[FF] Mianhae, My Lover

Annyeong!!! Kyaaa~~ lama tak jumpa dengan readers yang kucintai!! LOL ^^ Author lagi ga ada ide buat post ff, lagian lagi sibuk nih. Tapi sekarang author punya bahan post-an. Tapi ceritanya lain banget dari cerita-cerita author sebelumnya. Ada unsur YAOI dikit, tapi ga parah soalnya author jijik sama YAOI *lah terus napa bikin*. Author pengen coba bikin semua jenis FF, termasuk YAOI dan YURI. Coba-coba aja…author begidik bikinnya. Kekekeke~

Udah ah kebanyakan bacot, silahkan baca…komen ya



As usual, DON’T LIKE, DON’T READ

Title: Mianhae, My Lover

Casts: Eunhyuk, Donghae, Nami, Yunho

Genre: YAOI, Angst, Tragedy, Romance

Rating: PG-15

= = =

Eunhyuk menghela nafas panjang dan berat. Donghae meliriknya heran. Tidak biasanya lelaki di sebelahnya ini menghela nafas panjang.

“Wae?” tanya Donghae singkat.

“Ani.”

“Waeyo?” Donghae duduk di sebelah Eunhyuk. Dia menatap lelaki yang lebih tua darinya itu dengan tatapan meminta penjelasan. “Tidak biasanya kau menghela nafas berat.”

Eunhyuk menghela nafas sebelum melanjutkan, “Hae, apa kau berpikir kita ini normal?”

“Hng? Ya..tentu…” jawab Donghae ragu.

“Geotjimal. Tentu saja kita tidak normal, Hae. Mianhae, ibuku menyuruhku menikahi seorang yeoja. Bukan namja..”

“…” Hae menunduk menatap mug berisi cokelat panas di hadapannya. Tadinya ia ingin memberikan cokelat panas itu untuk namja di sebelahnya. Tapi tidak jadi karena namja di sebelahnya terlihat begitu serius. Hae takut mengganggu mood-nya.

“Aku akan menikah bulan depan,” lirih Eunhyuk. Hae mendongak. Matanya berkaca-kaca. Eunhyuk tidak berani menatap ke arah Hae, dia tidak berani menatap wajah yang dicintainya lagi. Sebentar lagi ia harus meninggalkan namja itu.

“Haruskah secepat itu?” Suara Donghae serak. Eunhyuk menunduk menatap ujung kakinya yang telanjang.

“Ne.” Eunhyuk mengangguk sekali. Hae terpaku.

“Mana janjimu?” Suara Donghae bergetar. Eunhyuk menggigit bibir bawahnya.

“Mianhae..” Eunhyuk menarik Donghae ke dalam pelukannya. “Mianhae, naui sarang…”

“…” Hae hanya bisa terdiam di pelukan Eunhyuk. Perasaannya campur aduk saat ini. Mungkin ini pelukan terakhir dari dia, seseorang yang seharusnya tidak dia cintai seperti ini. Seseorang yang seharusnya dianggap menjadi sahabatnya. Seseorang yang seharusnya dianggap menjadi saudara.

“Kita ini saudara, ‘kan? Kamu adikku.” Perkataan Eunhyuk seakan menusuk jantung Donghae. Dia tidak menganggap namja tampan di hadapannya ini adalah kakaknya. Dia tidak pernah menganggap Eunhyuk sebagai saudaranya. Dia menganggap Eunhyuk sebagai…kekasih.

“Hae, mianhae. Aku yang menyebabkanmu masuk ke jalan hitam ini…jeongmal mianhae, Lee Donghae. Sarang…ah tidak, aku tidak boleh mencintaimu seperti itu.” Hae tidak tahan lagi. Dia menangis di pelukan Eunhyuk.

“Hyuk ah….kajimayo..kalau kau pergi nanti aku sama siapa? Yunho ssi di luar negeri, Appa sudah meninggal, Eomma tinggal bersama Yunho ssi…H-Hyuk…jebal…” Hae mengeratkan pelukan mereka. Eunhyuk terdiam. Dalam hati ia tidak mau meninggalkan Donghae. Tapi dia harus. Dia harus membebaskan Hae dari jurang kenistaan ini.

“Hae…” lirih Eunhyuk di telinga Donghae. Namja itu masih menangis. Eunhyuk membelai wajah di hadapannya lembut dan tersenyum. “Hae…Lee Donghae…tatap aku..” Eunhyuk menyentuh dagu Donghae dan mendongakkan kepala cowok itu.

Donghae mau tidak mau mendongak. Tapi dia menatap ke arah lain. Eunhyuk tersenyum.

“Hae, kau tidak mau menatapku lagi?”

“Biarkan aku melupakanmu, Hyuk. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.”

“…Sekali ini saja, Hae. Tatap aku.” Suara Eunhyuk terdengar lembut. Donghae akhirnya menatap wajah tampan Eunhyuk.

“Hae, carilah wanita yang bisa menggantikan posisiku. Hidup dengannya, lindungi ia seperti aku melindungimu. Hae, cintai ia seperti kau mencintaiku, bahkan lebih dalam lagi. Sayangi ia seperti kita yang saling menyayangi. Lee Donghae, ini mungkin pesan terakhir dariku. Lee Donghae, berbahagialah dengan yeoja pilihanmu. Ucapkan ‘saranghae’ seperti aku yang selalu mengucapkannya padamu setiap pagi dan malam. Lee Donghae,”  Eunhyuk mengambil jeda, “selamat tinggal.”

Eunhyuk melepaskan pelukan mereka. Donghae menolak. Dia menarik Eunhyuk kembali.

“Hae, jebal…biarkan aku pergi…kau kan sudah tidak ingin melihat wajahku lagi.”

“Ani. Aku berbohong, Hyukie. Hyuk, jebal, kajima..kajimayo..” Donghae menenggelamkan wajahnya ke dada Eunhyuk.

“Hae, ini yang terakhir kali ya…jangan seperti ini lagi.”

“Arasseo..”

“Yaksok? Kau akan melaksanakan pesan-pesanku tadi?”

“Ne, yaksokaeyo.”

= = =

Donghae’s POV

Eunhyuk menepati janjinya. Itulah malam terakhir kami bertemu. Setelah itu dia seperti menghilang. Yang ada hanya jejaknya. Kenangan-kenangan saat bersamanya, foto-fotonya, bahkan bajunya yang tertinggal di flatku.

Maaf, Hyuk. Aku tidak bisa melaksanakan pesan-pesanmu. Selama kau masih ada di pikiranku.

Seseorang tolong aku. Tolong buatku lupakan dia. Lupakan rasa ini. Kumohon, aku ingin kembali. Kembali seperti Lee Donghae yang dulu. Sebelum mengenal Lee Hyukjae yang menghancurkan duniaku serta menambal kekuranganku. Apa yang telah kau perbuat, Lee Hyukjae? Eunhyuk? Apa? Kenapa kau membuatku seperti ini? Menangis di saat seharusnya tertawa. Tertawa di saat sedih. Ya Tuhan…dia benar-benar..

Hyuk ah, aku menyalahkanmu terus. Maafkan aku. Ini bukan salah siapa-siapa. Apa memang kita tidak bisa saling mencinta? Tidak seperti orang lain? Kenapa tidak bisa? Kalau tidak bisa lalu kenapa perasaan ini bisa ada?

“Hyuk ah…” Aku melihat-lihat fotonya di kamera digital-ku. Tanpa sadar, aku tersenyum.

“Yah! Lee Donghae!!!” Seseorang meneriaki namaku dan menggedor-gedor pintu flatku. Aku terlonjak kaget. Itu seperti suara…Yunho ssi.

Aku melemparkan kamera digital-ku ke sofa dan membuka pintu flat. Yunho ssi berdiri di sana dengan wajah yang memerah karena amarah. Aku menelan ludah dengan susah payah dan mempersilahkannya masuk.

“Lee Donghae…itu tidak benar, kan? Kabar bahwa kau gay itu tidak benar, kan?” sembur Yunho ssi. Aku terdiam. Yunho ssi melihat kamera digital-ku dan menyambarnya. Aku tidak sempat menyelamatkan kamera itu. Akhirnya aku pasrah saja menerima apa yang akan terjadi. Dibunuh pun tak masalah, justru lebih baik karena aku tidak usah memikirkannya lagi.

“Donghae…jadi itu benar?” Yunho ssi memperlihatkan fotoku yang sedang berpelukan dengan Eunhyuk. Wajah Yunho ssi pucat. Yunho ssi menyisir foto itu satu per satu. Tatapannya campur aduk.

Prak…kamera itu terjatuh ke lantai. Yunho ssi menatapku garang.

“Kenapa, Hae? Kenapa kau mencintai seorang namja?!” Yunho ssi menonjok pipiku. Aku tak sempat mengelak. Hanya pasrah.

“Donghae, bicaralah!!! Jelaskan kenapa kau bisa seperti ini, Donghae!!!!”

“ITU KARENA  KAU!! ITU KARENA KALIAN! ITU KARENA KELUARGAKU YANG TIDAK ADA DI SISIKU! Bukan salahku dan dia kalau kami saling mencintai, ITU KARENA AKU TIDAK MERASAKAN CINTA DARI KALIAN!!” semburku kesal. Aku terengah-engah. Yunho ssi terperangah. Tanpa berkata apa pun, dia menonjok pipiku lagi.

“DASAR BODOH!! KAU PIKIR PERUSAHAAN ITU MILIK SIAPA HAH? ITU MILIKMU! Flat besar ini MILIKMU, apartemen di sana itu MILIKMU! DAN SEMUA WARISAN AYAHMU! Uang selalu kukirimkan, Eomma selalu menanyakan kabar, ITU BERARTI KAMI SEMUA MENYAYANGIMU!”

“JANGAN BAWA-BAWA AYAH!!! AKU SANGAT MENYAYANGI AYAH, TAPI KENAPA KALIAN MEMBUNUHNYA?!!! KENAPAAA?!” jeritku parau. Suaraku mulai serak. Mataku berkaca-kaca.

“Uljima, Hae…”

“Satu lagi, RASA SAYANG TIDAK BISA DIUKUR DENGAN MATERI!!” Aku hilang kendali dan menonjok pipi Yunho ssi. Tapi dia hanya diam.

“Tapi kenapa harus dengan namja? Kenapa tidak dengan…aish..” Yunho ssi mengacak rambutnya. Aku masih terengah-engah.

“Karena namja itu ada di saat kalian tiada..itu karena dia ada saat aku senang atau sedih…itu karena dia…karena dia menunjukkanku apa itu cinta..”

“Tahu apa kau tentang cinta, hah?” Yunho ssi mendekatiku dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku mendongak, menantangnya. Wajah kami sangat dekat, aku bisa merasakan hembusan nafasnya.

“Aku malu punya adik tiri sepertimu.”

“Aku tidak menganggapmu sebagai kakakku,” balasku tajam. Yunho ssi mendesah pelan. Dia lalu berjalan menjauh. Tangannya mengacak rambutnya lagi.

“Donghae, jangan salahkan aku jika besok-besok kau tidak bisa bertemu Eomma lagi.” Begitulah kata-kata terakhir Yunho ssi sebelum ia pergi dari flatku. Aku tertegun. Sedetik kemudian aku berlari keluar dan menarik lengan Yunho, well aku tidak akan memanggilnya dengan embel-embel ‘ssi’ lagi, seperti yang ia perintahkan.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Eomma sakit keras semenjak tahu kau gay. Jika tahu yang sebenarnya, aku yakin ia akan mati.”

“Jaga bicaramu!” bentakku. Orang asing yang mendapat jabatan sebagai kakak iparku ini benar-benar menyebalkan. Dia yang membunuh ayahku karena ingin mendapatkan hartanya. Dulu ia ingin mengambil semua harta ayah, tapi ibuku melarangnya. Ibu meminta agar hartanya dibagi rata. Yunho memang mengizinkan pada awalnya. Tapi makin kemari dia malah semakin mengincarku. Dia ingin membunuh keluargaku untuk mendapatkan semua harta keluargaku.

Dan di saat seperti ini, Eunhyuk datang. Dia membantuku menghilangkan stress, dia membantu meringankan bebanku dengan memberi solusi-solusi ampuh. Tapi ternyata, aku malah mencintainya.

Mungkin itu karena dia baik di saat tidak ada yang baik padaku.

Apa aku menyesal telah mencintainya? Tidak. Yang aku sesalkan adalah, aku mempunyai kakak tiri laknat seperti Yunho.

“Hey, apa yang akan kau lakukan? Berdiam di sini? Tak mau menyusul Eomma-mu? Payah. Dasar gay.” Yunho melepaskan tanganku dan berjalan menjauh. Perkataannya benar-benar menusuk. Sakit.

Sebenarnya, apa yang bisa kita dapat dengan harta? Kita tidak bisa membeli kebahagiaan dengan harta, bukan?

Baik, jika Yunho menantangku, kuterima tantangannya. Malam ini juga aku akan berangkat ke Inggris.

= = =

Eunhyuk’s POV

Sungguh, hari demi hari terasa menyiksaku. Mungkinkah karena tidak ada Lee Donghae? Hh…padahal Nami – gadis yang akan kunikahi – benar-benar baik. Dia tahu kelainanku dan dia berusaha menutupinya. Dia berusaha menjadikanku sebagai lelaki normal yang mencintai wanita. Yang mencintainya.

“Oppa, gwaenchana? Masih memikirkan…dia?” tanya Nami hati-hati. Aku menatapnya lembut.

“Ne..mianhae, Nami. Aku belum bisa melupakannya. Aku akan berusaha.”

“Tidak usah berjuang terlalu keras. Aku akan membantumu.”

“Terima kasih, Nami. Kau benar-benar baik.” Aku mengelus kepalanya. Dia tersenyum hangat.

“Oppa…dua hari lagi kita menikah. Eottokhae?”

“Hm? Lusa? Tak terasa ya…” gumamku.

“Apa kau mengundangnya?”

“Ya, pasti. Aku akan menunjukkan padanya bagaimana senangnya menikah dengan yeoja. Apalagi yeoja sepertimu.” Aku mencubit hidungnya gemas. Dia terkekeh. Lucu sekali.

“Oppa janji akan selalu bersama denganku?”

“Sampai maut memisahkan.”

Lee Donghae…ah aku harus mengirimkan undangan pernikahanku secepatnya. Dia benar-benar harus datang. Tapi bagaimana aku mengundangnya? Meneleponnya? Apakah dia akan menjawab teleponku? Datang ke flatnya? Apa dia mau membukakan pintunya untukku?

Akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya.

“Tuuut….tuuuut…” Aku menunggu dengan sabar. Klik, suara telepon diangkat. Aku menarik nafas untuk berbicara tapi sebuah suara menghentikanku.

“WAE?! KENAPA KAU MELAKUKANNYA, YUNHO!!! KAU BAJINGAN!!” Itu…suara Donghae. Jantungku berdebar kencang. Kali ini karena takut dan…rindu. Aku merindukan suara ini, tapi aku mengkhawatirkan apa yang sedang terjadi pada si pemilik suara lembut ini.

“SHIKUREO!!” Suara namja lain. Jantungku seakan terhenti.

“Yah, lepas!! YAH!!!” Donghae…sepertinya dia kesulitan. Dia dimana?

PRAAK…kurasa telepon Donghae dibanting. Aku tegang.

“Do-Donghae? Lee Donghae?” panggilku cemas.

“H-Hyuk ah?” Ya Tuhan, suara ini. Akhirnya dia berbicara padaku.

“Donghae gwaenchana?” tanyaku cemas. Nami yang sedang duduk di mini bar menatap ke arahku dengan serius. Aku masih gemetar memegang ponselku.

“Hyuk? Eunhyuk? Namja ini harus mati!! Dia menyebabkan kau menjadi gay!” Itu suara namja lain. Perkataannya menghentikan gerak jantungku. Nami tersentak. Suara dari ponsel itu terdengar jelas di ruangan yang sepi. Nami lalu menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Tidak! SUDAH KUBILANG BUKAN SALAHNYA!”

“KALAU BUKAN SALAHNYA, KAU TIDAK AKAN MENJADI SEPERTI INI! LIHAT EOMMA-MU! IA MENINGGAL KARENA KAU!!”

“SHIKUREO!!” Suara benda pecah belah terdengar. Aku tertegun. Jadi…Eomma Donghae sudah meninggal? Karena tahu anaknya gay? Dan itu semua karena aku? Ini salahku.

Nami mengambil ponsel di tanganku. Dengan tenang, ia berbicara melalui telepon, “Hae oppa, annyeong. Aku Min Nami, tunangan Eunhyuk oppa. Dua hari lagi kami akan menikah, kau datang ya. Oh ya, siapapun namja yang sedang bersama oppa, Eunhyuk oppa bukan gay, buktinya dia akan menikahiku. Donghae oppa juga. Dia mencintai Eunhyuk oppa sebagai saudara, mereka sering bersama. Dan Hae oppa, aku turut berduka cita atas meninggalnya ibumu.”

Aku terdiam. Nami tersenyum tipis dan menyerahkan kembali ponselku. Aku menerima ponselku dan mendekatkannya ke telinga.

“Yeo…Yeobosaeyo?” ucapku gugup.

“Hyuk ah?”

“Ye?”

“Bogoshipo.”

“Na ddo.”

“Kau akan menikah? Chukae..”

“Ye..gomawo.” Ya ampun, kenapa jadi canggung begini?

“Kalau kau punya kenalan single, jodohkan denganku. Kekeke.” Hae terkekeh. Tapi aku tahu dia sebenarnya sedih, tidak bahagia. Terdengar dari suaranya.

“Ya..pasti..”

“Em..tapi mungkin aku tidak bisa datang…”

“Wae?”

“Aku harus mengurus pemakaman Eomma dan sebagainya.”

“Aah…ye..”

“Mianhae…”

“Gwaen..chana…”

“Hyuk ah?”

“Hn?”

“Sa…ergh, annyeong.”

“Hh..annyeong…hi gyaesaeyo..”

“Tuuut…tuuuut…” Telepon diputus dari seberang. Aku terdiam.

“I wanna love you…I can’t live without you…” Nami menggumamkan lirik lagu yang kutulis berdua dengan Donghae. Aku menoleh menatapnya. Dia tersenyum.

“I wanna need you..I can’t live without you..” sambungku.

“Sepertinya lagu itu ditujukan padaku?” Nami terkekeh.

“Hmm…untuk sekarang iya.” Aku mengacak rambutnya.

= = =

Donghae’s POV

Puas kau, Yunho? Orang tuaku sudah meninggal! Ambil saja semua harta kami!

Besok hari pernikahan Eunhyuk. Hari ini aku langsung terbang kembali ke Korea. Harta-hartaku sudah diambil habis oleh Yunho yang haus kekayaan. Kini aku tidak punya apa-apa. Hanya flat itu yang disisakan Yunho. Sisanya diambil. Tapi tak apa. Setidaknya masih ada atap tempat aku bernaung.

Aku melangkahkan kakiku ke jalan raya. Aku baru saja tiba dari Inggris. Kusebrangi jalanan. Pikiranku melanglang buana. Saking tidak fokusnya, bahkan ketika lampu berubah warna menjadi merah, aku tetap berada di tengah jalan.

TIIIINNN… Suara klakson mengagetkanku. Aku ingin menghindar namun terlambat. Pengendara mobil itu menghindari tubuhku dan menabrak pembatas jalan hingga mobilnya terguling. Aku tertegun. Apa aku baru saja membunuh orang? Ya Tuhan, semoga orang itu baik-baik saja.

Aku berlari menghampiri mobil yang berasap itu. Kaca mobil itu pecah, kapnya bengkok, bannya ada yang menggelinding ke sembarang arah. Aku merasa bersalah. Segera aku menelepon ambulans.

Aku berlutut untuk memeriksa keadaan si pengemudi. Alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui siapa pengendara mobil itu. Lee Hyukjae atau Eunhyuk. Dia..dia yang mengendarai mobil ini. Dan dia yang terjepit di antara setir dan jok.

“To…tolong…” rintihnya kesakitan. “Kakiku…susah…engh…di…keluarkan…” Eunhyuk menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit. Dia mencoba menggerakkan kakinya namun tidak bisa. Aku tersentak.

“H-Hyuk ah mianhae…aku akan menyelamatkanmu..” Aku bergegas membuka pintu mobil dan mencoba menarik Hyuk keluar. Tapi tidak bisa, sabuk pengamannya menyangkut. Posisi mobil terbalik, membuatnya terjepit di antara setir dan jok.

“Mundurkan joknya…” gumamku. Aku menunduk mencari tuas untuk memundurkan jok. Wajahku dan tubuhnya sangat dekat. Aku merasakan wangi tubuhnya yang pernah kurasakan sebelumnya. Wangi yang kurindukan.

“Hae…mianhae…mianhae…aku…masih…mencintai..mu..” Eunhyuk berusaha melepaskan sabuk pengaman yang menyangkut. Dia mengerang ketika kakinya tertabrak sesuatu. Samar kudengar suara ‘krek’.

“Hae…kurasa…tulang kakiku..patah..sa-sakit Hae..” rintihnya. Tidak mungkin, Hyuk sangat menyukai dance. Bagaimana bisa menari jika kakinya patah?

“Tidak, kau pasti baik-baik saja. Kau pasti selamat.” Aku mendorong jok tersebut. Tapi susah, joknya terlalu berat, ditambah lagi dengan posisi yang menyulitkan. Sialan, kenapa sekarang malam? Jalanan sepi lagi!

“Hae, kakiku terjepit di antara pedal gas dan rem…sulit dikeluarkan…aku malah…mematahkan kakiku sendiri…ada yang jatuh…”

“Hentikan. Jangan banyak bicara.” Sial. Kenapa gelap sekali? Aku merangkak melewati tubuh Hyuk dan membuka laci dashboard. Aku menemukan senter di sana. Kurasakan dada Hyuk yang naik turun di punggungku. Aku berusaha keras menahan air mataku. Aku yang menyebabkannya seperti ini. Ini salahku.

“Hae…apa kau sudah meminta bantuan?” ucapnya di sela rintihannya.

“Ya, sudah.” Aku membuka mulutku dan meletakkan senter itu diantara bibir atas dan bibir bawahku. Gigiku ikut memegangi senter kecil itu. Kini tuas itu terlihat, dan aku menariknya. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku, jok itu berhasil mundur sedikit. Tapi Hyuk malah berteriak kesakitan.

“Ya Tuhan, Hae..sakit sekali!! Kakiku!!” teriaknya parau. Aku tertegun. Aku melihat ke arah kakinya yang bengkok. Hatiku miris melihatnya.

“Sudahlah Hae..tidak usah dilanjutkan…” Aku masa bodoh dengan perkataannya. Aku menatap ke atas, wajah Hyuk terlihat sangat pasrah. Aku menyentuh dagunya, memintanya menatapku. Dia menatapku. Aku memberi tatapan ‘bertahanlah-sebentar-lagi’. Hyuk mengerti dan mengangguk.

“Ha-Hae…kau bisa mematahkan setir itu…ada palu atau apapun yang bisa digunakan di bagasi..ambillah..” ucapnya. Aku mengangguk dan segera mengambil kotak peralatan. Dengan menggunakan palu, aku menghancurkan ‘sendi’ setir itu hingga patah. Aku melempar setir ke sembarang arah. Hyuk merintih kesakitan ketika sebelah kakinya berhasil keluar. Tinggal satu lagi.

“Hae, pisahkan pedal itu…” Aku mengangguk lagi. Aku menarik salah satu pedal dengan sekuat tenaga dan membebaskan kaki Hyuk dengan tanganku yang lain. Teriakan Hyuk lebih keras. Ini kakinya yang patah. Bertahanlah, Hyuk..sebentar lagi..bantuan datang.

Hyuk menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Aku melepaskan senter itu dari mulutku dan memegangnya dengan tangan.

“Apa yang bisa kulakukan untuk menghilangkan rasa sakitmu?” tanyaku tanpa menatapnya.

“Aku tak tahu..”

“Kurasa aku tahu.” Aku mendekati telinganya dan membisikkan sesuatu, “Saranghae..”

“Na…Na ddo..” Hyuk sudah menangis kesakitan. Aku mengusap air matanya sekilas sebelum aku berjuang melepaskan Hyuk dari sabuk pengaman. Dengan palu, aku menghancurkan ujung sabuk pengaman. Sabuk itu pun terlepas. Dengan cekatan, aku menangkap tubuhnya. Dari kejauhan, suara sirene terdengar.

“Hyuk…bantuan datang…kau pasti baik-baik saja..” tawaku pasrah. Hyuk mendesah pelan.

“Gomawo, Hae. Padahal seharusnya kau tidak usah melakukan ini…”

“Tak apa. Kita teman.” Aku tersenyum. Hyuk membalas senyumku.

Petugas-petugas medis itu langsung menghampiri mobil Hyuk dan mengeluarkan Hyuk dari dalam. Dia langsung diberi pertolongan pertama. Saat baju Hyuk dibuka, aku tertegun. Terdapat luka tusuk yang cukup dalam. Tapi…kenapa? Dia tertusuk apa?

Omo…kenapa aku tidak menyadarinya? Bajuku basah karena darahnya. Dia…dia merintih kesakitan karena aku menyentuh lukanya. Apa karena gelap jadi darahnya tidak terlihat? Tapi siapa yang menusuknya? Aku yakin itu luka tusuk disengaja.

“Nak, apa golongan darahmu?” tanya salah satu petugas.

“O,” jawabku cepat. “Ah, dia juga O,” lanjutku.

“Bagus, temanmu membutuhkan transfusi darah. Darahnya sudah banyak keluar dari tadi. Kenapa tidak menghentikan pendarahannya?”

“Aku..aku tidak tahu kalau dia berdarah sebanyak itu..”

“Ya sudah ayo ikut, sementara ini ia harus menggunakan darah ini secukupnya. Perjalanan masih lama…”

Aku menatap wajah Hyuk yang menahan sakit. Sejak tadi tubuhnya terus menggeliat. Dia sedang merasakan sakit di kaki dan perutnya. Aku membenci diriku sendiri. Tak ada yang bisa kulakukan saat seperti ini. Jika mentransfusi darah, jarak rumah sakit masih jauh. Sementara persediaan darah tinggal sedikit. Ya Tuhan, tolong selamatkan Hyukjae…

“Aa-aaargghh!!!” erang Hyuk ketika guncangan mobil terasa kencang. Aku emosi.

“Yah! Jangan gegabah menyetirnya!!”

“Maaf, tapi kalau lambat temanmu tidak akan mendapatkan cukup darah..kita harus cepat..jalanan di sini agak kurang bersahabat..”

“Sialan!!” Aku frustrasi. Ini gara-gara aku, Hyuk..maafkan aku. Aku menatap Hyuk yang kesakitan. Aku menghela nafas.

“Apa dia bisa dibius? Atau apapun untuk mengurangi rasa sakitnya?”

“Tidak bisa di saat kritis seperti ini. Lagipula obat biusnya habis..”

“KALIAN INI PETUGAS MEDIS DARIMANA SIH?! APA-APA TIDAK ADA!!!” teriakku. Ada tangan yang menyentuh punggung tanganku. Aku menoleh pada Hyuk. Dia tersenyum dan menggeleng. Tatapannya seakan mengatakan ‘nan-gwaenchana’.

“Hae…sa….sarang..hae…yo…” bisiknya. Aku menggigit bibir bawahku, menahan tangis.

“Hyuk, bertahanlah…kau pasti tidak apa-apa..”

“Tidak perlu..aku sudah tidak bisa merasakan kakiku, bahkan organ di perutku..mataku berkunang-kunang…Hae, kalau aku pergi sekarang, kau akan setia datang ke makamku, ‘kan?”

“Bodoh. Kalau kau mati, aku mati juga.”

“Tidak…kau..pantas hidup…”

“Hyuk ah, siapa yang menusukmu?” Aku mengalihkan topik.

“Yun…ho…” Nama itu membuatku geram. Aku menggertakkan gigiku. Kubunuh juga dia lama-lama.

“Hae…selamat tinggal..” Hyuk tersenyum dan menutup matanya perlahan. Aku terpaku. Para petugas itu sibuk mengurus Hyuk yang melemah. Petugas itu menjadi pucat. Aku tidak mengerti. Tunggu, ada apa ini? Kenapa pucat? Hyuk masih hidup, ‘kan? Dia akan menikah dengan Nami besok, ‘kan? Aku akan menghadiri pernikahannya dan melihatnya bahagia, ‘kan?

“Apa kau keluarganya?” tanya salah satu petugas. Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Maaf…dia…tidak bisa diselamatkan..” Aku serasa ditampar. Aku menatap wajah Hyuk yang terlihat damai. Tidak merasa kesakitan seperti tadi.

“Tidak mungkin…Hyuk masih hidup…dia tidak mungkin meninggalkanku secepat ini. Ya?”

“Maaf, Nak. Saudaramu memang sudah meninggal..” Penegasan itu membuat jantungku berhenti. Sesuatu menarikku ke alam sadar.

 “Andwae…andwaeyo! Dia masih hidup!!” Aku mulai histeris. Aku ingin mengguncang tubuh Hyuk jika salah satu petugas tidak menghalangi aksiku. Aku mulai meraung, menjerit. Air mataku menetes.

“Hyuk ah!! Hyuk ah kenapa kau diam saja?! Hyuk ah, jawab aku!! Kau tidak pergi, ‘kan? Kau akan bahagia besok, bukan begitu? Aku akan datang ke pernikahanmu! Bawa kado yang banyak dan ucapan selamat yang tulus! Hyuk, kau ingin merasakan hari bahagia itu, ‘kan? Iya, Hyuk? Hyuk! HYUK AH, JAWAB AKU!!!!” Aku menangis. Wajah Hyuk ditutupi kain putih. Tangisku semakin kencang.

“Andwae….ANDWAE!!!!! HYUK AAAAAH!!!” jeritku.

= = =

Sudah seminggu semenjak ia meninggalkanku untuk selamanya. Aku bertekad untuk membunuh namja bernama Jung Yunho itu. Aku memasangkan bom di mesin mobil Yunho, sehingga jika mesinnya dinyalakan, mobil itu akan meledak.

“Yah! Jung Yunho!!” panggilku pada namja di seberang jalan. Namja itu mendatangiku tanpa ekspresi.

“Wae?” tantangnya.

“Kenapa kau membunuh Hyuk juga?”

“Karena dia selalu melindungimu. Aku benci hal itu.”

“Lantas kalau dia melindungiku, apa hubungannya denganmu? Salah? Hah!”

“Salah. Dia yang menghalangiku saat ingin membunuh ayahmu, dia yang menghalangiku untuk membunuhmu. Kau tahu kenapa dia tertusuk? Saat aku mau membunuhmu, dia mendatangiku dan menghajarku. Tapi dia tertusuk cukup dalam. Lalu dia langsung pergi dengan mobilnya, kurasa ia ingin mengecek keadaanmu.”

“Apa?” Aku terpaku. Tidak mungkin…Hyuk ah..kenapa kau melakukan hal itu?

“Kesimpulannya, orang-orang yang kau cintai mati karena melindungimu. Enak sekali kau dilindungi begitu.”

Andwae…Hyuk tidak mungkin…melindungiku sampai seperti itu.

“Yah, sekarang sudah tidak ada yang melindungimu. Aku akan membunuhmu sekarang..”

Tanpa ba-bi-bu, aku mendorong Yunho ke dalam mobil. Kebetulan aku sudah mengeset waktunya secara diam-diam.

“YAH!!” teriak Yunho. Aku berlari menjauh. Saat Yunho mau melompat keluar…

BOOOOM!!! Suara ledakan menggelegar di keramaian kota Seoul. Aku tertawa. Mati kau, Jung Yunho. Sudah membuat hidupku hancur.

= = =

5 tahun kemudian…

Aku berjalan menuju makam Lee Hyukjae. Aku tertegun ketika kulihat Nami duduk diam di depan makam. Aku menghampirinya dan menaburkan bunga untuk Hyukjae. Nami menoleh dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya.

“Annyeong, oppa..” sapanya.

“Annyeong.”

“Sudah 5 tahun ya…sudah lama..” Nami mengulum senyum sedih.

“Ya..tidak terasa…” Aku berjongkok di samping Nami. Gadis itu bergeser sedikit, memberi ruang padaku untuk duduk di atas hamparan koran.

“Kau sudah lama di sini?” tanyaku. Nami menggeleng.

“Aku juga baru sampai.” Aku mengangguk-angguk. Nami tampak merenung.

“Oppa, Hyuk oppa menitipkan sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Aku.”

“Hn?” Aku mengerutkan kening. Nami menatapku malu.

“Hyuk oppa bilang aku harus hidup bahagia dengan oppa…dia menitipkanku padamu..”

“Ne?!” Aku terkejut. Selama 5 tahun ini, aku tidak pernah menjalin hubungan yang serius dengan seseorang. Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya mencintai. Dan sekarang aku dititipkan sesuatu yang berharga? Sangat berharga? Min Nami…dia dititipkan padaku. Apa yang harus kulakukan? Aku takut menyakitinya.

“Tapi..apa kau akan bahagia denganku? Kau tahu sendiri kan aku..”

“Ssst, oppa. Makanya aku akan membantumu sembuh. Aku yakin kau bisa.” Nami tersenyum, manis sekali. Mau tak mau aku membalas senyumnya.

“Kau tidak malu mempunyai suami….gay?”

“Tidak. Lagipula seiring berjalannya waktu, oppa pasti mulai mencintaiku. Aku yakin.”

“Hahaha…” Aku tertawa lembut. “Arasseo..aku akan mencoba mencintaimu. Ara?”

“Ne.” Gadis itu tersenyum lagi. DEG…jantungku berdebar. Rasanya…aneh tapi menyenangkan.

“Nami ah, jika berdebar-debar, berarti cinta ya?”

“Hm…iya..”

“Aku mencintaimu.”

“He?” Nami menatapku heran. Aku tersenyum dan mengecup bibirnya sekilas.

“Kita menikah besok saja,” ucapku tiba-tiba yang membuat Nami memerah.

“Oppa sudah sembuh?” tanya Nami. Aku tersenyum dan menarik tangannya. Aku lalu menempatkan tangannya tepat di dadaku. Dia bisa merasakan detak jantungku. Nami tersenyum bahagia.

“Syukurlah kalau kau merasakan hal yang sama denganku.”

Well, aku tidak mengerti ini detak jantungku sendiri atau detak jantung Hyuk yang hidup di dalam diriku. Entahlah. Tapi kurasa…aku mulai mencintai yeoja bernama Min Nami. Aku ingin membahagiakannya, melindunginya seperti Hyuk melindungiku dulu, menyayanginya seperti aku dan Hyuk yang saling menyayangi, mencintainya lebih dalam daripada cintaku pada Hyuk. Aku ingin mengatakan ‘saranghae’ padanya setiap pagi dan malam. Seperti yang Hyuk lakukan padaku dulu.

Saranghae…saudaraku, Lee Hyukjae, dan cintaku, Min Nami.

END

14 thoughts on “[FF] Mianhae, My Lover

  1. Dhikae says:

    kkkkkk eunhae couple muncul jg/plakk plakk
    huahhh menegangkan pas hyuk kejepit kakiny Y.Y
    udh gitu pas kritis lagi.. ckckck
    eunhae couple so sweet nih.. kekeke
    kyaa~ yunho mati jg.. kkkk
    akhirnya hae normal~ lol@_@
    bagus alur crtanya… ^^bbb

  2. haeny_elfishy says:

    yeobo,
    km geli ya ma yaoi ? hahaha
    eunhae so sweet bgt ah. . . bner” cinta ma eunhae nih. . . bkin yaoi eunhae yg bnyk ya yeobo, kekeke

  3. Hyejin says:

    Q ampir nangis bca.na . ,
    eunhae couple so sweet . ,
    miris bgt hyukkie .
    Yunho jht bgt , Q mutilasi jg dech tuh org . Hlo ? LOL ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s