[FF] Letters of Hearts part 2


Even if you’re far away from me..

Our hearts still connect us..

Even if you run away

I swear I’ll run after you

Even if you marry another guy

I swear…I will be right here waiting for you


“Hey ya, Sunghee!” Key tersenyum lebar. Sunghee membalas senyumnya.

“Sudah lama tak bertemu. Tapi omong-omong, kenapa tiba-tiba kau ke Korea?” tanya cowok itu.

“Ada masalah kecil. Aku harus kembali ke Korea. Kau sendiri?”

“Kau kan tahu aku sedang melanjutkan studi di Korea.” Key mengambil alih barang bawaan Sunghee dan menyimpannya ke bagasi mobilnya.

“Sunghee!” seru Tammy, adik perempuan Key. Sunghee tersenyum.

“Hei, sister!” sapa Sunghee.

“Wah, kau tak banyak berubah!” ujarnya. Sunghee hanya tersenyum. Key memasuki mobil dan duduk di belakang kemudi. Ia pun meluncur menuju rumah mereka.

“Aku baru tahu kau punya rumah di Korea. Kukira hanya apartemen..” gumam Sunghee saat memasuki rumah Key.

“Aku dan adikku hanya tinggal berdua di Korea. Yah, kami kurang menyukai apartemen jadi kami membeli sebuah rumah sederhana.” Key menyeret koper Sunghee dan membawanya ke sebuah kamar.

“Kau bisa tidur di kamar tamu jika kau mau. Atau di kamar Tammy.”

“Aku tidur di kamar tamu saja.”

“Itulah enaknya punya rumah, Sunghee.” Tammy melangkah menuju dapur. “Kau punya kamar tamu.”

Sunghee terkekeh kecil. Dia mengikuti Key ke kamar tamu.

“Silakan..” Key membungkuk hormat. Sunghee terkekeh geli.

“Terima kasih, Mr. K.” Key tertawa mendengar inisial nama keluarganya disebut.

Malamnya, Key dan Sunghee sedang berjalan-jalan di pinggir kota berdua saja. Tammy sudah tidur karena kelalahan. Key ingin membeli sesuatu untuk pacarnya, dan ia minta saran dari Sunghee.

“Pacarmu suka yang seperti apa?” tanya Sunghee. Mereka berdua sedang berdiri di depan etalase perhiasan.

“Em…cincin bagus juga?”

“Iya sih…yang ini bagaimana?” Sunghee menunjuk cincin pasangan berwarna emas mengkilap.

“Berapa harganya?” tanya Key. Si penjaga toko pun menyebutkan harganya yang mahal. Key menelan ludah.

“Terlalu mahal, Sunghee..”

“Kenapa tidak memberi kalung saja?”

“Oh itu bagus!” Key menunjuk sebuah kalung berbandul cincin. Sunghee tertegun. Dulu, Hyukjae memberikan kalung berbandul cincin padanya. Hyukjae sendiri memakainya.

“Sunghee?” panggil Key.

“Ne?”

“Kenapa? Kalung ini jelek?”

“Bagus kok.” Sunghee tersenyum. Key tersenyum meski terlihat khawatir. Ia lalu membeli kalung itu.

“Oh, aku juga mau membeli bandulnya. Biar dia bisa memakai cincin ini di jarinya.” Key melihat-lihat ke bagian bandul kalung. Tak sengaja ia melihat bandul panah.

“Sunghee, lihat ini! Panahnya bagus ya?”

“Iya..” Sunghee bergumam. Hyukjae juga pernah memberinya bandul panah. Katanya, inilah kamu, memanah hatiku. Gombal memang, tapi Sunghee tetap menyukainya.

“Aku juga beli yang ini.” Key menunjuk bandul tersebut. Tak lama, bandul itu sudah berpindah tangan padanya.

“Masih mau jalan-jalan?” tanya Key. Sunghee mengangguk.

“Tidak mengalami jet-lag?”

“Memang aku capek sedikit. Tapi aku sudah tidur satu jam tadi.”

“Kalau begitu kita pulang saja.”

“Tidak usah. Aku masih ingin menghirup udara malam Seoul.”

“Ya sudah..”

Key dan Sunghee kembali berjalan-jalan. Keduanya diam. Mereka menikmati keadaan malam. Sampai tiba-tiba Sunghee melihat TV di toko elektronik yang sedang menampilkan iklan. Sunghee tertegun. Di TV itu, terlihatlah Hyukjae sedang mempromosikan ponsel terbaru.

“Key!” seru Sunghee. Key menoleh.

“Ada apa?” tanyanya. Ia lalu melihat ke TV.

“Oh..Lee Hyukjae. Duh, jangan bilang kau menyukainya juga..” Key mendesah pelan.

“Eh, kenapa?” tanya Sunghee. Ia lalumenatap Key, iklan tadi sudah berakhir.

“Lee Hyukjae itu sekarang terkenal sebagai bintang iklan. Nama bekennya Eunhyuk.”

“Oh..” Sunghee tersenyum bangga. Hyukjae membuktikan janjinya.

“Hyukjae ini termasuk pria terkaya di Seoul lho. Di usia semuda itu, ia sudah menjadi CEO perusahaan telekomunikasi.”

“Mworago?!” seru Sunghee. Key tersentak kaget.

“Yah…reaksi gadis-gadis saat mengetahui rahasia umum ini memang seperti itu. Mereka selalu terkejut. Tak disangka kan cowok semuda dia sudah menjadi CEO. Bahkan akan menjadi direktur dalam waktu dekat.”

“Kau tahu darimana?”

“Semua koran dan situs membahas tentangnya.”

“Kau bercanda..”

“Untuk apa? Aku berkata yang sejujurnya.”

“Tidak mungkin Hyukjae yang itu kan?”

“Yang mana lagi? Lee Hyukjae yang komedian?”

“Tapi..”

“Sebenarnya ada apa sih? Kau terlalu heboh. Kau pernah melihatnya sebelumnya?” Key terlihat penasaran.

“Bukan pernah lagi. Sering.”

“Dia tetanggamu ya?” tanya Key polos. Sunghee menghela napas.

“Terserahmulah.” Sunghee melangkah cepat.

“Eh? Lho? Tunggu, Sunghee!” Key mengejar gadis itu. Dia lalu menarik tangannya.

“Dia siapa?”

“Bukankah kau sudah tahu dia itu CEO perusahaan telekomunikasi?”

“Bagimu,” kata Key lebih spesifik. Sunghee terdiam lama.

“Dia mencampakkanmu?”

“Aku yang mencampakkannya.”

“Bisa ceritakan semuanya lebih jelas?”

“Bisakah aku mempercayaimu?”

“Telinga, mulut, tangan, kaki, aku untukmu.”

“Baiklah..tapi jangan di sini. Aku takut fansnya menjadikanku ddukboki manusia.”

= = =

“Sekarang kita harus kemana?” tanya Donghae sambil melihat sekeliling. Hyukjae masih diam. Dia lupa-lupa ingat tentang negeri ini. Ia hanya kemari beberapa kali.

“Rumah Sunghee ada di kota Bandung. Sekitar 3 jam dari sini. Kalau tidak macet 2 jam sampai.”

“Lalu mau pakai apa kita ke Bandung? Jalan kaki?”

“Kau tidak tahu aku punya kenalan di sini?”

“Siapa?”

“Ada di sana.” Hyukjae menunjuk ke depan. Donghae mengikuti arah tunjukannya. Seorang lelaki tinggi tegap menunggu mereka. Dia memakai kaca mata hitam, meskipun ini dini hari.

“Hey Hyuk, kau yakin dia orangnya? Terlihat mencurigakan.”

“Dia itu artis. Dari Korea juga kok.”

“Hah? Siapa?” ucapan Donghae tak sempat dijawab karena Hyukjae menyapa lelaki itu. Lelaki itu membalas sapaanya.

“Ayo cepat masuk ke mobil,” perintah lelaki itu. Donghae mengikuti Hyukjae takut-takut. Tapi karena sepupunya itu terlihat biasa saja, perlahan ketakutan Donghae itu pun menghilang.

“Kau bawa siapa?” tanya lelaki itu.

“Dia Lee Donghae, sepupuku.”

“Hai Donghae, aku Cho Kyuhyun.” Kyuhyun melepaskan kaca mata hitamnya. Dia tersenyum. Donghae terpana sejenak.

“Kau…Kyuhyun…yang menyanyikan lagu 7 years of love?”

“Tepat.”

“Wah!! Aku fansmu!!” seru Donghae semangat. Hyukjae hanya mendengus. Kyuhyun tertawa kecil. Matanya tetap fokus ke jalanan.

“Kalian mau tinggal dimana?” Kyuhyun memecahkan keheningan.

“Mungkin di hotel selama beberapa hari,” jawab Hyukjae.

“Oh, aku punya apartemen kosong di daerah Bandung. Kalian bisa menginap di sana.”

“Terima kasih. Maaf kami banyak merepotkanmu.”

“Tapi kusarankan kau membeli rumah atau apartemen di sini, Hyukjae Hyung. Lagipula kau kan sudah kaya.”

“Ah ya…aku akan sering kemari jadi membeli apartemen itu ide yang bagus.”

“Akan sering kemari maksudmu?” ujar Donghae.

“Aku akan sering mengunjunginya.”

“Bercanda. Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Aku tidak memikirkan tentang pekerjaan sekarang. Yang kupikirkan hanya dirinya.” Hyukjae membalas dengan tegas. Donghae hanya diam. Kyuhyun terlihat tertarik.

“Menemui siapa?” tanyanya.

“Lee Sunghee. Kenal dia?”

“Penulis itu?”

“Iya.”

“Dia salah satu pembuat lirik laguku. Mana mungkin aku tidak tahu.”

“Kau tahu nama aslinya?” Hyukjae terlihat bersemangat.

“Lee Sunghee.”

“Maksudku nama Indonesianya.”

“Oh. Aku tidak tahu. Hampir semua orang tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Entahlah.”

“Lalu orang-orang di Indonesia memanggilnya siapa?”

“Mereka memanggilnya Lee.”

Sementara kedua orang tersebut melanjutkan percakapannya, Donghae hanya bisa diam melihat pemandangan indah kota Jakarta. Kyuhyun mengendarai mobilnya menuru tol dan mulai meluncur ke Bandung. Pukul 6 mereka sampai di apartemen Kyuhyun. Selagi Donghae membereskan barang bawaan mereka, Hyukjae mengobrol lagi dengan Kyuhyun.

“Kau tahu dimana rumah Lee Sunghee?”

“Dia tinggal di daerah timur. Setahuku.”

“Alamat lengkapnya?”

“Ehm…di sini..” Kyuhyun mengambil secarik kertas dan menuliskan alamat lengkap gadis itu.

“Terakhir dia tinggal di sini. Entah dia sudah pindah atau belum. Sejak ia tunangan dengan Hankyung, ia jadi lebih sering menginap di rumah Hankyung.” Hyukjae tersentak. Tangannya tiba-tiba lemas. Menginap dengan lelaki lain..apa Sunghee telah lelah menunggunya? Apa gadis itu sudah lelah menunggu terlalu lama?

“Aku akan menginap di sini malam ini saja. Besok aku harus ke Jerman untuk syuting video klip. Kalian mau menitip sesuatu?”

“Jerman? Hmm..belikan aku..” Donghae terlihat berpikir.

“Belikan saja dia kaus.” Hyukjae berkata sekilas sambil menata barang-barangnya.

“Yah, Hyung!” Donghae cemberut. Kyuhyun tertawa.

“Tenang saja, Donghae ssi. Aku akan membelikanmu sesuatu.” Kyuhyun tersenyum. Donghae mengangguk senang.

“Kau mandi duluan, Hyuk. Pakai air panas atau dingin?” tanya Kyuhyun.

“Dingin saja. Malam ini panas.” Hyukjae melepas kausnya. Kyuhyun mengangguk setuju.

“Biasanya tidak sepanas ini. Dampak pemanasan global,” keluh Kyuhyun. Hyukjae tersenyum tipis dan masuk ke kamar mandi. Ia menutup pintunya dan menatap cermin besar di sana. Dia menatap wajahnya. Inikah Hyukjae yang dulu? Hyukjae yang hanya bekerja sebagai penari jalanan? Inikah Hyukjae yang ditolak berkali-kali setelah melamar Sunghee? Sudah berapa kali ia melamar Sunghee? Mungkin 3 kali dalam seminggu. Atau mungkin 3 kali sehari. Tapi semuanya ditolak. Hanya karena apa? Pekerjaan.

Karena itu Hyukjae gila bekerja. Dia berusaha untuk mendapatkan posisi yang baik di perusahaan. Sampai dia ditawari membintangi iklan ponsel dan sekarang namanya makin melambung. Bahagiakah ia? Tidak. Ia tertekan. Tapi demi Sunghee, apa yang tidak?

Hyukjae yang sekarang benar-benar berbeda. Wajahnya terlihat tegas, tidak urakan seperti dulu. Penampilannya rapi, tidak ugal-ugalan. Hyukjae berubah menjadi pebisnis, bukan hanya pengamen seperti yang Sungmin bilang. Dia punya rumah, mobil, apartemen, bukan gelandangan yang tak punya apapun. Tapi ia tidak bahagia. Dia malah merasa tidak hidup.

Hyukjae menghela napas. Ia melepaskan bajunya dan mulai membasahi tubuhnya dengan air.

= = =

Sunghee jatuh tertidur setelah menceritakan semuanya pada Key. Ia menceritakannya di mobil, jadi Key tidak usah repot-repot menggendongnya. Sepanjang perjalanan pulang, Key hanya terdiam. Dia memikirkan semua perkataan Sunghee. Gadis itu benar-benar mengatakan semuanya. Tak ada yang terlewat.

Kini gadis itu kecapekan. Dia tertidur dengan pulas di samping Key yang sedang menyetir. Key tersenyum sendiri.

“Kau lucu sekali, Sunghee..” Key mengelus rambut Sunghee perlahan. Sunghee masih terlelap. Key menghela napas pelan dan menambah kecepatannya.

“Hyukjae ya…nan niga bogoshipo…” Sunghee mengigau. Key meliriknya.

“Bertemu Hyukjae di mimpimu, Sunghee?”

“Hyuk ah..” Sunghee masih mengigau. Key tersenyum.

“Syukurlah kau bertemu dengannya.” Key berdeham dan mengecilkan volume musiknya. Dia takut Sunghee terbangun dari mimpi indahnya.

= = =

“Melamar pekerjaan?” tanya Tammy. Sunghee mengangguk. Mereka bertiga sedang memakan sarapan di meja makan.

“Aku ingin bekerja di Korea, karena kemungkinan besar dalam waktu lama aku tidak akan kembali ke Indonesia.”

“Tapi keluargamu kan ada di Indonesia.”

“Tidak masalah. Aku akan mencari Hyukjae sambil bekerja. Makanya aku tidak mau pekerjaan kantoran. Paling tidak jadi penyiar radio atau author majalah. Jadi jika aku harus pulang tiba-tiba, tidak terlalu repot mengurus pengunduran dirinya.”

“Hm…aku ada kenalan penyiar radio. Kau mau?” tawar Key.

“Boleh.”

“Siapkan CV lengkapmu. Nanti aku hubungi dia.”

“Oke. Thanks.”

Selama menunggu pengumuman dari Key, Sunghee memutuskan untuk membuat cerita pendek. Ia membuat cerita tentang masa lalunya dengan Hyukjae. Semuanya dibuat persis. Bahkan waktu kejadian pun persis. Sunghee berharap, Hyukjae membaca atau mendengar ceritanya, dengan begitu akan lebih mudah menemukannya.

“Key?” panggil Sunghee. Key bergumam.

“Kau tahu dimana alamat kantor Hyukjae?”

“Tahu.”

“Dimana?” Key melirik Sunghee sekilas sebelum mengambil secarik kertas dan menuliskan alamatnya. Dia lalu memberikan kertas tersebut pada Sunghee.

“Semoga berhasil.”

= = =

Hyukjae berdiri di depan sebuah bangunan besar milik orang Cina. Menurut informasi yang di dapat, Hankyung sudah membeli rumah di Indonesia. Hyukjae sudah mendatangi rumah Sunghee, namun rumah itu kosong melompong. Katanya satu keluarga sedang liburan ke Paris.

Hyukjae tidak mau berlama-lama. Ia menekan bel dan seorang perempuan pun membuka pintu. Sepertinya itu pembantu Hankyung.

“Ada perlu apa?” tanya si pembantu dengan ramah.

“Ada Hankyung?”

“Sudah membuat janji dengannya?”

“Belum.”

“Kalau belum, tidak boleh bertemu dengannya.”

“Kumohon! Aku temannya!” seru Hyukjae. Pembantu itu terdiam sesaat. Ia lalu mengangguk kecil dan bergegas masuk ke rumah. Tak lama kemudian ia keluar lagi, bersama seorang lelaki di belakangnya. Hyukjae terpana sejenak. Lelaki itu sungguh tampan, tinggi, tegap. Apalagi dia adalah dokter. Wanita mana yang tidak mau diperistri dia?

“Tuan Hankyung?” sapa Hyukjae.

“Dan kau?” balas Hankyung singkat.

“Lee Hyukjae. Senang bertemu denganmu.” Hyukjae membungkuk sedikit. Hankyung balas membungkuk meskipun heran.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Ah, belum. Tapi saya sudah tahu Anda.” Hyukjae tersenyum. Hankyung menatapnya penuh selidik.

“Anda ini kan dokter terkenal. Siapa yang tidak kenal Anda?”

“Apa Anda juga dokter?”

“Bukan, saya hanya CEO perusahaan telekomunikasi di Korea.” Hyukjae tersenyum sopan. Hankyung menegang.

“Korea..” gumam Hankyung. Hyukjae tersenyum dalam hati. Pancingannya berhasil.

“Ada apa dengan Korea?” tanya Hyukjae dengan nada jenaka. Hankyung hanya menggeleng dan tersenyum.

“Silakan masuk.”

Hyukjae mengangguk berterima kasih pada pembantu yang menyuguhkan minum. Sementara Hankyung masih saja menatapnya lekat-lekat.

“Silakan diminum,” Hankyung berbasa-basi. Hyukjae mengangguk dan menghirup teh hangat yang disediakan.

“Jadi…ada masalah apa? Apakah terkait dengan pekerjaan?” tanya Hankyung.

“Ah tidak. Saya hanya ingin menanyakan sesuatu pada Anda, jika Anda punya waktu untuk menjawab pertanyaan saya.”

“Tidak usah formal. Umur kita sepertinya tak beda jauh.”

“Oh, ya.”

“Jadi pertanyaan apa?” Hankyung menyatukan tangannya di depan kaki. Hyukjae melirik cincin yang dipakainya.

“Kau sudah menikah?” tanya Hyukjae basa-basi.

“Oh, belum. Beberapa hari lagi.”

“Bagaimana calon istrimu?”

“Dia cantik. Baik juga. Hanya sayang, dia sering kabur dariku.”

“Maksudmu?” Hyukjae mengerutkan kening.

“Iya. Kemarin saja dia kabur ke Jerman.” Hyukjae tertegun. Jerman? Kemarin?

“Jerman?”

“Iya. Kemarin aku lengah. Ada seorang temanku memberitahu bahwa ia sedang ke Jerman, mengunjungi saudaranya katanya. Awalnya aku kira ia akan kabur ke Korea, tapi ternyata tidak.” Hankyung mengambil sebotol soju dan menuangkannya ke gelas. Dia menawari Hyukjae tapi ditolak dengan halus.

“Dia selalu ribut jika aku minum soju, dia bilang tidak baik untuk kesehatan.” Hankyung meneguk sojunya. Dia lalu meletakkan gelas yang sudah kosong ke meja. “Padahal menurutku soju itu baik untuk tubuh. Dasar gadis Indonesia.”

Hyukjae hanya terdiam. Jadi Sunghee kabur ke Jerman. Tunggu dulu, Kyuhyun kan akan syuting video klip di Jerman? Ini kesempatan emas! Dia harus ikut Kyuhyun ke Jerman.

“Jadi sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan, Hyukjae?” Hankyung terlihat curiga.

“Oh, sebenarnya ada proyek dari perusahaan telekomunikasi yang bekerja sama dengan rumah sakit di Bandung. Proyek tentang renovasi..”

“Yang tak pernah ada?” Hankyung memotong perkataan Hyukjae. Hyukjae menelan ludah.

“Aku tahu kau, Hyukjae ssi. Dari surat-surat ini.” Hankyung melemparkan beberapa surat ke atas meja. Hyukjae tertegun menatap surat-suratnya sendiri.

“Pelabuhan sementara?” Hankyung mengangkat alis. “Kau selingkuhannya Sunghee?”

“…” Hyukjae hanya diam.

“Diam berarti iya. Dengar, Sunghee akan menjadi milikku dalam waktu dekat ini. Sebaiknya kau menjauh, aku tidak mau melihatmu sakit saat aku mencium Sunghee di depan altar…dan membayangkan Sunghee tertidur di dekapanku hingga pagi.” Hankyung terlihat serius, tapi Hyukjae tahu dia sengaja memanas-manasi Hyukjae. Hyukjae mengepalkan tangannya, berusaha meredam amarah yang meluap-luap.

“Permisi.” Hyukjae membungkuk dan berlalu keluar rumah. Bergegas ia pergi ke apartemen sambil menghubungi Kyuhyun.

“Kyuhyun ah, eodiga?”

“Bandara.”

“Aku ikut ke Jerman!”

“Mworago?! Pesawatnya lepas landas sebentar lagi!”

“Aku ikut penerbangan kedua. Pokoknya sediakan tempat tinggal untukku dan Donghae selama di Jerman. Ara?”

“Tapi..”

“Gomawo, Kyu.”

= = =

Sunghee sedang bersantai di kamarnya ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Masuk!” titah Sunghee. Key membuka pintu dan duduk di samping Sunghee di tempat tidur.

“Kau diterima jadi author majalah,” kata Key. Sunghee langsung melompat bangun.

“Jinjayo?!”

“Iya..” Key menyodorkan sebuah map coklat pada Sunghee. “Wawancaramu berhasil. Sudah bisa bekerja besok.”

“AAA!!!” Sunghee memekik gembira. Refleks, dia memeluk Key. Cowok itu tertawa.

“Kau ini…di tanah air kan kau penulis terkenal, tapi di Korea hanya menjadi author majalah yang gajinya kecil saja bangga.”

“Author majalah beda dengan penulis sepertiku, kau tahu.” Sunghee cemberut. Key tersenyum dan mengacak rambut Sunghee.

“Arayo.”

Sunghee teringat sesuatu dan segera menyambar kertas di atas meja. Dia menatap Key berbinar sambil tersenyum.

“Bisakah aku mulai bekerja sekarang?”

= = =

“Hyung, Kyuhyun lagi bad mood ya?” Donghae berbisik ke Hyukjae yang duduk di sebelahnya.

“Iya. Kita mendadak sih memberitahunya.”

“Lagian Hyung sih…tiba-tiba minta ikut ke Jerman. Malu-maluin!”

“Heh!” Hyukjae melirik sadis. Kyuhyun menghela napas.

“Bisakah kalian diam? Aku sedang fokus menyetir.”

“Maaf.”

“Lain kali beritahu aku dulu setidaknya dua jam sebelum. Jadi aku bisa mempersiapkan segala sesuatunya. Tapi kau baru bilang padaku 5 menit sebelum pesawat lepas landas! Jelas saja aku panik.”

“…”

“Bukan panik karena takut kalian tersesat atau apa, tapi aku saat itu harus syuting video klip sesegera mungkin. Karena kalian, aku harus syuting dengan tak tenang. Kau selalu minta aku jemput dan menyediakan kalian tempat tinggal, Hyuk.”

“…”

“Karena kalian, syuting ditunda sampai besok. Padahal masih ada banyak urusan yang harus kulakukan.”

“…”

“Kalian mendengarkanku?”

“…” Kyuhyun melirik ke spion tengah. Dia terperangah ketika dilihatnya dua orang di jok belakang tertidur pulas sambil menyandar ke jendela. Kyuhyun memukul setirnya kesal.

“Dan kalian tertidur karena mengalami jet-lag! Bagus! Jadi aku berbicara dengan spion?!” Kyuhyun mendengus kesal. Dia lalu menatap ke spion tengah.

“Hai Kyuhyun, kau sial sekali hari ini.” Kyuhyun mendengus kesal.

= = =

“Uwaaaah!! Ini Jerman!!” Donghae terlihat seperti anak kecil yang menemukan toko penuh mainan gratis. Hyukjae hanya terkekeh di sampingnya, sementara Kyuhyun hanya diam.

“Jadi apa yang harus kita lakukan pertama? Jalan-jalan? Makan-makan? Beli oleh-oleh?” Donghae terlihat bersemangat. Hyukjae dan Kyuhyun berpandangan, kemudian menghela napas.

“Aku di sini untuk syuting.” Kyuhyun berlalu dari hadapan mereka.

“Aku di sini untuk mencari seseorang.” Hyukjae berjalan menjauh, meninggalkan Donghae termangu sendirian.

“Aku di sini untuk…” Donghae terlihat berpikir. “mengikuti Hyukjae!” Donghae berlari mengejar Hyukjae yang sudah jauh.

“Hyukjae!! Jalanmu cepat sekali! Yah, tunggu aku! Kalau kau tidak ada aku bisa tersesat!! Hyukjae ya!!”

= = =

Hyukjae menyusuri kota demi kota demi mencari informasi tentang Sunghee. Banyak orang tahu tentangnya tapi tidak tahu dimana ia berada sekarang. Hyukjae nyaris putus asa. Tapi Donghae selalu mendukungnya, memberinya semangat. Alhasil mereka mencari lagi dan lagi. Sampai rasanya semua kota sudah dijelajahi namun yang dicari tak kunjung muncul batang hidungnya.

“Argh! Aku lelah!” teriak Hyukjae. Donghae hanya mendesah.

“Ayo cari lagi.”

“Mau cari dimana? Di kutub selatan? Seluruh Jerman sudah kita lalui hingga seluruh debu yang ada di sini menempel di tubuhku!”

“Tidak usah berlebihan. Cinta itu butuh pengorbanan.”

“Ini sih namanya pemborosan.”

“Siapa yang mengajak siapa yang mengeluh.”

“Arasseo! Aku sedang tidak mood untuk bertengkar denganmu. Sekarang begini saja, daripada kita buang-buang uang lagi di Jerman, bagaimana kalau kita kembali ke Korea? Kata Hankyung, dia akan menghadiri acara perkumpulan penulis satu dunia yang dilaksanakan di Korea.”

“Kau bilang apa? Ulangi!” Donghae terlihat kesal.

“Kata Hankyung, Sunghee akan menghadiri acara perkumpulan penulis satu dunia yang dilaksanakan di Korea.”

“APA?! Lalu untuk apa kita keliling Jerman?”

“Ehm..setidaknya…kau tidak hanya mendapat kaus dari Jerman saja, kan?” Hyukjae meringis. Donghae menggeram. Dia lalu memukul kepala Hyukjae.

“Sialan!” Donghae hendak memukul kepala Hyukjae, tapi cowok itu berhasil mengelak dan berlari menjauh.

“Donghae ya ppali! Waktu kita sedikit! Dia akan menikah 3 hari lagi!” seru Hyukjae. Donghae menganga.

“Yah! Kau ini!” Donghae pun berlari mengejar Hyukjae.

= = =

Sunghee membereskan barang-barangnya dan membungkuk ke arah teman-temannya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebagai author majalah. Sunghee melihat ke luar jendela. Hujan cukup deras mengguyur Seoul.

“Sunghee ssi, rumahmu dimana?” tanya Heechul, editor majalah. Sunghee menyebutkan alamat rumah Key.

“Tapi aku di sana hanya sementara.” Sunghee tersenyum. Heechul melirik cincin di kalung Sunghee.

“Oh, kau sudah ada yang punya ya?” tanyanya. Sunghee hanya tersenyum.

“Sayang sekali..berarti aku tidak bisa mengantarmu ke rumahmu.”

“Ah, aku bawa mobil kok. Terima kasih.” Sunghee tersenyum sopan.

“Arasseo. Aigoo…suamimu pasti sangat beruntung ya.” Sunghee tertegun.

“Ah..ne..aku permisi dulu, Heechul ssi. Aku harus segera pulang.” Sunghee undur diri dari hadapan Heechul. Dia pun menerobos hujan ke mobilnya dan mulai meluncur melawan arah angin. Sunghee sebenarnya tidak ingin pulang sekarang, dia ingin mampir ke suatu tempat. Di loteng apartemen Hyukjae yang dulu, Sunghee senang menempelkan foto-foto mereka berdua. Dia ingin melihat apakah foto-foto tersebut masih ada. Dia tiba-tiba teringat hal ini ketika membaca ceritanya sendiri yang ia buat saat masih menjadi kekasih Hyukjae.

Dan ternyata masih ada. Sunghee menatap ruangan yang diubah Hyukjae menjadi tempat latihan dance. Mereka berdua sering menari bersama dan kadang rap bersama ketika masih menjadi sepasang kekasih. Kenangan-kenangan mereka berdua teringat lagi di benak Sunghee. Loteng ini adalah tempat rahasia mereka berdua. Hyukjae selalu membawa Sunghee kemari ketika orang tua Sunghee melihat mereka sedang berjalan berdua. Di loteng ini mereka bersembunyi. Dan di loteng ini pula mereka menempelkan foto-foto kenangan mereka di dinding.

Sunghee tersenyum mengingatnya. Tapi senyum Sunghee hilang ketika dilihatnya ada bekas tempelan foto di dinding. Semua foto dirinya menghilang. Yang tersisa hanyalah foto Hyukjae dan foto mereka berdua. Sunghee menghela napas kecewa.

“Apa dia benar-benar melupakanku?” gumam Sunghee sambil mengelus foto Hyukjae. “Kalau begitu biar aku melupakanmu.” Sunghee mencabut foto tersebut dari dinding. Dia lalu mencabut foto Hyukjae yang lain.

“Aku tidak mau mengingatmu ketika datang kemari.” Sunghee mencabut foto mereka berdua yang sedang berangkulan mesra.

“Jika perlu aku hancurkan tempat ini..” Sunghee mulai terisak. Ia mencabuti foto-foto yang jumlahnya tak sedikit itu dengan kalap. Tak sedikit foto-foto yang terkena air matanya. Setelah semua foto tercabut, Sunghee terduduk di lantai. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Kenapa…kenapa harus begini? Aku ingin me-reset semuanya…aku ingin kembali kepadanya..” Sunghee membuka telapak tangannya. Ia menatap foto-foto yang berserakan di lantai dengan sendu.

“Apa yang harus kulakukan dengan foto ini? Dibakar? Tapi aku tidak membawa korek.” Sunghee melihat sekeliling. Dia tertegun. Di jendela terdapat sebungkus korek api kayu. Ia langsung mengambilnya dan mengambil sebatang. Ia menggesekkannya ke bungkus korek dan api pun menyala. Dia menatap foto-foto tersebut. Ia melangkah mendekati foto tersebut dan hendak menjatuhkan korek itu ketika tubuhnya sendiri yang terjatuh. Dia tidak sanggup. Sunghee menangis lebih kencang. Air matanya memadamkan api.

“Aku bahkan tidak sanggup membakar fotomu…Hyuk ah…” Sunghee menangis sesenggukan. “Bogoshipo..”

Press the reset…Press press the reset..

Ponsel Sunghee berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dan tertegun ketika melihat nama si pemanggil.

“Han…Hankyung?”

“Pernikahan kita dipercepat. Ibuku kritis. Kita akan menikah besok. Semuanya sudah disiapkan. Beberapa anak buahku akan menjemputmu di Korea.”

Sunghee terdiam lama. Tak sengaja ponselnya terlepas dari genggaman tangannya. Dia akan menikah besok. Dan sampai sekarang dia belum bertemu dengan Hyukjae.

“Hyukjae….aku hanya ingin menikah sekali..dan itu denganmu..”

= = =

“Ah…sampai juga di Incheon..” keluh Donghae. Badannya pegal-pegal setelah menempuh sekian jam perjalanan. Hyukjae di sebelahnya hanya diam. Dia harus bertemu dengan Sunghee di sini. Harus.

“Hyung, ayo kita pulang!” seru Donghae senang. Hyukjae masih terdiam.

“Hae, aku sudah meminta orang untuk membawakan barang-barang kita. Kau ikut dia saja ya. Dia akan mengantarmu pulang.” Hyukjae menepuk pundak Donghae sekilas sebelum berlari pergi. Donghae tersentak.

“Yah! Kau mau kemana?!” teriak Donghae. Hyukjae mengacungkan foto di tangannya.

“Mencari gadis di dalam foto!” seru Hyukjae.

“Hey! Kau gila! Kau baru saja sampai! Setidaknya istirahat dulu!”

“Aku tidak butuh istirahat. Yang kubutuhkan hanyalah dia!”

“…” Donghae tertegun. Diam-diam dia kagum dengan kegigihan sepupunya.

Hyukjae berlari menuju keramaian. Di tengah jalan dia sering bertanya mengenai Sunghee lewat foto yang ia bawa. Orang-orang menggeleng. Semakin banyak orang yang menggeleng, semakin frustrasi Hyukjae. Tapi dia tidak putus asa. Dia melupakan matanya yang mengantuk, dia melupakan kakinya yang lelah, dia melupakan perutnya yang meminta makan. Dia harus menemukan Sunghee. Sesegera mungkin. Jangan sampai menyesal.

Hyukjae berlari ke apartemennya yang dulu. Dia terengah-engah. Entah apa yang membawanya kemari. Ia berlari memasuki gedung dan melangkah menaiki tangga menuju loteng. Dia tidak mau menunggu lift. Baginya menunggu sama dengan kehilangan banyak waktu. Meski hanya satu menit.

Hyukjae baru saja menaiki tangga ke lantai dua ketika lift terbuka. Sunghee keluar dari lift sambil menundukkan kepalanya. Gadis itu berjalan keluar gedung. Dia berhenti ketika melihat beberapa pria berjas hitam menghadang langkahnya. Sunghee mendongak.

“Leeteuk..?” bisik Sunghee serak.

To be continued

21 thoughts on “[FF] Letters of Hearts part 2

  1. dhikae says:

    *org yg susah commentnya masuk/plakk*
    hehehe ceritanya berasa drama bgt sunghee, intinya menegangkanlah
    tpi baguss, keren like it😀
    lanjut… *smoga g’ msuk spam again ._____.

  2. amitokugawa says:

    uwahhh..*keplokkeplok*
    kerasa petualangan dan dramanya…
    coba aja dibikin film..seru tuh😄

    oya, aku mau kritik dikit nih..
    “…Kata Hankyung, dia akan menghadiri acara perkumpulan penulis satu dunia yang dilaksanakan di Korea…”
    ‘satu dunia’ kayaknya lebih bagus diganti jd ‘sedunia’ aja deh..

  3. vidiaa says:

    sunbae~~ mian aku baru bisa baca lanjutannya sekarang ;__; modemnya gabisa diajak kompromi -3-
    aku bacanya gereget sendiri laah, Eunhyuk ke mana, Sungheenya ke mana.. tapi aku suka, bikin penasaran ><

    daebaaaaaak😄

  4. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Aigo, tegang. Kenapa orang suruhan HanKyung gampang banget nemuin Sunghee, tapi HyukJae kenapa susah sekali?? Sunghee bakal dibawa pulang deCh ke Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s