[SONGFIC] Why Have I Fallen In Love With You?

Aku tidak mengerti apa yang kusuka darinya. Tubuhnya sedikit pendek dan sangat kurus, rambut panjang sepunggung berwarna coklat gelap, sifatnya yang periang dan sedikit manja, cukup cantik, dan imut. Apa itu yang kusuka darinya? Tidak. Aku dikelilingi oleh banyak perempuan semacam itu tapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil membuatku jatuh hati. Kecuali gadis itu. Lalu apa yang menarik darinya? Kenapa dia berhasil membuatku menjadi gila karenanya?

Kukenal dia saat berumur 9 tahun. Dia murid pindahan ke sekolahku waktu itu. Saat itu aku merasa sudah mengenalnya. Entahlah kenapa. Kontak batin? Kurasa tidak. Lalu dengan sendirinya kami menjadi akrab. Dan kami memutuskan bahwa kami bersahabat. Mulai saat itu kemana-mana kami selalu berdua. Sudah tidak heran bagi orang lain untuk melihat ada dia disisiku. Dia juga sudah biasa berada disisiku setiap hari. Kami beranjak dewasa bersama-sama. Seperti kakak dan adik. Ya, hanya kakak dan adik.
Aku tahu..aku tahu.. ada cinta dalam persahabatan itu indah. Tapi bukan cinta yang kurasakan. Dia mencintaiku, ya dia memang mencintaiku tapi hanya sebagai sahabat. Dan aku mencintainya sebagai seorang perempuan. Bukan hanya sebagai sahabat. Aku tahu cintaku ini bisa merusak persahabatan kami makanya aku berusaha menghapus perasaan yang menggelitik itu dari hatiku. Tapi aku selalu gagal. Setiap siang dan malam perasaanku semakin besar. Semakin ingin kuhapus semakin tebal jejak yang ditinggalkannya.
“Yoochun ah..saranghaeyo.” Aku menoleh ke sumber suara. Gadis itu berdiri di sana sambil tersenyum. Bahasa Koreanya masih kaku. Dia memang bukan orang Korea, dia orang Jepang. Namanya Akino Kaoin. Aku biasa memanggilnya Kino-chan. Dia biasa memanggilku Micky tapi dia bilang dia ingin memanggil nama Korea ku karena kita sedang di Korea.

“Kino-chan, na ddo saranghae.” Aku membalasnya sambil tersenyum lembut. Aku tahu, saranghae yang dia maksud adalah sayang, bukan cinta. Aku mengerti, meskipun cinta, bukan cinta yang kuharapkan darinya.

Akino duduk di sebelahku. Aku menatapnya kagum. Entahlah, rasanya aku ingin mengucapkan kata-kata yang melimpah padanya tapi mulutku terkunci begitu saja. Aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padanya tapi otakku seakan melarang pita suaraku berbunyi. Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Sudahlah percuma saja mengatakannya, hanya akan merusak persahabatan. Lagipula sahabat akan ada disisi kita terus kan? Dia pasti akan ada disisiku.

————————–
Entah kenapa rasanya Akino mulai menjauhiku. Maksudku, dia tidak bermaksud untuk menjauhiku, dia tidak akan melakukan hal itu, tapi akhir-akhir ini dia jarang berada di sisiku lagi. Firasatku berkata yang aneh-aneh. Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Kenapa dia jarang terlihat lagi? Kemana dirinya? Aku sangat merindukannya.

Ponselku berdering. Ada pesan masuk. Aku membukanya dan membacanya. Betapa cerahnya wajahku ketika tertera nama Akino di layar. Ternyata dia menyuruhku untuk datang ke jembatan dekat pusat kota. Tempat kami sering janjian untuk bertemu dulu. Aku menyanggupinya dan bergegas pergi ke jembatan tersebut.

Akino belum datang. Dengan sabar, aku menunggu sambil bersandar pada pengaman jembatan. Di kejauhan aku melihat Akino berjalan mendekatiku. Jembatan sedang sepi karena hari sudah sangat malam. Jadi, suara sepatu hak tinggi Akino terdengar jelas di jalanan yang lenggang tersebut. Dadaku berdegup kencang ketika melihatnya tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya. Senyumku hilang ketika kulihat pancaran sedih dari matanya. Sedih dan merasa bersalah? Kenapa?
“Hi, Yoochun.” Sapaan yang asing menurutku. Biasanya dia selalu ceria dan langsung menggamit lenganku ketika bertemu denganku. Dia selalu berkata, “Yoochun ah!! Hari yang cerah, ayo kita jalan-jalan! Aku sedang ingin pergi ke..bla bla bla.” Tapi sekarang? Kemana sifatnya yang kekanakan dan manja itu?
“Aku..” Kino menggantung kalimatnya. Aku menunggunya dengan sabar.
“Aku akan menikah.” Kata-katanya bagaikan segudang petir, menyengat telingaku tanpa peringatan. Jantungku serasa jatuh dari tempatnya. Aku menatapnya dalam diam. Sampai aku sadar, aku harus mengatakan sesuatu.
“Kau.. kau pasti bahagia.” Aku memaksakan seulas senyum. Akino hanya mengangguk kecil. Dia tersenyum tipis. Dia lalu berbalik dan berjalan pergi. Aku masih terdiam menatap punggungnya. Aku lalu berbalik dan pergi. Akino membalikkan tubuhnya dan berbisik, “Selamat tinggal, Micky.” Dia lalu berjalan lagi.

Aku menghadiri pernikahannya meskipun rasanya berat. Aku melihatnya berdiri di sana, mengucapkan janji-janji suci pernikahan. Di samping orang yang dicintainya, bukan aku. Dia terlihat sangat cantik hari ini. Dia berbalik dan matanya beradu dengan mataku. Wajah bahagianya langsung sirna ketika melihat wajah muramku. Aku mengalihkan pandangan dan berjalan keluar gedung, menunggunya untuk berjalan ke mobil pengantin bersama suaminya.

Beberapa orang telah berdiri memanjang di tangga sambil menggenggam kelopak bunga di masing-masing tangan. Aku juga melakukan hal yang sama. Dan terlihatlah dirinya, digandeng suaminya, berjalan menuruni tangga dengan bahagia. Orang-orang melemparkan kelopak bunga itu pada mereka. Aku masih terpaku. Lagi-lagi pandangan kami beradu. Senyumnya sirna dan wajahnya terlihat.. sedih. Aku memaksakan seulas senyum dan melemparkan bunga itu pada mereka. Aku hanya bisa berkata, “Selamat.”

Sebelum masuk ke mobil, dia sempat memelukku sekilas. Aku menatapnya nanar. Suaminya mengulurkan tangan dan dia menyambutnya. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi. Aku langsung menyesal. Kenapa aku tidak bisa menarik tangannya dan membawanya pergi? Kenapa aku harus melihatnya pergi dengan lelaki lain? Aku menyesal. Sangat menyesal. Aku tidak bisa kembali ke masa lalu meski aku sangat-sangat ingin melakukannya. Kata-kata yang ingin kuucapkan sekarang benar-benar hilang dari memoriku. Percuma saja diucapkan, kata-kata itu tidak akan menggapaimu.

Aku menyesal. Seharusnya kau berada disisiku. Tapi itu tidak mungkin. Baiklah, demi kebahagiaan abadimu, aku hanya bisa mendoakanmu. Meskipun itu membuatku kesepian. Meskipun itu membuatku sedih. Tapi aku hanya bisa melakukannya. Kata-kata yang ingin kuucapkan ini tidak akan berlaku lagi. Aku ingin sekali mengucapkan…

“Aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?”

THE END

16 thoughts on “[SONGFIC] Why Have I Fallen In Love With You?

  1. raekiyopta says:

    Aissh! Jinja jeongmal! Ceritanya menyentuh banget. (ko asa ganyam sama gerutunya = =”)
    nisaaa! Nama jepang mu dapet darimanaa?
    Ohya, sepertinya aku pernah membaca cerita semacam ini. Hanya saja lebih panjang. Haha good job🙂

  2. amitokugawa says:

    gila! menyentuh bgt…
    kasian yoochun patah hati
    oh, akino akaoin itu kamu ya? kalo aku tokugawa megumi.. (gapen bgt dah)

  3. vidiaa says:

    oke, ni FF ngena banget lah, jero walopun singkat.
    udah Yoochun sama aku aja /plak *diseret sungmin* #abaikankomentarini

    padahal kalo nekat Yoochun ke altar, tendang cowok yang mau nikah sama Akino, terus Yoochun minta dinikahin sama Akino *oke ini gila* ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s