[FF] Unique Love (Sunghee’s POV)

(Please Love Me and Her side story, HyukHee couple)

“Sunghee ya, oppa ada keperluan di kantor bersama Lee Hyukjae. Harus berangkat pagi. Kau urus rumah ya. Annyeong.” Donghae oppa melirik sebentar jam tangannya dan bergegas keluar tanpa melihatku yang sedang melongo sambil menggigit roti. Apa?! Keperluan di kantor pada hari Minggu? Dan aku yang mengurus rumah?! Aish..aku melihat sekeliling. Seketika nafsu makanku hilang. Berantakan sekali! T_T

Aku mendengus kesal dan menghabiskan roti coklatku itu dengan penuh nafsu. Setelah selesai aku segera membereskan meja makan. Aku lalu mengambil sapu dan bergegas keluar halaman untuk menyapu.

Aish oppa…tega nian dirimu meninggalkan aku saat rumah berantakan.. rencanaku bermalas-malasan seharian hancur total! Padahal aku berencana untuk hiatus sementara dari kegiatan kuliah dan sebagainya. Aku ingin istirahat oppa…aish. Awas saja kalau kau tidak pergi ke kantor!

Aku menyapu dengan kesal. Aku menghentakkan sapu itu ke segala arah. Akhirnya aku memutuskan untuk menyanyi-nyanyi saja. Biar saja dianggap gila.

“Sorry sorry sorry sorry naega nega nega meonjeo..” Aku mulai bernyanyi sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakiku mengikuti lagunya.

“Tantantantarantantarantan..” Aku mulai bergerak-gerak lagi. Aku menari sambil masih memegang sapu di tangan. Saat aku asyik bernyanyi, tiba-tiba ada sebuah suara asing yang menggangguku.

“Permisi..Lee Donghae..ada?” Aku mendongak. Seorang namja menatapku ngeri. Hah? Apa dia kira aku gila? Biar saja!

“Tadi Donghae oppa pergi ke kantor. Katanya ada urusan,” kataku acuh tak acuh. Namja dihadapanku itu mengangguk-angguk. Ekspresinya terlihat kecewa.

“Ada perlu apa? Kalau ada pesan bisa kusampaikan.” Aish..kau pikir ini di telepon, Lee Sunghee?!

“Ah tidak usah. Kau ini..pembantunya Donghae ya?” ujarnya dengan suara pelan. Apa..? Aku memang terima jika disebut gila tapi..PEMBANTU?! Pembantu seorang Lee Donghae, saudara-saudara?! Oh my God! Aku adiknya! Kalau adiknya pembantu lalu kakaknya apa? Sopir?!

“Aku adiknya,” ucapku menahan amarah yang telah bergelung di dada. Untung saja aku tidak langsung menyemburnya.

Namja itu terlihat bersalah.

“Mian..aku tidak tahu..jeongmal mianhae.” Dia membungkuk. Aku mau tidak mau balas membungkuk.

“Ah kenalkan namaku Lee Hyukjae. Kau?” ucapnya. Aku menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak menarik. Wajahnya bahkan tampak seperti orang China yang nyasar di hutan.

“Lee Sunghee. Kau temannya ya?” Dia mengangguk. Tunggu sebentar. Rasanya aku pernah mendengar nama Lee Hyukjae sebelumnya…

Sunghee ya, oppa ada keperluan di kantor bersama Lee Hyukjae. Harus berangkat pagi. Kau urus rumah ya. Annyeong.”

Kalau Hyukjae ada di sini..lalu..KAU PERGI KEMANA LEE DONGHAE?!

Tanpa sadar aku menghentakkan kaki ke tanah dan melempar sapu itu sembarangan. Aish aku benar-benar kesal!!!  Tak sengaja, namja itu menangkapnya.

“Kubantu deh..sebagai permintaan maaf.” Aku memandang bingung ke arahnya. Namja itu mulai menyapu halaman. Apa? Dia ini kenapa sih? Naluri pembantunya keluar kah?

“Hei..tidak usah..” tolakku halus. Namun dalam hatiku tentu saja kau mau dibantu!

“Gwaenchana. Aku senang bersih-bersih kok.” Hyukjae tersenyum. Aku terdiam. Benar juga. Kalau tidak salah Hyukjae ini kamarnya rapi sekali. Donghae oppa katanya sampai takjub waktu masuk ke kamarnya. Hm..kumanfaatkan dia saja dulu.

“Hyukjae sshi, aku terima bantuanmu.” Aku tersenyum manis. Aku lalu berlalu ke dalam rumah dan mengambil kemoceng.

“Sementara kau bersihkan halaman, aku bersihkan di dalam rumah ya!” seruku. Kulihat Hyukjae mengangguk. Aku sendiri malah asyik membersihkan meja sambil makan keripik dan melanjutkan nyanyianku yang tadi tertunda. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepukku. Aku menoleh kaget. Namja itu tersenyum padaku sambil mengelap peluh di keningnya.

“Sudah selesai. Lihat!” Hyukjae menunjuk ke arah halaman. Aku mengikuti arah yang ditunjuk. Omo..rapi sekali! Seperti baru lagi!

“Hebaaat..” gumamku tidak sadar. Hyukjae tersenyum. Dia mengambil pel dan segera mengepel rumah. Mau tidak mau aku membantunya. Kami mengepel sambil bercanda dan tertawa-tawa. Ternyata namja ini asyik untuk diajak bercanda. Sangat asyik. Dia selalu membuatku tertawa. Pipiku sampai pegal karenanya.

Agak lama, akhirnya rumah sudah kinclong. Aish..kalau Donghae oppa pulang, betul-betul kucekik dia! Tidak tahu dia penderitaan membersihkan rumah besar ini! Kemana pula dia? Heran, akhir-akhir ini kerjaan kabur melulu. Apa jangan-jangan dia selingkuh dari Hyosun unnie? Dia kan jarang berkencan dengan unnie. Aish dasar sifat playboynya itu lho.

“Sunghee sshi..” Aku baru sadar ternyata aku tidak sendiri. Hyukjae terduduk di sebelahku.

“Ne?”

“Panggil aku oppa! Bagaimana pun aku lebih tua dari pada kau!”

“Aish.. ne, oppa. Wae?” ucapku agak kesal. Hyukjae terkekeh.

“Minta minum..” Hyukjae memasang puppy eyesnya. Aku menatapnya skeptis. Akhirnya aku beranjak ke dapur. Oppa kau harus tanggung jawab membiarkan aku berdua dengan monyet ini! Aku tak rela!!!

“Nih minumnya.” Aku menyodorkan segelas air padanya. Dia menerimanya dan meneguknya dengan rakus lagaknya supir angkot.

“Aaahh…gomawo.” Dia mendesah-desah sehabis minum, bukannya tergoda, aku malah pengin muntah melihatnya.

“Oppa, tau ga itu air apa?” tanyaku polos. Hyukjae menatapku. Dia menggeleng.

“Air apa memangnya?”

“Itu air…bekas…ehm..bekas…”

“Bekas apa?”

“Bekas cucian beras. Rasanya enak ya?” tanyaku. Hyukjae melotot.

“Apa?! Pantas saja aku merasakan cita rasa yang sesungguhnya!” Mata Hyukjae berbinar. Kini aku yang melotot.

= = =

“Oppa kau benar-benar tega!!! Kau tahu setelah kau pergi ada monyet autis nyasar ke rumah kita?! Tapi untung monyet itu bisa baca tulis dan beres-beres rumah sehingga rumah ini kinclong tapi… masa dia bilang air bekas rendaman beras itu cita rasa yang sesungguhnya?!” Aku langsung mengomel ketika Donghae oppa memasuki rumah. Dia terkejut mendengarku.

“Monyet? Beres-beres rumah sih masih mending tapi…baca tulis?” Tatapan Donghae oppa seperti ini ==>O_o

“Aish…aku memakai perumpamaan oppa..monyet itu bernama Lee Hyukjae!” kataku jengah. Donghae oppa terbahak.

“Kukira monyet asli! Ahahaha dia emang autis!” Donghae oppa berjalan ke kamarnya masih sambil tertawa. Aku menatapnya miris. Kasihan sekali oppa. Baru pulang sudah gila.

= = =

Kali ini aku ingin mencari novel ke toko buku. Aku sudah terbebas dari kuliah! Dosen baik berhati malaikat itu meluluskanku di umur 19 tahun ini. Dia bilang aku sudah cukup pintar dan skripsiku sudah selesai jadi aku lulus! Tadinya aku bekerja sambil kuliah tapi dosen mengerti. Kebetulan rektor itu teman orang tuaku, yang bersedia menjadi waliku selama ini. Ah aku senang sekali.

Aku melihat-lihat deretan buku-buku yang disusun rapi di rak berwarna putih itu. Hm…enaknya beli genre apa ya? Komedi? Romance?

Otakku mengingingkan mataku untuk menatap ke depan. Ternyata Hyukjae berdiri beberapa meter di hadapanku. Dia sedang menatapku dengan pandangan aneh. Aku heran. Ada yang aneh dengan diriku? Apa aku bertambah cantik atau keren kah?

Hyukjae tersenyum dan berjalan mendekatiku. Matanya tak lepas dari mataku. Aku terus menatapnya. Jantungku berdebar kencang seperti seseorang sedang memainkan drum di dalamnya. Hyukjae terus berjalan tegap mendekatiku. Sampai tiba-tiba kakinya membentur sebuah tumpukan buku di lantai dan dia dengan sukses terjatuh ke arahku. Oh tidak..dia menabrakku dan…tanpa sengaja kedua tangannya hinggap di tembok, mengunciku di antara tangannya. Dan bibirnya..menyentuh bibirku! Dunia kiamat…

Aku langsung mendorongnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Wajahku memanas tapi rasanya aku tetap tenang. Entah kenapa.

“Itu ciuman pertamaku tau,” ucapku. Hyukjae terbelalak. Terkejut dengan perkataanku yang diluar dugaan. Aku tersenyum sendiri.

“Itu juga pertama untukku,” kata Hyukjae akhirnya. Kami terdiam. Merasa aneh sendiri dengan keadaan ini. Biasanya kan heboh, tapi kami malah diam dengan tenang.

“Hee, kita aneh ya?” tanya Hyukjae tiba-tiba. Aku menatapnya.

“Mungkin?” kataku. Kami terdiam lagi. Tapi kemudian kami tersenyum sendiri.

“Ah kita ini bodoh sekali,” ucap kami bersamaan dan berjalan ke kasir dengan berdampingan. Beberapa orang menatap ke arah kami dengan tatapan aneh dan skeptis.

= = =

“Ini sahabatku, Lee Hyukjae.” Donghae oppa mengenalkannya saat kita berada di kantin kantor. Aku terkejut. Wajahku memanas. Seakan mengingatkanku tentang “ciuman kecelakaan” itu.

Aish…sudah kuduga kami bakal canggung. Kenapa pula kami harus duduk bersebelahan? Aah…hidupku suram..

Ya Tuhan! Jam makan siang kan hanya 30 menit! Okelah paling banter 45 menit tapi kenapa rasanya lama sekali? Apa satu menit itu sudah berganti dari 60 detik ke 60 jam? = =”

Akhirnya kami selesai makan. Aku dan Hyukjae oppa tidak berkata-kata. Kami sama-sama malu. Padahal waktu hari KP (Kejadian Perkara) kami biasa, efeknya ternyata baru terasa sekarang. Memang aneh.

Oppa…aku meragukan aku ini adikmu atau bukan?? Kenapa aku beda sekali denganmu?!

= = =

“Oppa, kau sakit hati?” tanyaku prihatin pada Donghae oppa. Dia pernah bercerita bahwa dia menyukai Kyora unnie dan ingin memutuskan Hyosun unnie. Tapi ternyata Kyora unnie sudah menikah.

Donghae oppa menatap lurus ke depan. Dia bersandar pada sofa. Tatapannya kosong. Terakhir kali aku melihatnya begini itu saat Appa pergi. Umma tidak kuat menahan beban dan memutuskan untuk bunuh diri. Umma berlari menerjang mobil Donghae oppa yang sedang melintas. Umma pun tewas seketika. Saat itu Donghae oppa bahkan memutuskan untuk bunuh diri juga. Dia mengklaim dirinya sebagai pembunuh ibunya sendiri. Saat itu Donghae oppa sudah hampir berhasil bunuh diri, tapi aku muncul di hadapannya. Aku menangis sambil berlutut di hadapannya. Akhirnya dia luluh dan terus menjagaku sampai sekarang.

“Kau sangat mencintai Kyora unnie?” tanyaku pelan. Aku berlutut di hadapannya. Menatap wajahnya yang menunduk dengan prihatin.

“Ye,” katanya tegas. Masih sambil menunduk.

“Oppa..” Aku tidak tahan. Aku duduk di sebelahnya dan memeluknya. Oppa baru bisa begini ketika kehilangan atau tersakiti oleh orang yang benar-benar dicintainya.

“Sunghee..”

“Oppa, aku ini adik oppa kan?” tanyaku langsung. Donghae oppa menatapku heran. Aku melepaskan pelukanku.

“Tentu saja.”

“Adik kandung?” Suaraku serak, seperti tercekat. Donghae oppa terdiam. Dia menunduk.

“Kau bodoh. Tentu saja iya!” Donghae oppa tertawa parau. Aku terdiam. Bingung.

“Tapi kenapa sifatku beda jauh denganmu sih?” tanyaku.

“Ingat Sunghee, matamu mirip mataku. Hidungmu juga.” Donghae oppa menunjuk hidungku sambil tersenyum. “Sifat cassanova dan teguh pendirianku juga menurun padamu kan?” Donghae oppa tertawa, lebih lepas. Aku tersenyum.

“Ne, oppa.” Aku tidak meragukannya lagi.

= = =

Ponselku berdering, ada telepon masuk.

“Sunghee sshi, ada waktu luang?” tanya Hyuk oppa di seberang.

“Ne. Mau kemana?”

“Cafe yuk.”

“Tapi oppa yang bayar. Aku tidak mau mentraktirmu lagi.”

“Arrasseo..” Hyuk oppa terdengar kesal. Aku terkekeh. Aku pun memutuskan hubungan telepon dan membereskan berkas-berkasku. Hyukjae oppa menungguku di depan lift. Kami berdua pun pergi ke salah satu restauran.

Restauran yang cukup besar, romantis, dan mewah. Uang darimana dia bisa mentraktirku di sini?

“Ditunggu 15 menit ya.” Seorang pelayan pergi meninggalkan meja kami. Tak lama kemudian makanan datang. Kami asyik makan dengan tenang dan..rakus. Sampai tiba-tiba ponselku berdering. Dari Donghae oppa.

Aku terkejut saat mendengar kata “Hyosun hamil” dari mulut Donghae oppa. Sontak aku tersedak.

“MWO?!” Aku tersedak. Garpuku terlempar. Hyukjae oppa tersenyum meminta maaf dan meminta garpu lain. Aku cepat-cepat minum untuk meredakan tersedakku.

“Kau apakan dia oppa?!” Kali ini suaraku kupelankan. Jangan-jangan selama ini oppa selalu keluar rumah pada hari Minggu itu karena…

“YAH! Bukan aku!” seru Donghae oppa galak. Aku mengkeret. Akhirnya aku melanjutkan percakapan dengannya dengan suara di pelankan. Hyukjae oppa terus menatapku penasaran.

Telepon ditutup. Aku menatap Hyukjae oppa. Tatapanku sarat akan keheranan.

= = =

Tak terasa waktu telah berlalu, kejadian-kejadian berlalu begitu saja tanpa bisa kita cegah. Hari ini hari yang buruk untuk Donghae oppa. Hyosun unnie menikah dengan Kibum. Aku tidak mau memanggilnya oppa. Sama sekali tidak pantas. Aku menyalami beberapa tamu yang datang. Memaksakan untuk tersenyum itu sulit. Aku harus tersenyum saat aku melihat oppaku sedang menunduk, sedih. I hate it. Dari dulu aku tidak pernah suka bermain drama.

Dari arah jam 3, Donghae oppa datang ke arahku. Dia tersenyum ke tamu yang sedang berbincang denganku dan menarikku menjauh. Aku menatapnya heran.

“Aku ingin kau melakukan..” katanya. Aku menunggu.

“Aish, bisakah kau mengantar jemput Kyora? Atau mengantarnya pulang saja sudah cukup. Bisakah kau menemaninya terus? Kumohon…” Aku tertegun. Begitu besarkah rasa cinta Donghae oppa pada wanita itu?

“Aku..”

“Kumohon, Sunghee….” Donghae oppa menatapku dengan pandangan memelas. Dia memohon padaku. Dari dulu akulah yang selalu memohon padanya. Aku tidak mengerti.

“Hh…arasseo..” Aku mengangguk. Donghae oppa tersenyum.

“Kau memang adikku.” Dia mengacak rambutku dan pergi. Aku mendengus.

= = =

“Sunghee ah, kau mau menjadi pacarku tidak?” tanya Hyuk oppa. Aku tersedak. Kenapa pula dia harus menembakku saat aku sedang minum teh? Aku segera minum. Aish…Donghae oppa dan Hyukjae oppa itu benar-benar duet maut. Spesialis bikin orang tersedak!

“Sama sekali tidak romantis…” komentarku pelan.

“Aish…romantisnya nanti kalau aku melamarmu!” Aku lagi-lagi terbatuk.

“Kau…benar-benar…”

“Jadi bagaimana? Mau kan?” Aku terdiam. Akhirnya aku mengangguk. Dia tersenyum lebar, memamerkan gummy smilenya.

Kuakui kisah cintaku dengannya memang aneh. Tak ada romantisnya, konyol, dan blak-blakan tanpa bisa mengutarakan perasaan yang sesungguhnya. Mengerti maksudku? Tidak? Ya sudah tak perlu dibahas.

Beberapa bulan setelah Hyosun unnie menikah, Donghae oppa makin jarang ada di rumah. Bukan hanya di pagi hari, malam hari pun dia pergi. Aku heran. Pergi ke mana dia sebenarnya. Dia tidak pernah cerita. Aneh sekali.

Akhir-akhir ini Hyukjae oppa makin lengket saja padaku. Bahkan Donghae oppa dan Raeki berkomentar bahwa kami itu kembar siam. Saking lengketnya. Aigoo..berlebihan sekali mereka.

“Aku bosan…” keluhku. Dari tadi kerjaanku hanya berguling-guling di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel. Aku kesepian sekali. Donghae oppa tidak pernah mengizinkan Hyukjae oppa untuk ke rumah saat dia tidak ada. Sedangkan Hyuk oppa hanya mengirim SMS atau menelepon jika keadaan sedang darurat. Atau bahkan mungkin dia hanya akan meneleponku kalau rumahnya terbakar. Sial…bosannya.

Aku iseng menelepon Chaerin. Kuharap dia ada waktu dan tak sibuk mengurusi cafenya itu.

“Chaerin ah..aku bosan..”

“Sunghee ah…aku sibuk..”

“Aish jinjayo.. kau benar-benar tak ada waktu?”

“Ne. Akhir-akhir ini cafeku banyak pelanggan. Kau ke sini saja.”

“Ah tidak usah. Aku tidak punya uang.”

“Kasihan.” Terdengar suara ribut-ribut di seberang sana. Aku mendengus. Tiba-tiba aku punya ide.

“Hei, kau single kan? Kujodohkan dengan kakakku ya?”

Kebetulan di sana terdengar suara yang mengatakan, “Chaerin ah, kuenya dimasak sampai kecoklatan kan?” Namun sayang kata-kata itu tak sampai di telingaku.

“Iya!” jawab Chaerin keras.

“Wah semangat sekali. Baiklah aku tunggu nanti ya.” Aku menutup telepon.

Di seberang sana, Chaerin keheranan menatap ponselnya.

“Kenapa?” tanya Hyorin.

“Sahabatku lagi kumat,” kata Chaerin cuek dan kembali melanjutkan memasak.

= = =

“Oppa! Kau tidak pernah cerita kalau kau ini sudah berpacaran dengan Chaerin!” Aku marah ketika melihat Donghae oppa masuk rumah dengan wajah gembira. Tadi aku baru mempertemukan mereka dan ternyata mereka sudah saling kenal dan bahkan sudah bertukar cincin! Chaerin sudah dilamar olehnya! Sial..

“Hehe…darah cassanovaku belum hilang.” Donghae oppa terkekeh.

“Aish..hidupku ini benar-benar suram..”

“Sudahlah kau jalan-jalan saja dengan Hyukjae!” Donghae oppa mendorongku keluar rumah dan langsung menutup pintu depan ketika aku sudah di luar rumah. Apa lagi ini? Aku marah dan malah diusir?! Sial!!!

Aku mengambil ponsel dan menekan-nekan tombolnya dengan penuh nafsu. Aku lalu mendekatkan ponsel ke telinga.

“Wae?” kata suara di seberang.

“Oppa, jalan-jalan yuk! Aku kesal.”

“Dan aku sebagai pelampiasan?” kata Hyuk oppa.

“Aish..bukan begitu! Siapa tahu kau bisa menghiburku.”

“Baiklah kau pergi sendiri ke taman kota ya. Atau mau kemana?”

“Ke laut aja!”

“Pantai, jagi. Bukan laut. Kalau laut berarti kita ada di tengah-tengah air dan terumbu karang.”

“Aish sudahlah! Iya iya aku ke pantai sendiri!” Aku mematikan telepon. Aku lalu berjalan ke arah pantai yang cukup dekat sambil menghentakkan kaki. Oppa dan Chaerin sudah bahagia sedangkan aku? Kisah cintaku ini luntang lantung tidak karuan.

= = =

Aku menceritakan semuanya pada Hyukjae oppa. Dia hanya tersenyum-senyum sendiri mendengarkan ceritaku. Itu membuatku makin kesal.

“Sudahlah, jagi. Kau ini memang unik kok. Jangan kesal..” Hyuk oppa memelukku. Aku diam. Yah..lupakan saja. Toh kali ini suasana romantis sekali. Sunset, debur ombak, angin sepoi-sepoi, dan dipeluk namja bernama Hyukjae.

“Sunghee ah, biar kau tidak kesal… aku mau melakukan sesuatu.” Hyukjae oppa menjentikkan jarinya dan keluarlah beberapa orang yang membawa biola dan gitar. Aku heran. Hyuk oppa berdeham. Alat musik dimainkan, begitupun dengan suara Hyukjae oppa. Dia mulai bernyanyi. Suaranya merdu. Aku terdiam. Apa ini?

Selesai bernyanyi, Hyukjae oppa mengaduk-aduk sakunya. Aku menunggunya dengan sabar. Ya Tuhan…dia pasti melamarku sekarang! Tapi…kenapa mencari cincinnya lama sekali? Hyuk oppa terlihat pucat. Dia mulai merogoh sakunya lebih dalam dengan penuh semangat. Aku mulai bosan. Hidupku suram..bahkan saat lamaran pun seperti ini.

“Mi..mian tunggu sebentar!” Hyukjae oppa berlari ke arah ombak. Dia menggulung kemejanya dan mencari sesuatu di laut. Omo..jangan bilang cincinnya hilang ke laut dan dimakan ikan hiu.

Hyuk oppa menunduk dan mengambil sesuatu. Dia memunggungiku jadi aku tidak bisa melihat apa yang sedang dia lakukan. Tak lama kemudian dia kembali ke hadapanku. Dia berlutut. Alunan musik yang sempat terhenti mulai dimainkan lagi. Hyuk oppa berlutut di hadapanku dan menyodorkan sebuah…cincin…rumput laut?!

“Mianhae aku tidak tahu cincin yang asli dimana tapi…will you marry me?” tanyanya. Aku tertegun. Kemudian aku tersenyum. Seharusnya aku bahagia, acara lamaran ini beda sekali dengan pasangan lain. Kita ini unik dan aku suka itu.

“I will.” Aku tersenyum. Hyuk oppa memasangkan cincin rumput laut itu di jariku. Beberapa orang yang melihat bersiul dan bertepuk tangan. Hyuk oppa memelukku lembut.

“Gomawo..saranghae.”

“Na ddo,” balasku.

“Ehem, permisi tuan..eh…ini..cincinnya..” Suara seseorang menghancurkan segalanya. Kami melepaskan pelukan dan melihat ke orang itu. Orang itu membawa sebuah kotak beludru.

“Kenapa di kamu?” Hyuk oppa heran.

“Tadi…tadi…bukankah tadi tuan yang menitipkannya padaku dan baru memberikannya saat tuan menjentikkan jari dua kali? Tadi tuan tidak melakukannya dan..jadi..aku diam saja. Kukira tadi itu sudah ada di dalam skenario.” Aku dan Hyuk oppa menganga. Hyuk oppa menghela napas dan merebut kotak beludru itu dari tangan orang itu. Dia lalu berlutut lagi di hadapanku.

“Ambil saja cincinnya. Hanya untuk formalitas.” Aku mendengus. Aku mengambil cincin silver di dalam kotak itu. Aku tersenyum. Hyuk oppa memasangkannya di jariku yang lain.

“Saranghaeyo.”

“Na ddo.” Aku menahan senyum. Ah…ini benar-benar diluar dugaan semua orang, bukan? Unik. Oh ya, cincin rumput laut ini…akan kucuci dan kuabadikan. Hehehe…

= = =

“Chukkae, Hyukkie! Jaga adikku baik-baik oke? Tanpa lecet sedikit pun!” kata Donghae oppa.

“Ne, hyung.”

“Apa?! Jangan memanggilku hyung meskipun aku kakak iparmu ya!” kata Donghae oppa. Kami terdiam. Sesaat kemudian kami semua tertawa.

“Ini lanjutan di toko buku waktu itu..” Hyukjae oppa mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia mencium bibirku lembut. Masih ingat saja masalah itu.

“Oh ya Hae oppa! Nama anakmu siapa?” tanyaku setelah Hyukjae oppa melepaskan ciumannya.

“Lee Haerin. Kenapa?”

“Syukurlah bukan Vanilla.” Aku terkekeh. Chaerin langsung tertawa.

= = =

“Sebaiknya…dia diberi nama siapa?” tanyaku pada Hyukjae oppa.

“Hm..bagaimana kalau.. Hyukhee?”

“Aneh oppa..” Aku melirik bayi yang ada di gendongan Hyuk oppa.

“Ah! Bagaimana kalau Eunhyuk?” usulku.

“Hah? Kenapa Eunhyuk?”

“Karena Eun artinya silver. Ingat masalah cincin silver itu?? Dan hyuk tentu saja dari namamu.”

“Lalu dari namamu apa?”

“Bukankah kita sama-sama mempunyai marga Lee? Anggap saja Lee itu dari namaku.”

“Arasseo.. baiklah namamu Lee Eunhyuk.” Hyukjae oppa tersenyum pada bayi mungil di gendongannya. Aku ikut tersenyum. Hidupku cerah, tidak suram lagi. Oh ya, satu lagi. Unik.

THE END

20 thoughts on “[FF] Unique Love (Sunghee’s POV)

  1. Ami_cutie says:

    aigoo..neomu neomu kyeopta
    hyukkie gila! sunghee juga!
    (ditabok coz ngata2in orang)
    ampe lamaran aja ga ada perfect2nya..

    keren ffnya!

  2. rabbitpuding says:

    hahahahaha. bagus sunghee ! kamu udah mahir membuat ff ! ceritanya bagus, seperti yang kamu ceritain !

  3. dhikae says:

    hahaha rada aneh nmanya lee eunhyuk..ckkkk *palagi hyukhee
    hyukjae… dsr ga prnh srius… sarap *geleng2
    nice ff

  4. haerin says:

    kalian berdua sarap abis… autis
    slamat atas lahirnya lee eunhyuk..
    si lee eunhyuk cowo? kalo lee haerin…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s