[FF] Say It With Origami

Lee Donghae terdiam di kamar temannya. Dia bosan. Temannya, Kim Heechul, sedang keluar untuk membeli minuman. Donghae menatap sekeliling. Pink, pink, dan pink. Donghae memeletkan lidah, merasa jijik berada di kamar ini. Dia lalu menghampiri jendela besar. Dia melongok ke bawah. Di bawah sana terdapat jalan raya yang besar, banyak mobil berlalu lalang. Donghae melirik jam. Dia terbelalak.

“Rasanya aku sudah 2 jam menunggu Heechul hyung, kenapa baru 3 menit?” gumamnya. Donghae mendengus kesal. Dia lalu menghampiri meja komputer. Dia duduk di kursinya. Donghae melongokkan kepalanya ke kolong meja. Terdapat tumpukan majalah di sana. Dia pun mengambil salah satu majalah. Donghae membuka-buka majalah itu. Donghae melirik jam lagi.

“Engh…kenapa masih jam segini? Heechul hyung kemana sih? Memangnya beli minumnya ke Busan apa?” gerutunya. Tiba-tiba Donghae terpikir sesuatu. Dia melirik majalah itu. Matanya lalu beralih pada jendela besar. Kemudian Donghae menyeringai. Tangannya digosok-gosokan.

“Hehehe…salah sendiri lama, hyung.” Donghae pun menyobek selembar kertas dari majalah itu.

“Yes! I WANT!” gumam Donghae membaca judul artikel yang ia sobek. Donghae mendengus. Dia lalu melipatnya menjadi bentuk origami burung. Setelah selesai, Donghae bangkit dan berjalan menuju jendela besar itu. Ia membuka jendelanya dan melemparkan origami burung itu. Donghae melongokkan kepalanya keluar jendela, memperhatikan kemana origami itu terbang. Donghae tersenyum puas ketika origami itu diterbangkan angin menuju ke puncak gedung yang tinggi.

Karena terlalu menunduk, ponsel Donghae yang disimpan di kantung bajunya terjatuh. Donghae gelagapan hendak mengambil ponselnya, tapi terlambat. Ponselnya terjatuh dari lantai 27 ini. Donghae meringis.

“Selamat tinggal…” Donghae menggigit bibir bawahnya. Matanya terbelalak ketika melihat gadis yang berdiri di bawah. Gadis itu sepertinya sedang menunggu seseorang.

“AWAS PONSELKU JATUUUH!!!” teriak Donghae, mencoba memperingati gadis itu. Dan berhasil. Gadis itu mendongak dan menangkap ponsel Donghae dengan spontan. Donghae tersenyum lebar. Gadis itu mendongak, menatap Donghae heran sambil mengacungkan ponsel milik cowok itu.

“Tunggu sebentar!” seru Donghae. Tangannya memberikan isyarat gadis itu untuk diam di tempat. Gadis itu mengangguk. Donghae segera berbalik dan membuka pintu. Bruk…pintu itu menabrak seseorang. Donghae mengintip ke balik pintu.

“Omo! Heechul hyung!” serunya. Heechul yang tertabrak pintu, mendengus kesal.

“Yah! Sini kau!!” Heechul hendak menarik lengan kaus Donghae namun lelaki itu menghindar.

“Mian, hyung! Aku ada urusan!!” Donghae melesat ke lift. Heechul mendengus. Dia pun masuk ke apartemennya dan meletakkan bungkusan berisi minuman itu ke meja komputer yang besar. Heechul tertegun.

“LEE DONGHAE!! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN MAJALAH MAHALKU INI?!!”

Sementara itu di dalam lift, Donghae menggerak-gerakkan kakinya dengan gemas. Lift itu berjalan dengan sangat lambat. Beberapa yang melihatnya menjadi heran. Tanpa sadar, Donghae menggaruk-garuk dinding lift. Saking gemasnya.

“Ayolah…lambat sekali…lift ini jauh lebih lambat daripada kura-kura milik Yesung hyung..” kata Donghae. Seorang pemuda yang memakai topi menutupi wajahnya dan jaket olahraga berwarna hitam ditambah celana pendek serta sepatu olahraga menoleh ke arahnya. Pemuda itu menaikkan topinya dan menatap Donghae kesal.

“Yah! Lee Donghae! Ddangkoma jauh lebih lambat dari lift ini!” semburnya. Donghae tertegun dan melirik pemuda itu. Setelah tahu itu siapa, Donghae langsung terlonjak dan merapat ke dinding. Dia menatap pemuda itu dengan tatapan seperti melihat hantu.

“Yesung hyung?! Apa yang kau lakukan di sini?!” seru Donghae. Yesung, pemuda itu, tersenyum.

“Aku habis dari apartemen ne chingu. Dia memasakkanku ini.” Yesung memamerkan bungkusan yang ada di tangan kanannya.

“Chingu atau yeojachingu?” Sempat-sempatnya Donghae menggoda hyungnya itu.

“Aish…chingu! Dia laki-laki!” sanggah Yesung.

“Namjachingu?!” seru Donghae kaget. Matanya membentuk huruf o. Yesung menggerutu pelan.

“Haish!” Yesung menghampiri Donghae dan mendegungkan kepalanya. Donghae terkekeh.

“Chingu! Chingu! Aku masih single kok.” Donghae hanya mengangguk-angguk. Lift pun menunjukkan angka satu. Donghae langsung berlari keluar. Tanpa Donghae duga, Heechul berlari ke arahnya. Dia turun lewat tangga darurat. Donghae menelan ludah.

Donghae tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah gadis itu. Gadis itu cemberut menatapnya.

“LEE DONGHAE!!! BERHENTI!!!” seru Heechul. Dia sudah kelelahan. Donghae masih berlari. Dia pun menyambar ponsel yang ada di tangan gadis itu dan terus berlari. Gadis itu melongo.

“Tunggu! Itu…” kata gadis itu. Donghae menepuk keningnya dan berlari ke arah gadis itu. Heechul masih agak jauh di belakang. Tiba-tiba, Donghae mencium pipi kiri gadis itu. Lagi-lagi gadis itu melongo.

“Nice catch! Aku sangat berterima kasih padamu!” seru Donghae. Dia berbalik dan terus berlari. Dia melambaikan tangannya ke arah gadis itu masih sambil berlari. Gadis itu mendengus.

“Kalau pacarku lihat, kau bisa mati!” gerutunya. Sang gadis membuka flip ponsel dan tertegun.

“Aaahh…jinja…” keluh gadis itu.

“Yah! Lee Donghae!!” seru Heechul. Dia akhirnya menyerah. Heechul membungkuk memegangi lututnya. Dia mengatur nafasnya. Gadis itu memperhatikan Heechul. Cowok itu mendongak dan menoleh ke arah gadis itu.

“Ehm..permisi, apa kau tahu Kim Ryeowook?” tanyanya pada Heechul.

“Ryeowook? Ya aku tahu. Ada di lantai 28. Mau kuantar?”

“Aah…ye…kamsahamnida.” Perempuan itu membungkuk. Heechul tersenyum. Akhirnya mereka pergi ke apartemen Ryeowook.

Sementara itu Donghae masih berlari. Dia berhenti di depan rumahnya. Dia mengatur napasnya sebentar dan membuka pagar. Dia lalu masuk ke rumahnya. Rumah itu sepi. Min Ah, adiknya sedang pergi. Kakaknya sudah meninggal. Jadi sekarang di rumah itu hanya ada dirinya.

Donghae menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia menghela napas. Keringat bercucuran dari keningnya. Dia lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan memejamkan mata. Tiba-tiba ponsel di tangannya berdering. Tanpa melihatnya, Donghae membuka flip ponsel itu dan mendekatkannya ke telinga.

“Yeobosaeyo?” ucapnya pelan. Hening.

“Yeobosaeyo??” Kali ini suaranya dikeraskan.

Kau siapa?” ucap suara di seberang. Suara laki-laki.

“Hei, kau yang menelepon seharusnya kau yang memberitahu siapa kamu!” sembur Donghae.

Aku menghubungi pacarku! Ini ponsel pacarku! Kau selingkuhannya dia?

“Ne?! Selingkuhan?!” Donghae membuka matanya dan langsung menegakkan tubuhnya. “Yah! Seumur-umur aku tidak mau menjadi selingkuhan! Kau salah sambung kali!”

Aku jelas-jelas menekan nama Shim Sunggi di kontakku. Sekarang aku yang bertanya, kau siapa?”

“Shim Sunggi? Aku Lee Dong…” Donghae tertegun. Dia menatap ponsel di tangannya dan memutuskan sambungan telepon. Donghae lalu menutup flip ponsel itu. Modelnya sama, bahkan warnanya juga. Persis seperti ponselnya. Donghae lalu membuka flip ponsel itu dan menatap wallpapernya. Foto sang gadis dengan seorang namja di sebelahnya. Namja itu adalah pacarnya. Donghae terdiam.

“Gadis ini manis sekali…siapa namanya tadi? Shim Sunggi?” gumam Donghae. Dia lalu melihat namja di foto itu.

“Namja ini juga imut. Benar-benar pasangan serasi.” Donghae iseng mengutak-atik ponsel itu. Tema ponsel itu berwarna biru, Donghae juga suka warna biru. Dia tersenyum. Dia membuka menu pesan. Dia melihat kotak masuk. Dari Ryeowook jagiya~ semua. Donghae iseng membuka salah satu pesannya.

“Jagiya, aku ada di apartemenku. Kau ke sini saja.” Donghae membacanya. Dia tersenyum. Dia lalu membuka pesan-pesan yang lain. Kebanyakan memang dari Ryeowook jagiya~.  Beberapa ada mungkin dari temannya. Donghae lalu menutup flip ponselnya. Dia merenung.

Ponsel di tangannya bergetar lagi. Dengan malas, Donghae membuka flipnya. Dia tersenyum senang ketika nomornya yang menelepon ke ponsel ini.

“Yeobosaeyo?” ucap Donghae riang.

Yah! Cepat kemari! Ponsel kita tertukar! Namjachinguku marah.

“Kau dimana?”

Miracle Apartemen, lantai 28. Aku ada di depan apartemennya. Kau datang saja ke lantai 28.

“Itu berarti aku akan bertemu Heechul hyung lagi?” tanya Donghae, lebih ke diri sendiri.

Itu urusanmu. Pokoknya cepat kemari!!

“Arasseo..” Pip. Sambungan telepon dimatikan gadis itu. Donghae pun bangkit dari duduk nyamannya dan pergi ke apartemen itu lagi.

Di apatemen Ryeowook, Sunggi sudah memohon-mohon pada namjachingunya itu untuk memaafkannya.

“Jagiya…tadi ponsel namja itu terjatuh, aku refleks menangkapnya. Lalu dia datang…dan ternyata dia salah ambil. Kau kan tahu sendiri aku sedang memegang ponselku sendiri karena sedang sms-an denganmu…jagiya..” Sunggi memamerkan puppy eyesnya. Ryeowook masih diam.

“Tadi aku menelepon ke nomormu, namja itu yang mengangkatnya. Benar kau tidak ada hubungan apa-apa dengan namja itu?” Ryeowook menatap gadis di hadapannya dengan tatapan menyelidik.

“Jinja!” Sunggi meyakinkan. Ryeowook menghela napas. Dia lalu mengangguk-angguk. Sunggi tersenyum senang.

“Permisi…ini ponselnya..” ucap Donghae dari depan pintu. Ryeowook melirik ke arah pintu yang terbuka. Sunggi pun merebut ponselnya dan mengembalikan ponsel Donghae dengan kesal. Donghae terkekeh. Wajahnya polos tanpa dosa.

Donghae menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Sepertinya…aku harus pulang sekarang..hehe..permisi…” Donghae undur diri. Dia pun segera berlari ke lift, berharap Heechul tidak menemukannya.

Donghae terdiam di dalam lift. Lift pun berhenti. Donghae melirik angka yang tertera di atas pintu. Lantai 27. Pintu lift terbuka. Beberapa orang turun dan ada yang naik. Donghae terpaku melihat seseorang yang ia kenal di depan lift.

“Lee Donghae!!” seru namja yang bernama Kim Heechul. Donghae hanya pasrah.

= = =

Donghae terdiam di bangku taman yang panjang. Dia membawa sebungkus kertas origami. Sedari tadi dia hanya membuat origami berbentuk burung atau pesawat, lalu menerbangkannya. Begitu terus. Alhasil, taman sore itu yang sedang sepi dihiasi oleh origami berwarna-warni. Donghae sedang merenung. Di sampingnya ada dua gelas cappucino. Yang satu sudah diminum dan sisa setengah, yang satu lagi masih utuh.

“Donghae ssi, apa yang kau lakukan?” tanya seorang perempuan. Donghae menghentikan aktifitasnya sebentar dan mendongak menatap perempuan itu. Donghae lalu tersenyum.

“Hanya membuat origami sambil merenung.” Donghae lalu melanjutkan aktifitasnya membuat origami burung. Perempuan itu duduk di sebelahnya. Dia diam memperhatikan apa yang dilakukan Donghae.

Sebuah origami burung selesai. Donghae melemparkannya. Burung itu mendarat beberapa meter di depan. Donghae tersenyum tipis dan mengambil sebuah gelas cappucino. Dia lalu menyodorkannya pada perempuan itu.

“Nih, masih hangat.”

“Oh, kamsahamnida.” Perempuan itu menerimanya. Dia lalu meneguk cappucino itu. Donghae mengambil selembar kertas, ia bentuk menjadi pesawat kertas.

“Omong-omong, kau tadi bilang sedang merenung. Merenungi apa?” tanya perempuan itu yang tak lain adalah Sunggi.

“Aku ini perusak. Sudah merusakkan komputer Shindong hyung, PSP Kyuhyun, majalah Heechul hyung, kehidupan Sungmin hyung, kehidupan adikku, bahkan kehidupan sahabatku. Aku juga merusak kehidupanku sendiri.” Tatapan Donghae menerawang. Tangannya masih melipat origami. Donghae menatap origami di tangannya. Dia membuka lipatan kertasnya dan mengulanginya lagi. Tadi lipatannya tidak rapi.

“Kakakku meninggal karena aku,” kata Donghae.

“Mwo? Waeyo?” Sunggi terkejut.

“Dulu aku berandalan, susah diatur. Sering minum-minum, berkelahi, bertaruh, main perempuan..” Donghae menatap langit. Matanya menyipit karena langit sore ini agak cerah.

“Tapi sekarang tidak?”

“Ya..sudah tidak.” Donghae melemparkan pesawat kertas. Pesawat itu terbang terbawa angin.

“Lalu kakakmu meninggal karena apa?”

“Aku punya hutang, tidak kubayar. Mereka marah. Mereka lalu membunuh kakakku. Saat terjadi kejadian itu, adikku ada di rumah. Dia berusaha mencegah mereka namun ternyata gagal. Aku berasumsi bahwa adikku yang membunuh kakakku karena tangannya berdarah dan membawa pisau berlumuran darah. Padahal…tangannya berdarah karena menahan darah yang keluar dari tubuh Sungmin hyung. Pisau itu diambilnya dari penjahat itu karena mereka nyaris membunuh dirinya.

“Saat itu aku baru pulang. Aku terkejut melihat rumah berantakan. Saat melihat kamar Sungmin hyung…aku langsung marah. Apalagi ketika melihat Min Ah, adikku. Dia adik angkatku, jadi aku berasumsi dia yang membunuh Sungmin hyung.” Mata Donghae berkaca-kaca. Dia mengambil selembar kertas lagi dan membentuk origami baru. Kali ini berbentuk topi.

“Aku juga merusak kehidupan sahabatku. Sudah tahu dia sedang terpuruk karena ditinggal mati oleh tunangannya, tapi aku malah memperburuk kehidupannya dengan berbuat seenaknya. Aku berandalan, dia tidak tega. Di tengah keterpurukannya itu, dia malah membantu menyadarkanku..” Donghae menunduk. Origami itu selesai. Dia lalu meletakkan topi kertas itu di kepala Sunggi. Gadis itu tersenyum. Setetes air mata Donghae menetes menuruni pipinya.

“Bagaimana hubunganmu dengan pacarmu? Baik-baik saja?” tanya Donghae. Suaranya agak bergetar. Kini Sunggi yang murung. Dia melepaskan topi kertas itu dari kepalanya dan menggenggamnya.

“Dia memutuskanku.” Donghae menoleh, kaget.

“Karena aku?” tanya Donghae cemas. Sunggi menggeleng.

“Karena kami sudah tidak cocok saja…”

“Geotjimal! Itu alasan klasik.”

“Arasseo…” Sunggi menghela napas. Dia menunduk, menatap topi kertas di genggaman tangannya. “Ada alasan lain, tapi aku tidak mau memberitahukannya padamu.”

“Pasti karena aku.” Donghae mengacak rambutnya gemas. “Kau ini benar-benar perusak, Lee Donghae!”

“Aniyo!” Sunggi mencengkram kedua tangan Donghae yang sedang mengacak rambut. Donghae tertegun dan menatapnya. Sunggi menggeleng. Tatapannya lembut namun khawatir.

“Jangan salahkan dirimu sendiri, Lee Donghae!” Donghae terdiam. Sunggi pun melepaskan tangannya. Donghae tersenyum tipis dan mengusap wajahnya, membersihkannya dari air mata yang mengering.

“Gomawoyo, Shim Sunggi. Kau benar-benar baik..” Donghae memamerkan senyum manisnya.

“Hey, masih ada sisa kertas. Aku minta ya!” Sunggi mengambil kertas berwarna biru. Donghae meliriknya.

“Kau suka warna biru ya?” tanya Donghae.

“Eng!” Sunggi mengangguk. Dia tersenyum sambil melipat-lipat kertas tersebut. Donghae menghentikan aktifitasnya dan memperhatikan Sunggi. Sunggi melepat kertas itu sedemikian rupa hingga terbentuk sebuah hati. Donghae tercengang. Sunggi memberikan origami itu pada Donghae.

“Wah..gomawo..” Mata Donghae berbinar. Sunggi tertawa.

“Begitu berhargakah origami ini? Matamu berbinar..” Sunggi memutar-mutar telunjuknya di depan mata Donghae. Lelaki itu tertawa.

Perlahan sore berganti menjadi malam. Donghae membereskan origami itu dan mengantar Sunggi pulang.

Semakin lama Donghae dan Sunggi semakin akrab. Hampir setiap hari mereka bertemu dan bertukar origami. Di origami itu sudah ditulisi kata-kata tertentu. Entah itu selamat siang, hwaiting, atau apa pun. Donghae menyimpan semua origami dari Sunggi di kamarnya. Begitu pula dengan Sunggi. Kali ini, Donghae pergi ke perpustakaan kota. Dia janjian dengan Sunggi di sana.

“Annyeong, Sunggi ah! Sudah lama menunggu?” sapa Donghae. Dia pun duduk di sebelah Sunggi. Gadis itu tersenyum.

“Aniyo. Baru 3 menit.” Sunggi melirik jam tangannya dan terkekeh. Donghae tersenyum.

“Jadi…ini origami dariku. Mana yang kamu?” Sunggi menyodorkan origami ikan. Donghae menyodorkan sebuah origami topi.

“Buka bersamaan ya….hana..dul…set!” aba-aba Sunggi. Mereka berdua pun membuka origami itu bersamaan. Jeda sejenak untuk membaca isi pesannya. Sunggi dan Donghae tersenyum.

“Hai, gadis origami. Kali ini aku menuliskan sebuah pesan. Tidak terlalu penting. Aku hanya ingin berterima kasih atas kehadiranmu di duniaku. Kehangatan hatimu membuatku berdebar. Kilau senyummu membuatku tersenyum. Kamu seperti bidadari. Aku beruntung ada bidadari yang menemaniku.” Sunggi membaca origami dari Donghae. Sontak wajahnya memerah. Sunggi tersenyum.

“Gomawoyo..”

“Giliranku ya.” Donghae menunduk membaca pesan di origami ikan itu. “Hei, laut. Pesanku sepertinya tidak terlalu penting. Aku hanya ingin berterima kasih. Kamu menyadarkanku pada arti cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya. Aku belajar banyak dari kisah hidupmu. Maaf..hehe.. tapi kisah hidupmu benar-benar menyentuh. Aku memang tidak mempunyai kisah seperti itu..tapi saat mendengarnya, aku terenyuh. Aku tidak tega melihatmu tersiksa seperti itu.

“Entah apa yang membuatku seperti ini. Setiap melihat wajahmu, aku berdebar. Senyummu otomatis membuatku tersenyum. Kamu seperti pangeran. Pangeran yang selalu menjagaku.” Wajah Donghae memanas. Dia menatap Sunggi. Wajah gadis itu sudah merah padam. Donghae terkekeh pelan. Sunggi tersenyum malu.

“Gomawoyo..aah..neomu neomu joahae!” kata Donghae riang. Sunggi tersenyum.

“Aigo..wajahku..” Sunggi menutupi kedua pipinya yang merah dengan kedua tangannya.

“Oh ya, Donghae. Besok hari pertemuan kita yang ke 200 lho!” ucap Sunggi.

“Oh ya? Mau merayakannya?” tanya Donghae. Sunggi berpikir sejenak.

“Bagaimana kalau membuat 200 origami? Di taman? Apa di pantai?”

“Di pantai saja! Dekat laut!” Donghae menunjuk dirinya sendiri. Sunggi tersenyum.

“Arasseo…besok kita ke pantai dan membuat 200 origami!”

“Kau buat 100, aku buat 100. Begitu?” tanya Donghae. Sunggi mengangguk.

“Baiklah…sekarang kau mau kemana?”

“Aku mau membeli origami paper. Punyaku sudah habis.” Sunggi berdiri. Donghae ikut berdiri.

“Biar kuantar. Kebetulan aku juga mau beli.”

Keesokan harinya Donghae datang lebih dulu di pantai. Dia berdiri di dekat ombak, menatap laut yang terbentang luas serta matahari yang mulai tenggelam. Pasir pantai itu sudah dihiasi oleh 100 origami. Tinggal menunggu 100 lagi.

“Mianhae, Donghae ah! Aku terlambat..” Sunggi berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya. Donghae menoleh menatap gadis itu. Sunggi membawa keranjang berisi 100 origami.

“Ayo sebarkan origaminya!” ajak Donghae. Sunggi mengangguk. Mereka berdua lalu menebarkan 100 origami itu. Kini origami milik Donghae dan Sunggi sudah tercampur. Origami berbentuk kertas warna-warni. Pantai yang indah jadi semakin indah.

“Aku juga membawa makanan lho!” Sunggi menunjuk kantung coklat. Donghae heran.

“Memangnya kita mau piknik?”

“Ah iya! Ini kan bukan piknik keluarga…aduh…bodohnya aku..” Sunggi menepuk keningnya sendiri. Donghae terkekeh. Dia berjalan menghampiri Sunggi dan berdiri di hadapannya. Sunggi menatap namja itu.

“Kau menjadi keluargaku saja. Bagaimana?” ujar Donghae. Sunggi tertegun. Donghae tersenyum dan meraih kedua tangan Sunggi. Namja itu menggenggam tangannya erat. Matahari semakin terbenam.

“Shim Sunggi si gadis origami, apakah kau menerimaku sebagai keluargamu? Aku sangat-sangat mencintaimu! Aku bersedia hidup bersama denganmu, menemanimu, menjagamu, mencintaimu sampai mati.”

“Donghae yah…” Sunggi tidak bisa berkata-kata. Dia hanya mengangguk. Wajahnya bersemu merah. Donghae tersenyum senang.

Tiba-tiba banyak orang datang ke pantai itu. Mereka melemparkan origami pesawat. Bahkan Ryeowook ikut menerbangkan pesawat kertas itu. Yesung, Heechul, Min Ah, Hyukjae, Kyuhyun, Shindong, semuanya ikut menerbangkan origami itu. Teman-teman Sunggi juga.

Sunggi melihat sekeliling dengan heran. Donghae melepaskan tangannya, membiarkan gadis itu terpesona. Diam-diam Donghae berlutut.

“Donghae yah..ini..” Sunggi berbalik ke arah Donghae. Dia terkejut ketika melihat Donghae berlutut sambil menyodorkan sebuah cincin. Sunggi menutup mulutnya. Dia sangat kaget.

“Nawa gyeohronhaejullae, naui gongju?” Sunggi berjalan mendekati Donghae. Latar belakang mereka kali ini dalah matahari yang tinggal setengah.

Sunggi mengangguk. Donghae pun memasangkan cincin ke jari Sunggi. Donghae memeluk Sunggi.

“Saranghae..”

“Na ddo saranghae..”

Pesawat kertas masih berterbangan, menghiasi pasangan itu. Donghae dan Sunggi masih diam, mendengarkan detak jantung masing-masing. Matahari pun terbenam. Orang-orang yang melihatnya bersiul dan bertepuk tangan meriah.

“Di origami yang aku buat, sudah tertulis nama-nama,” kata Donghae seraya melepaskan pelukannya. Sunggi mengernyit heran.

“Nama untuk apa?”

“Anak-anak kita!” Donghae menyeringai. Sunggi memukul lengan Donghae.

“Di 100 origami itu semuanya tertulis nama?”

“Tidak juga sih..hanya 3 yang kuberi nama. Yang lainnya kata-kata saja.” Donghae tersenyum. Mau tidak mau Sunggi membalas senyumnya. Donghae menarik tangan Sunggi.

“Ayo kita cari origami bernama itu!”

“Sudah malam! Jangan sekarang!” protes Sunggi.

“Ayolah..jebal…” Donghae memelas. Memamerkan puppy eyes. Sunggi menghela napas.

“Aku bawa senter. Ayo kita cari!” Akhirnya Sunggi mengikuti kemauan calon suaminya itu. Mereka berdua mencari origami bernama itu dengan bantuan senter.

Sementara itu Heechul menatap Donghae dari kejauhan dengan heran.

“Hei, Donghae itu sengaja atau apa sih? Origami yang bernama kan ada di kita,” kata Heechul.

“Hm! Betul itu!” timpal Yesung. Dia asyik memakan makanan yang dibawa Sunggi. Ryeowook, Hyukjae, dan yang lainnya pun asyik makan.

“Biasa, hyung! Dia pengin berduaan dengan Sunggi sampai pagi kali!” tambah Hyukjae. Di tangannya terdapat sepotong kimbap. Heechul hanya mengangguk-angguk. Dia pun mengantongi tiga origami bernama itu dan ikut makan bersama yang lain.

THE END

35 thoughts on “[FF] Say It With Origami

  1. SungGi_CheFish says:

    Waahh, keren.
    Kapan,ya itu smua bs jadi kenyataan?
    Gomawo saeng.

    Hae’ny t’kesan manja bgt, udh tau origami yg bernama d kasih k Heechul, tp ttp aja ngajakin nyari.
    Hehehe ^.^

    gomawo, saeng.!
    Un suka bgt.

  2. rabbitpuding says:

    yeyeye yeey. Aku seneng loh sunghee ! D v rase kan yang pertama komen biasanya raeki.

    Sekarang aku ! Hehehe

    itu, aku masih gak ngerti knapa si sunggi putus ma wookie. Akhirnya rada geje, iya gak ?

  3. rabbitpuding says:

    @sunghee oh si sunggi yang minta putus… Gak geje sih. Mungkin akunya kali yang geje. *akhirnya nyadar juga ni anak.
    Hari ini aku baca 3 ff tentang donghae dan origami.*gak ada yang nanya

    kmu dapet ide dari mana ? Aku iri, aku jarang dapet ide. Ada saran ?

  4. haeny_elfishy says:

    geregetan ma hae disini ! wkwkwk
    keren saeng ! emang yg dirusak hae majalah apa sih ? sampe ichul ngejarnya mati”an, jangan” majalah itu *?* . . .
    hohoho

    • sungheedaebak says:

      ohoho gomawo un! majalah…eng…majalah ape ye, chul? *lirik2 heechul*
      chul: *belagak mikir* kalo ga salah majalah fashion..
      aku: tpi kok ngejernya mati-matian gitu sih? *curiga*
      chul: ya gatau, pan elu authornya!!!
      aku: ampuuun~ *dikejer chul*

  5. SungGi_CheFish says:

    @HyunRin eonnie : ndk eksis ua kh, eon?? Ingat umur, eon..(nh loo, krasaan umur eonnie 3 bulan lbh tua d bndingkn ku) *gk nymbng, gk da hub’ny* hehehe

  6. hanseokyo says:

    Gyaaa~ meleleh sendiri baca ff ini! *author: he? siape elu?*

    Hm oke. Annyeong~! Perkenalkan, joneun Han Seokyo imnida! Reader baru disini, soalnya baru dikasih tau soal blog ini tadi pagi dari temen *terus kenapa-_-* dan ternyata ff-nya bagus-bagus! Hoho~ Author daebak! ^o^

    • sungheedaebak says:

      ahaha gomawo

      ne, annyeong. Lee Sunghee imnida. oh ya? siapa temennya? wah ternyata blog ini terkenal dari mulut ke mulut ya hahahahaha
      jangan bosen-bosen main ke blog jelek ini ya.. dan jgn lupa tiap baca harus tinggalkan jejak! okay? haha gomawo~

  7. whyenda_arinka says:

    aiiih! Keren! Keren! Baca bagian awalnya bikin aq ngakak sampe guling2~ XDD

    Tapi sampe bagian donghae crita hidupnya, aq lgsg tersentuh. Malang skali nasib donghae.😦 tapi dia memang perusak sih.. Perusak hatiku /plak! Hhe.😄

    Aigo~ donghae romantis ih. Dasar abang ikan. Gombal mulu kerjaannya. *digampar bininya hae*😄

  8. raekiyopta says:

    Huwaaaaaah~ namjachinguku ikut main rupanya ^^ yesung oppa, untung kau bilang lagi single. Aku kan mau bikin kejutan buat cingu-deul dengan tiba2 mengirimkan undangan pernikahan kita ^^ cupcupmuaah~😄 *GJ

    ceritanyaaa.. Hmm, rame, kocak, bikin aku nyengir otomatis. Ohya satu lagi! GOMBAL😀 good job, yeobo.

  9. vidiaa says:

    acie cie donghae😄
    so sweet~~

    agak miris sih pas baca kisah hidup donghae..😦
    ah aku kira ryeowook gabakalan mutusin ._. tapi kalo ga mutusin pasti sunggi ga akan sama donghae kan? (?) /abaikan

    suka FFnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s