[FF] Finding New Life (Sekuel Best Friend and Strange Family)

Lee Sunghee duduk di pojok ruangan sambil memeluk lututnya. Tatapannya kosong ke samping, ke dinding yang dingin. Mulutnya sedikit terbuka tapi tak keluar suara apa pun. Keadaannya mengenaskan meskipun ia hanya “seorang” arwah sekarang. Dia hidup dalam fantasinya. Dia hidup di dalam hati seseorang.

Kejadian ini pernah terjadi sebelumnya. Lee Sunghee yang frustrasi karena sesuatu. Sunghee terdiam. Pikirannya sedang melayang.

Hari pertama masuk SMA, Sunghee sangat pendiam. Dia selalu berjalan menunduk. Rambutnya kali itu panjang sepunggung dan bergelombang berwarna hitam. Poninya miring ke kanan. Rambutnya ia ikat setengah dengan karet rambut pemberian kakaknya. Seragamnya rapi, sangat rapi. Tata tertib dalam berpakaian ia penuhi.


Sunghee mengangkat wajahnya. Dia tertegun ketika melihat seorang lelaki yang berjalan ke arahnya. Lelaki itu tinggi, tampan, rambutnya hitam pendek dan tanpa poni. Mata lelaki itu bertabrakan dengan matanya. Mereka bertatapan. Tapi Sunghee langsung mengalihkannya dan berjalan cepat menuju kelasnya. Lelaki itu termenung. Dia menatap punggung Sunghee sampai gadis itu menghilang di kelokan.

Lelaki itu cepat-cepat membuka dompetnya. Ada sebuah foto di sana. Fotonya saat masih kecil dengan gadis kecil. Mereka berdua sedang tersenyum riang. Latar belakang foto itu adalah sebuah taman bermain sederhana. Lelaki itu masih mengingat jelas kejadiannya. Itu karena dia masih mencari gadis kecil itu. Cinta pertamanya. Baru saja lelaki itu mau mengambil foto yang terdapat di belakang foto itu, pundaknya ditepuk seseorang.

“Yah, Kim Kibum! Mau tanding pelajaran dengan Kyuhyun tidak sepulang sekolah? Kali ini ada taruhannya..” kata seorang temannya, namanya Choi Minho. Kibum terlonjak kaget dan buru-buru memasukkan dompetnya ke saku.

“Mwoya?” Minho heran melihat tingkah sahabatnya. Minho melirik ke arah dompet Kibum dimasukkan. Kibum langsung menutupi sakunya dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

“Nothing. Taruhan? Sepertinya tidak.”

“Wae?” Mata Minho membulat. “Bukankah kau selalu semangat kalau sudah ada yang bertaruh? Kau takut kalah?”

“Bukan. Hanya saja…aku ada tugas untuk dikerjakan.” Kibum tersenyum dan berjalan ke arah kelokan tempat Sunghee menghilang dari pandangannya. Tapi kemudian Kibum berbalik. “Tanding pelajaran tidak perlu menggunakan taruhan, kita belajar bersama saja. Annyeong, Minho.” Kibum melambaikan tangan dan meneruskan perjalanannya. Minho menganga.

Keesokan harinya Kibum mencari gadis itu lagi. Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya dia mengetahuinya. Nama gadis itu Lee Sunghee, kelas 1-1. Dia murid pindahan dari London International School. Saat itu juga, Kibum langsung menuju ke kelas 1-1.

Di sana, Lee Sunghee sedang duduk diam. Dia menunduk. Dia seperti berkonsentrasi terhadap sesuatu namun tak ada yang bisa menebak ia sedang berkonsentrasi dengan apa. Tiba-tiba Sunghee mendongak, menatap ke ambang pintu tempat Kibum berdiri. Kibum tersenyum salah tingkah. Dia pun menyuruh Sunghee datang ke hadapannya dengan bahasa tubuh. Sunghee pun berjalan ke arahnya.

“Ada perlu apa?” tanya Sunghee.

“Kau Lee Sunghee?” Kibum tersenyum. Sunghee mengangguk.

“Ah…aku Kim Kibum. Kau masih ingat aku?” Sunghee mengerutkan kening, heran.

“Kim Kibum? Rasanya aku baru pertama kali mendengar nama itu.”

“Jeongmal? Kau benar tidak pernah mendengarnya?” Kibum kecewa. Sunghee makin terlihat bingung. Dia menyandar ke dinding. Dia menunduk sebentar, mencoba mengingat sesuatu. Tapi kemudian dia memegangi kepalanya. Dia seperti kesakitan.

“Gwaenchana?” Kibum khawatir. Sunghee mengibaskan tangannya, menenangkan Kibum.

“Mianhae, mungkin karena aku terlalu lama di London jadi tidak pernah mendengar nama Kim Kibum?” kata Sunghee lirih.

“Tapi nama Kim Kibum itu… ah lupakan. Aku sahabatmu sejak kecil, Sunghee. Tidak ingat aku?”

“Kim Kibum…” Sunghee berusaha mengingat. Namun rasa sakit di kepalanya makin menjadi. Kibum yang tidak tahan pun akhirnya menyerah.

“Sudahlah, Sunghee. Jangan dipaksa.” Kibum menarik tangan Sunghee yang sedang memegangi kepala. Sunghee tersentak kaget dan segera menarik tangannya kembali. Kibum heran.

“Mian, akan kucoba ingat-ingat di lain waktu.”

“Gwaenchana..” Kibum tersenyum. Sunghee mengangguk tidak jelas dan masuk ke kelasnya. Namun belum sempat melewati pintu, tangannya ditarik oleh Kibum. Sunghee menoleh.

“Eng…bisakah aku meminta nomor teleponmu?” Kibum tersenyum gugup. Sunghee menatapnya dalam diam.

“Keurae, berikan ponselmu.” Akhirnya mereka berdua bertukar nomor telepon. Kibum berterima kasih dan pergi dari depan kelas Sunghee.

“Lee Sunghee, aku tahu kau tidak butuh makan lagi, tapi apa kau tidak mau berjalan ke ruang TV atau ke dapur atau kemanapun kau mau? Dari kemarin kau hanya berdiam diri di sana, kau bahkan tidak bernafas. Kau tampak seperti patung, Sunghee.” Raeki menatapnya prihatin. Sunghee masih diam. Masih berfantasi sendiri.

= = =

Tepat dua hari setelah kasus pembunuhan itu, Kim Kibum membaca kertas di tangannya dengan serius. Dia menyipitkan matanya karena silaunya matahari.

“Apartemen Seoul?” gumamnya. Dia lalu menatap ke sekeliling. Dia sekarang ada di tengah kota, berusaha mencari seseorang.

“Aigo…perjalanan dari sini membutuhkan waktu 45 menit.” Kibum berjalan ke pinggir trotoar, menajamkan penglihatannya. Dia mendesah ketika dilihatnya jalanan di sebelah utara sedang macet.

“Macet kenapa pula? Apa ada momen spesial?” keluh Kibum. Dia pun melirik kafe yang berdiri di sebelahnya. Dia melirik nama cafe tersebut. Eternal Taste Cafe. Kibum pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di kafe itu sambil meminum minuman dingin. Dia duduk di salah satu sofa dekat dinding. Setelah memesan, dia kembali fokus pada kertas di tangannya. Dia pun membuka gulungan koran yang sedari tadi digenggamnya. Dia lalu membaca sebuah artikel yang sudah ia tandai.

“Penghuni ruangan 415 Apartemen Seoul, tewas dengan cara mengenaskan. Tidak ada yang tahu pasti penyebab kematian empat pemilik apartemen tersebut. Di sana juga terdapat jenazah seorang siswi SMU kelas 3. Diduga siswi itu adalah sahabat baik anak bungsu keluarga itu.” Kibum berdecak, meremehkan isi artikel yang kurang memuaskan hatinya. Kibum tidak melanjutkan bacanya. Dia melipat koran itu dan memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa. Ia lalu mengeluarkan koran lain dari tasnya. Dia membaca artikel lagi.

“Penulis dan mantan VJ, Lee Sunghee (18) tewas dengan cara mengenaskan di apartemennya. Ketiga kakak laki-lakinya pun tewas dengan cara yang sama. Diduga, Sunghee bunuh diri setelah membunuh kakak laki-lakinya yang bernama Lee Sungmin (25), direktur perusahaan mobil terkenal di dunia. Beberapa orang saksi mata sempat melihat kejadian ini karena pintu apartemen sedang terbuka sedikit. Menurut saksi mata, Lee Donghae (24) tewas karena dibunuh seorang lelaki tidak dikenal. Seorang saksi lainnya mengatakan bahwa pembunuh itu adalah kakaknya sendiri, Lee Sungmin. Saksi berani berkata demikian karena Lee Hyukjae (24) anak kedua keluarga tersebut memanggil nama kakaknya pada lelaki misterius itu. Setelah diidentifikasi lebih lanjut, lelaki itu sebenarnya bernama asli Kim Heechul (28), seorang komikus yang bersahabat baik dengan Lee Hyukjae.” Pelayan datang memberikan pesanan Kibum. Kibum tersenyum dan meminum minuman dingin itu. Dia lalu melanjutkan membaca.

“Adegan pembunuhan itu sempat terekam dengan kamera CCTV yang dipasang di setiap lorong apartemen mewah tersebut. Di sana terlihat dengan jelas bahwa Sunghee menusukkan pisau ke tubuh Sungmin. Ia melakukannya dua kali hingga Sungmin tewas di tempat. Setelah membunuh kakaknya, gadis yang semenjak kecil selalu dirawat ketiga kakaknya itu langsung menancapkan pisaunya ke jantungnya sendiri. Sekitar 30 menit kemudian, beberapa polisi dan petugas ambulans datang. Rekaman sengaja tidak dipublikasikan mengikuti permintaan kerabat jauh keluarga tersebut.” Kibum meneguk minumannya lagi. Dia melirik keluar kafe, masih panas dan sepertinya juga masih macet. Kibum pun kembali membuka-buka halaman koran tersebut. Dia menemukan artikel lain.

“Ruang 415 Apartemen Seoul disegel sementara, Eternal Life tidak akan dilanjutkan,” Kibum membaca judulnya. “Setelah kasus pembunuhan yang membuat gempar semua orang, polisi memutuskan untuk menyegel ruangan itu sementara. Di depan pintu terdapat beberapa karangan bunga dan ucapan selamat jalan dari fans Lee Sunghee. Kepergiannya benar-benar menggemparkan semua orang. Pasalnya, Lee Sunghee sedang membuat sekuel dari film Eternal Life yang disutradarai oleh dirinya sendiri. Karena kematiannya, terpaksa sekuel Eternal Life tidak bisa dilanjutkan dan akhir cerita tetap menggantung. Padahal rencananya, di film tersebut ketiga kakaknya akan ikut ambil bagian. Fans terpaksa menggigit jari. Mereka sudah menunggu-nunggu kelanjutan dari film yang mengusung tema kehidupan tersebut.

“Ruangan 415 akan disegel selama sebulan ke depan. Beberapa polisi masih menyelidiki kasus pembunuhan tersebut. Bahkan Detektif Kim Jongwoon (27) ikut terlibat dalam penyelidikan. Yang mengherankan, kasus ini ada hubungannya dengan kasus tertabraknya Lee Taemin (18), seorang siswa kelas 3 SMA ternama di Seoul. Sebab, mobil yang menabrak Taemin tak lain dan tak bukan adalah milik Lee Sungmin. Beberapa orang mengatakan bahwa kasus tabrakan itu disengaja. Taemin sudah menghindar namun mobil itu masih menerjang ke arahnya.” Kibum menggelengkan kepalanya perlahan. Benar-benar sulit dipercaya. Keluarga yang cukup terpandang itu tewas secara tiba-tiba.

“Kasus pembunuhan 415 ya?” ucap seseorang di sebelah Kibum. Kibum menoleh ke arah lelaki itu. Mereka berdua pun tersenyum. Kibum mempersilahkan lelaki itu duduk di seberangnya.

“Namaku Park Jungsoo, aku yang menerbitkan novel Eternal Life ciptaan Lee Sunghee. Aku juga produser film tersebut.” Jungsoo mengulurkan tangan.

“Kim Kibum, aku sahabat Sunghee.” Mereka pun berjabat tangan.

“Ah, sudah pesan?” tanya Kibum.

“Tidak usah, aku sudah kenyang.” Jungsoo tersenyum lagi.

“Oh maaf, tadi anda bilang kasus pembunuhan 415?” tanya Kibum.

“Ya. Semua orang menyebutnya begitu,” Jungsoo terkekeh. “Oh ya, panggil saja aku Jungsoo hyung. Tidak usah terlalu formal. Kau masih sekolah ya? Kau tampak muda sekali.”

“Ne, hyung. Tapi aku sudah ikut ujian, aku akan bebas dari sekolah.” Kibum terkekeh.

“Aku sangat menyangkan kepergian 4 orang itu. Terutama si bungsu. Rencana kami untuk membuat Eternal Love 2 gagal total. Padahal kami sudah mengkasting pemainnya.”

“Benarkah? Bukankah novelnya belum selesai?”

“Memang belum. Tapi Sunghee berpesan padaku untuk mencarikan pemain untuk peran baru dalam sekuelnya.” Kibum mengangguk paham. Dia pun membuka-buka koran itu lagi. Dia pun berhenti pada sebuah artikel.

“Pemakaman Lee Sungmin, Lee Hyukjae, Lee Donghae, dan Lee Sunghee dihadiri oleh puluhan orang.” Kibum membaca judulnya. Dia lalu melirik Jungsoo. Lelaki itu tersenyum ke arahnya.

“Lanjutkan membaca,” katanya. Kibum mengangguk.

“Pemakaman yang dilaksanakan di tempat pemakaman keluarga di daerah Mokpo dihadiri oleh puluhan orang. Mereka terdiri dari rekan kerja, kerabat, serta orang-orang terdekat. Para pemain Eternal Life dan teman SMA Lee Sunghee pun datang. Untuk fans Sunghee terpaksa menunggu di luar. Pemakaman berlangsung lancar. Suara tangis memecahkan keheningan tempat pemakaman tersebut. Mereka berempat dimakamkan di samping makam orang tuanya. Yang sedikit mengejutkan, hanya ada satu-dua orang keluarga Lee yang menghadiri pemakaman tersebut. Bahkan rekan kerja keluarga Lee yang berasal dari London, Amerika, Jepang, Australia, Indonesia, dan beberapa negara lain pun menghadiri pemakaman tersebut.”

“Aku kurang setuju dengan kata ‘puluhan’ di artikel itu,” komentar Jungsoo ketika Kibum selesai membaca. Kibum menatap Jungsoo.

“Aku menghadirinya dan banyak sekali yang datang. Pemain di film Eternal Life beserta kru pun datang semua. Rekan sesama penulis seperti Lee Hyorin dan Choi Yoonmi pun menghadiri pemakaman itu,” jelas Jungsoo. Kibum terdiam.

“Tapi aku tidak melihatmu. Kau kemana?” tanya Jungsoo.

“Aku sedang berada di luar negeri. Tak ada yang memberi tahuku tentang hal ini. Aku baru datang ke Korea tadi malam pukul 10.”

“Pantas saja kau tampak kelelahan.” Kibum tersenyum mendengarnya.

“Ngomong-ngomong, kau mau kemana setelah ini?” tanya Jungsoo.

“Apartemen Seoul.”

“Ruang 415?”

“Ne. Kalau hyung?”

“Rencananya setelah ini aku akan pergi ke studio. Tapi sepertinya pergi ke Apartemen Seoul lebih menarik.”

“Wah…aku tidak akan melakukan apa pun kok di sana.” Kibum tertawa. Jungsoo tersenyum.

“Kalau begitu… apa kau ingin kukenalkan pada seseorang?”

“Siapa?”

“Detektif Kim Jongwoon. Dia sahabat baikku. Kalau kau tahu sesuatu tentang kasus itu, kau bisa berdiskusi dengannya. Dia detektif handal.”

“Begitukah? Hm..baiklah. Sekarang?”

“Ke Detektif Kim? Mungkin bisa kalau dia tidak sibuk.”

“Kuharap tidak. Aku ingin mencari rekaman video CCTV itu, apa Detektif Kim memilikinya?”

“Ya. Dia butuh itu untuk penyelidikan. Kenapa memangnya?”

“Ah aniyo. Aku hanya ingin melihat rekamannya saja,” elak Kibum.

“Keurae…sudah selesai kan minumnya? Lebih baik sekarang saja menemui Detektif Kim, beberapa jam lagi dia pasti sudah berada di luar rumah.”

= = =

“Sunghee ah…jebal..jangan seperti ini.. aku tidak tega melihatmu seperti ini, Sunghee..” Donghae berlutut di hadapan adiknya. Namun Sunghee masih diam.

“Eh? Kakak kedua dan ketigamu hanya berbeda 5 bulan? Bagaimana mungkin?” Kibum kaget.

“Perkembangan embrio yang satu agak telat. Hyukjae hyung lahir lebih dulu, 5 bulan kemudian Donghae hyung menyusul karena perkembangan embrionya telat.”

“Seharusnya mereka kembar?”

“Entah.” Sunghee cuek. Kibum berdecak kagum.

“Keluargamu benar-benar unik! Kau sendiri kenapa memanggil kakakmu dengan sebutan hyung?”

“Sejak aku berumur 3 tahun, aku dirawat oleh mereka bertiga. Yah…dengan bantuan tetangga juga sih. Tetapi karena di rumah hanya ada mereka, dan mereka selalu menyebutkan kata “hyung” aku yang sejak itu masih mengikuti orang lain pun mengikuti mereka. Aku mulai memanggil mereka hyung dan sampai sekarang masih begitu.”

“Wow…menakjubkan! Lalu apa lagi?”

“Kau ingin apa?”

“Kapan kau memanggil mereka oppa?”

“Kalau kami sudah dekat dengan ajal mungkin?” Sunghee terkekeh. Kibum tersenyum. Dia menatap kekasihnya dengan sayang. 2 bulan yang lalu mereka mulai membina sebuah hubungan.

“Tak kusangka ya…akhirnya kau mengingatku juga,” ucap Kibum.

“Ne…usahamu berhasil. Kau bahkan memohon pada kakakku untuk membantu mengembalikan ingatanku tentangmu.”

“Saat itu aku panik. Kalau panik aku bisa melakukan apa pun tanpa berpikir.”

“Geojitmal.” Sunghee terkekeh. Dia menatap ke arah langit. Kibum mengikuti arah pandangannya. Mereka berdua sedang duduk di lantai atas gedung sekolah. Langit sudah mendung dan tetes hujan pertama mendarat di ujung hidung Sunghee. Gadis itu pun membersihkannya.

“Sudah mau hujan. Pulang yuk,” ajak Kibum.

“Shireo..aku masih ingin di sini..”

“Kalau begitu ke pinggir sana, ada atap yang bisa menghalangi kita dari hujan.” Sunghee mengangguk. Mereka berdua pun menepi. Hujan mulai deras.

“Sunghee yah..”

“Ne?”

“Kalau aku pergi, kau akan menungguku, kan?”

“Tentu.”

“Saranghae..” bisik Kibum. Sunghee tersenyum. Kibum menatap mata Sunghee dalam. Perlahan, dia mendekati wajah Sunghee. Kibum pun mencium bibir Sunghee lembut. Sunghee membalas ciumannya. Tangan kanan Sunghee yang menopang tubuhnya digenggam erat dengan tangan kiri Kibum. Tangan kanan Kibum memegang belakang kepala Sunghee. Gadis itu meletakkan tangan kirinya di pundak Kibum. Mata mereka terpejam. Sesaat mereka berhenti untuk mengambil napas dan berciuman kembali. Mereka tidak peduli hujan deras dan baju mereka mulai basah terkena percikan air hujan. Akhirnya Kibum melepaskan ciumannya. Rambutnya mulai basah terkena air hujan.

“Kuantar pulang ya. Hujannya sangat deras.” Kibum berdiri. Dia pun membantu Sunghee berdiri. Tapi Kibum tidak melepaskan tangannya. Bergandengan tangan, mereka berdua berjalan ke dalam sekolah.

“Aku akan mencari Choco saja.” Hyukjae berdiri dari duduknya dan melayang keluar. Sungmin tidak kelihatan sejak tadi. Dia menghilang tiba-tiba. Chaerin tertidur di meja makan. Raeki menghela napas. Dia menatap ke sekeliling apartemen, mencari sesuatu yang harus dibereskan lagi. Tak sengaja matanya menangkap sebuah surat yang terselip di jendela. Raeki menghampiri jendela itu dan mengambil suratnya. Donghae menoleh ke arahnya.

“Dari Sungmin oppa!” kata Raeki ceria. Donghae langsung melayang menghampirinya. Mereka berdua membaca surat itu.

“Mianhae, aku tidak memberitahu kalian bahwa aku sudah tenang. Aku sudah pergi ke sana. Hal yang selama ini kucari sudah kutemukan. Aku mencari kehangatan. Dan aku menemukannya dari kalian. Apalagi dengan hadirnya Raeki dan Chaerin, aku tidak khawatir tentang apartemen itu. Urusan pekerjaan, aku sudah menemukan orang yang cocok untuk menggantikan posisi kami. Maafkan semua kesalahanku. Sampai bertemu kapan-kapan. Untuk ketiga adikku, cepatlah ke mari. Susul aku. Jangan terlalu lama berdiam diri di dunia yang kejam. Arrasseo? Jaga diri baik-baik meskipun aku tahu kalian bertiga tidak usah dijaga lagi. Setidaknya jagalah Raeki dan Chaerin. Sudah ya. Annyeonghi gyesaeyo.” Donghae dan Raeki bertatapan heran.

= = =

Sekarang, Kibum sedang berdiskusi besama Detektif Kim dan Jungsoo.

“Ternyata apartemen itu sudah ada pemilik baru,” Jungsoo memulai. Kibum mengangguk menyetujui.

“Padahal kalau belum dipakai akan kutempati,” timpal Detektif Kim. Jungsoo dan Kibum tertawa pelan mendengarnya.

“Yang menempati itu dua orang sahabat Sunghee dan Yoonmin kan?” tanya Jungsoo.

“Siapa Yoonmin?” Kibum mengerutkan kening.

“Sahabat Sunghee. Mereka bertemu karena kecelakaan,” jelas Jungsoo.

“Kau tahu banyak hal ya.” Detektif Kim menyeruput kopinya.

“Yah…Aku sudah lama mengenal keluarga itu.”

“Bahkan aku yang sejak kecil berteman baik dengan keluarga itu pun tidak tahu Yoonmin siapa,” Kibum menimpali.

“Hey, ayolah.. aku tahu Yoonmin karena Sunghee pernah menceritakannya padaku.” Nada tersinggung terengar di perkataan Jungsoo barusan. Kibum hanya mengangguk.

“Apa Sungmin mengidap penyakit mental?” tanya Detektif Kim tiba-tiba.

“Ne?” ucap dua orang bersamaan. Lalu dua orang itu saling pandang. Masih heran dan terkejut.

“Memangnya kenapa?” tanya Kibum.

“Come to think of it. Sungmin menabrak siswa itu dengan sengaja, dan dia pun membunuh adiknya sendiri.” Detektif Kim tersenyum penuh kemenangan. Dua lelaki lainnya mengerutkan kening.

“Memangnya rumor itu benar?”  tanya Kibum.

“Ya,” kata Detektif Kim tegas. Jungsoo memiringkan kepala.

“Bagaimana bisa kau tahu tentang itu? Semua orang meragukannya.”

“Hm…seseorang yang aku kenal menjadi saksi kejadian itu.”

“Siapa?” tanya Kibum.

“Namanya Hankyung. Dia ilmuwan dari China yang sedang berkunjung ke Korea untuk meneliti sesuatu. Dia juga tinggal di apartemen itu.” Jungsoo dan Kibum mengangguk-angguk. Detektif Kim melanjutkan, “Dia juga mau membantu kita. Dia bisa ditanyai.”

“Apa kalian masih punya jadwal setelah ini?” tanya Kibum. Detektif Kim dan Jungsoo menggeleng.

“Kalau begitu, kita ke apartemen Hankyung.”

= = =

Hyukjae sedang berjalan ke sana ke mari. Sebenarnya dia sudah menemukan Choco. Bahkan sudah mengucapkan salam perpisahan. Memang bukan Choco tujuannya masih ada di dunia ini. Dia mencari Kim Kibum. Meskipun dia membenci lelaki itu, namun ia tahu yang terbaik untuk adik bungsunya. Sunghee sangat mencintai Kibum. Hyukjae ingat, Sunghee pernah seperti itu sebelumnya, duduk diam tidak melakukan apa pun, hanya karena seorang Kim Kibum.

Dia tidak membenci Sunghee. Dia ingin Sunghee bahagia di sana. Tapi karena bebannya berat, Hyukjae sengaja berdiam diri di dunia ini dulu untuk membantu Sunghee. Urusannya sendiri sudah selesai.

Hyukjae berjalan mengelilingi jalan raya kota Seoul. Dia menatap sekeliling. Tatapannya berhenti pada tiga orang namja yang sedang berbincang serius sambil berjalan ke parkiran kafe Eternal Taste.

“Eternal Taste? Aku jadi ingat Eternal Life..” gumam Hyukjae. Dia menajamkan penglihatannya pada tiga namja itu. Dia tertegun. Itu Kim Kibum! Hyukjae pun melayang ke arah namja itu.

“Kibum yah! Aku butuh bantuanmu!!” seru Hyukjae. Tapi sia-sia. Kibum tidak bisa melihatnya. Kibum pun masuk ke mobil bersama dua namja lain dan meluncur menuju Apartemen Seoul. Hyukjae menggerutu.

“Aish…apa yang harus kulakukan? Aku harus mempertemukan Kibum dengan Sunghee!” Hyukjae mengacak rambutnya. Kemudian dia tertegun lagi.

“Perasukan?”

To be continued

13 thoughts on “[FF] Finding New Life (Sekuel Best Friend and Strange Family)

  1. ami_cutie says:

    wiw..namaku nyempil! wakakakak
    seru euy, hyukjae-donghae kayak ntantie deh…
    seru bgt, ini masih ada lanjutannya kan? dengan judul berbeda kah?

  2. haeny_elfishy says:

    la, q kira jg oneshoot trnyta masih lanjot. . .
    eh, nis hyuk jeles ga tu, kemaren sama kyu skrng sama mbum, waaa parah ni, yg penting jngn sampe sama ikanq ! wkwkwk
    lanjoot saeng . . .

  3. dhikae says:

    aku kira one shot trnyata msh to be continued
    waaaaahh seru…
    hyukjae jdi stres sndiri disini.. brb!! kekekeke

    lanjut…lanjut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s