[FF] I Hate This Feeling Towards You part 1

I Hate This Feeling towards You

Casts: Eunhyuk, Donghae, Chaerin, Sunghee, ocs.

Genre: Romance, Angst, a little YAOI

Rating: PG-13

Note: This is the side story of “Mianhae, My Lover”. Hope you enjoy it. DON’T LIKE, DON’T READ.

= = =

 Baik, ini adalah kisahku. Ini adalah kisah yang tak layak untuk dibaca oleh semua orang. Tapi ini adalah kisah hidupku. Aku tidak memaksa siapapun untuk membacanya. Aku hanya membuatnya dan aku tak perduli jika orang itu suka atau tidak. Siapa orang itu? Dia adalah seseorang yang kubuat menderita. Kubuat ia dicemooh oleh orang-orang. Kubuat ia dibenci oleh kakak tirinya dan dijauhi teman-temannya.

Semua dimulai pada awal musim gugur sepuluh tahun yang lalu. Saat itu rumahku dibantai. Orang-orang biadab itu membunuh orang tuaku dan mencuri harta bendaku. Kami dulu adalah seorang yang berada. Tapi tak kusangka Appa melakukan kecurangan kecil. Sangat kecil bahkan hampir tak ternilai dan tak disengaja. Aku tak tahu apa yang beliau lakukan. Dan aku tak mau tahu. Itu adalah masa lalu.

Noona mengajakku ke suatu tempat di kota Seoul. Dia membawaku ke sebuah flat yang besar namun terlihat tua. Noona mengetuk pintu flat itu dan seseorang membukanya.

“Annyeong,” sapa lelaki di hadapanku. Aku masih diam. Aku melirik Noona yang tersenyum.

“Annyeong Sora, dan…ini adik laki-lakimu?” Pria itu menatapku. Aku mengangguk saja.

“Yunho ssi, aku menitipkan Hyukjae padamu ya?” Perkataan Noona membuatku tersentak.

“Waeyo?! Noona kau mau kemana? Aku akan selalu bersamamu, Noona! Aku tidak mau dititipkan! Lebih baik aku ke panti asuhan!”

“Hyuk ah..” Noona menunduk sedih. “Kau aman di sini. Kita dikejar hutang, Hyuk. Mereka meminta bayaran atau tidak, nyawa tanggungannya. Biar Noona saja yang menghadapinya.

“Tidak boleh! Aku adikmu, Noona, dan kita harus bersama! Apa kata Appa dan Eomma kalau anaknya berpisah-pisah?”

“Hyuk, pikirkanlah. Eomma dan Appa ingin anaknya menjadi sukses, bahagia. Sekarang kita sedang susah, biar Noona yang susah, sebagai gantinya kau harus bahagia..harus sukses..”

“Aku tidak akan bahagia kalau tidak ada Noona! Kajimayo, Noona..” Aku mulai memohon.

“Hyuk, Noona-mu benar. Tenang saja, aku juga membantunya,” kata Yunho. “Lagipula kau punya teman yang seumur di sini. Kau pasti senang.”

“Andwae….andwae…Noona, ayo kita bayar bersama!”

“Tidak bisa, Hyuk. Noona harus bekerja keras. Kau di sini saja. Orang-orang itu tidak akan menemukanmu di sini.”

“…” Aku masih terdiam. Saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa.

“Oppa, jaga Hyuk baik-baik.”

“Ne.” Yunho mengecup kening Noona sesaat. Noona lalu berjalan pergi. Aku masih terdiam. Mataku menghangat.

“Noona! Kirimi aku surat!!” seruku. Noona tak berbalik lagi. Tapi kulihat kepalanya mengangguk sekali. Tangisku pecah. Aku sendirian.

“Hey…uljima..” Sebuah suara lembut memasuki gendang telingaku. Aku menghapus air mataku dan melihat seorang anak laki-laki seusiaku berdiri dengan malu di ambang pintu.

“Annyeong…aku Lee Donghae..” ucapnya. Dia tersenyum malu.

“Lee Hyukjae..” ucapku sambil sedikit terisak. Kami berjabat tangan.

“Sudahlah, Hyukjae…kau aman di sini. Aku akan menemanimu.”

“Gomawo..” Aku menghapus air mataku.

= = =

Oke, saat itu umurku masih 14 tahun dan aku terkenal agak cengeng. Saat Noona pergi, aku benar-benar menangis. Mungkin karena aku tahu itu adalah pertemuanku yang terakhir dengan Noona.

Noona bekerja di sebuah café. Saat hendak mengunjungiku ke Seoul, bus yang ditumpanginya kecelakaan dan masuk ke dalam jurang. Jasad Noona tidak ditemukan, mungkin hanyut terbawa arus sungai yang kencang.

Aku menangis. Bahkan meraung-raung. Di flat Donghae, aku tidak mau makan. Aku tidak menyayangi perutku sendiri. Berhari-hari aku kelaparan, tidak bisa tidur. Saat itu usiaku baru 15. Aku belum beranjak dewasa, masih remaja labil. Aku bahkan sempat berpikir untuk bunuh diri. Tapi Donghae melarangku.

“Hyuk ah, kau sudah 2 hari tidak tidur. Matamu merah dan bengkak karena kebanyakan menangis. Tubuhmu mengurus, Hyuk ah. Tolonglah..sayangi dirimu. Setidaknya, untukku..” bujuk Hae, yah itulah panggilan akrabku padanya.

“Aku tidak mau…” Aku terus menenggelamkan wajahku ke lipatan tangan. Aku terdiam di atas ranjang.

“Hyuk, tidurlah sebentar. Aku tidak bisa tidur jika melihatmu begini.”

“Kalau begitu jangan lihat! Tidak usah kau perdulikan aku! Aku pergi saja!!” Aku hendak berdiri namun tangan lembut Hae menahanku.

“Jangan, Hyuk. Jebal…bukankah kau selalu bilang bahwa kita ini saudara? Kau sudah termasuk keluargaku, kan?”

“Tidak. Kita tidak ada hubungan darah. Kau bukan keluargaku.”

“Jika tidak ada hubungan darah tidak bisa menjadi keluarga?”

“…”

“Aku tahu kau memikirkan perkataanku. Sekarang tidurlah..” bujuknya lagi. Aku masih terdiam.

Tiba-tiba Donghae menyanyikan sebuah lagu. Suaranya sangat merdu, aku sampai mengantuk. Suaranya membelai lembut telingaku. Perlahan mataku menutup. Aku terlelap dalam nyanyiannya.

= = =

Mulai saat itulah, aku mulai menyadari pentingnya hidup. Mulai saat itu pula aku menemukan seorang sahabat. Donghae setia menemaniku kemanapun. Begitupun sebaliknya.

Saat umur kami beranjak ke 16 tahun, Appa Donghae sakit keras. Appa Donghae tinggal di Inggris, bersama ibunya. Yunho hyung langsung pergi ke Inggris, membantu Eomma Donghae merawat Appa-nya. Aku dan Donghae juga diajak.

Keadaan Appa Donghae benar-benar menggenaskan. Di sekeliling ranjangnya dipenuhi alat-alat khas rumah sakit. Mata Eomma Donghae sembab, terlalu banyak menangis. Yunho hyung terlihat lelah, rambutnya acak-acakan dan bajunya itu-itu saja. Aku dan Donghae disuruh menempati rumah orang tua Donghae. Di saat tertentu Donghae menunggu di rumah sakit bersamaku, kadang kami di rumah.

Kejadian mengenaskan yang sangat aku sesalkan terjadi saat aku dan Donghae tidak mendapat giliran yang sama. Saat itu Donghae dan Eomma Donghae menginap di rumah, sementara aku dan Yunho hyung menemani Appa Donghae yang koma. Awalnya semua biasa. Yunho hyung bersikap sebagai kakak. Tapi lama kelamaan, dia berubah.

Aku benar-benar menyesal saat aku menyanggupi suruhannya untuk membeli makanan. Aku pergi selama setengah jam, dan saat kembali, Yunho hyung sedang menutup wajah Appa Donghae dengan bantal. Aku syok, namun aku cepat bertindak. Aku mendorong tubuh Yunho hyung menjauh. Aku cepat-cepat memanggil suster. Tapi belum sempat aku memanggil suster, tangan Yunho hyung melilit leherku. Aku ditarik dan dihempaskan ke tembok. Yunho hyung memukuli tubuhku. Aku ingin melawan. Aku lalu menghajar balik.

“Ahjussi!!” seruku parau. Aku langsung memasangkan alat bantu pernafasan pada Appa Donghae. Tapi ternyata terlambat. Appa Donghae telah pergi. Beberapa suster langsung berdatangan. Dokter bekerja dengan alat kejut jantung. Namun nihil.

Yang membuatku semakin menyesal adalah, Donghae datang membawakan bajuku. Dia terpaku di depan kamar. Aku langsung menghampirinya dan menariknya menjauh. Namun ia menepis tanganku. Ia masuk ke kamar dan terpaku melihat jasad Appa-nya yang sudah ditinggal rohnya. Donghae lemas, aku menopangnya.

“Appa!!! Appaaaa!!!!!! Appa jangan pergi!!! Donghae akan mewujudkan cita-cita Appa!! Donghae akan menjadi sukses jika ada Appa!! APPA!!!! KAJIMAAAA!!” teriakan Donghae memenuhi ruangan 301 itu. Diam-diam aku menangis. Donghae mengguncang-guncang tubuh Appa-nya.

“Eomma…Eomma Appa..” Donghae terlihat linglung. Aku mengerti dan segera menelepon Eomma Donghae. Dan begitulah…mereka semua menangis di ruangan itu. Semua, termasuk si bejat Yunho. Air mata buaya yang dikeluarkannya cukup ampuh.

Beberapa hari setelah itu..

“Hyuk, tubuhmu kenapa? Memar begitu?” tanya Hae yang sudah mulai pulih dari depresinya.

“Oh, igeo?” Aku menunjuk wajahku yang masih membiru.

“Ya, itu juga.” Hae menunjuk lenganku.

“Oh ani, hanya jatuh dari..”

“Kau berkelahi?” katanya tajam. Aku terdiam.

“Dengan siapa? Kenapa tidak bilang? Kau disiksa di sekolah? Kau punya musuh di sana?”

“Bukan, bukan di sekolah.”

“Lalu kau dihajar preman? Kenapa tidak bilang?”

“Hae, bukan perampok juga. Ini jauh lebih mengerikan dari perampok.”

“Siapa?”

“Hae…nanti akan kuberi tahu.”

“Sekarang.”

“Tidak.”

“Beritahu sekarang atau kuhajar juga kau.” Donghae berubah menjadi pribadi yang kasar dan dingin. Aku ingin merubahnya.

“Kemari.” Aku menarik tangan Donghae ke sebuah bukit. Bukit adalah tempat dimana ia bisa bebas berteriak, bebas marah-marah, bebas memukulku juga jika ia mau.

“Donghae, sebenarnya…aku tahu kenapa Appa-mu meninggal…” Raut wajah Donghae yang kasar berubah menjadi sedih.

“Jantungnya dan…”

“Bukan,” aku memotongnya. “bukan karena jantung.”

“Lantas?” Hae mengerutkan kening.

“Appa-mu…dibunuh oleh Yunho..” Hae terpaku.

“Jangan bercanda..”

“Tidak, Hae. Aku serius. Waktu itu aku disuruh beli makanan, dan saat kembali, aku melihat Yunho membekap wajah Appa-mu hingga beliau kehabisan napas. Aku berusaha melarangnya. Tapi aku malah dihajarnya, aku balas menonjok, menendang. Saat aku berhasil, ternyata Appa-mu sudah…tiada..”

“Tidak…tidak mungkin…bagaimana mungkin Yunho ssi membunuh Appa?!” Hae berkaca-kaca.

“Entahlah, Hae. Tapi kusarankan mulai sekarang kau berhati-hati dengannya. Apa dia masih satu flat dengan kita?”

“Tidak, dia akan tinggal di Inggris.”

“Baiklah. Tapi kusarankan kau jaga Eomma-mu juga.”

“Ya, aku tidak akan kembali ke Seoul untuk beberapa waktu. Tapi…apa kau mau ke sana lebih dulu? Berikan surat ijin untuk sekolah.”

“Oh, baiklah.”

= = =

Selama satu bulan kami tidak bertemu dan berhubungan. Hae sibuk dengan keluarganya. Sementara aku menyibukkan diri dengan sekolah.

Di musim semi itu, aku bertemu dengan seorang gadis. Gadis itu cantik, tinggi langsing. Namanya Lee Sunghee. Kami bertemu di toko buku.

Setelah 3 minggu menjadi dekat, kami mulai merasakan ada getaran lain. Aku merasakan cinta. Sunghee cinta-ku. Tapi aku belum berani menyatakan cinta. Tapi aku tahu, dia sudah tahu bahwa aku mencintainya.

Sekitar 2 minggu kemudian, Donghae datang ke Seoul. Tidak sendiri, melainkan dengan seorang wanita cantik.

“Ini yeojachinguku, namanya Choi Chaerin.” Donghae mengenalkan gadis itu dengan gembira. Aku tersenyum. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang aneh di hatiku. Aku…cemburu..

Malam minggu di flat kami, aku tidak tahu harus berbuat apa. Malam minggu yang membosankan. Sunghee sedang berlibur dengan keluarganya. Memang minggu ini minggu liburan. Tapi aku tidak tahu harus membuang waktu liburan dengan apa.

Tidak seperti Hae yang selalu berkencan dengan Chaerin. Bahkan di flat kami, mereka asyik berpacaran. Membuatku gerah saja.

Aku menutup buku Fisika-ku dan berjalan keluar kamar. Aku tertegun. Donghae dan Chaerin sedang asyik bercumbu di sofa. Bibir mereka saling melumat. Aku diam tak berkomentar dan berjalan keluar flat. Aku ingin mencari udara segar di taman.

Hah…perasaan apa ini? Kenapa aku marah? Kenapa dadaku terasa panas? Rasanya aku ingin menonjok sesuatu.

Aku menghembuskan napas panjang. Kedua tanganku kuregangkan ke atas kepala. Hah…enak rasanya. Tulang-tulangku yang kaku karena belajar menjadi lentur kembali. Di saat seperti ini, aku pasti menari. Aku mulai menggerakkan tanganku, lalu kaki. Aku mulai menari di remang-remang lampu taman. Tak kusangka seseorang memperhatikanku.

“Oh, Sunghee..” sapaku malu. Sunghee terkekeh dan berjalan menghampiriku. Ia mengenakan celana panjang hitam dan jaket hitam. Di balik jaketnya ia menggunakan kaus putih. Rambutnya terikat acak-acakan.

“Sepertinya kau capek?” tanyaku melihat keringat turun di pelipis Sunghee. Dia tersenyum.

“Ne, aku habis latihan menari dengan teman-temanku di sana.” Sunghee menunjuk suatu tempat. “Lalu aku melihat kau datang ke sini dan menari. Aku jadi ingin menari bersamamu.”

“Oh, keurae? Baik, lagu apa? Aku tidak membawa ponsel..”

“Ehm..ponselku juga tertingal di sana. Begini saja, kita bayangkan satu lagu yang kita hapal. Kau hapal lagu apa?”

“Aku…bagaimana kalau lagu piano? Yiruma?”

“Aku tahu Yiruma! Boleh saja!”

“River Flows In You?”

“Wah..aku tidak hapal dari awal sampai akhir. Tapi aku punya lagunya di ponsel.”

“Tapi aku hanya hapal lagu itu.”

“Baik, aku ambil ponselku sebentar. Tunggu ya!” Sunghee berlari ke arah teman-temannya dan mengambil ponselnya dengan cepat. Dia pun kembali ke hadapanku. Dia lalu memutar lagu Yiruma.

Tubuh kami mulai bergerak spontan. Aku menggenggam tangannya, dia berputar. Aku menariknya ke dalam dekapanku dan kaki kami bergerak sesuai irama lagu. Aku melepaskannya dari dekapanku dan dia menari dengan lemah gemulai. Tubuh kami bergerak seirama, helaan nafas saling bersahutan. Aku menikmati ini.

Aku menarik tangannya dan menariknya ke pelukanku. Kami bertatapan. Debaran jantungnya bisa kurasakan. Lagu masih berputar, terulang lagi dan lagi. Masih posisi berpelukan, aku mulai mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dia menutup mata. Aku memiringkan kepala dan mencium bibirnya lembut.

Emh..begini ternyata rasanya berciuman? Rasanya lembut, manis. Awalnya hanya ciuman biasa, tapi lama kelamaan lidahku menerobos masuk ke mulutnya. Lidah dan saliva kami saling bercengkrama. Nafas kami saling memburu. Lalu…desahan-desahan yang…sebelumnya kudengar di flat itu. Desahan Donghae dan Chaerin.

Aku melepas ciumanku karena teringat namja itu lagi. Aku berusaha melupakannya dengan tersenyum pada Sunghee. Wajahnya memerah.

“Saranghae..” bisikku lembut. Sunghee tersenyum manis.

“Na ddo..” bisiknya lembut.

Aku lalu melepaskan pelukanku dan menatap sekeliling. Aku tertegun. Di samping tiang lampu, Donghae menatapku dengan terkejut. Mulutnya menganga, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apa ia melihat aku dan Sunghee berciuman? Lalu bagaimana dengan dia dan Chaerin? Aku tidak sampai menganga.

Donghae menggigit bibir bawahnya dan berlalu pergi. Aku ingin mengejar namun tak bisa. Akhirnya aku berbalik pada Sunghee.

“Sunghee ya, aku mencintaimu tapi kurasa…kita tidak bisa bersama..”

= = =

“Bodoh! Kenapa aku mengatakannya?!” Aku mengacak rambutku sendiri. Donghae terdiam menatapku. Dia duduk di sofa sendirian, Chaerin sudah pulang. Tinggal kami berdua.

“Dasar Hyukjae bodoh!” Aku meninju tembok di hadapanku. Nafasku tersengal-sengal.

“Hyuk, ada apa?”

“Hae, katakan yang sebenarnya. Bagaimana perasaanmu terhadapku?” tanyaku tanpa memandangnya.

“Aku…haha kau ngomong apa, Hyuk? Aku kan sudah punya Chaerin..”

“Lantas kenapa kau bersikap seperti itu tadi? Saat aku dan Sunghee..”

“Jangan sebut lagi. Baik, aku cemburu. Aku menyukaimu, Hyuk.”

“Jangan, Hae..buang perasaan itu.”

“Aku ingin, tapi tidak bisa. Sa..”

“Jangan ucapkan kata laknat itu, Hae!” bentakku. Hae terdiam.

“Ya Tuhan..” suaraku bergetar. Tubuhku merosot ke lantai. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Kenapa aku menolak Sunghee? Kenapa aku malah memilihmu, Hae?” ucapku serak. Hae tertegun.

“Hyuk..aku tak tahu kenapa perasaan ini bisa ada..padahal..”

“Sudahlah, aku merasakan hal yang sama.”

“Apa kau…mencintaiku seperti aku mencintaimu?”

“Ya…dan ini adalah suatu kesalahan.”

= = =

Setelah lulus SMA, aku mulai mencari pekerjaan. Tuhan memberkatiku, aku dengan cepat mendapatkan pekerjaan. Aku bekerja di sebuah hotel besar. Gajinya lumayan.

“Hae, aku harus pindah.”

“Hah, kenapa?” tanya Hae cepat. Dia bengong melihatku yang sudah berpakaian rapi dan membawa koper besar.

Aku tersenyum, “Aku tidak bisa selamanya tinggal bersamamu. Aku tidak mau.”

“Kau tidak menyukaiku?”

“Bukan begitu, Hae. Justru karena aku menyukaimu, maka aku harus pergi. Aku ingin menepis jauh-jauh perasaan ini, aku ingin kembali pada Sunghee.”

“Arasseo..aku tidak keberatan.”

“Kalau perlu, aku bawa semua fotoku agar kau tidak bisa melihat wajahku yang tampan lagi.”

“Hahaha..silakan saja.” Donghae mempersilakanku untuk mengambil semua fotoku. Aku mengambil semua fotoku dan memasukkannya ke tas ranselku.

“Nah, aku siap berangkat. Jaga diri baik-baik ya, Hae. Kunci rumah kalau di malam hari, jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Kalau ada apa-apa telepon aku saja.”

“Iya iya, Hyuk. Aku juga namja, pasti bisa jaga diri.” Hae tersenyum di ambang pintu.

“Kalau kau juga namja, lupakan perasaan sukamu terhadapku. Ara?” kataku serius. Hae terdiam.

“Akan kubantu.” Aku tersenyum. Hae membalas senyumku lemah.

“Annyeonghi gyaesaeyo!” seruku ceria.

“Annyeonghi gyaesaeyo..” ujarnya lemah. Dia masih bersandar di ambang pintu. Aku tersenyum dan berjalan menjauh. Masih tetap tersenyum. Tapi lama kelamaan mataku menghangat. Dan cairan-cairan itupun turun. Senyumku menghilang. Aku mempercepat langkahku. Aku tidak ingin ada yang memperhatikanku.

= = =

Di malam musim dingin, pintu apartemenku diketuk. Aku menguap lebar lalu beranjak ke pintu. Aku membuka pintu dan tertegun. Lee Sunghee berdiri di hadapanku dengan tatapan sayu. Rambutnya acak-acakan.

“Sunghee..”

“Aku akan menikah, bulan depan..”

“Oh..” ucapku kaku. Padahal aku berencana untuk melupakan Hae dengan cara berusaha mencintai Sunghee. Tapi ternyata..

“Ini undangannya…” Sunghee menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku menerimanya dengan enggan.

“Hyuk ah..” Sunghee tiba-tiba menghambur ke pelukanku. Aku tertegun. Dia terisak di dadaku. Dengan kikuk, aku membalas pelukannya dan mengusap kepalanya perlahan.

“Aku mencintaimu, Hyuk ah…Tapi aku harus menikah dengan pria lain..maafkan aku..”

“Aku juga mencintaimu..gwaenchana..asal kau bahagia..”

“Tapi aku tidak bahagia! Aku ingin bersamamu, Hyuk..”

“Sssh…tenanglah, Sunghee. Banyak orang yang memperhatikan. Ayo masuk dulu..” Aku membawanya masuk ke apartemenku. Samar-samar kudengar bisik-bisik tentangku.

“Hei, kenapa itu? Pasti cewenya hamil dan meminta tanggung jawab pada cowok itu..”

“Iya..duh anak muda jaman sekarang..”

“Hey, lelaki itu sepertinya aku kenal. Hyukjae? Ah dia sih terkenal playboy…pasti dia dimintai tanggung jawab.”

“SHIKUREO! KALAU KALIAN TIDAK TAHU MASALAHNYA, TIDAK USAH BICARA!” bentakku kesal. Ahjumma-ahjumma tukang gossip itu pun pergi. Aku terdiam. Aku lalu menutup pintu apartemen.

Aku menatap Sunghee yang menangis di sofa dengan pandangan sayu. Lalu kuhampiri Sunghee dan duduk di sebelahnya. Aku menyalakan TV dan menampilkan acara komedi. Tapi aku tetap datar, tidak berekspresi.

“Hyuk…bolehkah aku disini sebentar? Kau tidak keberatan? Atau kau terganggu denganku?”

“Ani, silakan saja.” Aku menyandarkan kepala Sunghee ke pundakku. Sunghee sudah agak tenang. Aku merangkulnya dan sesekali memainkan rambutnya. Kadang aku mencium rambutnya.

Acara komedi berakhir, diganti dengan acara musik. Lagu “One Love” terdengar.

“Hyuk, mianhae..”

“Waeyo?”

“Entahlah, aku merasa ingin minta maaf saja..”

“Hey honey, kau aneh malam ini..” Aku menatap wajahnya. Aku menghapus air matanya.

Dia menghela nafas. Dia meringkuk kedinginan. Oh, aku baru sadar. Malam ini hujan salju turun dengan deras, pastilah sangat dingin. Aku mengambil selimut dan kembali ke sisi Sunghee. Dia menyandar ke dadaku. Aku menyelimuti tubuh kami. Hangat sekali rasanya.

“Saranghae..” bisik Sunghee lirih. Aku tersenyum.

“Sunghee, mianhae…aku sempat menyukai Hae. Tapi aku akan berusaha mencintaimu, biarpun kau pergi.” Hening. Aku menunduk melihat wajah Sunghee yang damai. Dia tertidur di pangkuanku. Aku terkekeh. Aku lalu mengecup bibirnya sekilas.

“Jaljayo.” Aku mematikan TV dan mulai terlelap. Kami tertidur sampai pagi.

= = =

Ya Tuhan…ini tidak mungkin. Aku mendengar kabar bahwa Chaerin meninggal dalam kecelakaan. Lalu bagaimana dengan Donghae?

To be continued

6 thoughts on “[FF] I Hate This Feeling Towards You part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s