[FF] Miracle from an Angel

Title: Miracle from an Angel

Casts: Han Sung Young, Choi Minho, other casts.

Rating: T

Type: One shot

Genre: Friendship, Family, Mystery, Romance

Disclaimer: I don’t own the casts. They belong to God.

Note: Enjoy the story and don’t forget to leave a comment. Thanks.

= = =

Aku meneguk peppermint tea-ku entah untuk yang keberapa kalinya. Dinginnya malam membuatku ingin mengeluarkan isi perutku lagi. Aku terbatuk. Aku meminum peppermint tea lagi untuk mendorong isi perutku yang sudah mencapai kerongkongan.

Peppermint tea-ku habis dan untuk kesekian kalinya, aku menyerah. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutku. Aku heran. Rasanya sudah tak ada yang harus dimuntahkan namun perut ini masih terasa mual dan berteriak untuk mengeluarkan isinya. Aish..

Aku lalu kembali ke tempat dudukku semula. Duduk di sebuah bangku plastik di depan kedai minuman kecil. Cegukanku belum mau terhenti.

“Dasar bajingan!” umpatku pelan. Mataku berkunang namun aku masih menangkap sesosok pria sedang menatap aneh ke arahku.

“Ada apa, Nona manis?” sapanya datar. Aku mendelik ke arahnya, merasa tidak suka dengan panggilannya terhadapku.

Tak mendapat respon berupa kata, ia melanjutkan, “Nona, kau mabuk. Obat untuk mabuk adalah kopi, bukan teh.” Kesimpulan yang kudapat darinya adalah, ia memperhatikanku sejak tadi.

“Diam kau! Tak usah mengguruiku!” bentakku. Tubuhku terhuyung ke jalanan dan dia segera menopang tubuhku.

“Ayahku seorang penjilat, kau tahu? Diktator!” Aku merasa sedang melayang. Aku melihat ke bawah. Ah, ya…aku sedang melayang.

“Nona, dimana rumahmu?” tanyanya. Hik…aku cegukan. Dalam keadaan setengah sadar aku merogoh kantongku untuk mencari kartu identitas. Sial, aku lupa.

“Aku baru saja dirampok..hik…semua yang aku punya hilang..Semuanya hilang! Tak ada yang tersisa!! Hahaha…hik…”

“Apa kau masih ingat dimana rumahmu?” Belum sempat kujawab, kesadaranku sudah hilang.

Pagi harinya kupaksa kedua mataku terbuka. Rasanya berat sekali. Bau alkohol masih terasa di rongga mulutku. Aku melihat sekeliling. Kamar seorang pria yang rapi. Bernuansa biru laut. Ruangan yang nyaman namun asing.

Aku membuka pintu kamar. Terlihat balkon tangga yang mewah. Beberapa meter ke depan tergantunglah untaian Kristal yang menyala indah. Tapi kemudian kristal itu mati. Suara gesekan langkah kaki terdengar dari lantai dasar. Aku melongokkan kepalaku ke bawah. Lelaki semalam tertidur pulas di hadapan sebuah TV mati. Tangan kanannya menutupi wajah pucatnya sedangkan tangan kirinya terjuntai begitu saja ke lantai. Kaki kanannya menekuk sedangkan kaki kirinya lurus ke depan dan melebihi batas kursi. Posisi yang benar-benar tidak nyaman menurutku.

Aku memutuskan untuk menuruni tangga ke lantai bawah. Dalam keadaan sadar aku benar-benar merasa malu berada di rumah orang lain sendiri. Apalagi yang belum kukenal.

“Selamat pagi, kau sudah bangun rupanya,” sapa seorang wanita.

Aku menatapnya yang sedang menata meja makan dengan hidangan-hidangan yang mampu menggugah selera. Aku sampai menelan ludah dibuatnya.

“Namaku Choi Chaerin. Minho baru pertama kali membawa seorang wanita ke rumah. Kau pasti pacarnya.” Mana mungkin? Tahu namanya saja baru sekarang.

“Oh, aniyo. Aku bukan siapa-siapanya.” Aku tersenyum dan mulai membantu Chaerin menata meja makan. Chaerin menghentikan kegiatannya menyusun sumpit dan menatapku heran.

“Lalu…kau?”

“Engh..Noona, jo eun ah chim.” Minho tiba-tiba mendekati Chaerin dan mengecup pipinya sekilas. Tanpa menatapku sedikit pun, Minho berlalu ke kamar mandi. Aku mendengus.

“Dia memang suka datang tiba-tiba,” komentar Chaerin.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan terlihatlah Minho yang sedang mengacak rambutnya yang basah. Dia memakai celana panjang putih dan kaus oblong putih juga. Dia mengibaskan rambutnya lalu berjalan mendekati meja makan. Wangi tubuhnya yang sudah dilapisi wangi sabun langsung memanjakan hidungku. Aku malu. Sepertinya hanya aku yang belum mandi di sini.

“Annyeong. Choi Minho imnida.” Minho tersenyum lembut.

“Han Sung Young imnida.”

“Sung Young ah, sehabis makan kita olahraga yuk!” ajak Minho. Aku hanya mengangguk.

“Setelah mandi ya.”

Sepertinya Minho berbohong tadi. Aku dan dia hanya berjalan santai mengelilingi perumahan.

“Apa masalahmu? Mungkin aku bisa bantu.”

“Engh..tidak penting. Ayahku hanya menikah lagi dan meninggalkanku berdua dengan kakakku. Itu saja.”

“Ibumu?”

“Dia memilih berkarir menjadi model. Aku dan kakakku sering ditawari menjadi model namun kami menolak. Kami tidak mau menjalani profesi Eomma. Profesi yang membuatnya tak mau melahirkan kami.” Aku termenung. Aku lalu mendongak menatap Minho. DEG…tatapan seriusnya membuat sebuah perasaan aneh mendesir di dalam tubuhku. Aku cepat-cepat mengalihkan wajah.

“Sung Young, setiap orang tua pasti menyayangi anaknya. Dan setiap anak wajib menghormati orang tuanya. Seperti apapun mereka, Sung Young. Aku yakin mereka menyayangimu, hanya saja dengan cara yang berbeda.” Minho menghampiri sebuah kedai es krim dan membeli satu es krim cokelat dan satu es krim stroberi. Ia lalu memberikan yang stroberi padaku.

“Lalu bagaimana dengan orang tuamu?” tanyaku hati-hati lalu menjilati es krim.

“Ibuku sudah meninggal dunia. Lalu Appa menikah kembali dengan Chaerin Noona. Tak berapa lama kemudian, Appa meninggal karena serangan jantung mendadak.”

“A-apa? Jadi Chaerin itu ibu tirimu?” pekikku tak percaya. Minho mengangguk dan melap bibirku yang belepotan es krim dengan sapu tangannya.

“Tapi kalian seperti kakak adik.”

“Oh ya? Dia yang terlihat muda atau aku yang terlihat tua?”

“Dia yang terlihat muda, mungkin.” Aku melahap es krimku lagi. Minho tersenyum.

“Tidak seperti sepasang kekasih?”

“Tidak.”

“Sayang sekali.” Minho membersihkan tangannya dari remah wafer.

“Hng?” Aku heran.

“Aku mencintai Chaerin Noona.”

“Uhuk!” Aku terbatuk hebat. Dengan tenang, Minho menyodorkan sebuah botol minuman padaku. Aku langsung meneguknya dengan cepat.

“Pantas saja kalian mesra…” ucapku pelan. Minho tertawa.

“Bagaimana menurutmu? Aku dan Noona?”

“Yah…cocok. Tapi dia kan ibu tirimu.”

“Aku tidak peduli.” Harapanku pun terhempas ke tanah.

“Sudahlah. Ingat ya Sung Young, perlakukan orang tuamu sebaik-baiknya selama mereka masih ada. Jangan seperti aku.”

“Ne.”

Malamnya aku pulang ke rumah dan terkejut ketika melihat Appa dan Eomma sedang berpelukan. Eomma menangis.

“Mianhae…mianhae…” ucap mereka bergantian. Aku tertegun.

“Eomma..Appa…” serakku. Mereka berdua menoleh.

“Sung Young..” Eomma langsung memelukku. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Ternyata Han Raerim, kakakku.

“Saeng ah, saengil chukkae.” Aku tertegun. Bukankah ulang tahunku masih sebulan lagi?

“Kami sangat khawatir ketika tahu kau koma. Tapi syukurlah kau selamat,” jelas Appa. Aku semakin bingung.

“Tadi aku habis dari rumah sakit untuk menanyakan keadaanmu. Tapi ternyata salah satu temanmu sudah mengantarmu pulang,” kata Raerim unnie.

“Siapa?”

“Choi…Choi siapa ya? Aku lupa namanya.” Choi? Minho? Choi Minho? Tunggu dulu..

“Aku koma kenapa?”

“Tertabrak mobil waktu sedang mabuk di pinggir jalan.” Aku tersentak. Jadi…sejak saat itu..

“Sudahlah, ayo kita rayakan kesembuhan Sung Young dan ulang tahunnya yang ke 20!” seru Eomma. Dengan perasaan bingung, aku terpaksa merayakan pesta ini.

Esoknya aku langsung berlari ke rumah Minho. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat rumah itu kosong melompong dan sudah dihiasi dedaunan kering. Aku menatap sekitar dan menemukan seorang Ahjumma yang sedang menyapu. Aku lalu menghampiri Ahjumma itu.

“Ahjumma, apa betul itu rumah Choi Minho?” tanyaku sembari menunjuk ke arah rumah Minho.

“Oh ya benar. Tapi rumah itu sudah kosong semenjak dua tahun yang lalu. Pemiliknya meninggal dunia.”

“Maksudmu Choi Minho sudah meninggal dunia?”

“Ya. Ia meninggal bersama ibu tirinya ketika akan liburan ke Perancis.” Perancis..kota yang romantis.

“Keuraeyo? Ne…arasseo. Gamsahamnida.” Aku membungkuk dan berlalu pergi. Aku masuk ke kamarku dan berdiri di balkon dengan lesu.

“Tengadahkan kepala ke langit dan tunggu butiran salju pertama yang mengenai hidungmu. Itulah aku..” Suara Minho berbisik lembut di telingaku. Aku menengadah dan sebutir kristal salju jatuh tepat di hidungku. Aku tersenyum.

“Minho ssi…gomawo.” Aku merasa ada yang merangkulku dan mencium bibirku sekilas. Aku tertawa pelan. Aku yakin itu Minho.

“Meski kau datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba, namun aku tetap menyayangimu. Kau yang menyadarkanku untuk lebih menghormati orang tua. Gomawo. Joahae..”

Kristal-kristal salju berikutnya mulai berjatuhan. Di tengah hujan salju itu rasanya aku melihat sosoknya. Sesosok malaikat bernama Choi Minho.

= = =

Di atap kamar Sung Young, Minho duduk dengan tenang memandangi salju yang berjatuhan.

“Sung Young ah, saranghae. Maaf aku sedikit berbohong tentang keluargaku.” Perlahan sosoknya menghilang ditelan hujan salju.

= = =

Aku sedang berjalan santai mengelilingi perumahan. Aku masih mengingat Minho. Aku tak pernah melupakannya.

Tiba-tiba sesorang menubrukku. Karena sedang lengah, aku pun terjatuh.

“Aaaa…mian. Aku tidak sengaja.” Lelaki itu menarik tanganku untuk membantuku berdiri.

“Mian…aku belikan kau es krim ya?” Lelaki itu langsung menarik tanganku ke sebuah kedai es krim. Ia membeli es krim cokelat untuknya dan es krim stroberi untukku. Aku tertegun.

“Namaku Choi Minseok. Kau?” tanyanya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya.

“Han Sung Young. Mannaseo bangapseumnida.”

Aku yakin itu kau, Minho. Aku yakin itu reinkarnasi dirimu. Saranghamnida.

THE END

19 thoughts on “[FF] Miracle from an Angel

    • sungheedaebak says:

      jadi si cwe itu ketabrak mobil pas lagi mabok, koma. terus di komanya dia ketemu minho, cwo yg dah meninggal. terus endingnya gitu si minhonya dateng ke dunia, terus balik lagi ke alam sana. dia sengaja dateng ke komanya si cwe itu supaya nyadarin si cwe itu.

      kurang lebih gt
      ngerti?

      lanjutannya? one shot aja deh…

  1. vidiaa says:

    hah? minhonya meninggal? waaa diluar dugaan –a
    aku kira sung young sadar terus suka sama minho,jadian deh ._.

    tapi, minhonya sama… ahjumma… —

    suka kalo baca FF diluar dugaan gini endingnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s