[FF] The “Eternal Life 2” (Sekuel BF and SF 2)

Mianhae, setelah ini masih continue. kekeke~ jangan bosan ya…

= = =

The “Eternal Life 2” (Sekuel Best Friend and Strange Family 2)

Donghae melirik Sunghee yang masih terdiam. Dia kemudian menatap Chaerin yang sedang asyik menonton video di ponselnya.

“Raeki mana?” tanya Donghae pada Chaerin. Chaerin melepas headsetnya dan menatap Donghae.

“Raeki? Ada jadwal kuliah.”

“Kau tidak akan keluar, kan?” Chaerin mengangguk.

“Jaga adikku baik-baik ya, aku mau menyelesaikan urusan di dunia.”

“Perlu kubantu?”

“Sepertinya menarik tapi kau jaga saja adikku. Oh ya, cincin Yoonmin tidak usah dicari, dia sudah bilang bahwa cincin itu ada padanya. Urusan Sunghee di dunia hanya urusan novel dan…cowok itu.” Donghae tersenyum. Dia pun melayang keluar apartemen 415. Chaerin mengerutkan kening.

Donghae mencoba mengingat-ingat dimana rumah mantan pacarnya. Seingat dia, mantannya itu bertempat tinggal di daerah Busan. Setelah ia tinggalkan, mantannya pergi ke daerah sana. Donghae sungguh menyesal pernah meninggalkan wanita yang ia cintai. Dia dulu memang seorang playboy.

“Donghae ah…apa yang kau lakukan?” Wanita itu semakin merapat ke dinding. Donghae makin mendekatinya.

“Saranghae..” Donghae mencium bibir wanita itu. “Saranghae..” ucapnya di sela ciumannya. Wanita itu memejamkan mata, takut. Kemudian dia mendorong Donghae.

“Kau apa-apaan, Lee Donghae?!” PLAAK….wanita itu menampar pipi kiri Donghae. Donghae menatap wanita di hadapannya dengan tajam. Dia lalu berkacak pinggang.

“Yah! Baru mejadi pemilik kedai ddukboki saja lagamu sudah selangit. Aku ini pacarmu. Kau milikku.” Donghae mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu namun wanita itu menepisnya. Dia menonjok pipi kanan Donghae. Matanya memerah karena marah.

“Aku benci dirimu!!” teriak wanita itu parau. Matanya mulai berair. Air mata kecewa dan kemarahan.

“Choi Eunri! Baru kemarin kau bilang bahwa kau mencintaiku…bagaimana mungkin sekarang kau membenciku?” Eunri, wanita itu, menyadari sesuatu. Bau alkohol menyengat dari mulut Donghae. Tadi dia terlalu panik sampai tidak menyadarinya.

“Donghae ah…kenapa kau jadi seperti ini?” Nada marah hilang sudah dari kata-kata Eunri. Semua berganti menjadi nada prihatin dan kasihan.

“Itu bukan urusanmu, yeobo..” Donghae menyeringai. Eunri makin merapat ke dinding. Firasat buruk menjelajahinya. Benar saja, tiba-tiba Donghae menarik Eunri ke tempat tidur yang terletak tak jauh dari Donghae. Cowok itu melemparkan tubuh Eunri ke tempat tidur. Donghae merayap naik. Eunri sudah berusaha berontak, namun semua sia-sia. Tenaga Donghae jauh lebih besar. Dan semua pun terjadi begitu saja.

Donghae menunduk. Dia mengingat semua. Esoknya seusai kejadian itu, Donghae memutuskan Eunri. Dia pun mencari wanita lain. Tak sampai seminggu, dia sudah menggaet wanita yang lebih cantik dari Eunri. Donghae sangat menyesal. Cantik saja tidak cukup. Buktinya, pacar Donghae yang baru saat itu sangat matrealistis dan manja. Dia meminta segalanya pada Donghae. Bahkan dia meminta Donghae untuk menyuruh Sunghee pergi dari apartemen ketika mereka sedang berdua. Tidak tahan, Donghae memutuskan gadis itu. Dia pun mencari wanita lain. Begitu selalu. Sampai Donghae sadar, Eunri memang yang terbaik untuknya. Meskipun dia hanya pemilik kedai ddukboki, tapi kebaikan hatinya membuat semua orang senang. Sungguh, Donghae sangat menyesal.

Donghae kembali menatap sekeliling. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Busan saat itu juga.

= = =

Hyukjae melayang di depan pintu rumah Lee Hyorin. Hyukjae menekan bel. Ternyata berhasil. Hyukjae tersenyum kegirangan saat mengetahui dia bisa menyentuh benda-benda. Tak lama, pemilik rumah keluar. Dia tertegun ketika melihat Hyukjae melayang di teras rumahnya. Hyorin memang bisa melihat arwah.

“Hyukjae ah, ada apa?” tanya mantan pacar kakaknya itu. Sebenarnya Lee Hyorin ini sudah hampir menikah dengan Sungmin. Tapi karena Sungmin sibuk dengan pekerjaan, begitu juga dengan Hyorin, apalagi kasus Sungmin yang menabrak Taemin, pernikahan mereka tertunda. Saat persiapan sudah matang, Sungmin meninggal dunia. Hyorin sangat sedih. Dia sudah menganggap keluarga itu sebagai keluarganya sendiri.

“Aku ingin meminta bantuanmu. Bisa?”

“Bantuan apa?” Hyorin heran.

“Melanjutkan novel Eternal Life 2.” Hyukjae memberi tatapan memohon. Hyorin tertegun. Dia pun menatap sekeliling. Dia lalu menyuruh Hyukjae masuk ke rumahnya.

“Tapi aku tidak tahu jalan pikiran Sunghee.”

“Ayolah…kau berikan saja ending yang mengejutkan. Aku tahu kau penulis handal. Aku yakin kau bisa melakukannya. Demi Sunghee. Demi keluarga kami,” mohon Hyukjae. Hyorin ragu.

“Tapi…bukan itu masalahnya…melanjutkan novel orang lain itu tidak mudah, Hyukjae. Berbeda dengan membuat novel sendiri.”

“Noona…” Hyukjae memberikan tatapan puppy eyes.

“Aku lebih muda darimu,” Hyorin kesal.

“Demi Sungmin hyung…kalau kau menikah dengannya, kau nyaris kupanggil noona. Jadi kumohon lanjutkan novel Sunghee..”

“Apa hubungannya?” Hyorin mencibir.

“Apa aku harus minta bantuan Choi Yoonmi?”

“Iya. Minta bantuan dia saja.”

“Kalau begitu aku pinjam tubuhmu untuk perasukan. Yoonmi sshi tidak bisa melihatku.” Hyorin menghela napas.

“Baiklah. Aku mau melanjutkan novel itu. Naskahnya mana?” Mendengarnya, senyum Hyukjae mengembang.

“Ada di apartemen! Sore nanti kau datang saja ke sana!” kata Hyukjae riang.

“Tapi tunggu dulu!” Senyum Hyukjae menghilang. “Apa setelah ini kau akan pergi?” Hyukjae terdiam. Hyorin menatapnya,  menunggu jawaban.

“Sepertinya ya…tapi setelah aku menemukan Kibum.”

“Kibum?” Hyorin memiringkan kepala, heran. “Siapa dia?”

“Teman masa kecil sekaligus mantan pacar Sunghee. Dia bisa membuat Sunghee kembali ke dunia nyata.” Hyukjae menghela napas.

“Ara…jadi..kau menyuruhku mencari Kibum juga?”

“Tidak usah!” Hyukjae mengibaskan tangan. “Biar aku suruh orang lain saja. Kau fokus pada novel itu ya.”

“OK.”

= = =

Fantasi Sunghee tidak berhenti. Seakan-akan sedang diputar sebuah film dokumenter di dalam otaknya. Dia masih terdiam. Menatap ke dinding sambil memeluk kaki. Chaerin sampai menghela napas melihatnya.

“Hyukjae tidak akan membencimu. Buat apa kau menyiksa dirimu sendiri begitu?” tanya Chaerin kesal. Namun percuma. Sunghee tidak mendengarnya. Chaerin memutar bola mata kesal.

“Keurae…karena kau tidak butuh makan, aku juga tidak akan memperhatikanmu.” Chaerin berbalik dan hendak berjalan menuju mini bar ketika mendengar suara orang lain.

“Kibum ah…” gumam Sunghee serak. Chaerin tersentak. Dia pun berbalik dan menatap Sunghee.

“Kibum ah…Kibum ah..” Sunghee terus berkata demikian. Seakan-akan hanya kata itu yang ia tahu di dunia ini. Perlahan, Chaerin menghampiri gadis yang lebih muda dua bulan darinya itu. Sunghee masih menggumamkan nama Kibum.

“Kibum…Kim Kibum?” gumam Chaerin. Dia kenal dengan Kibum. Kibum ini mantan tetangganya dulu.

“Kim Kibum mana yang kau maksud, Sunghee? Banyak Kim Kibum di Korea ini.”

“Kim Kibum…SMA..” Chaerin terdiam.

“SMA mu?” Sunghee yang diam sekarang. Tanpa ba-bi-bu lagi, Chaerin segera melompat ke depan komputer dan mencari daftar nama di SMA Sunghee dulu. Tapi sayang, ada dua Kim Kibum di sana. Chaerin mengacak rambutnya kesal.

“Aaarghh…kenapa nama Kibum begitu pasaran?!” gerutunya.

“Sunghee yah! Kim Kibum mana yang kau maksud, hah?” seru Chaerin emosi.

“Kibum…kereta api…pergi…ke luar negeri…” gumam Sunghee tidak jelas. Chaerin mengerutkan kening.

“Kim Kibum yang pergi ke luar negeri dengan kereta api? Gila. Kenapa tidak pakai pesawat? Ke Jepang saja pakai pesawat.” Chaerin menggerutu sendiri. Tiba-tiba dia tertegun. Dia teringat sesuatu.

“Kim Kibum mantan pacarmu?!” seru Chaerin. Kali ini wajahnya agak cerah karena mendapat petunjuk. Chaerin langsung mengambil ponselnya dan mencari sebuah nama di kontaknya. Dia pun menemukannya.

“Yobosaeyo…ada Kim Kibum?”

“Ne, saya sendiri. Kau…Choi Chaerin, bukan?”

“Yo’i. Kibum ah, need your help here..”

“Nugu?”

“Sunghee.”

“Kenapa dia?”

“Kau akan tahu kalau kau sudah berada di dalam ruangan Apartemen Seoul ruang 415.”

= = =

Kibum menutup ponselnya. Dia lalu menatap empat namja di hadapannya dengan heran.

“Siapa yang menelepon?” tanya Jungsoo.

“Chaerin.”

“Chaerin yang menempati apartemen nomor 415 itu?” Hankyung memastikan. Kibum mengangguk.

“Hahaha…dia meneleponmu di saat kau berada di seberang ruangan itu.” Kali ini Detektif Kim yang menyahut. Choi Siwon, seorang polisi, tersenyum mendengarnya.

“Sepertinya ada urusan penting di ruangan itu. Pergilah ke sana,” kata Jungsoo lagi. Kibum menggeleng.

“Biar saja sebentar lagi. Dia akan mengira aku sedang dalam perjalanan. Jadi…dari video ini sebenarnya tidak terlihat jelas pembunuhan itu. Hanya ada Sunghee yang bergerak seolah-olah sedang menusukkan pisau, lalu menancapkan pisau yang sudah berdarah ke jantungnya.” Jeda sejenak, Kibum melanjutkan, “Media itu terlalu berlebihan.”

“Yang namanya media memang begitu.” Siwon mengambil gelas air putih dan meminum isinya. “Menghebohkan berita yang tidak heboh.” Siwon meletakkan gelas.

“Tapi aku melihatnya sendiri. Entah ini kebetulan atau apa, di saat aku sedang berjalan-jalan untuk melihat-lihat kota Seoul, aku melihat adegan tabrakan itu. Aku juga berpendapat itu disengaja. Sudah jelas sekali siswa itu berlari menghindar, namun Sungmin masih menghantamnya,” jelas Hankyung tegas. Detektif Kim terlihat sedang berpikir.

“Tapi saat itu si pengemudi sedang mabuk berat,” timpal Siwon.

“Mabuk berat masih mampu menelepon ambulans?” Jungsoo memojokkan. Siwon menatapnya.

“Ponsel sekarang sudah canggih. Mungkin saja dia memiliki ponsel yang memiliki tombol darurat.”

“Itu hanya mungkin. Kemungkinannya kecil, bukan?” Jungsoo membalas Siwon.

“Aku sekilas melihat ponsel yang Sungmin pakai. Ponsel jenis itu tidak memiliki tombol darurat,” Hankyung menambahi.

“Matamu tajam sekali.” Siwon memalingkan muka. Detektif Kim hanya diam. Dia masih seperti berpikir.

“Tangannya gemetaran saat menekan tombol di ponselnya?” Akhirnya Detektif Kim berbicara. Hankyung mengangguk.

“Sangat gemetar sampai-sampai ponselnya hampir jatuh.”

“Hm…begitu…” Detektif Kim mengusap-usap dagunya. Kibum melihat-lihat foto adegan tabrakan yang sempat terpotret oleh Hankyung. Dia tertegun pada sebuah foto. Foto saat Sungmin menatap cemas ke arah Taemin. Kibum lalu melihat foto selanjutnya. Dia terkejut. Di foto itu, Sungmin melirik Yoonmin dengan tatapan licik.

“Hyungdeul, aku menemukan ini.” Kibum memperlihatkan foto itu pada empat namja di hadapannya. Keempat namja itu pun memperhatikan foto itu.

“Mata Sungmin…ini benar-benar…ini disengaja!” ujar Siwon.

“Jangan mengambil kesimpulan sendiri. Mata orang mabuk memang tidak terkontrol,” kata Hankyung. Lagi-lagi tegas. Kibum sampai bosan sendiri. Dia berasa sedang mengikuti rapat saja.

“Haaah…sebenarnya aku tidak mengerti kenapa terseret ke dalam kasus ini,” kata Jungsoo pelan. Kibum melirik lelaki itu. Dia mencurigai Jungsoo. Tapi dia tidak tahu harus mencurigai Jungsoo sebagai apa. Tidak mungkin kan otak dibalik pembunuhan itu?

“Got to go now. Ruang seberang membutuhkanku.” Kibum berdiri. Tapi tangan Jungsoo menghadangnya. Kibum menatapnya heran.

“Kau lupa mengambil video itu.” Jungsoo tersenyum dan memberikan sebuah CD pada Kibum. Kibum tersenyum salah tingkah.

“Kamsahamnida, hyung. Hyungdeul, annyeonghasaeyo.” Kibum membungkuk. Dia pun membuka pintu. Dia menatap apartemen nomor 415 itu. Dia menarik napas. Mempersiapkan diri.

= = =

Sunghee merasakan sesuatu. Dia merasakan kehadiran Kibum. Tapi dia masih tetap diam. Masih asyik dengan fantasinya saat ia tepat 366 hari bersama Kibum.

“Kibum ah, besok hari ke 366 hari sejak kita pertama bertemu di kelas 1 saat itu. Besok mau merayakannya?” tanya Sunghee semangat. Kibum hanya tersenyum samar. Dia menghela napas. Dia lalu memosisikan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Sunghee.

“Besok, aku akan pergi ke Amerika.”

“Ne?!” Sunghee terkejut. Kibum mengangguk meyakinkan.

“Tapi..”

“Mianhae..” Kibum menarik Sunghee ke pelukannya. Gadis itu menganga.

“Hei, ini pasti kerjaanmu, kan? Mau memberi kejutan untuk esok?”

“Kalau tidak percaya, datanglah ke stasiun kereta api pukul 2 sepulang sekolah.” Sunghee terpaku.

Keesokan harinya, Sunghee sangat kelelahan di sekolah. Dia bahkan lupa kalau Kibum akan pergi ke Amerika hari itu juga. Dia disibukkan urusan ini dan itu. Sampai ke rumah, dia langsung merebahkan diri di tempat tidur tanpa berganti baju. Sunghee menghela napas. Otaknya menyuruhnya untuk melihat jam. Sunghee membelalak. Pukul 13:25! Dia ingat kalau dia harus menemui Kibum di stasiun kereta pada pukul 2! Sunghee panik. Dia terlompat dari tempat tidur dan tanpa berpikir lagi, langsung memakai sepatu ketsnya dengan terpincang.

“Sunghee ya! Kau mau kemana?” seru Hyukjae.

“Not your problem, baby!” balas Sunghee asal sambil memakai sepatu. Kemudian dia pun melesat keluar apartemen.

Sunghee terus berlari dan berlari. Stasiun kereta tidak begitu jauh. Dia lebih memilih berlari karena jam segini biasanya jalanan macet. Dia melirik jam. Pukul 13:50. Sunghee masih berlari. Menabrak sana-sini. Tidak peduli beberapa kali orang-orang berseru marah kepadanya.

Sementara itu di stasiun kereta, Kibum menatap arloji di tangannya. Kibum resah. Pengumuman kereta akan datang sudah terdengar. Tapi orang yang ia tunggu belum datang juga. Malah Minho yang setia berdiri di sampingnya.

“5 menit lagi, Kibum ah. Oh aku akan merindukanmu!” Minho memeluk Kibum singkat. Kibum tersenyum tipis. Matanya mencari ke sekeliling. Minho heran.

“Kau mencari Sunghee?” tanya Minho. Kibum mengangguk tidak jelas. Matanya masih mencari. Minho melirik ke ujung sebelah barat. Kereta mulai terlihat. Minho melirik jam.

“Keretanya sudah mau sampai. Kibum ah, jaga dirimu baik-baik. Kau ada pesan apa untuk Sunghee? Bisa kusampaikan.”

“Ah, tidak usah. Terima kasih.” Kereta datang. Kibum menghela napas. “Annyeong, Minho.” Kibum menaiki kereta. “Annyeong, Sunghee,” bisiknya. Kibum masih mengharapkan sesuatu. Setidaknya ucapan selamat tinggal dari Sunghee. Tapi sepertinya tidak akan tercapai. Kereta perlahan mulai bergerak.

Sunghee mulai memasuki stasiun. Dia mencari dimana Kibum. Saat berlari, dia bertabrakan dengan seseorang di stasiun itu. Gelang pemberian Kibum pun terlepas. Namun Sunghee tidak menyadarinya. Dia terus berlari mencari Kibum. Kereta mulai berjalan. Sunghee langsung berlari ke arah kereta. Kereta mulai cepat. Dan Sunghee menemukan Kibum.

“Kibum ah!!!” Sunghee berteriak. Kibum yang masih berada di pintu gerbong pun langsung menatap Sunghee. Gadis itu berlari, mencoba mendekatkan jaraknya dengan kereta. Lebih tepatnya dengan Kibum.

“Annyeonghi gyesaeyo!! Selamat hari ke 366!!” Sunghee menghentikan larinya. Kereta sudah menjauh. Sunghee pun melambaikan tangan. Kibum membalas lambaian tangannya. Kibum pun pergi.

Sunghee menunduk. Dia mengatur napasnya yang tidak beraturan.

“Hah…hah…aku akan mengingatmu…lewat gelang ini..” Sunghee menegakkan tubuhnya dan meraba pergelangan tangan kanannya. Dia tertegun. Dia tidak menemukan apa pun di sana! Sunghee panik. Dia pun mulai mencari ke sekeliling untuk mendapatkan gelang itu kembali. Minho yang melihat Sunghee panik sambil berjalan ke sana ke mari pun heran. Dia pun menghampiri gadis itu.

“Gwaenchana?” tanya Minho. Sunghee menggeleng.

“Ada yang bisa kubantu?”

“Gelangku hilang! Minho sshi, kau tahu gelang yang suka kupakai di tangan kananku, kan? Itu hilang!”

“Memang kalau hilang kenapa? Hanya gelang ini.”

“Itu gelang pemberian Kibum! Aku tidak mau melupakannya lagi!!” Sunghee kesal. Minho mengangkat alis.

“Annyeong,” ucap Minho ringan. Dia pun berpura-pura pulang. Tapi nyatanya dia mencari gelang Sunghee di sudut stasiun yang lain.

Sunghee tertegun menatap sebuah benda bulat berwarna perak tergeletak di lantai. Sunghee pun menghampiri gelang itu. Saat dia akan menggapainya, seseorang menendang gelang itu dengan tidak sengaja. Sunghee menatap arah pergi gelang itu. Gawat, gelang itu jatuh ke rel. Tepat di samping rel. Tanpa pikir panjang, Sunghee berlari ke arah rel. Minho yang melihatnya langsung terkejut.

Sunghee pun mengambil gelang itu. Dia melirik ke arah kiri. Sebuah kereta sedang meluncur dengan cepat ke arahnya. Ternyata itu kereta selanjutnya. Sunghee pun segera memanjat ke peron. Namun sayang, kakinya terpeleset. Sunghee nyaris terjatuh kalau tidak bisa menjaga keseimbangan. Kereta semakin mendekat. Suara klakson kereta memekakkan telinga. Sunghee memanjat peron lagi. Tangannya terangkat untuk menyentuh pinggiran peron. Tapi sebelum menyentuh peron, sebuah tangan sudah menarik tangan Sunghee. Sunghee berhasil naik ke peron. Tangan milik seorang lelaki itu menariknya, lalu lelaki itu memeluknya. Kereta pun melintas di belakang mereka. Minho terdiam menatap pemandangan di hadapannya. Sunghee merasakan jantungnya berdegup kencang. Karena tegang. Dia nyaris tertabrak kereta kalau namja ini tidak segera menolongnya.

Kereta berhenti, lelaki itu pun melepaskan pelukannya. Tapi kemudian dia mencengkram lengan Sunghee kuat. Sunghee mendongak dan menatap siapa yang menolongnya. Dia menelan ludah.

Di apartemen nomor 415, Sunghee sedang diinterogasi ketiga kakaknya. Sunghee duduk diam sambil menunduk sedangkan Donghae dan Hyukjae berdiri dan menatap tajam ke arah Sunghee. Sungmin bersandar pada meja bar sambil memegang gelas minuman. Matanya menatap Hyukjae, lalu Donghae, dan kemudian Sunghee. Selalu seperti itu. Sesekali Sungmin meneguk minumannya.

“Lee Sunghee! NEO PABOYA!!” seru Hyukjae. Sunghee menghela napas.

“Sunghee ah, kenapa pula kau harus berhubungan dengan namja itu? Dia itu kan bukan namja baik-baik. Buktinya dia meninggalkanmu seperti ini.” Nada suara Donghae lebih lembut.

“Dari awal aku tidak pernah setuju kau pacaran dengan namja itu! Apa bagusnya dia? Hanya bisa membuatmu sakit.” Hyukjae menimpali. Sungmin menatap pemandangan di hadapannya sambil meneguk orange juice.

“Hyung…” Sunghee ingin bicara tapi dipotong Donghae.

“Berhenti memanggil kami hyung! Kau ini perempuan dan kita laki-laki! Panggil kita oppa!”

“Beruntung kau tadi diselamatkan Sungmin hyung! Kalau tidak kau pasti sudah mati hanya karena mengambil gelang dari namja itu!” Hyukjae marah besar. Sungmin menegakkan tubuhnya dan melipat tangannya di depan dada. Masih terdiam menatap pemandangan itu.

“Mianhae…tapi…gelang itu sangat berharga untukku. Aku tidak ingin melupakannya lagi…” Suara Sunghee bergetar.

“Ck! Lucu sekali.” Donghae berdecak kesal.

“Sunghee ah, kau melupakan Kibum, itu takdir! Berarti dia tidak cocok untukmu!” kata Hyukjae.

“Tapi…buktinya aku bisa mengingatnya lagi…” Sunghee mendongak. Tapi kemudian dia menunduk lagi ketika dilihatnya tatapan tajam dari dua kakaknya.

“Terserah. Mulai sekarang kau tidak boleh berhubungan dengannya lagi! Akan kubuang semua barang dari Kibum. Foto-foto kalian akan kubakar semua.” Hyukjae berjalan ke arah kamar Sunghee. Gadis itu langsung berdiri dan menarik tangan kakak keduanya.

“Jebal…jangan lakukan itu hyung… jebal…aku janji tidak akan berhubungan dengannya lagi. Kalau perlu ganti nomorku dan alamat e-mailku atau semuanya terserah kau. Tapi jangan hapus dia dari ingatanku…hyung…” Sunghee memelas. Hyukjae menatapnya. Donghae memalingkan muka. Sungmin meletakkan gelasnya yang telah kosong dan menghampiri Hyukjae. Dia melepaskan tangan Sunghee yang mencengkram lengan Hyukjae. Sungmin lalu menatap Sunghee.

“Kenangan itu tidak akan dibakar. Tapi jangan terpuruk hanya karena seorang Kim Kibum. Masih banyak namja lain. Kalau kau mau, aku punya kenalan single.”

“Andwae…aniyo..” Sunghee mundur beberapa langkah. “Aku..”

“Jangan bilang kalau kau tidak mau pria lain, hanya Kim Kibum seorang,” celetuk Donghae. Sunghee menelan ludah.

“Kalau kau sampai tersakiti lagi….” Sungmin mengepalkan tanganya, geram. “Aku yang akan membunuh orang yang menyakitimu.” Sunghee menganga mendengarnya. Dua kakaknya yang lain pun demikian.

“Masuk kamar.” Sungmin mendorong punggung Sunghee lembut ke arah kamar gadis itu. Sunghee masuk dan mengunci pintu. Dia pun berjalan ke pojokan dan terduduk di sana. Tanpa sadar dia memeluk kedua lututnya yang ia tekuk. Pikirannya melayang ke percakapan tadi. Sungguh, ia tidak bisa mencari namja lain. Hanya Kibum seorang.

“Sunghee ah, lihat siapa yang datang!” Untuk pertama kalinya sejak Sunghee terdiam di sana, Sunghee menoleh ke arah pintu.

= = =

Hyorin dan Hyukjae tidak sengaja bertemu dengan Kibum yang baru keluar dari ruangan di seberang ruang nomor 415. Kibum melirik ke arah mereka. Kemudian dia tersenyum salah tingkah.

“Oh, Kim Kibum!” seru Hyukjae. Hyorin langsung tersadar.

“Annyeonghasaeyo!” sapa Hyorin. Kibum membungkuk heran.

“Kau Kim Kibum?”

“Ne. Anda…Lee Hyorin kah?” Wajah Kibum menjadi cerah. Hyorin mengangguk.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Hyorin.

“Ehm…nothing. Hanya ngobrol dengan teman.”

“Oh begitu.”

“Kau sendiri?” Kibum mengangkat alis.

“Aku mau mengambil naskah Eternal Life 2. Aku ditunjuk untuk melanjutkan novel itu.” Mata Kibum membulat.

“Benarkah? Oleh siapa?”

“Er….kerabat jauh Sunghee! Fans-fans Sunghee juga begitu. Mereka semua kirim surat padaku. Katanya aku dipercaya untuk melanjutkan novel Eternal Life 2.” Hyorin tersenyum. Keringat dingin mengucur pelan dari pelipisnya. Kibum mengangguk-angguk.

“Kau mau ke apartemen ini?” Hyorin menunjuk pintu apartemen nomor 415. Kibum mengangguk. Tak lama kemudian, tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Gadis yang membuka pintu itu terdiam sesaat. Tapi kemudian dia tersenyum.

“Ada perlu apa, ya?”

“Chaerin ah, aku Kim Kibum. Kau lupa padaku ya?”

“Kibum? JEONGMAL?!” seru Chaerin. Chaerin pun berbalik.

“Sunghee ah, lihat siapa yang datang!” serunya lagi. Hyukjae tertegun ketika dilihatnya Sunghee menoleh ke arah pintu. Kibum pun dipersilahkan masuk. Chaerin lalu menatap Hyorin di luar.

“Eng…mianhae, anda…siapa?” tanya Chaerin.

“Rupanya aku belum terlalu terkenal ya…” Hyorin tersenyum. “Aku Lee Hyorin.”

“Omo…Hyorin eonni?! Aku suka baca karyamu, tapi aku jarang perhatikan authornya siapa. Hehehe…ayo masuklah!” ajak Chaerin. Hyorin pun masuk ke dalam ruangan.

To be continued

18 thoughts on “[FF] The “Eternal Life 2” (Sekuel BF and SF 2)

  1. mrschokyuhyun says:

    Oh ya, cincin
    Yoonmi tidak usah dicari ← maksudnya yoonmin kan?😛

    “Apa aku harus minta bantuan
    Choi Yoonmi?” ← (?)
    Kenapa ujug-ujug kibum curigain jungsoo? ==; aku kira yang nyelamatin sunghee distasiun itu minho (=.=)a

    • sungheedaebak says:

      ah iya benar!
      itu maksudnya minta bantuan buat nyelesaiin Eternal Life 2
      soalnya awalnya Jungsoo kan semangat nyelesaiin masalah, makin ke sini makin males si Jungsoo jadi Kibum curiga
      hahaha tadinya mau minho tapi ga jadi

  2. Ami_cutie says:

    ajigileee…ga kebayang aku jd hyorin disini…wkwkwk
    penulis terkenal? amiin..

    emm…byk yang misterius disini…kira2 jungsoo ada keterkaitannya juga atw ga?
    trus ntar novel eternal life 2 kayak gimana ya klu hyorin yg lanjutin?

    anyway, gomawoyo, dongsaeng-ah!

  3. haeny_elfishy says:

    Nisa mian baru komen, baru aja beli plsa , hehehe
    ,
    wah wah, abang teuki mencurigakan ni, nisa kalo bikin ff yg semacem ni n kyk MP mantap bngt !
    lanjot lanjot. . !

  4. SungGi_CheFish says:

    Wah, keren saeng.
    Ceritany misterius gt.
    Un jd penasarn nh.
    Next, tlng d p’cpt,ya.!! *gk sabarn. Hehehe*.

    Mian ru bs ngment.

  5. haerin says:

    udah lama baca sih jadi lupa crita… mian mian
    donghae oppa! apa yang kau lakukan pada yeoja itu?! kau mnyakiti hatiku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s