[FF] I Hate This Feeling towards You part 2

Casts: Eunhyuk, Donghae,  Sunghee, Taemin, Key, ocs.

Genre: Romance, Angst, a little YAOI

Rating: PG-13

Note: This is the side story of “Mianhae, My Lover”. Hope you enjoy it. DON’T LIKE, DON’T READ.

PART 2

Aku cepat-cepat pergi ke rumah Chaerin yang ramai. Aku mencari-cari sosok Donghae. Dan aku menemukannya. Di sana, ia berdiri sambil menangis. Ia menggunakan baju serba hitam. Ya ampun..sudah lama aku tidak melihatnya.

“Hae..” sapaku.

“Jangan bicara padaku!” desisnya. Dia pun berlalu pergi. Aku menghela nafas, merasa sakit hati. Aku lalu mengejarnya.

“Hae, aku minta maaf!” seruku saat kami sudah berada di luar rumah. Hae tetap diam. Dia tetap berjalan.

“Hae..aku tahu aku salah, aku tidak mengunjungimu lagi. Kenapa? Karena aku berusaha melepaskanmu. Aku berusaha mencintai Sunghee…kumohon mengertilah, Hae..”

“Aku tidak peduli dengan itu! Aku tidak marah karena itu! Aku hanya kecewa kau tidak menepati janji.” Donghae berbalik, menatapku.

“Aku merasa kesepian, Hyuk. Setiap malam aku melihat ini.” Donghae membuka dompetnya dan menunjukkan fotoku. Aku terpaku.

“Kau melupakan dompetku waktu itu..” lanjut Donghae. Aku masih diam.

“Aku tidak bisa melupakanmu. Kau bilang kau mau membantu..” Donghae menunduk.

“Ya, aku sedang membantumu. Aku sengaja menjauh darimu agar kau membenciku. Agar kau melupakanku. Tapi percuma jika kau selalu melihat fotoku..”

“Maaf, aku tidak mau melupakanmu.”

“Kenapa?”

“Tidak bisa. Sudah 13 tahun kita bersama, Hae. Mana mungkin aku melupakanmu secepat ini?”

“Kau benar…maaf sudah memaksamu melupakanku.”

“Tak apa, aku mengerti.”

“Baiklah..”

= = =

Musim dingin belum berlalu juga. Warna putih dimana-mana. Malam ini sangat dingin. Aku sampai memakai baju berlapis-lapis meski berdiam diri di apartemen yang hangat.

TING TONG..bel apartemenku berbunyi. Dengan malas aku beranjak ke pintu. Aku tersenyum menatap sosok di hadapanku.

“Annyeong, honey..” Aku mengumbar senyum.

“Hyuk ah, seminggu lagi pernikahanku. Aku tidak boleh mengelola bar milikku lagi. Kuberikan bar itu untukmu,” ucap Sunghee langsung ke poin utama tanpa berbasa-basi dahulu.

“Ha? Yang dimana?” Aku heran.

“Dekat dengan Apgujeong street kok. Ini alamat lengkapnya.” Sunghee memberikan secarik kertas padaku. Aku menerimanya dengan ragu.

“Mulai sekarang bar ini milikmu.” Sunghee tersenyum. “Jaga baik-baik.”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian. Sudah ya, aku pulang dulu. Dingin sekali.”

“Sendiri?”

“Tidak, Hankyung menungguku,” Sunghee menyebutkan nama calon suaminya. Aku mengangguk mengerti. Sunghee pun pergi.

Ini seperti mimpi. Jika aku memiliki bar ini, berarti aku akan kaya! Ini bar yang tersohor. Wah..Sunghee benar-benar baik.

= = =

Padahal hari ini adalah hari pernikahan Sunghee, tapi kenapa calon suaminya itu malah pergi? Pergi selama-lamanya? Dengan cara yang mengenaskan pula.

Dia dibunuh di sebuah gudang. Diduga pembunuhnya adalah seorang pembunuh bayaran. Kasihan sekali Hankyung, mati di hari pernikahannya dengan gadis yang dicintainya. Dengan cara dibunuh lagi.

Sunghee terlihat masih menangis di depan makam Hankyung. Bagaimanapun Hankyung adalah lelaki yang baik. Meskipun Sunghee tidak mencintainya seperti ia mencintaiku. Tapi Sunghee menyayanginya.

Lee Sungmin, kakak Sunghee, menuntun gadis itu menjauh dari makam. Sungmin merangkul Sunghee, berusaha menenangkan adiknya. Aku terdiam menatap pemandangan itu. Kemudian aku menunduk, menatap makam Hankyung.

“Seandainya aku ada di posisi Hankyung apa ada yang menangisiku? Seandainya aku mati..” gumamku sambil menatap ke makamnya.

“Maka aku akan ikut mati.” Donghae berjalan menghampiriku. Aku menoleh ke arahnya. 

 “Hubungan kita merenggang. Aku tidak suka,” Hae memulai percakapan dengan perlahan.

“Sama..”

“Kita sudah bersama selama hampir 14 tahun. Aku tidak mau kau tiba-tiba menjauh seperti ini. Aku tidak masalah dengan rasa cintaku terhadapmu. Tapi bagiku yang masalah adalah sikapmu.” Donghae melirikku dengan sinis. Aku menghela napas.

“Alright, aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita. Kau puas?”

“Haha, sedikit,” cibirnya.

= = =

Aku meminum Vodka-ku lagi. Ini baru gelas kedua namun rasanya aku sudah mulai mabuk. Aku tidak pernah meminum minuman keras sebelumnya. Hanya karena aku depresi.

Ini sebuah pelarian yang salah. Tak ada manfaatnya. Tapi tak apa, aku ingin menjadi hancur. Meskipun hanya satu hari.

Aku merasa sekelilingku berputar-putar. Aku tidak kuat lagi.

“Hyuk ah, gwaenchanayo?” Sebuah suara lembut menyapaku.

“Hae..”

“Jangan terlalu banyak minum…”

“Diamlah..”

= = =

Sinar matahari menyelinap masuk melewati tirai kamar. Aku membuka mataku perlahan. Aku menggosok mataku. Aaah..rasanya pusing sekali. Aku menyentuh keningku dengan punggung tangan. Hangat.

Tapi tunggu dulu, rasa-rasanya ini bukan kamarku? Ha? Ini kan..kamar Hae?!

“Engh..” Aku baru sadar aku tidak sendirian di kamar ini. Dengan takut, aku melirik ke samping kiriku. Mataku melotot ketika melihat Hae tertidur dengan lelap di sampingku. Ya Tuhan…jangan sampai aku melakukan hal yang aneh terhadapnya.

Perlahan aku membuka selimutku. Aku menghela napas lega ketika ternyata aku masih mengenakan celana panjang. Donghae juga. Dia bahkan mengenakan kaus oblong yang sewarna dengan kulitnya. Ah..aku benar-benar lega. Syukurlah. Pikiranku terlalu kotor.

“Hyuk ah…saranghae…” Donghae mengigau. Tangannya memeluk tubuhku yang bertelanjang dada. Aku terkejut. Jantungku berdebar keras.

Donghae merapatkan pelukannya. Sepertinya dia kedinginan. Tubuhnya dingin sekali. Musim dingin memang belum berlalu, wajar saja.

“Hae…bangun..” kataku pelan. Donghae menggumam tidak jelas.

“Hey…bangun, Lee Donghae..” Aku menepuk pipinya. Dia tidak bangun juga. Akhirnya aku memukul pipinya agak keras.

“Aw! Ya, inma!!” bentak Donghae. Dia langsung terbangun. Aku terkekeh.

“Salah sendiri tidak bangun..main peluk saja. Sialan..” ujarku. Donghae mencibir.

“Memangnya aku sadar kalau aku memelukmu? Aish, lagipula aku kedinginan dan gulingku terlempar ke lantai. Aku malas mengambilnya..”

“Jadi kau menganggap aku ini guling?”

“Ne. Kau lebih hangat dari guling, aku suka.”

“Haish..” Aku mengacak rambutku. Hae beranjak berdiri dan membuka tirai jendela. Aku masih tiduran di ranjang. Aah..sinar matahari menerobos masuk, silau.

“Hae, tutup lagi..” erangku malas.

“Halah. Sudah cepat bangun, jam tujuh.”

“Engh…andwae..” Aku meregangkan otot-ototku. Hae bersidekap.

“Gara-gara kau baju baruku kotor. Kalau muntah lihat-lihat.” Hae berkata dengan sinis. Aku tertegun.

“Oh ya, tadi malam aku mabuk. Bajuku juga kotor ya?”

“Ya, tadi malam aku baru mencuci bajumu. Tinggal tunggu kering. Sementara pakai bajuku dulu. Nih,” Donghae melemparkan kaus berwarna oranye padaku. Kaus itu tepat jatuh di wajahku. Donghae tertawa. Aku menarik kaus itu menjauh dari wajahku dan menatap Donghae kesal. Tapi aku bahagia melihat Donghae tertawa.

“Hahaha..dasar kau!” seruku senang. Donghae masih tertawa melihat wajahku yang acak-acakan.

“Ya Tuhan, Hyukjae..kau masih belum menyadarinya? Hahahaha.. gara-gara cahaya matahari jadi terlihat! Aku baru saja menyadarinya!! Padahal aku yang melakukannya!”

“Ha?” Aku bingung mendengar perkataannya yang tidak padu. Aku lalu menatap ke cermin. Mataku membelalak.

“Lee Donghae, APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN WAJAH TAMPANKU?!!”

“HUAHAHAHA KAU LUCU SEKALI, HYUK! Untung saja aku menemukan lipstick Eomma yang tertinggal di sini. Hahahahaha!!” Hae terbahak hingga terguling-guling di lantai. Aku cemberut.

“Aish…perlu diberi pelajaran ini anak satu!” Aku menyambar lipstick di meja rias dan mulai mencoret-coret wajah Donghae dengan beringas. Aku tertawa bersama Donghae.

Yah…ada hikmahnya juga aku mabuk dan muntah ke bajunya. Aku bisa menjadi lebih dekat dengannya. Kami terlihat seperti adik kakak, bukan?

= = =

Dua minggu setelah itu, aku pergi ke Inggris. Hae sempat kesal padaku yang selalu datang dan pergi tiba-tiba. Tapi akhirnya ia bisa dijinakkan. Hahaha Donghae pasti akan kesal padaku jika melihat tulisanku ini.

“Annyeong!” sapa Autumn, sahabat penaku.

“Ye, annyeong!” Aku tersenyum. Autumn mengundangku ke Inggris untuk berjalan-jalan dan menghadiri sebuah kompetisi dance. Aku sangat suka menari jadi aku menerima ajakannya.

“Kau tinggal di rumahku saja untuk sementara. Sekaligus kita latihan dance.”

“Oh, okay. Terima kasih banyak.”

“Hyukjae, apa nama baratmu?” tanya Autumn saat kami sedang menaiki tangga menuju kamarku.

“Spencer. Spencer Lee,” jawabku cepat.

“Spencer..nama yang bagus.” Autumn bergumam. Aku tersenyum.

“Terima kasih.”

Autumn membuka kunci sebuah kamar dan membuka pintunya. Aku menganga. Kamar itu sangat luas, dindingnya berwarna biru muda. Ada satu ranjang besar, lemari baju, kamar mandi, meja rias. Ini benar-benar hebat.

“Hahaha, kau kenapa, Spencer?” Autumn tertawa melihat ekspresi konyolku.

“Apartemenku tidak seluas ini. Haha..” Aku terkekeh malu. Memalukan kau, Hyukjae. Nama bagus kelakuan kok begini.

“Oke, silakan simpan bajumu di lemari setelah itu jam dua temui aku di ruang makan jika kau tidak mengalami jet lag. Kalau kau masih lelah, kita bisa mengulur latihan hingga jam 4. Oke?”

“Oke. Terima kasih banyak, Autumn.”

“Oh, kau bisa memanggilku Lee jika Autumn sulit kau ucapkan.” Autumn, maksudku Lee, tersenyum hangat. Aku mengangguk.

Aku lalu membereskan barang bawaanku. Aku menyalakan ponsel dan sebuah SMS langsung menyapaku. Rupanya dari Hae.

Baju yang waktu itu tertinggal di flatku, mau mengambilnya kapan?” Oh, waktu mabuk itu.

“Buatmu saja,” balasku ringan.

Oh, dibalas juga. Sudah sampai di sana?”

“Ya, sudah. Lee gadis yang baik. Ingin kukenalkan padamu.”

Lee?

“Autumn Lee. Sahabat penaku. Dia suka dance juga. Dia kan yang menjadi panitia dance competition itu.”

HAH?! Jadi kau ikut dance competition? Sialan kau, Hyuk! Aku kan suka dance juga. Kalau kau bilang akan ikut kompetisi dance, aku pasti akan mengejarmu ke Inggris. Kapan mulainya?

“Dua minggu lagi.”

Aku ikut!

“Hey, jangan gegabah! Enak saja main ikut.”

Aku akan ke sana sekalian membawakan bajumu. Ya ya ya? Kumohon..

“Aku kan sudah bilang ambil saja baju itu. Aish, ya sudah kau bilang saja pada Lee bahwa kau akan ikut.”

Jadi aku boleh ikut?

“Hmm..”

YAAAY!! Tunggu aku di sana, Hyuk!” Aku tidak membalasnya lagi. Dasar anak itu.

Hah…aku merebahkan diriku di atas ranjang yang empuk. Rasanya capek sekali. Yah, wajar saja. Jam Korea dan Inggris kan berbeda.

Jam dua tepat, aku menemui Lee di ruang makan. Tampaknya Lee sedang membuat makanan. Ia hanya sendirian di rumah ini.

“Well, Mom and Dad belum pulang dari liburan mereka. Kau tidak keberatan kalau hanya ada aku dan kau kan di rumah ini?” ucap Lee. Aku mengangguk.

“Lee, temanku ingin ikut kompetisi itu juga. Masih bisa mendaftar?”

“Oh, tentu! Tentu saja bisa! Siapa namanya?” Lee mengambil buku agenda dengan semangat.

“Lee Donghae. Nama baratnya Aiden Lee.”

“Aiden?” Lee tertegun. Aku menaikkan sebelah alis.

“Kenapa?”

“Ah tidak. Namanya bagus saja.”

“Hahaha..apakah kau selalu mengatakan seperti itu saat mengetahui nama orang yang baru kaukenal?”

“Haha, tidak juga.” Lee menunduk, serius mencatat. Tiba-tiba aku mengendus bau masakan yang matang. Wangi sekali.

“Lee, aku angkat masakanmu ya. Tampaknya sudah matang.”

“Oh, iya. Duh, maaf aku lupa.”

“Tidak apa-apa.”

“Emh..Lee..” panggilku hati-hati sambil meletakkan omelette dan roti panggang ke atas piring.

“Ya?”

“Keberatankah kalau Aiden ikut menginap di sini?”

“Oh…tidak. Biar saja.”

“Terima kasih.”

“Ya Tuhan, Spencer. Aku sudah muak mendengarkanmu mengucapkan “terima kasih” terus. Sudahlah, kita ini kan teman. Tidak perlu seperti itu.”

“Ah ya..terima kasih.” Aku sengaja menggodanya.

“Hahaha, kau ini!” Lee memukulku dengan pulpen. Kami tertawa.

= = =

“Well, welcome to the Dance club, Spencer, Aiden. Here are our members. The oldest member in this club is Dennis Park. Dennis, say hello.” Aku dan Hae menatap ke arah Dennis. Lelaki putih, tinggi, dan tampan sekaligus manis. Senyumnya memikat.

“And the second is Han. He’s from China. And..hello Vincent, stop practicing for a while, please? And we have Key. He’s from America. And we have a great dancer girl here, her name is Fay Connor. Also..there is a Korean cute little boy here. Say hello to Taemin.” Lee mengenalkan semua member dance. Mereka yang akan satu grup dance dengan aku dan Hae saat kompetisi.

“Who’s the youngest in this group?” tanya Hae.

“Me and Taemin. Well, actually Taemin is younger 2 months than me.” Lee tersenyum.

“Okay, guys let’s start! Oh, Aiden, Spencer, kalau kau berdua ada masalah komunikasi dengan member yang lain, kau bisa minta tolong aku atau Taemin. Okay?”

“Okay,” sahut kami bersamaan. Aku melirik ke arah member yang lain. Han terlihat dewasa. Tubuhnya tinggi tegap dan berotot. Dia memakai kaus tanpa lengan dan celana panjang. Lalu Vincent..ya ampun aku sampai kurang yakin dia itu lelaki. Dia sangat cantik. Dia memakai kaus lengan panjang berwarna pink dan celana panjang putih. Dan..Key. Dia juga tidak beda jauh dengan Vincent. Tapi menurutku Key lebih terlihat “lelaki” dibanding Vincent. Fay Connor, gadis itu tinggi kurus dan berambut pendek diikat ke belakang. Manis namun keren. Dan Taemin, berapa umurnya? Seperti anak umur 15 tahun. Imut.

“Em…annyeonghasaeyo, Hyungdeul,” sapa Taemin pada kami berdua. Aku dan Hae tersenyum.

“Kalau kalian tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, kalian tinggal bilang padaku saja. Oke?”

“Kata-katamu mirip sekali dengan Lee,” komentar Hae.

“Ah, benarkah? Hahaha..” Taemin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Okay, mulai sekarang. Spencer, Aiden, kita akan menarikan tarian modern. Kita akan melakukan banyak popping, locking, and robot. B-boy juga boleh dimasukkan. Ada yang bisa break dance?” kata Dennis dalam bahasa Inggris. Aku dan Hae mengacungkan tangan.

“Oh..very well,” gumam Dennis. “Han, music please.”

Han pun menyalakan musik dan kami mulai latihan. Kebanyakan Taemin dan Fay yang memberitahu gerakan-gerakannya. Yang lainnya mencari gerakan baru. Lama-lama aku dan Hae pun bisa beradaptasi dan mulai menciptakan gerakan baru.

Aku tertawa dengan gembira. Begitupun dengan Donghae. Kurasa, dance adalah obat untuk meluapkan stress. Beruntung Lee mengundangku untuk ikut kompetisi dance.

Tiga minggu kemudian, aku dan Hae kembali ke Korea dengan bahagia. Selain karena memenangkan kompetisi itu, juga karena mendapat sahabat-sahabat baru. Oh, Taemin juga ikut dengan kami. Ternyata Taemin juga sama sepertiku. Dia ke Inggris hanya untuk mengikuti kompetisi dance. Kalau aku dan Hae menginap di rumah Autumn, Taemin menginap di rumah Fay bersama yang lain. Terkadang ia malah menginap di tempat latihan.

“Hyungdeul, rumah kalian di daerah mana?” tanya Taemin.

“Di Seoul. Aku di sebuah apartemen dekat Apgujeong street, sementara ia tinggal di sebuah flat dekat sungai Han.”

“Oh..arasseo.”

“Kau sendiri, Taemin? Dimana rumahmu?” tanya Hae.

“Di Seoul. Yah..tak jauh dari Sungai Han.”

“Oh, benarkah?” Donghae tampak bersemangat.

“Ya. Dekat dengan flat Hyung, ya?”

“Yap.”

“Kau bawa mobil, Taemin ah?”

“Tidak.”

“Ikut denganku, ya!” Kelihatannya Donghae sangat antusias dengan Taemin. Yah..dia memang suka anak-anak. Tapi tunggu dulu, Taemin itu kan anak yang berumur 17 tahun. Masih pantas disebut anak-anak?

“Hyuk, aku duluan ya!” Hae melesat pergi dengan Taemin. Aku hanya menghela nafas. Yah..syukurlah kalau dia bahagia.

= = =

“Hyukjae..Hyukjae ya! Lee Hyukjae! Ini Pamanmu.”

“Hng?” Pintu apartemenku diketuk. Paman? Apa aku masih punya paman?

“Hyukjae!” Okay, aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Seorang lelaki yang berumur sekitar 45 tersenyum padaku.

“Kau sudah lupa denganku ya?”

“Bukan lupa, tapi tidak tahu.”

“Aish..aku ini adik Eomma-mu. Memang saat kau kecil kita jarang bertemu. Tapi sekarang kami datang. Noona-mu menitipkanmu pada kami.”

“Kami?” Apa dia tidak datang sendirian?

“Ya, kami.” Seorang wanita cantik, yang sepertinya istri pamanku, tersenyum dan menghampiriku. Dia lalu memelukku.

“Hyukjae ya..lama tak berjumpa..” Ahjumma itu mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang. Yah..sudah berapa lama tak ada yang mengusap rambutku lagi.

“Well, kita membawa kabar baik.” Ahjussi tersenyum senang. Aku menaikkan alisku.

“Kau akan dijodohkan dengan Min Nami. Ehm..yah, bukan dijodohkan juga. Lebih tepatnya dikenalkan. Jika kau tertarik, kau bisa menikahinya.”

“A..apa?” Aku syok. Jujur saja, aku sedang pusing memikirkan bagaimana caranya untuk melupakan Hae. Dan perjodohan ini, uh baiklah, perkenalan ini bisa membantu. Aku akan berusaha mencintai gadis bernama Min Nami itu.

“Baik, aku terima. Ada fotonya?”

“Ini. Cantik, bukan?” Ahjussi menyodorkan selembar foto padaku. Aku melihatnya. Hmm..manis. Sedikit mirip Sunghee.

“Langsung tunangan saja,” cetusku.

“Apa?” Ahjussi dan Ahjumma menganga.

= = =

“Kau gila..” desis Key. Yah, dia sedang berkunjung ke Korea. Menemui saudara jauhnya, katanya.

“Gila apanya?” tanyaku. Aku mengambil sebungkus biskuit choco chips dan mulai melahapnya. Key menatapku dengan tatapan tidak percaya. Key memang orang yang paling dekat denganku ketika di Dance Club. Okay, orang terdekat setelah Lee. Tapi gadis itu tidak ada di sini, jadi aku menceritakan semuanya pada Key. Syukurlah dia mengerti.

“Gila apanya? Hyuk hyung, kita sedang membicarakan pertunangan di sini. Tanpa melihat orang aslinya kau langsung terima begitu saja?! Demi melupakan Donghae hyung?”

“Ya, kenapa?” Aku memasukkan sepotong biskuit.

“Itu gila! Setidaknya kau lihat dulu orang aslinya, baru terima.”

“Ah, untuk apa? Itu kan pilihan paman dan bibiku. Jadi pasti bagus.”

“Ya ampun.. kau bilang yeoja itu ‘bagus’? Aku tidak percaya…”

“Percayalah, Key. Meskipun dunia ini fana..” Aku meletakkan bungkus choco chip dan menyandarkan tubuhku pada sofa. Film di hadapanku ini sepertinya tidak mendapat perhatian dari Key, maupun aku.

Key menyambar bungkus biskuit cokelat itu dan memperhatikan komposisinya. Aku meliriknya kesal.

“Apa? Kau berpikir biskuit itu mengandung alkohol?”

“Tepat. Tapi sepertinya tidak. Jadi kenapa kau bisa berkata seperti itu? Kau aneh sekali..”

“Haah…sudahlah aku tidak mood untuk membahasnya.” Aku pun menutup mataku. Key mendengus kesal.

“Apa di Korea orang-orang selalu tertidur saat menjamu tamunya?” sindirnya.

“Key…”

“Hm?”

“Kalau kau ingin melupakan seseorang, apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak bisa melupakan seseorang. Tapi kalau aku ingin, aku pasti menekuni hobiku. Setidaknya bisa terlupakan meski sejenak. Aku juga membuang semua kenangan darinya. Meski masih ada yang tersisa di otak.”

“Key, aku ingin amnesia. Setidaknya amnesia dirinya. Jadi aku tidak perlu mengenalnya. Dan kalau ia hadir, setidaknya aku ingin mulai dari awal.”

“Nah, itu dia! Mulai dari awal dengannya! Anggap kau tidak pernah bertemu dengannya dan jalin hubungan pertemanan yang baik dengannya. Itu ide bagus, hyung.”

“Benarkah? Baik, akan kucoba.”

“Very well, aku pulang dulu, Hyung. Terima kasih hidangannya.” Key mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi. Aku hanya tersenyum. Aku mematikan TV dan mulai menutup mataku.

To be continued

9 thoughts on “[FF] I Hate This Feeling towards You part 2

  1. rabbitpuding says:

    wah wah wah, ada nama aku di sana hehehe. Itu si taem nginep di rmh fay? Gak bahaya tuh ? Keren keren, lanjutannya cepet ya *maksa.

    Fay itu bukan kurus tapi langsing ! Keren, cantik, pinter, baik, rajin, jail dikit, lucu, imut, dan senyumnya menawan /PLAAAK !!! *Hiraukan komen yg akhir.

  2. haeny_elfishy says:

    wahwahwah,
    eunhae kalo sma” cinta nikah aja lngsung lah, bikin gregetan aja ni orang 2. . . kekeke
    sunghee-nya trus gmana tuh ? lanjoot saeng. . .

  3. Dhikae says:

    wuahhh wuahhh unyuk niat amat mw lupain hae
    si hae jg kemanapun unyuk pergi dia ngikutin ckckck tpi brasa adek kk yah.. kekeke
    kyaaa andwee… pdhl klo mreka gi sama2 so sweet >< #yaoi kumad
    penasaran penasaran…
    key mengapa kamuuuu suruh unyuk mcem2 bwt lupain hae ckckck
    lanjutkan thorrrrrr!! saya siap menunggu.. kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s