[FF] Best Friend and Strange Family part 2

Pertama-tama, mian yah kalau ini part panjang bener. Aku mau misahin jadi ke part 3 tapi nanggung ah. Sekalian aja. Hehehehehe persiapkan jantungmu ^^

Best Friend and Strange Family part 2

Sungmin menunduk di depan makam Taemin. Dia mendoakan kepergian Taemin. Yoonmin masih terdiam menatap makam di hadapannya. Rasanya aneh melihat nama Lee Taemin tercantum di sana. Tentu saja, karena arwahnya sedang berdiri di samping makamnya sendiri. Taemin ada di sana, merenungi kematiannya.

“Jeongmal mianhae..” Sungmin terduduk. Taemin menoleh ke arah Sungmin.

“Gwaenchana, hyung..” kata Taemin pelan sambil mengelus punggung Sungmin. Sungmin menengadah. Dia menatap ke sekeliling heran. Dia lalu menatap Yoonmin.

“Taemin..ada ya?” kata Sungmin. Yoonmin mengangguk. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Sungmin ikut tersenyum.

“Dia bilang apa?”

“Dia bilang “gwaenchana, hyung..””

“Ara…gomawoyo, Taemin sshi.”  Sungmin tersenyum sambil beranjak berdiri.

“Kita ke keluarganya sekarang,” ajak Sungmin. Yoonmin mengangguk dan mengikuti langkah Sungmin. Yoonmin sempat melirik ke belakang, menatap arwah Taemin yang masih merenung di dekat makamnya. Yoonmin merasa teriris hatinya. Dia benci melihat sahabatnya bersedih.

“Ka jja,” gumam Sungmin saat mereka berdua sudah ada di dalam mobil. Mobil pun meluncur menuju kediaman Taemin.

“Oh, jadi kau yang menabrak Taemin?” Nada suara eomma Taemin meninggi. Sungmin mengangguk dengan tegas.

“Jwaesonghamnida. Saya mau melakukan apa saja agar kalian memaafkan saya. Kalian laporkan saya ke polisi juga tidak masalah.” Orang tua Taemin terdiam. Mereka masih menatap Sungmin lekat-lekat. Dengan berani, Sungmin membalas tatapan orang tua itu.

“Baiklah, kamu kami maafkan,” kata appa Taemin akhirnya. Sungmin menunduk berterima kasih.

“Tapi apa kalian tidak ingin aku melakukan sesuatu?” tanya Sungmin. Orang tua Taemin tersenyum.

“Tidak usah. Kamu meminta maaf juga sudah kami terima.” Sungmin tertegun sebentar. Dia lalu pamit. Dia pun masuk ke mobil, menghampiri Yoonmin yang menunggu di sana.

“Kenapa kau tidak ikut masuk?” tanya Sungmin ketika dia sudah berada di balik kemudi. Yoonmin hanya menggeleng. Dia menatap keluar jendela. Di depan rumah Taemin, ada sebuah taman bermain yang sudah tua. Itu tempat bermain dia dan Taemin. Dia masih ingat saat Taemin terjatuh dari monkey bars, Yoonmin langsung berteriak heboh memanggil keluarga Taemin. Alhasil, tak hanya keluarga Taemin yang datang, beberapa tetangga pun ikut heboh.

Yoonmin tersenyum sendiri mengingatnya. Namun matanya menghangat. Sungmin yang menyadarinya langsung melajukan mobilnya perlahan. Beberapa menit kemudian, dia tancap gas di tengah jalan raya Seoul.

“Sampai jumpa, Yoonmin,” Sungmin pamit. Cowok itu kembali melanjutkan perjalanannya ke apartemen. Yoonmin terdiam sebentar. Dia lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Di kamar, lagi-lagi Taemin ada di sana. Kali ini Taemin sedang tersenyum sambil menatap fotonya dengan Yoonmin saat masih SMP. Yoonmin tersenyum kecil dan menghampiri sahabatnya itu.

“Waktu berjalan dengan cepat ya..” kata Taemin.

“Yo’i! Hahaha..dulu kita innocent ya!”

“Dulu? Sekarang juga masih. Weee!!!” Taemin memeletkan lidahnya. Yoonmin tertawa dan balas memeletkan lidah. Mereka pun kejar-kejaran di dalam kamar. Yoonmin ingin menangkap Taemin tapi selalu gagal. Taemin semakin bersemangat ke sana ke mari. Apalagi dia sekarang bisa terbang.

“Kau curang! Masa terbang sih?” Yoonmin protes. Taemin hanya tertawa. Yoonmin memonyongkan bibirnya. Dia kesal dengan Taemin yang lincah ke sana ke mari.

“Hah…sialan.. harus pakai strategi..” gumam Yoonmin. Taemin asyik duduk bersila di atas lemari sambil memperhatikan Yoonmin. Tapi ternyata Yoonmin hanya duduk diam di atas kasurnya. Dia terlihat kecapekan. Taemin pun menghampiri Yoonmin dan duduk di sampingnya. Tapi tiba-tiba Yoonmin menyentuh, tepatnya menembus, tangan Taemin.

“Haha! Ketangkap kau! Aku menang..” Yoonmin tertawa senang. Taemin menggerutu.

“Huh kalau saja aku bisa megang kamu. Sudah kucekik lehermu itu!” kata Taemin. Yoonmin semakin tertawa. Taemin memang tidak bisa menyentuh Yoonmin, begitupun sebaliknya.

“Sudah ah, aku mau belajar,” kata Yoonmin sambil mengambil tasnya.

“Heh? Tumbenan…” gumam Taemin. Yoonmin mencibir.

“Sekarang aku ada kemajuan. Tidak sepertimu.”

“Enak saja…arwah begini juga aku masih suka belajar kok!” tukas Taemin.

“Ah masa? Belajar apa? Terbang?” Yoonmin terkekeh. Taemin cemberut sambil melipat tangannya di depan dada.

“Eh? Lho? Kenapa buku IPA punyaku tidak ada?” Yoonmin gusar. Taemin menghampirinya dan ikut melongok ke dalam tas. Taemin mencari di tas Yoonmin sementara Yoonmin mencari di lemari. Setelah mengobrak-abrik lemari, Yoonmin tidak menemukan bukunya.

“Aish jinja…” Yoonmin mengacak rambutnya kesal.

“Ketinggalan di rumah itu kali..” Taemin berkata.

“Hah? Rumah mana?”

“Bukan rumah sih, Apartemen Seoul ruang 415.”

“Masa iya ada di situ?” Yoonmin heran.

“Bukannya kemarin kamu belajar bersama di sana? Ingat tidak, Sunghee meminjam catatanmu?”

“Benarkah?!” seru Yoonmin. Tiba-tiba ponselnya berdering. Yoonmin membuka pesan masuk.

Yo, Yoonmin ah! Buku IPA itu masih ada di aku. Kekekeke~ Datang ke apartemenku dan ambillah!” Itu isi pesan dari Sunghee. Yoonmin menghela nafas. Tanpa bukunya, ia tidak bisa menghafal untuk besok.

“Kenapa Sunghee seakan bisa membaca pikiranku ya?” gumam Yoonmin. Taemin yang melayang di sampingnya hanya mengangkat bahu. Yoonmin pun meminjam mobil kakaknya dan berkendara menuju Apartemen Seoul.

TING..TONG… Yoonmin menekan bel. Taemin tidak ada di sebelahnya. Dia memilih bermain-main di taman apartemen. Pintu terbuka. Tapi yang keluar malah seekor anjing kecil berwarna coklat keemasan yang berlari keluar. Disusul Sunghee yang berlari mengejar anjing itu.

“Choco!!! Kalau kau kabur aku akan dibunuh Hyuk hyung… kembali!!” seru Sunghee sambil mengejar Choco, nama anjing itu. Yoonmin mengerjap bingung menatap pemandangan itu. Tapi dia kemudian dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka lebar. Ternyata Donghae yang membuka pintu.

“Oh, Yoonmin sshi! Ayo masuklah! Ada apa?” sapa Donghae ramah.

“Eng…aku hanya ingin mengambil buku catatanku yang dipinjam Sunghee.”

“Pasti ada di kamarnya. Sini masuk saja.” Yoonmin pun masuk. Donghae membuka kamar Sunghee dan menghampiri rak buku di sana.

“Catatanmu seperti apa?” tanya Donghae sambil melihat-lihat rak buku. Yoonmin melirik meja belajar dan menemukan bukunya tergeletak di sana.

“Oh! Ini dia..” Yoonmin pun mengambil bukunya. Donghae menoleh.

“Oh itu? Syukurlah ada.” Donghae tersenyum.

“Kamsahamnida, oppa. Aku pulang dulu..”Yoonmin menunduk.

“Hei, kenapa buru-buru? Kau pasti capek jauh-jauh datang ke mari. Sini, kubuatkan minuman dingin dulu.” Donghae langsung berjalan menuju dapur. Yoonmin berdiri di ruang tamu dengan canggung.

“Aniyo..tidak usah, oppa.”

“Aaah..tidak apa-apa. Anggap saja ini rumah sendiri.” Donghae tersenyum sambil menuangkan air dingin ke gelas di hadapannya.

“Eh oppa, bisa aku bertanya sesuatu?” tanya Yoonmin.

“Ne, tentu saja,” jawab Donghae sambil terus berkonsentrasi dengan minumannya.

“Sungmin oppa…mana?”

“Dia masih bekerja. Hyukjae juga. Aku sudah lembur tadi subuh. Sejak jam 3 pagi aku sudah di kantor. Makanya aku sudah pulang.”

“Jam 3 pagi? Memang ada apa, oppa?” Tanpa Yoonmin sadari, dia sudah semakin akrab dengan keluarga itu. Bahkan dengan Donghae. Aura canggung pun mulai hilang.

“Itu…banyak kerjaan. Si bos menyuruhku datang lebih pagi. Membahas tentang perusahaan.” Donghae pun membawa minumannya ke mini bar. Yoonmin duduk di kursi di sana dengan Donghae disampingnya.

“Wah..oppa pasti orang penting,” Yoonmin menunduk untuk berterima kasih sambil menerima milkshake coklat dari Donghae. “Sampai ke kantor pukul 3 pagi,” lanjutnya. Yoonmin pun meminum milkshake coklat itu.

“Ah tidak juga. Hanya sebagai manajer kok.” Donghae merendah. Yoonmin melotot.

“Mwoya? HANYA sebagai MANAJER?” Yoonmin melakukan penekanan. Donghae terkekeh.

“Sudahlah, biasa saja. Yang lebih hebat lagi itu Sungmin hyung. Dia direktur lho, dengan Hyukjae sebagai asisten direktur.”

“Kalian satu perusahaan?” Yoonmin tertarik. Tangannya terus mengaduk milkshake coklat dengan menggunakan sedotan. Donghae mengangguk.

“Berarti…Sunghee sudah punya tempat di perusahaan itu juga?”

“Tidak juga. Itu terserah dia. Kalau dia mau bekerja di sana juga, kami bisa membookingnya untuknya. Kalau tidak, kami akan mencari pegawai lain. Kau mau bekerja di sana?”

Yoonmin terkekeh. “Sepertinya aku tertarik.” Donghae tertawa.

“Silakan saja kalau mau. Kami bisa membooking dua tempat.”

“Kamsahamnida.” Yoonmin tersenyum senang.

“Oh iya, ada lagi. Choco itu anjing keluarga?” Yoonmin mengalihkan topik pembicaraan menjadi ke yang lebih ringan untuk dibahas.

“Sebenarnya itu milik Hyukjae. Sunghee membelikannya agar Hyukjae tidak sister complex padanya. Agak berhasil, tapi dampaknya makin parah.”

“Agak berhasil tapi makin parah? Maksudnya?”

“Perhatian Hyukjae sedikit teralihkan pada Choco. Tapi dia masih sering overprotective pada Sunghee. Dan aku tertular.”

“Oppa dog complex?” Donghae terbahak mendengarnya.

“Tentu saja bukan, Yoonmin ah… Sister complex maksudku.”

“Apa Sungmin oppa akan mengidap sister complex juga?” Yoonmin sudah bisa bercanda dengan Donghae.

“Hmm..mungkin. Hei, sadar tidak sadar kau selalu menanyakan tentang Sungmin hyung. Kau suka padanya?” Donghae memberikan tatapan menyelidik.

“Ani.. aku menyukai seseorang kok.”

“Siapa?” Mata Donghae berbinar.

“Yang jelas bukan oppadeul di sini. Ada kok.” Donghae mengangguk-angguk.

“Sudah jam segini, oppa. Aku pulang dulu ya.” Yoonmin berdiri. Donghae mengikutinya.

“Perlu kuantar?” tawar Donghae.

“Ah tidak usah. Aku bawa mobil.” Yoonmin pun berjalan menuju pintu. Tapi tiba-tiba pintu terbuka dan Hyukjae masuk disusul oleh Sungmin.

“Choco…Choco…dimana kamu, sayang? Sunghee! Sunghee…! Dirimu juga dimana?” kata Hyukjae langsung. Matanya mengelilingi ruangan. Sungmin hanya geleng-geleng kepala di belakangnya.

“Kau menyamakan Sunghee dengan Choco?” celetuk Sungmin. Hyukjae tidak memperdulikannya dan masih mencari Choco.

“Oh, Yoonmin ah!” seru Sungmin senang. Yoonmin hanya tersenyum terpaksa. Sepertinya rencananya pulang sekarang harus ditunda dulu.

= = =

Sunghee berlari mengejar Choco. Tak terasa dia sudah berada di taman apartemen.

“Choco! Aku capek…pusing…ayo pulang..” kata Sunghee. Choco duduk sambil menggonggong berkali-kali. Ekornya bergerak-gerak. Dia menggonggong sambil menatap kursi yang kosong. Sunghee pun menghampiri Choco. Dia mau menggendong Choco, tapi anjing itu masih terus menggonggong.

“Choco… ayo pulang….” Sunghee memelas. “Hei, kau lihat apa?” Sunghee pun mendongak. Dia tertegun sebentar.

“Oh…Taemin sshi..” kata Sunghee pelan. Taemin yang sedang menatap ke atas pun menoleh ke arah Sunghee. Sunghee menatap Taemin sebentar dan menatap ke arah yang ditatap Taemin tadi.

“Apartemenku?” Sunghee menatap curiga ke arah Taemin. Sunghee pun berdiri. Taemin masih duduk di bangku taman.

“Kenapa tidak masuk ke sana dan mengagetkan Yoonmin seperti yang biasa kau lakukan?” sindir Sunghee pelan. Taemin hanya diam. Entah kenapa dia kurang suka berada di dekat Sunghee.

“Kenapa kau masih ada di dunia ini?” tanya Sunghee sambil duduk di sebelah Taemin. Gadis itu menggendong Choco yang mulai tenang.

“Tidak apa-apa.”

“Bohong. Sudah jadi arwah, pembohong pula. Aku bisa membantu masalahmu kalau kau mau.” Taemin menghela napas. Sunghee mengelus Choco lembut.

“Tidak penting. Bukan urusanmu juga.”

“Masalah cinta kan?” Taemin menoleh ke arah Sunghee. Gadis itu masih tersenyum sambil bermain bersama Choco.

“Kubilang bukan urusanmu.”

“Kalau hanya menembak Yoonmin.. aku bisa bantu.”

“Bukan urusanmu, Lee Sunghee!” Taemin agak membentak Sunghee.

“Sebagai permintaan maafnya, Sungmin hyung pasti mau melakukan rencana ini.”

“Lee Sung…” Taemin berdiri dan nada bicaranya meninggi. Tapi perkataanya dipotong Sunghee.

“Bagaimana kalau melakukan perasukan?” Sunghee menatap lurus ke depan. Dia lalu melirik Taemin. Taemin terpaku. Selama menjadi arwah dia tidak pernah memikirkan hal perasukan.

“Perasu…kan?”

“Ne. Perasukan. Rencanaku adalah, kau merasuki tubuh Sungmin hyung dan menyatakan cintamu pada Yoonmin. Tapi jangan lupa menyebutkan namamu. Setelah itu kau keluar dari tubuh hyung dan kau bisa ke sana dengan tenang.”

“Gila.”

“Kalau tidak gila, bukan Sunghee namanya.” Sunghee tersenyum setengah. Taemin terdiam lagi.

“Setelah ke sana, aku tidak akan bertemu dengan Yoonmin lagi?”

“Bisa saja kalau dia meninggal.”

“Cara lain?” Taemin mulai tertarik. Sunghee menggeleng.

“Tak ada caranya lagi arwah bertemu dengan manusia. Kecuali kalau manusia itu meninggal, baru bisa bertemu,”

“Kenapa kau paham soal begini?” Taemin curiga.

“Pengalaman mati suri…membuatku mempunyai enam indera.” Sunghee tersenyum.

“Mati suri?”

“Aku sempat meninggal karena dulu sempat jatuh dari balkon apartemen, tapi tak disangka, 2 jam kemudian aku hidup kembali.”

“Memangnya kau tidak terluka?”

“Tentu saja terluka! Tapi aku terjatuh dan mendarat di balkon lantai 2. Aku hanya jatuh 2 lantai jadi tidak terluka terlalu parah.”

“Sempat meninggal tidak terlalu parah ya…” gumam Taemin. Dia pun duduk di samping Sunghee kembali.

“Yah…begitulah. Karena itulah ketiga hyungku mulai overprotective. Tapi yang parah itu ya Hyukjae hyung.”

“Ya aku tahu. Dia terlalu sayang padamu.”

“Awalnya aku senang-senang saja. Lama kelamaan mereka mengganggu juga. Kau tidak tahu penderitaanku. Setiap malam, Hyukjae hyung selalu masuk ke kamarku hanya untuk memastikan suhu tubuhku. Setiap pagi, Donghae hyung selalu membangunkanku dan tidak lupa mengecek suhu tubuhku. Dan setiap pulang sekolah, Sungmin hyung selalu izin dari kantor dan membawaku ke rumah lalu kembali bekerja lagi. Bukankah itu berlebihan? Kapan aku mandirinya?” Taemin tersenyum.

“Mereka sayang padamu. Kau juga seharusnya menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangimu. Sebelum terlambat.”

“Oh yeah.. brother complex, huh?” Taemin tertawa. Sunghee tersenyum.

“Jadi bagaimana? Mau melakukan perasukan saja?” Sunghee mengalihkan topik.

“Hm…bisa dicoba.” Mendengarnya, senyum Sunghee melebar.

= = =

Sunghee berdiri di depan ruangan nomor 415 itu sambil menggendong Choco. Taemin melayang di sebelahnya.

“Apa kau yakin ini akan berhasil?” Taemin cemas. Sunghee tersenyum.

“Mungkin.” Dia pun membuka pintu. Taemin menganga.

“Yah! Apa maksudmu dengan mungkin?!” seru Taemin. Sunghee langsung disambut oleh Hyukjae dan Donghae.

“Dongsaeng ah! Sini!” Donghae menarik Sunghee sementara Hyukjae menangkap Choco yang melompat ke arahnya. Donghae memeriksa suhu tubuh Sunghee. Dia lalu berlari ke kamarnya dan keluar membawa alat pengukur tekanan darah. Sunghee menganga.

“H-hyung…apa-apaan?” tanya Sunghee heran sambil menatap lengannya yang mulai dipasangi alat itu. Hyukjae memperhatikan sambil masih menggendong Choco. Sungmin hanya menghela napas. Yoonmin terbengong-bengong menatap pemandangan di hadapannya.

“Masih rendah. 90/70. Taikkan lagi!” Donghae bergegas ke dapur dan membawa sebungkus cemilan kacang.

“Nih, makan kacang-kacangan bisa menambah tekanan darah.” Sunghee menerimanya dengan heran. Donghae pun membereskan alat itu dan berlalu ke kamarnya lagi. Choco yang ada di gendongan Hyukjae pun mulai menggonggong lagi saat melihat Taemin.

“Hei, cinta. Kenapa kamu?” Hyukjae mengelus kepala Choco dengan sayang. Sunghee begidik melihatnya.

“Sunghee sshi, kapan perasukannya?” bisik Taemin. Sunghee yang sedang membuka kulit kacang pun tertegun. Kulit kacang itu hancur dan terceceran di lantai. Yoonmin melirik ke arah Taemin. Matanya membesar. Sunghee yang menyadarinya langsung punya ide.

“Hyukjae hyung! Choco sepertinya butuh jalan-jalan! Yoonmin ah, kau mau mencari games terbaru kan? Hyuk hyung bisa menemanimu,” ucap Sunghee. Hyukjae pun mengajak Yoonmin keluar. Yoonmin mencurigai sesuatu. Taemin hanya terdiam sambil menatap ke luar jendela.

“Masih pakai rencana A?” tanya Donghae. Sunghee mengangguk.

“Gwanchana, hyung?” Sunghee bertanya pada Sungmin. Sungmin hanya mengangguk ringan. Sunghee menatap Taemin. Taemin tampak ragu.

“Masuk ke tubuhnya dan selesaikan semuanya,” perintah Sunghee. Taemin menatap Sunghee khawatir.

“Bagaimana kalau aku tidak bisa keluar dari tubuh hyung? Bagaimana kalau arwah hyung tidak bisa kembali ke tubuhnya?” tanya Taemin. Donghae juga tampak cemas. Sungmin masih tampak tenang.

“Aku mati pun tidak masalah,” ucapnya.

“Keurae… aku yang bertanggung jawab. Tenang saja.” Sunghee menghampiri Sungmin. Dia membacakan sesuatu sambil menutup kedua mata Sungmin. Setelah selesai, Sungmin membuka matanya. Dia sekarang dapat melihat Taemin.

“Hello, Taemin.” Sungmin tersenyum. Taemin masih tampak ragu.

“Apa aku bisa melihat Taemin juga?” Donghae antusias.

“Kau tidak hanya melihat Taemin berarti. Kau bisa melihat yang lainnya juga.”

“Tak masalah.” Sunghee mengangguk dan menghampiri Donghae. Dia pun melakukan hal yang sama pada Donghae. Donghae sekarang bisa melihat Taemin.

“Wow…imut!” komentar Donghae saat melihat Taemin.

“Hyung, selama Taemin ada di tubuhmu, kau akan berada di posisi Taemin. Jangan pergi kemana-mana. Kalau sehari tidak kembali ke tubuhmu, kau bisa benar-benar pergi,” kata Sunghee dengan serius.

“Resikonya besar, Sunghee. Kau yakin?” Donghae makin khawatir. Hanya Sungmin yang tenang.

“Aku belum pernah seyakin ini.”

“Kali ini kau menggunakan keyakinan, Sunghee. Bukan firasat. Biasanya firasatmu selalu benar. Tapi kali ini…?”

“Tenanglah, hyung. Hanya sebentar.” Sunghee menepuk bahu Donghae.

“Nah, Taemin ah, lakukan sekarang,” titah Sunghee. Taemin menatap ragu pada Sungmin. Dia akhirnya mendekati Sungmin. Dia pun masuk ke dalam tubuh Sungmin dan mengeluarkan arwah Sungmin. Mereka berganti posisi.

“Aku akan di sini menemani Sungmin hyung. Kalian keluarlah,” kata Donghae. Sunghee mengangguk. Dia dan Taemin yang sudah berada di dalam tubuh Sungmin pun keluar ruangan dan menghampiri Yoonmin di toko games.

= = =

“Suka main starcraft?” tanya Hyukjae pada Yoonmin yang asyik memilih games starcraft.

“Lumayan…” balas Yoonmin.

“Temanku saat SMA juga senang bermain starcraft. Mereka masternya.”

“Hmm..” Yoonmin hanya bergumam sambil terus melihat-lihat. Tiba-tiba ponsel Hyukjae berdering.

“Yobosaeyo?” Hyukjae membalas telepon. “Oh..ne..” Hyukjae pun keluar toko games. Di seberang sana, di balik pohon besar, Sunghee meneleponnya. Ada Taemin di sampingnya. Hyukjae mengerti. Dia pun masuk kembali ke toko games.

“Yoonmin ah, sudah selesai?”

“Yang ini saja..” Yoonmin menunjuk sebuah CD. Hyukjae mengambilnya dan membayarnya di kasir. Dia lalu memberikan bungkusannya ke Yoonmin.

“Choco mau ke taman seberang. Ayo!” Hyukjae menarik tangan Yoonmin. Mereka menyeberangi jalan raya Seoul yang besar dan sampailah di taman itu. Choco langsung berlari ke sana ke mari dengan riang. Hyukjae tertawa melihatnya. Yoonmin hanya diam. Di kejauhan, Sunghee dan Taemin sudah siap dengan rencananya.

“Hana…dul…set!” Sunghee mendorong tubuh kakaknya. Taemin hampir terjatuh. Akhirnya dia melangkah ke arah Yoonmin yang asyik menatap orang-orang.

“Yoonmin ah..” kata Taemin. Yoonmin menoleh ke arah Taemin.

“Oh, Sungmin oppa!”

“Bukan..ini Taemin..” Yoonmin tertegun. Taemin tersenyum. Hyukjae asyik berjalan mengikuti Choco. Dia lalu menghampiri Sunghee.

“Taemin? Ahahahaha pasti bercanda!” Yoonmin terbahak. Taemin cemberut. Dia lalu berlutut di hadapan Yoonmin. Dia mengeluarkan sebuah kotak beludru dan membuka isinya. Dia lalu menyodorkannya pada Yoonmin.

“Yoonmin ah, ini aku. Aku sengaja masuk ke tubuh Sungmin hyung untuk memberikan ini. Kalau arwah tidak bisa memberikan cincin ini. Tidak bisa menyentuhmu. Ini permintaan terakhirku, terimalah cincin ini. Setelah itu aku akan pergi.” Taemin bersungguh-sungguh. Yoonmin jadi terdiam.

“Taemin ah…” Akhirnya Yoonmin percaya. Taemin tersenyum. Dia lalu memakaikan cincin itu di jari manis Yoonmin.

“Saranghae..” ucapnya. Yoonmin tersenyum.

“Na ddo saranghae..” Taemin mendekatkan wajahnya ke wajah Yoonmin. Tapi kemudian dia tersenyum.

“Aku tidak bisa menciummu. Ini bibir Sungmin hyung. Aku tidak rela.” Taemin tertawa. Yoonmin terkekeh.

“Kau terlalu innocent untuk melakukannya,” ejek Yoonmin. Taemin tertawa lagi. Kali ini makin keras. Mereka berdua bertatapan. Pancaran kedua matanya menyiratkan cinta.

= = =

Sunghee, Hyukjae, dan Choco kembali ke apartemen mereka. Sunghee merasa senang bisa membantu Taemin. Hyukjae sendiri sepanjang perjalanan selalu asyik dengan anjingnya.

“Kira-kira Donghae hyung dan Sungmin hyung sedang apa ya?” gumam Sunghee.

“Apa kau tidak bisa memanggil kami oppa?” Hyukjae gerah.

“Kenapa kau jadi seperti Donghae….HYUNG!!!” Sunghee terkejut melihat pintu apartemen yang terbuka dan terdapat bercak darah di depannya. Bercak darah itu memanjang. Seperti terseret seseorang. Sunghee berlari ke dalam. Hyukjae yang tak kalah syok langsung mengikuti. Darah itu menuju ke kamar Donghae. Sunghee langsung menggenggam tangan Hyukjae. Dia melirik takut ke dalam kamar. Sunghee menahan napas. Pasalnya, di kamar itu, Donghae terbaring tidak berdaya dengan darah di sekujur tubuh. Di hadapannya ada seorang laki-laki yang membersihkan pisau. Lelaki itu menoleh ke arah mereka berdua. Choco langsung melompat turun dan menggonggong ke arah lelaki itu.

“Sungmin hyung?” Hyukjae terkejut. Ternyata Sungmin mengambil alih tubuh orang lain dan membunuh adik kandungnya sendiri.

“Wae?” Sungmin menyeringai sadis. Sunghee langsung sembunyi di belakang punggung Hyukjae.

“Sungmin hyung…apa yang kau lakukan..?” tanya Hyukjae lagi. Dia mengencangkan genggaman tangannya karena tubuh Sunghee bergetar karena takut.

“Kalian tidak pernah tahu kalau aku seorang pshyco. Aku membunuh Taemin dengan sengaja,” kata Sungmin.

“Ke..kenapa?” Hyukjae mundur karena Sungmin berjalan mendekati mereka.

“Karena aku benci semua orang. Aku juga membencimu, Hyukjae. Dan juga kau, Sunghee. Yang paling aku benci adalah Sunghee. Dia penyebab orang tua kita meninggal.”

“Bukan dia penyebabnya! Dia juga ada di dalam kecelakaan itu! Bukan dia penyebabnya!” Hyukjae membela adik kesayangannya. Sunghee makin mundur. Di belakangnya adalah mini bar. Ada sebuah pisau di laci. Sunghee membukanya dengan gemetar dan mengambil pisaunya.

“Minggir kau, Hyukjae. Adikmu akan membunuhmu.” Sungmin menunjuk Sunghee yang memegang pisau. Hyukjae berbalik. Sungmin menerjang punggung Hyukjae namun dia kalah cepat. Sunghee menepis tangan Sungmin yang memegang pisau dan pisau itu terlempar. Sunghee menginjak dada Sungmin. Dia berlutut dan menempelkan pisau itu ke leher kakaknya.

“Kalau benci padaku, bunuh saja aku. Jangan bunuh yang lain!” seru Sunghee. Sungmin menyeringai. Dia pun menyingkirkan tubuh Sunghee dengan satu hentakan. Kali ini Sungmin langsung mencengkram leher adiknya kuat dan mengambil alih pisau di tangan adiknya. Sunghee mulai kehabisan napas. Melihatnya, Hyukjae langsung menendang tubuh Sungmin sehingga cowok itu tersungkur ke samping. Sunghee pun berjalan ke kamar Donghae dengan diam-diam.

“Mianhae, hyung. Untuk kali ini saja biarkan aku memukulmu!” Hyukjae pun menjok ulu hati Sungmin. Tidak puas, dia kembali menonjok pipinya. Sungmin terbatuk dan mengeluarkan darah.

“Ini bukan tubuhku…Hyukjae yah..”

“Aku tahu ini tubuh Kim Heechul! Kau apakan dia, hyung? Dia sahabat baikku sejak SMA!!!” Hyukjae histeris. Dia pun memukulkan belakang kepala Sungmin ke lantai. Sungmin meringis kesakitan.

“Mianhae..”

“Untuk apa minta maaf?! Aku hanya bertanya kau kemanakan Heechul?!” Hyukjae menonjok perut Sungmin. Sungmin pasrah. Tapi dia punya rencana.

“Kau…susul..saja dia!” Dengan sekali gerakan, Sungmin menancapkan pisaunya ke jantung Hyukjae. Hyukjae pun tewas. Sungmin bangkit berdiri. Dia berjalan menuju kamar Donghae, tempat dimana Sunghee berada.

Di dalam kamar, Sunghee meringis menatap jasad Donghae yang terkapar di atas tempat tidur. Tubuhnya sudah penuh darah. Sunghee mengambil selimut di lantai dan menutupi tubuh Donghae dengan selimut itu. Sunghee membelai wajah mendiang kakaknya lembut sebelum menutupinya dengan selimut putih itu.

“Tenang di alam sana…oppa..” kata Sunghee. Suara langkah kaki mendekat. Sunghee menggenggam erat pisau kecil yang ada di laci kamar Donghae. Donghae biasa menggunakannya untuk mengukir kayu. Dia senang mengukir kayu karena mantan pacarnya senang melakukan hal tersebut. Sunghee menarik napas. Dia membulatkan tekad dan berbalik. Sungmin pun menerjang tubuh adiknya itu. Dengan gesit, Sunghee melawannya. Sunghee menggoreskan pisau itu ke lengan kakaknya.

“Sayangilah adikmu, oppa!” desis Sunghee. Sungmin menatapnya tajam. Dia menendang kaki Sunghee dan gadis itu tersungkur. Sungmin pun menancapkan pisaunya ke lengan Sunghee. Dia mengerang kesakitan.

“Kau anak sial! Selama ini memanggil kami hyung… kau pikir kami senang dipanggil begitu?!” Sungmin menendang kaki adiknya. Darah di terus keluar dari tangan Sunghee. Gadis itu mulai kekurangan darah.

“Sini, kubantu kau.” Sungmin menggoreskan pisaunya yang telah penuh dengan darah ke kaki gadis itu.

“Oppa…mianhae..” bisik Sunghee. Sungmin menatap adiknya.

“Mianhae? Aku tidak butuh.” Sungmin bersiap untuk menancapkan pisaunya ke jantung Sunghee, namun tangan gadis itu menghalanginya. Dengan gemetar, Sunghee menghalangi pisau itu.

“Setidaknya…tunggu Taemin..tubuhmu…” Sungmin pun menurunkan pisaunya.

“Baik.” Sungmin berdiri. Dia pun keluar ruangan. Sunghee mencoba berdiri. Dia berjalan ke lemari baju. Dia menyobek sebuah baju dan mengikatkannya ke luka-lukanya untuk menghentikan pendarahan sementara. Dengan terpincang, dia masuk ke ruang TV dimana Sungmin sedang duduk diam. Sunghee melirik lantai. Hyukjae terkapar di sana. Napas Sunghee tercekat. Kakak yang meskipun sister complex padanya, tetapi dia sangat menyayanginya. Hyukjae adalah kakak tersayangnya. Sunghee menghampiri jasad Hyukjae. Dia membuka hoodienya dan menutupi wajah kakaknya.

“Selamat tinggal, oppa. Sampai jumpa sebentar lagi.” Sunghee terduduk. Dia menunduk di samping jasad kakaknya.

= = =

Sementara itu, Taemin dan Yoonmin masih asyik menikmati waktu mereka berdua di taman itu. Mereka berjalan-jalan sambil bergandengan tangan.

“Hei, kalau kau menggunakan tubuhnya…Sungmin oppa dimana?” tanya Yoonmin. Taemin tertegun. Dia menatap Yoonmin.

“Aku punya firasat buruk..” ucap Taemin pelan. Yoonmin heran. Sedetik kemudian, Taemin menarik tangan Yoonmin menuju apartemen itu.

“Taemin ah! Ada apa??”

“Berhenti memanggilku Taemin! Nanti ada yang curiga..” Yoonmin pun menutup mulutnya. Taemin mendekati ruangan 415 itu.

“413…414…415…” hitung Taemin. Dia membuka pintu apartemen. Dan terkejutlah dia melihat apartemen itu penuh darah. Yoonmin tersentak. Sungmin menatap mereka berdua tajam. Sunghee mendongak. Wajahnya sudah pucat.

“A-apa…yang terjadi?” tanya Taemin.

“Kembalikan tubuhku,” kata Sungmin singkat. Yoonmin menatap Sunghee. Dia pun langsung berlari ke arah sahabatnya itu.

“Sunghee ah, gwaenchana?” Yoonmin khawatir. Sunghee menggeleng. Dia sudah nyaris pingsan. Darah masih keluar. Dia hampir mati. Dia menatap Sungmin. Cowok itu sedang menghampiri tubuhnya sendiri.

“Bagaimana aku bisa kembali?” tanya Sungmin. Sunghee berdiri sambil menenteng sebuah pisau. Dia lalu menancapkannya ke jantung milik Heechul. Arwah Sungmin melayang dan langsung masuk ke tubuhnya. Arwah Taemin terlempar keluar. Tapi kemudian perlahan arwahnya menghilang.

“Taemin ah!” seru Yoonmin. Dia ingin menghampirinya tapi arwah Taemin keburu menghilang. Yoonmin terpaku.

“Urusannya sudah selesai. Dia akan tenang di sana,” kata Sunghee.

“Andwae…aku ingin menyusulnya!” Yoonmin histeris. Sunghee memegang tangan Yoonmin dengan tenaganya yang masih tersisa. Yoonmin menatap Sunghee. Gadis yang lebih muda sedikit darinya itu menggelengkan kepalanya. Yoonmin pun terdiam.

“Sudah cukup?” kata Sungmin kesal.

“Ya. Bunuh aku,” kata Sunghee. Yoonmin tersadar. Sungmin akan menancapkan pisaunya ke jantung Sunghee namun Yoonmin menghalanginya. Alhasil malah jantungnya yang terkena tusukan pisau Sungmin. Sunghee terpaku. Tubuh Yoonmin ambruk. Dia pun meninggal. Sunghee marah. Dia menendang perut Sungmin dengan kekuatannya yang masih tersisa. Sungmin tersungkur. Sunghee mengambil alih pisau Sungmin dan menancapkannya di paru-paru Sungmin. Dia mencabutnya dan menancapkannya lagi. Sungmin terbatuk. Gerakannya melemah. Jantungnya pun berhenti berdetak. Dia meninggal seketika. Sunghee terduduk. Dia menunduk. Air matanya mengalir.

“O-oppadeul…chingudeul…mianhae..” Sunghee mengacungkan pisau itu dan menancapkannya ke jantungnya sendiri. Dia pun pergi menyusul saudaranya dan sahabatnya.

= = =

Sebulan kemudian, dua orang gadis berumur 19 tahun dan pria petugas Apartemen Seoul berjalan berdampingan di lorong yang sepi. Gadis itu membawa tas kecil dan sebuah kertas mungil. Koper besarnya dibawa oleh petugas apartemen.

“Ruang 415?” gumam gadis yang lebih pendek ketika menemukan tempat yang dicari. Petugas apartemen mengangguk dan membuka kuncinya. Pintu pun terbuka sedikit. Tapi dia tidak masuk. Dia menatap dua gadis di sebelahnya dengan cemas.

“Kang Raeki sshi, Choi Chaerin sshi,  apa kalian yakin untuk tinggal di sini?” tanya petugas itu pada dua gadis itu. Raeki dan Chaerin mengangguk mantap.

“Kalian tahu kan berita tentang ruangan ini?” Nada cemas jelas terdengar dari suara pria itu. Raeki mengangguk.

“Itulah mengapa kami ke mari,” kata Chaerin. Petugas itu mengerutkan kening bingung.

“Dua sahabat SMPku dan satu kakak sepupuku meninggal karena si pemilik apartemen,” jelas Raeki.

“Yang mana? Pemiliknya ada 4.”

“Yang paling tua,” ucap Raeki dan Chaerin bersamaan.

“Tapi kabarnya…anak bungsu keluarga itu bunuh diri.” Petugas itu semakin heran.

“Memang. Itu setelah ia membunuh kakak pertamanya.”

“Sebenarnya ada apa dengan keluarga ini… aku heran.” Petugas itu menghela napas. Raeki tersenyum tipis. Chaerin hanya diam.

“Mereka hanya keluarga biasa. Yang tertua seorang pshyco. Yang kedua seorang yang sister-complex. Yang ketiga playboy. Dan yang terakhir… seorang yang pernah mati suri. Tidak ada yang spesial bukan?” Raeki tersenyum. Petugas itu mengerutkan kening.

“Kalau boleh tahu…apa kalian betul hanya sahabat anak bungsu itu?”

“Ya. Dan kami sekarang hanya ingin membantu mereka.”

Mereka? Mereka siapa?” Petugas itu semakin kebingungan. Raeki membuka pintu apartemen itu. Pintu terbuka dengan lebar dan terlihatlah mereka.

“Kami bisa mengurusi koper kami. Terima kasih bantuannya. Ini tip untukmu.” Raeki menyodorkan sebuah uang. Petugas itu berterima kasih dan pergi meski dengan wajah bingung. Mereka berdua menatap ke dalam ruangan. Mereka lalu tersenyum. Mereka pun menyeret kopernya masuk.

“Annyeong, Sunghee. Long time no see. Annyeong Donghae oppa, Hyukjae oppa, Sungmin oppa. Apa yang membuat kalian masih di sini? Apa yang bisa kubantu?” Raeki tersenyum. Mereka, keempat arwah itu, saling pandang. Mereka lalu menatap Raeki.

“Tidak perlu bantuan,” balas Sungmin. Dia sedang berdiri sambil menatap keluar jendela, memunggungi Raeki dan Chaerin.

“Aku hanya ingin bertemu dengan Choco. Dia dimana ya?” celetuk Hyukjae. Dia duduk bersila di sofa, di sebelah Donghae yang menopangkan kaki.

“Aku ingin bertemu mantan pacarku yang senang mengukir kayu sebelum aku pergi ke sana,” kata Donghae. Sunghee masih diam. Raeki lalu menatap Sunghee yang duduk di pojok ruangan yang gelap. Dia memeluk kedua kakinya yang ditekuk. Dia termenung.

“Masalahmu?” tanya Raeki. Sunghee menatap Raeki dan Chaerin perlahan.

“Aku…” Sunghee terdiam lagi. Raeki dengan sabar menunggu. Chaerin menatap kesekeliling ruangan.

“A-aku ingin…” Semua terdiam. “Aku ingin…menemukan cincin Yoonmin yang hilang,” kata Sunghee akhirnya. Semua tertegun.

“Itu permintaan sulit..” komentar Hyukjae. Dingin. Chaerin mengerutkan kening.

“Jebal… aku ingin memberikannya pada Yoonmin.”

“Apa Yoonmin masih ada di sini?”

“Tidak. Dia sudah berbahagia dengan Taemin di sana,” kata Sunghee.

“Baiklah. Aku akan membantu kalian.” Raeki tersenyum lagi.

“Apa ada masalahmu yang lain?” tanya Chaerin pada Sunghee. Sunghee menatap sahabatnya itu dengan tatapan ketakutan.

“Aku…ingin..menemukan teman masa kecilku. Juga..aku tidak ingin dibenci Hyukjae oppa..” kata Sunghee pelan. Kedua gadis itu melirik ke arah Hyukjae yang membuang muka.

“Kenapa dia membencimu?” tanya Chaerin lagi.

“Dia membenciku karena aku membuang nyawaku dengan sia-sia. Nyawa yang telah ia selamatkan dengan nyawanya.” Semua terdiam. Donghae menunduk dalam. Sungmin menghela napas. Hyukjae masih diam. Dia bertingkah seolah Sunghee tidak ada di sana.

“Karena aku bunuh diri…sulit bagiku untuk pergi ke sana. Aku terkurung di apartemen ini sampai menyelesaikan semua masalah.” Sunghee menunduk. Raeki menatapnya iba.

“Salahmu sendiri,” kata Hyukjae dingin. Sunghee makin menenggelamkan wajahnya di antara dua lututnya.

“Keurae..kami akan membantu kalian.”

= = =

“Taemin ah, tak kusangka kita bisa bersama di alam ini.” Yoonmin tersenyum.

“Ne, yeobo. Tapi…kemana cincinmu?” Taemin memperhatikan jari manis Yoonmin.

“Ini.” Yoonmin mengeluarkan kalung berbandul cincin dari balik bajunya.

“Ne?” Taemin terkejut. “Kalau ada di sini kenapa kau suruh Sunghee mencarinya di dunia?”

Yoonmin terkekeh, “Anak itu butuh pelajaran. Dia membunuh kakaknya sendiri dan membuang nyawa yang telah diselamatkan aku dan Hyukjae oppa. Kurasa dia pantas menerimanya.”

“Kau tidak menaruh dendam, kan?” Taemin khawatir.

“Mana mungkin aku dendam sama sahabat sendiri?” Yoonmin tertawa. Taemin tersenyum.

“Lalu…kau tahu kan kalau anak laki-laki yang dicari Sunghee itu sepupumu?”

“Ne. Tapi biarkan saja. Dia memang harus diberi pelajaran. Selama menunggu saatnya kembali, aku memberinya pekerjaan agar mencari cincin yang tidak hilang.”

“Dasar kau ini…lalu bagaimana nasib Choco?”

“Choco ada di rumah seseorang.”

“Rumah siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan rumah Chaerin? Aku menitipkannya.”

“Kau sengaja?”

“Yap. Biarkan kakak-adik itu berbaikan.” Mereka berdua tertawa.

“Yoonmin ah..”

“Ne?” Taemin mencium pipi Yoonmin lembut. Gadis itu terkejut.

“Saranghae yeongwonhi. Aku bisa menyentuhmu lagi,” ucap Taemin lirih.

“Na ddo saranghae yeongwonhi.” Yoonmin tersenyum senang.

THE END

22 thoughts on “[FF] Best Friend and Strange Family part 2

  1. haeny_elfishy says:

    Innalilahiwainailahirajiun . . .
    *ikut berduka cita*
    ga nyangka umin sengeri itu , hiii
    semuanya mati T.T
    kirain td yg mati hae doang, trnyta malah smuanya. . .
    tp keren koq ! thumb up lah saeng!

  2. mrschokyuhyun says:

    Huwaaaa~~nis kenapa jadi pada bunuh-bunuhan begitu? Kirain ini ff ‘normal-normal’ aja ==;

    itu apartemen serem amat yah makanya engga ada yang ngisi begitu😦 semuanya pada jadi arwah begitu

    sungmin-a ngga ada permintaan terakhir?

    • sungheedaebak says:

      entah un. aku mikir ide ff ini masih biasa-biasa aja, standar. makanya aku ‘renovasi’ biar endingnya ga terduga.

      iya… tapi kalo setannya 3 cwo ganteng sih aku mau *PLAAAAK

      hmm…pengen bikin sekuelnya. sebenarnya….ada…

  3. Ami_cutie says:

    ya ampun, sunghee-ya! aku nunggu2 ffmu yang kayak gini!
    aish, like this!
    tp gara2 denger lagu sedih, bukannya tegang, aku malah hampir nangis liat mereka bunuh2an…(gelo)

    bikin sekuelnya yaaa…jaebal..

  4. Park Eunsoo says:

    ni ff sudut pandang org2 yg dah di alam seberang semua….
    ide ceritanya boleh….
    tp endingnya kurang jelas….
    rada bingungin….^^

  5. rabbitpuding says:

    ejejeeeeeeeng ! plokplokplokplokplok.

    aku bingung ngomen apa ….
    tae : kurang kejam
    me : sst ! yang bener itu kurang sadis !
    tae : eh mian jagi…
    me : naha ente mianna ka urang ?
    tae : teuing abdi oge
    me : kita ngapain aja ntu si alam sana ?
    tae : pacaran, makan, senang2
    me : ooohhhh. yaudah !
    tae : apa ?
    me : sekarang kita pacaran yuk !
    tae : puasa, puasa puasa
    me : astagajim !! pohoooo !
    tae : tpi no problem deh, yok kita senang2 !
    me : sekalian nyari tajil ok ?
    tae : siip !
    me & tae : dadah nisaa !😀

  6. raekiyopta says:

    Ga nyangka akhirnya kaya gitu (“= =)a menegangkan, cukup romantis, menyebalkan, seru! Ternyata ada Raeki unni juga toh.. Hohoho😀
    ohya, nisa, entar kalau bikin ff sadis, gak usah segan2 masukin kata2 yg mempertajam suasana. Oceh2? Hwaiting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s