Schizophrenia

Bella berlari dengan cepat ke rumahnya. Sesekali dia menengok ke belakang untuk memastikan masih ada yang mengejarnya atau tidak. Dan ternyata masih. Di pandangan Bella, dia sedang dikejar oleh seorang laki-laki tinggi tegap dan mempunyai ekspresi yang menyeramkan. Bella sendiri tidak tahu kenapa orang lain tenang-tenang saja meskipun ada seorang gadis yang sedang dikejar-kejar oleh seorang laki-laki menyeramkan. Malah mereka semua memandang aneh ke arah Bella.

Bella sampai di depan rumahnya. Dia langsung menendang pintu dengan kaki kanannya dan berlari secepat kilat menuju kamarnya. Matanya kosong, tidak tahu melihat ke arah mana. Sesekali dia menabrak meja dan kakaknya yang sedang berdiri. Bella melihat ke belakang dan lelaki itu sudah tidak ada. Dia menghela napas panjang. Dia masuk ke kamar dan menutup pintunya. Namun alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat lelaki itu sudah berada di balik pintunya.

“AAAAAAA!!!!” Bella berteriak sekencang mungkin. Dia linglung. Dia segera berlari dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Tubuhnya gemetar hebat seakan digetarkan oleh orang lain. Matanya nyalang ke sana ke mari, waspada. Pintu terbuka dan Bella memejamkan matanya. Takut.

“Bella, ini aku,” kata seseorang. Bella mengenali suara ini. Dia membuka mata dan mendapati kakaknya sedang menatap ke arahnya dengan heran.

“Isabella Reinheart, kau tidak apa-apa?” tanya Randy Reinheart, kakaknya.

“Tidak aku tidak apa-apa! Kau tidak usah bertanya seperti itu karena aku tidak apa-apa!” Bella melakukan penekanan pada tiga kata terakhir. Randy heran.

“Ayo sini, kita bicara di ruang keluarga,” ajak Randy. Bella menepis uluran tangan kakaknya.

“Aku tidak mau! Aku tidak apa-apa!” Bella melongokkan kepalanya keluar, tidak ada apa-apa. Dia menghela napas dan keluar dari tempat persembunyiannya. Randy tidak melepaskan pandangannya dari Bella sedetik pun.

“Aku mau pulang!” kata Bella tiba-tiba.

“Ini rumahmu.” Randy semakin heran.

“Bukan, ini bukan rumahku! Rumahku tidak seperti neraka begini!” Bella begidik. Membuat Randy semakin heran.

Isabella Reinheart, itulah nama gadis itu. Gadis keturunan Indonesia-Inggris itu mengidap sebuah penyakit, schizophrenia. Schizophrenia adalah sebuah penyakit gangguan kejiwaan, dimana sang pengidap akan memiliki keyakinan yang salah atau biasa disebut waham. Dia akan selalu berhalusinasi, merasa dikejar oleh orang lain, melihat hal yang menyeramkan, merasa akan dibunuh orang lain, atau mungkin saja merasa bersalah pada orang lain. Bahaya dari schizophrenia adalah si pengidap bisa melukai dirinya sendiri. Banyak orang yang mengatakan penyakit schizophrenia ini adalah penyakit gangguan jiwa atau kita mengetahuinya sebagai gila. Banyak orang yang berhasil selamat dari schizophrenia dan kembali sukses. Schizophrenia tidak memandang usia. Dari anak-anak hingga orang dewasa bisa terserang penyakit gangguan jiwa ini. Salah satunya gadis berumur 18 tahun, Isabella Reinheart.

Keluarga Bella akhirnya mengetahui penyakitnya. Tapi mereka tidak frustrasi, mereka malah berusaha bangkit.

“Ini masa-masa sulit kita, kita harus melewatinya. Badai tidak pasti berlalu, tapi badai akan terus berlanjut. Namun disinilah badai terbesarnya,” kata ayah Bella. Semua menyetujuinya.

Semakin hari keadaan Bella semakin buruk. Dia selalu mengamuk jika diajak bicara. Setiap hari dia selalu ketakutan. Semua benda tajam disembunyikan darinya karena takut dia akan melukai dirinya sendiri. Bella tidak dipasung. Sebaliknya, dia diberikan perawatan yang bagus. Setiap hari dia selalu terapi. Sedikit demi sedikit, perjuangan gigih dari keluarganya mulai membuahkan hasil.

“Sayang sekali Bella keluar dari kuliahnya. Padahal dia dulu sangat senang sekali bisa memasuki universitas favorit di Bandung ini. Namun sayang, ketika dia sedang sukses di kuliahnya dan sedang bahagia-bahagianya, dia harus mengidap penyakit itu,” komentar ibunya. Matanya berkaca-kaca.

“Impian Bella adalah menjadi dokter, makanya dia mengambil jurusan kedokteran. Aku harap setelah dia sembuh dari penyakitnya, dia bisa menemukan obat untuk schizophrenia.” Kini giliran kakaknya yang memberi komentar. Randy dan ibunya sedang berada di beranda rumah di malam hari. Bintang-bintang gemerlapan di angkasa. Namun bulan tidak terlihat. Randy menatap langit. Pikirannya melanglang buana. Sama seperti wanita paruh baya di sebelahnya. Mereka sama-sama memikirkan Bella.

“Kita doakan yang terbaik untuk Bella.” Randy berdiri dan berjalan ke arah pintu. “Ibu tidak masuk? Sekarang dingin.”

“Tidak usah, Nak.” Ibunya tersenyum. “Ibu masih menikmati suasana malam ini.”

Randy termenung.

“Baik, Bu. Randy bawakan mantel Ibu.”

“Terima kasih.” Randy tersenyum dan masuk ke dalam rumah. Diambilnya mantel ibunya yang tersampir di sofa dan melirik ke arah pintu kamar Bella. Tidak ada suara. Randy curiga. Dia bergegas menyerahkan mantel itu pada ibunya dan kembali ke depan kamar Bella. Dia mendekatkan telinganya ke pintu. Hening.

“Bella?” katanya lirih. PRAANG…tiba-tiba suara benda pecah terdengar dari dalam kamar. Randy panik.

“Bella? Isabella Reinheart?! Bella!” Randy berusaha membuka pintu namun gagal. Dia lalu mendobrak pintu itu dengan sekali tendang. Dia tercengang ketika dilihatnya kamar itu kosong dan jendela pecah. Ibunya datang karena mendengar suara bising.

“Bella? Bella kemana?!” pekik ibunya. Randy tidak menjawab dan bergegas mendekati jendela. Dia melongokkan kepalanya dan menatap ke bawah. Bella kabur dari lantai 2 kamarnya menggunakan tali yang entah dia dapat darimana. Samar dilihatnya Bella berlari ke arah Timur. Randy berbalik dan berlari mengejar Bella.

“Bella!” panggil Randy. Dia menarik tangan adiknya itu. Bella memberontak tapi Randy jauh lebih kuat. Randy berhasil mencengkram kedua tangan Bella. Bella terdiam. Tatapannya kosong.

“Kamu kenapa? Lihat apa lagi?” tanya Randy lembut. Bella masih terengah-engah dan keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Randy dengan sabar menunggu jawaban dari adik satu-satunya itu. Sekitar 20 menit menunggu, Randy hampir menyerah. Bella tetap diam seperti tadi. Nafasnya masih tersengal-sengal seperti sedang melihat hal yang menyeramkan.

“Aku merasa akan dibunuh,” ujar Bella akhirnya. Lirih sekali, nyaris seperti bisikan. Randy mengangkat alis. Akhirnya lelaki itu tersenyum.

“Lalu kamu kabur dari rumah karena itu?” Suara Randy masih lembut. Cengkraman tangannya melonggar sedikit demi sedikit.

“Erh..iya!” Bella terlihat kebingungan. Randy tidak tega melihat adiknya seperti itu.

“Ya sudah, ayo kita pulang. Besok terapi lagi ya..” Randy melepaskan tangan kanannya dari tangan kiri Bella. Dia lalu menarik tangan kanan Bella. Namun Bella diam di tempat. Randy menoleh.

“Kenapa?” tanya Randy. Bella menunjuk satu arah.

“Ada…lelaki…yang mengejarku waktu itu..” kata Bella datar. Randy menatap ke arah yang ditunjuk. Hanya ada kegelapan, tak ada orang lain.

“Sudahlah ayo kita pulang saja. Sebentar lagi kamu akan terlepas dari pikiran-pikiran itu.”

“Itu bukan pikiranku, itu nyata!!” Bella berteriak. Randy menghela napas. Dia mengalah. Akhirnya dia menunggu agar Bella tenang terlebih dahulu baru dia membawanya pulang. Beberapa tetangga yang melihatnya sudah paham. Mereka tidak berkomentar. Sudah biasa.

Berkat kegigihan keluarga Bella, akhirnya Bella bisa disembuhkan. Bella sudah sembuh sepenuhnya dari schizophrenia. Bella tidak akan dihantui pikiran-pikiran menyeramkannya lagi, halusinasi, waham dan sebagainya. Dia sudah normal sepenuhnya. Tapi sesekali memang dia masih harus meminum obat.

“Kak Randy, aku lulus!” seru Bella. Randy tersenyum dan menghampiri adiknya yang memakai toga. Orang tuanya menghampiri Bella. Mereka semua berbahagia. Mungkin inilah hasil dari kegigihan mereka selama ini. Badai terbesar sudah hilang, namun badai selanjutnya masih menanti. Dan satu lagi, badai tidak pernah berlalu.

Beberapa bulan berlalu, Bella berhasil menjadi dokter. Dia berhasil menemukan cara yang tepat untuk menyembuhkan penderita schizophrenia. Dia bertekad untuk menyembuhkan seluruh pengidap schizophrenia di seluruh dunia dengan metode ciptaannya sendiri. Keluarganya sangat bangga. Siapa bilang orang yang memiliki penyakit gangguan jiwa tidak bisa sukses? Bella contohnya. Dia berhasil menjadi dokter handal di usianya yang masih muda dan menemukan cara menyembuhkan schizophrenia. Kisah hidupnya ia tulis menjadi sebuah buku biografi dan menjadi best seller di Indonesia. Bahkan akan diterjemahkan ke dalam 7 bahasa dan dijual di negara lain. Bukan hanya Bella saja yang bisa sukses seperti itu. Masih banyak bekas penderita schizophrenia yang sukses. Kuncinya adalah, kegigihan dan tidak pernah putus asa. Apa pun yang kita inginkan pasti tercapai.

TAMAT

NB: Ini sebenarnya tugas untuk Bahasa Indonesia. Jadi mian kalau singkat banget. Hahahaha komen ya. Hope you like it

21 thoughts on “Schizophrenia

  1. Ami_cutie says:

    keren bgt…apik..bagus deh pokoknya..
    aku jadi inget matkul patofisiologi…hhe
    (aku belajar schizophrenia juga soalnya)

  2. mrschokyuhyun says:

    ini buat lomba, nis?
    bagus kata aku mah ^^^ cuma kayak ditambah dikiiiit wkwkwkwk~
    tapi bagus kooo

  3. raekiyopta says:

    akhirnya aku bisa baca cerita yang satu inii… ini yang kata kamu 4 lembar? aku bingung gmn caran.a bkin cerpen😦 biasa baca novel yg panjang, jadi ga ada contoh bkin cerpen..

    • sungheedaebak says:

      yoyoy. kalo bkin cerpen konfliknya dibikin sedikit. misalnya cuma satu atau dua konflik aja. aku mah gitu. tapi kalau bkin cerpen alurnya aku kecepetan. jadi emang susah sbnernya bkin cerpen itu.

      emg km ga punya kumpulan cerpen? biasanya cerpen ceritanya sederhana. ga berat kayak ceritaku ini..

    • sungheedaebak says:

      cari di cerpen.net kalo ga salah. aku prnah maen ke web yg nampung cerpen2. ada yg bagus ada yg biasa ada yg agak agak. tpi km bisa belajar alurnya dari situ. pkk.a jgn banyak2 konfliknya biar pendek

  4. dhikae says:

    wuahhhh gilaaa… bella keren bgt…. *yg gila yg comment pdhl..wkwkwk
    hahah tgs bhs emng bribet *lu ja yg bkin ribet…kekeke
    bgus… kok crtanya

  5. haeny_elfishy says:

    buat tugas nis?
    keren nih ! bella hwaiting ! (loh?)
    kbayang randy-nya tu malah randy pangalila , hehehe *ganyam*

    • sungheedaebak says:

      randy pangalila? eng… *mikir yg mana orangnya* jiah aku ga tau artis indonesia sih hahahahahha ga tau smua maksudnya *patut dipertanyakan orang indonesia apa bukan*

      iya buat tugas hoho gomawo

  6. L says:

    bagus ceritanya, tapi kata aku emang alurnya terlalu cepet tapi udah bagus sih. tapi kenapa kakanya manggil bella pake nama keluarganya juga?

    • sungheedaebak says:

      terima kasih banyak!!! aku sangat menghargai kritikanmu. habisnya ini kan cerpen, harus pendek. jadi alurnya agak kacau. biasa bkin yg panjang sih..

      kan sengaja. biar si Bella sadar tpi ga sadar-sadar. kan ga musti pake Bella terus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s