[FF] Gloxinia

JewelGuy: Hei, sungheedaebak! Kau mau ke Korea?

Sungheedaebak: Yeep..tunggu aku.

JewelGuy: Gidarinda!

Begitulah…semuanya berawal dari sebuah chatting di internet. Saat aku menjelajahi situs chat itu, aku menemukan sebuah ID. Sungheedaebak? Narsis sekali dia. Itulah kesanku saat pertama melihatnya. Maksudku, ID miliknya.

JewelGuy: Kau dimana?

Sungheedaebak: Masih di bandara. Sebentar lagi aku masuk ke pesawat. Ponsel kumatikan. Oke? Tunggu aku.

Dia selalu menyuruhku untuk menunggunya. Padahal tanpa disuruh pun aku selalu menunggunya. Hm…Super Junior masih diberi waktu liburan minggu-minggu ini. Aku iseng, kirim e-mail untuknya ah…

To: Lee Sunghee (sungheedaebak)

Hei, aku iseng. Aku baru menerjemahkan beberapa pepatah berbahasa Inggris. Tentu saja hanya bercanda, kau tahu kan aku bisa berbahasa Inggris? Just check it out! Oh ya, aku mencoba menerjemahkannya ke bahasamu, kau orang Indonesia-Korea, kan?

  1. Love is blind => Cintailah orang buta
  2. The right man in the wrong place =>  Orang di sebelah kanan salah tempat, harusnya di kiri.
  3. No gain without pain => Tidak mendapat uang kalau tidak kesakitan dulu.
  4. Don’t judge the book by the cover => Jangan salahkan buku karena dia meninggalkan koper
  5. Like father like son => Suka bapaknya, suka juga anaknya.
  6. The beauty is under the skin => Jadi cantik kalau ganti kulit
  7. Just be yourself => Kesengat tawon, itulah kamu (mukamu)
  8. The truth is out there => Yang benar boleh keluar

Bagaimana? Semoga kau terhibur, Sunghee.

Aku mengklik send dan pesan pun terkirim. Aku tersenyum sendiri. Aku penasaran seperti apa Lee Sunghee itu.

Green Café, 10:09 AM, South Korea, March, 23th, 2010

Aku membuka pintu yang terbuat dari kaca ini. Aku menatap ke sekeliling. Sunghee memintaku menemuinya di sini. Tepat pada jam 10 pagi, tapi aku terlambat. Yah…minta maaf saja.

Pandangan mataku terhenti pada seorang yeoja yang duduk di pinggir, dekat kaca jendela besar. Kepala yeoja itu terkulai lemas di atas meja, tangannya lurus di atas meja juga. Kesepuluh jari tangannya memainkan kertas yang terpampang di meja itu. Seperti kertas nama yang biasa ada di ruang dokter atau direktur. Tulisannya hangul, Lee…Sing Hee? Aku menahan tawa membacanya. Aku lalu memutuskan untuk mendekati yeoja itu.

“Chogi…apa kau yang bernama Lee Sunghee?” tanyaku langsung. Yeoja yang sedang bosan itu mendongak, mulutnya terbuka sedikit, seakan bingung dengan kehadiranku. Saat menyadari siapa aku, dia langsung memperbaiki posisi duduknya dan tersenyum. Hm…senyumnya biasa, tidak begitu menawan. Dan…caranya berpakaian..agak sedikit berbeda.

“Annyeonghasaeyo,” Sunghee menunduk. “Je irumun Lee Sunghee imnida. Kau Lee Hyukjae?”

“Ye. Sunghee, kau salah menuliskan namamu.” Aku menunjuk kertas itu sekilas sambil mendudukkan tubuhku ke kursi di seberangnya. Dia terlihat terkejut.

“Ah, jinja? Aish..kemampuan hangulku menurun. Aku lebih sering berada di Indonesia dan Jerman atau Perancis. Mianhae…” Sunghee mengambil kertas itu dan melipat-lipatnya. Dia lalu memasukkannya ke kantung kemejanya dan mengambil kertas lain. Aku sempat melirik isi kertas itu. Aku tercekat. Dialog?

“Emh…mannaseo bangapseumnida,” kata Sunghee. Aku hanya mengangguk. Aku memperhatikan dirinya selama ia membaca isi kertas itu. Rambutnya dikucir pinggir kiri dengan poni miring ke kanan, memakai kemeja kotak-kotak kecil tipis berwarna khaki, T-shirt longgar berwarna hitam bergambar bangun-bangun datar, di lehernya terdapat kalung hitam dengan bandul logam berwarna perak, seperti kalung yang sering dipakai namja. Dia memakai celana jeans biru terang, dan sepatu sandal berwarna khaki. Di tangan kirinya terlingkar sebuah jam digital berwarna hitam. Kesan pertama, tomboy.

“Hey, sekarang kan sudah autumn, mau masuk winter, apa tidak kedinginan memakai baju itu?” tanyaku agak sedikit merasa tidak enak. Dia menggeleng. Dia pun melipat kertas itu dan membuka buku menu.

“Selama belum winter, aku tidak kedinginan,” ucapnya tanpa menoleh sedikitpun padaku. Kalau bicara, menghindari mata orang si lawan bicara meskipun dia berkata yang sejujurnya. Itu hasil amatanku tentangnya. Well, sementara.

Hening. Akhirnya Sunghee memecah keheningan dengan memanggil seorang pelayan.

“Peppermint tea satu, Chocolate creamy cake satu ya,” pesannya. Dia lalu menatapku. Tanpa disuruhnya, aku langsung memesan.

“Eng…Milkshake strawberry satu, dan Strawberry soft cake satu.” Aku menyerahkan buku menu pada pelayan itu.

“Kau pasti sangat menyukai strawberry,” tebaknya. Aku tersenyum.

“Sebenarnya aku sangat menyukai susu strawberry saja, tapi saat melihat gambar cake itu, aku jadi tergiur.” Dia terkekeh pelan. Aku tersenyum. Lagi-lagi aku mengamatinya. Dia membuat kesimpulan sendiri, tapi mengucapkannya dengan nada ragu. Sulit kutebak maksudnya apa.

“Oh ya, Sunghee ssi, kau sudah baca e-mail dariku?” tanyaku.

“Oh, belum. Sejak datang ke Korea aku belum sempat mengecek e-mail. Aku buka sekarang saja.” Sunghee mengeluarkan ponselnya. Dia lalu menjelajahi internet sementara menunggu pesanan datang. Aku hanya diam memperhatikannya. Aku penasaran reaksi apa yang akan ia berikan.

“Bagaimana?” tanyaku tak sabar. Dia mengulum senyum.

“Where did you get it?” tanyanya.

“Aku kan sudah bilang..”

“Where did you get it?” katanya lebih tegas. Aku terdiam.

“Kau tidak percaya itu buatanku?”

“Tentu tidak. Aku sudah membacanya di situs lain. Secara logis, kamu juga belum mahir membuat ini. Kemarin kau bilang hanya bisa mengucapkan ‘apa kabar’, sedangkan orang luar belajar Indonesia lebih dari satu hari. Lagipula bila dihitung, kau mengucapkannya 12 jam yang lalu.” Gadis yang berpikir logis, tak mudah tertipu. Kesanku tentangnya bertambah kembali. Cukup pintar.

“Erh..baiklah. Aku memang mengambil dari situs freestress.yolasite.com,” akuku. Dia tersenyum setengah.

“As I thought before. Aku juga sering membuka situs itu.”

Pesanan datang, aku dan dia terdiam dulu. Kami lalu asyik makan sendiri-sendiri. Ingin sekali aku menyapanya, namun ia selalu berkutat pada buku yang dibawanya. Makan sambil membaca buku di café? Benar-benar gadis aneh.

“Memangnya kau selalu seperti ini ya? Makan sambil membaca buku?” tanyaku setelah selesai makan.

“Mungkin,” ujarnya ringan sambil menutup buku. Dia baru saja menghabiskan makanannya dan menatapku. Dia lalu tersenyum simpul. Aku tertegun. Apa maksudnya senyum itu?

“Setelah ini kau mau kemana?” Akhirnya aku bertanya untuk memecah keheningan. Dia terlihat berpikir.

“Hm..aku ingin membeli bunga..” katanya. Aku menaikkan alis. Ternyata ia suka bunga.

“Untuk orang yang special!” Dia melanjutkan kata-katanya.

“Kukira kau suka bunga.” Aku terkekeh. Menertawai kebodohanku sendiri yang asal tebak.

“Memang kok. Aku suka Jasmine, Jonquil, White Carnation, Gloxinia, Baby’s Breath, Orange Blossom, Daisy juga lucu..Mistletoe bagus juga..terus…oh ya, Gardenia sangat cantik! Aku suka. White Camellia juga!” Dia menyebutkan banyak sekali jenis bunga. Aku terbengong-bengong mendengarnya.

“Kau tidak suka bunga mawar?” tanyaku. Sedikit aku menangkap, dia tidak menyebutkan kata mawar sama sekali.

“Suka. Hanya saja aku lebih tertarik pada bunga berwarna putih.”

“Tapi..Mistletoe tidak berwarna putih..” ucapku ragu. Sedikit-sedikit aku tahu tentang bunga. Itu karena kakakku suka bunga dan kami punya taman bunga di halaman belakang.

“Memang. Tapi aku suka artinya.”

“Memangnya apa artinya?”

“Kiss me.” Dia tersenyum. Kali ini manis. Wajahku memerah.

“Oke, sini!” Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya.

“Aniyo! Aku kan hanya menyebutkan makna bunganya!” elaknya. Tapi senyum menghiasi wajahnya. Mau tak mau aku tersenyum. She’s cute.

“Tapi kalau urusan makna, aku lebih suka makna Baby’s Breath.”

“Memang apa artinya?” Lambat laun aku mulai tertarik.

“Everlasting love. So sweet, isn’t it?” Aku mengangguk. Dia melirik jam tangannya.

“Well, aku harus membeli bunga sekarang.” Dia bangkit berdiri.

“Ah, boleh aku ikut? Aku ingin tahu lebih banyak tentang bunga.”

“Oh, benarkah?” Dia terlihat terkejut. “Baik, ayo.”

“Ehm…naik mobilku?” ajakku. Berharap ia mengangguk dan satu mobil denganku.

“Tidak perlu. Aku menyetir.” Dia menunjukkan kunci mobilnya. Aku mendesah kecewa. Sunghee terus berjalan mendahuliku sambil menenteng bukunya.

“Ini mobilmu?” tanyaku ketika dia menghampiri sebuah mobil Bugatti Veyron hitam metalik. Interior mobil itu berwarna biru. Hebat, bahkan mobilnya lebih bagus dari mobilku.

“Yep. Aku mendapatkannya sebagai hadiah.”

“Hadiah?!” Jujur saja, aku terkejut. Sunghee mengangguk dengan santai.

“Hadiah dari kerja kerasku selama ini. Ini mobil hasil bekerja di Jerman. Bagaimana?” Mulutku membentuk huruf o. Sunghee terkekeh melihatnya. Ya ampun, aku tidak bisa berkutik di hadapannya.

“Keren!” Hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Aku begitu terpesona dengan mobil metalik itu. Sunghee tertawa.

“Kau mau ikut di mobilku?” pancing Sunghee. Tentu saja aku ingin! Tapi mau dikemanakan mobilku?

“Lain kali saja. Aku harus mengemudi mobilku.”

“Kalau begitu harus aku yang menjemputmu dan mengantarmu pulang?” Sunghee tertawa. Aku tersenyum malu. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Perkataan yang ringan, diucapkan dengan riang, tapi sindirannya…

“Ya sudah, ayo ke toko bunga!” Dia membuka pintu mobilnya. Wow..lambo door! Pintunya dibuka ke atas. Yaah…gadis ini sebenarnya siapa? Aku melirik isi mobilnya sebentar. Dan aku meihat sepasang speaker besar di jok belakang. Pasti asyik sekali kalau memutar lagu di mobil itu.

“Memang. Mau coba?” tanyanya dari dalam mobilnya. Aku tertegun. Apa aku mengucapkan pikiranku tadi? Aish…malunya..

Dia pun memainkan sebuah musik. Yang kutahu ini lagu Omarion feat. Gucci Mane – I Get It In. Mengejutkan, mobil Sunghee bergerak-gerak sesuai irama lagu. Aku berdecak kagum.

“How’s it? Temanku di Perancis memodifikasinya. I love it!” serunya, mengalahkan suara lagu.

“Me too…” kataku masih dengan nada kagum. Sunghee tertawa. Dia menghentikkan gerakan mobilnya dan menutup pintu. Volume musik ia kecilkan. Aku pun lekas masuk ke mobil dan mengikuti mobil Sunghee yang sudah berjalan lebih dulu.

Sampai di toko bunga, dia langsung menghampiri penjaga toko.

“Annyeonghasaeyo, Kei,” sapanya pada si pemilik toko. Sepertinya Kei ini orang Jepang.

“Hee-chan! Sudah lama tak bertemu!” seru Kei. Mereka pun bersalaman. Salaman ala lelaki.

“Mencari bunga apa kali ini?” tanya Kei. Matanya berbinar saat menatap Sunghee. Aku hanya terdiam di belakang Sunghee. Ekor mataku memperhatikan gerak-gerik Kei.

“Gloxinia,” jawab Sunghee singkat. Kei tersenyum penuh arti. Matanya melirikku. Aku heran.

Pour lui? (Untuknya?)” Kei lagi-lagi melirik ke arahku. Aku mengernyit. Bahasa Prancis…atau..ah aku tidak mengerti!

Bien sûr. (Tentu)”

“Waah…” Kei menepuk-nepuk pundak Sunghee. Hal yang membuatku kurang nyaman. Kei pun pergi ke belakang. Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa sebuket bunga Gloxinia.

“Gomawoyo, Kei.” Sunghee menerimanya dan membayar bunga itu. Sunghee pun keluar toko, diikuti olehku.

“Nih, untukmu. Gloxinia.” Sunghee menyerahkan setangkai padaku. Aku menerimanya dengan ragu.

“Maknanya?”

“Kau akan tahu nanti.” Sunghee mengedipkan sebelah matanya. Aku mencibir. Sunghee pun tertawa. Akhirnya ia pulang ke apartemennya sedangkan aku kembali ke dorm.

“Good afternoon all! Wookie brother, did you cook? I’m hungry..” sapaku pada member Super Junior yang lain. Mereka terpaku menatapku. Aku menaikkan sebelah alis.

“Why are you looking at me like that? Am I cool?” Kulihat Kyuhyun memeletkan lidahnya. Delapan member yang lain hanya terdiam. Seakan terpesona olehku.

“Ada angin apa kau bicara seperti itu?” tanya Donghae. Aku tersenyum.

“Just improving my English skill. How’s it?”

“Pretty good, hyung,” komentar Kyuhyun. Dia bicara tanpa menoleh dari buku pelajaran. Aku membusungkan dada.

“Bunga apa itu?” tanya Leeteuk hyung.

“Igo? Oh..dikasih oleh orang spesial.” Aku tersenyum dan menghampiri dapur.

“Aku bilang aku lapar, Ryeowook ah…tolong masakkan sesuatu,” kataku pada Ryeowook yang sedang duduk di meja makan.

“Bukankah kau tadi bilang pergi ke café? Kenapa sekarang sudah lapar lagi?” tanya Sungmin hyung.

“Mungkin karena aku terlalu kagum sampai-sampai aku lapar lagi..” ucapku asal. Semuanya terbengong-bengong melihat ke arahku.

“Aku jadi pengin beli Bugatti Veyron…” gumamku. Ryeowook menatapku penuh tanda tanya.

Ternyata Sunghee tidak sesederhana seperti yang kubayangkan. Dia unik dan sangat spesial. Kesan pertamaku tentangnya memang agak jelek, tapi makin kemari ternyata dia menyenangkan.

Keesokan harinya, aku menemuinya lagi. Kali ini dia mengajakku bertemu di Han River. Lebih tepatnya di jembatan Han River. Dekat dari dorm, jadi aku tidak membawa mobil. Ternyata Lee Sunghee sudah di sana lebih dulu. Di pinggir Han River, aku melihat mobilnya terparkir dengan manis. Lee Sunghee berdiri di pinggir jembatan. Bertopang dagu pada besi sambil memain-mainkan bunga di tangannya. Itu seperti bunga Carnation. White Carnation?

“Annyeong, Hyukjae,” sapanya tanpa melihat ke arahku.

“Well, you should call me oppa since I’m older than you. I’m 24 and you’re 22.” Sunghee terkekeh. Aku tersenyum dan menghampirinya. Aku berdiri di sampingnya, melipat kedua tanganku di atas besi. Aku menoleh padanya. Menatap wajah manisnya. Kali ini ia memakai celana longgar berwarna hitam panjang, T-shirt coklat muda, hoodie hitam. Rambutnya dikucir kuda. Rambutnya tertiup angin, menerbangkannya dan menjatuhkannya helai demi helai dengan sempurna.

“Mian, di Jerman tidak ada istilah kakak.”

“Gwaenchana. Jadi…kau mengajakku ke sini untuk apa?”

“Hanya untuk memberimu ini.” Dia memberikan bunga White Carnation itu.

“Apa maknanya?” tanyaku.

“Aku akan menjelaskan mulai dari Gloxinia. Bunga itu berarti cinta pada pandangan pertama.” Sunghee menatap lurus ke depan.

“Lalu White Carnation?” tanyaku tak sabar. Jantungku berdegup kencang.

“That means pure love,” katanya masih sambil melihat pemandangan di depan. Seakan ucapannya tak ada artinya. Aku semakin berdebar, wajahku rasanya panas. Tapi kenapa dia tenang-tenang saja? Yah, meskipun aku melihat sedikit rona merah di pipinya.

“Well, aku juga membawa sebuket bunga untukmu.”

“Hng? Bunga apa?” Akhirnya Sunghee menoleh. Aku lalu menyodorkan sebuket bunga Jonquil padanya. Sunghee sedikit terkejut. Dia lalu menerima bunga itu.

“Jonquil means love me..” gumamnya. Aku mengangguk semangat. Ah..aku seperti anak kecil.

“Hm…” Apa? Sunghee hanya bergumam? Aku tidak percaya!

“Jadi bagaimana? Kau mencintaiku?”

“Pernyataan cinta macam apa itu?” cibirnya. Aku mendengus. Tapi wajahnya merah padam.

“Hey, is that mean ‘yes’?” Aku menatap ajahnya.

“What do ya think?” Dia balik bertanya. Aku tersenyum.

“I take that as a yes.”

“Then it’s a yes.” Sunghee mengangguk sekali. Aku gembira bukan main.

“Now can you give Mistletoe to me?” ujarku semangat. Sunghee mendengus.

“I know what you mean.” Sunghee mengecup bibirku sekilas. Wajahku merah padam.

“Hei…that’s not enough..” Aku menarik dagunya, menghadapkan wajahnya padaku. Aku menatap matanya dalam. Aku lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya. Dia membalas ciumanku. Aku lalu tersenyum. Kemudian aku menciumnya lagi. Sunghee melepaskan ciumanku.

“Baby’s Breath…Pink Carnation…” ucapku menyebutkan nama bunga yang berarti cinta tak berakhir, aku tidak akan melupakanmu.

“Pink Rose, Orange Blossom..” balas Sunghee. Artinya kebahagiaan sempurna, cinta abadi.

Aku tersenyum. Aku lalu melingkarkan tanganku ke pundaknya. Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Kami menatap pemandangan Han River yang indah masih sambil memainkan bunga masing-masing.

“I love you..” bisikku pada telinganya. Kurasakan ia tersenyum.

THE END

26 thoughts on “[FF] Gloxinia

  1. dhikae says:

    huwaaaaaaaaa nice
    love this couple *sunghee trbang ke korea/plakk

    so sweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet >< *lbay nyahaha
    si kunyuk bisa jg romantis..hahaha😛

  2. haeny_elfishy says:

    hua…!
    keren keren keren ! padahal q ga mudeng tentang bunga”an, tp keren bngt ini mah, ga gaje sedikitpun. . .
    thumb up saeng! sunghee unn nyosor duluan, hahaha

  3. vidiaa says:

    suka FFnya, bisa nambah pengetahuan soal bunga juga😀
    soalnya awal-awalnya ga ngerti sama nama bunga-bunganya —
    eh taunya makin ke sini makin ngerti.

    suka judul sama ceritanya.. unik hehe

  4. just_sona says:

    Dapat pelajaran baru tentang bunga hari ini b^^d
    Suka ceritanya thor !😉
    Kereeeeen ..
    Ketawa di bagian awal baca , yang kata pepatah tuh! hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s