[FF] Letters of Hearts part 1

Title: Letters of Hearts

Genre: Romance, Drama

Casts: Lee Sunghee, Lee Hyukjae, Hankyung, Lee Sungmin, Leeteuk, Lee Donghae

= = =

Indonesia, 4 Februari, 2011

Lee Sunghee mengemasi barang-barangnya. Ia sudah menegaskan jawabannya. Bahkan sebelum Hyukjae menyuruhnya. Dia ingin pergi ke Korea. Menemukan hatinya kembali. Meninggalkan pelabuhan sementaranya. Harus. Ia tidak mau mengombang-ambingkan perasaan Lee Hyukjae. Dia tidak mau. Maka dari itu, dia harus tegas. Dia harus memilih.

“Sunghee, kau mau kemana?” Sungmin berdiri di ambang pintu, memperhatikan adiknya mengemasi barang-barang.

“Bukan urusanmu,” balas Sunghee singkat. Ia sedang mengemasi surat-suratnya. Ia tertegun ketika melihat surat-surat dari Hyukjae. Ia menggigit bibir bawahnya dan menengadahkan kepalanya. Berusaha menahan tangisnya. Dia mengambil semua surat yang berserakan di atas meja itu dengan gerakan cepat.

“Bagaimana dengan Hankyung?” tanya Sungmin.

DEG. Benar. Sunghee tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Hankyung. Dia berbalik dan menatap kakaknya yang balik menatapnya khawatir.

“Entahlah..” Sunghee bergumam. Sungmin menghampiri adiknya dan memeluknya.

“Kau mencintainya?” tanya Sungmin lembut.

“Tidak..” bisik Sunghee lirih. Sungmin terdiam.

“Lalu..kau mau melarikan diri darinya?”

“Aku..aku tidak tahu, Oppa.. aku masih mencintai Hyukjae..” Tubuh Sungmin menegang. Ia kemudian melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua pundak Sunghee dan menatap kedua wajah adiknya tajam.

“Kau masih mencintainya? Setelah yang ia lakukan padamu?”

“Dia tidak salah, Oppa.  Aku yang memutuskan untuk meninggalkannya..”

“Keputusanmu benar. Tinggalkan dia. Dia itu hanya penari jalanan. Pekerjaannya tidak jelas, pendapatannya tidak tetap, keluarganya pun tidak jelas latar belakangnya. Apa yang kau harapkan dari namja sepertinya?”

“Tapi aku tetap mencintainya. Dia sudah punya pekerjaan tetap, Oppa. Aku meninggalkannya hanya karena disuruh Appa dan Eomma. Tapi sekarang aku sudah lebih dewasa. Aku sudah mengerti mana yang baik untukku. Hyukjae memang ditakdirkan untukku. Sedangkan Hankyung tidak.” Sunghee menatap foto Hyukjae di atas meja kerjanya. Sungmin menghela napas.

“Baiklah, buktikan bahwa ia pantas untukmu.” Sungmin melepaskan pegangan tangannya. Sunghee menatapnya.

“Jadi kau membiarkanku pergi?” tanyanya penuh harap. Sungmin memaksakan seulas senyum.

“Hati-hati di jalan.” Sunghee tersenyum gembira. Ia berjinjit dan mengecup pipi Sungmin sekilas sebelum pergi keluar rumah.

= = =

Sunghee mengendarai mobilnya menuju bandara. Tangannya bergerak-gerak di setir mobil, mengikuti alunan lagu yang dimainkannya. Sunghee bergumam menyanyikan lirik lagu “A Man In Love” milik Super Junior. Sunghee melihat ke spion kanannya, hendak menyelip mobil di depannya. Setelah dirasanya aman, Sunghee menyelip mobil di hadapannya. Ia lalu mengendarakan mobilnya tepat di depan mobil KIA hitam.

Tapi rupanya itu adalah tindakan yang cukup fatal. Sunghee tidak tahu siapa yang mengendarai mobil KIA hitam tersebut. Mobil itu pun menambah kecepatan dan berusaha menyelip mobil Sunghee. Sunghee melirik ke spion tengah. Dia tersentak ketika melihat siapa yang mengendarai mobil KIA hitam itu. Hankyung.

“Sejak kapan ia berganti mobil?” desis Sunghee. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya mempererat genggamannya pada kemudi. Mobil KIA hitam itu terus berusaha menyalipnya sambil membunyikan klakson.

Sunghee memantapkan hatinya dan menekan gas. Mobilnya melaju lebih cepat. Tapi KIA hitam itu terus saja mengikutinya. Sunghee berbelok ke kiri, ban mobilnya berdecit keras. Dia melakukan drift. Sunghee terus menambah kecepatannya. Lagu “Don’t Don” mengalun kencang di dalam mobilnya. Seolah menjadi soundtrack kejar-kejaran mereka.

“Sial!” umpat Sunghee ketika lampu lalu lintas berubah merah saat ia baru datang ke sana. Sunghee melihat ke kanan kiri. Jalanan agak lenggang. Sunghee berdecak kesal dan langsung menerobos lampu merah. Tepat sebelum sebuah truk gandeng melintas dari arah kanan. Sunghee menatap ke spion tengah. Mobil Hankyung tidak ada. Sunghee tiba-tiba merasa tidak enak. Seolah ada firasat buruk.

Benar saja, dari arah kelokan sebelah kanan, sebuah mobil KIA hitam tiba-tiba melintas di depannya. Sunghee terkejut dan membanting setirnya ke arah kanan. Bannya berdecit lagi. Beberapa mobil membunyikan klaksonnya, merasa terganggu dengan aksi Sunghee yang ugal-ugalan.

Sunghee ingin menambah kecepatan ketika mobil KIA hitam itu menghadangnya. Sunghee mendesah pasrah. Terlebih ketika sosok jangkung berambut hitam pendek dan berkaca mata hitam itu berjalan mendekati mobilnya. Sunghee terpaksa membuka jendelanya dan menatap lelaki itu.

“Keberatan menjelaskan semuanya?”

= = =

Sunghee menunduk mengaduk-aduk ice cappucino-nya yang tinggal setengah. Dia tidak berani menatap Hankyung. Hankyung masih tidak melepaskan kaca mata hitamnya, tapi Sunghee tahu tatapan Hankyung hanya tertuju padanya.

Sunghee tidak tahu bahwa Hankyung menatapnya dengan pandangan ‘menggeledah’. Hankyung menatap lekuk tubuh Sunghee yang terlihat. Sebenarnya Sunghee mengenakan kemeja yang longgar, namun tipis.

“Kyung?” panggil Sunghee. Hankyung mengerjapkan matanya.

“Ah, ne?” Hankyung menelan ludahnya dengan susah payah.

“Aku…sepertinya harus mengatakan sesuatu.”

“Katakan saja.” Hankyung tersenyum.

“Em…apa kau mencintaiku?”

“Tak perlu kau tanya lagi. Aku sangat mencintaimu.”

Sunghee menggeleng pelan. Dia mendesah.

“Kenapa kau mencintai aku? Apa yang bagus dari diriku?”

“Semuanya.” Hankyung tersenyum. Terutama S-line mu, batin Hankyung.

“Penyesalan selalu datang terlambat lho, Oppa. Kau tidak akan menyesal menikahiku?”

“Tidak akan.”

Sunghee terdiam lagi. Kali ini cukup lama. Tapi itu justru memberi waktu bagi Hankyung untuk menggeledah Sunghee lagi.

“Oppa, aku akan pergi ke luar negeri. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sana,” ujar Sunghee akhirnya.

“Apa itu? Kemana?” tanya Hankyung.

“Em…aku ada pertemuan organisasi sesama penulis sedunia. Aku diundang oleh Panu, orang Finlandia. Nanti aku akan dijemput olehnya di bandara.”

“Bandara mana lebih tepatnya, Lee Sunghee?” Hankyung berusaha mengorek informasi yang jelas.

“Bandara…I..”

“Incheon?” potong Hankyung. Sunghee mengangguk lemah.

“Jadi pertemuannya ada di sana?”

“Iya..”

“Benar dengan sesama penulis?”

“Benar..”

“Kalau begitu kau boleh pergi. Tapi bolehkah kau perginya lusa saja? Besok aku ingin ke rumah sakit menemui ibuku, kau juga ikut ya? Setelah itu kita berjalan-jalan menghabiskan hari berdua saja. Bagaimana? Aku pasti merindukanmu selama kau di Korea. Jadi…aku ingin menghabiskan hari berdua denganmu.” Hankyung tersenyum hangat. Sunghee luluh akan ucapannya. Dia tidak tega meninggalkan Hankyung. Tapi hatinya tetap memilih Hyukjae.

Hyukjae adalah selingkuhannya? Bisa jadi. Ia sekarang milik Hankyung, tapi ia mencintai Hyukjae.

“Oke. Tapi..Sungmin Oppa tahu aku berangkat hari ini. Jika aku kembali ke rumah, bisa-bisa aku dikurung orang tuaku.”

“Oh, mudah saja. Kau menginap di hotelku saja.”

= = =

Sunghee menatap Hankyung ragu-ragu. Ia tahu ia akan menjadi istri Hankyung, tapi Hankyung belum berhak apapun atas dirinya, bukan?

Saat itu hanya ada mereka berdua di kamar Hankyung. Hankyung memang tinggal sendiri. Ibunya dirawat di rumah sakit terkemuka di Bandung. Hankyung menjadi dokter sementara di sana. Bulan depan ia akan kembali ke China. Dan Sunghee akan dibawanya bersamanya.

“Kyung, apa kau serius kita berdua akan bermalam di kamar hotel ini? Hanya ada satu tempat tidur.”

“Jangan salahkan fasilitas hotel ini. Orang rumah sakit yang menyuruhku tinggal di sini. Lagipula aku tidak punya tempat tinggal di Indonesia. Jadi aku menginap di hotel ini. Beberapa dokter dari luar negeri juga ada di hotel ini, kok.”

“Tapi…hanya ada satu tempat tidur, kan?”

“Kau keberatan tidur denganku?” Hankyung berjalan mendekati Sunghee. Gadis itu semakin mundur hingga menyentuh tembok. Hankyung tersenyum.

“Gwaenchana, Sunghee. Kita akan menikah, bukan?” Hankyung membelai pipi Sunghee lembut.

“Iya tapi..” Sunghee menghindar dari sentuhan Hankyung. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada SMS masuk. Sunghee segera mengambil ponselnya yang diletakkan begitu saja di atas tempat tidur. Ia membuka kotak masuk dan melihat nama “Panu Knuitunen” di layar. Sunghee tersenyum lebar. Ia segera membalas SMS itu. Dalam hati ia membatin, ‘Thanks, Panu. You save my life!’

Hankyung memperhatikan Sunghee yang membelakanginya. Gadis itu mempunyai rambut yang panjangnya sepunggung dan bergelombang berwarna hitam. Tubuhnya tinggi langsing, ideal. Warna kulitnya kuning langsat. Dan lekuk tubuhnya…ah..Hankyung benar-benar mengagumi gadis itu.

Hankyung tidak bisa menahannya lagi. Ia memeluk Sunghee dari belakang. Tangannya melingkar ke depan perut Sunghee. Hidungnya menghisap wangi leher Sunghee yang menggoda.

Sunghee terkejut. Ia memegang tangan Hankyung dan berusaha melepaskannya. Tapi Hankyung malah mempererat pegangannya. Alhasil Sunghee malah semakin merapat padanya.

“Kyung…apa yang kau lakukan?” bisik Sunghee risih.

“Just want to make you mine..” lirih Hankyung di telinga Sunghee, membuat gadis itu menegang.

“Not now, please..” Sunghee melepaskan tangan Hankyung tepat sebelum lelaki itu hendak mencium lehernya.

“Kyung ah, sepertinya aku harus cari makan. Aku lapar.” Sunghee berusaha mencari alasan yang logis. Hankyung tersenyum. Dia menunjuk ke meja di pojok ruangan.

“Makanan baru diantar. Ayo kita makan.”

“Ah, ah ya! Aku harus pergi ke toko buku! Ada yang harus kubeli. Penting!”

“Biar kuantar.”

“Tidak usah! Aku sendiri saja. Kau kan capek, aku tidak mau mengganggu waktumu.”

“Kau tidak pernah menggangguku.” Hankyung memiringkan kepalanya.

“Ah, sekarang iya! Permisi, aku mau lewat..” Sunghee berjalan cepat ke arah pintu namun tangannya ditahan oleh Hankyung. Sunghee menelan ludah. Hankyung melingkarkan tangannya ke pinggang Sunghee dan merapatkan gadis itu padanya.

“Kau mau kabur dariku?”

“Oh, aniyo! Ahahaha..mana mungkin kabur dari calon suami sendiri?” Sunghee tertawa sumbang.

“Kau mencintaiku?” lirih Hankyung. Sunghee tersentak. Ini dia pertanyaan yang paling dihindarinya.

“Ya..aku mencintaimu,” sebagai teman, tambahnya.

“Kalau begitu..jangan kabur dariku. Menginaplah denganku malam ini.”

“Tapi…seorang lelaki dan perempuan menginap di hotel dan kamar yang sama tanpa ikatan rumah tangga itu dianggap tabu di negeri ini, Hankyung.”

“Bukankah kau sudah terikat denganku? Kau tunanganku, beberapa hari lagi kita akan menikah.”

“Tapi kita belum resmi menjadi sepasang suami istri. Aku ingin berbeda kamar saja nanti malam.”

“Tidak bisa. Kamar lain penuh.”

“Aku akan mencari hotel lain.”

“Aku akan ikut denganmu.”

“Han, please..” Sunghee memohon. Hankyung terdiam.

“Tapi jangan di hotel lain..”

“Ne?” Sunghee tidak mengerti maksud Hankyung.

“Kau boleh menginap di kamar lain. Tapi jangan di hotel lain.”

“Jinja?! Gomawoyo, Hankyung ah!” seru Sunghee. Hankyung tersenyum. Meskipun ia orang China, ia juga mengerti bahasa Korea.

“Jadi ke toko buku?” pancing Hankyung dengan tatapan menggoda. Sunghee meringis.

“Ya. Tapi aku sendiri saja.”

“Uh-huh,” Hankyung menggeleng tegas. “Jangan sendiri. Aku akan minta Dokter Leeteuk mengantarmu.”

Sunghee hanya mengangguk pasrah.

= = =

Sunghee merasa risih dengan tatapan Leeteuk di sampingnya. Ia memandang Sunghee penuh minat. Selama ia berjalan di toko buku, lelaki itu hanya mengikutinya sambil memandangnya. Sunghee menghela napas dan meletakkan buku yang dipegangnya ke rak.

“Bisakah kau tidak memperhatikanku seperti itu, Tuan?” kata Sunghee pelan. Leeteuk mengerjap terkejut.

“Oh, maaf.” Leeteuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kau mirip sekali dengan mendiang istriku. Aku jadi seperti melihatnya kembali. Maafkan aku.”

“Mendiang istri?” gumam Sunghee. Matanya menelusuri buku-buku yang terdapat di hadapannya.

“Ya. Dia meninggal setelah usia pernikahan kami menginjak satu tahun.”

“Satu tahun? Singkat sekali..” bisik Sunghee prihatin. Leeteuk hanya tersenyum.

“Kau tahu kan bagaimana perasaannya pengantin baru? Sangat bahagia, seakan dunia milik berdua saja.” Sunghee diam mendengarkan. Tangannya meraih sebuah buku novel pengembangan diri.

“Dia sedang mengandung anak kami ketika tiba-tiba ia ditabrak sebuah mobil saat sedang menyebrang. Tragis ya.” Mata Leeteuk terlihat berkaca-kaca.

“Aku sempat ingin mati saja. Sampai sekarang pun aku masih ingin mati. Untuk apa aku hidup jika istri dan anakku saja meninggalkan dunia?” Sunghee tertegun. Ia selesai membaca sinopsis buku itu dan hendak membelinya. Dia menggenggamnya di tangan kanannya sementara tangan kirinya meraih tangan Leeteuk. Lelaki itu terkejut. Tapi ia hanya diam. Sunghee membuka telapak tangan Leeteuk dan meletakkan buku itu di tangan pria tersebut.

Aku adalah matahari?” Leeteuk menyebutkan judul buku di tangannya. Sunghee tersenyum dan mengangguk.

“Jika diibaratkan, kau adalah matahari yang menyinari dunia. Kau juga memberikan sinarmu pada bulan. Bulan itu adalah anak dan istrimu. Sekarang mungkin bulan tiada, tapi masih ada bintang. Masih ada bumi yang harus kau sinari. Bagaimana jika karena bulan tiada, matahari ikut tiada? Bagaimana dengan nasib alam semesta? Semuanya membutuhkanmu. Jika tak ada kau, semuanya mati.” Leeteuk menatap Sunghee dengan kagum. Gadis itu tersenyum dan kembali melihat-lihat buku.

“Tapi bumi pun membutuhkan bulan…”

“Apa kau tahu apa artinya?”

“Apa?” Leeteuk mengernyit heran.

“Artinya…kau cari bulan yang baru.” Sunghee menatap Leeteuk. Lelaki itu balas menatapnya dalam diam, masih mencoba mencerna apa yang dikatakan Sunghee.

“Kau masih 28 tahun. Jalanmu masih panjang. Carilah bulan yang lain. Yang bisa membantumu menyinari bumi ini.” Sunghee menatap Leeteuk. Dia terkejut ketika melihat lelaki di hadapannya menangis. Bibir Leeteuk menyunggingkan sebuah senyum bahagia. Sedangkan matanya berbinar namun berair. Dua tetes air mata menuruni pipinya. Sunghee terkejut dan segera menyeka air mata lelaki itu.

“Uljimarayo, Oppa. Nanti aku dikira menganiaya, Oppa..” bisik Sunghee. Leeteuk tersenyum. Dia terkekeh pelan.

“Gomawo, Sunghee. Kau menyadarkanku. Kita bahkan baru beberapa jam yang lalu bertemu, tapi aku sudah merasa dekat denganmu. Jika kau bukan tunangan Hankyung, mungkin aku akan menjadikanmu bulanku yang selanjutnya.” Sunghee terdiam. Tunangan Hankyung. Benar. Itulah statusnya saat ini. Tiba-tiba saja ia teringat Hyukjae.

“Leeteuk Oppa, bisa aku meminta sesuatu?” tanya Sunghee hati-hati.

“Apa saja.” Leeteuk tersenyum.

“Bisa kau mengantarkanku ke bandara?” Leeteuk ternganga heran. Tapi kemudian ia mengangguk, meskipun ragu.

= = =

“Kau yakin, Sunghee?” Leeteuk terdengar cemas. Sunghee hanya mengangguk. Dalam hatipun ia kurang yakin. Bagaimana jika ia tak bertemu dengan Hyukjae di Korea? Sia-siakah perjalanannya?

“Aku bisa menemanimu, jika kau mau.”

“Ani. Aku sudah merepotkanmu hanya dengan mengantarku ke sini. Kembalilah ke pekerjaanmu. Kau belum selesai bekerja di sini, kan?”

“Tapi kau sama sekali tak merepotkanku, Sunghee. Kita dalam posisi yang sama. Kau sudah membantuku, dan sekarang giliranku membantumu. Jika kau ingin bertemu kekasihmu itu aku tidak masalah. Jika itu pilihanmu. Tapi biarkan aku ikut denganmu, setidaknya untuk memberimu tempat tinggal.”

“Gwaenchana, Oppa. Aku ada kenalan di sana. Mungkin aku akan menginap di rumahnya.”

“Lelaki?”

“Ya dan dia mempunyai adik perempuan.” Sunghee melirik jam tangannya. Dia terlihat gelisah. Leeteuk menatapnya khawatir.

“Sunghee, jika Hankyung mencarimu, apa yang harus kukatakan?”

“Bilang saja bahwa aku sedang mengunjungi saudaraku di luar negeri.”

“Jika ia bertanya kemana?”

“Mongolia.”

“Dia tidak akan percaya.”

“Ya Tuhan, kau pikir aku serius? Bilang saja saudaraku yang di Jerman.”

“Oh, baiklah.”

“Oke, pesawatnya berangkat sebentar lagi. Leeteuk Oppa, gomawo atas semuanya. Aku harus pergi sekarang, aku ingin meraih kebahagiaanku.” Sunghee tersenyum sambil memegang kedua tangan Leeteuk. Cowok itu mengangguk.

“Pergilah. Aku mendoakanmu dari sini.”

“Gomawo.” Sunghee memeluk Leeteuk singkat. Ia membungkuk sopan dan berbalik pergi. Dadanya bergemuruh. Ia akan menyelami masa lalunya. Ia akan mencari kebahagiaannya yang sempat hilang. Meskipun harus berkeliling dunia.

“Take care!” seru Leeteuk. Sunghee menoleh dan tersenyum haru. Dia mengangguk dan melambaikan tangannya.

“Aku pergi! Annyonghigyaeseyo!”

= = =

04-02-2011, Dok San Dong, South Korea, 11:23 PM

Hyukjae membaca surat-surat Sunghee dibawah penerangan meja kerjanya. Dia menghela napas berat. Sesekali ia menghirup kopinya atau sekedar membetulkan letak kaca matanya. Hyukjae menatap jam kecil di mejanya. Dia ingat, pukul segini, dia dan Sunghee pernah berjalan-jalan mengelilingi kota Bandung, kota tempat orang tua Sunghee tinggal.

Hyukjae menyadari. Masih banyak yang belum ia ketahui tentang Sunghee. Bahkan nama aslinya saja ia tidak tahu. Hyukjae teringat, dulu ia dan Sunghee sedang jalan-jalan di alun-alun kota, ia menanyakan nama Sunghee. Tapi gadis itu bisa mengelak.

“Sunghee, aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Apa?”

“Apakah Lee Sunghee nama aslimu?”

“Aku tidak lahir dengan nama itu.”

“Lalu siapa nama aslimu?”

“Kau akan tahu suatu saat nanti.”

“Tapi kakakmu bilang jika aku ingin menikahimu, aku harus tahu nama aslimu dulu.”

“Ya. Dia benar. Di saat kau mengucapkan nama asliku, di saat itu pula aku menjadi milikmu.”

“Kau sekarang milikku.”

“Tidak seutuhnya.”

Hyukjae kehabisan akal. Dia benar-benar gila karena Sunghee. Terlebih karena orang tuanya dan kakaknya yang tidak merestui hubungan mereka. Hanya karena dahulu Hyukjae bukanlah pria mapan. Kerjaannya hanya penari jalanan. Latar belakangnya tidak jelas. Hyukjae masih ingat, saat harga dirinya diinjak-injak oleh kakaknya Sunghee.

“Aku ingin menikahi Sunghee,” kata Hyukjae tegas.

“Bisa apa kau? Pekerjaanmu tidak tetap, gajinya kecil. Latar belakangmu juga tidak jelas. Bisa saja kau hanya anak pungut.”

“Aku punya rumah, aku punya orang tua kandung. Pekerjaan bisa kucari. Kumohon, Hyung, aku ingin menikahinya.”

“Cari dulu pekerjaanmu. Jangan hanya mengamen di pinggir jalan.”

“Aku bukan pengamen, Hyung! Aku penari! Aku bahkan memenangkan kontes menari ke London!”

“Kau hanya penari jalanan, pengamen. Kau mau menghidupi keluargamu dengan tarian dan piala?”

“Hyung..”

“Pergilah. Jika kau berhasil, kau boleh kembali. Itupun jika Sunghee masih menunggumu.”

Hyukjae mengepalkan tangannya. Tanpa sadar dia menggebrak meja. Tempat pensilnya terjatuh dan isinya berserakan di lantai. Mendengar ribut-ribut, seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Hyukjae ya, wae?”

“Ani.”

Pintu terbuka, sepupunya masuk ke kamar. Dia terlihat khawatir.

“Donghae ya, maaf. Karena aku kau jadi terbangun,” kata Hyukjae pelan.

“Ani. Aku belum tidur. Wae geuraeyo? Mungkin bisa kubantu.”

“Jika kau mencintai seorang wanita, apa yang akan kau lakukan?”

“Mengejarnya sampai dapat.”

“Tapi setelah kau mendapatkan wanita itu, keluarganya malah tidak merestui. Setelah itu kalian berpisah. Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku mengejarnya lagi.”

“Jika gadis itu akan menikah dengan lelaki lain?”

“Jika dia bahagia, aku menyerah.”

“…” Hyukjae terdiam. Haruskah ia menyerah? Bahagiakah Sunghee dengan calon suaminya?

“Tapi jika dia tidak bahagia, aku akan merebutnya kembali. Bagaimanapun caranya.”

Donghae benar, pikir Hyukjae. Ia harus mencari tahu apakah Sunghee bahagia atau tidak. Dia harus ke Indonesia. Harus.

Hyukjae pun berdiri dan mengambil koper di bawah tempat tidur. Dia lalu membuka lemari pakaian dan mengemasi pakaiannya. Donghae terdiam.

“Eodigayo?”

“Indonesia.”

“Ikut!”

“Kemasi barang-barangmu.”

“Ne!” Donghae bergegas ke kamarnya. Sementara itu Hyukjae mengambil pena dan secarik kertas. Ia menuliskan surat untuk Sunghee.

= = =

Lee Sunghee menapakkan kakinya di bandara Incheon. Dia menghirup udara Korea lagi setelah dua tahun tidak melakukannya. Dia merasa paru-parunya bersih tiba-tiba. Ini negeri kelahiran kekasihnya. Ini negeri kelahiran ayahnya. Dan di negeri ini pula kisah cinta mereka pertama terajut.

Pertemuan Hyukjae dan Sunghee berawal dari chatting di internet. Setelah itu mereka bertemu di Green Cafe. Saat itu Sunghee baru saja menyelesaikan studinya di Jerman. Ia sengaja pergi ke Korea untuk sekedar bertemu dengan Hyukjae. Ia masih ingat saat ia berciuman dengan Hyukjae di jembatan sungai Han. *baca Gloxinia*

Di bandara Incheon, semuanya berakhir. Sunghee ditarik paksa oleh keluarganya, kembali ke Indonesia. Sunghee menarik napas. Ingatannya kembali ke dua tahun yang lalu.

“Oppa! Oppa!!” Tangan Sunghee menggapai-gapai. Tapi Sungmin menghalanginya.

“Sunghee ya! Dia itu bukan siapa-siapa! Kau tidak boleh menikah dengannya!”

“Andwae! Aku hanya mencintainya!”

“Sunghee ya..” Hyukjae memanggilnya dengan lirih. Sunghee menangis.

“Abeoji, tolong restui aku dengannya. Aku sangat mencintainya.” Hyukjae berlutut di hadapan Appa Sunghee. Appa Sunghee memalingkan muka.

“Kau mau menghidupi keluargamu dengan cinta?”

“Apa yang lebih penting dari itu?”

“Kau mau keluargamu menggelandang?!”

“Aku bukan gelandangan!”

“Terserah! Sampai kapanpun aku tidak akan merestui kalian. Sunghee ya, ayo kembali ke Indonesia. Jangan bertemu dengan gelandangan ini lagi. Kalau tidak, kau bukan anakku lagi.”

“Appa…” Sunghee terisak. Hyukjae menunduk. Dia berusaha menahan tangisnya.

“Hyukjae ya..” panggil Sunghee serak. Hyukjae menoleh. “Pergilah…” Sunghee menatapnya dengan dalam. Hyukjae terperangah.

“Waeyo, Sunghee? Aku akan mencari pekerjaan, mencari materi, apa pun namanya! Kumohon tunggu aku sebentar lagi!”

“I..can’t..” Sunghee menggeleng lemah. Hyukjae masih diam. Dia menatap Sunghee tak percaya.

Appa Sunghee dan Sungmin sudah berlalu lebih dulu. Sunghee masih terdiam di depan Hyukjae. Gadis itu berlari ke arah Hyukjae dan memeluknya erat. Ia membisikkan sesuatu,

“Aku menunggumu..”

Kemudian ia melepaskan pelukannya dan berbalik pergi. Tanpa menoleh lagi. Karena jika ia menoleh, ia akan melihat wajah Hyukjae lagi. Dan jika ia melihatnya, ia ingin memeluknya lagi dan tak ingin melepaskannya.

“Terima kasih…sudah mau menungguku..”

Sunghee menyeka air matanya yang tiba-tiba turun. Ia menghela napas berat. Ia bertekad akan bertemu dengan Hyukjae. Sudah terlalu lama ia menunggu. Sekarang saatnya mengejar kebahagiaannya lagi.

= = =

Hyukjae memantapkan hatinya. Ia harus mengejar Sunghee. Ia harus ke Indonesia dan merebut gadisnya kembali. Ia sudah mapan, materi bergelimpangan. Apa lagi yang kurang? Mungkin sekarang di mata keluarga Sunghee, dia telah berubah menjadi sosok yang pantas bersanding dengan Sunghee.

“Hyuk, pesawatnya berangkat sebentar lagi.” Donghae menyadarkan lamunannya. Hyukjae mengangguk.

“Ka ja.” Hyukjae melangkah pasti ke dalam dengan Donghae di sampingnya. Hyukjae lebih banyak diam. Bahkan bengong. Jadi terpaksa Donghae yang mewakilinya.

“Untung saja aku ikut. Coba kalau tidak? Mungkin kau akan berdiri di sana tanpa masuk ke pesawat selamanya.” Hyukjae hanya diam. Pikirannya sedang melanglang buana. Raganya ada di bandara, tapi jiwanya ada di tempat lain. Jiwanya ada di gadis itu. Gadis yang merebut hatinya dan tidak akan mengembalikannya.

To be continued

18 thoughts on “[FF] Letters of Hearts part 1

  1. vidiaa says:

    kapan hyuk ke bandung? aku mau ngadu sama dia kalo dia udah bikin aku ribut sama sungmin u,u #plak

    wah, nyambung sama gloxinia toh? untung udah baca, jadi ngerti
    aaaaaa kenapa eunhyuk harus pergi pas sunghee udah nyampe argh geregeeeeeeeet *O*

    ditunggu next partnya ya😀

  2. Dhikae says:

    wuahhh sunghee mianhae baru smpet comment *pdhl dah baca dari lama/plakk
    hehehe ceritanya keren euy
    >____< brasa gi baca scene drama (?) kekeke
    mw lanjut baca part slanjutnya ah~ kekeke
    niceee

  3. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Oh my God, mereka berselisih jalan. Hyuk Jae ke Indo, sedangkan Sunghee baru sampai di Incheon. Kayaknya aku harus baca cerita sebelumnya deCh biar lebih ngerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s