[FF] 14 Februari

“Dirimu tak lebih dari seonggok sampah!”

Sungguh kejam kata-kata itu. Sebegitu rendahkah diriku? Kau sebut diriku sampah, sedangkan dirimu apa? Kau tak lebih dari segenggam lumpur. Kau lebih menjijikkan dari lumpur.

“Mulai sekarang kita putus, aku muak berpacaran dengan sampah sepertimu!”

Sampah…sampah..dan sampah. Tak adakah julukan yang lebih baik untukku?

“Hahaha…lihat itu! Mana ada sampah yang menangis?!”


Kejam, betul betul kejam. Kata-kata cinta, sentuhan penuh kasih sayang, tatapan mesra, semua itu kau lakukan demi uang. Taruhan. Sejak dulu aku benci kata itu. Sejak dulu aku bersumpah tidak akan bertaruh ataupun menjadi korban taruhan. Tapi kau…membuatku terseret ke dalamnya.

“Sampah seperti ini sebaiknya ditendang saja!”

Tawamu, bersama kawan-kawan bengismu itu memekakkan telingaku. Aku tersungkur di lantai koridor. Air mataku masih mengalir. Aku ini sampah…tapi apakah sampah benar-benar tak ada gunanya?

“Gwaenchana?”

Suara yang begitu lembut, merdu. Sebuah tangan terulur di hadapan wajahku yang berlinang air mata. Aku mendongakkan kepalaku. Betapa tampannya wajah lelaki di hadapanku ini. Putih bersinar, seperti malaikat. Senyumnya yang menawan membuat jantungku histeris. Aku menghapus air mataku dan menerima tangannya.

Dia. Dia merubah sampah menjadi sesuatu yang baru. Tangannya yang terampil mendaur ulang sampah menjadi sebuah berlian. Berlian yang berkilauan. Membuat mata lumpur-lumpur itu menyipit karena kilaunya. Selamat tinggal, sampah. Kini aku berubah menjadi sebuah berlian.

Tatapan bangga dan sayang dari si tangan terampil, si suara merdu, si senyum menawan, Cho Kyuhyun, membuat hatiku berbunga-bunga. Semua menatap kami iri. Bisik-bisik terdengar di sana-sini.

“Betul-betul pasangan yang serasi!”

“Seperti kristal dan berlian saja..”

“Aku iri…”

Setiap mendengarnya, aku pasti tersenyum. Tunanganku, Cho Kyuhyun, benar-benar merubah hidupku. Hidupku yang terpuruk, hitam, sampah, semua berubah menjadi hidupku yang gemerlap. Aku sukses karenanya. Dia menuntunku ke arah kesuksesan.

“Menjadi dokter? Cita-cita yang mulia..” Kyuhyun tersenyum.

“Ya…memang. Aku sangat ingin menjadi seorang dokter. Tapi nilaiku..”

“Nilaimu bagus ko. Selalu di atas rata-rata. Apa yang kurang?”

“Nilaiku masih kurang 0,7 lagi.”

“Bukan tantangan sulit, sini kubantu. Mulai dari matematika ya..”

Aku sangat beruntung menjadi tunanganmu, Cho Kyuhyun. Sangat-sangat beruntung.

“Tapi eomma menyuruhku menjadi dosen. Eotokkhae?”

“Biar aku saja yang menjadi dosen. Toh suatu saat aku menjadi anak eommamu juga.”

“Gwaenchana?”

“Aku juga bercita-cita sebagai dosen kok. Tenang saja.”

“Gomawo..”

Itu terjadi sekitar 4 tahun yang lalu. Sekarang aku sudah menjadi dokter, dan Kyuhyun sudah menjadi dosen. Namun kami belum menikah. Masing-masing masih disibukkan dengan pekerjaan.

01:00 PM, Incheon Airport, 14-Februari-2007

“Raerim ah, jaga dirimu baik-baik di Singapore ya. Jangan lupa sering-sering hubungi aku. Arachi?” Kyuhyun menatapku dengan tatapan cemas. Aku tersenyum.

“Kau juga jaga diri baik-baik. Akhir-akhir ini kau sering sekali terserang flu.”

“Ah..gwaenchana..” Suara Kyuhyun agak kurang jelas. Ini karena flu yang dideritanya sekarang. Aku memberikan sapu tangan padanya.

“Jangan lupa membawa sapu tangan kemana-mana. Kau ini selalu ribet mencari tisu. Ara?” Aku menatapnya. Kyuhyun terkekeh.

“Ne, Raerim ah. Jeongmal gomawo.” Kyuhyun tersenyum. Aku hanya mengangguk. Pesawat sebentar lagi berangkat.

“Kyuhyun ah, aku akan berada di Singapore lebih dari 3 tahun…selama itu aku akan menyempatkan diri untuk mengunjungimu ya!”

“Gwaenchana… tidak usah memaksakan diri. Cukup berhubungan lewat e-mail juga tak apa.”

“Jinja? Jangan berpaling ya..”

“Tentu. Aku setia. Saranghaeyo!”

“Na ddo!” seruku riang. Pengumuman pesawat akan berangkat terdengar. Aku pun pergi. Melambaikan tangan pada Kyuhyun, satu-satunya orang yang mengantarkan kepergianku ini. Tragis memang. Orang tuaku masih saja tidak setuju kalau aku menjadi dokter. Sehingga aku pergi ke Singapore lebih dari 3 tahun untuk masalah pekerjaan pun mereka tidak peduli. Memangnya apa salahnya menjadi dokter? Itu pekerjaan mulia.

08:45 AM, Singapore, 14-Februari-2008

Aku memang bukan tipe yang suka merayakan valentine. Tapi entah kenapa rasanya iri melihat pasangan-pasangan berjalan sambil bergandengan mesra. Warna pink dan merah dimana-mana. Aku tidak suka. Aku lalu menghampiri komputer. Aku lalu duduk di hadapannya, memeriksa e-mail. Aku tersenyum ketika aku melihat satu e-mail yang paling berharga diantara ribuan e-mail yang masuk. Aku pun membuka e-mail itu.

From: Cho Kyuhyun

Jagiya, apa kabarmu di sana? Kau pasti menjaga kesehatanmu kan? Mianhae, seharusnya kita sudah menikah, tapi karena disibukkan oleh pekerjaan jadi selalu tertunda. Jeongmal mianhaeyo, saranghae.

Kau masih sibuk kah? Jangan lupa makan ya. Aku tidak tega melihatmu kurus begitu.

Tidak ada yang menindasmu kan? Ah tentu saja…mana mungkin seorang dokter hebat sepertimu ini ditindas? Hahaha…aku masih mengingat kejadian dulu. Hanya karena kau pintar, tapi mudah dibohongi oleh bajingan itu, mereka menyebutmu sampah. Aku tidak terima. Kau pantas disebut berlian, bukan sampah.

Mianhae jagi, aku harus bekerja lagi. Dua tahun lagi kita bertemu? Semoga…saranghae.

Aku tersenyum membacanya. Aku lalu membalas e-mail itu.

To: Cho Kyuhyun

Aku baik-baik saja, jagiya. Kau sendiri? Masih sering flu? Gwenchana…dua tahun lagi kita menikah, oke? Na ddo mianhae, kalau aku tidak ke Singapore pasti kita sudah menikah tahun-tahun ini.

Tenang saja, aku tidak sekurus itu. Masakan di Singapore cukup enak. Sepertinya aku menambah berat badan. Hehehe…

Tentu saja tidak, Kyuhyun sayang. Ya, dulu aku memang bodoh. Tapi toh kamu datang padaku dan mengajariku banyak hal. Aku jadi memiliki pribadi yang baik karenamu juga. Jeongmal gomawo, jagi.

Ya. Dua tahun lagi kita bertemu. Na ddo saranghae.

Send. Aku menghela napas. Ting! Komputerku berbunyi menandakan e-mail masuk. Dari Kyuhyun? Cepat sekali…

From: Cho Kyuhyun

Aku melupakan satu hal! Meskipun kau tidak suka merayakan valentine, tapi aku akan mengucapkan…. Selamat hari valentine bagi anda yang tidak merayakan! Setidaknya kau tidak terlalu kesepian karena aku masih menemanimu.

Aku tersenyum. Ternyata e-mail yang tadi dikirim kemarin. Yang valentine ini baru tadi. Aku mengurungkan niatku untuk mematikan komputer. Aku lalu berbalas e-mail dengan Kyuhyun. Untung saja jadwal kami hari ini tidak padat, semuanya meliburkan diri.

11:23 PM, Seoul, South Korea, 14-Februari-2009

“Kyuhyun ah! Kyuhyun ah!!” Eomma Kyuhyun menangis melihat anaknya dibawa ke ruang ICCU. Appa Kyuhyun memeluk istrinya yang masih histeris. Dia berusaha menenangkan istrinya.

“Baru saja beberapa tahun yang lalu ia kecelakaan…sekarang ia kecelakaan lagi…” ucap eommanya di sela tangis.

“Bagaimana dengan Raerim? Kasihan dia..” kata eommanya lagi. Appanya hanya terdiam.

“Raerim ah…bagaimana kalau ia tahu tentang penyakit Kyuhyun?” tanya eommanya. Appanya masih terdiam. Seakan pertanyaan eommanya tidak didengar.

“Kyuhyun ah…Kyuhyun ah…” Eommanya terus memanggil nama Kyuhyun. Tubuhnya gemetar hebat.

Beberapa jam kemudian, dokter keluar.

“Bagaimana keadaan anakku?” tanya eommanya langsung.

“Jwaesonghamnida, karena penyakit yang Kyuhyun derita, dia tidak bisa diselamatkan. Kecelakaannya juga sangat parah, bagaimanapun caranya sudah tidak bisa diselamatkan. Jwaesonghamnida.” Dokter itu pergi. Beberapa perawat keluar, Kyuhyun terbaring kaku di atas tempat tidur, tubuhnya tertutup kain. Eommanya histeris. Ia langsung menghambur ke jasad anaknya itu. Perawat yang melihatnya hanya diam. Appa Kyuhyun diam-diam menangis.

“Kyuhyun ah…KYUHYUN AH!!! KAU TEGA!!!” jerit eommanya. Dia ingin mengguncang-guncang tubuh Kyuhyun tapi ditahan oleh perawat.

“Jangan sentuh tubuhnya, ahjumma. Nanti kau bisa memutuskan lengannya..” Eomma Kyuhyun menjerit. Sangat keras. Tangisnya tidak mau berhenti.

“Kyuhyun ah…” panggil eommanya lagi. Tapi tak ada jawaban.

11:00 PM, Singapore, 14-Februari-2009

Aku melepas jas dokterku. Shiftku kali ini lebih ringan. Aku langsung berjalan ke depan komputer sambil membawa gelas orange juice. Aku meletakkan gelas itu di meja di samping monitor. Aku langsung mengecek e-mail. Aku tersenyum ketika aku melihat namanya.

From: Cho Kyuhyun

Annyeong, jagiya! Neomu neomu bogoshipoyo! Setahun lagi kita bertemu? Benar kan? Aku tidak sabar~

Jagi, kau sehat selalu kan di sana? Seorang dokter tidak boleh sakit!

Raerim ah, mianhae. Aku seorang pengecut. Aku adalah sampah. Aku tidak bisa mengutarakan sesuatu yang penting. Hanya karena satu hal, takut dijauhi. Bisakah kau membantuku mengutarakannya? Setahun lagi, aku tunggu.

Gidarinda, Raerim ah. Cepat kembali…

Aku mengernyitkan kening, heran. Ada apa ini? Kenapa dengannya?

To: Cho Kyuhyun

Na ddo bogoshipo.

Gwaenchana? Kenapa kau aneh sekarang? Kau mau mengutarakan apa? Bisa kubantu. Kalau perlu, sekarang juga aku terbang ke tempatmu. Gwaenchana, Kyuhyun ah? Cepat balas e-mail ini…

Tak ada jawaban. Aku semakin heran. Tanpa sadar, tubuhku menegang. Jantungku berhenti dan kembali berdetak dua kali lebih cepat. Keringat dingin menuruni pelipisku. Tidak…tidak mungkin. Ini hanya bayanganku saja. Kyuhyun pasti sehat-sehat saja di Korea.

02:00 PM, Incheon Airport, 14-Februari-2010

Aku menghela napas. Lalu aku melirik jam lagi. Sudah satu jam aku menunggu. Kemana Kyuhyun?

Saat mataku memandang berkeliling, aku melihat Mrs. Cho menghampiriku dengan langkah tergopoh-gopoh. Aku heran.

“Ahjumma…gwaenchana?” tanyaku. Tanpa menjawab, Mrs. Cho langsung memelukku erat. Sangat erat sampai aku sesak.

“Ahjumma…sesak…” rintihku. Mrs. Cho melepaskan pelukannya. Aku tertegun. Beliau menangis.

“Ahjumma, gwaenchana?” tanyaku khawatir. Mrs. Cho masih terdiam. Dia sibuk menghapus air matanya. Ya Tuhan…jangan bilang kalau terjadi sesuatu dengan Kyuhyun.

“Kyuhyun mana?” tanyaku. Mendengarnya, tangis Mrs. Cho yang tadi reda pecah kembali. Beliau memelukku lagi. Aku semakin heran. Jantungku berdegup kencang. Tidak mungkin…ini pasti bercanda.

“Kyuhyun…sini..” Mrs. Cho menarik tanganku. Aku hanya mengikutinya. Sopir keluarga Cho pun membantu membawa koperku dan memasukkannya ke mobil. Aku hanya menurut saja. Sepanjang perjalanan tangan Mrs. Cho tak henti-hentinya meremas tanganku. Aku menggigit bibir bawah. Jantungku makin lama makin berdetak lebih cepat.

Dan sampailah kami. Pemakaman keluarga? Aku menelan ludah. Tubuhku serasa lemas sekali. Mrs. Cho menarik tanganku ke hadapan sebuah makam. Di batu nisannya tertulis nama seorang Cho Kyuhyun. Aku tertegun sebentar. Lalu aku menatap Mrs. Cho penuh tanda tanya.

“Ini..” ucapku terbata.

“Kyuhyun…meninggal setahun yang lalu. Tepat setahun yang lalu,” jelas Mrs. Cho. Aku terpaku lalu menatap makam itu. Tubuhku ambruk. Air mataku mengalir deras. Aku terisak.

“Kyu…Kyuhyun jagiya?” kataku serak. “Kyuhyun ah! Kyuhyun jagiya!!” seruku parau. Aku menunduk. Tanganku memukul-mukul tanah. Aku lalu mendongak, menatap batu nisan bertuliskan Cho Kyuhyun itu.

“Kau tega…kau tega! Pengecut!” Aku berseru. Pikiranku sedang kacau. Mrs. Cho tidak kuat lagi. Dia meninggalkanku dan pergi ke dalam mobil.

“Jadi waktu itu kau sudah meninggal? Selama satu tahun e-mail tidak dibalas karena kau sudah pergi? Kenapa, Kyuhyun ah? CHO KYUHYUN!!!” Aku menenggelamkan wajahku ke dalam lipatan tangan. Tangan terampil telah pergi. Apakah aku masih pantas menjadi sebuah berlian?

“Kyuhyun ah, mianhae…jeongmal saranghaeyo.”

04:17 PM, Kediaman Keluarga Cho, South Korea, 14-Februari-2010

“Kyuhyun ah…menderita AIDS sejak beberapa tahun yang lalu. Ia tercemari AIDS saat kecelakaan dulu, dia butuh transfusi darah. Namun ternyata darah itu sudah terkontaminasi dengan virus HIV,” jelas Cho Ahra, kakak Kyuhyun yang baru pulang dari Prancis. Aku terdiam di kamar Kyuhyun.

“Dia sengaja mengulur pernikahan denganmu, dia tidak ingin kau terkena AIDS…” Air mataku turun setetes, menuruni pipiku. Ahra eonni berjalan ke arah komputer. Aku mengikutinya.

“Kyuhyun meninggalkan sebuah e-mail di draft. Dia tidak berani mengirimkannya padamu.” Ahra eonni membuka e-mail itu. Dia lalu menatap ke arahku dan mempersilahkanku untuk duduk di depan komputer. Aku lalu duduk dan membaca e-mail itu.

To: Han Raerim

Aku memang seorang pengecut. Aku adalah sampah. Aku tidak bisa mengutarakan bahwa aku mengidap penyakit AIDS. Itu sebabnya aku selalu mengundur jadwal pernikahan. Aku selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan, itu karena menghindari pernikahan itu. Aku ingin sekali menikah denganmu, Raerim jagiya. Tapi aku tidak mau kau tertular AIDS dan menderita bersamaku.

Mianhae, Raerim ah. Aku tidak lebih dari seonggok sampah, tidak pantas bersanding dengan berlian sepertimu.

Bertahun-tahun tidak bertemu denganmu membuatku semakin tersiksa. Tapi dalam hati aku bersyukur. Aku tidak usah khawatir kau tertular. Aku tahu AIDS hanya menular lewat darah, tapi siapa tahu aku mimisan dan ternyata kau mengobatinya. Aku tidak mau. Apalagi kau ini dokter, pasti selalu berusaha menyembuhkanku.

Aku tahu belum ada obat untuk penyakit ini. Tinggal menunggu waktu. Mianhae, aku meninggalkanmu lebih dulu.

Menikahlah dengan orang lain. Dengan berlian yang pantas bersanding denganmu. Dengan orang yang sehat, kuat, tidak sepertiku. Jadilah dokter yang sukses. Aku sudah berpesan pada orang tuamu untuk merestuimu. Menjadi dokter itu impianmu, kan? Orang tuamu perlahan menyetujuinya. Apalagi dengan kesuksesan kau sekarang.

Sekali lagi, Mianhae. Jeongmal mianhae. Saranghae..

Aku menangis membacanya. Kyuhyun pabo! Kau ini jauh lebih berharga daripada sampah. Kau ini kristal! Kristal yang pantas bersanding dengan berlian.

Ahra eonni memelukku. Aku menangis di pelukannya. Keluarga Cho lebih menganggapku ada daripada keluargaku sendiri.

“Kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Yang tegar ya, sister. Biarkan Kyuhyun tenang di sana,” nasihat Ahra eonni. Aku mengangguk dan melepaskan pelukannya. Aku membungkuk.

“Jeongmal gomawo..” Ahra eonni tersenyum.

09:00 PM, Kediaman keluarga Han, South Korea, 14-Februari-2010

Aku memberanikan diriku untuk menekan bel. Terdengar suara dari interkom.

“Dusaeyo?” Itu suara eomma.

“Raerim imnida.” Hening. Aku menghela napas. Tiba-tiba pintu terbuka. Terlihat appa dan eomma berlari ke arahku. Eomma malah menangis melihat kedatanganku. Beliau langsung membuka pagar dan memelukku erat. Aku tertegun. Appa tersenyum senang melihatku.

“Raerim ah…bogoshipoyo..mianhae..” kata eomma. Appa mengangguk menyetujui. Aku masih diam.

“Eomma…”

“Raerim ah! Han Raerim!” Eomma memelukku semakin erat. Tak terasa setetes air mata mengalir. Aku terharu. Akhirnya aku tertawa, masih sambil menangis.

“Bogoshipoyo eomma! Appa!” seruku. Eomma tersenyum dan melepaskan pelukannya. Kini giliran Appa memelukku.

“Appa bangga denganmu. Bisa menjadi dokter hebat seperti ini.”

“Gomawoyo, appa.”

“Eomma juga bangga. Maafkan kami yang ya…dulu kami memang bodoh..”

“Aniyo! Tak ada yang bodoh.” Mereka berdua tersenyum. Aku menarik napas dan menghempaskannya. Aku menegakkan tubuhku. Lalu aku menatap mereka berdua. Senyumku merekah.

“Malam ini eomma masak apa?” Eomma tersenyum.

“Sinih, eomma masakkan makanan favoritmu!” Eomma menarik tanganku ke dalam rumah dan appa membawa koperku.

Eomma…appa…jeongmal gomawo. Kyuhyun ah, saranghae. Kristalku..

THE END

45 thoughts on “[FF] 14 Februari

  1. rabbitpuding says:

    kereen!

    Tae : ah, klo yoonmin mutiara
    Yoon : kamu ?
    Tae : kerang
    Yoon : wae ? Kok kerang sih?
    Tae : kan di dalem kerang ada mutiara.
    Yoon : aish…

    *abaikan

  2. rabbitpuding says:

    ah, sunghee. Lupa komen.
    Bahasanya bagus! Ceritanya unik. Tapi judulnya kurang bagus ke ceritanya. Tapi menarik sih.

    Lanjuut Saeng !

  3. rabbitpuding says:

    ah, sunghee. Lupa komen.
    Bahasanya bagus! Ceritanya unik. Tapi judulnya itu loh. Tapi menarik .

    Lanjuut Saeng !

  4. rabbitpuding says:

    ralat: judulnya gak semenarik ceritanya. Aduuh, gmna ya ngomong.a ? Jadi, cerita lebih menarik dari judul.!
    Mian klo gak ngerti.

  5. rabbitpuding says:

    aku kan baca komen yg laen juga. Trus pada bilang kangen ma blog kmu. Ya udah aku komen ntu ! Trus yang hwaiting, itu dukungan buat kamu biar bisa terus berkarya di blog ini.

  6. haerin says:

    Sory baru komen
    Kejem amat mantan pacarnya, yang ada juga dia yang sampah.hehe
    Kyu oppa sudah tiada…((Di ff ini) may you rest in peace)
    Tragis skali mninggalnya…
    Aku terharu

  7. haeny_elfishy says:

    kyu-nya mati ??? hue. . . T.T
    Merinding aq bcanya. . .
    Btw, kata yg ‘putih bersinar, seperti malaikat’ ga cocok bngt ma kyu ! hahaha *dburu istri”nya kyu*

  8. whyenda_arinka says:

    aish! Jinja! Aq nangis nih.. Huwee~ *peluk Hae, nangis barengan* ceritanya sedih.. T____T

    Udah bisa nebak kalo Kyuhyun bakal mati pas Raerim brkgt ke Singapore. Hiks. Tapi ga nyangka Kyuhyun kena aids. Hiks. Hiks.

    Ceritanya sangat2 menyentuh. Huwee~ *nangis lagi sama Hae*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s