[FF] Book part 1

Rating: PG-15

= = =

Seorang wanita mengambil kunci di kalungnya. Dia lalu membuka kunci sebuah buku jurnal. Buku yang sudah lusuh. Isinya sudah tertulisi kata-kata.

“Jonghyun ah, aku titip buku ini padamu,” kata wanita itu.

“Sunghee, kau yakin?”

“Ne. Aku sudah terlalu lama diteror. Besok aku mati.”

“Jangan bicara begitu, yeobo.” Jonghyun memeluk istrinya dari belakang. Dia mengecup mata kiri Sunghee yang sudah tidak bisa digunakan untuk melihat. Bola mata kiri Sunghee berwarna biru pucat sedangkan bola mata kanannya berwarna cokelat tua.


“Entahlah…aku merasa seperti itu. Aku titip buku ini dan Kibum padamu.”

“Ya, aku akan merawat Kibum dan menyimpan buku ini.”

“Terima kasih, Jonghyun. Dan jangan lupa, jangan biarkan Kibum menemukan kunci ini dan buku ini.”

“Pasti.”

“Satu permintaanku.”

“Apa?”

“Panggil dia Key.”

“…baiklah..”

= = =

TING…TONG..TING…TONG…

“Key!! Yah! Kim Kibum!” Seseorang berlari mengejar sesosok namja jangkung. Key menoleh.

“Apa?”

“Aish…kau ini dipanggil dari tadi tidak menyahut. Tuli ya?!” bentak orang itu. Key mendesah kesal. Dia menatap kawannya itu.

“Apa sih, Minho? Ributnya..”

“Hey,” Minho merangkul Key. “Kau tahu seorang siswi meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu?”

“Hm? Ani. Lagipula siswi itu bukan siapa-siapaku.”

“Bodoh. Dia itu Han Hyeji.” Key tertegun. Dia menatap Minho heran.

“Dia kelas 2-2, bukan?”

“Ya…mengerikan sekali.”

“Kenapa mengerikan?” Key mendongak menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Minho menunduk tanpa menatap Key. Wajahnya terlihat sedih.

“Sejak sekolah ini didirikan, kelas 2-2 itu selalu menelan korban setiap 2 tahun sekali. Korbannya dua orang. Satu laki-laki dan satu perempuan. Penyebab meninggalnya tidak jelas. Termasuk Han Hyeji dan Yang Yoseob. Hyeji meninggal karena kecelakaan di malam Minggu, tapi setelah diselidiki, tak ada sebab yang pasti kenapa Hyeji meninggal.”

Key terdiam mendengarkan. Minho menghela napas lalu melanjutkan,

“Kabarnya Hyeji tertabrak truk, tapi tak ada barang bukti. Mobil Hyeji saja tidak ada. Tiba-tiba…”

“Bagaimana dengan Yang Yoseob?”

“Dia ditemukan gantung diri di kamarnya. Entah sebabnya apa. Selama di sekolah dia biasa saja, bahkan periang dan tergolong cerewet. Di rumah juga biasa saja.”

“Hm. Ibuku dulu sekolah di sini juga. Di kelas 2-2,” ungkap Key. Minho menatapnya terkejut.

“Appa tiriku juga di sini. Nama Appa tiriku Lee Jinki. Eommamu?”

“Lee Sunghee. Hanya saja dia menikah dengan Appaku, namanya jadi Kim Sunghee.”

“Appamu sekolah di sini juga?”

“Tidak dia guru.”

“Di sekolah ini?” Minho tampak tertarik. Tak terasa mereka sampai di kantin. Minho menarik Key untuk duduk terlebih dahulu. Dia masih ingin mendengar cerita keluarga Key.

“Ya, hanya guru pengganti. Dulu dia berstatus sebagai mahasiswa ketika bertemu ibuku. Ibuku terpaksa tidak melanjutkan sekolahnya. Hanya sampai kelas 2.”

“Kenapa?”

“Appa menghamili Eomma. Terpaksa Eomma berhenti sekolah karena merawatku. Appa sendiri merasa bersalah. Dia menikahi Eomma dan berhenti menjadi guru pengganti.”

Minho terdiam.

“Bagaimana dengan Appa tirimu?” Kini Key yang bertanya. Minho menunduk.

“Appa tiriku juga murid kelas 2-2. Dia nyaris menjadi korban. Tapi ternyata selamat. Sampai sekarang Appa tidak bisa bicara. Dia tahu rahasia kelas 2-2 itu dan dia terlalu syok untuk menceritakannya. Dia tidak bisa apa-apa. Eomma berjuang keras menghidupi kami dan mengobati Appa. Tapi gagal.”

“Eomma-mu masih ada?” tanya Key hati-hati. Minho mengangguk heran.

“Apa…Eomma-mu kenal dengan Eomma-ku?” Minho mengernyit. Key masih menunggu.

“Entahlah. Nama Eomma-ku Choi Chaerin, dan aku tidak pernah mendengar Eomma menyebut-nyebut nama ibumu.”

“Begitu..” Key mengangguk-angguk.

“Hey, kalian!” Seorang namja imut tiba-tiba duduk diantara mereka sambil membawa nampan berisi makanan.

“Tidak mengambil makanan? Menu hari ini sandwich. Kesukaan Key Hyung, ‘kan?” ujar namja itu.

“Taemin ah, kau mengagetkanku saja..” Key memukul kepala Taemin pelan.

“Aw, Hyung! Sakit!” rengek Taemin.

“Berhentilah merengek, Taemin. Tahun ini usiamu 17 tahun,” komentar Minho. Taemin hanya terkekeh. Dia lebih menghormati Hyung-nya yang satu itu.

“Kenapa kalian tidak mengambil makanan? Malah melamun di sini.”

“Tunggu dulu! Taemin, kau kelas 2 apa?” Key tersadar sesuatu. Taemin mengocok kardus susu dengan santai.

“Kelas 2-2. Kalian sendiri kelas 3 apa? Kalian satu kelas, ‘kan?”

Minho dan Key berpandangan. Taemin sendiri masih menatap dua lelaki di hadapannya dengan heran.

“Taemin ah, pindah kelas!” ucap Minho tiba-tiba. Taemin heran.

“Kenapa? Aku suka kelas itu. Orangnya asyik-asyik.” Taemin menyuapkan sesendok sup ke mulutnya.

“Pokoknya pindah, Taemin!” seru Minho membuat beberapa orang melirik ke arah mereka. Taemin tersedak. Key langsung memberikan minum padanya.

“Waeyo? Kenapa memangnya? Kelas lain juga sama saja…”

“Kumohon, Taemin. Pindah!” Nada suara Minho meninggi. Key langsung menatapnya, mengisyaratkan untuk tidak membentak Taemin.

“Tapi…kenapa? Hey, kalian aneh sekali hari ini!” Taemin melemparkan sumpitnya ke nampan. Dia mulai kesal. Minho menatapnya tajam.

“Lee Taemin, kalau kau tidak mau pindah, aku yang akan memindahkanmu,” ancam Minho.

“Terserah! Pokoknya aku tidak mau pindah!” Taemin membawa nampannya dan pergi ke meja lain. Minho mendesah. Key menatapnya kesal.

“Kenapa kau gegabah begitu? Kau lihat, Taemin jadi kesal padamu.”

“Biar. Pokoknya aku akan memindahkan dia.”

“Jangan. Kita biarkan Taemin di kelas itu. Tapi kita jaga dia diam-diam.”

“Kau yakin?” Minho menatap Key cemas. Key jadi heran sendiri kenapa Minho begitu mencemaskan Taemin. Taemin baru mengenal Minho setahun yang lalu. Tapi mungkin Minho mengenal Taemin jauh sebelum itu.

“Yakin.”

= = =

“Jinki….” Seorang perempuan memanggilnya. Jinki menoleh ke belakang.

“Lee…Lee Sunghee?”

“Ji-Jinki…” Sunghee menitikkan air mata. Jinki heran. Tapi dia langsung menghampiri gadis itu.

“Kenapa? Kenapa kau menangis?”

“Jong….Jonghyun songsaengnim…” Sunghee menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jinki langsung memeluk gadis itu.

“Ssh…kenapa? Ceritalah padaku, jagiya..”Jinki mengelus kepala Sunghee lembut. Sunghee makin menangis. Dia membasahi baju Jinki dengan air matanya.

“Mianhae jagiya…kita harus putus..”

“W-Wae?” Jinki melepas pelukannya dan menatap Sunghee heran. Sunghee mentup mulutnya dengan sebelah tangan.

“Jonghyun songsaengnim..dia…dia harus menikahiku.”

“Kenapa?”

Sunghee menggeleng.

“Aku tidak sanggup mengatakannya….apa kau tidak mengerti, Jinki?!” jerit Sunghee. Jinki terdiam.

“Kelas 2-2 terkutuk. Aku tidak mau sekolah di sini lagi! Jonghyun melakukannya di kelas itu…saat malam hari…saat seseorang mengunciku di gudang dan aku berhasil melepaskan diri di malam hari. Saat ke kelas itu…aku melihat Jonghyun saem sedang menulis sesuatu. Aku menghampirinya…tapi ternyata…dia malah melakukannya padaku, Jinki! Aku tidak pantas hidup lagi…”Sunghee menangis lagi. Jinki terpaku. Dia mengepalkan tangannya geram.

“Biar aku membunuhnya.”

“Jangan…dia harus bertanggung jawab.”

“Biar aku yang menikahimu.”

“Tidak, Jinki. Menikahlah dengan sahabatku. Chaerin menyukaimu sejak dulu. Kau cocok dengannya.”

“…”

“Mianhae. Ini permintaan terakhirku untukmu sebelum aku berhenti sekolah.”

“Ya…aku pasti akan menikah dengan Chaerin.”

“Terima kasih, Jinki..” Jinki mengangguk dan memeluk mantan kekasihnya itu. Air mata Jinki mengalir. Tapi ia menghapusnya dengan cepat. Sunghee tidak tahu kalau Jinki menangis.

 

= = =

“Aku belum pernah melihat ayah kandungku. Kata Eomma, dia meninggal setelah aku lahir. Kecelakaan,” tutur Minho tanpa disuruh. Key mengangguk-angguk. Mereka sedang berjalan pulang. Mereka berhenti di sebuah halte bus. Sambil menunggu bus datang, mereka terus mengobrol.

“Taemin itu adik tiriku.” Minho melihat ke arah kiri. Bus yang ditunggu tak kunjung datang.

Key terkejut. Dia langsung menatap Minho. Minho meliriknya dan tersenyum.

“Kenapa tidak bilang dari dulu?! Pantas saja kau khawatir begitu pada Taemin…aish kalian berdua merahasiakan sesuatu.”

“Hahaha..maaf. Aku tidak cerita karena kukira hal itu tidak penting. Aku tidak bermaksud merahasiakannya. Taemin itu anak dari Appa tiriku. Kita satu ibu. Taemin beruntung bisa bertemu ayahnya. Meski sekarang ayahnya tidak bisa apa-apa.”

“Orang lain tahu Taemin adik tirimu?”

“Tahu. Makanya tidak ada yang berani mengganggu Taemin. Kalau berani, mereka akan berhadapan denganku.”

“Apa?! Jadi hanya aku yang belum tahu?!”

“Sering-seringlah lihat data siswa.” Bus yang mereka tunggu datang. Minho langsung naik. Key tertegun.

“Yah! Cepat naik!” seru Minho. Key langsung tersadar dan segera naik ke dalam bus.

= = =

“J-Jinki…”

“Aku benar-benar mencintaimu, Chaerin. Menikahlah denganku..”

“Tapi aku sudah menikah. Dan aku sudah mempunyai anak.”

“Suamimu sudah meninggal. Aku akan merawat anakmu. Bagaimana?”

“Jinki…entahlah…”

“Minho pasti akan menyukaiku. Dia belum pernah melihat sosok Appa kandungnya, bukan?”

“Ye…”

“Menikahlah denganku, Chaerin. Aku benar-benar mencintaimu…lagipula Minho butuh seorang Appa.”

“Hmh…ya..”

“Terima kasih, Chaerin. Saranghae…”

 

= = =

Key membuka pintu rumah.

“Aku pulang, Appa,” ucap Key lemas. Dia melihat Appa-nya yang sedang berkutat dengan komputer. Jonghyun menoleh. Dia tersenyum hangat.

“Welcome home! Sudah makan?”

“Sudah.” Key menjawab dengan datar dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Jonghyun terdiam ke arah tangga. Sepertinya Key masih membencinya.

 

Key memasuki kamarnya dan mengunci pintu. Dia menghela napas dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Dia meletakkan tangan kanannya ke kening.

“Eomma…maafkan aku masih membenci Appa..” Key mengambil pigura foto di samping tempat tidurnya. Ada foto Eomma-nya.

“Eomma…bogoshipda..” Key mengelus kaca pigura. Di foto itu Eomma-nya sedang tersenyum sambil memegang sebuah buku. Sunghee memang seorang penulis. Dia menulis kisah nyatanya dan kisah fiksi yang lain. Namun yang menjadi hits adalah kisah nyatanya. Tapi buku itu sudah tidak ada sekarang. Jonghyun meminta penerbit untuk menghentikan peredaran buku tersebut.

Tapi Key memiliki buku itu.

Dia tahu semuanya. Dia tahu kehidupan Eomma-nya meskipun Eomma-nya meninggal saat ia berumur 2 tahun. Key tahu Eomma-nya mantan kekasih Jinki, ayah tiri Minho dan ayah kandung Taemin.

Tapi Key tidak tahu satu hal. Buku rahasia itu.

= = =

“Jinki, berhati-hatilah. Kelas 2-2 itu kelas terkutuk. Setiap dua tahun akan meminta korban. Aku tidak ingin kau yang menjadi korban. Berhati-hatilah.”

“Baik. Aku akan berhati-hati.”

Jinki tersenyum. Sunghee mengangguk dan berbalik pergi. Jinki terdiam sampai Sunghee masuk ke mobilnya. Dia pun berbalik menuju motornya dan memakainya. Dia pun mengendarai motor itu menuju ke rumahnya.

Malam itu jalanan sedang sepi. Jinki melirik jam. Chaerin pasti sedang menunggunya di rumah. Lampu merah sudah berganti menjadi lampu hijau. Jinki menancap gas. Kecepatan motornya di atas batas.

Saat sedang serius menyetir, tiba-tiba ponsel Jinki berbunyi. Dia merogoh kantongnya. Ia kira itu telepon dari istrinya. Jinki berhasil meraih ponselnya. Tanpa melihat layar, dia langsung menjawab telepon.

“Yeobosaeyo?”

“Jinki…kau mati…”

“A-apa? Chaerin? Kaukah itu Chaerin?”

“Mati…”

Jinki langsung menutup sambungan telepon. Jantungnya berdegup kencang. Dia memasukkan kantongnya dan menatap ke depan. Dia terkejut ketika melihat seorang laki-laki sedang menyeberangi jalan. Jinki langsung membanting setir ke kiri.

“JINKI!!!” Teriakan melengking itu menjadi suara terakhir yang bisa didengar Jinki sebelum ia koma.

= = =

Hari ini hari Minggu. Jonghyun sedang tugas ke Daegu. Dan Key terdiam di rumah. Dia bosan. Sedari tadi kerjaannya hanya mengerjakan soal-soal. Setelah dua jam mengerjakan soal, dia beralih ke novel-novel ibunya. Dia tersenyum. Membaca novel ibunya seperti sedang mendengarkan suara ibunya yang bercerita.

“Eomma..aku ingin menjadi penulis. Seperti Eomma.” Key menutup novel ibunya. Dia lalu beranjak ke komputer dan mulai mengetik sesuatu. Key memang suka menulis. Dia punya blog pribadi untuk menerbitkan karya-karyanya.

Lagu Fur Elise terdengar. Seseorang bertamu rupanya. Key men-save pekerjaannya. Dia bergegas menghampiri pintu.

“Annyeonghasaeyo..” Seorang lelaki membungkuk sopan. Key membungkuk dengan canggung.

“Kim Jonghyun ada?”

“Oh..Appa sedang tugas ke Daegu. Ada perlu apa ya?”

“Saya rekan dari kantornya. Kami membutuhkan berkas-berkas penting yang disimpan di Jonghyun. Kalau tidak percaya kau telepon dulu Appa-mu. Konfirmasi dengannya.”

Key mengangguk dan menelepon Appa-nya.

“Oh, Key, berkasnya ada di meja kerja Appa. Kau cari saja ya. Ada di map warna kuning.”

“Arasseo..”

Key menutup sambungan telepon dan tersenyum pada lelaki itu. Dia bergegas mencari berkas tersebut.

“Dimana, Appa?” Key menelepon Appa-nya lagi karena ia tidak juga menemukan berkas yang dimaksud.

“Di bawah, di rak dekat CPU.” Suara Jonghyun terdengar.

“Mana…” Key bergumam sendiri sambil mengobrak-abrik meja kerja Jonghyun.

“Ada tidak? Appa menyimpannya di sana.”

“Warna kuning?”

“Ya.”

“Cokelat muda kali…”

“Nah iya itu! Warnanya mirip.” Jonghyun terkekeh. Key mengambil map berwarna cokelat muda dari rak. Tapi ternyata sebuah buku ikut tertarik dan terjatuh. Key terdiam. Buku itu…buku yang dipegang Eomma-nya di foto itu.

“Key? Hey, gwaenchana? Apa itu yang jatuh?”

“Ah tidak apa-apa, Appa. Tadi map yang lain ikut terjatuh.”

“Aish…ceroboh sekali. Rapikan lagi ya.”

“Ne, Appa.” Key memutuskan sambungan telepon. Dia menggengam buku itu di tangan kirinya dan menyerahkan map itu pada rekan Appa-nya. Key berlari ke kamarnya dan mengunci pintu. Dia langsung duduk di kursi meja belajar.

Key menatap buku di hadapannya. Dia menelan ludah. Bukunya terkunci. Key mendesah kesal.

“Eomma…apa isinya? Dimana kuncinya?” Key terdiam lalu tersadar sesuatu. Dia melompat dari kursi dan menyambar pigura foto itu. Dia memperhatikan foto Sunghee dengan lebih teliti. Ketemu. Di leher Sunghee terdapat sebuah kalung berbandul kunci. Key tertegun. Kalung yang sama dengan kalungnya. Mungkin Sunghee memberikannya saat ia kecil.

Key meletakkan kembali pigura itu. Dia lalu menggenggam kalung di lehernya. Kalung itu memang tak pernah lepas. Selalu ia pakai entah sejak kapan. Key menghampiri buku itu dan membuka kuncinya. Buku itu terbuka. Key memantapkan hatinya dan membuka lembar demi lembar.

Hanya berisi kertas kosong yang sudah usang. Key sedikit kecewa. Ia kira ia akan menemukan rahasia ibunya.

“Buku yang menganggur. Bolehkah aku tulisi sesuatu?” Key mengambil pena dan mulai menulis.

“Aku ingin membuat sebuah cerita misteri. Sepertinya menarik.” Key mulai menggoreskan penanya di buku tua itu. Kata demi kata ia tulis menjadi rangkaian kalimat. Setiap kalimat ia susun menjadi sebuah paragraf yang padu. Key tersenyum.

“Seorang siswi tewas dari lantai 3 sebuah sekolah. Siswi bernama Lee Yoonmin itu bunuh diri.” Key bergumam sambil tetap menulis.

“Permulaan yang bagus, Eomma?” Key tersenyum. Dia melirik jam. Sudah sore rupanya.

Ponsel Key bergetar. Ada SMS dari Taemin. Key membacanya.

From: Taeminnie

Hyung ah, aku dan Minho Hyung sedang memanggang BBQ nih. Kau mau? Ayo ke rumah kami ^^ sekalian menginap saja daripada sendirian di rumah. Ara?

 

Key tersenyum. Dia membalas SMS itu dan menyambar jaket. Key sempat melirik ke buku itu. Dia mengunci bukunya dan meletakkannya di bawah tempat tidur. Key melirik komputer yang menyala. Dia tertegun. Di layar komputer itu tertera dengan jelas pekerjaan Key tadi. Yang aneh adalah, di sana sudah ada 10 halaman yang terisi. Sedangkan Key baru mengetik sampai tiga halaman.

Key terdiam lama. Tiba-tiba keyboard komputer tertekan sendiri, seakan ada yang menekannya. Kata demi kata bertambah, membentuk sebuah kalimat…

TERKUTUK KAU KIM KIBUM

Napas Key memburu. Dia bergegas mematikan komputer dan berlari keluar rumah.

Di dalam kamar, komputer Key menyala lagi. Dan terketik sebuah kalimat…

HATI-HATI, KEY..KELAS 2-2 MEMINTA KORBAN..LEE TAEMIN AKAN TERBAKAR…

Dan komputer Key pun mati.

= = =

Key sampai di depan rumah Taemin dan Minho. Dia menekan bel dan yang membuka pintu adalah Chaerin.

“Oh, annyeonghasaeyo.” Key membungkuk sopan. Chaerin tersenyum.

“Key, masuk saja. Taemin dan Minho ada di halaman belakang.” Key tersenyum. Dia pun masuk dan berjalan ke halaman belakang. Jinki memperhatikannya. Key merasa aneh di rumah itu. Menurut cerita dari Minho, Jinki seperti berada dalam dunia lain. Dia tidak pernah memperhatikan yang lain.

Dan kini Jinki memperhatikannya.

Key melirik Chaerin. Dia hanya tersenyum. Akhirnya Key mempercepat jalannya ke halaman belakang.

“Key Hyung!” Taemin melambaikan tangannya. Key tersenyum. Minho menatap Key dan tersenyum lebar. Minho sedang sibuk dengan daging panggang.

“Ayo sini, ikut makan!” Taemin menarik tangan Key ke sebuah meja lipat. Minho mendengus kesal.

“Yah! Jangan makan dulu! Ini masih banyak yang belum matang.”

“Arasseo…” Taemin cemberut. Minho gemas dan mengacak rambut adiknya. Key langsung berdiri di samping Minho. Dia berkacak pinggang sambil memperhatikan Minho memanggang daging.

“Jangan lihat saja, ayo bantu!” ujar Minho. Key mengangguk.

“Urusan masak-memasak serahkan padaku.” Key menepuk dadanya dengan bangga. Dia mengambil alih spatula di tangan Minho dan mulai memanggang daging. Minho menepuk-nepukkan tangannya seperti sedang membersihkan tangannya dari remah-remah. Minho berbalik dan terkejut ketika melihat Taemin sedang asyik memakan daging panggang sendirian.

“Yah! Kau ini! Jangan mau enaknya saja, ayo kerja!”

“Hyung…ini kan daging hasil pangganganku…aku boleh dong memakannya? Aku lapar….” rengek Taemin. Minho mendesah. Key tertawa.

“Yah, Choi Minho! Jangan terlalu strict begitu dengan adikmu. Biarkan saja dia makan duluan.” Key tersenyum. Tak lama daging panggang itu jadi. Kini giliran Minho dan Key yang memakannya.

“Taemin, panggang lagi sana! Buat Appa dan Eomma,” suruh Minho. Taemin hanya mengangguk dan mulai memanggang lagi. Tiba-tiba Key merasa tidak enak. Dia memperhatikan Taemin.

“Key…hati-hati…”

Key merinding. Suara Eomma, pikirnya. Key menghentikan makannya. Minho heran.

“Apa dagingnya belum matang?” tanya Minho. Key tidak menjawab. Ia melihat sekeliling. Ia melihat ke atas. Sebuah ranting pohon yang cukup besar siap patah.

“TAEMIN!!!” seru Key. Dia beranjak hendak menolong Taemin tapi terlambat. Ranting pohon itu tepat mengenai Taemin. Kayunya terbakar dan mulai membakar tubuh Taemin. Taemin menjerit. Minho panik. Dia segera mencari air. Chaerin yang mendengar ribut-ribut pun segera berlari ke halaman belakang. Dia histeris ketika melihat anaknya terbakar.

“TAEMIN!!! TAEMIN KENAPA?!!”

To be continued

19 thoughts on “[FF] Book part 1

  1. amitokugawa says:

    wuah, aku baru nemu ff ini!
    overall, keren, tapi aku mau kritik, boleh kan?? *grinning*

    Buku yang sudah lusuh. Isinya sudah tertulisi kata-kata.
    Isinya sudah tertulisi kata-kata–> kayaknya rada aneh dibaca, mungkin bs diganti dgn ‘Di dalamnya tertulis kata-kata’ *ga yakin*

    trus ada kata ‘tapi’ yang mengawali kalimat, bagusnya diganti dengan ‘namun’ atau ‘akan tetapi’

    Key tahu Eomma-nya mantan kekasih Jinki, ayah tiri Minho dan ayah kandung Taemin.
    awalnya aku bingung tapi pas dibaca ulang ga bingung lagi…hehe *gakonsen*

    hohoho..itu aja deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s