Sebuah Pertanyaan yang Tak kan Pernah Terjawab

Ini cerita udah lama banget. Aku post lagi. Tapi ini editnya. Yang asli ada di note fb dengan judul yang sama.

———————

Aku termenung di kamarku. Aku duduk di kusen jendela. Aku mengayun-ayunkan kakiku. Rasanya sejuk. Di depanku terhampar pemandangan sawah serta pegunungan yang indah. Aku ingin keadaan ini terus berlangsung hingga aku meninggalkan dunia ini. Semoga.

KRING KRING..
Seseorang membunyikan klakson sepeda.
“Hei, Rina! Ayo turun! Kita harus mengantarkan teh ke sawah!” teriak Rin, sahabatku.
“Oh, iya sebentar!” Aku langsung turun dari jendela dan menutup jendela itu rapat. Aku berlari ke lantai bawah, menemui Rin.

“Ayo, Rin! Kita ke sawah sekarang!!”
“Hei, mana tehnya? Jangan langsung naik aja dong!” Rin mencegahku. Aku langsung menepuk kening dan berlari menuju dapur. Di sana ada ibu yang sedang menyiapkan teh. Aku langsung mengambil teh itu lalu berlari ke Rin yang sudah menunggu.

“Rina hati-hati!!”
“Oops…maaf maaf. hahahhaha…” Aku hampir terpeleset. Kak Arie-kakak laki-lakiku- sampai terkejut melihatku.
“Heh, hati-hati!!”
“Iya maaf!”

Aku terus berlari ke Rin yang sedang geleng-geleng kepala melihatku. Aku tersenyum riang menghampirinya. Aku pun langsung duduk di kursi belakang sepeda kumbangnya. Rin langsung mengayuh sepedanya ke sawah. Rin mengayuh sepedanya perlahan-lahan. Aku menimati hembusan angin yang mengibaskan rambutku perlahan.

Sampai di pinggir sawah, aku turun dari sepeda Rin. Rin menyandarkan sepedanya di pinggir pohon. Dia mengikat sepeda itu agar tidak ada yang mengambilnya. Setelah selesai kami langsung menghampiri sebuah pondok di tengah sawah. Orang yang ada di pondok itu langsung bersukacita menyambut kedatangan kami. Setelah selesai, kami pulang ke rumah masing-masing.

Di sekolah…
TENG…TENG…
Lonceng telah berbunyi. Aku langsung mengalihkan pandanganku dari buku yang sedang kubaca. Teman-temanku pun sudah duduk di bangkunya masing-masing.

Kepala sekolah pun masuk dengan seorang bule. Kami langsung berpandangan satu sama lain. Kami bingung.
“Anak-anak, sekarang bapak ini akan mengumumkan sesuatu yang penting.”

Was wes wos…murid-murid saling berbisik-bisik. Bule itu pun maju selangkah. Dia tersenyum hangat.
“Good morning. Selamat pagi, nama saya Andrew. Saya datang kemari karena mau mengumumkan sesuatu yang penting. Sekolah ini telah mengadakan beasiswa ke luar negeri. Dan kami telah memutuskan siapa yang pantas untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri.”

Suara bisikan satu kelas pun kembali terdengar. Beberapa orang malah tak segan-segan melirik ke arahku. Aku hanya terdiam di bangkuku. Merasa tidak enak dilirik begitu.

“Yang berhasil mendapatkan beasiswa tersebut adalah….Marina!”

Aku tersentak. Barusan namaku disebut. Riuh tepuk tangan pun terdengar. Banyak yang memujiku malah.

“Selamat, Marina. Kau akan pergi ke Inggris lusa pagi,” ucap kepala sekolah. Aku hanya terdiam. Berusaha mencerna kejadian tadi. Kepala sekolah pun meninggalkan kelas dengan bule itu. Teman-teman sekelas langsung mengerubungiku. Mereka mengucapkan selamat. Tapi…apa ini suatu keuntungan untukku?

2 hari kemudian…
“Ibu senang kau bisa ke Inggris, tetapi jaga dirimu baik-baik disana ya. Uhuk..uhuk…” Ibu terbatuk. Aku menatapnya khawatir.
“Ibu, Rina akan baik-baik saja! Tapi Rina tidak tega meninggalkan Ibu sendirian. Coba kalau bapak masih ada.”
“Tenang saja. Kan ada kakak di sini,” ucap Kak Arie lembut. Dia mengelus kepalaku pelan. Aku langsung memeluknya.
“Kakak!! Jaga ibu baik-baik!”
“Iya. Tentu saja.”
“Jaga juga lingkungan di sini ya! Saat aku pulang aku ingin melihat sawah dan pegunungan yang asri. Ok?”
“Ya.”

Akhirnya aku harus pergi sekarang. Teman-teman menatapku haru. Aku tersenyum sambil menyeka air mataku. Aku pun dibimbing masuk ke dalam pesawat.

Sampai di Inggris, aku bertemu dengan teman-teman baru. Negeri yang asing. Cuaca yang asing. Semuanya asing.

Beberapa tahun berlalu, aku sudah menamatkan sekolahku dan bersiap pulang. Saat di luar rumah, seseorang menahanku. Aku menoleh ke arah orang itu. Seorang lelaki yang bernama Marcus menghalangiku.

“Ada apa?” tanyaku dalam bahasa Inggris.

“Ada tawaran kerja di kantorku, kau bersedia?” tanyanya. Aku termenung.

“Gajinya besar dan kerjanya tidak terlalu sulit. Tapi kau akan sering keluar negeri. Kau akan berpartner denganku,” jelasnya. Kata-katanya membuatku semakin berpikir dua kali. Lima kali mungkin.

“Tapi…aku harus kembali ke keluargaku.”

“Kau bisa kembali setelah menerima pekerjaan ini. Aku jamin. Kami sangat membutuhkanmu sekarang.”

“Hm… baiklah.” Akhirnya aku menyetujui. Marcus tersenyum.

Aku menyesal. Setelah menerima tawaran kerja itu aku menjadi sangat sibuk. Bolak-balik keluar negeri, kembali ke Inggris, keluar negeri lagi. Aku selalu bertanya pada Marcus, kapan aku bisa kembali. Tetapi dia selalu menjawab nanti. Aku kesal. Aku merindukan keluargaku.

Mungkin sudah 10 tahun berlalu. Marcus melamarku. Dan aku menerimanya. Kami menikah di Inggris. Mungkin aku harus bertempat tinggal di Inggris sementara waktu dulu.
20 tahun berlalu. Saat ini aku akan kembali ke Indonesia. Negeri yang asri. Negeri yang dengan bangganya kuceritakan tentang keasriannya dan banyaknya budaya yang tersebar di berbagai daerah pada anakku.

Sampai di Indonesia aku tertegun. Dimana rumahku? Kenapa daerah ini digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit? Kenapa daerah ini digantikan dengan jalan raya yang macet? Kemana sawah dan pegunungan itu? Kenapa pegunungan itu tidak terlihat? Kenapa yang terlihat hanya asap dari pabrik-pabrik? Kemana pohon-pohon yang asri? Kenapa daerah ini jadi tandus. Dan…kemana keluargaku?

“Mommy, is it Indonesia? The country where you come from?” tanya Nathan, anakku.
“Yes. But…what happened here?”

Aku langsung menemui penjual bakso di pinggir jalan.
“Em..permisi, sebenarnya…ada apa yang terjadi dengan daerah ini? Kemana rumah yang ada di sana? Kemana sawah-sawahnya?”
“Oh, anda tidak tahu ya? Daerah ini telah berubah dari beberapa tahun yang lalu. Rumah besar yang ada di sekitar sana telah digusur untuk dijadikan gedung-gedung untuk berbisnis. Lalu sawahnya…telah digantikan gedung dan apartemen itu.” jelasnya yang membuatku tercengang.
“Lalu dimana keluarga yang tadinya bertempat tinggal di rumah itu?”
“Hm…kalau tidak salah mereka pindah ke daerah Nanggrek.”
“Oh..terima kasih.”
“Sama-sama.”

Aku pun langsung pergi ke daerah tersebut. Setelah bertanya kesana-kemari akhirnya aku menemukan rumah keluargaku. Rumah yang sederhana namun masih terkesan tradisional. Tidak seperti rumah-rumah yang lainnya yang sudah modern.

TOK TOK TOK..
“Ibu…Ibu ini Rina.”
“Rina?” Suara laki-laki terdengar. Sepertinya itu Kak Arie. Pintu pun terbuka. Dan sosok Kak Arie pun berdiri tegap di hadapanku. Aku tersenyum haru. Aku langsung memeluknya. Dia balas memelukku. Kami menangis bahagia.

“Kenapa kau baru pulang?”
“Maaf…”
“Ya sudah tidak apa-apa.”
“Mana ibu, Kak?”
“Ibu…sudah meninggalkan kita…”
“Ah…” Mataku menghangat.
“Hhh…dan soal daerah itu…soal rumah kita…maafkan kakak tidak bisa menjaganya.”
“Ga pa-pa, Kak. Itu bukan salah kakak. Tapi..kenapa semua jadi berubah seperti ini?”
“Tidak ada yang bisa menjawabnya…”
“Kenapa??”
“Karena itu…sebuah pertanyaan yang tak kan pernah terjawab. Oleh siapapun..”

Aku menunduk. Kukira aku bisa menunjukkan alam di Indonesia yang sejuk pada anak-anakku.
“Lalu..apa masih sering diadakan pementasan wayang waktu malam hari?”
“Jarang. Bahkan tidak pernah lagi.”

Lalu bagaimana aku mau menunjukkan beragam kebudayaan Indonesia pada keluargaku?
“Lalu bagaimana kehidupan sekarang?”
“Huuftt..anak muda jaman sekarang lebih senang clubbing daripada menonton TV di balai desa bersama-sama. Lalu yang sering dipentaskan malah tarian-tarian yang disebut ‘dance’ oleh anak muda. Bukan tari jaipong lagi. Pokoknya keadaan berubah drastis.”
“Begitu…Aku kecewa…”
“Sama denganku.”

“Mommy, ayo kita pulang! Di sini banyak asap kendaraan!” keluh Grisel.

“Sebentar, Nak. Mom ingin mengunjungi makam nenekmu dulu.”

“Oh..mom..cepatlah!” Aku menghela nafas. Marcus langsung menggendong Grisel dan membawanya ke mobil.

“Kak, bisa antarkan aku ke makam ibu?” Kak Arie melirik mobil Marcus.

“Dia kuat menyetir lama, kan?” tanya Kak Arie. Aku mengangguk.

“Baiklah. Aku antarkan. Mendiang dikuburkan di kampung halaman kita.” Aku mengangguk pelan.

“Ayo, Kak.” Aku pun masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Kak Arie selalu menunjukkan jalan pada Marcus. Beberapa jam perjalanan akhirnya kami sampai. Grisel tidur di mobil. Marcus selalu menggenggam tanganku. Air mataku turun tanpa bisa dicegah. Tangisku semakin keras saat kulihat di hadapanku, makam ibu. Ibu yang mengurusku selama ini.. aku belum sempat membahagiakannya. Aku berlutut dan menangis di depan makamnya. Kak Arie selalu mengusap punggungku agar aku sabar. Marcus menunduk. Dia merasa bersalah meski ini semua bukan salahnya.

“Sudahlah.. ayo kita pulang saja. Atau kalian saja, aku bisa naik bis. Kasihan anakmu,” kata Kak Arie. Aku mengangguk pelan. Aku sibuk menghapus air mataku.
“Er…baiklah. Maaf, Kak. Aku sepertinya harus pulang sekarang.”
“Tidak apa-apa. Aku mengerti.”
“Ya sudah. Jaga dirimu, Kak.”
“Iya.”
“Aku pergi dulu. Eh, tapi ada yang kurang. Kakak tahu dimana Rin?”
“Rin? Dia sudah meninggal setahun lalu. Tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa.”
“Ah…kenapa mereka harus meninggalkanku?”
“Sabar saja..”
“Iya.” Aku mencoba menegarkan diri. Awalnya aku yang meninggalkan mereka, tapi kenapa mereka malah meninggalkanku?

“Mommy ayo cepat!” seru Grisel dari mobil.
“Ok, honey. Aku pergi dulu, Kak.”
“Ya, hati-hati.”

Aku pun meninggalkan tanah airku dengan perasaan kecewa. Kenapa? Hanya kata itu saja tapi tidak ada yang menjawabnya.

TAMAT

by: me, myself, and I

15 thoughts on “Sebuah Pertanyaan yang Tak kan Pernah Terjawab

  1. Ami_cutie says:

    ini pan yang aku baca di fbmu…
    ya ampuunn..sedih bgt nis, tp ada yg beda deh kayaknya?
    *gapen*
    fighting utk karya2 selanjutnya!

  2. haeny_elfishy says:

    rina kasian euy, dah d tnggal ibunya, temennya jg . . . T.T
    indo kyk gtu ya skrang…
    tu nama anaknya nathan tau grisel nis ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s