[FF] First Time Being Played, Player?

Casts: Shim Changmin, Lee Sunghee, Kang Raeki, Choi Chaerin

Rating: NC-16

Length: One Shot

Note: Dosa ditanggung sendiri. Setelah baca langsung komen.

Author: sungheedaebak

“Chaerin ah…saranghae..” Bisikan seorang lelaki membuat Chaerin merinding. Dia menatap ke belakang dan mendongak. Shim Changmin tersenyum padanya.

“Oppa…na ddo saranghae..” Chaerin tersenyum. Tiba-tiba, Changmin mendekatkan wajahnya ke wajah Chaerin dan mencium bibir gadis itu dengan ganas. Chaerin terkejut namun ia menikmati ciuman itu. Beberapa detik kemudian, dia tesadar.

“Oppa, ini di taman!” Chaerin mendorong tubuh Changmin. Namja itu mundur beberapa langkah. Tapi Changmin menciumnya kembali.

“Memangnya kenapa? Ini sudah malam.” Changmin memaksa memasukkan lidahnya ke mulut Chaerin. Chaerin mendesah perlahan.

“Tapi…hh..aku…tidak mau melakukannya di sini…” Wajah Chaerin memerah. Changmin melepas ciumannya dan melihat ke sekeliling. Beberapa pasangan sedang asyik berciuman. Akhirnya Changmin mengerti.

“Mau yang pribadi ya? Ayo!” Changmin merangkul pundak Chaerin dan membawanya ke mobilnya.

= = =

“O-oppa…apa…yang akan kau lakukan?” Chaerin bergidik ngerti menatap Changmin yang merangkak ke atas tempat tidurnya.

“Kau mencintaiku, bukan?” Changmin mengecup kening Chaerin. Gadis itu menarik selimutnya menutupi tubuhnya.

“Iya tapi…kenapa jadi begini?”

“Kau sendiri yang bilang ingin pribadi, ‘kan?”

“Aku tidak pernah bilang begitu!”

“Sudahlah..” Changmin mencium pipi Chaerin. “Kau akan menikmatinya.”

“Tunggu dulu! Aku tidak ingin melakukannya sebelum menikah!”

“Kau tahu aku akan melakukan apa, jagi?” Changmin menyeringai. Chaerin tertunduk takut. Tangannya gemetar. Changmin melihat tangan yang gemetar itu dan segera menggenggamnya.

“Tenang saja, I’m a professional.”

“Y….” Chaerin belum sempat menjawab namun Changmin sudah melumat bibirnya terlebih dahulu. Dia mengelus-elus punggung Chaerin. Lidah Changmin bercengkrama dengan lidah Chaerin. Tangan Changmin menyelinap masuk ke dalam baju Chaerin.

“O….oppa…” desah Chaerin. Changmin hanya bergumam. Dia tersenyum ketika mendapatkan benda yang ia cari. Ia melepaskan kaitan bra Chaerin. Perlahan Changmin membaringkan tubuh Chaerin ke ranjang. Tangan Chaerin melepas kemeja yang digunakan Changmin.

“Oh…mau berkompetisi denganku?” Changmin terkekeh. Chaerin hanya tersenyum masam. Changmin menuruni ciumannya ke leher. Dia meninggalkan kiss mark di sana.

“A-ah..oppa!” Chaerin mendorong pundah Changmin.

“Wae geurae?” katanya dengan nada kesal.

“Hhh…kau saja yang melumatku dari tadi. Sekarang giliranku.” Chaerin menarik belakang kepala Changmin dan melumat bibir lelaki itu. Changmin tersenyum tipis. Chaerin meremas rambut Changmin sambil sesekali mendesah ketika tangan namja itu menggerayangi tubuhnya.

“Panggil namaku, Chaerin..”

“Changmin….”

= = =

Keesokan paginya, Chaerin masuk ke flat yang dihuninya berdua dengan adik sepupunya dan terkejut ketika melihat Sunghee, adik sepupunya, tertidur di sofa.

“Sunghee ya…ireona!” Chaerin mengguncang bahu Sunghee. Gadis itu membuka matanya perlahan dan menatap Chaerin. Matanya melotot.

“Ya ampun Chaerin, aku menunggumu semalaman!!! Kau kemana saja?!” pekik Sunghee. Chaerin merasa bersalah, kantung mata jelas terlihat di bawah mata Sunghee, menunjukkan bahwa ia begadang.

“Mianhae, kemarin ponselku low batt.”

“Oh, God. Kau tahu aku sudah menghubungimu sebanyak 20 kali!! Kau benar-benar mencemaskanku. Apa yang kau lakukan tadi malam?”

“A-aku..” Chaerin ragu. Apakah dia benar-benar harus menceritakan hal itu pada Sunghee? Tapi dia percaya Sunghee tidak akan memarahinya. Tentu saja, Sunghee itu seorang player.

“Tadi malam aku…dengan Changmin oppa…”

“Kau sudah melakukannya?!” seru Sunghee. Tuh kan, Sunghee mengerti lebih awal.

“Y-ye…”

“Chukkae!!! Ceritakan padaku!” Ekspresi Sunghee kali ini benar-benar yadong.

“Hhh…kau ketularan namjachingumu tuh! Player dan yadong…dasar..”

“Namjachinguku yang mana?”

“Gyaa…memangnya kau punya berapa namjachingu?”

“10 ada mungkin. Kalau yang player dan yadong itu pasti Hyuk ya?”

“Entahlah siapa namanya aku tidak peduli. Kejadian tadi malam juga biasa saja kok. Aku menghentikkannya ketika dia hendak berbuat lebih jauh…”

“Apa?! Tidak asyik! Memang sampai mana?”

“Sial. Kau tidak perlu tahu.” Chaerin menyentuh lehernya dengan tidak sengaja. Sunghee memperhatikannya. Tiba-tiba Sunghee menarik tangan Chaerin dan menyuruhnya duduk di hadapannya.

“Wae geurae?” keluh Chaerin dengan nada kesal. Sunghee menyingkirkan tangan Chaerin dan memperhatikan leher Chaerin yang memerah. Sunghee tersenyum nakal.

“Aigoo…hisapannya kuat juga ya? Aku ingin mencobanya.”

“Apa?!”

“Ani.” Sunghee tersenyum dan bangkit berdiri. “Kusarankan padamu, jangan buat kiss mark di sana.”

“Ha? Lalu dimana?”

“Di sini.” Sunghee melonggarkan T-shirt yang digunakannya dan memperlihatkan pundak kirinya yang memerah. Sunghee tersenyum setengah dan menutupi pundaknya lagi. Chaerin menganga.

“Kau serius…?”

“Alasanku memakai tangan panjang akhir-akhir ini juga karena ini..” Sunghee menggulung lengan panjangnya dan terlihatlah beberapa kiss mark di sana.

“Ya ampun, Sunghee…bagian mana lagi yang terdapat kiss mark, hah?!”

“Rahasia!” Sunghee mengedipkan sebelah matanya dan berlalu ke dapur. Chaerin mengikutinya.

“Yah, kau ini kan cassanova, tidak kasihan pada pacar-pacarmu?”

“Tidak. Kata kasihan tak ada dalam kamusku.”

“Lalu…apa kau mencintai mereka?”

“Entahlah. Hari ini aku berpikir untuk memutuskan mereka.” Sunghee termenung. Chaerin menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu menoyor kepala gadis itu.

“Dasar cassanova!”

= = =

Raeki menatap Changmin prihatin. Baru saja kemarin Changmin bilang bahwa dia mengencani seseorang bernama Chaerin, dan hari ini ia akan memutuskan gadis itu dan berkencan dengan wanita lain. Raeki cemburu. Jelas saja, selama ini Raeki-lah yang selalu ada di samping Changmin, memperingatinya. Namun namja itu seakan tidak menganggap Raeki ada.

“Changmin ah..” panggil Raeki. Ia bosan melihat Changmin mondar-mandir di ruangan sambil menelepon. Changmin menutup teleponnya dan menatap Raeki.

“Ye?”

“Sampai kapan kau mau begini?”

“Begini bagaimana?”

“Cassanova, mengencani semua gadis.”

“Sampai semua gadis di dunia menjadi milikku. Termasuk kamu.” Raeki mendesah pasrah. Changmin tersenyum jahil.

“Changmin ah, apa kau tidak pernah berpikir bagaimana rasanya disakiti?”

“Tidak.”

“Aku perempuan dan aku mengerti bagaimana rasanya disakiti seperti gadis-gadismu. Rasanya sangat sakit, Changmin ah.”

“Siapa yang menyakitimu?” Raeki terpaku. Tidak mungkin ia menjawab bahwa yang menyakitinya adalah Changmin.

“Erh..”

“Tak ada? Lalu bagaimana kau tahu rasanya? Ini hidupku, Raeki. Aku senang melakukannya.”

“Tidak, kau tersiksa. Ini bentuk pelampiasanmu untuk kemarahanmu pada kakakmu, ‘kan?” Raeki duduk bersila di atas tempat tidur Changmin. Mereka memang bersahabat sejak kecil, jadi sudah biasa.

Changmin berbalik dan menatap Raeki dengan pandangan aneh.

“Yah, kau seperti tidak tahu aku saja! Dari dulu aku memang sudah cassanova.” Mendengarnya, Raeki menggeleng kuat. Changmin heran.

“Kau bukan cassanova, Changmin! Ugh right, kamu memang sering memperhatikan gadis-gadis tapi tidak sampai memacari mereka seperti ini.”

“…”

“Changmin ah…pikirkan perasaan orang lain. Jika kau sangat mencintai seseorang dan ternyata orang itu mencampakkanmu seperti yang biasa kau lakukan, bagaimana perasaanmu?”

“….”

“Kuharap kau mengerti.” Changmin terdiam. Raeki tersenyum. Jika Changmin terdiam, berarti dia mendengarkan dengan seksama.

= = =

“Chaerin ah, maaf kita putus.”

“A-apa?! Tapi kita baru berpacaran kemarin.”

“Memangnya kenapa? Aku tidak puas denganmu.”

“Ma-maksudmu?”

“Kau menolakku di malam itu.”

“Bukan itu maksudku! Aku hanya tidak ingin melakukannya sebelum menikah!”

“Apapun. Sudahlah, tidak usah mengejarku lagi. Bye.”

“Oppa!!”

= = =

“What the hell with your eyes?” Sunghee melirik Chaerin. Gadis itu menatap Sunghee dengan sedih.

“Changmin oppa…”

“Kenapa dia? Impoten?”

“Sial! Dia memutuskanku dan kau masih bisa menjadikannya sebagai bahan bercandaan?!” seru Chaerin marah. Sunghee terdiam di depan laptopnya.

“Bukankah kau baru saja menjadi pacarnya?”

“Iya…tapi dia memutuskanku tadi.”

“Sialan, kuberi pelajaran juga anak itu.”

“Kau mau apa?”

“Tenang saja, Chaerin. Aku yang akan membalas namja sialan itu.”

= = =

Changmin berjalan memasuki club malam itu. Dia tersenyum memandang gadis-gadis yang berpakaian minim. Dia lalu berjalan menuju bar. Di depan meja, seorang gadis sedang meminum birnya dengan nikmat. Gadis itu memiliki rambut panjang sepunggung, dia memakai kaus tanpa lengan berwarna hitam dibalut dengan jaket berwarna biru muda. Dia memakai rok pendek di atas lutut.

Caranya meminum bir benar-benar membuat Changmin terpaku. Dia menegak bir itu, beberapa tetes bir menuruni lehernya menuju ke dadanya. Changmin menelan ludah. Meskipun gadis itu memakai jaket, tapi Changmin bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh gadis itu.

“Sendiran?” Changmin tersenyum dan duduk di samping gadis itu. Gadis itu menoleh padanya dan tersenyum.

“Tidak, di sini banyak orang,” jawabnya. Changmin tertawa.

“Tidak membawa pasangan?”

“Tak ada.”

“Gadis secantikmu tidak mempunyai pasangan?”

“Yoonmin ah, tambah birnya satu botol.” Gadis itu tidak menghiraukan Changmin. Cowok itu kesal.

“Hey, baby, I’m talking to you.”

“Oh, really? Sorry, honey.” Gadis itu menegak bir di botolnya lagi. Changmin melirik dua botol kosong. Dia menyeringai.

“Namaku Changmin. Kau?”

“Sunghee.” Dia menegak bir lain. Changmin menelan ludah.

“Wanna dance?” ajak Changmin.

“No, I wanna play.” Sunghee menggerling nakal. Changmin menggigit bibir bawah.

“Arasseo…you wanna play with me?”

“With my pleasure.” Sunghee tersenyum. Changmin mengambil alih bir di tangan Sunghee dan menegaknya sampai habis. Dia menatap Sunghee lalu menggandeng gadis itu ke sebuah kamar kosong.

= = =

Raeki terdiam di depan club. Dia menghela napas. Dia ingin sekali menyusul Changmin tapi dia tidak mau masuk ke club itu. Akhirnya dia berbalik dan tertegun. Seorang perempuan berdiri di samping mobil. Mata mereka bertemu. Raeki tersenyum canggung. Perempuan itu tersenyum tipis.

“Annyeonghasaeyo!” sapa Raeki.

“Annyeong,” perempuan itu menyapa balik.

“Tidak masuk?” Raeki mengedikkan kepalanya ke arah club.

“Ani. Aku barusan mengantar temanku.”

“Ah…ye…sama denganku.” Raeki tertawa garing.

“Na Choi Chaerin imnida.”

“Naneun Kang Raeki imnida.”

“Mana mobilmu?”

“Aku tidak bawa mobil.”

“Ya sudah ikut aku saja.”

= = =

“Ssshh…Changmin ah..kau benar-benar professional..”

“Haha…katakan itu lagi, sayang.”

“Engh..jangan tinggalkan kiss mark di leher.”

“Kenapa?”

“Susah untuk menutupinya.”

“Arasseo….” Changmin membuka jaket Sunghee dan melemparkannya ke sembarang arah. Dia lalu membuka kaus Sunghee. Changmin melumat pundak Sunghee dengan penuh nafsu. Dia mengulumnya, menghisapnya, dan meninggalkan bekas kemerahan di pundak Sunghee. Tapi kemudian Changmin tertegun.

“Ada jejak lain rupanya. Mantanmu?”

“Ye..”

“Dia berbuat sampai mana?”

“Hanya sampai perut. Aku tidak pernah melakukan ‘itu’.”

“Benar? Let’s see…” Changmin mengelus paha Sunghee dan menelusuri kakinya. Saat tangan Changmin mulai masuk ke rok Sunghee, gadis itu langsung menghalanginya.

“Jangan nakal,” komentar Sunghee sambil mengecup bibir Changmin. Cowok itu tersenyum tipis dan melumat bibir Sunghee. Changmin menelusuri rongga mulut Sunghee. Tangannya mengelus punggung Sunghee. Sedang tangan kirinya mengelus paha Sunghee. Gadis itu menghalangi tangan Changmin ketika tangan cowok itu hendak membuka kaitan branya.

“Kurasa cukup sampai sini.”

“Engh…tidak bisa. Kau harus bertanggung jawab karena membuatnya terbangun.”

“Seharusnya aku yang meminta tanggung jawab. Sudahlah, aku mau pulang.”

“Biar kuantar.”

“Ronde 2, begitu?” Sunghee mendorong tubuh Changmin. Dia memungut kausnya dan memakainya. Jaketnya ia lingkarkan di pinggang. Rambut berantakannya tergerai begitu saja. Sementara Changmin masih bertelanjang dada. Dia menyandar ke sandaran ranjang sambil menatap mesum ke arah Sunghee.

“Jangan menatapku seperti itu.” Sunghee tersenyum nakal dan menghampiri Changmin. Dia merangkak ke atas tubuh Changmin yang bersandar. Changmin langsung mengelus paha Sunghee dan leher gadis itu.

“Hm…mau ronde 2?” tawar Changmin.

“Ronde 1 saja belum selesai.”

“Kalau begitu kita selesaikan ronde 1.” Changmin membaringkan tubuh Sunghee dan dia berada tepat di atas tubuh gadis itu.

“Jagiya…kenapa kau memakai bajumu lagi?”

“Karena aku tidak mau menyelesaikan ronde 1.” Sunghee tersenyum dan mendorong tubuh Changmin. Dia pun berdiri. Rambut berantakannya ia gulung. Terlihat lehernya yang basah karena keringat.

“Sunghee ya..”

“Ne?”

“Sa…saranghae…”

“Arayo.”

“Apa kau mencintaiku juga?”

“Entahlah. Kurasa iya.”

“Kalau begitu kita sepasang kekasih?”

“Bukankah dari tadi sudah seperti itu?”

“Hahaha…kau benar.” Changmin melompat dari tempat tidur dan memeluk Sunghee dari belakang. Dia menciumi leher gadis itu tanpa meninggalkan kiss mark.

= = =

“Kemarin malam sama siapa lagi?” tanya Raeki kesal. Changmin tersenyum.

“Seorang yeoja cantik bernama Sunghee.”

“Apa hanya penampilan fisik yang kau lihat?”

“Hmh…depends.”

“Tapi…sepertinya kau mulai jatuh cinta.” Raeki memperhatikan Changmin yang tersenyum-senyum sambil menatap ponselnya.

“Ya. Semenjak aku bertemu dengan Sunghee, jantungku selalu berdebar. Ada perasaan lain. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini. Kurasa aku benar-benar mencintai Sunghee.”

Hati Raeki teriris.

“Hati-hati. Sekarang kau sudah jatuh cinta, bagaimana kalau ternyata dia mempermainkanmu?” Changmin terdiam mendengar perkataan Raeki.

“Apa maksudmu?! Dia tidak mungkin mempermainkanku! Kau jangan ikut campur urusanku, arasseo?!”

“Ye…arayo..” Raeki ingin menangis. Changmin benar-benar berubah.

“Aku mau pulang.” Raeki berjalan cepat meninggalkan Changmin di taman sendirian. Lelaki itu terdiam. Dia menatap ponselnya. Sunghee meneleponnya.

“Yeobo!”

Yeah. Meet me in the club at 9 PM. Is it okay?”

“Anything for you.”

Haha..jinjayo…okay can’t wait to see you…bye, honey.”

Changmin menutup sambungan telepon. Dia tersenyum sendiri dan melirik jam. Sekarang sudah jam 5. Sebaiknya dia makan dahulu.

= = =

Pukul 9 malam tepat, Changmin berjalan memasuki club malam itu. Dia menatap sekeliling, mencari sosok Sunghee. Sepertinya Sunghee belum datang. Changmin berjalan ke bar dan memesan sebotol bir. Dia menegak birnya sambil melihat sekeliling. Changmin tertegun. Gelas bir di tangannya terjatuh. Di pojokan sana, dia melihat kekasihnya sedang bercumbu dengan lelaki lain.

Dengan marah, Changmin berdiri sambil mengepalkan tangannya dan berjalan ke arah Sunghee. Gadis itu sedang duduk di pangkuan seorang namja tampan. Tangan namja itu bebas menggerayangi paha dan punggung Sunghee. Namja itu sedang asyik melumat bibir Sunghee. Dan gadis itu menikmatinya. Dia bahkan melingkarkan kedua tangannya ke leher namja itu.

“SUNGHEE YA!” seru Changmin marah. Beberapa orang menatap aneh ke arahnya. Sunghee melepaskan ciuman namja itu dan menjilat bibir bawahnya. Masih di pangkuan namja itu, Sunghee melirik ke arah Changmin.

“Ada apa?”

“Apa yang kau lakukan dengan namja itu?! Kau kekasihku!!”

“Memang.” Sunghee tersenyum. “Tapi kekasihku tidak hanya kau.”

“A-apa maksudmu?”

“Namja ini juga kekasihku, sayang.” Sunghee merangkul namja itu dan mengecup pipinya sekilas.

“Dasar pelacur!”

“Player. Lebih tepatnya player. Dan ini pertama kalinya kau dipermainkan ya, player?”

“Sialan!” Changmin berbalik dan berjalan menjauh. Ini memang pertama kalinya ia dipermainkan. Ternyata rasanya sakit sekali. Marah, sedih, kecewa, semua campur aduk jadi satu. Mungkin begitu juga perasaan gadis-gadis yang dipermainkan olehnya. Changmin menyesal.

Tiba-tiba ia ingat akan perkataan Raeki. Ah, ia menyesal. Kalau dipikir, Raeki-lah yang setia berada di sampingnya. Dia yang memperingatinya. Tapi sayang, Changmin tidak menghiraukan kata-kata Raeki.

= = =

“Chaerin ah, aku sudah membalasnya. Kurasa dia sudah kapok.”

“Begitu? Terima kasih…”

“Sama-sama.”

“Aku kasihan sekali pada Raeki.”

“Wae?”

“Dia mencintai Changmin namun namja itu tidak menatapnya.”

“I know. Setelah ini dia akan mendapatkan cinta Changmin.”

“Kuharap begitu.”

= = =

Changmin dan Raeki sedang berjalan-jalan di pinggir pantai. Mereka berdua sama-sama terdiam. Changmin memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sekali-kali ia menendang batu-batu pantai. Dia selalu menunduk. Raeki juga sama. Selalu menunduk.

“Joneun..” Mereka berkata bersamaan. Lalu mereka terdiam.

“Kau duluan,” kata Raeki.

“Aku benar-benar minta maaf, Raeki. Seandainya aku menghiraukan perkataanmu pasti tidak jadi seperti ini. Aku menyesal. Rasanya disakiti benar-benar sakit.”

“Pasti.”

“Raeki, ajari aku cinta. Ajari aku untuk menjadi setia. Aku ingin belajar mencintai seseorang yang baik. Seseorang sepertimu.”

“Aku tidak mau dipermainkan.”

“Kumohon, Raeki…aku tidak akan mempermainkan perasaan orang lagi. Aku menyesal.”

“Baiklah…kuajari kau.”

“Terima kasih.”

“Yah…terpaksa. Aku tidak mau disakiti lebih jauh.”

“Apa maksudmu?”

“Tak ada.” Raeki tersenyum misterius.

END

13 thoughts on “[FF] First Time Being Played, Player?

  1. leeeunhye aka hae's wife says:

    qren chingu..
    Akhr na sdar jga si changmin..
    Nc slnjtna d tnggu chingu../plak dsar yadong/…
    D tnggu loo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s