[FF] I Hate This Feeling towards You part 3

Annyeonghasaeyo! Mian baru update sekarang. Aku sibuk sama ujian dan tetek bengek lainnya. Hehehe…langsung aja mulai. Ini part terakhir.

Casts: Eunhyuk, Donghae, Raeki, Sunghee, Key, Taemin, Yunho, ocs.

Genre: Romance, Angst, Tragedy,  a little YAOI

Rating: PG-13

Note: This is the side story of “Mianhae, My Lover”. Hope you enjoy it. DON’T LIKE, DON’T READ.

Malam musim dingin, aku menekan bel pintu flat Donghae. Tapi pintu itu tak kunjung terbuka. Aku menunggu cukup lama hingga seorang gadis menegurku.

“Hey, Donghae sedang tidak ada di flatnya. Dia bilang padaku bahwa ia ingin pergi ke taman.”

“Taman mana?”

“Dekat bangunan flat ini, sekitar dua blok ke arah kanan.”

“Oh, terima kasih banyak. Boleh tahu siapa namamu?”

“Raeki. Kang Raeki. Aku teman baik Donghae.” Raeki tersenyum.

“Terima kasih sekali lagi, Raeki.”

Aku pun pergi ke taman yang dimaksud Raeki. Benar saja, Donghae sedang duduk di salah satu ayunan. Dia diam sambil termenung. Aku pun menghampirinya.

“Hello, brother,” sapaku. Donghae mendongak. Dia lalu tersenyum.

“Hey..” balasnya pelan.

“Aku harus membicarakan sesuatu denganmu. Bisa?”

“Hm..” Dia melihat ke arah lain. Seolah menghindari tatapanku yang lembut. Mungkin sekarang dia benci tatapanku.

“Ehm..Donghae, aku sudah memikirkan hal ini masak-masak. Bagaimana kalau kita…mulai dari awal?” Aku duduk di ayunan sebelahnya.

“Hm? Mulai dari awal?” Dia menoleh padaku.

“Ya.  Bagaimana? Anggap kau tidak mengenalku. Mulai sekarang kita berkenalan dan menjalin hubungan pertemanan yang baik. Setuju?”

“Er…aku mau saja. Tapi mungkin sulit.”

“Tak apa. Kita pasti bisa. Tidak sesulit itu..” ucapku pelan. Aku sendiri merasa tidak yakin dengan perkataanku.

“Bicara memang gampang.” Donghae tersenyum. Aku tersenyum tipis.

“Jadi, mulai dari awal?”

“Hhh…aku tidak yakin.” Donghae menghela nafas.

“Kita pasti bisa.”

“Oke, coba. Hai, namaku Lee Donghae. Kau?”

“Lee Hyukjae.”

“Senang bertemu denganmu, Hyukjae. Well, sedang apa kau di sini?” kata Donghae cepat dan pura-pura ceria. Aku menangkap setitik nada kesal di rentetan perkataannya.

“Oh, aku hanya berjalan-jalan mencari udara segar. Ngomong-ngomong aku baru melihatmu. Tinggal di sekitar sini?”

“Ya, di flat itu.” Donghae menunjuk sebuah gedung flat. “Kau sendiri?”

“Di apartemen..”

“Oh ya well aku tahu apartemenmu karena aku pernah ke sana.” Donghae memotong perkataanku lalu mendengus kesal. Aku menghela napas. Kutatap ia dengan pandangan memohon.

“Apa?” balasnya ketus. Dia lalu mengambil ponselnya dari saku celana dan asyik berkutat dengannya. Aku tidak dianggap. Baiklah, mungkin lebih baik aku menjauh saja daripada memulai dari awal dengannya.

Saat aku hendak berdiri, suara Donghae menghentikanku.

“Aku ingin mulai dari awal denganmu dengan pelan-pelan. Beri aku waktu setidaknya seminggu.”

Aku tertegun. Ternyata dia menganggapku ada dan mendengarkan setiap kata yang kuucapkan. Diam-diam aku tersenyum.

“Tapi..di hari pernikahanmu nanti, apa aku harus bersikap seolah aku baru mengenalmu selama satu bulan? Atau harus bersikap seperti seseorang yang baru kau temui di pinggir jalan dan kau mengundangku hanya karena kelebihan selembar undangan? Harus yang mana?” tanyanya. Aku berbalik menghadapnya.

“Kau tahu darimana?” tanyaku pelan, nyaris seperti bisikan.

“Key…dan Raeki.” Dia berdiri. “Sunghee juga memberitahuku. Raeki adalah sepupunya, ia tahu itu dari Raeki.” Aku tertegun. Sudah lama aku tidak mendengar kabar dari Sunghee, mantan gadisku. Semenjak Hankyung meninggal, ia seolah menghilang. Atau hanya aku yang jarang menemuinya sedangkan Lee Sunghee masih ada di sekitarku? Entahlah.

“Sunghee..?” Suaraku tercekat. Donghae mengangguk. Dia membersihkan bajunya dari salju. Hujan salju turun lagi.

“Ya, dia sering datang kepadaku. Dia sering bercerita tentang Chaerin, tentang buku-bukunya, tentang masa lalunya, juga tentangmu. Dia bercerita semuanya padaku. Dia juga bilang bahwa dia sedih karena kau menjauh. Padahal dia ada.” Aku tertegun, lagi. Jadi benar, sebenarnya dia ada di sekitarku tapi hanya aku yang tidak menyadarinya. Aku yang terlalu sibuk dengan duniaku. Aku yang terlalu sering mengurung diri di apartemen.

“Dia sering mengirimimu surat elektronik. Kau pasti tidak pernah memeriksanya.”

Ya Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini? Seharusnya aku ada disisinya, menemaninya, menggantikan posisi Hankyung.

“Dia masih mencintaimu.”

Aku juga. Tapi…aku sudah menerima perjodohanku dengan Min Nami.

“Dia sedih ketika kau akan menikah.”

Tentu saja. Aku mengerti bagaimana rasanya.

“Tapi…dia tidak membenciku, kan?” tanyaku hati-hati. Donghae mengerutkan kening.

“Aku yang dijauhi lebih lama darinya saja tidak bisa membencimu. Bagaimana dengannya?”

Aku serasa dipojokkan. Donghae menatapku tajam. Aku menunduk. Menatap ujung-ujung sepatuku yang putih terkena salju.

“Jika kau mau menjauh dariku, bahagiakan Sunghee untuk yang terakhir kalinya.” Perkataannya menusuk jantungku. Apa maksudnya?

“Ma-maksudmu?”

“Aku akan menerima kepergianmu jika kamu membahagiakan Sunghee untuk yang terakhir kalinya.”

“Kenapa terakhir kali?”

“Hah sudahlah lupakan.” Donghae berjalan menjauh. Aku bergerak hendak mengejarnya namun tiba-tiba aku berhenti. Aku berbalik arah, berlari ke apartemenku yang cukup jauh dari gedung flat Donghae. Aku terus berlari, tidak peduli dengan jalanan yang licin, tidak peduli dengan salju yang terus turun semakin deras menghalangi pandanganku, tidak peduli aku menabrak banyak orang. Aku terus berlari. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku berlari seperti ini. Aku ingin apa? Aku tidak tahu. Dan itu membuatku takut.

Akhirnya aku sampai di depan gedung apartemenku. Aku menghentikan langkahku yang melambat. Napasku tersengal-sengal. Aku menatap ke satu sosok. Sosok itu adalah seorang gadis. Seorang gadis yang memakai dress selutut polos tanpa lengan berwarna hitam, sepatu flat berwarna hitam, rambut yang diikat setengah dengan mengenakan pita hitam. Kontras sekali dengan sekitarnya yang berwarna putih. Dia menatap ke atas dengan posisi yang aneh. Kaki kirinya ditekuk sedikit ke belakang, seakan belum menyelesaikan langkahnya. Kedua tangannya terjuntai begitu saja di sisi tubuhnya. Kepalanya menengadah, mengarah ke satu titik. Jendela apartemenku.

Aku masih diam. Merasa terpana dengan pemandangan 7 meter di hadapanku. Seakan menyadari kehadiranku, dia menoleh. Mata abu-abunya menatap kosong ke arahku. Posenya masih sama, masih kaku seperti semula.

“Hey, Oppa..” sapanya dengan intonasi yang aneh. Aku merinding. Kurasakan bulu kudukku berdiri. Apa karena udara sedang dingin?

Aku melepas jaketku dan menghampirinya. Aku lalu menyampirkan jaketku ke pundaknya. Dia menatapku. Tatapannya tidak bisa kuartikan. Dia seperti melihat seorang…kakak?

“Lee Sungmin..” ucapnya pelan.

“Ada apa dengan Sungmin?” tanyaku tak kalah pelan sekaligus lembut.

“Oppa!” Sunghee memelukku cepat. Aku tertegun. Tubuhnya dingin sekali. Aku membersihkan rambutnya dari salju-salju yang menuruni kepalanya. Lalu aku melindungi kepalanya dengan tanganku.

“Sungmin oppa..” ucapnya lagi.

“Aku Hyukjae,” bisikku pelan. Tapi aku yakin ia mendengarku.

“Hyukjae, Lee Hyukjae?”

“Ya, siapa lagi?” Aku terkekeh lembut. Tapi aku masih tegang. Ada apa dengan Sunghee? Kenapa dia aneh sekali?

“Jiwanya terganggu,” kata sebuah suara dari belakang. Kang Raeki. Aku menatapnya.

“A…pa?”

“Sungmin meninggal kemarin malam karena sakit.”

“Sakit apa?”

“Lupus.”

“Oh..” Itu penyakit yang jarang. Pantas saja Sungmin Hyung jarang keluar rumah, selalu memakai tangan panjang, menghindari matahari.

“Sunghee frustrasi. Dia hanya mempunyai kakaknya, karena calon suaminya meninggal, orang tuanya entah dimana, yang ia miliki hanya kakaknya dan aku. Dia sering bercerita pada Donghae, dia ingin bercerita padamu tapi kau selalu menjauh.”

Aku terdiam sambil menatap Sunghee di pelukanku. Dia menenggelamkan wajahnya ke dadaku.

“Dia semakin frustrasi ketika mengetahui bahwa kau akan menikah. Dia ingin kembali padamu tapi tidak mungkin.”

“Tidak, masih mungkin! Aku akan membatalkan perjodohanku dengan Nami! Asalkan Sunghee bisa bahagia bersamaku, asalkan Sunghee sembuh!”

“Sunghee tidak sakit!” seru Raeki marah. Aku terpaku.

“Kau yang sakit!” lanjutnya menusukku. Aku diam. Aku tidak mengerti maksud ucapannya.

“Kau yang sakit, Lee Hyukjae! Kau yang kehilangan pikiranmu, kehilangan jiwamu!”

“Jelaskan semuanya padaku, Raeki! Aku tidak mengerti!” Aku balik berteriak padanya. Sunghee masih diam di pelukanku. Tubuhnya gemetar.

“Jelaskan di apartemenku, di sini dingin. Sunghee gemetaran.”

= = =

“Sebenarnya…sekitar seminggu yang lalu, Key mendatangi rumah Sunghee. Kebetulan aku sedang ada di sana. Key bilang pada kami bahwa kau akan menikah.”

“Tunggu, apa hubungan Key dengan kalian berdua?” tanyaku. Sunghee masih ada di sampingku. Di dalam rangkulanku. Matanya terpejam damai.

“Ya, ampun! Key itu pacarku, dia juga sahabat Sunghee waktu SMP.”

“Oh…lalu?

“Tapi bukan itu intinya. Ada satu hal lagi yang disampaikan Key, yang lebih penting daripada berita kau akan menikah.”

“Apa?”

“Sewaktu Key datang ke Eszo Club, dia bertemu dengan Yunho.” Nama itu membuatku tercekat.

“Lalu Yunho mendatangi Key dan langsung melabraknya. Yunho tahu kau dan Donghae ikut kompetisi dance itu, dan dia tidak menyukainya. Yunho memaksa Key untuk memberitahunya dimana rumahmu, atau rumah Donghae sekarang. Key tidak mau menjawabnya. Dia merasa Yunho adalah seseorang yang jahat. Tapi Yunho terus memaksa sampai menonjok Key. Mereka terlibat perkelahian. Tapi untungnya mereka berhasil dilerai.”

Raeki mengambil jeda. Dia menatap Sunghee sesaat sebelum melanjutkan,

“Key datang ke rumah Sunghee untuk meminta maaf. Dia tidak bisa menjaga Hyukjae-nya. Yunho datang bergerombol, Key kalah. Bukan saat itu saja mereka berkelahi. Yunho terus mendatangi Key.”

“Jadi maksudmu, Yunho ada di Korea?”

“Ya, dan dia mengincar Donghae. Dia target utamanya.”

“Bukankah Yunho sudah mengetahui letak flat Donghae?”

“Apa kau tidak tahu bahwa Donghae suka berpindah-pindah?”

“Apa?”

“Terkadang ia menginap di apartemen Taemin. Terkadang ia pergi ke Busan dan menginap selama beberapa hari ke sana. Kadang ia menginap di rumah Sunghee. Kadang dengan Key.”

“Lalu?”

“Yunho sekarang sudah tahu dimana Donghae. Di hotel tempat Key menginap.”

= = =

Aku terus mengemudikan mobilku ke hotel yang dimaksud Raeki. Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan 140 km/jam. Napasku memburu. Memang aku yang tidak peka dengan sekitar. Sebenarnya ada apa denganku? Biasanya aku tidak seperti ini.

Sampai di lobby hotel, aku segera melesat ke kamar nomor 784. Pintunya terbuka sedikit. Terlihat dari sela-sela pintu, Key sedang berdiri. Mulutnya bergerak seperti sedang mengucapkan sesuatu. Wajahnya tegang namun menantang dengan berani. Aku mendengar suara Yunho dari dalam. Tapi aku tidak mendengar suara Donghae.

“Dimana Donghae?!” bentak Yunho.

“Aku tidak tahu! Dua minggu yang lalu dia memang disini, tapi dia sudah pergi!”

“Kemana?! Cepat beritahu aku!”

“Aku tidak tahu! Dia tidak bilang!”

“Bodoh!” BRAAK…kulihat Key tersungkur ke belakang dan sepertinya menabrak meja. Yunho maju selangkah, membuatku bisa melihatnya dari sini. Yunho tersenyum sinis, wajahnya merah karena amarah. Di tangannya terlihat sebuah posau belati yang mengkilap terkena cahaya lampu. Aku tersentak.

“Orang tak berguna sepertimu seharusnya mati!” Yunho mengacungkan pisaunya. Aku segera mendorong pintu dan menepis tangan Yunho. Pisau itu terlempar ke balik meja komputer.

“YAH!” bentak Yunho tidak terima.

Eomma Donghae meninggal, dibunuh Yunho. Donghae sibuk mengurusi pemakaman ibunya. Sebulan yang lalu, bertepatan saat aku bertunangan dengan Min Nami..

Donghae depresi, tadi pagi dia ke Korea, karena tahu di Korea ada Yunho, dia pergi lagi ke Inggris. Tapi pesawat yang ditumpangi Donghae kecelakaan…

Donghae selamat, dia segera mencari bandara terdekat dan pergi ke Korea lagi, ingin menemui seseorang..

Aku tertegun. Seperti ada yang berbisik di dalam kepalaku. Aku terpaku sambil memegangi kepalaku. Kepalaku sakit sekali rasanya. Mungkin aku mulai sakit jiwa.

“Hyung..” ucap Key pelan. Dia berdiri tertatih menghampiriku dan merangkulku.

“You okay?” tanyanya. Aku masih diam.

Lindungi Donghae untuk terakhir kalinya. Sebelum aku pergi..

Aku siapa? Diriku? Aku akan pergi ke mana?

“Key, jika aku pergi, kau temani Donghae ya.”

“A-apa? Kau akan pergi kemana?” Key heran. Tapi aku tidak menjawabnya. Aku menatap ke arah Yunho, menatapnya.

“Kalau kau ingin membunuh Donghae, bunuh aku terlebih dahulu.”

“Baik, bukan lawan yang sulit.”

Aku mulai menendang perut Yunho. Dia tersungkur ke belakang. Tapi kemudian dia segera bangkit dan menyerangku. Dia menonjok pipiku, dia berputar lalu menendang ulu hatiku. Aku meringis kesakitan. Yunho hendak menonjok tubuhku lagi ketika aku menahannya dan memelintirnya ke belakang. Yunho meringis kesakitan.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Key memungut pisau yang jatuh. Dia hendak menikam Yunho. Tapi Yunho melihatnya terlebih dahulu. Dia berbalik dan…

“Key a..” Yunho menarik tangan Key yang memegang pisau dan mengarahkannya ke ulu hatiku. Key yang tidak sempat mengelak hanya tercekat ketika pisaunya tepat mengenai ulu hatiku.

“..was…” lanjutku. “A.aahh..”rintihku pelan. Yunho tersenyum senang dan mencabut pisaunya dari ulu hatiku begitu saja. Menambah rasa perih yang kurasakan. Mata Key berkaca-kaca.

“Hyung, maaf..” ucapnya pelan.

“Aish, kau mengganggu!” Yunho menarik pisau di tangan Key dan menusukkanya ke jantung Key. Key pun tewas seketika.

“HYA!” teriakku. Yunho langsung berlari keluar. Aku menatap Key dan berlutut di sampingnya.

“Ya Tuhan Key…maaf aku tidak bisa menyelematkanmu..” Aku mengusap wajah Key dari keningnya sampai ke dagu, menutup matanya. Air mataku menetes ke mata Key, lalu menuruni pipinya, seakan Key yang menangis. Aku mendesah pelan lalu bangkit berdiri. Dengan tertatih aku mengejar Yunho.

Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan penuh. Jalanan kosong karena sekarang malam hari. Mobil Yunho menghilang begitu saja. Aku bingung mau kemana. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke bandara. Ada sesuatu yang mendorongku melakukan hal itu. Seperti saat aku berlari ke apartemenku dan menemui Sunghee di sana.

Penglihatanku mulai buram. Aku menyipitkan mataku, berusaha menajamkan penglihatan. Kepalaku pening. Rasa sakit di perutku tidak tertahankan. Aku menyetir dengan sebelah tangan sedangkan tanga satunya sibuk memegangi lukaku yang menganga.

“Donghae ya..kau dimana?” Aku menggapai ponselku di dashboard, terpaksa aku menggapainya dengan tangan penuh darah. Aku menekan speed dial Donghae. Tidak diangkat. Aku takut Yunho mendahuluiku.

Tiba-tiba di hadapanku ada sesosok namja. Aku menghindari tubuhnya. Dan aku terkejut ketika ternyata namja itu adalah Donghae. Terima kasih Tuhan, aku tidak terlambat.

Donghae menolongku. Dia memanggil ambulans. Dan akhirnya aku ada di dalam ambulans itu. Donghae memerah, wajahnya emosi. Dia marah pada petugas medis yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku yakin aku akan pergi sekarang. Makanya aku merasa aneh akhir-akhir ini. Aku menjauh sedikit demi sedikit. Dan sekarang saatnya pergi.

“Sa….rang…hae..”

Dan semuanya gelap. Aku pergi untuk selama-lamanya.

 

By: Lee Sunghee

December, 18th

 

= = =

“Lee Sunghee, kau punya indera keenam ya?” Donghae meletakkan beberapa lembar kertas yang dijepit ke atas meja café. Sunghee menatapnya.

“Kurasa.”

“Kenapa kau bisa tahu apa yang Hyukjae rasakan? Apa yang Hyukjae lakukan ketika kau tidak ada di sebelahnya?”

“Aku selalu ada di sisinya. Aku selalu memperhatikannya diam-diam. Aku selalu mengikutinya kemanapun.”

“Memang kebanyakan dari cerita yang kau buat ini mirip dengan aslinya, tapi ada beberapa yang berbeda.”

“Aku tidak mengikuti Hyukjae setiap saat. Ketika Hyukjae di Inggris, aku meminta bantuan Autumn untuk mengamatinya.”

“Untuk apa kau melakukan ini semua?”

“Agar kau tahu bagaimana perasaan Lee Hyukjae.”

“…” Donghae terdiam.

“Tapi ini hanya perkiraanku saja. Aku bisa..ya..seperti mendapatkan pendengaran tentang apa yang dilakukan Hyukjae…dan sebagainya..”

“Aku tidak mengerti. Hey, kau sudah sembuh dari gangguan jiwamu?”

“…”

“Baik, jiwamu masih terganggu.”

“Percayalah padaku, kurang lebih kisah hidup Hyukjae begini adanya.”

“Ya…aku percaya. Ceritanya memang masuk akal. Lagipula kau memang suka membuat cerita yang mirip dengan kenyataan, atau menjadi kenyataan. Tidak diragukan lagi.”

“Terima kasih…”

Hening.

“Bagaimana kabarmu dengan Nami?”

“Oh, baik. Kami bahkan sudah memiliki satu anak.”

“Aku turut senang.”

“Lalu bagaimana denganmu? Aku belum pernah bertemu dengan suamimu. Kau benar-benar misterius. Menikah pun diam-diam. Aku jadi curiga.”

“Aku tidak diam-diam. Kau saja yang tidak datang.”

“Ah sudahlah.”

“Suamiku ada di sana.” Sunghee menunjuk ke tempat parkir. Di sebuah mobil hitam metalik, seorang lelaki putih memakai kaca mata sedang berkutat dengan buku di hadapannya.

“Sepertinya dia orang yang pendiam.”

“Ya.”

“Sepertimu.”

“Ya.”

“Kau mau menerbitkan cerita ini?” Donghae menunjuk kertas di meja. Sunghee mengangguk.

“Jika kau tidak keberatan. Kisah ini betul-betul menarik,” katanya.

“Ya, memang. Aku tidak keberatan. Publikasikan saja.”

“Baiklah.”

“Yah…”

Hening lagi.

“Honornya dibagi dua,” kata Sunghee tiba-tiba.

“Lho, kenapa?”

“Kebanyakan cerita dari sini kan cerita darimu juga. Kamu banyak memberi informasi. Dibagi dua saja.”

“Ah, tidak usah. Buatmu saja.”

“Baiklah, 20% untukmu. Anggap saja komisi.”

“Hahaha baiklah.”

“Oke, aku pergi dulu.” Sunghee berdiri dan berlalu dari hadapan Donghae.

= = =

Donghae duduk di samping sebuah makam.

“Hyuk, Sunghee membuat cerita tentangmu. Kau senang?” Angin berhembus.

“Kurasa kau senang.” Donghae tersenyum.

“Hyuk, apa kau tahu siapa nama anak pertamaku dengan Nami?” Udara tak bergerak.

“Namanya Lee Hyukjae. Dan sekarang Nami sedang mengandung anak kedua kami. Jika perempuan, akan kuberi nama Lee Sunghee, jika laki-laki..bagaimana jika Donghyuk? Gabungan dari nama kita.” Angin berhembus lebih kencang. Donghae tertawa.

“Baiklah, kau setuju. Langit mendung, sepertinya akan turun hujan. Aku jemput Hyukjae dari sekolah dulu ya. Annyeong, Hyuk ah.” Donghae berdiri dan tersenyum sebelum meninggalkan pemakaman itu. Donghae tertegun. Dia berbalik. Dia seperti melihat Hyukjae tersenyum ke arahnya dan melambai. Donghae terdiam. Lalu ia tersenyum.

“Jika aku bisa melihat arwah, aku ingin melihat arwahmu setiap hari.”

END

14 thoughts on “[FF] I Hate This Feeling towards You part 3

  1. Dhikae says:

    ahhhh ceritanya bener2 keren dd^^bb
    donghae menyusahkan tpi aku suka lol~
    kyaaaa jadi ini smw crita yg dikisahin sunghee..
    hahah emg nyatanya sunghee rada2 kok/plakk becanda ding.. keke
    ayoo buat lagi eunhae yg so sweet wkwkwk *reader byk mintanya -____-*
    bagusss author… dd^^bb
    ceritanya menegangkan dan juga tragis.. love this ff

    • sungheedaebak says:

      gomawo~~~ hahaha ^^
      betul! ga ketahuan ya? hohoho. tapi aku mengakui sunghee itu rada-rada ckckck *geleng2in pala*
      aduuuh aku susah kalo bkin eunhae atau ff yaoi lainnya haha. bisanya yg straight
      hehe gomawo lagi

  2. amitokugawa says:

    ahhh…jadi ini ceritanya sunghee?
    keren! cuma feelingnya yang salah, tapi ga ada skinshipnya sama sekali..

    two thumbs up!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s