[FF] Letters of Hearts part 4

Sunghee dengan setia berdiri di samping Hankyung. Ibunya meninggal tepat setelah pesta pernikahan selesai. Jadi mereka untuk sementara sibuk. Tapi Sunghee bisa menghela napas lega meski sedikit. Hankyung sama sekali tidak memikirkan malam pertama. Sunghee bisa tenang.

Hankyung terduduk lemas di atas kursi lorong rumah sakit. Dia mengacak rambutnya frustrasi. Sunghee duduk di sampingnya. Dia mengusap punggung Hankyung sambil menatapnya khawatir.

“Untung kita menikah lebih cepat…jika tidak..aku akan menyesal selamanya..” bisik Hankyung. Sunghee menatap Hankyung dengan sendu. Dia jahat jika menyakiti perasaan lelaki ini. Dia jahat jika mencintai lelaki selain ia. Lelaki ini tulus mencintainya. Meskipun baru kenal beberapa bulan dan langsung melamar dengan alasan ibunya yang sakit keras, namun Sunghee sangat mempercayai lelaki ini. Apalagi ia dokter yang terkenal. Latar belakangnya juga baik. Dia lelaki yang bisa dipercaya, itu menurut Sunghee.

“Ayahmu kemana? Saat pernikahan kita, aku tidak melihat dia..” ucap Sunghee pelan. Hankyung mengusap wajahnya. Dia lalu menunduk, air matanya telah kering.

“Ayahku sama sekali tidak memikirkanku. Dia menikah dengan orang lain dan meninggalkan keluargaku.” Sunghee semakin menaruh simpati pada Hankyung. Dia masih mengusap punggung suaminya untuk menenangkannya.

“Padahal ibuku orang baik. Padahal ibuku setia. Tapi kenapa..” Hankyung kembali terisak. Sunghee merapatkan tubuhnya dan mempererat rangkulannya. “Kenapa wanita sebaik ia ditinggalkan begitu saja?! Aku tidak akan melakukan hal itu pada istriku.”

Sunghee luluh mendengar ucapan Hankyung. Dia benar-benar jahat jika masih mencintai Hyukjae, sementara suaminya sendiri sangat mencintainya, dan juga menghargainya.

“Aku mencintaimu, Sunghee…selamanya..” bisik Hankyung. Sunghee tidak tahan lagi. Ia langsung memeluk Hankyung sambil terisak.

“Aku juga…” Sunghee menarik napas dengan berat, “mencintaimu..”

Saat mengatakannya, Sunghee merasa jantungnya seperti diremas-remas. Sangat sakit rasanya. Dadanya sesak. Tapi Sunghee menahan rasa sakitnya.

Kumohon, Hyukjae…relakan aku..’ batin Sunghee. Dia menenggelamkan wajahnya ke pundak Hankyung. Lelaki itu mengusap kepala Sunghee lembut. Ia lalu mencium puncak kepalanya, kemudian keningnya. Lalu Hankyung mencium bibir Sunghee lembut. Ia melepaskan ciumannya lalu berkata,

“Jangan pernah tinggalkan aku, karena aku juga tak akan meninggalkanmu.”

Sunghee meneteskan air matanya lagi. Dia merasa sangat bersalah.

“Aku tidak akan…meninggalkanmu..” Lagi-lagi, dadanya sesak. Sunghee kesulitan bernapas.

= = =

Hyukjae terbangun keesokan paginya. Dia melihat sekeliling. Dia mengernyit ketika mendapati dirinya tidur di sofa ruang tamu apartemen barunya. Dia mencari seseorang untuk ditanyai. Dan terkabullah. Donghae keluar dari kamarnya sambil membawa serpihan kaca di pengki. Dia menatap Hyukjae sendu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Donghae membawa serpihan kaca itu ke dapur dan membuangnya ke tempat sampah.

“Kenapa aku tidur di sini? Seingatku aku tidur di lantai kamar..” Hyukjae berdeham. Suaranya serak. Donghae menghela napas dan menatapnya.

“Kau kesetanan semalam, sampai lupa tidur dimana. Tadi malam kau sendiri yang tidur di situ. Aku membangunkanmu untuk pindah ke kamar tapi kau tidak mau.”

“Benarkah? Lalu kenapa kau membersihkan belingnya baru pagi ini?”

“Kau pikir siapa yang menemanimu sampai kau tertidur?” Donghae mendengus kesal.

“Aku tidur jam berapa?”

“Jam 3 pagi.”

“Kenapa kau menemaniku?”

“Karena aku takut barang-barang berharga di apartemen ini hancur berkeping-keping. Padahal ini apartemen baru.”

“Aku masih di Indonesia?”

“Kau ini depresi atau amnesia?” Donghae berdecak. Hyukjae terlihat bingung. Dia lalu mendudukkan dirinya di sofa.

“Aku mengerti tadi malam kau stress memikirkan Sunghee ada di dekapan Hankyung, tapi aku mau memberi tahu sesuatu.”

“Apa itu?” tanya Hyukjae heran.

“Kemarin, tepat setelah pesta pernikahan selesai, ibunya Hankyung meninggal dunia. Jadi mereka sibuk dengan urusan pemakaman. Dan kekhawatiranmu semalam tidak ada artinya.”

“Jadi…mereka tidak melakukan..?”

“Aku tidak tahu. Tapi bayangkan saja, ketika ibumu meninggal, kau masih memikirkan hal itu?” Hyukjae terdiam. Mungkin tadi malam Sunghee masih selamat. Tapi selanjutnya?

“Sekarang Sunghee dimana?”

“Siang ini dia akan ke China.”

“Bulan madu?”

“Mengurusi pemakaman ibunya Hankyung, bodoh.” Donghae mengetuk kepala Hyukjae sekilas. Dia berlalu menuju dapur dan membuat dua cangkir kopi.

“Ya sudah siang ini kita ke China, Hae.”

“Mwo?! Untuk apa?”

“Ya ke pemakaman ibunya Hankyung.”

“Kau gila?!” seru Donghae. Hyukjae malah mengernyit.

“Ke pemakaman kok gila?”

“Tapi…aku tidak tanggung jawab jika kau menghajar Hankyung ya..” Donghae mengangkat kedua tangannya. Sebelah tangannya menggenggam sendok gula.

“Aku ke pemakaman itu ya untuk melayat. Bukan untuk menjotos.”

“Tapi…kau siap bertemu Sunghee?”

“Kenapa aku harus tidak siap?”

“Ya terserahlah. Itu hakmu.”

“Sebagai managerku, kau ikut ya.”

“Hm..”

“Oke, siapkan baju-bajumu.” Hyukjae berjalan ke dalam kamarnya. Donghae tertegun sejenak. Sejak kapan aku menjadi managernya? pikirnya.

“Ah, sebagai sepupu yang baik, aku memberitahu jadwalmu besok ya,” seru Donghae agar Hyukjae bisa mendengar perkataannya.

“Hm,” sahut Hyukjae.

“Pukul 9 pagi, kau harus pergi ke Korea untuk pemotretan majalah NEWS!”

“Batalkan.”

“Pukul 11 kau harus shooting MV K.R.Y.”

“Batalkan.”

“Pukul 13 kau harus menghadiri meeting dengan PT. Technolife.”

“Batalkan.”

“Pukul 16 kau harus..”

“Aku bilang apa, Lee Donghae? Batalkan!” seru Hyukjae marah. Donghae terkejut sejenak. Baru kali ini ia melihat sepupunya semarah itu.

“Tapi pukul 16 kau harus..”

“Persetan!”

“Kau harus menemui..”

“Batalkan!”

“Kau harus..”

“KAU HARUS DENGAR APA KATAKU, LEE DONGHAE!” Hyukjae berteriak kencang. Donghae sampai diam dibuatnya.

“AKU BOS MEREKA! TERSERAHKU MAU MEMBATALKAN MEETING ATAU TIDAK! MEMANG TIDAK ADA HARI LAIN?!”

“Hyuk, jika kau benar-benar tidak bisa melupakan Sunghee, cobalah menyibukkan dirimu sendiri. Jangan malah memperparah dengan datang ke pemakaman ibu suaminya.” Donghae menasihati dengan lembut. Hyukjae terengah-engah karena berteriak tadi. Dia menatap Donghae dalam diam.

“Aku memang tidak bisa dan tidak mau melupakannya. Biarkan aku pergi ke China.”

“Hyuk, pekerjaanmu..”

“Persetan!”

“Hyukjae! Profesionallah! Dulu siapa yang gila bekerja? Siapa yang mati-matian meng-cancel urusan lain demi pekerjaan? Siapa yang ingin mejadi yang terbaik untuk Sunghee? Siapa yang tidak ingin dipandang sebelah mata dengan keluarga Sunghee? Siapa?!”

“Itu dulu, Donghae! Dulu! Saat Sunghee masih menjadi milikku! Saat hati Sunghee masih di tubuhku! Tapi sekarang lain! Aku sudah kalah, Hae! Dan aku tidak akan gila bekerja lagi! Jika perlu aku mengundurkan diri SAAT INI JUGA!” Hyukjae melakukan penekanan pada tiga kata terakhir.

“KAU GILA?!” Donghae berteriak. Kekesalannya sudah mencapai klimaks. “APA YANG AKAN MEREKA KATAKAN JIKA KAU, CEO PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI KOREA, BINTANG IKLAN YANG MENDUNIA, BAHKAN SEKARANG SUDAH MULAI MENJADI AKTOR, MENYERAH BEGITU SAJA KARENA DITINGGAL MENIKAH OLEH MANTAN KEKASIHNYA?!” Donghae melangkah mendekati Hyukjae. Dia mendongak, menantang sepupunya. Hyukjae balas menatap sepupunya dengan marah.

“Jika kau tidak mau ikut aku ke China, kau boleh tinggal di sini,” desis Hyukjae sebelum berbalik menuju kamarnya. Donghae mendengus.

“Bagus! Jadi perkataanku sama sekali tak ada yang menyangkut di otakmu!” Donghae berbalik dan berjalan menuju dapur. Dia menyeduh secangkir kopi yang belum sempat diberi air. Hanya satu. Karena ia terlanjut kesal dengan Hyukjae.

Tak lama kemudian Hyukjae keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Dia heran ketika melihat cangkir kopinya masih berisi kopi bubuk.

“Kenapa kau tidak menyeduh kopiku?” tanya Hyukjae. Donghae membuang muka sambil menyeruput kopinya.

“Kau punya tangan, kan?” tanya Donghae dingin. Hyukjae mendesah pelan dan mulai mengisi cangkir itu dengan air panas.

“Mulai sekarang aku tidak akan ikut campur lagi. Terserah kau mau ke China kek, Jerman kek, Perancis kek, terjun ke jurang, tenggelam di laut, atau dimakan singa sekalipun, aku tidak peduli.” Setelah berkata seperti itu, Donghae beranjak berdiri dan masuk ke kamarnya. Hyukjae masih diam di meja makan. Dia mengaduk kopinya. Beberapa menit kemudian, Donghae keluar dari kamar sambil membawa koper besar. Hyukjae sedikit terkejut.

“Kau mau kemana?” tanya Hyukjae.

“Bukan urusanmu.” Donghae membuka pintu dan keluar ruangan. Hyukjae segera berdiri dan hendak mengejar sepupunya, tapi ia sadar, ini hidupnya. Donghae tidak perlu ikut campur. Hyukjae meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu.

‘Donghae ya, mianhae.’

= = =

“Kau tidak keberatan kan jika tinggal di China untuk sementara waktu?” tanya Hankyung pada Sunghee. Mereka berdua sedang berjalan-jalan di jalanan dekat apartemen Hankyung.

“Aku tidak masalah.” Sunghee tersenyum tipis. Hankyung ikut tersenyum.

“Aku janji, setelah ini kita boleh tinggal dimanapun kau mau. Mengingat di China, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Aku ikut denganmu saja. Aku tidak keberatan jika tinggal di China selamanya.”

“Bagaimana jika kita tinggal di Korea?”

“Apa?” Sunghee menatap Hankyung tak percaya. Ia menghentikan langkahnya. Hankyung ikut berhenti dan menatap Sunghee.

“Kau sekarang bekerja di Korea, kan?”

“Tapi aku masih menjadi penulis di Indonesia. Kau juga masih ada proyek di Bandung, kan?”

“Ah, itu sih sebulan lagi selesai. Aku sedang membicarakan jangka panjangnya. Kita mau tinggal dimana?”

“Terserah padamu, Hankyung.”

“Yeobo,” ralat Hankyung. Sunghee tersentak.

“Kita sudah menikah, kau seharusnya memanggilku yeobo.” Hankyung terkekeh pelan. Sunghee tersenyum meski terpaksa.

“Yeobo..” ucap Sunghee. Dadanya sesak lagi.

“Ne, yeobo?” Hankyung tersenyum senang.

“Ani..” Sunghee pura-pura melihat ke arah lain. Tapi Hankyung malah gemas dengan tingkahnya dan mengecup pipinya sekilas. Sunghee tersenyum.

“Saranghae.” Hankyung melingkarkan tangannya ke pinggang Sunghee. Gadis itu tidak bisa membalas. Dia takut dadanya sesak lagi.

“Oh ya, yeobo, aku masih ada urusan di Korea.”

“Tentang apa itu?” Hankyung menaikkan alis.

“Ehm…sebenarnya tidak terlalu penting. Aku harus mempublikasikan karya-karya tulisku dan menjadi penyiar radio.”

“Baiklah, kita ke Korea.”

“Ah, nanti saja. Kita kan masih harus pergi ke China siang ini.”

“Iya maksudku nanti setelah pulang dari China, kita ke Korea, Sunghee sayang.” Sunghee tertegun. Cara Hankyung mengucapkan kata ‘sayang’ mirip dengan cara Hyukjae.

Mau tak mau Sunghee jadi mengingat masa lalu. Saat ia dan Hyukjae sedang mengerjakan tugas sekolah mereka berdua di ruang latihan dance.

“Nan eottokkhae? Kenapa esainya tiba-tiba hilang?!” Sunghee memekik frustrasi. Hyukjae yang sedang berkutat dengan buku sejarahnya menoleh pada Sunghee.

“Waeyo?” Dia melihat layar laptop.

“Eottokkhae? Sepertinya kakakku mem-format laptopku. Semuanya hilang, Hyuk-gun..” Sunghee nyaris menangis.

“Jinjayo? Sudah diinstal ulang?”

“Aku tidak tahu caranya.”

“Paboya!”

“Aish! Coba buktikan kalau kau bisa!” desis Sunghee. Hyukjae terkekeh. Dia berdiri lalu berlutut di belakang Sunghee. Tangannya terulur ke depan, melewati pundak Sunghee. Tangan Hyukjae menggenggam mouse yang notabene masih digenggam oleh Sunghee. Dagu Hyukjae menyentuh pundak kanan Sunghee. Jantung Sunghee berdegup kencang, terlebih ketika ia merasa debaran Hyukjae juga.

“Begini caranya, Sunghee sayang..” Hyukjae menunjukkan caranya sambil menjelaskan dengan suara pelan. Cukup pelan saja, karena jarak mulut Hyukjae dan telinga Sunghee memang sangat dekat.

“Mengerti?” bisik Hyukjae. Sunghee mengangguk. Semua datanya berhasil diselamatkan.

“Gomawoyo!”

“Ne.”

“Sunghee? Sunghee!” suara panggilan Hankyung terpaksa membawa Sunghee ke alam sadarnya.

“Ah, ne?”

“Kau melamun?”

“Ah…” Sunghee tidak tahu harus jawab apa.

“Kau kecapekan ya?” Hankyung menatap Sunghee khawatir.

“Ah, tidak juga.”

“Sudah kita pulang saja.” Hankyung menggenggam tangan Sunghee dan menuntunnya pulang. Sunghee menurut saja. Toh, dia bisa leluasa memikirkan Hyukjae jika sedang berdiam diri di kamarnya. Tapi Sunghee lupa, di kamarnya ada orang lain selain dirinya. Dia sudah menempuh hidup baru dan dia harus menerimanya.

= = =

Hyukjae mengencangkan dasinya dan merapikan jas biru donkernya. Dia merapikan rambutnya sekali lagi sebelum melangkah menuju ruang TV. Ia mematikan TV yang masih menyala dan mengambil kopernya yang diletakkan di pinggir sofa. Dia melangkah keluar apartemen dan mengunci pintu. Hyukjae sudah memutuskan untuk kembali ke Korea. Donghae benar, pergi ke China hanya akan menambah rasa sakitnya. Lagipula ia tidak diundang di sana. Jadi untuk apa? Bisa-bisa Hankyung malah memanas-manasinya lagi.

Sampai di apartemennya di Korea, Hyukjae mendapati apartemennya sepi. Biasanya Donghae selalu ada di sisinya dan bercuap-cuap mengenai suatu hal. Tapi sekarang Donghae sedang marah padanya. Hyukjae menghela napas. Sunghee pergi, Donghae pun ikut pergi. Kyuhyun sibuk dengan pekerjaannya. Yesung sibuk dengan restaurannya. Hyukjae bingung harus pergi kemana, ke siapa.

Hyukjae melihat agenda kerjanya.

“Pemotretan majalah NEWS!” Hyukjae mengangguk-angguk. “Arasseo.”

Hyukjae melangkah ke kamarnya. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Badannya pegal-pegal. Dia ingin tidur sebentar sebelum beraktifitas lagi.

= = =

Tidur Hyukjae terganggu dengan suara ketukan di pintu. Hyukjae mengerang pelan. Ketukan itu semakin lama semakin keras. Hyukjae mengerang kesal dan berjalan menuju pintu. Dia membuka pintunya dan tertegun.

“Surprise!” Seorang gadis manis berdiri di depan pintu apartemen Hyukjae. Dia menyodorkan sebuah bingkisan berbentuk hati berwarna pink cerah. Hyukjae mengernyit. Gadis itu mengerling.

“Ambillah.” Gadis itu menyodorkan bingkisan itu lebih tinggi. Hyukjae sampai mundur dibuatnya.

“Emm..apa ini, Seori-ssi?” Hyukjae bertanya dengan bingung. Gadis itu, Min Seori, adalah rekan bekerja Hyukjae. Dia bintang iklan dan juga penyanyi.

“Happy Valentine!” seru Seori. Hyukjae mengerutkan keningnya bingung.

“Tanggal berapa sekarang?” Hyukjae melihat sekeliling mencari kalender.

“Tentu saja 14 Februari, Hyukjae Oppa!” Seori terkekeh. Hyukjae mengangkat sebelah alisnya. Dia mengangguk paham.

“Er…tidak mengijinkanku masuk?” tanya Seori.

“Ya sudah, ayo masuk.” Hyukjae melebarkan pintu apartemennya. Seori melangkah memasuki apartemen Hyukjae dengan riang.

“Wah…sepertinya aku mengganggu tidurmu ya!” Seori tersenyum meminta maaf. Hyukjae hanya mengangkat alis.

“Begitulah.” Dia menunjuk ke arah sofa, mempersilakan Seori duduk di sana. Seori tersenyum senang dan duduk di sofa yang ditunjukkan Hyukjae.

“Oppa duduk di sini juga!” Seori menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Hyukjae hanya tersenyum dan duduk di sofa single. Seori tersenyum kikuk.

“Jadi sebenarnya, ada tujuan apa kamu kemari? Tumben.”

“Ini, hadiah valentine dariku.” Seori menyodorkan bingkisan yang belum diterima Hyukjae. Cowok itu menerimanya dan segera membukanya. Isinya kue-kue kering rasa coklat dengan topping stroberi. Seori menanti reaksi Hyukjae dengan harap-harap cemas. Di pikirannya, Hyukjae pasti sangat gembira menerima hadiah darinya.

Tapi nyatanya Hyukjae hanya tersenyum. Seori tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

“Oppa, cobalah. Aku membuatnya sendiri. Aku tidak tahu rasanya bagaimana.” Hyukjae menurut dan mengambil sepotong. Dia menggigitnya dan mengunyahnya.

“Enak,” gumam Hyukjae. Seori tersenyum puas.

“Jinja? Aku tidak tahu rasanya bagaimana lho!”

“Nih,” Hyukjae menyodorkan sepotong. Seori tersenyum gembira dan membuka mulutnya. Tapi ternyata Hyukjae memasukkan sepotong kue itu ke mulutnya sendiri. Seori cemberut. Namun sedetik kemudian ia tertawa.

“Apa kuenya begitu enak sampai kau tidak mau membaginya?”

“Ini kan kue hadiahku. Masa kau yang buat kau yang makan.” Hyukjae terkekeh. Seori tersenyum.

“Oppa kemana saja akhir-akhir ini? Aku jarang melihat Oppa.”

“Aku sibuk.”

“Duileh..CEO perusahaan telekomunikasi kelihatannya sibuk banget.” Seori mencibir. Hyukjae hanya tersenyum sekilas dan kembali memasukkan kue ke dalam mulutnya. Seori terus memperhatikan Hyukjae memakan kue buatannya. Dia memang menyukai Hyukjae sejak pertama bertemu dengan lelaki itu di studio. Lelaki itu sangat tampan, kaya, pintar, sempurna. Meskipun Seori hanyalah gadis berusia 19 tahun, tapi ia sangat mencintai Hyukjae yang notabene lebih tua 5 tahun darinya.

“Yah…orang sibuk dan ganteng memang begini,” canda Hyukjae. Seori tertawa lepas.

“Pe-de banget!” seru Seori. Hyukjae tertawa.

“Oppa tidak kencan hari ini? Biasanya kan pasangan-pasangan pada berkencan di hari valentine,” pancing Seori.

“Kencan? Aku tidak punya pacar.” Seori mengulum senyumnya. Berarti dia masih ada kesempatan untuk mendapatkan Hyukjae.

“Aku juga tidak punya pacar lho..” Seori menatap Hyukjae menggoda.

“Aku memang tidak punya pacar, tapi hatiku sudah terikat dengan seseorang.” Hyukjae berkata dengan santai. Seori tertegun.

“Siapa?”

“Seseorang.”

“Apa aku tidak boleh tahu?”

“Aku hanya akan memberitahukannya pada orang yang kupercaya.”

“Kau tidak percaya padaku?”

“Kita baru bertemu beberapa kali. Aku tidak terlalu mengenalmu.”

“Tapi aku sangat mengenalmu, Oppa! Aku menyukaimu!” seru Seori. Sedetik kemudian Seori menutup mulutnya. Sial, ngomong apa aku? pikirnya. Hyukjae menoleh, agak sedikit terkejut dengan pernyataan Seori.

“Kau menyukaiku?” kata Hyukjae pelan. Seori mengangguk. Hyukjae menarik napas pelan.

“Dengar, Seori-ssi, mungkin kau hanya menyukaiku sebagai sunbae-mu. Tidak lebih.”

“Ani! Aku mencintaimu!”

“Seori-ssi, aku sudah mencintai wanita lain. Maafkan aku. Tapi hatiku benar-benar hanya untuknya.” Hyukjae terlihat khawatir.

“Oh…gwaenchana..”

“Tidak apa-apa?”

“Ah ya… aku  tak apa-apa kok.” Seori menunduk. Suasana menjadi canggung dalam sekejap. Hyukjae melihat keluar jendela. Mendung mulai menutupi langit yang tadinya cerah.

“Sekarang mendung, sebentar lagi hujan. Kau pulang dengan siapa?”

“Sopirku menunggu di bawah. Ya sudah, sebaiknya aku pulang sekarang. Annyeonghasaeyo, Oppa.” Seori membungkuk kaku. Hyukjae mengangguk dan membukakan pintu.

“Terima kasih kuenya ya.”

“Sama-sama.” Seori tersenyum sedih dan berjalan keluar. Hyukjae membalas senyumnya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap ke arah mereka. Orang itu mengeluarkan kameranya dan mengabadikan kejadian di depan pintu.

= = =

“Sunghee-ssi?”

“Ne?”

“Kapan kau kembali ke Korea? Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu denganmu.” Heechul tersenyum ramah. Sunghee membalas senyum pria yang lebih tua 6 tahun darinya itu.

“Aku di China selama satu minggu. Dan sekarang aku akan tinggal di Korea.”

“Selamanya? Bukankah suamimu orang China?”

“Dia memang merencanakan untuk hidup di Korea kok.”

“Oh begitu. Omong-omong, sudah siap bekerja lagi?”

“Kapanpun.” Sunghee meletakkan tasnya ke meja. Heechul tersenyum dan menyodorkan beberapa lembar foto.

“Kemarin aku mendapatkan foto yang sangat menarik! Dijamin media lain tidak ada yang tahu.” Heechul mengedipkan sebelah matanya. Sunghee mengambil foto itu dan menatapnya sekilas. Dia tertegun.

“Ini…” gumam Sunghee.

“Ternyata, CEO perusahaan telekomunikasi Korea dan bintang iklan yang sedang naik daun itu mempunyai pacar! Dan pacarnya itu masih anak-anak! Itu berita hangat, Sunghee yah!” Heechul berkata dengan semangat.

“Masa sih? Tidak ada bukti yang kuat kok.”

“Duh! Aku lihat kemarin, Min Seori datang ke apartemen Hyukjae dengan membawa sebungkus cokelat valentine. Lalu Hyukjae membawanya masuk. Beberapa saat kemudian mereka keluar. Dan itu fotonya. Kurang bukti apa lagi?” Heechul menaikkan kedua belah alisnya. Sunghee masih menatap foto-foto itu. Ada sebersit rasa cemburu muncul di hatinya. Tapi dia sudah tidak boleh cemburu. Hyukjae bukan miliknya, dia boleh berhubungan dengan siapapun.

“Tapi masa sih, seorang Lee Hyukjae yang sangat sukses, berpacaran dengan anak ingusan yang lebih muda 5 tahun darinya?” tanya Sunghee.

“Itu dia berita hangatnya! Kita utak-atik sedikit, dan jadilah berita yang menggemparkan!”

“Tapi kan itu tidak berdasarkan pada fakta yang ada.”

“Di dunia infotainment, fakta adalah nomor 2, nomor 1 adalah hiburan. Ini akan sangat menggemparkan dan menghibur tentu saja!”

“Tapi apa kau tidak memikirkan perasaan mereka yang digosipkan? Pasti rasanya tidak enak!”

“Lebih tidak enak satu orang atau jutaan orang? Ini demi pelanggan majalah kita yang semakin sedikit, Sunghee.”

“Tapi aku tidak mau mempublikasikan berita ini! Menurutku buktinya belum jelas.”

“Namanya juga infotainment. Justru jika kita publikasikan hal seperti ini, lama-lama pasangan itu akan mengaku juga.”

“Shireo! Sudah, sobek saja foto ini!” Sunghee hendak menyobek foto-foto tersebut ketika tangan Heechul menahannya.

“Hey hey hey! Enak saja! Ini hasil kerja kerasku selama 1 jam!” Heechul merebut semua foto itu dari tangan Sunghee.

“Ya sudah, jika kau tidak mau mempublikasikannya, biar orang lain saja!”

“Aku bilang jangan publikasikan!”

“Kau siapa? Aku seniormu! Aku berhak mempublikasikan sesuatu yang menarik dan akan menambah pelanggan kita! Kau hanya bertugas menulis dan menerbitkan! Tidak berhak untuk menyuruh atasan!” Heechul mulai geram. Sunghee terdiam. Akhirnya Heechul pergi meninggalkan Sunghee. Gadis itu terduduk lemas di kursinya. Sudahlah, Hyukjae bukan siapa-siapanya lagi. Untuk apa mengurusinya?

= = =

Tidur Hyukjae lagi-lagi terganggu oleh ketukan di pintu. Hyukjae mengerang kesal. Dia menggeliat di tempat tidur dan melanjutkan tidurnya lagi. Tapi lama kelamaan ketukan di pintu itu berubah menjadi gedoran. Hyukjae berdecak kesal dan berjalan menuju pintu. Tak tahukah orang itu bahwa apartemennya memiliki bel?

“Mungkin aku harus menuliskan ‘tekan bel di sini’ lain kali..” gerutu Hyukjae sambil menyeret langkahnya. Sampai di depan pintu, dia menyentuh gagangnya dan membukanya. Dia tertegun ketika melihat Donghae berdiri dengan marah di depan pintu.

“Oh..Donghae ya..kapan kembali ke Korea?” sapa Hyukjae. Donghae tak menjawab. Dia malah melemparkan sebuah majalah ke wajah Hyukjae. Hyukjae mengerjap kaget. Dia menatap Donghae heran. Yang ditatap mengedikkan dagunya ke arah majalah. Hyukjae membungkuk dan memungut majalah yang terjatuh. Donghae menyenggol pundak Hyukjae dan berjalan cepat ke dalam ruangan. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang TV dan terdiam menatap TV mati. Hyukjae melirik Donghae sekilas sebelum membaca halaman pertama majalah tersebut. Hyukjae tertegun. Di bagian bawah, terdapat berita tentang dirinya dan Seori.

“Apa-apaan ini?! Bintang muda Eunhyuk mempunyai seorang pacar. Dan pacarnya adalah Min Seori, pendatang baru yang sedang naik daun? Omong kosong!” Hyukjae berseru marah. Donghae mendengus.

“Hae, kenapa bisa ada berita seperti ini?!” seru Hyukjae.

“Mana kutahu! Kau pikir aku bekerja di tempat penerbitan tabloid?!” Donghae membentak balik.

“Sial! Ini tidak benar! Kalau Sunghee melihat bagaimana?” Raut wajah Hyukjae berubah khawatir.

“Dia memang sudah tahu.” Donghae melakukan penekanan pada kata ‘memang’.

“Apa maksudmu?!” teriak Hyukjae kaget.

“Kau tidak tahu? Sunghee kan bekerja sebagai author di majalah itu.” Donghae menunjuk majalah yang sedang dipegang Hyukjae. Hyukjae tersentak dan segera membuka lembar demi lembar halaman. Ia melihat sebuah cerita karangan berjudul “Gloxinia”. Hyukjae membaca inisial authornya.

“SH?” Hyukjae menyebutkan nama author. Hyukjae mengambil tempat duduk di sebelah Donghae dan membaca cerita karangan tersebut. Kata demi kata ia telaah dengan cepat tanpa terlewat sehuruf pun. Hyukjae terdiam sebentar saat dirinya sudah selesai membaca cerita “Gloxinia” itu.

“Ini kan kisahku dengan Sunghee…” gumam Hyukjae. Donghae meliriknya. Kemudian dia tidak peduli dan mengambil remote TV. Dia mengganti-ganti chanel, mencari acara yang bagus.

“Semuanya persis…namanya saja yang diubah..” gumam Hyukjae lagi. Donghae meliriknya dan mengambil majalah tersebut. Ia mulai membaca karangan itu.

“Lee Eunhwa di situ seharusnya aku, dan Lee Sungjin itu seharusnya Sunghee..” Hyukjae menatap Donghae. Merasa ditatap, Donghae yang sedang membaca cerita tersebut mendongak dan menatap Hyukjae.

“Wae?” tanyanya.

“Apa Sunghee yang menerbitkan artikel itu?”

“Lihat saja inisial pengarangnya,” ucap Donghae mulai menghangat, tidak sedingin kemarin. Hyukjae segera mengambil majalah di tangan Donghae dan membuka berita di halaman utama. Hyukjae tertegun.

“Inisial penulisnya ‘SH’…”

To be continued

16 thoughts on “[FF] Letters of Hearts part 4

  1. amitokugawa says:

    waaa..udah lama nunggu akhirnya dipublish juga
    SH? yang menulis artikel itu sunghee atw orang lain berinisial mirip?

    lanjuuttt..makin seru nih

  2. Sangyoon1412 says:

    lanjutin ga ?!
    lanjutin ga ?!
    lanjutin cepetan ~~
    #bawa golok sambil nodong author
    haha ayo lanjutin niiis ~~😀

  3. vidiaa says:

    waaaaaaaaaa nyaris nangis nih baca FFnya ._.
    eh jangan nangis dulu ah ._. *abaikan

    sunbaenim (gapapa kan manggilnya sunbaenim?), part2 selanjutnya belum nyampe klimaks kan? oh iya, mian kalo aku ngeborong komen m(_ _)m

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s