[FF] I’m Not Sunghee, I’m Ryeo! Part 1

Mian sebelumnya, V-RASE You’re My Noona belum dilanjutkan karena disimpan di laptopku. Ini publish pake laptop ibu. Laptopku masih rusak…jadi sabar ya. Buat menghibur kalian aku kasih deh satu ff ini. hehehe

Title: I’m Not Sunghee, I’m Ryeo!
Casts: V-RASE, SHINee, Super Junior, others

Rating: PG-13

Genre: Action, Romance, Mystery

Length: Continue

Disclaimer: I don’t own the casts. I do own the story.

= = =

I’m Not Sunghee, I’m Ryeo!

By: sungheedaebak

 

“Sunghee ya..”

“Ne?”

“Kau berjanji akan selalu mencintaiku, bukan?”

“Tentu saja.”

“Meskipun aku berubah, meskipun kita tak bisa lagi bersama, kau masih mencintaiku?”

“Kau ini bicara apa? Urusan mencintaimu, tentu saja iya.”

“Terima kasih. Aku juga akan selalu mencintaimu.”

“Aku tahu.”

Hyukjae tersenyum. Dia menatap kekasihnya dengan tatapan penuh cinta. Perlahan, Hyukjae mendekati Sunghee yang hanya memakai gaun tidur tipis. Dan malam itu, dinding pemisah di antara mereka hancur sudah.

= = =

Paginya, Hyukjae tersenyum menatap Sunghee yang masih tertidur di sebelahnya. Wajah gadis itu damai. Hyukjae mengecup kening Sunghee lembut. Hal itu membuat Sunghee terbangun.

“Jo eun ah chim, jagiya,” sapa Hyukjae hangat. Sunghee tersenyum.

“Jo eun ah chim, Hyuk jagi.”

“Cepat mandi. Kita akan bersenang-senang hari ini, ‘kan?”

“Bersenang-senang? Kita hanya pergi ke rumahku. Bersenang-senang apanya?” Sunghee heran.

“Hey, tujuan ke rumahmu itu kan untuk mengenalkanku pada orang tuamu. Aku sudah melamarmu, kau sudah menerimaku. Orang tuamu pasti merestui kita. Lagipula…kita hari ini pulang ke Seoul. Aku rindu Seoul.”

“Pasti?” Sunghee melakukan penekanan pada kata itu. Hyukjae tersenyum lebar.

“Tentu.”

= = =

“Sepertinya rumahmu sepi.” Hyukjae melongokkan kepalanya ke arah rumah Sunghee. Gadis itu turun dari mobil Hyukjae dan mendekati pagar rumah. Hyukjae menyusul.

“Kelihatannya saja. Dalamnya ada orang kok.” Sunghee membuka pagar. Hyukjae mengikuti di belakangnya dengan gugup.

“Annyeonghasaeyo…Appa…Eomma! Aku pulang..” Sunghee mengetuk pintu. Tak berapa lama, pintu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Umurnya sekitar 45-an. Tapi penampilannya masih seperti umur 30-an.

“Sunghee ya! Bogoshipo..” Wanita itu memeluk Sunghee. Hyukjae tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu.

“Bagaimana pekerjaanmu di Mokpo? Lancar?” tanya Mrs. Lee.

“Ne, Eomma. Lancar sekali. Oh ya Eomma, kenalkan ini namjachinguku, Lee Hyukjae.” Sunghee menepuk pundak Hyukjae. Namja itu tersenyum dan membungkuk sopan.

“Annyeonghasaeyo, je irumun Lee Hyukjae imnida. Mannaseo bangapseumnida.”

“Aigo…tampannya…” komentar Mrs. Lee sambil menepuk-nepuk punggung Hyukjae hangat. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Kalau tampan, Eomma pasti merestui. Dia sudah melamarku lho.”

“Jinjayo? Aigo…Eomma pasti merestui.” Mrs. Lee tertawa pelan. Hyukjae tersenyum. Di dalam hati ia bersorak gembira.

“Appa dimana?” tanya Sunghee sambil melangkah masuk. Dia pun duduk di sofa ruang tamu. Hyukjae duduk di sebelahnya.

“Ada di kamar. Sebentar Eomma panggilkan. Appa-mu ini sering sekali tidur akhir-akhir ini.” Mrs. Lee tertawa lagi. Dia pun pergi ke kamarnya.

“Keluargamu ramah ya..” komentar Hyukjae ketika Mrs. Lee sudah menghilang dari pandangan.

“Yah…begitulah,” balas Sunghee acuh tak acuh. Tak lama kemudian, Mrs. Lee kembali dengan seorang pria dewasa. Tubuhnya tegap dan berotot, seperti tubuh Hyukjae. Rambutnya coklat, mirip dengan warna rambut Hyukjae. Hanya saja warna rambut Hyukjae lebih tua. Wajahnya ramah. Senyum mengembang. Tapi ketika melihat Hyukjae, senyumnya hilang.

“Nah, ini Appa-nya Sunghee, Hyukjae. Namanya Lee Teukhee. Sering dipanggil Leeteuk.” Mrs. Lee sadar akan sesuatu, kemudian dia tertawa. “Hahaha…kenapa aku yang mengenalkannya? Suamiku bisa mengenalkan dirinya sendiri.”

Leeteuk menatap Hyukjae dengan tatapan takut. Hyukjae menatap Leeteuk dengan tatapan antara kaget, heran, dan marah. Sunghee yang sadar akan situasi yang kurang enak, jadi terheran-heran. Sementara Mrs. Lee sendiri masih tidak menyadari situasi. Dia malah pergi ke dapur untuk mengambil minuman.

“Leeteuk..” gumam Hyukjae. “..Appa?”

“Ne?!” seru Sunghee kaget. Leeteuk menunduk dalam. Dia menatap tangannya yang diletakkan di atas lutut.

“Apa kau bilang tadi, Hyuk? Appa? Kenapa Appa-ku?” Nada suara Sunghee meninggi.

“Sunghee ya…Leeteuk…dia..Appa-ku.”

“Bagaimana mungkin?!” pekik Sunghee. Mrs. Lee yang kaget segera menghampiri ruang tamu. Dia heran ketika melihat Leeteuk yang menunduk dan Hyukjae yang menatapnya marah. Sementara Sunghee, wajahnya memerah dan dia menatap Hyukjae dengan tatapan meminta penjelasan.

“Ada apa ini?” tanya Mrs. Lee.

“Omonim…aku…” Lidah Hyukjae rasanya seperti terikat sebuah tambang besar. Dia tidak bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan.

“Hyukjae ya! Tolong jangan bicara setengah-setengah! Beritahu aku ada apa ini, jagi?” sembur Sunghee.

“Jagi..?” Leeteuk mendongakkan kepalanya. Menatap dua anak muda itu bergantian. “Kalian berpacaran?” Suaranya seperti tercekat.

“Ne…” Sunghee menatap Appa-nya heran. “Dia bahkan sudah melamarku.”

“Jeongmal?” Leeteuk berbisik. Wajahnya pucat. Sebagai jawaban, Sunghee mengangguk. Hyukjae masih menatap Leeteuk garang.

“Wae geurae? Kenapa Hyukjae memanggilmu Appa?” Sunghee menghujani ayahnya dengan pertanyaan.

“Karena dia…memang anakku,” aku Leeteuk. Sunghee dan Mrs. Lee tertegun. Hyukjae meremas tangannya. Tiba-tiba dia berdiri dan menghampiri Leeteuk yang masih terduduk lemas di sofa. Dia menarik kerah baju Leeteuk dan menonjok pipi kanannya keras. Sangat keras sampai sekali pukulan saja ujung bibir Leeteuk mengeluarkan darah. Mrs. Lee dan Sunghee kaget.

“Hyukjae ya! Apa yang kau lakukan?! Appa! Apa maksudmu..Hyukjae adalah anakmu?”

“Ceritakan semuanya…bajingan,” desis Hyukjae sadis. Dia pun melepaskan tangannya dari kerah baju Leeteuk. Leeteuk memegangi lehernya yang nyaris tercekik tadi. Dia terbatuk sebentar.

“Yeobo…pertama-tama, maafkan aku. Jeongmal mianhae…” Leeteuk menyentuh tangan istrinya, namun segera ditepis dengan kasar.

“Jangan banyak basa-basi! Cepat katakan ada apa!” bentak Hyukjae. Dia menendang kaki Leeteuk dengan ganas.

“Yeo-yeobo…maaf…kau bukan istriku satu-satunya…Hyukjae…adalah anak kandungku. Dari istri simpananku..”

“KAU JADIKAN IBUKU SEBAGAI ISTRI SIMPANAN?! DAN AKU ANAK HARAM?!” Hyukjae berteriak marah dan menonjok wajah Leeteuk lagi. Sunghee terdiam. Dia seakan masih mencerna apa yang terjadi. Mrs. Lee mulai menangis. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Leeteuk yang tidak tega segera menghampiri istri pertamanya. Dia hendak memeluk istrinya. Namun dia kalah cepat. Hyukjae segera menarik baju Leeteuk dan melemparkannya ke lantai. Leeteuk mengerang kesakitan. Hyukjae menendang kaki Leeteuk dengan penuh amarah.

“Kau tahu? AKU MENCINTAI ADIKKU SENDIRI! DAN AKU MENODAINYA!” teriak Hyukjae parau.

“Mianhae…mianhae, Hyukkie ah…” Leeteuk memohon-mohon. Dia memeluk kaki Hyukjae.

“Aku tidak butuh maafmu, bajingan!” Hyukjae segera menepis tangan Leeteuk. Lagi-lagi dia menendang ayah kandungnya.

“Sunghee ya…mianhae…yeobo…Hyuk..”

“JANGAN PANGGIL NAMAKU LAGI!” bentak Hyukjae. Leeteuk terdiam. Sunghee sekarang mengerti apa yang terjadi. Kekasihnya adalah kakak kandungnya. Mereka satu ayah namun beda ibu. Dan Sunghee membenci kenyataan itu. Dia kira kisah cintanya akan berjalan lancar. Ternyata tidak.

“Pantas saja kau jarang pulang ke rumah…pantas saja kau sering membuat ibuku menangis. Ternyata…ibuku hanyalah istri simpanan! Itu karena ibuku mengandung aku, ‘kan? Jika tidak, kau tidak akan menikahi ibuku, bukan? Iya?!” bentak Hyukjae lagi. Leeteuk masih meringis kesakitan.

“Kau tahu bagaimana rumahku? Kecil! Sangat kecil! Mungkin tidak lebih besar dari ruang tamu istanamu ini. Kenapa? Karena kau tidak pernah memberi ibuku uang! Tidak pernah membagi hartamu dengan ibuku! Dan anak harammu!” Hyukjae menendang kaki ayahnya lagi. Leeteuk sudah meringkuk di lantai. Badannya benar-benar sakit dan ngilu.

“Mian…”

“Sudah kubilang aku tidak butuh maaf!! Kau dengar itu, bangsat?!”

“Hyukjae ya!” Sunghee memanggil kakaknya. Hyukjae menoleh ke arah Sunghee. Wajah Hyukjae merah padam karena marah.

“Jangan memanggilnya bangsat. Dia tidak pantas dipanggil bangsat.” Sunghee menyentuh tangan Hyukjae yang berhenti di udara dan menariknya. Menahan Hyukjae untuk menampar ayahnya. Dia lalu menatap Leeteuk. Tatapannya sulit untuk diartikan.

“Sunghee ya..” Leeteuk terduduk di lantai. Dia menatap Sunghee dengan penuh haru. “Kau memang anakku yang paling baik.”

“Terima kasih pujiannya.” Sunghee menatap Leeteuk sadis dan jijik. Seakan sedang melihat belatung.

“Dia tidak pantas dipanggil bangsat. Bangsat terlalu bagus untuknya. Dia itu belatung,” desis Sunghee. Dia tersenyum setengah.

“Kau belatung! Belatung yang sangat menjijikkan!! Bisa-bisanya kau menipu banyak orang! Mengkhianati cinta istrimu sendiri! Menghancurkan kisahku dengan Hyukjae! Menyiksa ibu Hyukjae! Bahkan belatung tidak akan melakukan hal seperti itu! Kau jauh lebih menjijikkan daripada belatung, brengsek!” teriak Sunghee. Dia menendangi Leeteuk dengan penuh napsu.

“HENTIKAN!” Mrs. Lee menghampiri Sunghee, masih sambil terisak, dan menariknya menjauh dari Leeteuk.

“Waeyo?! Biarkan aku menghajarnya! Dia tidak pantas untuk hidup!” Sunghee memberontak. Dia berusaha menendangi Leeteuk, memukuli wajahnya, atau apapun. Hyukjae kini terdiam. Dia bersandar di dinding. Dia menutup wajahnya dengan gemas. Dia lalu meremas rambutnya yang cokelat. Dulu, warna cokelat itu warna yang ia banggakan, yang ia suka. Dan sekarang ia benci warna itu. Karena warnanya mirip dengan warna rambut sang pengkhianat.

“Mianhae…mianhae..” Hanya satu kata yang bisa Leeteuk sebutkan. Dan kata itu tidak dibutuhkan oleh tiga orang yang lain.

“Arrgh…dasar brengsek!! Bajingan!!! Belatung kau! Mati saja!!” Sunghee masih berteriak, memaki-maki ayahnya. Sementara Mrs. Lee yang sudah tidak tahan tergeletak di sofa. Ia pingsan. Leeteuk sadar. Ia segera bangkit dan memapah Mrs. Lee keluar rumah.

“Untuk kali ini saja izinkan aku berbuat baik pada ibumu, Sunghee.” Leeteuk menatap putrinya sekilas. Dia lalu menatap Hyukjae. “Hyuk ah, jaga adikmu. Adik kandungmu.” Leeteuk pun pergi membawa istrinya ke rumah sakit.

Hening. Hyukjae tidak berani menatap Sunghee. Kebalikannya dengan Sunghee, ia menatap Hyukjae. Tatapannya tidak bisa diartikan. Campuran antara iba, cinta, dan kaget. Atau mungkin lebih dari itu.

Hyukjae mendesah kesal. Dia mengacak rambutnya. Dia menunduk dalam, benar-benar tidak berani menatap Sunghee.

“Tatap aku, Hyukjae,” lirih Sunghee. Hyukjae menggeleng.

“Tidak bisa. Aku tidak punya muka untuk menatapmu. Kau adikku. Dan apa yang kulakukan pada adikku sendiri?”

“Tatap aku, Lee Hyukjae!” Sunghee menghampiri Hyukjae dan memegang kedua pipinya. Gadis itu pun menghadapkan wajah Hyukjae ke hadapan wajahnya. Mau tak mau Hyukjae menatap wajah kuyu di hadapannya.

“Kakak…” ucap Sunghee pelan. Tapi hatinya teriris ketika mengatakannya kepada kekasihnya. Hati Hyukjae tidak kalah hancur ketika mendengarnya.

“Sunghee ya, mianhae. Seharusnya…saat di Mokpo itu…kita tidak melakukannya. Aku yang salah. Aku benar-benar minta maaf, Sunghee ya. Aku..”

“Berhenti bicara.” Sunghee melepaskan tangannya dari wajah Hyukjae. Lelaki itu menatap gadis di hadapannya. Dia menunggu.

“Yang salah aku.”

“Aku menodai adikku sendiri dan itu tidak salah? Kau yang tidak melakukan apa-apa…tidak menyakitiku sedikitpun mengaku salah? Kau gila?”

“Iya aku gila, Lee Hyukjae!” teriak Sunghee. Matanya memerah dan hangat. Serbuan air mata siap turun. Hyukjae tidak tega. Dia ingin merangkul gadis itu dan menenangkannya. Tapi setelah tahu apa yang ia lakukan padanya, Hyukjae serasa ditahan sesuatu. Ditahan rasa bersalah.

“Malam ini aku menginap di sini saja. Kondisimu masih labil, di rumah tidak ada orang. Aku khawatir.”

“Tidak perlu mengkhawatirkanku. Kau pulang saja.” Sunghee beranjak dari tempatnya berdiri dan menaiki tangga.

“Wajar saja aku mengkhawatirkan adikku sendiri.” Hyukjae menatap punggung Sunghee. Gadis itu menegang.

“Baiklah. Terserah kau.” Sunghee melanjutkan perjalanannya ke kamar. Hyukjae masih menatap ke arah tangga. Seolah Sunghee masih ada di sana.

 

“Kalau begini keadaannya, aku berharap kau melupakan rasa cintamu padaku. Berikan cintamu yang lain. Cintamu pada kakakmu. Padaku…” gumam Hyukjae. “Jangan cintai aku sebagai namjachingumu.”

= = =

“Sial.” Sunghee menendang meja kecil di kamarnya. Meja itu terjatuh. Sunghee menghampiri meja kerja. Ia membersihkannya dengan sekali sapuan tangan. Barang-barangnya berjatuhan ke lantai. Sunghee menggebrak meja. Dia lalu terduduk di kursi meja kerja itu. Sunghee menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangan. Sunghee terisak. Jarang sekali ia seperti ini. Mungkin ini pertama kalinya.

“Appa sialan!” Sunghee mengambil pigura foto yang berisikan foto ayahnya dan melemparkannya ke lantai. Pigura itu hancur, kacanya pecah. Sunghee terisak kembali. Ia mengacak rambutnya. Lagi, Sunghee menggebrak meja.

“Hei…” Sunghee tersadar sesuatu. Dia mengusap air matanya. Dia lalu beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan cermin besar. Dia menatap tubuhnya sendiri. Dia lalu tersenyum setengah.

“Lebih baik Sunghee mati saja. Biar Ryeojae yang beraksi.” Sunghee mengambil gunting dari laci meja rias. Dia lalu menggunting rambutnya. Menjadi sangat pendek seperti rambut seorang namja. Rambut setengkuknya ia ikat.

“Ryeo…kau boleh menguasai tubuh ini.” Sunghee melepas T-shirtnya. Sunghee melilitkan sehelai kain putih di dadanya. Sekarang dadanya rata.

“Hah! Ryeo…bersiaplah. Sebentar lagi…” Sunghee bergumam sendiri. Tidak, tidak sendiri. Dia berbicara pada pribadinya yang lain. Sunghee melepas celana pendeknya dan menukarnya dengan celana PDL hitam. Dia memakai kaus longgar berwarna hijau tosca. Ditambah lagi jaket baseball berwarna hitam putih. Dia menyambar topi berwarna hijau tosca dan memakainya. Menutupi rambutnya yang pendek dan hitam. Ia tersenyum setengah.

“Annyeong, I’m Ryeo. Sunghee is sleeping in my body now.” Ryeo tersenyum. Tapi kemudian dia mengernyit.

“Sunghee, kau melupakan sesuatu. Tidak mungkin seorang namja sependek ini.” Ryeo membuka laci lemari baju Sunghee dan mengeluarkan sol tambahan. Dia menyambar sepatu kets dan memasukkan sol tambahan itu ke dalam sepatu. Sekarang tingginya bertambah beberapa cm.

Ryeo berjalan ke dinding dan menghampiri pengukur tinggi badan yang tertempel di sana. Dia lalu mengukur tinggi badannya sekarang.

“170. Lumayan.” Ryeo mengambil tas besar dan memasukkan barang-barang yang penting ke dalam tas. Dia lalu memakai tasnya dan membuka jendela. Ryeo pun melompat keluar. Ryeo pun segera berlari menembus kegelapan malam.

“Waktu berjalan cepat ya, Sunghee? Rasanya baru kemarin tubuh ini dinodai oleh kakakmu. Rasanya baru tadi siang kau dan kakakmu mengunjungi rumah itu. Dan rasanya baru tadi sore kau memaki-maki ayahmu. Dan sekarang kau malah memilih diam, beristirahat. Mempersilahkan aku untuk mengambil alih tubuh ini.” Ryeo menggumam. Dia masih berjalan santai di jalanan yang benar-benar sepi.

“Oh! Kaca mataku!” Ryeo merogoh sakunya dan menemukan sebuah kaca mata bening. Hanya kaca mata untuk penyamaran. Ryeo pun memakainya. Frame kaca mata itu berwarna hitam.

“Ini baru aku!” desis Ryeo senang. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan menekan salah satu nama di kontak. Ryeo mendekatkan ponsel ke telinga.

“Hyun, masih ada kamar kosong di rumahmu?”

= = =

“Hyun! Long time no see!” seru Ryeo riang. Pria yang berdiri di ambang pintu itu menatap Ryeo dengan kening berkerut. Wajahnya tampak kuyu. Dia seperti baru bangun tidur.

“Nugu saeyo?” Pria yang dipanggil Hyun itu memiringkan kepala.

“Na Han Ryeojae imnida. Lupa padaku?” Ryeo menggerling.

“Ha?” Hyun menyipitkan matanya.

“Jinjayo…” Ryeo mengacak rambut Hyun gemas. “Ingat Lee Sunghee?”

“Lee Sunghee?” Hyun memperhatikan Ryeo dari ujung kaki sampai ujung rambut. Saat melihat mata Ryeo, dia teringat seseorang. Mata Hyun membulat. Dia langsung menarik Ryeo masuk ke rumahnya dan menyentuh kedua pipinya dengan tangan. Hyun menatap mata Ryeo yang tersembunyi di balik kaca mata dengan dalam.

“Benarkah itu kau, Lee Sunghee?”

“Kini aku Ryeojae. Sunghee sedang istirahat di dalam tubuh ini.” Jonghyun, pria yang dipanggil Hyun, tertawa. Dia menepuk-nepuk pundak Ryeo.

“Kau tidak berubah, Ryeo! Atau Sunghee?” ejek Jonghyun. Ryeo tersenyum.

“Sudah kubilang sekarang yang ada di hadapanmu ini Ryeojae. Aku minta tolong satu hal padamu, boleh?”

“Apa itu, sayang?” Jonghyun merangkul Ryeo dan membawanya ke kamar yang sudah disiapkan untuk Ryeojae.

“Jangan memanggilku sayang. Kata sayangmu hanya untuk Sunghee, bukan?” Ryeo menepis tangan Jonghyun dari pundaknya.

“Arasseo..” Jonghyun membuka pintu dan membiarkan Ryeojae masuk. Ryeo meletakkan tasnya di lantai. Dia menatap kamar barunya.

“Keberatankah kalau malam ini Sunghee kembali?” Ryeo menatap Jonghyun. Cowok itu sedang berdiri bersandar di dinding. Jonghyun tersenyum jahil.

“Sangat tidak keberatan.” Senyum jahilnya berubah menjadi sebuah seringaian.

“Jangan menatapku dengan seringaian itu. Simpan saja seringaianmu untuk malam nanti.” Ryeo mengedipkan sebelah mata.

“Aigoo…” Jonghyun menggigit bibir bawahnya. Dia lalu menjulurkan lidahnya dengan gaya yang membuat Ryeo ingin muntah.

“Hentikan itu, Kim Jonghyun. Aku bukan Sunghee, aku Ryeo.”

“Sekarang sudah malam. Suruh Sunghee kembali.”

“Arasseo. Tunggu di ruang TV.”

“Lebih baik tunggu di kamarku.”

“Terserah kau. Sekarang, keluar.” Jonghyun tersenyum nakal dan keluar kamar. Ryeo mengunci pintu.

“Siap kembali, Sunghee?” Dia melepas topi dan jaketnya.

“Tentu saja, Ryeo.” Kini, Sunghee kembali. Dia tersenyum.

“I’m ready for this.” Sunghee melepas kaus longgar itu dan melemparnya ke sembarang arah. Sunghee melepaskan kain yang membelit dadanya. Dia menyambar kaus tipis dan memakainya. Celana PDL hitamnya ia ganti dengan celana pendek 10 cm di atas lutut. Dia terdiam menatap cermin. Pikirannya melayang pada malam dimana ia dan Hyukjae menjadi satu. Tapi kemudian Sunghee mendengus. Dia membuka pintu kamar dan menghampiri kamar Jonghyun.

Malam itu Sunghee kembali. Dan dia meruntuhkan dinding pemisah antara dirinya dan Jonghyun.

= = =

“Bajingan,” panggil Hyukjae. Leeteuk sedang duduk di depan meja kerjanya. Dia meremas rambutnya. Dia frustrasi.

“Hyukjae ya…terima kasih kau masih mau memaafkanku. Kau mau tinggal di sini.”

“Sebenarnya aku tidak memaafkanmu. Hanya saja aku kasihan padamu. Istrimu masuk rumah sakit jiwa dan putrimu melarikan diri.”

“Setidaknya aku berterima kasih padamu karena masih mengasihani diriku.”

“Sebenarnya kau tidak pantas dikasihani. Aku kasihan pada ibuku. Kau tahu? Eomma yang menyuruhku melakukan hal ini. Eomma bilang aku harus menjagamu. Eomma memang tegar dan baik. Tidak seperti kau.”

“Hyukjae ya..”

“Panggil aku Eunhyuk. Aku tidak sudi dipanggil dengan nama buatanmu.”

“Hyukjae, aku..”

“Kau tuli? Tadi aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku Eunhyuk.”

“Kumohon…Eunhyuk, jangan menambah masalahku.”

“Kau yang membuat masalah.”

“Tapi jangan menambah masalahku.”

“Tapi kau memang pantas mendapat masalah. Kau diciptakan hanya untuk mendapat masalah, bajingan.” Nada suara Hyukjae meninggi.

“Tolong jangan panggil aku bajingan, Hyukjae!”

“Dan jangan panggil aku Hyukjae!”

“Bukan aku yang memberimu nama!” Leeteuk berdiri. Dia menatap Hyukjae garang. Hyukjae mengangkat dagunya, menantang Leeteuk.

“Lalu siapa?” tantang Hyukjae. Leeteuk menghela napas.

“Ibumu. Bukan aku. Bukan aku yang memberimu nama. Kau…saat kau lahir saja aku tidak ada di sampingmu dan ibumu.” Leeteuk menatap putranya. Hyukjae memalingkan muka, menatap rak buku. Amarahnya semakin memuncak.

“Sekali lagi aku minta maaf,” lirih Leeteuk.

“Simpan saja maafmu..” Hyukjae berbalik dan melangkah menjauh, “..di tong sampah.”

Leeteuk menghela napas. Dia menatap punggung putranya. Tatapan penuh penyesalan.

“Hey, aku melupakan sesuatu.” Hyukjae tiba-tiba mendatangi Leeteuk lagi. Pria dewasa itu menatap anaknya heran.

“Apa kau korupsi?” Hyukjae memicingkan matanya, menatap Leeteuk dengan tatapan curiga.

Leeteuk gelagapan.

“A-apa maksudmu? Mana mungkin..aku korupsi? Kau ini aneh-aneh saja.”

“Benar,  ‘kan?” selidik Hyukjae. Dia perlahan berjalan mendekati Leeteuk. Leeteuk semakin mundur hingga akhirnya menabrak ujung meja dan terjatuh. Hyukjae membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan wajah Leeteuk.

“Empat rumah besar, enam mobil, tiga motor, dan belasan brankas penuh uang. Kau dapatkan itu semua darimana?”

“Tentu saja dari pekerjaanku. Aku ini kan menteri.”

“Sekaya itukah? Liburan pasti ke luar negeri, membeli banyak barang dan menghamburkan jutaan lembar uang. Hanya karena kau menteri?”

“Kenapa kau menanyaiku begini?” Leeteuk menatap Hyukjae ngeri. Hyukjae tersenyum sadis. Dengan sekali gerakan, dia menarik kerah Leeteuk dan membenturkan punggungnya ke tembok. Leeteuk mengerang. Tulangnya sebentar lagi pasti remuk.

“Karena aku punya bukti.”

“Apa?”

“Ini.” Hyukjae melemparkan sebuah map berwarna putih ke wajah Leeteuk. Hyukjae lalu menegakkan tubuhnya. Dia bersidekap dan menatap Leeteuk dengan pandangan meremehkan.

“Dia sudah mengungkap semuanya. Kau sekarang buronan.”

Dia? Dia siapa yang kau maksud?” Leeteuk menengadah, menatap Hyukjae dengan pandangan heran. Hyukjae tersenyum misterius.

Dia.” Hyukjae melakukan penekanan. Leeteuk mengerutkan kening.

= = =

“Permisi, apa Anda yang bernama Lee Teukhee?” Seorang pria menghampiri Leeteuk di sebuah kedai minuman. Leeteuk yang sedang frsutrasi menatap sang penanya dengan malas.

“Ye. Wae?” katanya dingin. Orang itu tersenyum.

“Aku Kim Jonghyun, teman Sunghee.” Mendengar nama anaknya disebut, Leeteuk langsung kembali ke alam sadar. Dia menatap Jonghyun dengan mata terbelalak.

“Ye? Ada apa? Dimana putriku sekarang?” kata Leeteuk langsung.

“Maaf, saya kemari membawa berita duka.” Jonghyun menyatukan kedua tangannya di atas meja. Dia menatap Leeteuk serius. Leeteuk tertegun. Mulutnya terbuka namun tidak sepatah kata pun terucap.

“Lee Sunghee…sudah meninggal dunia. Dia tenggelam di sungai. Dia bunuh diri. Jasadnya belum ditemukan hingga sekarang.” Leeteuk terpaku. Jonghyun menyentuh tangan Leeteuk.

“Semoga Anda diberi ketabahan,” lirihnya. Jonghyun lalu menyatukan tangannya lagi. Leeteuk tertunduk. Tubuhnya gemetar hebat. Tiba-tiba dia menggebrak meja. Ia menangis.

“KENAPA DIA YANG JADI KORBAN?! AKU YANG SALAH KENAPA ORANG LAIN YANG JADI KORBAN?!” teriak Leeteuk parau. Jonghyun terdiam.

Leeteuk menyapu bersih meja di hadapannya. Botol-botol dan gelas alkohol berjatuhan. Menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Leeteuk menggulingkan meja itu dan menendangnya. Jonghyun langsung berdiri dan menghalangi Leeteuk.

“Aku ingin masuk penjara saja…biar aku tidak memanggul beban seberat ini!” seru Leeteuk.

“Pengecut!” Jonghyun menonjok wajah Leeteuk yang basah karena air mata. Leeteuk tersungkur dan terbatuk. Jonghyun menatapnya jijik.

“Hadapi masalahmu, Tuan besar!” serang Jonghyun lagi. Leeteuk terdiam. Dia lalu berteriak frustrasi, meraung-raung di lantai. Pemilik kedai langsung menghampirinya. Beberapa orang melihat ke arahnya dengan heran.

“Kalau mau berteriak, jangan di sini. Aku punya tempat bagus.” Leeteuk menatap Jonghyun. Dia menunggu kelanjutan kata-kata pria itu.

“Di jurang. Kalau tidak ya di sungai, tempat putrimu mati.”

= = =

Hyukjae memasuki sebuah ruangan di markasnya. Dia menatap sekeliling dan tersenyum. Tiga orang lain yang ada di ruangan itu membalas senyumnya.

“Hyukjae ya, ada tugas untukmu,” kata pria yang berbadan tinggi tegap.

“Apa? Aku siap menjalani tugas apa pun.” Hyukjae tersenyum dan duduk di sebelah pria yang memakai kaca mata. Sedari tadi pria itu sedang menekuni kertas di hadapannya.

“Kau harus menangkap seorang namja bernama Han Ryeojae. Namja ini sering melakukan pembunuhan dan terorisme. Apartemen Shine saja pernah menjadi korbannya.”

“Apartemen yang dibom itu?” komentar pria yang bermata sipit. Wajahnya polos.

“Ya, itu. Hyukjae ya, kau akan ber-partner dengan Kibum.” Pria berkaca mata langsung mengalihkan pandangannya dari kertas. Dia menatap Hyukjae sekilas.

“Oke tak masalah, Siwon hyung,” sahut Kibum. Dia menunduk lagi. Membaca tulisan-tulisan di hadapannya dengan serius.

“Jinki, kau lakukan penyamaran. Selidiki orang-orang yang dekat dengan Han Ryeojae ini. Ganti namamu menjadi Onew.”

“Arasseo..” Lelaki sipit yang bernama Jinki itu mengangguk paham.

“Kapan kita mulai?” tanya Hyukjae. Siwon menatapnya.

“Sekarang.”

To be continued

10 thoughts on “[FF] I’m Not Sunghee, I’m Ryeo! Part 1

  1. haerin says:

    kalo kita liat orang kya sunghee n ryeo di jalan lagi ngomong, pasti dianggap orang gila…
    padahal dia lagi ngomong berdua..
    sejauh ini masih belum bisa komen apa-apa…
    tapi yang pasti kalo di dunia nyata enhyuk ga akan berani kaya gitu k leeteuk…
    kecuali kalo dia mau di bunuh kangin…

  2. haeny_elfishy says:

    Sumpah, walopun di ff ni teuk kurang ajar bngt , tp q kasian + miris ma teuk, sampe ditendangin gtu ma anak”nya, ckckckck *hug teuk oppa*
    lanjoot yeob. . . ^^

  3. rabbitpuding says:

    ohoho, di publish juga ye.
    Kayanya aku gak bisa ngasih komen yang berarti deh, wong dah tau ceritanya. Fighting ! Aku ditulis jadi penambah ide dooong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s