[FF] Book part 2

“EOMMA..HYUNG TOLONG AKU!! APPA!!!” jerit Taemin. Minho membawa air dan menumpahkannya ke tubuh Taemin. Api di tubuh Taemin mereda. Key membantunya dengan menyiramkan air lagi. Saat api di tubuh Taemin mulai hilang, sebuah pohon besar jatuh tepat mengenai Taemin. Taemin tewas seketika. Kepalanya pecah.

Key tertegun. Minho berteriak histeris. Chaerin pingsan. Key menutup mulutnya.

“TAEMIIIIN!!!!” raung Minho.

= = =

Jonghyun terdiam di meja kerjanya. Key belum pulang. Tentu saja, kemarin Key bilang dia akan menemani temannya yang baru saja kehilangan adiknya.

“Sunghee sayang…aku sendiri di sini. Seandainya kau masih ada..” Jonghyun terdiam menatap foto Sunghee. Mata perempuan itu berbeda warna. Itu karena dia nyaris menjadi korban kecelakaan. Mata kirinya buta karena itu.

“Sunghee, matamu tetap indah.” Jonghyun tersenyum. Dia lalu menatap rak di sebelah CPU komputer. Dia mencari buku itu. Tapi ternyata tidak ditemukan. Jonghyun menegang. Dia menatap layar komputer.

BODOH…ANAKMU MENEMUKAN BUKU RAHASIAKU..

Jonghyun terkejut dan segera menghapus tulisan itu. Dia lalu mematikan komputernya. Jadi Key menemukan buku itu? Gawat, pikirnya.

Jonghyun ah…kau tidak menyimpannya dengan baik…kau harus mati..”

Jonghyun menelan ludah.

“Mianhae, Sunghee…Yeobo, maafkan aku.”

“It’s too late..”

Jonghyun merinding. Dia menatap sekeliling. Tiba-tiba semua jendela terbuka dan angin kencang masuk, menerbangkan berkas-berkas milik Jonghyun. Jonghyun berusaha menutup jendela. Namun percuma. Angin bahkan memecahkan jendela. Ranting-ranting pohon menyerbu ke dalam rumah. Jonghyun gemetar hebat.

“Kumohon, Sunghee maafkan aku..”

Angin itu semakin kencang. Jonghyun tertarik ke arah dapur. Wajahnya lecet-lecet karena terkena serpihan kaca. Jonghyun berpegangan pada tiang. Percuma, anginnya terlalu besar. Jonghyun seperti ditabrak sesuatu. Dia pun terpental ke lemari dapur. Punggungnya serasa remuk.

Jonghyun meringis. Napasnya tinggal satu-dua. Tiba-tiba tabung gas di dapur melayang ke arahnya. Tapi Jonghyun berhasil mengelak.

“Sunghee, mianhae…”

Jonghyun merasa sesak napas. Tabung gas tadi rusak dan isinya keluar. Jonghyun berusaha bangkit namun kakinya tersandung kaca. Jonghyun terjatuh dan meringis. Dia mencabut beling yang menancap di kakinya. Dia lalu bangkit kembali. Dia berjalan dengan terpincang-pincang menuju telepon. Dia menyambar gagang telepon dan menekan-nekan tombolnya.

“Key…Key…Appa minta maaf kalau Appa banyak salah. Key, jangan membenci Appa. Kami menyayangimu, Key…Kim Kibum..”

Appa?

Kabel telepon terputus. Jonghyun meringis. Dia terpeleset dan jatuh terduduk. Kabel telepon itu melilitnya. Jonghyun mencoba melepaskan diri. Tiba-tiba dari arah tangga, piano milik Key terjatuh. Jonghyun tertimpa piano dan tewas seketika.

= = =

Key tertegun di kamar Minho. Kemarin Taemin baru saja dimakamkan. Dan hari ini Appa-nya tiba-tiba meminta maaf padanya. Key tidak mendengar suara-suara aneh. Rumahnya sepi seperti biasa. Tapi kenapa Appa-nya seperti sedang ketakutan?

Minho masih terdiam di ranjang. Dia menyandar ke tembok sambil menatap lurus keluar jendela. Tatapannya kosong. Key menatap Minho iba.

“Sudah kubilang…Taemin seharusnya pindah,” gumam Minho. Key tertunduk.

“Maaf.”

“Bukan salahmu.” Minho bersidekap.

“Minho, aku…ingin mengatakan ini dari kemarin.”

“Apa?”

“Kurasa…Eomma-ku penyebab kutukan kelas 2-2 itu.”

“Ha?” Minho akhirnya menatap Key. Key menghampiri Minho dan duduk di sampingnya. Minho bergeser sedikit, memberi ruang untuk Key.

“Kemarin aku menemukan sebuah buku jurnal. Sudah tua. Buku itu dikunci. Dan ini kuncinya, ini kalung dari ibuku.” Key mengacungkan kalungnya. Minho terdiam.

“Dua hari yang lalu, aku sempat pulang dan memperhatikan buku itu. Ternyata buku itu tidak kosong. Ada isinya. Hanya bisa dibaca jika disinari dengan sinar ultraviolet.”

“Kau bawa bukunya?”

“Tidak, ada di kamarku.” Minho mendesah kecewa. Dia menatap meja belajarnya. Minho tertegun.

“Key, apa buku itu yang kau maksud?” Minho menunjuk ke arah meja belajarnya. Key menegang. Dia lalu melirik meja itu. Benar saja, buku itu tergeletak manis di sana. Napas Key memburu.

“Kenapa..? Kenapa ada di sini?” gumam Key. Dia mengambil buku itu dan membukanya. Tertulis dengan jelas di sana bahwa Jonghyun tewas. Key terdiam lama. Dia berusaha mencerna semuanya. Minho langsung memegang lengan Key. Dia menatap kawannya cemas.

Key membuka flip ponsel dan bergegas menelepon ke rumah. Ada yang mengangkat. Itu tetangganya.

“Raeki? Appa mana?”

“Key…A-Appamu meninggal di rumah. Serangan jantung mendadak.”

“Apa? Appa…serangan jantung? Tapi Appa sehat-sehat saja!”

“Key…” Raeki menangis di sana, “cepat kemari…kumohon..”

Tubuh Key gemetar hebat. Ponselnya terjatuh. Tubuh Key melemas. Minho segera menopangnya. Dia langsung memeluk sahabatnya itu.

“Appa….Appa….Appa…” Hanya kata itu yang terucap dari bibir Key. Minho mengerti. Dia sempat melirik buku itu. Di sana tertulis dengan jelas cara Taemin mati, juga cara Jonghyun mati. Dan penyebabnya tentu bukan serangan jantung.

= = =

“Jonghyun ah…aku yang membunuh dia…aku yang membunuh Yoon Doo Joon…aku yang menuliskan bagaimana dia mati…aku yang membunuhnya…” Sunghee gemetar hebat. Jonghyun memeluknya.

“Tidak, bukan kamu.”

“BUKAN AKU BAGAIMANA?! TERTULIS DENGAN JELAS AKU YANG MEMBUNUHNYA! AKU YANG MENULISKAN BAGAIMANA IA MATI! AKU TELAH MEMBUNUH ORANG!! AKU SEORANG PEMBUNUH!”

“Bukan…bukan..”

“ BAKAR BUKU ITU, JONGHYUN! BAKAR!!!”

“Baiklah akan kubakar.” Jonghyun menyambar buku itu dan membakarnya. Buku itu hangus menjadi serpihan debu.

Tiba-tiba Sunghee teriak. Tatapannya tertuju pada meja kerja.

“Kenapa bukunya masih ada?! Barusan kan sudah dibakar..” Jonghyun tidak percaya.

“AKU TIDAK MAU HIDUP!! AKU TIDAK MAU MENJADI PEMBUNUH!!! BUNUH AKU, JONGHYUN!”

“TIDAK MUNGKIN! BAGAIMANA MUNGKIN AKU MEMBUNUH ISTRIKU SENDIRI?! PIKIRKAN ANAK KITA!”

Sunghee terduduk di lantai. Dia menangis. Jonghyun berlutut di hadapannya.

“Gara-gara aku…aku yang mengutuk kelas itu…”

“Sudahlah, Sunghee. Memangnya darimana buku itu?”

“Aku tak tahu..aku menemukannya di kelas.”

Jonghyun diam. Dia lalu menghela napas panjang.

“Aku di sini. Aku melindungimu.”

“Lindungi saja Key, jangan aku.”

= = =

Key terdiam di kamarnya. Kali ini Minho menemaninya. Mulai sekarang ia akan sendirian di rumah.

Mata Key tertuju pada buku itu. Sekarang dia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Apa rahasia buku itu? Kenapa semua jadi seperti ini?

“Key..”

“Ya?”

“Sepertinya Appa dan Eomma-ku tahu sesuatu tentang buku ini.”

Key menoleh. Minho menatapnya serius. Key mengalihkan tatapannya.

“Aku ingin menemui orang tuamu.”

Saat itu juga Minho dan Key langsung melesat ke rumah Jinki. Minho membuka pintu dan Key menghambur masuk. Chaerin terkejut.

“Ada apa?” tanya Chaerin pada Minho.

“Eomma tahu sesuatu kan tentang kelas 2-2 itu?” Chaerin terdiam. Minho menatap Key yang sedang berlutut di hadapan kursi roda Jinki.

“Abeonim, beritahu aku sesuatu tentang kelas 2-2 itu…kumohon..sebagai mantan kekasih ibuku, kau pasti tahu sesuatu. Kumohon Abeonim..” Minho tersentak. Chaerin lebih tersentak.

“Key…” Begitu suara yang keluar dari mulut Lee Jinki. Begitu serak. Key tertegun.

“Ne?”

“Anak Sunghee…” Jinki tersenyum dan membelai kepala Key. Key terpaku. Dia hanya bisa mengedipkan matanya.

“A…”

“Panggil aku Appa ya…” kata Jinki. “Aku ingin menjadi ayah dari anak Lee Sunghee.”

“A….Appa…” Key menggengam tangan Jinki yang membelai kepalanya. Key mendongak menatap mata Jinki yang teduh.

“Ya, Nak?”

“Apa kau mengetahui sesuatu tentang kelas 2-2 dan buku itu?”

“Itu..” Jinki terdiam sebentar. “Ya, aku tahu.”

Minho dan Chaerin berpandangan. Mereka lalu terdiam mendengarkan.

“Dulu, kelas 2-2 itu tidak menyimpan kutukan apa pun. Sampai suatu ketika Sunghee menemukan sebuah buku usang di kolong mejanya. Karena penasaran, Sunghee ingin membawanya pulang.

“Sunghee membaca buku itu di sebuah ruangan yang gelap. Dia membawa senter sinar ultraviolet. Sunghee terkejut ketika mengetahui di buku itu tertulis bagaimana cara orang-orang mati.

“Dan Sunghee…ehem…menuliskan bagaimana murid-murid di kelas 2-2 mati. Ada yang menyuruhnya. Seorang laki-laki yang menguncinya di gudang.”

“Siapa laki-laki itu?” tanya Key.

“Yoon Doojoon.”

“Yoon Doojoon…tapi di buku jurnal itu tertulis bagaimana Yoon Doojoon mati.”

“Ya, Sunghee yang menulisnya. Dia marah pada Doojoon. Dulu Doojoon mengejar-ejar Sunghee. Tapi Sunghee terus menolak karena dia menyukaiku. Doojoon tidak terima. Dia mengunci Sunghee di gudang dan melakukan hal yang tidak senonoh padanya.”

“A-apa? Jadi siapa ayahku?” Key terduduk lemas. Suaranya tercekat.

“Ayahmu tetap Kim Jonghyun. Doojoon dihajar sebelum menyentuh Sunghee lebih jauh.”

“Siapa yang menolongnya?”

“Kim Jonghyun.” Jinki tersenyum. Key terdiam. Matanya menghangat. Ternyata dia tidak pantas membenci ayahnya. Karena justru ayahnya telah menyelamatkan ibunya.

“Mata ibumu itu juga karena Doojoon. Saat Sunghee sedang mengemudi, Doojoon sengaja menghadangnya. Sunghee hilang kendali. Dia kecelakaan. Sebelah matanya pun buta. Sejak itulah Sunghee mengutuk Doojoon. Tapi dia kelepasan, dia mengutuk kelas 2-2 juga. Doojoon ada di kelas 2-2.”

“Sekelas denganmu?”

“Iya. Jadi korban perempuan dan laki-laki di kelas 2-2 yang pertama adalah Yoon Doojoon dan Lee Minah.”

“Lee Minah siapa?”

“Kekasih Doojoon.”

“Begitu…lalu kuncinya?”

“Kunci apa?”

“Buku itu.”

“Awalnya kalung itu milik Doojoon. Terjatuh saat Doojoon dihajar Jonghyun. Sunghee mengambilnya.”

“Jadi buku itu sebenarnya milik Doojoon?”

“Kurasa begitu.”

“Kenapa Eomma menyimpannya?”

“Karena ingin balas dendam. Sunghee tahu kutukan buku itu ketika ia menuliskan kematian Autumn, anjing peliharaannya. Ia menulis lain cerita dan selalu menjadi kenyataan. Akhirnya ia menuliskan bagaimana Doojoon mati.”

“Jadi…novel itu bohong…?”

“Novel apa?”

“Novel buatan Eomma.” Key mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Jinki menerima buku itu. Dia mengelus nama Lee Sunghee sebelum membuka buku itu. Dia membacanya sekilas kemudian tersenyum.

“Sunghee tidak pernah menceritakan kisah nyatanya yang asli. Setiap cerita yang dibuatnya, meskipun dia bilang itu nyata, sebenarnya tidak pernah terjadi. Masih ada rahasia dibalik kisah nyatanya.”

“Jadi…Eomma bohong?”

“Tidak. Dia jujur. Key, Eomma-mu tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan. Dia bersikukuh bahwa khayalannya itu nyata dan dia pernah mengalaminya. Tapi sebenarnya hanya ada di dunianya yang lain. Sunghee mempunyai dunia sendiri.”

Key terdiam. Akhirnya ia tahu semuanya.

“Sunghee pernah berkata padaku. Dalam 10 tahun, kutukan itu akan hilang. Dulu kelas 2-2 sempat tidak memakan korban. Dan mulai kembali ketika kau menemukan buku itu.”

“Tapi sebelum Key menemukan buku itu, dua tahun sebelumnya kelas 2-2 sudah memakan korban.”

“Tidak. Key sudah menemukannya sebelum itu. Tidak ingat, Key?” Semua menatap ke arah Key. Key berusaha mengingat-ingat kapan ia melihat buku itu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Ya…aku menemukannya sebelum itu.”

“Kapan itu, Key?” tanya Minho.

“Di perpustakaan sekolah…aku sempat melirik buku itu yang tergeletak di meja. Tapi karena sudah usang aku tidak mengambilnya. Lagipula saat itu aku ke sekolah karena menemani Appa..”

“Ya, semenjak itu kutukan kelas 2-2 dimulai kembali.”

“Apa korban-korbannya punya kaitan dengan Sunghee?”

“Tidak. Bukan Sunghee yang membunuh mereka. Tapi Doojoon.”

“Apa maksudmu?”

“Sebelum aku koma, aku sedang mengemudi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki menyeberangi jalan. Aku hilang kendali dan menabrak pinggir jalan. Aku koma. Yang terakhir kuingat adalah…lelaki yang menyeberang itu Doojoon.”

“Jadi begitu…lalu sekarang harus bagaimana?”

“Tidak ada yang bisa kulakukan. Semua ada padamu, Key. Tamatkan cerita yang sudah kau tulis di buku itu.”

= = =

Key dan Minho berjalan berdampingan menuju gedung sekolah yang menjulang.

“Minho, aku merasa bersalah.”

“Kenapa lagi?”

“Aku menulis seorang siswi mati bunuh diri di sekolah..terjatuh dari…”

“KYAAAAAAA!!!!” teriakan seorang siswi mengagetkan Minho dan Key. Key terpaku. Di hadapannya, Lee Yoonmin terjatuh dari lantai 3. Yoonmin menatap ke arahnya sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

“Key…ini yang kau maksud?” ucap Minho lirih. Key menelan ludah dengan susah payah.

Beberapa murid dan guru langsung mendekati tempat kejadian. Seorang guru langsung menghubungi polisi dan ambulance.

“Minho…aku pembunuh..”

“Bukan, Yoon Doojoon pembunuhnya.” Minho menatap ke atas. Key mengikuti arah pandangan Minho. Doojoon berdiri di sana. Tapi kemudian sosoknya menghilang.

“Tapi aku yang menyuruhnya. Aku yang menuliskan kejadian itu.”

= = =

“Seorang namja bernama Kim Kibum yang akrab dipanggil Key meninggal pada pukul 12 tengah malam karena bom bunuh diri.” Key menulis di buku jurnal itu.

“Ini semua salah orang tuaku. Ini salah Eomma yang mengutuk kelas itu. Ini salahnya…aku menjadi gila seperti ini. Hahaha…aku penulis dan pembunuh, Eomma. Sama sepertimu.” Key mengambil bom. Dia lalu mengendarai mobil ke daerah yang sepi. Buku itu dibawa olehnya.

Key turun dari mobil. Dia mengaktifkan bom itu dan memasangnya di mobilnya. Satu menit lagi dia akan mati.

“Aku akan menyusulmu Appa…Eomma…Taemin…”

DUAAARRR

 

Suara ledakan menggelegar membelah kota Seoul. Bersamaan dengan itu, tubuh Key terbakar, buku itu ikut terbakar. Kalung di leher Key meleleh.

= = =

Di kelas 2-2, Han Kyora menunduk menatap kolong mejanya. Dia tertegun ketika melihat sebuah buku tua. Karena penasaran, Kyora menariknya keluar.

“Wah…buku tua! Sudah berapa puluh tahun ya usianya?” Kyora membersihkan debu dari buku itu. Dia sedang membersihkan kelasnya sepulang sekolah. Tapi ternyata ia malah menemukan buku itu.

“Beruntungnya aku. Buku ini pasti punya rahasia.” Kyora mencari kunci buku itu. Dia mengguncang-guncang bukunya dan keluarlah sebuah kalung perak berbandul kunci.

“Uwaah…kalung kunci!” Kyora langsung memakainya dengan semangat. Dia membuka kunci buku itu. Kyora mengambil penanya dan hendak menuliskan sesuatu.

“Cerita yang seru apa ya?” Kyora mengetuk-etukkan penanya ke dagu.

“Han Kyora, kau belum pulang?” Sebuah suara mengejutkannya.

“Oh, Minho songsaengnim!” Kyora membungkuk canggung. Minho tersenyum. Tapi senyumnya hilang ketika melihat buku itu.

“Buku itu…”

“Apa ini punya songsaengnim? Aku menemukan di kolong meja tadi.”

“Itu bukan punyaku. Itu milik temanku yang meninggal 4 tahun yang lalu.”

“Benarkah? Maaf aku lancang..”

“Tak apa. Coba kau tulis sesuatu yang menarik.” Minho tersenyum dan menghampiri muridnya itu. Minho duduk di sampingnya.

“Enaknya tentang apa ya, songsaengnim?” Kyora menatap gurunya. Minho tersenyum lembut.

“Coba tulis  nilai ulangan bahasa Inggris-mu bagus.”

“Memangnya akan menjadi kenyataan?” Kyora heran. Minho mengangguk.

“Percaya pada songsaengnim. Buku itu jika digunakan dengan benar akan berguna bagi orang banyak kok. Tapi setelah kamu memulai menulis di buku itu, kau harus menyelesaikan ceritanya.”

“Kenapa?”

“Kalau tidak, pemilik buku ini marah lho..”

“Aaah…songsaengnim jangan menakut-nakutiku!”

“Bukannya menakut-nakuti, kenyataan kok. Sudah sana cepat tulis nilai ulangan bagus.”

“Oke. Nih, dengar ya songsaengnim. Siswi pintar nan cantik bernama Han Kyora mendapatkan nilai 100 untuk ujian Bahasa Inggris yang benar-benar menyebalkan.” Kyora menuliskan penanya di buku itu. Minho tertawa.

“Narsis sekali kau ini! Anak tidak berbakat menulis malah dapat buku seperti ini.”

“Aaah biar. Mana sekarang? Katanya jadi nyata…”

Pintu kelas diketuk. Kyuhyun berdiri di ambang pintu.

“Han Kyora, ini ujian Bahasa Inggris-mu.” Kyora langsung mengambil kertas ulangan itu. Minho mengikutinya. Kyuhyun langsung pergi.

“KYAAAA!!! MINHO SONGSAENGNIM!!! NILAIKU 100!!!” Kyora melompat bahagia. Minho tertawa.

“Sudah kubilang, ‘kan? Tapi kau jangan percaya sepenuhnya pada buku ini. Tetap berusaha sendiri ya.”

“Oke!” Kyora membuat tanda oke dengan tangannya.

“Sekarang lanjutkan ceritanya.”

“Mau dilanjutkan dengan apa lagi, songsaengnim? Aku tidak punya ide.”

“Dasar payah. Kau tulis saja Choi Minho, guru yang paling disegani murid akan segera menikah dengan seorang yeoja cantik pilihannya. Ayo cepat.”

“Yeee…Songsaengnim sama saja!” Kyora cemberut.

“Sudah cepat tulis, kalau tidak nilai OR-mu dikurangi.”

“Wae? Tidak bisa begitu!”

“Bisa. Sudah cepat tulis.”

“Dasar!” Kyora menuliskan kalimat demi kalimat untuk menyelesaikan cerita singkat yang ia buat. Ia menuliskan tentang kedekatan guru dan murid yang saling mendukung. Sang guru akhirnya menikah dan sang murid menjadi juara umum.

“Nih, adil, ‘kan?”

“Ya, bagus!” Mereka berdua tertawa.

“Eh, aku melupakan sesuatu.”

“Apa?”

“Tulis, hilangkan kutukan kelas 2-2. Ayo cepat tulis!”

“Memangnya kenapa?”

“Tulis!!”

“Ye ye!!” Kyora langsung menulisnya. Dia lalu memandang Minho dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Nanti kau akan tahu sendiri.” Minho tersenyum misterius. Kyora jadi takut dengan songsaengnimnya ini.

THE END

 

24 thoughts on “[FF] Book part 2

  1. HwangMinra says:

    annyeong onnie…..
    aku new reader…..
    n aku dah baca semua FF onnie yg ada di blog ini(termasuk foto yg just 4 fun itu)
    semuanya bagus kok…. dari yg komedi sampe horror….
    tapi aku plg suka sm yg please love me and her…. kl yg ini fav. ku yg ke-2
    pendapatku ttg FF ini: syg key nya mati…… minho nya pinter, dia tau selain utk ngutuk org bs jg bwt bantu2 org….. tp, kl overall bgs kok!
    hwaiting onnie! trs berkarya! aku akan trs menunggu karya onnie yg selanjutnya!

  2. Dhikae says:

    huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    key key key mati/plakk
    ksian yeobooooo #sarap sndiri.. hahaha

    si minho pinter amat yah/plakk
    keren ffmu sunghee

  3. amitokugawa says:

    oo..berarti ini rahasia buku itu
    hehehe..seru! minho pinter ih..

    tapi kasian korbannya meninggal dengan cara tragis

    like this ff!

    *aku jd keinget death note abis baca ff ini #abaikan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s