[FF] Letters of Hearts part 3

Seeing you in that wedding dress makes me feel miserable

You’re so beautiful until I can’t take my eyes off of you

Let’s play “Pretend Day”

I’ll pretend that the one who standing beside you is me

And you have to pretend that the one who kiss your lips is me

Not him


= = =

Hyukjae tertegun ketika melihat ruangan tersebut berantakan. Foto-foto yang tadinya tertempel di dinding berserakan begitu saja di lantai. Hyukjae melangkah hati-hati memasuki ruangan. Siapa yang membuatnya menjadi seperti ini? Sunghee kah?

Hyukjae melihat sebatang korek di dekat fotonya. Dia membungkuk dan mengambil korek tersebut. Dia menyentuh ujungnya. Masih panas. Berarti seseorang baru saja membakar korek ini. Dan Hyukjae semakin yakin bahwa gadis yang mendatangi ruangan itu adalah Sunghee. Karena hanya ia dan gadis itu yang tahu tempat ini.

Hyukjae segera berbalik dan berlari keluar. Ia berlari menuruni tiga anak tangga sekaligus. Semoga saja ia tidak terlambat. Ia harus bertemu dengan Sunghee. Harus.

= = =

“Aku disuruh Hankyung menjemputmu pulang,” jelas Leeteuk tanpa ditanya. Nadanya dingin dan suaranya pun datar. Sunghee hanya diam.  Pria berjas hitam lainnya membuka pintu limosin hitam di hadapannya.

“Masuklah,” perintah Leeteuk. Sunghee masih diam.

“Aku membawa mobil. Bisakah aku menyetir sendiri?” tanya Sunghee akhirnya. Leeteuk dan temannya berpandangan.

“Baiklah. Kami menunggu di bandara.”

“Terima kasih,” ucap Sunghee lirih. Leeteuk hanya mengangguk dan masuk ke dalam limosin bersama dua orang temannya. Mobil itu pun lepas landas. Sunghee termenung sejenak sebelum berjalan cepat menuju mobilnya. Ia menyalakan starternya dan mulai meluncur berlawanan arah. Ia ingin pergi ke bukit dekat rumahnya dulu. Saat ia kecil, jika sedang dilanda masalah atau dilema, dia pasti pergi ke sana.

Sunghee tidak peduli dengan gerimis yang masih membasahi tanah. Sekarang ia hanya butuh tempat itu. Dia ingin teriak. Dia ingin menangis. Dia ingin menendang angin. Dia ingin menonjok pepohonan. Ia ingin meluapkan perasaannya.

= = =

Hyukjae terengah-engah. Dia terlambat lagi. Padahal dia sudah yakin Sunghee tidak jauh dari sini. Hyukjae tiba-tiba mendapat ide. Dia tahu harus kemana. Dia segera berlari ke arah parkiran. Tapi ia lupa bahwa dia tidak membawa mobil kemari. Hyukjae mengacak rambutnya kesal. Tapi kemudian matanya menangkap sesuatu. Dia segera berlari ke arah utara. Sebuah mobil jip hitam metalik terparkir dengan tenang di bawah pohon akasia. Ia tahu milik siapa mobil itu.

“Yesung Hyung!” seru Hyukjae. Yesung, pria si pemilik mobil, menoleh ke arah Hyukjae. Dia pun menegakkan tubuhnya yang tadinya menyandar ke mobil.

“Hyuk ah! Kemana saja?” sapanya ramah.

“Hyung, aku pinjam mobilmu! Cepat ini darurat!”

“Eh?” Yesung melongo tapi tangannya mencari kunci mobil. Setelah mendapatkan kunci yang dicari, ia melemparkannya ke arah Hyukjae. Hyukjae menangkapnya dan segera masuk ke dalam mobil.

“Mau dibawa kemana? Ada masalah apa?” tanya Yesung panik.

“Mau mengejar seseorang! Tenang, Hyung! Aku kembalikan dalam keadaan mulus!” seru Hyukjae sebelum tancap gas ke arah Sunghee pergi. Yesung ternganga sejenak. Sebelum akhirnya ia sadar dan berjalan pelan ke apartemennya.

= = =

Sunghee menambah kecepatan mobilnya. Dadanya bergemuruh. Ia sudah pasrah, tidak akan mencari Hyukjae lagi. Ia harus menikah besok dan ia harus melupakan Hyukjae. Sunghee menyesal, kenapa ia tidak membakar foto Hyukjae saja.

Atau kenapa ia tidak amnesia saja? Sunghee bisa saja menabrakkan mobilnya. Tapi tak ada jaminan ia akan amnesia.

Sunghee melirik spion tengah. Dia mengernyit. Rasanya jip hitam metalik itu selalu mengikutinya sedari tadi. Tapi Sunghee terlalu larut dalam pikirannya hingga baru menyadarinya sekarang. Sunghee tidak bisa melihat dengan jelas wajah si pengemudi. Selain karena jaraknya lumayan jauh, kaca mobil jip itu juga agak gelap. Sunghee mencibir. Pemiliknya aneh sekali, menggelapkan kaca depan.

Sunghee berbelok ke kiri. Mobil jip hitam itu mengikutinya. Mobil itu bahkan menyalakan lampunya dan mematikannya sedetik kemudian. Si pengemudi mobil membunyikan klaksonnya. Sunghee begidik. Pikiran-pikiran negatif bermunculan di kepalanya. Bagaimana jika si pengemudi adalah seorang perampok? Atau om-om girang yang sedang mencari daun muda? Hii…Sunghee semakin begidik dan menambah kecepatannya. Tak disangka, mobil itu pun ikut menambah kecepatan.

Tiba-tiba Sunghee teringat sesuatu. Bagaimana jika si pengemudi itu Hankyung?

Ah tidak! Dia harus mengambil jalan pintas. Dia tidak ingin Hankyung mengetahui tempat favoritnya.

Sunghee mengambil kelokan ke gang kecil ketika mobil jip itu terhalang oleh truk gandeng. Sunghee melirik spion tengah. Aman. Tidak ada yang mengikutinya.

Sampai di daerah perumahannya, Sunghee melambatkan laju mobilnya. Dia mengemudikan mobilnya ke arah bukit. Namun tak disangka, mobil jip hitam metalik itu muncul dari arah kanan. Sunghee nyaris menabrak pinggiran jalan jika ia tidak cepat-cepat menyeimbangkan laju mobilnya. Ia menambah kecepatan. Ya Tuhan…lingkungan ini sepi..bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?

“Hyukjae ya…tolong aku..” bisik Sunghee. Ia semakin menambah kecepatannya. Dia melakukan drift ke kiri dan segera melesat menuju kaki bukit. Dari spion tengah, mobil itu tak terlihat lagi. Sunghee menghela napas lega. Dia menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di tempat tujuan. Dia baru saja turun dari mobilnya ketika sebuah mobil jip hitam itu berhenti di seberangnya. Sunghee terdiam. Ditunggunya si pengemudi hingga turun dari jipnya. Si pengemudi melompat turun dari jip tersebut dan menatap ke arah Sunghee. Gadis itu terpaku sekian lama. Lelaki itu…lelaki yang dicarinya selama ini..

“Jangan kira aku tidak tahu tempat persembunyianmu, Hee-chan..” kata lelaki itu.

“Hyuk-gun…Hyukjae…Oppa!!” Sunghee berlari ke arah lelaki itu. Hyukjae ikut berlari menghampiri Sunghee. Mereka bertemu tepat di antara dua pohon besar. Mereka berdua terhenti sejenak. Sunghee melihat Hyukjae dari ujung kaki hingga ujung kepala, begitupun dengan Hyukjae. Mata mereka sama-sama berbinar rindu. Hyukjae menarik Sunghee ke dalam pelukannya. Sunghee langsung membalas pelukan lelaki itu.

“Bogoshipoyo…nan bogoshipoyo..” ucap mereka bersahutan. Hyukjae melepas pelukannya. Dia memegang kedua pipi Sunghee. Dia menatap seluruh wajah Sunghee, tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Sama dengan Sunghee. Mereka seperti mengagumi wajah pasangannya. Mereka seakan tidak mau memalingkan wajah barang sedetik.

Nafas mereka memburu haru. Hyukjae masih menatap wajah Sunghee. Gadis itu tak kuasa menahan rasa rindunya dan memeluk Hyukjae lagi. Lebih erat dari yang sebelumnya. Hyukjae mengelus kepala Sunghee.

“Hee-chan…Hee-chan…” lirih Hyukjae berulang-ulang, seakan tak percaya ia bertemu lagi dengan gadis yang dua tahun lalu selalu dilamarnya.

“Oppa…Hyuk-gun Oppa..” lirih Sunghee. Hyukjae menunduk dan mencium kening Sunghee lembut. Air matanya turun setetes. Berbeda dengan Sunghee yang menangis sesenggukan. Kerinduan yang sudah lama terpendam kini tersalurkan sudah. Mereka sudah bertemu. Dan itu sudah cukup untuk menyatukan hati mereka kembali. Hati yang telah lama rapuh.

Hyukjae mengecup kedua mata Sunghee. Ia lalu menempelkan keningnya ke kening Sunghee. Mereka berdua memejamkan matanya, masih sambil berpelukan. Mereka berdua masih sambil memanggil nama. Seakan nama itu adalah nama yang terindah di jagat raya.

“Saranghae..” Hyukjae berkata dengan lirih.

“Na ddo saranghae..” balas Sunghee. Hyukjae menjauhkan keningnya. Dia menatap mata Sunghee dalam. Dia memiringkan kepalanya dan mencium bibir Sunghee lembut. Sunghee membalas ciumannya dengan mesra. Sunghee melepaskan ciuman Hyukjae. Dia menunduk. Dia malu. Baru bertemu dengan Hyukjae saja sudah membalas ciumannya. Gadis macam apa?

Hyukjae menyentuh dagu Sunghee dan mendongakkan kepala gadis itu. Mereka berdua bertatapan lagi. Tangan Hyukjae masih melingkar di belakang punggung Sunghee. Seakan jika dilepas, gadis itu akan menghilang selamanya.

“Menikahlah denganku,” kata Hyukjae lirih, namun penuh perasaan. Sunghee kembali terisak.

“Aku..tidak…bi..sa..” isak Sunghee. Hyukjae menatap mantan gadisnya dengan sendu.

“Kenapa? Aku akan melamarmu lagi di depan orang tuamu. Di depan Hankyung jika perlu. Menikahlah denganku, Sunghee.”

“Aku…akan menikah besok..” ucap Sunghee pelan namun terdengar seperti sambaran petir di telinga Hyukjae. Dia tertegun sejenak.

“Bukankah tiga hari lagi?”

“Hankyung meneleponku..ia bilang ibunya kritis…pernikahan dipercepat jadi besok..”

“…” Hyukjae diam. Inikah akhir dari kisah cintanya?

Hyukjae menarik Sunghee ke pelukannya lagi.

“Aku rela jadi selingkuhanmu. Asalkan aku bisa bersamamu.”

“Hentikan.” Sunghee melepaskan pelukan Hyukjae. Dia mengusap air matanya dengan susah payah. Tapi air matanya terus keluar. Hyukjae hanya menatapnya sayu. Dia tidak tahan melihat Sunghee menangis.

“Uljima..” lirih Hyukjae. Tangannya terulur untuk menghapus air mata Sunghee. Tapi gadis itu malah menggenggam tangannya.

“Oppa…aku sangat menghargai pernikahan…aku tidak mau…merusak sebuah pernikahan..”

“Menikahlah denganku.”

“Aku sudah bilang, Oppa…Aku akan menikah besok..”

“Menikahlah denganku.” Sunghee mendongak menatap wajah Hyukjae. Lelaki itu menatapnya serius.

“Menikahlah denganku,” ulangnya.

“Aku ingin sekali, tapi..” ucapan Sunghee terpotong oleh ciuman Hyukjae. Sunghee merasakan lehernya dikalungi benda dingin. Hyukjae melepas ciumannya. Dia menunduk menatap leher Sunghee. Gadis itu melakukan hal yang sama. Dia sedikit terkejut ketika melihat sebuah kalung berbandul cincin melingkar di lehernya.

“Itu cincin lamaranku. Sedangkan yang sudah kau pakai dari kemarin-kemarin itu cincin tunangan kita.”

“Oppa, aku tidak bisa..” Sunghee hendak melepaskan kalung itu namun tangan Hyukjae menahannya.

“Setidaknya, biarkan cincin itu berada di lehermu. Jika aku tidak bisa berada di sisimu..”

“Oppa…mianhae..jeongmal mianhae..” Sunghee menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia terisak lagi. Hyukjae menarik Sunghee ke pelukannya lagi. Dia mengelus kepala Sunghee dan mengecup puncak kepalanya. Lama mereka terdiam dalam posisi tersebut. Hingga mereka tidak menyadari matahari mulai terbenam. Lampu-lampu kota mulai menyala.

“Saranghae yeongwonhi,” bisik Hyukjae di telinga Sunghee. Gadis itu hanya diam.

“Aku mencintaimu,” ucap Sunghee dalam bahasa Indonesia.

“Aku juga..” balas Hyukjae dalam bahasa Indonesia, meskipun logatnya agak aneh di telinga Sunghee.

“Kau belajar bahasa Indonesia?”

“Demi kamu.”

“Coba sebutkan namaku dalam bahasa Indonesia!”

“Aku…masih belum tahu..”

“Oh..” Sunghee terlihat kecewa. “Baiklah.”

“Kau tidak ditunggu? Bukankah kau harus mempersiapkan pernikahan besok?” tanya Hyukjae.

“Aku ditunggu di bandara.”

“Biar aku mengantarmu ke sana.”

= = =

Sunghee terdiam menatap tubuhnya sendiri di cermin. Ia tampak cantik hari ini, dengan gaun pengantin yang indah melekat di tubuhnya yang ramping. Tapi wajahnya sendu, matanya memancarkan kesedihan.

Seandainya Hankyung itu Hyukjae, pikir Sunghee. Gadis itu menengadahkan kepalanya, berusaha menghalau air mata. Ia lalu melihat keluar jendela besar. Cuaca hari itu sangat cerah, berbeda dengan hatinya.

“Sunghee, kau gugup tidak?” tanya Yoonmin, sahabat Sunghee.

“Sangat,” gumam Sunghee. Yoonmin menepuk bahu sahabatnya.

“Tenang saja. Relax. Setelah ini kau akan bahagia, kan? Pengantin baru.” Yoonmin tersenyum jenaka. Sunghee memaksakan seulas senyum.

“Yoonmin ah.”

“Ne?”

“Ehm…bagaimana kalau Taemin menikah dengan gadis lain?” Sunghee menyebutkan nama tunangan Yoonmin.

“Tidak mungkin. Dia itu tunanganku.”

“Ani, misalnya Taemin belum menjadi tunanganmu, lalu dia menikah dengan gadis lain.”

“Tidak mungkin! Hati Taemin hanya untukku!”

“Tapi, misalnya…kau menyukai Taemin tapi dia tidak mengenalmu. Lalu dia menikah dengan gadis lain. Bagaimana perasaanmu?”

“Ya patah hati. Masa mau tertawa?”

“Patah hati ya…” Sunghee mengangguk-angguk.

“Apa kau mengumpamakan dirimu sebagai Taemin?”

“Ne?”

“Dan aku itu Hyukjae?”

“…”

“Sunghee, aku mengerti kau benar-benar mencintai Hyukjae. Tapi lihat sekarang, kau akan menjadi Mrs. Hankyung. Kau tidak boleh mencintai orang lain selain suamimu.”

“Arayo. Tapi namanya juga perasaan, Yoonmin ah.”

“Arasseo…aku tidak bisa berbuat banyak jika sudah menyangkut perasaan.” Yoonmin berdiri di samping Sunghee. Mereka berdua menghadap ke kaca besar.

“Hhh…meskipun kau sudah menikah nanti, tetap kontak denganku ya.” Yoonmin tersenyum. Sunghee menoleh menatapnya. Yoonmin membuka tangannya dan memeluk Sunghee. Gadis itu membalas pelukannya.

“Tentu saja. Tentu saja..”

“Jangan lupakan Chaerin juga, Raeki juga..” Yoonmin memegang kedua bahu Sunghee sambil tersenyum.

“Mereka belum datang ya?”

“Belum. Terlalu sibuk dengan pacar masing-masing, mungkin?” Yoonmin terkekeh. Mau tak mau Sunghee tertawa kecil.

“You made my day, my bestfriend.”

= = =

Hyukjae berdiri di depan gereja tempat Sunghee dan Hankyung menikah. Dia terdiam menyandar ke mobil sambil melihat sekeliling. Orang-orang mulai berdatangan. Mereka mulai memasuki gereja, tapi Hyukjae tidak tergerak untuk masuk. Ia masih berdiri di samping mobilnya. Donghae berdiri di sampingnya. Dia setia menemani kakak sepupunya.

“Aku telah kalah,” Hyukjae memulai. Donghae menoleh, tapi ia tidak menanggapi perkataan Hyukjae.

“Sunghee hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya. Dia menikah hari ini. Dengan orang lain. Maka mulai hari ini, aku telah kalah.”

“Bagiku kau tetap pemenangnya.” Donghae akhirnya membalas. Hyukjae menoleh.

“Pemenangnya bagaimana? Membawanya pergi saja tak sanggup.”

“Itu poinnya. Kau mau merelakan Sunghee pergi dengan lelaki lain. Kau tidak mau mengambil jalan curang demi mendapatkan Sunghee. Kau mau datang ke pernikahan Sunghee, dengan membawa do’a. Pemenang bukanlah yang mendapatkan segalanya, tapi pemenang adalah seorang yang berhasil melawan rasa egonya. Dan pemenang…adalah orang yang memikirkan perasaan orang lain. Tidak mau menang sendiri.”

“Haha..kau pandai sekali membuat moodku membaik.”

“Aku tidak bercanda.” Donghae terlihat serius. “Hari ini dan seterusnya, kau tetap pemenangnya.”

“Arasseo,” Hyukjae mengacak rambut Donghae, “jangan sebut lagi, aku malu.”

“Yah!” Donghae menepis tangan Hyukjae. Tapi kemudian mereka berdua tertawa bersama.

“Masih bisa tertawa?” Hyukjae dan Donghae terdiam. Leeteuk datang menghampiri mereka. Ia berdiri di samping Hyukjae.

“Pujaan hatimu menikah dengan lelaki lain. Masih bisa tertawa?” tanya Leeteuk.

“Daripada aku menangis berkelanjutan?”

“Tapi aku yakin, setelah ini kau akan menangis.” Leeteuk menendang batu kecil.

“Kenapa kau begitu yakin?”

“Karena aku pernah mengalami hal seperti ini.”

“Eh?”

“Pacarku menikah dengan lelaki lain. Aku menangis semalaman. Lalu ada seorang gadis yang menghiburku. Setahun kemudian, gadis itu menjadi istriku.” Leeteuk memulai ceritanya. Hyukjae dan Donghae terlihat serius mendengarkan.

“Tapi ternyata kisah cintaku kandas lagi. Istriku meninggal setahun setelah pernikahan kami. Dia meninggal bersama calon anak kami.” Leeteuk menengadah, berusaha menghalau air matanya. Donghae menunduk. Dia mengusap matanya yang berair. Hyukjae masih diam. Dia tidak mengerti kenapa lelaki ini menceritakan kisah hidupnya padanya.

“Aku sempat ingin mati. Keluargaku habis hanya dalam waktu satu tahun. Pria mana yang tidak merasa terpukul? Tapi kemarin-kemarin, aku bertemu dengan seorang gadis lagi. Dia sangat mirip dengan mendiang istriku. Dia menyadarkanku akan betapa pentingnya hidup. Dia motivasiku untuk hidup. Dia selalu memanggilku matahari.” Leeteuk tersenyum. Hyukjae melirik Donghae yang sibuk mengusap matanya.

“Saat aku menyukainya, gadis itu malah menikah dengan lelaki lain.” Leeteuk mengambil jeda. Hyukjae menatapnya.

“Kau tahu gadis itu siapa?” Leeteuk menoleh ke arah Hyukjae. Hyukjae menggeleng.

“Gadis itu adalah orang yang menikah hari ini. Mantan kekasihmu.” Leeteuk tersenyum. Hyukjae sedikit terkejut tapi ia hanya diam.

“Sunghee sungguh gadis yang baik. Dan kau juga lelaki yang baik. Aku ingin sekali menggagalkan pernikahannya dengan Hankyung. Tapi aku tidak ada hak. Aku juga sahabat Hankyung. Mana ada sahabat yang menghancurkan pernikahan sahabatnya sendiri?”

“Kenapa kau mau menggagalkan pernikahan ini?”

“Karena aku yakin, Sunghee adalah orang yang tepat.” Hyukjae mendesah kesal. Ada lagi pria yang menyukai mantan kekasihnya.

“Untukmu.” Leeteuk mengembangkan senyum. Lesung pipinya terlihat. Hyukjae tertegun.

“Sunghee yang memintaku mengantarnya ke bandara waktu itu. Dia bilang dia ingin ke Korea hanya untuk bertemu denganmu.” Hyukjae menatap lurus ke arah gereja. Leeteuk dan Donghae mengikuti arah pandangnya.

“Aku berhasil bertemu dengannya. Sesaat sebelum ia pergi.”

“Aku mengerti perasaanmu.” Leeteuk meremas bahu Hyukjae. “Aku tidak mau menjadi musuhmu, Hyukjae ssi. Dan kau..” Leeteuk menatap Donghae.

“Lee Donghae,” sahut Donghae cepat.

“Donghae ssi. Aku akan menjadi teman kalian. Bolehkah?”

“Tentu.”

“Terima kasih. Nah, jika kalian butuh apa-apa, tinggal hubungi aku. Ini kartu namaku.” Leeteuk menyodorkan dua buah kartu dan dibagikannya pada Hyukjae dan Donghae.

“Terima kasih.”

“Sama-sama. Itulah gunanya teman.” Mereka bertiga tersenyum.

= = =

“Kau sedang baca apa, Sunghee ya?” Hyukjae duduk di samping Sunghee. Gadis itu tersenyum.

“Manga. Oppa suka?”

“Suka. Aku mengoleksi satu lemari penuh.”

“Jinja? Uwah!! Lain kali aku ingin melihat koleksimu ya?”

“Arasseo.”

“Wah..panggilan ‘chan’ sepertinya imut ya. Lucu.”

“Hee-chan,” panggil Hyukjae. Sunghee terkekeh malu.

“Aku panggil kamu Hee-chan ya?” Hyukjae tersenyum. Sunghee mengangguk senang.

“Dan kau…akan kupanggil…Hyuk-gun! Tanpa Oppa!”

“Yah! Aku lebih tua 2 tahun darimu!”

“Ayolah, Hyuk-gun…”

“Ya sudah. Hanya kamu saja yang boleh memanggilku begitu, Hee-chan.”

“Arasseo! Gomawo!” Sunghee memeluk Hyukjae singkat.

“Apakah Anda, Lee Sunghee, bersedia menerima Hankyung menjadi suamimu?”

“Aku bersedia.” Sunghee menelan ludahnya dengan susah payah.

Hyukjae merasa dadanya sakit. Dia memalingkan wajahnya. Dia menyesali dirinya sendiri. Kenapa dia harus terbayang masa-masa saat bersama Sunghee sekarang? Hal itu hanya akan membuatnya semakin sakit.

“Hyuk-gun ah, kau percaya cinta sejati?”

“Tentu. Aku sedang mengalaminya denganmu.”

“Aish..jinja..”

“Hee-chan, loteng ini kan sudah dirubah menjadi ruang latihan dance. Bagaimana kalau kita mencoba dance sekarang?”

“Dance apa?”

“Ehm…terserah..”

“Ya sudah kita putar random ya.”

“Oke.”

“Oh! Lagu ‘Reset’ yang terputar.”

“Ya sudah pakai lagu ‘Reset’. Gerakannya spontan ya.”

“Ah aku tidak pandai membuat gerakan.”

“Tenang saja. Ada aku di sini.”

“Aku percaya padamu.”

“Memang seharusnya begitu.” Hyukjae mengecup bibir Sunghee sekilas. Dia lalu terkekeh geli. Sementara Sunghee cemberut.

“Kesempatan!”

“Silahkan mencium pasangannya..” samar terdengar suara-suara di telinga Hyukjae. Setengah jiwanya ada di masa lalu.

Ini dia yang Hyukjae hindari sejak tadi. Hankyung mendekatkan wajahnya ke wajah Sunghee. Dia memiringkan kepalanya. Bibirnya pun menyentuh bibir Sunghee. Ciuman yang hangat, lembut, dan tidak tergesa-gesa. Hyukjae memalingkan wajahnya. Ia tidak mau melihat Sunghee dicium lelaki lain selain dirinya.

Tak terasa acara pernikahan pun selesai. Hyukjae masih setia menghadiri pesta itu. Sunghee, yang masih memakai gaun pengantin, pun datang menghampiri Hyukjae di sudut yang sepi. Mereka berdua bertatapan dalam diam. Sampai akhirnya Hyukjae berinisiatif membuka percakapan.

“Kau cantik sekali hari ini.”

“Dan kau tampak sangat tampan.”

“Aku sengaja berpenampilan seperti ini. Aku membayangkan yang menikah denganmu itu aku. Bukan Hankyung.” Sunghee terdiam.

“Lihat, Sunghee. Lihat ke arah kaca besar itu.” Hyukjae menyentuh kedua pundak Sunghee dan menariknya mendekat. Ia lalu menghadapkan Sunghee ke depan kaca besar.

“Kita terlihat serasi ya? Aku tampak seperti mempelai pria jika berdiri di sampingmu.”

“…”

“Kapan ya aku bisa bersanding denganmu?”

“Geumanhae,” suara Sunghee bergetar. “Geumanhae…jangan seperti ini. Jebal, Hyuk..”

“Apa? Apa aku salah? Aku hanya ingin bersanding denganmu saja. Suatu saat nanti, mungkin?”

“Hyuk..” Sunghee berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis. “Sudahlah…kita sudah berakhir..”

“Tidak bagiku. Aku akan selalu menunggumu.”

“Carilah wanita lain. Yang bisa membahagiakanmu lebih dari aku.”

“Tak ada yang lain. Yang bisa membuatku bahagia hingga seperti ini hanya kamu.”

“Tapi aku sudah membuatmu patah hati.”

“Tidak pernah. Aku tidak patah hati. Aku yakin, hati kita masih bertautan.”

“Tapi aku sudah menikah..”

“Menikah hanya ikatan yang kasat mata. Tapi kita, ikatan kita sangat kuat namun tak kasat mata. Di mataku, kau masih menjadi milikku.”

“Apa lagi yang kau harapkan dariku?”

“Tak ada. Aku tahu aku tidak bisa berharap lebih. Tapi setidaknya, biarkan aku melihatmu setiap hari. Aku butuh kamu untuk bernapas.”

“Kau pikir aku oksigen?”

“Bagiku iya.”

“Ah, aku harus pergi. Mianhae, sampai nanti.” Sunghee membungkuk sopan.

“Sampai jumpa.” Hyukjae memandang kepergian Sunghee bersama suaminya.

= = =

Hyukjae terduduk di atas tempat tidur. Tatapannya kosong. Matanya memang mengarah ke lantai berlapis karpet, tapi pikirannya hanya ada pada Sunghee. Malam ini, Sunghee resmi menjadi milik Hankyung. Dan Hyukjae benci hal itu.

Perlahan ia merebahkan tubuhnya. Jas hitam masih melekat di tubuhnya. Hyukjae melonggarkan dasi hitam yang di pakainya. Dia lalu menatap ke langit-langit sambil menekuk sebelah kakinya.

Hyukjae mengambil napas dengan susah payah. Dadanya sesak. Tubuhnya mulai terguncang. Sebuah isakan terdengar. Tetes air mata menuruni pipi Hyukjae. Dia menangis sesenggukan. Membayangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa demi cintanya.

Cinta memang tak harus memiliki. Tapi ini terlalu menyakitkan untuk Hyukjae.

Apalagi ketika lagu “Heartquake” terdengar dari kamar sebelah. Sepertinya Donghae sedang memutar lagu itu. Hyukjae mendalami kata-katanya.

My broken heart (girl)
When we loved
You shook my heart (girl)
Now when we’re breaking up
You break that heart
When you smash apart the heart that loved you
It hurts so much
How am I supposed to live? (girl)
Is it the end once you leave like this?
Don’t you know that wounds that you gave me?
Can’t you think of me who’s crying?
It hurts so much
Me, who has become alone
Is farewell easy for you?

Hyukjae duduk di tempat tidur. Dia mengacak rambutnya masih sambil menangis. Dia lalu memukul ranjangnya. Hyukjae berdiri dan mengambil sebuah pigura foto. Foto Sunghee dan dia yang sedang berpose lucu di ruang latihan. Dia melemparkan pigura tersebut ke dinding dan pigura itu pun hancur berkeping-keping. Hyukjae berjalan cepat mendekati tembok dan meninju tembok itu keras. Air matanya bercucuran ke lantai. Dia berusaha menahan air matanya tapi tidak sanggup. Membayangkan Sunghee ada di dekapan lelaki lain membuatnya ingin berteriak.

Hyukjae menyapu bersih barang-barang yang tertata rapi di meja riasnya. Botol-botol parfum pecah berkeping-keping. Isinya membasahi lantai. Hyukjae menyandar ke tembok. Dia menutupi matanya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lainnya menyentuh tembok. Tubuh Hyukjae merosot ke lantai. Dia menunduk sambil meremas rambutnya. Matanya melirik pigura foto. Foto dirinya sendiri. Dia meraih pigura itu dan melemparkannya ke arah tembok. Hyukjae kembali terisak dan menunduk dalam.

Di luar ruangan, Donghae terduduk menyandar ke pintu kamar Hyukjae sambil terisak pelan. Musik Heartquake tak mau berhenti berputar. Ia sengaja melakukannya. Agar Hyukjae bebas mengekspresikan emosinya. Agar suara Hyukjae tertimpa oleh suara musik.

Donghae tidak tahan lagi. Dia bergegas ke kamarnya dan mengganti lagu. Tapi ia salah tekan, malah lagu “Reset” yang terdengar. Donghae gelagapan dan segera mengganti lagu menjadi lagu “Shining Star”. Donghae terdiam lama. Lagu ini, lagu yang sering dinyanyikannya ketika Hyukjae sedih. Donghae senang menyanyi. Dan Hyukjae selalu menghargai nyanyiannya.

“AARRGGH!!!” PRAANG…suara benda pecah belah menyusul setelah teriakan Hyukjae. Donghae tidak bisa tinggal diam. Dia segera berlari ke kamar sebelah dan memeluk Hyukjae yang masih terduduk di lantai.

“Geumanhae…geumanhae, Hyukjae Hyung!” isak Donghae. Hyukjae menenggelamkan wajahnya ke pundak Donghae. Dia menangis tersedu-sedu.

“Aku rela menjadi selingkuhannya, Hae..aku rela. Asalkan aku bisa bersamanya..”

To be continued

23 thoughts on “[FF] Letters of Hearts part 3

  1. Dhikae says:

    hahaha seperti biasa sunghee saya selalu telat comment kekek~ *reader gaje comeback Lol~
    ceritanya kyaaaaaaaaaa~ makin seru..
    si unyuk mw aja jadi slingkuhan sunghee, mnding ama hae aja hehehe *di kick author bkin cerita ngawur*
    ditunggu lanjutannya ^^
    sperti biasa mian sll telat kekeke *reader bermasalah Lol~ ^^V

  2. may민 says:

    Poor hyukjae~
    sunghee akhirnya milih hangkyung~ *walau penuh dengan air mata😥 lebay*
    Tapi daebak thor part ini d(^.^)b

  3. vidiaa says:

    aaaaaaaa Sungheenya jahat~ T-T
    kasian Hyuknyaa
    udah Hyuk sama aku aja (btw aku udah gati bias sih :p *gadayangnanya*)

    daebaaaaaaaaaaak
    tapi kayaknya ini gabakalan dikit deh partnya ._. biarin ah, aku suka😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s