[FF] Autumn and Winter

Casts: Lee Sunghee, Lee Hyukjae, ocs.

Genre: Romance, Friendship, Angst

Rating: G

= = =

Suatu hari di musim gugur, aku dan kekasihku sedang berjalan-jalan di taman kota. Kami sengaja datang kemari karena ingin melhat daun-daun berguguran yang indah. Dan kekasihku menikmatinya.

“Aku suka musim gugur!” serunya saat itu. Aku tertegun.

“Kenapa?” tanyaku lembut.

“Karena daun-daun kering menghiasi jalanan! Daun-daun kering yang berjatuhan seperti sedang hujan itu benar-benar pemandangan yang indah. Aku suka. Kau sendiri suka musim apa, oppa?”

“Hm…musim dingin. Salju dan putih dimana-mana.” Aku tersenyum. Dia mengangguk-angguk.

“Aku juga suka salju. Tapi aku tidak tahan dengan dinginnya.” Sunghee tersenyum lemah. Aku merangkul pundaknya.

“Aku yakin kau pasti sembuh, Sunghee. Nanti kalau kau sehat total, akan kubawa kau berseluncur di salju. Kita buat boneka salju juga. Arasseo?”

“Ne.” Sunghee tersenyum.

Gadisku menderita lupus. Tubuhnya sudah melemah. Dia tidak tahan dingin. Sebenarnya sejak lahir dia memang tidak tahan dingin, entah kenapa. Jadi semenjak kecil, jika winter datang, dia selalu dikurung di dalam rumah dan mendekap di samping penghangat.

Dia suka musim gugur. Anginnya pas, katanya. Sinar matahari juga tidak merusak kulitnya. Dia selalu keluar rumah jika musim gugur datang. Katanya puas-puasin sebelum winter datang.

Aku menarik tangan Sunghee, membimbingnya ke sebuah bangku panjang. Sunghee menyandarkan kepalanya ke pundakku.

“Oppa, dingin tidak?” tanyanya lirih.

“Tidak. Udaranya hangat-hangat saja.”

“Begitu ya?”

“Kamu kedinginan, Sunghee?”

“Emh…tidak juga..” Aku terdiam. Aku lalu merangkul pundaknya dan merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Aku mengeluarkan syal yang kubawa dan memakaikannya padanya.

“Kalau kau kedinginan, kita bisa pulang sekarang.”

“Shireo. Aku masih ingin di sini.”

“…”

“Oppa tenang saja. Tidak perlu takut aku akan sakit. Toh aku sudah sakit..”

“Sunghee..”

“Tapi aku tidak masalah dengan penyakitku ini. Sakit di tulang belakangku sudah kuanggap sebagai terapi sebelum tidur, obat-obatan yang susah kuucapkan namanya itu juga sudah seperti camilan untukku. Kematian di depan mata, aku anggap sebagai teman yang rindu denganku. Ingin cepat-cepat bertemu denganku..”

“…” Aku masih diam. Diam-diam aku menyeka mataku.

“Sunghee..” panggilku.

“Ne, Oppa?”

“Apa aku boleh ikut menemui teman yang rindu padamu itu juga? Aku ingin menemuinya.”

“Oppa pasti bertemu dengannya. Setelah aku. Dia lebih rindu padaku, Oppa,” ia terkekeh. Aku tersenyum tipis menanggapi candaannya. Tiba-tiba Sunghee mulai terbatuk-batuk. Aku khawatir.

“Sunghee, kita pulang saja. Besok kita kemari lagi.”

“Baiklah, Oppa..”

= = =

Esok harinya aku mendatangi rumah Sunghee. Aku menemui Sungmin Hyung, kakak Sunghee, di sana. Dia sedang merangkai sebuah rangkaian bunga Jonquil. Aku menyapanya.

“Oh, annyeong, Hyukie!” sapanya balik. Aku tersenyum.

“Bunga Jonquil…?” tanyaku hati-hati. Sungmin Hyung tersenyum samar. Matanya seakan menerawang.

“Sunghee sangat suka bunga ini. Dia bilang dia ingin aku meletakkan karangan bunga Jonquil di makamnya nanti..” Aku tersentak. Kenapa Sungmin Hyung membuatnya sekarang?

“Apa Sunghee baik-baik saja? Rangkaian bunga itu..”

“Tenang, Hyukjae. Sunghee baik-baik saja. Hari ini dia sedang check-up ke dokter.” Sungmin Hyung tersenyum sambil menepuk pundakku. Aku menghela napas lega. Kami lalu terkekeh kecil.

“Kira-kira dia kapan pulangnya?” tanyaku.

“Dia baru berangkat setengah jam yang lalu. Mungkin masih lama. Eomma bilang ia mau membelikan buku dulu untuk Sunghee. Yah, acara ibu dan anak, mungkin?”

“Hanya mereka berdua yang pergi?” tanyaku agak cemas.

“Tidak. Donghae ada bersama mereka.” Aku tertegun.

“Donghae?”

“Iya. Kenapa?”

“Tidak..”

Beberapa jam kemudian Sunghee pulang ke rumahnya. Wajahnya terlihat sumringah, terlebih ketika ia melihatku.

“Donghae Appa, sini belanjaannya biar aku yang bawa.”

“Aku saja. Aku simpan ke kamarmu ya.” Donghae tersenyum dan berlalu ke kamar Sunghee setelah melirikku sekilas. Aku tertegun. Donghae adalah sahabat baikku. Sampai sekarang pun masih. Tapi…akhir-akhir ini hubungan kami merenggang ketika aku tahu bahwa ia menyukai Sunghee.

“Hyukjae Oppa?” Sunghee menepuk pundakku. Aku tersentak kaget.

“Sedang memikirkan apa?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Bukan apa-apa kok. Sepertinya hari ini kau capek. Mungkin aku mengganggu, sebaiknya aku pulang.”

“Jangan. Aku mau memberikan sesuatu padamu. Ayo ke kamarku.” Sunghee menarikku ke kamarnya. Di tangga, aku berpapasan dengan Donghae. Kami saling bertukar lirikan canggung dan kembali melanjutkan perjalanan masing-masing.

Sunghee membuka pintu kamarnya dan menarikku masuk. Dia segera berjalan ke meja kerjanya dan mengambil sebuah buku agenda. Dia lalu menyerahkan buku itu padaku.

“Ini agendaku selama aku menjadi kekasihmu, Oppa. Di sini banyak foto-foto kita. Lihat.” Sunghee membuka agendanya dan menunjukkan foto saat kami berdua sedang makan berdua di cafe. Ia juga menunjukkan foto saat kami mengunjungi Jepang ketika sakura bermekaran, dan sebagainya. Aku terharu. Gadisku ini sangat baik dan manis.

“Sudah sepuluh tahun ya..” gumam Sunghee. Aku menatapnya.

“Bukankah kita baru berpacaran selama tiga tahun?”

“Bukan. Sudah sepuluh tahun…aku mengidap lupus.”

“…” Aku tersentak. Sunghee memaksakan seulas senyum. Aku pernah membaca suatu artikel tentang lupus. Kebanyakan penderita lupus hanya akan bertahan selama 10 tahun. Meskipun ada yang sampai 20 tahun.

“Tenang, Sunghee. Kau pasti bisa hidup 20 tahun lagi.”

“Tak ada yang bisa menjamin. Daripada mengharap yang tidak-tidak, lebih baik aku mempersiapkan diri untuk bertemu teman yang merindukan aku.”

Aku tidak bisa membalas perkataannya. Aku terlalu takut untuk membayangkannya. Aku tidak mau kehilangannya. Aku ingin bersama dengannya, menemui teman lama itu.

“Aku mencintaimu, Oppa.” Sunghee memelukku. Aku membalas pelukannya. Lama kami berpelukan. Saling bertukar kehangatan. Sampai Sunghee akhirnya melepas pelukannya. Matanya berkaca-kaca.

“Simpan agendanya. Lihat tulisan di belakang agenda itu setahun setelah aku meninggal. Kau janji padaku?”

“Tulisan apa?”

“Pokoknya lihat saja nanti.”

“Berarti aku harus membukanya 10 tahun lagi?”

“Oppa…” Sunghee memelukku kembali. Aku selalu memberinya semangat untuk hidup. Aku selalu menginginkannya untuk hidup. Hidup bersamaku.

“Gomawo…kau mau menerimaku apa adanya. Meski sejak awal kau tahu aku penyakitan, namun kau tetap memintaku menjadi pacarmu. Aku…terharu..” Tubuh Sunghee gemetar. Aku memeluknya hangat. Lama kami terdiam, mengkhayati pikiran masing-masing.

= = =

Musim gugur telah berlalu. Kini salju telah turun. Aku menyeka jendela yang beruap lalu melihat keluar. Hujan salju. Aku menggigit bibir bawahku. Hari ini sangat dingin, Sunghee pasti meringkuk di kamarnya. Aku tidak tega. Segera aku menyambar jaket dan hendak membuka pintu ketika Sora Noona menghalangi jalanku.

“Mau kemana kau? Tidak lihat berita ya? Hari ini akan ada badai salju!”

“Aku tidak peduli! Di hatiku ada badai yang lebih besar, Noona!” Aku menyingkirkan Noona-ku dan segera berlari ke mobil, menghiraukan teriakan Noona-ku memanggil namaku.

Aku mengemudikan mobilku tanpa peduli badai salju yang mulai menerpa. Aku suka winter. Tapi aku tidak suka melihat Sunghee yang kesakitan karena winter. Maka dari itu aku ingin menemani Sunghee. Aku ingin menemaninya melewati winter yang indah namun dingin.

Aku sampai di depan rumah Sunghee. Aku menekan bel. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Aku tertegun ketika melihat Donghae yang membukakan pintu.

“Hyuk..” ujarnya pelan.

“Mana Sunghee?” tanyaku langsung, agak dingin.

“Sunghee sedang tidur di kamarnya.”

“Kenapa kau tahu? Kenapa kau di sini? Kemana Sungmin Hyung?” tanyaku tak suka.

“Sungmin Hyung pergi membeli bunga Jonquil. Aku ditugaskan menemani Sunghee karena di rumah tidak ada siapa-siapa lagi.”

“Kenapa tidak menyuruhku?” ucapku pelan, lebih pada diri sendiri.

“Karena hari ini badai salju dan rumahmu jauh. Rumahku hanya berjarak 2 blok dari sini.”

“Tapi..”

“Hyuk, sepertinya kita harus bicara.” Donghae menarik tanganku untuk masuk ke rumah. Dia menyuruhku untuk duduk di sampingnya, di ruang TV.

“Apa yang harus dibicarakan?” tanyaku langsung.

“Pertama, aku minta maaf karena dekat-dekat dengan pacarmu. Kedua, aku hanya berusaha untuk menjadi kakak yang baik untuknya. Atau Appa baginya. Dia selalu memanggilku dengan sebutan ‘Appa’ bukan ‘Oppa’. Kau jangan berpikiran aneh-aneh tentang hubunganku dengan Sunghee.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin mengatakan, titip anakku Lee Sunghee. Haha…dia sudah kuanggap seperti anak sendiri.”

“Apa maksudmu?” Aku sedang tidak berniat menanggapi candaannya.

“Hyuk, kau tidak akan pernah percaya jika mendengarnya dariku.”

“Apa?” tanyaku tak sabar.

“Jadi lebih baik kau baca saja ini.” Dia menyodorkan sebuah amplop besar coklat padaku. Aku langsung membukanya dan membaca isinya sekilas. Aku tersentak. Ternyata isinya adalah surat wasiat dari Appa Sunghee. Beliau meminta agar Donghae menggantikan posisinya untuk menjaga Sunghee. Dan ia mempercayakan posisi ‘suami Sunghee’ padaku.

“…” Aku hanya terdiam. Tidak tahu harus bicara apa lagi.

“Lalu apa maksudmu dengan ‘titip anakku’?”

“Hey, aku punya kehidupan juga dan aku tidak mungkin merebut Sunghee-mu. Aku akan menikah dengan seorang yeoja yang sangat cantik! Pilihan Eomma-ku. Hehe. Tapi aku menyukainya. Nah, karena aku akan menikah, kau jaga Sunghee baik-baik ya.” Aku tersenyum haru.

“Maafkan aku, Donghae. Aku berpikiran yang tidak-tidak tentangmu.” Aku langsung memeluknya. Donghae terkekeh dan mengangguk. Dia menepuk-nepuk punggungku.

“Mulai sekarang…aku membiarkanmu menjaga Sunghee sepuasnya,” ucapku.

“Jangan, kita berdua.” Donghae tersenyum. Aku mengangguk.

= = =

Suatu hari bersalju yang cerah, aku mampir ke rumah Sunghee lagi. Aku tersenyum riang ketika melihat gadis itu ceria. Dia memakai baju hangat yang tebal. Lebih tebal dari orang lain. Tapi dia tetap ceria. Meski aku yakin ia sangat kedinginan.

“Oppa! Ayo kita jalan-jalan!” serunya. Aku menatapnya dengan mata membelalak.

“Eh? Tapi kan sekarang dingin.”

“Tidak apa, Oppa! Aku pasti kuat menahannya. Hehehe…” Aku menatap pada Sungmin Hyung. Dia hanya mengangguk. Eomma-nya Sunghee juga. Akhirnya aku mengangguk. Aku pun mengajaknya jalan-jalan ke taman.

“Duduk di sana yuk, Oppa!” Sunghee mengajakku ke sebuah bangku panjang. Itu bangku yang dulu kita duduki saat autumn kemarin. Aku membersihkan salju dari bangku itu dan menyilakan Sunghee untuk duduk. Dia tersenyum berterima kasih dan duduk di sampingku. Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Aaah…rasanya menyenangkan..” Sunghee menghembuskan uap air dari mulutnya. Aku tersenyum. Tingkahnya sangat menggemaskan bagiku. Seperti anak kecil yang tidak pernah melihat salju.

“Ah…tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun ya?” ucap Sunghee. Aku mengangguk.

“Sebentar lagi tahun berganti. Tahun depan kita jalan-jalan ke Paris yuk. Kau mau pergi ke sana, bukan?” kataku. Sunghee tersenyum. Dia lalu mengangguk senang.

“Oppa, Oppa, lihat di sana! Ada kucing persia berwarna coklat! Kucing siapa ya?” tanya Sunghee. Aku menatap ke arah yang ditunjuk. Benar saja, kucing itu mengenakan kalung. Pasti ada pemiliknya. Sunghee beranjak berdiri dan mengambil kucing itu. Ia lalu kembali ke bangku panjang.

“Lucu sekali, Oppa…tapi majikannya mana ya?” Sunghee celingak-celinguk. Aku menggumam pertanda tidak tahu.

“Ya sudah, selama menunggu majikanmu, kamu bermain-main denganku ya.” Sunghee melihat kalung itu. Ada nama kucingnya.

“Oh, jadi namamu Honey.. mungkin karena rambutmu yang coklat seperti warna madu?” gumam Sunghee. Aku hanya tersenyum menyaksikan ia bermain dengan Honey.

“Aah..aku sangat ingin memelihara kucing. Tapi Eomma-ku selalu melarang. Katanya virus-virus yang dibawa kucing itu tidak baik, lagipula siapa yang akan merawatnya ketika aku pergi bekerja.”

“Bukankah ada Donghae? Dia kan kerjanya di rumah.”

“Ah, aku tidak mau merepotkan Appa. Dia kan sedang sibuk dengan pernikahannya nanti.”

“Oh iya…lalu kapan kita akan menikah?” tanyaku sambil menatap matanya dalam. Sunghee merona. Dia menunduk sambil memain-mainkan rambut Honey.

“Tenang saja, Sunghee. Pernikahan kita harus lebih meriah daripada pernikahan Donghae!”

“Ahaha…baiklah.”

Sunghee menghela napas. Dia menyandar ke bahuku lagi. Tubuhnya perlahan melemah dan mendingin.

“Sunghee, kita pulang saja..” ucapku khawatir.

“Shireo. Aku masih ingin di sini. Bermain dengan Honey.” Aku tak bisa berkutik. Akhirnya aku membuka mantelku dan memakaikannya padanya.

“Andwae…Hyuk oppa kedinginan..”

“Tidak, aku baik-baik saja. Asal kau tidak kedinginan.”

“Gomawo..”

Sunghee menutup matanya. Aku sempat terkejut, namun dia membukanya lagi. Kini pancaran matanya melemah. Aku segera menggenggam tangannya yang tak sibuk.

“Teman lama itu…sudah semakin dekat, oppa. Dia sudah tidak sabar untuk memelukku..”

“Ja-jangan sekarang, Sunghee. Kumohon..”

“Oppa, teman lama itu ingin mendengar suaramu. Tolong nyanyikan sebuah lagu untuknya..”

Tanpa pikir panjang, aku segera menyanyikan lagu ‘Marry You’ dari Super Junior. Sunghee tersenyum tipis. Dia memejamkan matanya, tangannya masih sibuk dengan Honey. Dia menikmati nyanyianku.

“Himdeulgo uhryuhwuhdo (I do)

Neul naega isseulgge (I do)
Woori hamggehaneun manheun nal dongan (I do)

Maeil gamsahalge (My love)”

Napas Sunghee mulai satu-dua. Gerakan tangannya melemah. Honey mengeong melihat keadaan Sunghee. Seakan mengerti, Sunghee akan pergi.

“Nawa…gyeohronhaejullae…” Suaraku bergetar menahan tangis. Genggaman tangan Sunghee melemah. Aku meraba nadinya. Aku semakin terisak.

“Nawa gyeohronhaejullae, Sunghee? Nawa gyeohronhaejullae, nae sarang? Nawa gyeohronhaejullae, jagiya?” tanyaku beruntun. Tapi aku tidak mendapat jawaban. Aku kembali menangis. Sunghee pergi menemui teman lamanya dengan senyuman. Aku segera merengkuh tubuhnya yang dingin.

“Saranghae….Saranghae nae Sunghee…jeongmal saranghae…pergilah dengan tenang..”

Honey terus mengeong di pangkuan Sunghee. Aku menangis sesenggukan.

“Akhirnya…kau bertemu teman lama yang merindukanmu, Sunghee..” Aku mencium keningnya lama. Air mataku menuruni wajahnya yang pucat.

= = =

Aku meletakkan karangan bunga Jonquil di makam Sunghee. Aku lalu mendoakannya. Setelah berdoa, aku duduk di samping makamnya. Aku menatap tiga buah karangan bunga Jonquil di atas makamnya. Aku tersenyum.

“Semuanya menyayangimu, Sunghee. Kau senang bertemu teman lamamu?” Aku menghela napas. Aku membersihkan makam Sunghee dari dedaunan kering. Namun tiba-tiba aku tersentak.

“Ya Tuhan, sekarang sedang musim gugur! Sebaiknya aku biarkan saja makammu dipenuhi daun kering atau kubersihkan? Tapi kau suka daun musim gugur ya..” Akhirnya aku membiarkan daun-daun itu menjatuhi makam kekasihku.

“Sunghee, aku ijin membuka halaman terakhir agendamu ya. Tapi aku akan membacanya di taman, di bangku panjang itu.”

Hening.

“Sudah sore. Aku pulang dulu ya, Sunghee. Annyeong! Aku akan mengunjungimu besok.”

Aku pun meninggalkan makam itu dengan perasaan berat. Tapi aku memaksakan kakiku untuk terus melangkah. Melangkah ke depan dan terus melangkah. Hingga akhirnya aku sampai di taman kota. Aku duduk di bangku panjang tersebut. Aku membuka halaman terakhir dengan was-was.

“Oppa, kau membacanya setelah aku meninggal, kan? Baguslah. Hehehe ^^

Begini oppa, hm..mungkin ini agak konyol, tapi aku percaya satu hal. Aku yakin kau akan menemukan seseorang yang mirip denganku hingga kau menyangka ia adalah reinkarnasiku. Kenapa? Karena aku sebenarnya dilahirkan kembar, Oppa. Terkejut? Hehe, aku juga. Aku baru tahu berita ini ketika aku berumur 17 tahun. Tapi aku sengaja menyembunyikannya. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Dia mirip sekali denganku. Bahkan namanya juga.

Dia memiliki sifat yang tak jauh berbeda dariku. Tapi kurasa ia versi ‘tomboy’ dariku. Tapi tenang oppa, dia gadis yang manis dan cute. Kuharap kau bertemu dengannya.

Have a nice day,

Saranghae.”

Aku membaca tulisan itu. Aku mengernyit. Aku sendiri baru tahu Sunghee ternyata kembar. Tiba-tiba kakiku didekati sesuatu. Aku tersentak kaget. Aku melihat ke bawah dan ternyata Honey. Aku tersenyum. Aku lalu menggendongnya.

“Hey, Honey! Lama tak jumpa!” Honey mengeong menjawab sapaanku.

“Eh, maaf Tuan, itu kucingku..” suara seseorang. Aku melihat ke depan. Seorang wanita sedang berdiri sambil terengah-engah dan menunjuk ke Honey. Perempuan itu mengucir rambutnya seperti ekor kuda, dia memakai dress selutut berwarna putih. Aku tersentak. Motif dress-nya adalah bunga Jonquil, begitupun dengan kalung di lehernya. Saat aku melihat wajahnya, aku teringat seseorang.

“Sunghee?” seruku kaget. Gadis itu tak kalah kaget.

“Well, kau mengucapkan nama kakak kembarku,” ujarnya. Aku tertegun.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Lee Sunhee. Dan…kau? Siapanya Sunghee?”

“Lee Hyukjae. Aku kekasihnya.”

“Jinja?!” serunya. Ah, Sunghee benar. Sunhee mirip sekali dengannya. Bahkan ekspresinya saat kaget.

“Silakan duduk, Sunghee..”

“Namaku Sunhee, Tuan.”

“Oh, maaf. Oh ya panggil saja aku Oppa. Aku tidak setua itu.”

“Hehehe baiklah, Oppa. Oh, sepertinya Honey sudah biasa denganmu?”

“Kami pernah bertemu sebelumnya. Honey juga bertemu dengan Sunghee.”

“Benarkah?!”

“Iya. Sesaat sebelum Sunghee meninggal. Saat Sunghee meninggal, Honey ada di pangkuannya.”

“Begitukah? Wah…” Sunhee menganga tak percaya. Aku tersenyum. Dia cute juga.

“Sunghee selalu bilang ia ingin memelihara kucing,” Sunhee memulai. “Tadinya aku akan memberikan Honey padanya, tapi Eomma melarang. Ya sudah aku saja yang pelihara.”

“Hm…dia sangat senang ketika melihat Honey.”

“Iya. Tadinya aku mau menamai kucingku itu Choco karena Sunghee suka cokelat. Tapi tidak jadi. Kata Sunghee namanya tidak cocok.” Aku tertegun.

“Hey, Choco itu nama anjing peliharaanku!” seruku. Sunhee juga kaget.

“Benarkah? Hahaha jodoh!” ujarnya. Aku tersenyum tipis. “Eh maaf, aku berbicara dengan lancang..”

“Tidak masalah.” Aku tersenyum. “Tapi ngomong-ngomong kau kemana saja sampai jarang bertemu dengan kembaranmu?”

“Oh, aku sekolah di Amerika. Aku ikut Appa.”

“Hah?! Bu-bukankah Lee Ahjussi sudah meninggal dunia?”

“Enak saja! Ia masih hidup! Masih sehat malah! Keluarga kami juga baik-baik saja. Tidak tercerai-berai.”

“Tapi…Donghae waktu itu memberikan surat wasiat Lee Ahjussi..”

“Itu memang Appa-ku yang menyuruhnya. Appa-ku kan iseng. Tapi urusan menitipkan Sunghee pada Donghae itu benar, kok.”

“Oh, ya ampun..”

“Kaget ya? Hahaha..” Sunhee tertawa riang.

“Tentu saja! Keluarga kalian itu penuh kejutan!”

“Tentu saja! Itulah yang membuatku tidak bosan hidup! Selalu ada kejutan!”

“Maksudmu?”

“Aku mengidap lupus…hidupku tinggal satu tahun lagi..”

“Apa?”

“Tapi aku bercanda! Hahahaahha lihat wajahmu, Tuan! Shock!”

“Sunhee!!! Ini tidak lucu!!” Sunhee bangkit dari duduknya dan berlari. Aku mengejarnya sambil menggendong Honey.

“Kau melupakan kucingmu, bodoh!”

“Hahahahahaha!!!” tawa Sunhee riang. Aku tersenyum.

Yah…sepertinya memang ini takdirku. Mengejutkan. Aku membuka-buka agenda Sunghee. Aku tertegun. Ada satu foto terselip di tengah halaman. Aku mengambilnya. Itu foto Sunghee dan seorang gadis di sebelahnya. Aku yakin itu Sunhee. Dan di belakangnya…itukan aku! Ini diambil saat festival di kota waktu aku berumur 19 tahun. Aku sedang tertawa dengan teman-teman. Wah…mungkinkah ini jodohku yang sesungguhnya? Lee Sunhee. Hmm…dia suka musim apa ya?

“Oppa! Lelet sekali jalanmu! Ayo kita nikmati daun berguguran! Aku suka musim gugur!” seru Sunhee. Aku tersenyum.

Akankah Autumn dan Winter bersatu lagi? Selamanya? Semoga.

THE END

27 thoughts on “[FF] Autumn and Winter

  1. shinhyunrin says:

    anyeong saeng . .
    bogoshipo~

    sedih . . T.T
    ga duga ternyata sunghee’a mnggl d’pelukan hyuk trus ga nyangka lagi klo sunghee punya kembaran sunhee . .
    menakjubkan
    nice ff saeng🙂

  2. rabbitpuding says:

    awalnya, mirip sama ff yg pernah aku baca kapaaaan gitu.
    Ceritanya juga ada yang mirip di ff yang ak temuin di mbah google pas nyari sad ending.
    Jadi udah kebaca semua deh ceritanya. Kekeke
    aku yaking ini bukan kesengajaan kok. Wajar.

    Bagus tapi kurang tragis, di sini sunghee asa jadi imej yang manis sama sedikit manja yah? Tumbenan.

    Hwaiting…

  3. amitokugawa says:

    ceritanya penuh kejutan! walaupun ada character death *hiksu hiksu*
    berarti sunhee orangnya ceria gitu ya? ikut appa-nya berarti…

    oya, nisa, aku mau kritik dikit,
    “akhir-akhir ini hubungan kami merenggang ketika tahu bahwa ia menyukai Sunghee.”
    kan subjeknya ga jelas tuh, bagusnya jadi ,”…ketika aku tahu bahwa ia…”

    hwaiting!!!

  4. vidiaa says:

    oke aku nangis lagi baca nih FF. tapi ga kayak FF yang pertama aku baca tadi😀

    aku kira nantinya Eunhyuk bunuh diri karena stress #plak ._.

    suka FFnya,bahkan aku ganyangka endingnya kalo ternyata sunghee punya kembaran ._.

    suka alurnya🙂

  5. Dhikae says:

    mngharukannnn
    gak nyangka si sunghee itu pny kmbaran
    ini udah kayak drama aja/plakkk
    hehehe ff kamu sll bagus sunghee
    gak terduga tak disangka/plakk
    niceeeeeeeee ff ^^bb

  6. chingzz says:

    nak, nak… kok buat ff angst banget sih.
    awalnya saia udah kaget, cantik, muda, baek pula.. kena lupus TT__________TT
    itu penyakit paling menyedihkan.
    aduh, saia beneran kasian sama penderitanya.
    ga bisa merasakan nyamannya sinar matahari.

    ff-mu emang selalu daebak, author.
    bahasanya simpel, tapi alur ceritanya selalu mengalir. LOVE IT❤

    oh yah, saia ada saran, tapi gomen kalo terkaan saia itu meleset.
    buat kalimat:
    Jadi semenjak kecil, jika winter datang, dia selalu dikurung di dalam rumah dan mendekap di samping penghangat.

    er, kalo ga salah ‘mendekap’ itu punya arti memeluk, kaenya lebih pas kalo diganti ‘mendekam’ deh O__________o

    gomenne atas kecerewetan saia #LOLs

    from: @azuracaelestis
    http://azura-caelestis.livejournal.com

  7. dhila_あだち says:

    huwaa..
    keren dan mengharukan..
    bagus ini, tak ada kissu2nya…
    dan tak tertebak..!!!
    wkwkwkwkwk..

    bikin lagiii..
    b^^d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s