[FF] Secret Behind The Painting

Lee Donghae menatap lukisan di hadapannya. Lukisan hasil jerih payahnya ini berhasil menarik banyak orang. Bahkan yang tidak tertarik pada lukisan pun menyempatkan diri untuk melihat lukisan ini. Lee Donghae tersenyum. Entah apa yang menarik dari lukisannya.

“Kau pelukis lukisan ini?” tanya seorang pria paruh baya. Dari penampilannya sepertinya ia seorang pelukis juga. Lee Donghae menoleh pada pria itu. Dia tersenyum.

“Nde. Anda suka?” tanya Donghae ramah. Pria itu tersenyum sambil terus memandang lukisan milik Donghae. Dia mengusap-usap dagunya seperti sedang berpikir.

“Ya. Sangat indah. Warnanya merata di setiap milinya. Perpaduan warna yang bagus. Kau pelukis profesional kah?” Pria itu kini menoleh pada Donghae.

“Ah ani..” Donghae terkekeh pelan. “Ini lukisan pertamaku.”

Mata pria itu membulat. “Jeongmal? Wah…kau ada bakat di sini.” Pria itu tersenyum.

“Kenalkan, aku Park Hyojoon. Aku juga pelukis. Bisa dilihat dari penampilanku kan?” Hyojoon terkekeh. Donghae tersenyum. Park Hyojoon mengenakan jas berwarna hijau tua dan celana panjang hitam. Rambutnya yang agak panjang ia ikat. Janggut dan kumis mulai tumbuh di wajahnya. Benar-benar seperti pelukis kebanyakan.

“Annyeonghasaeyo. Lee Donghae imnida.” Donghae membungkuk.

“Panggil saja aku Hyojoon hyung. Umurku baru 32 tahun kok.” Dua lelaki dewasa itu tersenyum.

“Kalau kau ada waktu, silakan melihat-lihat lukisanku di sebelah sana.” Hyojoon menunjuk ke arah jam 3. Donghae melirik tempat itu lalu mengangguk.

“Aku pergi dulu, Donghae sshi. Sepertinya beberapa orang yang datang ingin menanyakan sesuatu tentang lukisanku.” Hyojoon tersenyum dan pergi ke tempat lukisannya dipajang. Donghae kembali menatap ke arah lukisannya. Seulas senyum tersungging di bibirnya.

Lukisan itu sederhana. Hanya gambar seorang gadis sedang mengenakan dress putih motif bunga anggrek dan bolero berwarna krem. Yang terlihat hanya latar belakang gadis itu, pepohonan dengan daun berwarna coklat dan danau kecil, dan punggung gadis itu. Lukisan itu hanya mencapai paha sang gadis. Tangannya disimpan di belakang. Tangan kiri menggenggam pergelangan tangan kanannya. Di jari manis tangan kirinya terdapat cincin perak berkilau. Gadis itu sedang menatap ke arah kanan. Terlihat sedikit matanya dan bentuk wajahnya dari samping. Rambutnya panjang bergelombang sebahu dan diikat setengah. Poni miring gadis itu sedikit menutupi matanya. Warna rambut gadis itu coklat keemasan. Sangat cocok dengan latarnya. Mungkin itulah yang membuat lukisan itu luar biasa. Tampak hidup.

Donghae sendiri pernah melihat pemandangan seperti itu. Pemandangan ini memang pernah terjadi. Lukisan ini sangat persis dengan kejadian aslinya. Bahkan cincin di jari manis gadis itu. Sama dengan cincin di jari manis Donghae. Bahkan modelnya sama persis.

Donghae membuka lipatan dompetnya dan terlihatlah foto seorang gadis yang sama, latar yang sama, pakaian yang sama, cincin yang sama, dan semuanya sama. Itu aslinya. Sangat persis dengan lukisan itu.

Donghae mengelus foto wanita itu dengan lembut. Dia lalu tersenyum dan memasukkan dompetnya ke dalam saku celananya. Dia menghela napas sambil terus menatap lukisan itu.

“Wah…indah sekali lukisannya. Seperti foto asli!” ucap seorang gadis di sebelahnya. Donghae melirik gadis itu.

“Kau suka?” tanyanya.

“Nde!” Gadis itu mengangguk dengan semangat. “Ehm..kau pasti membuatnya dengan penuh perasaan, kan? Siapa gadis di lukisan itu? Kekasihmu kah?”

Donghae terdiam sebentar. “Hm…dulu.” Kemudian Donghae tersenyum. Gadis itu mengangguk-angguk.

“Maaf telah lancang. Aku sangat mengagumi lukisan ini. Bisa menandingi lukisan Monalisa,” kelakar gadis itu. Donghae tertawa.

“Jangan berlebihan. Lukisan ini masih kalah dibanding lukisan terkenal itu.”

“Tapi lukisan ini sama-sama misterius. Hanya terlihat sedikit wajahnya. Bagaimana wajahnya yang sebenarnya? Itulah daya tarik lukisan ini.” Gadis itu tersenyum.

“Aku Choi Chaerin, ngomong-ngomong. Namamu?” Chaerin mengulurkan tangan.

“Lee Donghae.” Donghae menyambut uluran tangannya.

“Mulai sekarang, aku fansmu,” kata Chaerin, membuat Donghae tertawa.

= = =

“Yong Ah unnie! Tadi aku ke gallery lukisan lho..” kata Chaerin sambil masuk ke dalam apartemen. Apartemen itu besar dan diisi oleh 5 gadis. Yang tertua Park Yong Ah, dia kuliah di Konkuk University. Lalu kedua Kang Raeki, kuliah di Kyunghee University bersamaan dengan Choi Chaerin hanya saja beda tingkat. Lee Yoonmin sekolah di Victory High School, kelas 3. Dan terakhir Lee Sunghee bersekolah di sekolah yang sama dengan Yoonmin, kelas 2. Orang tua mereka tinggal jauh dari Seoul. Mereka sengaja bersekolah di Seoul karena mencari sekolah bertaraf internasional yang bagus.

“Lalu?” tanya Yong Ah yang sedang memasak ramen. Sebenarnya penghuni di apartemen itu sudah komplit, hanya saja pada sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Yah…kau kan dulu suka sekali pergi ke gallery. Kenapa akhir-akhir ini tidak?” Chaerin menarik kursi meja makan dan duduk di sana. Di hadapannya ada Yoonmin yang sedang bermain game di PSPnya.

“Yoonmin unnie, PSP itu aku pinjam dari sepupuku. Jangan rusak ya..” kata Sunghee.

“Sepupumu siapa?” Yoonmin acuh tak acuh.

“Cho Kyuhyun. Kenal dia?”

“Aku kenal! Dia seniorku di Kyunghee!” seru Raeki dari dalam kamarnya. Wajah Yoonmin memucat. Dia langsung meletakkan PSP itu.

“Kukira punyamu. Aish…kalau rusak aku bisa mati..”

“Ah sudahlah. Yong Ah unnie, tadi aku melihat lukisan yang baguuuus sekali! Sangat-sangat indah! Pelukisnya ternyata masih muda dan ganteng sekali!” Chaerin bersemangat. Yoonmin mencibir.

“Ganteng..ganteng…. Choi Siwon jagiyaku itu namja tertampan yang pernah ada!”

“Tapi Siwon itu kenal kau saja tidak..” celetuk Sunghee.

“Aish jinjayo…jangan membuat masalah!” Mendengar itu, Raeki langsung menarik Yoonmin dan Sunghee keluar apartemen. Chaerin menghela napas. Yong Ah membawa mangkuk ramen dan duduk di hadapan Chaerin.

“Lalu kau naksir dengan pelukis itu?” tanya Yong Ah sambil mengaduk ramennya. Chaerin terdiam.

“Ani. Hanya ganteng saja. Lukisannya bagus sekali lho. Besok ke sana yuk! Sepertinya lukisannya dipajang terus.”

“Hm? Baiklah.” Yong Ah memakan ramennya. Chaerin melirik ponselnya dan beranjak berdiri.

“Aku bosan. Komputer tidak dipakai Sunghee kan? Asyik…” Chaerin berjalan dan duduk di depan meja komputer. Yong Ah masih terdiam. Firasatnya tidak enak. Dia melirik cincin perak di lehernya. Dia menggunakannya sebagai bandul kalung. Ingatannya tentang kenangan dulu saat bersamanya terlintas kembali. Yong Ah menggelengkan kepala dan mulai serius makan.

Setelah makan dia masuk ke kamarnya dan menguncinya. Dia menunduk ke kolong tempat tidur dan mengambil kotak yang cukup besar. Dia bersila di lantai dengan kotak di hadapannya. Yong Ah menghela napas. Sudah lama tidak membuka kotak ini. Akhirnya dia membuka tutup kotak itu perlahan. Dan terbukalah kotak itu. Yong Ah tertegun sebentar. Banyak benda tersimpan di sana. Buku, gulungan kanvas, alat melukis, dan foto-foto. Yong Ah mengambil gulungan kanvas itu dan membukanya. Yong Ah tersenyum getir.

“Oppa, how’s your day?” katanya dengan lirih.

Yong Ah sedang menggenggam lukisan gambar seorang laki laki yang sedang duduk di bangku panjang di taman. Latar belakangnya pepohonan hijau asri dan jalan setapak indah. Lelaki itu sedang menatap ke langit. Wajahnya menyerong ke kanan, menjauhi sisi pelukis. Hanya terlihat bagian kiri pria itu. Terlihat rambut coklatnya yang sedikit menutupi mata kirinya yang sedang terpejam. Seulas senyum tersungging dibibirnya. Pria itu memakai blazer hitam, kemeja putih, dan celana bahan berwarna hitam juga. Sepatunya pun hitam. Kontras dengan bangku taman yang berwarna putih. Di lukisan itu terlihat langit yang sedikit berwarna oranye, langit sore. Di hadapannya terhampar danau luas. Kesannya pria itu sedang menikmati suasana di sana. Kedua tangannya disatukan dan diletakkan di atas lututnya. Kakinya bertopang. Benar-benar lukisan yang indah. Bagi yang bermata tajam, pasti bisa melihat cincin perak di jari manis kiri pria itu.

Itu lukisan hasil tangan Yong Ah sendiri. Inilah kenangan dari pria itu. Pria di dalam lukisan. Kejadian ini memang pernah terjadi. Bahkan ia memiliki fotonya dan ditaruh di dompetnya. Yong Ah menggulung kanvas itu kembali dan mengembalikannya ke kotak. Dia lalu mengambil sebuah kotak beludru panjang. Dia membukanya. Seuntai kalung emas putih terlihat di sana. Bandulnya bertuliskan D&Y. Mata Yong Ah menghangat. Dia mengingat saat bersama dengan pria itu. Pria bernama Lee Donghae.

“Yong Ah, kau kenapa?” tanya Donghae saat Yong Ah sedang duduk di bangku taman. Sendirian dan menangis.

“Orang tuaku bercerai..” isak Yong Ah. Donghae tertegun. Dia adalah sahabat terbaik Yong Ah. Dia ingin membantu Yong Ah tapi dia tidak tahu bagaimana caranya.

“Yong Ah, dengarkan aku..” Suara Donghae bergetar. Sepertinya dia merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Yong Ah.

“Mungkin memang itu adalah yang terbaik bagi kita semua. Tuhan selalu merencanakan sesuatu. Pasti ada hikmah dibalik kejadian ini. Ada yang Tuhan rencanakan dibalik perceraian orang tuamu. Dan pasti sesuatu itu adalah sesuatu yang terbaik. Jadi, jangan putus asa ya, Yong Ah. Pasti ada sesuatu yang baik yang akan menimpamu. Fighting!” Donghae mengepalkan tangannya, memberi semangat. Yong Ah tersenyum.

“Gomawo, Donghae ah. Kau sangat baik.” Yong Ah mengusap air matanya dan tersenyum. Donghae tersenyum tapi matanya berkaca-kaca.

“Gwaenchana. Kita ini sahabat, bukan?” Yong Ah mengangguk.

Yong Ah rindu saat-saat seperti itu. Di apartemen ini tidak ada yang tahu tentang perceraian orang tuanya. Mereka hanya tahu orang tuanya bekerja di luar negeri. Yong Ah sengaja tidak memberitahukannya. Baginya masalah itu tidak usah diungkit-ungkit lagi.

“Yong Ah, bagaimana keadaanmu sekarang?” Donghae menatap Yong Ah yang sedang berjalan dengan khawatir.

“Gwaenchana, Donghae sshi.” Yong Ah tersenyum. Tatapannya masih lurus ke depan. Donghae terdiam. Tapi kakinya terus berjalan mengimbangi langkah Yong Ah.

“Yong Ah, aku punya satu permintaan.”

“Ne, Donghae sshi? Apa itu?”

“Tolong panggil aku oppa. Aku ingin sekali dipanggil seperti itu.”

“Ah..ne…arrasseo, oppa.” Yong Ah menatap Donghae sambil tersenyum. Donghae membalas senyum Yong Ah. Tangan Donghae meraih tangan Yong Ah dan menggandengnya. Suasana sore kali ini indah sekali. Lembayung yang mulai muncul seakan menjadi background benih-benih cinta yang mulai muncul di antara mereka.

Yong Ah berdiri dan naik ke atas tempat tidur. Kotaknya sudah dirapihkan dan dimasukkan ke kolong tempat tidur. Dia sekamar dengan Sunghee di sini. Perbedaan sangat jelas. Bagian kamarnya rapi dan tertata dengan apik sementara bagian kamar Sunghee berantakan. Laptop dibiarkan terbuka, ada cemilan di atas meja belajar, buku-buku novel terbitannya tergeletak di ranjang. Yong Ah tersenyum sendiri ketika menatap poster Super Junior yang ditempel di tembok kamar bagian Sunghee. Ada dia. Yong Ah terus menatap sosok itu. Sosok yang dicintainya.

= = =

“Donghae ah, jadwal kita hari ini sangat padat. Jangan coba-coba kabur ke gallery ya,” bisik Eunhyuk. Donghae mengangguk paham. Mereka sedang berada di ruang tunggu Super Junior. Sebentar lagi mereka akan tampil membawakan lagu baru.

“Ne, Hyukkie. Tenang saja. Aku bisa mengatur waktuku.”

“Tapi omong-omong…” Eunhyuk menarik Donghae keluar ruangan dan mencari ruangan yang kosong.

“Kenapa sih kau selalu pergi ke gallery lukisan itu?” tanya Eunhyuk saat mereka berada di tempat yang sepi. Donghae sengaja merahasiakan kegiatannya diluar jadwal Super Junior. Dia memang suka pergi ke gallery di saat dia punya waktu luang.

“Aku suka pergi ke sana karena di sana hanya sedikit yang mengenaliku. Bukan, maksudku, mereka tidak mengenal Donghae Super Junior. Tapi mereka mengenal seorang pelukis bernama Lee Donghae. Tak ada wartawan, tak ada yang histeris saat melihatku. Aku suka. Pergi ke sana bisa menghilangkan stress.” Donghae tersenyum. Eunhyuk mengangguk-angguk paham.

“Member yang lain tidak perlu tahu?” tanya Eunhyuk. Matanya menatap mata Donghae.

“Hm…aku sebenarnya tidak merahasiakannya dari member yang lain. Jadi boleh saja kalau mereka tahu. Asalkan mereka bisa jaga rahasia.”

Eunhyuk menyeringai,”Hei…kita sudah lama bersama-sama. Kita selalu menjaga rahasia masing-masing bukan?”

“Ne, tentu saja.” Donghae tersenyum. Eunhyuk menepuk pundak Donghae dan beranjak keluar ruangan. Donghae menyusulnya. Mereka berjalan berdampingan sambil sesekali bercanda. Tapi pikiran Donghae sebenarnya tidak berada di sana. Pikirannya melanglang buana, memikirkan gadis di dalam lukisan.

“Yong Ah, saranghae..” kata Donghae lirih. Yong Ah yang sedang duduk di sebelahnya terkejut.

“Ne?” tanya Yong Ah.

“Aku sangat mencintaimu. Maukah kau menjadi pacarku?” Donghae menatap mata Yong Ah dalam. Yong Ah tertegun.

“Oppa…”

“Mian aku tidak punya apa-apa untuk menembakmu. Aku tidak punya harta benda yang berlimpah. Aku tidak memiliki bakat yang spesial. Aku hanya punya cinta..”

“Ani, oppa. Bakatmu banyak. Kau bisa menari, menyanyi, rap, melukis, bermain alat musik, membuat lagu… banyak kan oppa? Itu juga kan sebabnya kau diterima audisi SM.” Yong Ah tersenyum.

“Aku tidak butuh apa-apa lagi. Cinta sudah cukup sekarang ini,” lanjut Yong Ah. Donghae tersenyum.

“Jadi kau mau menjadi pacarku?”

“Tentu, oppa.” Yong Ah tersenyum. Donghae gembira.

“Donghae? Hei! Earth calling Donghae…still there?” Eunhyuk melambaikan tangan di depan Donghae. Donghae mengerjap kaget.

“Ah…ne..”

“Waeyo? Ada masalah cerita denganku.” Eunhyuk memegang handle pintu ruang tunggu Super Junior. Donghae menggeleng. Dia tersenyum lembut.

“Ani. Gwaenchana. Aigoo Hyukkie…kau perhatian sekali denganku…” Donghae memberikan tatapan mesumnya pada Eunhyuk. Eunhyuk begidik dan masuk ke dalam ruang Super Junior. Donghae terbahak dan menyusul Eunhyuk masuk ke dalam ruangan.

“Kebetulan aku membawa peralatan melukis sekarang. Aku lukis dirimu saja ya,” kata Donghae.

“Tidak usah, oppa. Cintamu sudah cukup..” Yong Ah menahan senyum.

“Tidak bisa begitu! Orang lain menyatakan cinta pasti dengan cara yang spesial. Masa aku hanya bermodal cinta dan kata-kata?”

“Tidak perlu memakai kata-kata juga aku sudah merasakan cintamu, oppa. Makanya aku tidak terkejut.” Yong Ah memamerkan senyum manisnya.

“Jinja? Ara.. tapi aku tetap ingin melukismu. Neo..berdirilah di sana. Punggungi aku dan menatap ke arah kanan. Pasti bagus.” Donghae menunjuk suatu tempat. Yong Ah berdiri dan berjalan ke tempat yang ditunjuk. Ia berbalik pada Donghae.

“Di sini?”

“Ne. Pandang danau itu. Berikan pose yang bagus untuk namjachingumu.” Donghae terkekeh. Yong Ah tertawa dan berbalik menatap danau. Dia melipat tangannya ke belakang dan menatap ke arah kanan.

“Ah masih ada yang kurang..” Donghae berjalan menghampiri Yong Ah dengan mengendap-endap.

“Apa, oppa?” Yong Ah tidak berbalik. Tapi terlihat sedikit ekspresi herannya.

“Ini..” Donghae meraih tangan kiri Yong Ah dan memakaikan cincin di jari manisnya. Yong Ah terkejut dan spontan berbalik.

“Saranghae..” kata Donghae. Yong Ah terharu. Tanpa sadar dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

“Omo..gomawo oppa. Na ddo saranghae..”

“Cincin kita sama.” Donghae memamerkan cincin yang sama yang berada di jari manis kirinya. Yong Ah tersenyum.

“Seperti tunangan saja..”

“Kau boleh menganggapnya sebagai tunangan.” Donghae terkekeh. Yong Ah tersipu malu.

“Oke cepat lukis aku.” Yong Ah berbalik memunggungi Donghae. Menyembunyikan wajahnya yang merona. Donghae tersenyum. Dia mundur beberapa langkah dan mengeluarkan kameranya. Dia memotret gadis itu.

“Sudah.”

“Bagaimana hasilnya?” Yong Ah berbalik. Senyumnya mengembang.

“Hm…indah sekali.” Donghae berkomentar. Yong Ah ingin melihat hasil fotonya tetapi Donghae menghalanginya.

“Aniyo…nanti kalau lukisannya sudah jadi, oke?” Donghae terkekeh. Yong Ah cemberut. Dia merebut kamera polaroid dari tangan Donghae.

“Oppa, duduk di situ dan berpose yang bagus untuk yeojachingumu.” Yong Ah menunjuk pada bangku taman berwarna putih. Donghae menatap ke arah yang ditunjuk.

“Oke,” katanya seraya berjalan mendekati bangku taman. Donghae duduk disana dan menengadahkan kepalanya. Kepalanya sedikit di miringkan ke kanan. Yong Ah segera memotretnya. Dia tersenyum melihat hasilnya.

“Bagus, oppa. Akan kubuatkan lukisannya.” Yong Ah mengembalikan kamera polaroid Donghae dan memasukkan hasilnya ke dompetnya. Sama seperti yang dilakukan oleh Donghae.

“Baiklah. Suatu saat, kita lihat lukisannya.”

= = =

Yong Ah pasrah ditarik-tarik Chaerin ke gallery itu. Chaerin terlihat bersemangat. Yong Ah sebenarnya senang melihat pajangan-pajangan lukisan di sana. Dia suka lukisan. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang aneh di gallery ini.

“Itu unnie lukisannya!” Chaerin menarik tangan Yong Ah dan berjalan cepat ke arah lukisan itu. Ada seorang namja yang sedang berdiri di hadapan lukisan itu dan memperhatikan lukisannya.

“Oppa, aku bawa temanku. Dia juga suka lukisan!” seru Chaerin. Namja itu menoleh. Yong Ah tertegun.

“Oh…A…Annyeong,” kata namja itu gugup. Tatapannya aneh. Chaerin tidak mengerti. Yong Ah melepaskan tangan Chaerin dari genggamannya dan berbalik pergi. Dia berlari keluar gallery. Namja itu terpaku di tempat. Tatapannya terlihat sedih.

“Jagiya, aku akan memulai debutku sebentar lagi! Aku akan debut sebagai anggota dari Super Junior!” seru Donghae.

“Jinja? Wah…chukkaeyo, oppa…” Yong Ah tersenyum. Donghae memeluk kekasihnya itu dengan penuh kasih sayang. Tapi kemudian dia teringat sesuatu.

“Yong Ah, aku…harus putus denganmu..” Suara Donghae terdengar serak. Yong Ah tercekat.

“Waeyo, oppa?”

“Pihak SM tidak mengizinkan artisnya untuk berpacaran. Kami diikat kontrak. Mianhae Yong Ah, sarangahe. Aku sebenarnya tidak mau putus denganmu tapi aku harus. Ini cita-citaku. Aku ingin menjadi penyanyi dan aku menemukan jalannya. Demi mendiang ayahku juga..” Mata Donghae menghangat.

“Oh…ne..arrasseo. Semoga kau sehat selalu dan semakin sukses ya, Donghae sshi. Sesuai keinginan appamu juga.” Yong Ah memaksakan seulas senyum. Donghae menatap Yong Ah dalam.

“Mianhae..saranghae. Lukisannya simpan ya..cincinnya tak akan kulepas.” Donghae tersenyum. Yong Ah mengangguk.

“Na ddo saranghae.”

= = =

Yong Ah berlari ke kamarnya dan membongkar kotak itu. Dia mengambil gulungan kanvas dan membuka gulungannya. Benar! Dia bertemu dengannya lagi. Namja bernama Lee Donghae, belahan jiwanya. Namja yang berada di lukisan hasil tanganya sendiri. Yong Ah terduduk di atas tempat tidur. Kenapa ia lari? Itu karena…dia ingin menangis saat melihat namja itu. Dia ingin memeluk namja itu erat-erat, meluapkan kerinduannya selama 5 tahun ini. Dia melihat namja itu secara langsung, tidak lewat video yang Sunghee berikan padanya. Dia bertemu dengannya lagi. Dia tidak ingin berpisah lagi jadi sebaiknya ia mundur.

Yong Ah membawa gulungan kanvas itu keluar apartemen. Tapi mundur berarti pengecut. Yong Ah memantapkan hati dan berjalan ke taman itu.

= = =

“Lho? Lukisan di sini hilang!” seru seseorang. Gallery itu langsung heboh.

“Lukisan karya Lee Donghae hilang! Bagaimana ini? Apakah dicuri?” tanya orang lainnya.

“Tenang semuanya… Kami akan mencari lukisan itu..” kata petugas keamanan. Tapi kasak-kusuk masih terdengar di sana sini. Lukisan milik Donghae itu memang sangat terkenal di sana. Banyak yang mengaguminya dan bahkan setiap hari berkunjung ke gallery hanya untuk melihat lukisan itu. Dan sekarang lukisan itu hilang.

= = =

Donghae menenteng pigura lukisan di tangan kanannya. Dia berjalan ke taman itu. Dia tertegun ketika melihat seorang gadis sedang berdiri memunggunginya. Posenya sama persis dengan lukisannya. Dia mengangkat pigura itu dan membandingkannya dengan gadis itu. Benar-benar persis! Jantung Donghae berdegup kencang. Dia orangnya! Park Yong Ah, wanita yang ia cintai. Kali ini bedanya gadis itu membawa sebuah gulungan kanvas di tangannya.

Yong Ah berbalik. Dia tertegun sebentar saat menatap Donghae. Yong Ah lalu tersenyum dan berjalan mendekati Donghae yang terpaku.

“Annyeong, Donghae sshi. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” sapa Yong Ah.

“Baik. Tapi tidak sebaik dulu.”

“Wae?”

“Selama show di atas panggung, aku selalu mencari sosokmu. Selama shooting, aku berharap kamu menonton aku di layar kaca. Selama bernyanyi, aku berharap kamu mendengarkan. 5 tahun seperti itu. Aku tersiksa.” Donghae berkata dengan parau. Yong Ah terdiam.

“5 tahun tanpamu, hidupku hampa, Donghae. Tak ada yang bisa memberikan semangat sepertimu. Tak ada yang bisa memberikan cinta yang tulus. Cincin ini…selalu mengingatkanku padamu.” Yong Ah mengangkat kalung berbandul cincin dari Donghae.

“Dan satu lagi, aku selalu melihatmu saat kau sedang berada di atas panggung. Meski dari video. Temanku sangat menyukai Super Junior. Di kamar tertempel poster Super Junior. Ada gambarmu. Semua reality show yang dibintangi olehmu selalu kutonton. Semua berita tentangmu, aku selalu tahu. Selama kau bernyanyi, aku selalu mendengarkan. Di radio, aku setia mendengarkan suaramu. Kapanpun dimanapun, aku setia untukmu….oppa.” Donghae terdiam. Yong Ah menarik napas panjang. Seketika hening melanda. Mereka berdua disibukkan pikiran masing-masing. Akhirnya Donghae ingat sesuatu.

“Ini lukisannya, Yong Ah.” Donghae memberikan pigura itu pada Yong Ah. Yong Ah menerimanya. Gulungan kanvas itu diambil oleh Donghae. Mereka bersamaan melihat lukisan itu. Dan mereka tersenyum.

“Persis,” ucap mereka berdua bersamaan. Keduanya pun tertawa. Tanpa sadar Yong Ah menitikan air mata. Air mata bahagia.

“Aku akan berusaha untuk melepaskan diri dari peraturan itu. Aku ingin kembali padamu, Yong Ah.” Suara Donghae terdengar lirih.

“Tidak usah, oppa. Tidak perlu berpacaran…”

“Kalau begitu kita menikah saja. Ikuti jejak Shindong hyung!”

“Oppa..” Yong Ah terkekeh. Donghae tersenyum.

“Aku serius, jagiya. Kita menikah saja.” Wajah Yong Ah memerah. Donghae tiba-tiba berlutut di hadapan Yong Ah.

“Aku tidak punya apa-apa selain cinta dan cincin ini. Yong Ah naui gongju, nawa gyeohronhaejullae?” Donghae tersenyum.

“Oppa…aku juga tidak punya apa-apa selain cinta dan kesetiaan ini. I do, oppa.” Yong Ah tersenyum. Donghae berdiri dan memasangkan cincin. Donghae menarik Yong Ah ke pelukannya.

“Saranghae yeongwonhi.”

“Na ddo.”

= = =

“Pengumuman semuanya, gadis di dalam lukisan itu adalah dia. Calon istriku, Park Yong Ah,” kata Donghae lantang. Semua orang yang ada di gallery tersebut bersorak dan bersiul. Banyak juga yang bertepuk tangan. Yong Ah tersipu malu di sebelah Donghae. Tangan Donghae tidak pernah lepas dari tangan Yong Ah saat itu.

“Dan ini balasan dari lukisan itu.” Donghae mengambil gulungan kanvas dan membukanya. Semua orang terpana.

“Ini buatan calon istriku.” Donghae tersenyum. Semua orang bertepuk tangan. Donghae tersenyum dan menatap Yong Ah. Yong Ah membalas tatapan Donghae. Senyum mereka merekah.

= = =

Super Junior telah selesai menyanyikan lagu barunya. Donghae langsung meminta waktu untuk berbicara sebentar. Member yang sudah tahu hanya senyum-senyum saja.

“Maaf saya minta waktu sebentar. Saya hanya mengumumkan bahwa mulai detik ini saya tidak single lagi. Saya sudah mempunyai calon istri. Yong Ah..” Donghae menuruni panggung dan berjalan menuju gadis yang sedang berdiri di antara ratusan ribu penonton. ELF berteriak riuh. Ada yang mengucapkan selamat dan ada yang mencibir.

“Saranghae, Yong Ah.” Yong Ah tersenyum. ELF berteriak lagi.

“Mulai sekarang, tidak boleh ada yang mengganggu calon istriku sedikit pun! Aku minta maaf kalau diantara kalian ada yang kecewa, tetapi kami butuh kehidupan normal juga.” Ucapan Donghae membuat ELF diam. Mereka semua mengerti. Akhirnya mereka semua mendukung hubungan Donghae dengan Yong Ah.

“Chukkaeyo, Donghae oppa!” teriak ELF. Donghae tersenyum. Yong Ah tersipu malu. Senyum Donghae melebar.

= = =

“Oppa, kita pajang lukisan ini dimana ya?” Yong Ah bingung menatap dinding rumah mereka yang hampir penuh dengan foto pernikahan dan foto masing-masing dari Yong Ah dan Donghae. Apalagi member Super Junior memaksa untuk memajang poster Super Junior di rumahnya.

Donghae yang sedang mencuci tangan menghampiri istrinya.

“Di…sini saja.” Donghae menunjuk dinding di ruang TV. Yong Ah terdiam sebentar.

“Ide bagus!” Yong Ah tersenyum. Donghae mengambil alih pigura di tangan Yong Ah dan memasangnya. Dua lukisan itu kini berdampingan. Donghae tersenyum puas. Mereka berdua menghela napas singkat. Lalu mereka menoleh dan saling bertatapan.

“Tuh kan, kita bisa mengikuti jejak Shindong hyung,” kata Donghae. Yong Ah tertawa.

THE END

NB: Ini request dari Heny unnie!! Unnie chukkae ff untukmu udah jadi (?) Mian yang belum, aku mentok inspirasi. Hehehehe… Unnie, hope you like it. Semuanya, komen ya


30 thoughts on “[FF] Secret Behind The Painting

  1. haeny_elfishy says:

    NISA . . ! *peluk” nisa*
    omaigat! q bca ff ni sambil senyum” ga jelas bngt ! omo . . . q kawin ma hae ? *peluk hae*
    mantab saeng ! konkuk univ, univ impianku tuh, pas bngt deh. . .
    d sini q dibilang rapi, padahal aslinya. . . (?)
    sekamar ma nisa ? ga bisa bayangin kalo ini, hahaha
    omo , jeongmal gomawo nis. . .!
    *hug nisa lagi*
    so sweet. . .
    *kiseu” hae*
    ^^

    • sungheedaebak says:

      si unnie heboh!! wkwkwk aku nyengir baca komennya.
      iya un selamat berbahagia. cpet punya anak nyusul hyukjae sama sunghee! hahaha
      hbis aku gatau…biarin ah un hahaha.
      ne cheonmanhaeyo unnie ^^

  2. dhikae says:

    sunghee@ gweanchana…kekekeek
    ga brharap knjungan balik… bca ffmu itu sdh cukup..
    apalagi ffmu kocak2… ckkkk
    *mklum hyukkie bias../plakk

  3. ami_cutie says:

    aku dataaannggg!!!
    ffmu selalu bagus…top bgt!
    pasti heny udah gila tuh coz senyum2 sendiri dari tadi
    idenya ringan, tapi hasilnya bagus..aku suka!
    (mian tadi salah ID)

  4. haeny_elfishy says:

    @nisa : gyahaha , sampe skrng masih senyum” ria bin ga jelas ! nih hae dah maksa” katanya mau nyaingin hyuk ma km nis, wkwkwk
    ntar malem MP , hohoho
    @ami : haha tau aja mi, q bener” gila nih, wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s