu memakai dress selutut berwarna putih dan sweater tipis berwarna peach. Rambut gadis itu diikat ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambutnya ke depan telinga. Gadis itu membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Hyukjae tertegun. Cantik, benar-benar cantik. Masih sama seperti dua tahun yang lalu, saat Hyukjae masih menjadi kekasih gadis tersebut.

Sunghee tersenyum canggung. Hyukjae membalas senyumnya dengan hangat. Matanya tak lepas dari mata Sunghee.

“Kau memotong rambutmu?” Hyukjae mengawali percakapan. Sunghee hanya mengangguk.

“Ternyata kau menyadarinya,” gumam Sunghee sangat pelan.

“Kenapa?” tanya Hyukjae lagi.

“Rambutku rontok.”

“Bukan karena ingin melupakanku?”

“Hm?”

“Aku pernah dengar, bila kita ingin melupakan seseorang, kita harus memotong rambut untuk bisa melupakan orang itu.”

“Hahahaha…dengar omong kosong darimana kau?” Sunghee tertawa sumbang. Hyukjae terdiam.

“Kau tidak akan..”

“Annyeonghasaeyo!!” seru Donghae. Di sampingnya berdiri Key. Hyukjae dan Sunghee menoleh bersamaan.

“Lho? Key?” Sunghee menunjuk Key heran.

“Eh? Kalian sudah saling kenal?” tanya Donghae. Key mengangguk.

“Dia ini sahabatku.” Key merangkul pundak Sunghee. Hyukjae menatap Key tidak suka.

“Lho, Sunghee?” Donghae menatap Sunghee heran. Yang ditatap balas memandang dengan bingung.

“Ne?”

“Ah ani..” Donghae tersenyum kikuk. Dia lalu melirik Hyukjae. Yang dilirik masih menatap Sunghee. Donghae menarik tangan Hyukjae menjauh dari Sunghee dan Key.

“Pinjam Hyukjae sebentar ya!” serunya.

Donghae melepaskan tangannya ketika mereka berdua sampai di depan pantry.

“Hyuk, maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau bintang tamu yang diundang itu Sunghee…aku hanya diberi tahu bahwa bintang tamunya itu seorang penulis terkenal. Aku tidak tahu penulis itu Sunghee..”

“Kau sudah mengurus lamaran pekerjaanku?” tanya Hyukjae tanpa menanggapi kata-kata Donghae sebelumnya. Donghae mengangguk dengan ragu.

“Key itu temanku yang bekerja di sini juga. Dia warna negara Amerika tapi dalam waktu dekat akan pindah menjadi warga negara Korea Selatan. Nah, lewat dia aku bisa mengajukanmu menjadi penyiar radio.”

“Nama acaranya apa?”

“Letters of Hearts.”

“Hah?” Hyukjae terlihat kebingungan.

“Jadi di sana, kau dan Sunghee membacakan surat-surat pembaca. Diselingi acara tanya jawab dan request musik juga.”

“Wah…ini dia yang kutunggu-tunggu!”

“Tapi…apa kau yakin? Dengan melihat Sunghee, kau akan semakin mencintainya, bukan?” Donghae terlihat khawatir, seakan-akan sepupunya akan mengikuti perang dengan Korea Utara.

“Iya. Lagipula aku tidak berniat melupakannya, apalagi membencinya. Aku sangat menyayanginya dan mencintainya. Dengan acara radio ini, aku bisa bertemu dengannya setiap hari. Dan itu membuatku bernafas lagi.”

“Arasseo..” Donghae tersenyum. “Nah, ayo kita kembali. Siarannya pasti sudah mulai. Untuk hari ini, kalian akan dipandu dulu oleh Kangin dan Siwon. Bintang tamu lainnya ada Kibum, dia adalah aktor muda yang sedang naik daun, jika kau belum tahu.”

= = =

Sepanjang siaran, mata Hyukjae tidak pernah lepas dari Sunghee. Bahkan berkali-kali ia bengong jika ditanya. Dan Sunghee yang menyadarkannya. Sunghee yang mencairkan suasana di sana. Itu malah membuat Hyukjae semakin kagum. Dia semakin mencintai wanita yang duduk di seberangnya itu.

“Kalian bekerja dengan baik. Senang menerima kalian di sini.” Siwon tersenyum hangat. Sunghee mengerutkan kening.

“Menerima ‘kalian’?” tanyanya heran. Siwon mengangguk.

Don’t say you don’t know. Kau dan Hyukjae akan bekerja sebagai DJ acara Letters of Hearts ke depannya. Yeah, I’m busy with filming stuff. Kangin Hyung tahun ini mengikuti wajib militer. Jadi kalian yang menggantikan kami.”

“Tapi…kami bukan penyiar yang baik.”

“Kata siapa? Aku dan Kangin Hyung sudah menilai kalian tadi dan hasilnya baik kok. Kalian terlihat rileks dan ramah. Itu yang penting. Kalian bahkan tak lupa untuk tersenyum meskipun si pendengar tidak akan melihat kalian. Senyum menghilangkan gugup dan mencairkan suasana.”

“Begitukah? Well, terima kasih atas pujiannya.”

“Sama-sama. Selamat bekerja!” Siwon melambai singkat pada Sunghee. Gadis itu mengangguk.

“Sunghee?” Sunghee tertegun ketika mendengar suara tersebut. Hyukjae berdiri di ambang pintu dan menatap ke arahnya sambil tersenyum.

“Kau pulang sendiri?” tanyanya ramah, seperti tak ada apapun di antara mereka.

“Ehm..aku dijemput Hankyung.” Sunghee memaksakan seulas senyum. Hyukjae tak bisa menyembunyikan gurat kecewa di wajahnya.

“Oh…mungkin Hankyung sudah menunggumu. Aku lihat mobilnya dari sana.” Hyukjae menunjuk jendela besar. Sunghee berjalan menuju jendela besar dan melihat ke bawah. Benar saja, Hankyung sudah menunggunya.

“Kalau begitu aku harus pulang sekarang. Dah, Hyukjae.” Sunghee melambai singkat tanpa menatap Hyukjae dan berlalu begitu saja. Hyukjae membalas lambaiannya pelan. Dia lalu menghela napas.

“Maafkan aku, Tuhan, aku berdoa yang tidak-tidak. Aku berdoa semoga suatu saat nanti, Hankyung berhalangan untuk menjemput Sunghee.”

= = =

Hyukjae berjalan memasuki apartemennya. Dia melihat Donghae sedang duduk di ruang TV sambil mengutak-atik laptopnya.

“Hey..” sapa Hyukjae pelan. Dia menggantungkan jaketnya ke tempat yang tersedia. Donghae menoleh.

“Oh, hi! Aku punya sesuatu untukmu.” Donghae berjalan mendekati rak buku dan menarik sebuah majalah. Hyukjae memperhatikannya sambil melepas kancing kemeja.

“Aku tahu kau tidak akan suka ini, tapi kau harus melihatnya.” Donghae menyerahkan majalah di tangannya. Hyukjae menatap Donghae bingung sebelum menerima majalah tersebut. Dia membuka halaman demi halaman.

“Ada berita bagus di balik itu, Hyuk.” Donghae membuka halaman yang dimaksud. Hyukjae tertegun melihat berita di sana.

“Acara Letters of Hearts mendapat sambutan hangat dari fans.” Hyukjae mulai membaca. Donghae mengangguk-angguk.

“Tunggu dulu, kau bilang aku tidak akan suka ini?” Hyukjae menatap Donghae heran.

“Oh maaf, yang tadi itu berita bagusnya. Maksudku yang ini..” Donghae membuka-buka halaman. Tangannya menunjuk sebuah judul. Hyukjae pun membaca berita tersebut.

“Hubungan Min Seori dan Lee Hyukjae semakin membaik. Apa-apaan..?” gumam Hyukjae. Donghae menghela napas.

“Itu karena kalian sama-sama model majalah NEWS! dan ya…biasa..infotainment. Membesarkan sesuatu yang tidak benar. Tapi kau lihat nama authornya.” Hyukjae mengikuti perintah Donghae. Dia tertegun lagi.

“SH lagi?”

“Kau lihat bintang kecil di sana? Di dekat huruf H.”

“Mana?” Hyukjae mengernyit.

“Kau harus memakai kaca matamu.” Donghae berjalan menuju meja kerja Hyukjae dan menyodorkan kaca matanya. Hyukjae memakai kaca matanya dan memperhatikan nama author tersebut.

“Kau melihatnya?”

“Ya..” Hyukjae melepas kaca matanya. “Lalu ada apa dengan tanda bintang itu?”

“Aku perhatikan, SH yang membuat cerita Gloxinia tidak ada tanda bintangnya. Sedangkan yang mempublish berita tentangmu, selalu ada tanda bintang di dekat huruf H. Kau tahu apa artinya?”

“Bukan Sunghee yang menulis artikel itu.”

“Bingo! Aku bersyukur kau pintar.” Donghae mengangguk-angguk dan kembali berkutat dengan laptopnya.

“Oh, kalau kau mau makan, tadi tetangga sebelah memberikan dua porsi kimbap yang sangat lezat. Oh ya, tetangga itu baru pindah tadi pagi. Aku membantu membawakan barang-barangnya. Dia seorang gadis yang tinggal sendiri. Gadis itu sangat cantik, Hyuk!” cerita Donghae bersemangat. Hyukjae tersenyum tipis dan berlalu menuju dapur untuk melihat kimbap yang dimaksud. Dia mengambil sedikit dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

“Jangan bilang kau mau menjodohkanku dengannya ya,” ucap Hyukjae masih sambil mengunyah.

“Andwae! Choi Chaerin akan menjadi milikku dalam waktu dekat!” Donghae mengedipkan sebelah matanya. Hyukjae tertawa. Dia membersihkan tangannya dan mengambil gelas. Hyukjae membuka lemari es dan mengambil sedus susu stroberi. Ia lalu menuangkan susu itu ke dalam gelasnya.

“Jadi namanya Choi Chaerin, hah?” Hyukjae berkata sambil berjalan mendekati Donghae. Dia duduk di samping Donghae yang masih serius dengan laptopnya. Donghae hanya bergumam. Hyukjae meneguk susu stroberinya sambil melirik layar laptop.

“Apa? Kau membuka Twitter Chaerin?” ucap Hyukjae tak percaya. Donghae melirik Hyukjae. Dia tertegun sejenak ketika melihat gelas di tangan Hyukjae.

“Hyuk, itu susu stroberi yang ada di kulkas ya?”

“Dimana lagi?”

“Andwae! Itu susu stroberi dari Chaerin!!” Donghae berteriak kesal dan berlari menuju dapur. “Kau tidak boleh meminum susu ini lagi! Aish jinja..”

“Oh, man! Kau tergila-gila dengan ‘the girl next door’, hah?” kesal Hyukjae.

“Daripada aku tergila-gila padamu?”

“Eugh, itu menjijikkan.” Hyukjae meraih mouse dan mulai melihat-lihat Twitter Chaerin. Dia mengernyit heran ketika melihat Donghae tidak mem-follow Chaerin.

“Hae ya!”

“Oi!” sahut Donghae dari kamarnya. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu.

“Kenapa tidak mem-follow Chaerin?”

“Hyuk! Aku terlalu malu untuk melakukan itu..”

“FUHAHAHAHAHA!! Seorang Lee Donghae merasa malu untuk mem-follow Twitter Chaerin? Ya Tuhan! Ada dimana aku?” Hyukjae terbahak.

“Hyuk..” Donghae mendesis kesal. Dia melirik kesal dari pintu kamarnya. Sebuah gunting tergenggam di tangannya.

“Whoa..santai…hahaha..”

“Kalau kau tidak diam…” Donghae menggerakkan gunting itu di depan lehernya, “kau akan mati!”

“Okay okay..” Hyukjae mati-matian menahan tawa. Iseng, dia mengklik “follow” di Twitter Chaerin. Otomatis, Donghae mem-follow gadis itu. Hyukjae menggigit bibirnya untuk menahan tawa. Dia lalu membuka-buka followers Chaerin. Hyukjae mengernyit melihat sebuah akun dengan nama @Jonquil45. Hyukjae membuka akun itu dan terkejut. Itu akun Lee Sunghee. Tanpa tunggu persetujuan dari Donghae, Hyukjae segera mem-follow akun tersebut.

“Hyuk, apa kau melihat ponselku?” Donghae berjalan mendekati Hyukjae. Dia melirik layar laptopnya.

“Hyuk! Kenapa aku jadi mem-follow Chaerin?!” seru Donghae. Hyukjae berdiri sambil membawa gelasnya yang isinya tinggal setengah.

“Terima kasihnya nanti saja ya.” Hyukjae menepuk pundak Donghae sebentar sebelum berlalu menuju meja kerjanya. Donghae menggeram kesal. Hyukjae berdecak pelan dan mengambil secarik kertas. Ia duduk di kursi dan mulai menulis sebuah surat. Setelah selesai, ia memasukkannya ke amplop dan mengirimnya ke sebuah alamat.

= = =

“Hey, Sayang..” Hankyung melingkarkan tangannya ke pinggang Sunghee dan mengecup bibir gadis itu sekilas. Sunghee hanya tersenyum.

“Silakan masuk, aku punya kejutan untukmu.” Hankyung membukakan pintu mobil dan mengedipkan sebelah matanya.

“Kejutan apa?” tanya Sunghee ketika Hankyung sudah duduk di balik kemudi.

“Bukan kejutan jika aku beritahu.” Hankyung terkekeh. Sunghee tersenyum tipis.

“Kelihatannya kau lelah.”

“Yah…sepulang kerja sebagai author, aku langsung pergi ke Smile Radio. Agak melelahkan memang..”

“Kalau begitu kejutanku pas untukmu.” Hankyung mengulum senyum. Sunghee memijit tengkuknya yang pegal.

“Hm? Apa itu?” Sunghee menoleh. Hankyung tersenyum misterius.

“Kau akan tahu nanti, Sayang. Sabar sedikit.”

Ternyata Hankyung mengajak Sunghee ke sebuah restauran mewah. Beberapa pasangan terlihat sedang menikmati makan malam mereka sambil saling bercengkerama. Sunghee terpana sejenak. Dia gadis yang sederhana, pergi ke restauran mewah seperti ini hanya terjadi saat ada momen spesial. Bukan hanya makan malam biasa.

“Sebenarnya ada apa, Kyung? Kenapa kau mengajakku kemari?” bisik Sunghee.

“Kau tidak suka tempat ini? Kita bisa cari tempat lain.”

“Ah aniyo, aku suka kok! Hanya saja…pasti ada momen spesial jika makan di restauran mewah seperti ini..”

“Wah, kau sudah membaca rencanaku rupanya? Dasar gadis pintar!” Hankyung mengelus rambut Sunghee.

Pelayan-pelayan menyambut mereka dengan ramah.

“Permisi, Tuan Hankyung, meja Anda ada di sebelah sini.” Seorang pelayan cantik membimbing mereka menuju tempat yang dituju. Hankyung menggenggam tangan Sunghee dan menuntunnya. Sunghee berusaha untuk tetap melihat ke depan, tapi ia tidak bisa. Sunghee merasa takjub dengan desain interior restauran tersebut. Dia seperti sedang berada di Paris. Suasanya begitu romantis dan sarat akan budaya luar.

“Tara!” ujar Hankyung. Sunghee terperangah melihat pemandangan di depannya. Sebuah meja makan terhias dengan cantik di pinggir balkon. Makanan-makanan kesukaannya terlihat memenuhi meja makan tersebut. Sunghee melihat kedepan. Lampu-lampu kota Seoul menambah suasana romantis di sana. Sunghee berdecak kagum.

“Kyung…ini terlalu…hebat..” gumam Sunghee. Hankyung tersenyum senang.

“Ayo, Tuan puteri, lewat sini,” canda Hankyung. Sunghee duduk di seberang Hankyung. Matanya masih berbinar tak percaya.

“Kyung! Cepat beritahu aku ada momen apa?” desak Sunghee. Hankyung tertawa geli melihat tingkah istrinya.

“Kita merayakan sebulan pernikahan kita. Dan juga…” Hankyung sengaja menggantung kalimatnya. Sunghee semakin penasaran.

“Dan juga…selamat atas pekerjaan barumu.” Hankyung tersenyum lebar. Dia menyodorkan sebuah kalung berbandul hati. Sunghee terkejut.

“Ini award untukmu, istriku yang sudah bekerja keras dan setia menemaniku di saat senang dan sedih. Aku mencintaimu.” Hankyung memasangkan kalung itu di leher Sunghee sambil mencium bibirnya lembut. Sunghee tertegun. Hyukjae pernah melakukan hal ini padanya. Tapi kalung dari Hyukjae ia simpan di kotak rahasianya yang ia letakkan di loteng apartemen.

“Kyung ah gomawo…” Sunghee tak bisa berkata-kata lagi. Hankyung tersenyum.

“Tapi aku mau meminta satu permintaan untukmu.”

“Apa itu?” tanya Sunghee, masih sambil melihat bandul kalungnya.

“Panggil aku yeobo.” Sunghee tersentak. Ia mendongak dan melihat wajah Hankyung yang terlihat serius.

“Arasseo…” Sunghee menelan ludah, “yeobo.”

“Gomawo. Saranghae.” Sunghee terdiam.

“Na ddo,” bisik Sunghee lirih. Dia bersyukur dia sedang terharu. Hankyung akan mengira suaranya berbisik karena menahan tangis.

Tak berapa lama, seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan nampan berisi botol wine dan dua gelas kosong. Sunghee terheran-heran melihatnya. Hankyung tersenyum berterima kasih pada pelayan itu. Dia membuka tutup botol dan menuangkan isinya ke gelas di hadapannya dan di hadapan Sunghee.

“Yeobo, ini..”

“Wine. Orang Korea meminum wine pada saat spesialnya, bukan?”

“Tapi aku tidak minum-minum.”

“Kau sudah cukup umur, Sunghee sayang. Cobalah barang seteguk. Rasanya lezat. Lagipula malam ini cukup dingin, wine ini berguna untuk menghangatkan tubuhmu.”

“Untuk sebulan pernikahan kita dan pekerjaan baru Sunghee, bersulang!” Hankyung dan Sunghee menyentuhkan gelasnya masing-masing. Hankyung meneguk sedikit.

“Cobalah,” ujarnya.

“Hm…baiklah.” Sunghee meneguk sedikit. Hankyung menunggu reaksi Sunghee. Ternyata gadis itu mengangguk-angguk dan meneguk wine-nya lagi. Hankyung tersenyum senang dan ikut meneguk wine-nya.

Hankyung menggendong tubuh Sunghee ke dalam rumah mereka. Sunghee tidak kuat minum dan menyerah duluan. Hankyung menendang pintu kamar dan merebahkan tubuh Sunghee ke tempat tidur. Hankyung mengunci pintu kamar dan menatap Sunghee. Gadis itu masih mabuk. Dia memang tidak pingsan, tapi dia mabuk berat. Hankyung malah tersenyum. Ini bagian dari rencananya selama ini.

“Kau selalu menghindar dariku, Hee. Kau kira aku tak tahu?” Hankyung membuka kancing kemejanya dan berjalan menghampiri Sunghee.

“Alasan capek dan sibuk bekerja itu alasan klise, Sunghee sayang.” Hankyung merangkak menaiki tempat tidur. Tubuhnya berada tepat di atas tubuh Sunghee.

“Aku lebih senang melakukannya dalam keadaan sadar, tapi kau belum pernah kujamah seutuhnya. Kau selalu menghindar dengan berbagai alasan. Dan sekarang kau tidak bisa kabur, Sunghee. Kau milikku malam ini dan seterusnya.” Hankyung mulai melucuti baju Sunghee sambil menciumi lehernya. Sunghee yang setengah sadar mendesah nikmat. Hankyung mengulum senyum.

Malam itu Sunghee benar-benar tidak sadar, pria yang sedang menjamahnya adalah Hankyung, bukan Hyukjae. Di matanya, pria yang sedang menciumi lehernya itu Hyukjae, bukan Hankyung. Dan pria yang merenggut mahkotanya adalah Hankyung, suaminya sendiri, dan bukan Hyukjae. Tapi di mata Sunghee yang setengah sadar, malam itu, Hankyung adalah Hyukjae. Hankyung tidak menyadari pikiran Sunghee dan menikmati permainannya. Namun hanya sementara, karena saat Sunghee mendesahkan nama Hyukjae, Hankyung marah besar.

To be continued

9 thoughts on “[FF] Letters of Hearts part 5

  1. vidiaa says:

    aaaa gereget laah bacanyaaaaaa ><
    daebaaaaaaaaaaaaaaaaak

    dikirain hyuk bakal gatau soal SH dengan bintang kecil.
    eh ternyata dikasih tau donghae..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s