[FF] Cafe of Love (Donghae’s POV)

(Donghae’s side story of Please Love Me and Her)

Sepulang dari pernikahan Hyosun dan Kibum aku menyempatkan diri untuk mampir ke cafe terlebih dahulu. Aku memilih cafe Vanilla Peace di pinggir pusat kota. Dari namanya sepertinya cafe ini memang menenangkan. Aku memarkir mobilku dan masuk ke dalam cafe itu. Hmm..wangi yang lembut langsung menyapaku. Seperti aroma theraphy. Benar-benar menenangkan. Desain wallpaper kayu serta sedikit hiasan berwarna hijau membuat mataku kembali segar. Pelayan yang kebetulan melihatku langsung membungkuk dan menyapaku. Aku tersenyum. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela. Menatap langit yang agak mendung.

Langitnya indah sekali. Melihat langit ini jadi teringat Kyora. Aish..sudahlah lupakan dia. Bukan, tepatnya lupakan rasa cinta padanya. Itu lebih tepat karena aku tidak bisa melupakannya.

“Selamat sore..mau pesan apa?” tanya seorang waitress yang manis. Dia menyodorkanku sebuah menu. Aku mengambilnya dan mengamati gambar-gambar makanan yang tertera di sana.

“Apa kau bisa memberikan makanan dan minuman yang bisa membuatku tenang? Aku agak sedikit kacau hari ini,” pintaku. Waitress itu terdiam sebentar sampai akhirnya mengangguk.

“Chef kami sangat handal dalam membuat makanan. Biar saya beritahu kepada chef kami.” Waitress itu pun membawa kembali menunya. Dia berjalan ke dalam dan berbicara pada seseorang. Sayangnya orang yang diajak bicara tidak terlihat karena terhalang lemari.

Beberapa menit kemudian waitress tadi datang sambil membawa sebuah nampan. Sepertinya sudah 10 menit lebih aku menunggu tapi aku tidak merasa bosan. Mungkin karena lantunan lagu Your Eyes, Just For One Day, One Fine Spring Day, dan lagu lainnya yang menenangkan membuatku betah berada di sini. Cafe ini memang cocok dinamakan Vanilla Peace. Suasananya sangat damai. Tapi apa hubungannya dengan vanilla? Sejauh ini yang berwarna putih di cafe ini hanya meja kasir dan mini bar.

“Chef Chaerin sudah membuatkan hidangan yang pas untuk anda. Secangkir Earl Grey tea herbal special, dan sepiring Chocolate Peace cake. Selamat menikmati.” Waitress itu tersenyum dan berlalu dari hadapanku. Menu-menu tadi..sepertinya tak kutemukan di daftar menu. Apa Chef Chaerin itu memang sengaja membuatkan menu baru untukku?

Aku menghirup teh dulu. Hm..kehangatan langsung menjalari tubuhku. Rasanya menenangkan. Aromanya yang harum begitu memanjakan hidungku. Kali ini kucoba memotong cake itu dan menyuapkannya ke mulutku. Oh! Ternyata ada coklat yang melumer di dalamnya. Hm..benar-benar lezat. Tapi ini sepertinya bukan coklat biasa. Ini seperti coklat yang sudah dicampur dengan susu sebelumnya. Rasanya lebih lezat. Ah..pilihanku datang ke cafe ini memang tidak salah! Saking lezatnya aku nyaris melupakan masalahku selama ini. Alunan lagu lembut pun seakan menyuruhku untuk menenangkan diri sejenak. Siapa pendiri cafe ini? Cafe yang sukses menurutku.

Aku sudah selesai makan dan berjalan ke arah kasir. Setelah selesai membayar, aku tidak langsung pergi dari situ. Kasir yang bernama Hyorin itu heran.

“Permisi, tuan, ada apa?” tanyanya.

“Ah maaf. Aku hanya ingin berterima kasih pada chef Chaerin yang sudah memberikan makanan yang sangat lezat dan menenangkan. Moodku jadi baik.” Aku tersenyum. Hyorin tersenyum.

“Sebentar ya, kupanggilkan chef Chaerin dulu.”

“Ah tidak usah!” cegahku. Hyorin heran.

“Dia pasti sibuk. Pelanggang berdatangan tuh,” kataku sambil menunjuk pintu. Sepasang suami istri memasuki cafe. Hyorin mengangguk paham.

“Baiklah..terima kasih, tuan. Kembali lagi kapan-kapan.”

“Tentu saja. Aku sangat menyukai cafe ini.” Aku melempar senyum dan berbalik meninggalkan mereka. Kurasa aku akan sering mengunjungi cafe ini.

 

= = =

Hari yang sama seperti kemarin. Monoton.

“Sunghee yah! Cepatlah! Kau ini lama sekali. Kemarin tidak begini,” gerutuku. Bagaimana tidak? Kantor masuk jam 8 dan sekarang sudah jam setengah 8. Perjalanan dari rumah ke kantor membutuhkan waktu 45 menit!

“Aku siaap!” seru Sunghee dari lantai 2.

“Kalau kau siap, kau seharusnya sudah berada di hadapanku sekarang!”

“Arasseo..kau ini jadi cerewet ya!” Sunghee turun sambil menenteng sepatu. Aku tidak memedulikan sepatunya dan malah berlalu pergi begitu saja. Aku menunggu di dalam mobil. Tak lama kemudian Sunghee menyusul. Aku pun langsung tancap gas.

“Lain kali bangun lebih pagi,” kataku sedikit kesal.

“….”

“Sunghee? Lee Sunghee?” Aku menoleh dan mendapatinya sedang tertidur. Aku menganga. Tapi akhirnya aku terkekeh juga. Salah sendiri begadang.

 

“Hyukjae tidak akan suka jika tahu kau suka begadang, Sunghee,” kataku sambil lalu ketika berjalan memasuki lift. Sunghee hanya bergumam tidak jelas.

“Makan siang gabung bersama kami ya,” ucap Sunghee sebelum aku keluar lift. Aku hanya mengangguk dan berlalu pergi.

 

Saat masih asyik berkutat dengan komputerku, interkom di mejaku berbunyi. Aku segera menjawabnya.

“Donghae sshi, bisa tolong ambilkan berkas di ruangan HRD? Aku sudah menitipkannya pada Hyukjae.” Kalau begitu kenapa tidak suruh dia saja yang kemari?

“Baik, pak.” Aku mematikan interkom. Aku menyeruput kopiku dan berlalu ke ruangan HRD.

“Itu berkasnya.” Hyukjae menunjuk sebuah map berwarna merah di atas mejanya sementara dia berkutat dengan mesin foto copy.

“Ganti profesi jadi tukang foto copy kah?” ejekku sebelum keluar ruangan.

“Aish…anak itu!” gerutu Hyukjae pelan.

 

Aku menekan tombol lift dan hendak masuk ke dalamnya ketika seseorang memanggil namaku.

“Donghae oppa!” Tunggu dulu…suara ini… Aku memutuskan untuk berbalik. Aku terkejut.

“Donghae oppa…” ulangnya lagi. Kali ini lebih lembut dan terdengar sedikit manja. Jantungku berdegup kencang dan nafasku tercekat. Bisa dipastikan wajahku memerah. Aku pun segera memalingkan muka dan langsung masuk ke dalam lift sebelum pintunya tertutup.

“Kenapa kau…memanggilku oppa?” tanyaku akhirnya.

“Tidak bolehkah? Baiklah aku akan memanggilmu Donghae sshi.”

“Ah bukan begitu maksudku! Aku senang dipanggil oppa tapi rasanya mengejutkan saja,” kataku cepat. Kulihat dia tersenyum. Aigoo..manis sekali.

“Awalnya memang aneh berlatih memanggilmu oppa. Tapi lama kelamaan aku terbiasa juga.”

“Apa? Kau berlatih memanggilku oppa di rumah?” Aku terbelalak. Jujur aku terkejut. Bagaimana kalau Kibum mengetahuinya? Bisa rumit urusanku nanti.

“Ne, oppa. Saat Kibum sedang bersama Hyosun, aku menyendiri di ruang keluarga sambil melatih mengucapkan “Donghae oppa”.” Katanya dengan polos. Omo…kau ini benar-benar..sepulang kerja bisa-bisa aku tidak selamat. Hyosun? Ah apa kabar dia?

“Bagaimana kabar Hyosun?”

“Ah..dia baik. Kudengar dia mantanmu ya?”

“Ya. Tapi aku sudah tidak mencintainya lagi.” Aku sedikit berbohong. Sejujurnya rasa cinta itu masih ada meski hanya 1%.

“Apa?” Dia terlihat terkejut. “Dari dulu aku hanya bisa mencintai Kibum seorang. Kibum itu cinta pertamaku dan terakhirku. Aku heran kenapa orang lain bisa mencintai orang dengan mudahnya.” Kyora berkata dengan ringan tanpa beban. Aku menunduk. Kuakui aku cemburu mendengarnya. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku sudah mundur meski aku tidak menyerah.

“Mian Donghae oppa, bukan maksudku menyinggungmu..” Aku menatapnya yang terlihat bersalah. Mau tak mau aku tersenyum.

“Gwaenchana. Aku tidak tersinggung kok.” Ya aku tidak tersinggung, tapi aku cemburu. Lift terbuka. Aku tersenyum padanya dan keluar dari lift. Syukurlah tidak lama-lama. Kalau tidak jantungku bisa lepas karena berdebar terlalu keras.

 

= = =

Sepulang kerja, aku melihat Kyora sendirian. Tapi ternyata Sunghee berjalan menyusulnya dari belakang. Sunghee sempat mengedipkan sebelah matanya padaku dan berlalu menjajari langkah Kyora. Aku tersenyum. Aku memang meminta Sunghee untuk mengantar Kyora pulang. Semenjak Kibum menikah lagi, dia jadi jarang kutemui di kantor. Aku juga meminta Sunghee menjaganya terus. Bodoh? Mungkin. Tapi jika aku mendekatinya, mengantar jemputnya secara terang-terangan, justru itu lebih bodoh. Kalau kau ingin mati, silakan lakukan hal tersebut.

Ona, keu nuga nuga mworaedo naneun sangwan obdago…

Ponselku berdering memberitahu ada SMS masuk. Dari nomor tak dikenal. Aku membaca isinya.

“Lee Donghae, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Kim Kibum.” Aku menaikkan alis dan segera menyimpan nomornya. Aku lalu membalasnya.

“Cafe Vanilla Peace jam 7 malam. Bagaimana?”

“Baiklah.” Kututup flip ponselku dan memasukkannya ke saku celana. Aku memasukkan kedua tanganku ke saku celana dan mulai berjalan ke mobil. Untung saja Sunghee punya mobil sendiri.

 

= = =

Sudah kuduga sebelumnya. Kibum pasti membicarakan tentang Kyora yang selalu memanggil namaku di rumah. Kibum terlihat sedikit emosi. Aku juga mulai terpancing. Ingat siapa yang menghamili pacarku? Kau mengambilnya tapi aku tidak marah. Dan sekarang hanya karena Kyora memanggil namaku terus kau marah besar begitu? Yo man, sadar dimana posisimu!

“Bukan itu saja, dia menyebut-nyebut namamu dengan bahasa tubuh gadis yang sedang jatuh cinta.” Aku mengangkat alis. Sedikit terkejut.

“Jeongmal?” tanyaku. Aku mengambil cangkir tehku dan menghirupnya. Hm..nikmat sekali. Kali ini chef Chaerin memberiku teh peppermint dan sepiring Strawberry Cheese Cake. Dia memang tahu apa yang kucari. Padahal aku tidak memesan sama sekali. Aku hanya bilang kondisi moodku hari ini dan meminta chef Chaerin untuk membuatkan makanan yang pas. Dan benar saja. Dia memang hebat.

“Ne, jinja jeongmal.” Kibum melakukan penekanan pada dua kata terakhir.

“Tapi itu bukan salahku.”

“Dari awal aku memang tidak menyalahkanmu, Donghae sshi.” Kibum terlihat sedikit marah. Aku memejamkan mata sambil menikmati teh peppermintku. Lagu Mirror yang mengalun membuatku merasa sedikit tenang.

“Lalu kenapa kau ingin bertemu denganku? Hanya bicara tentang itu saja?” ucapku tenang. Bertemu dengan Kibum di sini rasanya pilihan tepat. Suasana cafe yang syahdu bisa menenangkan pikiran dan jiwaku yang meluap-luap.

Kibum mendengus.

“Tidak juga. Aku malah ingin meminta maaf dan berterima kasih.”

“Untuk?”

“Maaf sudah sedikit marah padamu. Padahal seharusnya aku yang dimarahi olehmu. Terima kasih sudah mau menjaga Kyora meski lewat Sunghee.”

“Oh kau tahu tentang itu rupanya. Baguslah aku jadi tidak perlu menceritakannya lagi.

“Sudah jam 8 lewat. Sebaiknya kau pulang sekarang,” saranku tanpa ada maksud menyindir atau bahkan mengusir. Kibum mengangguk.

“Aku pamit dulu. Annyeonghi gyeseyo.” Kibum menunduk singkat dan berlalu pergi meninggalkanku. Aku menghabiskan tehku. Strawberry Cheese Cake sudah sedari tadi ludes olehku.

“Jadi berapa semuanya?” tanyaku pada Hyorin, sang kasir. Hyorin menyebutkan harganya dan aku membayarnya. Aku tersenyum dan hendak berbalik pergi ketika seseorang menahanku.

“Jankamannyo!” suara yang asing. Aku berbalik. Bukan Hyorin yang memanggilku. Tapi sesosok gadis bertubuh sedikit mungil, berambut pendek yang dikuncir kuda, dan mata yang coklat kebiruan. Warna mata yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sepertinya jika di bawah cahaya terang, matanya akan didominasi oleh warna biru. Seperti sekarang.

“Ye?” kataku.

“Ah..aku chef Chaerin.” Chaerin mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya, “Lee Donghae.”

“Kau yang tidak pernah memesan menu yang ada di sini kan?” Chaerin tersenyum. Aku mengangguk.

“Masakanmu hebat sekali. Cocok dengan moodku. Jika moodku sedang jelek, memakan masakan buatanmu rasanya jadi bahagia.” Chaerin terkekeh.

“Kau berlebihan, Donghae sshi.”

“Tidak, aku serius.”

“Ah, Chaerin sshi, besok kau ada acara?” tanyaku langsung.

“Hm..aku ada shift sampai jam 6 sore.”

“Bisakah kita berbincang sebentar esok hari? Sepulang kerja. Sekarang sudah terlalu malam.” Chaerin terlihat berpikir. Agak lama.

“Can I trust you?” tanyanya.

“Sure, you can.”

“Okay. Besok sepulang kerja.”

 

= = =

“Aku tahu tempat yang bagus di Seoul. Ini tempat favoritku,” kata Chaerin. Dia masih sibuk membereskan barang-barangnya di cafe. Aku dengan setia menunggunya.

“Dimana itu?” tanyaku sambil tersenyum. Chaerin memasukkan sesuatu ke lokernya. Tanpa menoleh, dia menjawabku.

“Kau menyetir kan? Nanti kutunjukkan jalannya.” Chaerin menutup lokernya dan tersenyum memandangku. Aku mengedikkan kepala sambil tersenyum setengah. Adikku yang mengajariku senyum setengah begini. Dia memang paham ekspresi cool.

“Nah…ka jja!” Chaerin mendekatiku sambil membawa tas selempangnya. Aku tersenyum dan membimbingnya menuju mobilku.

“Lurus ke sana…ya…terus di sana perempatan kamu ambil kiri..terus..ah belok ke kanan!” Chaerin terus memberi arahan padaku. Aku hanya mengangguk-angguk.

Ternyata dia membawaku ke sebuah taman. Aku heran. Ini sih aku tahu. Tapi kenapa lewat jalan tadi sih? Memutar-mutar.

“Ayo sini!” Chaerin mengajakku ke suatu tempat. Chaerin mengajakku menaiki menara di sana. Kami pun berada di atas ketinggian dan melihat bintang-bintang yang mulai bermunculan.

“Aku sangat berterima kasih padamu. Baru kali ini ada yang memujiku seperti itu.” Chaerin memulai. Aku menoleh kepadanya, mengalihkan pandanganku dari pemandangan kota Seoul yang indah.

“Aku tulus bilang seperti itu. Aku belum pernah memakan makanan selezat itu sebelumnya. Feeling saat memakannya beda. Mungkin karena yang membuatnya seorang gadis cantik kah?”

“Hah? Ahaha… kau gombal!” kata Chaerin. Dia tertawa. Wajahnya terlihat imut.

“Aku ada satu hal…ngomong-ngomong, kenapa cafemu kau beri nama Vanilla Peace?” tanyaku.

“Oh itu…itu karena aku suka Vanilla.”

“Itu saja?” tanyaku agak heran. Chaerin mengangguk.

“Memang harus apa lagi?” Dia terkekeh. Wajahnya lurus menatap keindahan kota. Aku tersenyum. Chaerin menatapku.

“Ya! Pemandangannya di sana, jangan memperhatikan aku!”

“Tapi kamu jauh lebih indah daripada pemandangannya..” elakku.

“Aish kau itu benar-benar gombal!” Chaerin tampak kesal. Aku terkekeh. Lucu sekali.

“Asal kau tahu saja ya, aku hanya menggombal pada cewek yang kusukai.” Aku tersenyum. Chaerin tersentak. Aku memamerkan senyum setengahku dan memalingkan wajah ke pemandangan kota Seoul. Sempat kulirik wajah Chaerin, merah. Aku tersenyum geli. Aigoo…lucunya.

Tapi suasana indah itu terhancurkan oleh dering ponselku. Aku mengambil ponselku dan melihat layarnya. Dari Hyosun.

“Maaf, Chaerin,” ucapku lirih sebelum berjalan menjauh.

 

“Ada apa?” tanyaku langsung pada Hyosun.

“Ah ani oppa. Kau sedang apa? Aku hanya kesepian di sini.”

“Aku sedang…” Donghae bingung sebentar. “Di menara taman dekat pusat kota.”

“Hah? Kenapa? Seingatku kamu tidak suka pergi ke sana.” Suara Hyosun terdengar heran.

“Oh aku diajak oleh temanku. Ternyata menyenangkan.”

“Oppa…aku sangat menyesal..” Hyosun berkata dengan lirih. Donghae menghela napas.

“Lalu? Sudahlah kau berbahagia dengan Kibum.”

“Ah ye tapi.. di sini mati lampu.. Kyora unnie dan Kibum oppa belum pulang, kau kan tahu sendiri kalau aku takut gelap..” Hyosun memelas. Donghae melirik Chaerin yang masih asyik memperhatikan pemandangan. Donghae menelan ludah.

“Kalau begitu aku akan ke sana membawa lilin dan senter. Memangnya tak ada lampu emergency?”

“Justru itu! Kyora unnie pergi membetulkan lampu emegency, Kibum oppa masih sibuk dengan kasus perampokan banknya.” Donghae tertegun. Kyora sudah seperti kepala keluarga saja. Sampai lampu emergency dia yang membetulkan juga.

“Ya sudah tunggu di sana.”

“Gomawo oppa..” Telepon dimatikan Donghae. Dia menghampiri Chaerin dengan perasaan tidak enak. Chaerin menatap langit.

“Pacarmu menelepon?” katanya tanpa menoleh.

“Tidak. Aku tidak punya pacar.”

“Sama sepertiku.” Chaerin tersenyum. Tanpa sadar aku mengembangkan senyum tipis.

“Ehm…Chaerin ah.. aku harus pergi sekarang.”

“Hm? Kenapa? Langit masih bagus..” Sedikit terdengar nada kecewa di suaranya.

“Ah mianhae, temanku sedang membutuhkanku. Mari kuantar kau pulang dulu.”

“Tidak usah. Kau pergi ke temanmu saja sekarang. Cepat! Dia membutuhkanmu kan?” Chaerin tersenyum terpaksa.

“Ah mianhae..” Aku membungkuk dalam. “Semoga kau tidak kapok jalan denganku.”

“Aniyo..” Chaerin terkekeh geli. “Aku mau jalan denganmu lagi kapan-kapan.”

“Gomawo, Chaerin ah. Kau baik sekali. Aku pergi dulu.” Aku pun segera berlalu dari hadapannya dengan perasaan tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi? Hyosun itu memang takut sekali dengan gelap.

 

= = =

“Aku datang ke sini hanya untuk minta maaf…” Kibum menatapku. “dan terima kasih,” lanjutnya. Aku memiringkan kepala sedikit sambil mengangkat alis.

“Untuk?”

“Kemarin kau menemani Hyosun di rumah dan membawakannya lilin dan senter, terima kasih banyak. Dia memang takut gelap. Dan maaf mungkin aku sudah kasar padamu.” Kibum menunduk dalam. Aku sedikit terkejut.

“Aniyo…tidak perlu seperti itu. Hyosun temanku juga.” Kibum menatapku yang sedang tersenyum.

“Karena kasus di bank sudah selesai, aku akan menemani mereka berdua lebih lama. Tidak akan merepotkanmu lagi.” Aku tidak membalas perkataannya. Kami terdiam sebentar. Kibum ini sengaja menemuiku di kantor hanya untuk itu?

“Ah..ehm…sepertinya aku pulang sekarang saja. Ah Kyora sudah pulang?” tanyanya. Aku heran. Kenapa bertanya padaku?

“Molla. Aku tidak satu ruangan dengannya. Kau telepon dia saja. Atau kau hampiri ruangannya di lantai 4. Mau kuantar?”

“Ah tidak usah. Terima kasih banyak. Aku meneleponnya saja.” Kibum tersenyum pamit dan berlalu dari hadapanku. Aku mengangkat alis dan memasuki lift di sebelahku.

 

= = =

“Halo pelanggan setia!” sapa Hyorin ramah. Dia sudah menjadi temanku sekarang. Aku terkekeh mendengarnya. Waitress yang waktu itu pun sudah menjadi temanku. Apalagi chefnya. Dia sudah memiliki sebagian hatiku.

“Annyeong, Donghae ah!” sapa Yong Ah, sang waitress manis. Aku tersenyum.

“Ah Hyorin, Chaerin ada?” tanyaku langsung. Hyorin tersenyum misterius.

“Kau pacaran dengan chef kami ya..??” godanya. Aku terkekeh.

“Memang kelihatannya begitu kah?” Aku mendengar lagu Angela mengalun. Entah kenapa membuatku tersenyum.

“Tepat! Aku tahu kalian suka berada di taman kota kan? Melihat langit berdua…aih..romantis..” Mata Hyorin berbinar. Aku tersenyum.

“Kau stalker kami ya?” ucapku bercanda. Hyorin menatapku.

“Tentu saja tidak!” Dia berpura-pura kesal. “Sungmin yang melihat kalian. Bahkan ada fotonya!” Aish..hyung yang satu itu benar-benar cocok menjadi papparazi.

“Ya sudah, mana Chaerin-KU?” Aku menekankan kata “KU”. Hyorin dan Yong Ah sontak memekik histeris. Pengunjung tersenyum-senyum sendiri.

“Istrimu sebentar lagi kembali. Dia sedang belanja bahan. Sementara ini adiknya yang menggantikannya.” Hyorin menunjuk lelaki jangkung yang sedang memasak. Aku meliriknya. Cowok itu berbalik padaku dan tersenyum.

“Aku Choi Minho, mannaseo bangapseumnida, hyung.” Cowok bernama Minho itu tersenyum dan berkutat pada pekerjaannya lagi. Tiba-tiba pintu terbuka. Aku berbalik dan melihat Chaerin datang dengan napas tersengal-sengal. Dia tersenyum ketika menatapku.

“Kau benar-benar pelanggan setia. So, bagaimana moodmu hari ini?” tanya Chaerin sambil menepuk punggungku. Yong Ah yang membawa nampan segera mengambil alih kantung plastik di tangan Chaerin dan membawanya ke dapur.

“Sepertinya kau butuh pekerja lebih,” komentarku. Aku melirik Minho yang asyik menghias kue sambil membaca buku di sebelahnya. Chaerin menatap adiknya.

“Minho!! Kau hias apaan?! Creamnya melebur kemana-mana tahu!” Chaerin berseru sambil mendekati adiknya itu. Dia langsung mengambil alih plastik cream di tangan Minho dan segera menghias kue itu. Kue yang tadinya berantakan jadi rapi. Hebat sekali. Minho terkekeh.

“Mianhae, noona. Aku pulang saja.” Minho mengambil bukunya dan memasukkannya ke tas selempang dan berjalan menjauh. Chaerin berdecak kesal.

“Aku merestuimu sebagai kakakku, hyung.” Minho tersenyum dan menepuk pundakku sebelum keluar cafe. Aku terkekeh. Chaerin semakin meluap.

“Donghae, apa moodmu hari ini?” tanya Chaerin agak ketus. Aku menghampirinya. Hyorin dan Yong Ah yang melihatnya hanya tersenyum penuh arti.

“Moodku hari ini sedang bagus, kau jangan menghancurkan moodku ya.” Chaerin tersenyum setengah.

“Hey! Kau bisa tersenyum setengah! Sama seperti adikku! Bahkan lebih sadis..”komentarku. Chaerin tertawa.

“Arrasseo.. aku akan membuatkanmu…hm…Vanilla…”

“Love Cake!” seruku.

“Hah? Kenapa harus Love?”

“Bukankah kita berdua saling mencintai?” Aku tersenyum penuh arti. Chaerin menonjok lenganku pelan sambil berjalan mendekati rak. Dia mengambil beberapa…bumbu? Entahlah aku tak mengerti, lalu dia membawanya ke hadapanku.

“Nih, ini vanilla dan ini strawberry.” Dia menunjuk..mungkin selai atau cream di dalam botol itu.

“Apa maksud..” ucapanku dipotong olehnya.

“Cepat bikin Vanilla Love Cake. Aku sedang banyak pelanggan.” Chaerin berbohong.

“Ah kau ini..” Aku memelas. Tampangku pasti terlihat lucu.

“Chaerin noona! Jangan kasar-kasar pada kakak iparku!” seru Minho dari depan meja kasir. Cafe sedang sepi jadi mereka bisa santai.

“Yah! Choi Minho! Kau belum pulang?!” seru Chaerin. Minho tertawa. “Aish kau ini ya!” Minho keburu kabur sebelm ditimpuk dengan spatula.

“Sudahlah, ajarkan aku bikin cake enak dong.” Aku menyudahi. Chaerin menghela napas.

“Baiklah..begini..”

 

= = =

Hari demi hari kulalui dengan tawa. Karena Chaerin ada. Cafe Vanilla Peace menjadi tempat favoritku dan cintaku kembali bermekaran. Aku menyadarinya. Aku mencintai Chaerin. Kali ini aku ingin melamarnya. Tidak usah pacaran dulu. Buang-buang waktu saja.

“Chaerin ah, bisa ikut aku?” tanyaku. Tanpa berfikir, Chaerin langsung mengiyakan. Aku tersenyum puas.

 

Aku mengajaknya ke menara itu. Aku sudah menyiapkan sesuatu. Aku tahu dia pasti menerimaku.

“Langitnya indah ya?” ucapnya. Aku menggumam mengiyakan. Lagu Ourlove terdengar dari bawah. Aku tersenyum. Aku sudah mempersiapkan semuanya.

“Hah? Kenapa ada lagu di sini? Kemarin-kemarin tidak ada..” Chaerin heran.

“Chaerin, lihat ke sana pakai teropong ini deh. Pemandangannya indah lho.” Aku menyodorkan teropong di tanganku. Dia menerimanya dan melihat dari balik teropong. Seketika ia terkejut. Dia memperhatikan lensa teropong, sebuah benda bundar berwarna perak berkilau hinggap di sana.

“Selotip?” ucapnya lirih. Aku tersentak.

“Jangan lihat selotipnya! Lihat cincinnya!” Wajahku memanas. Apa dia tidak punya sisi romantis apa?

Chaerin terkekeh. Dia melepaskan selotip yang menempelkan cincin itu dan mengambil cincinnya. Untung saja cincinnya tidak lengket. Lagu Ourlove berganti menjadi lagu Marry U. Chaerin tertegun. Aku mengambil alih cincin di tangannya dan berlutut menghadapnya.

“Would you marry me?”

“Aku…maaf..” Chaerin menunduk. Aku tertegun. Ditolak?

“Maaf kalau aku mencintaimu sampai akhir hayatku, maaf kalau aku bersedia menemanimu seumur hidup, maaf kalau aku akan setia di sampingmu dan tidak berpaling pada yang lain. Maaf, aku tidak akan menolak ajakanmu.” Aku tersenyum. Chaerin tersenyum manis. Matanya berkaca-kaca. Aku berdiri dan memasangkan cincin di tangannya. Bagian rap Eunhyuk yang terakhir terdengar.

“Saranghae..”

“Na ddo.” Aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Dia menutup mata.

“Nawa gyeohronhaejullae….? I do…” Bertepatan saat lagu itu berakhir, aku mencium bibirnya lembut. Lagu berganti menjadi lagu All My Heart. Orang-orang bertepuk tangan meriah dan bersiul. Muka Chaerin berubah merah. Kurasakan wajahku juga pasti begitu. Aku menatap Chaerin. Dia membalasku sambil tersenyum malu. Rasanya dadaku bergejolak gembira.

 

= = =

 

“Ini oppa, sahabat singleku,” kata Sunghee. Aku menatap gadis di sebelahnya. Dia bertubuh agak mungil, rambut pendek dikuncir kuda, mata coklat kebiruan. Aku terkejut sedikit tapi kemudian aku tersenyum.

“Ini sih…dia sudah mengambil hatiku tahu!” kataku. Chaerin terkekeh.

“Jagiya…” kataku. Chaerin memerah. Sunghee tersentak.

“Apa?! Jadi kalian…selama ini…” Sunghee tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku dan Chaerin tertawa.

“Lalu kenapa kalian berdua menerima ajakanku? Kalian…ada niat selingkuh ya..? dasar cassanova!” kata Sunghee.

“Heh enak aja! Kita ini sudah punya kontak batin, aku merasa kalau yang akan kutemui itu Chaerin, jadi aku menerima ajakanmu.” Aku berkelit.

“Ya itu benar! Bahkan aku bisa bertelepati dengannya.” Chaerin menunjukku. Sunghee menganga.

“Hah…terserah kalian. Menyebalkan sekali… mendingan aku pergi dengan Hyukjae.” Sunghee pun pergi dari tempat itu. Aku tersenyum dan menarik Chaerin ke cafe Vanilla Peace.

“Annyeonghaseo..” sapa kami berdua. Hyorin, Yong Ah, Minho, Ryeowook (chef tambahan), Kyuhyun (pelayan tambahan) menoleh ke arah kami. Lagu Happy Together terdengar. Mereka tersenyum.

“Annyeonghaseo, pengantin baru!” Kontan aku dan Chaerin terbahak. Menikah saja belum. Aku menggandeng tangan Chaerin dan berjalan mendekati mereka semua. Aku menatap Chaerin, dia balas menatapku. Aku mendekatkan wajahku ke wajah Chaerin dan nyaris menciumnya ketika tiba-tiba satu suara menghalangiku.

“Ehem…tempat umum, Donghae sshi.” Aku menoleh. Kibum datang berdua bersama Kyora yang menggendong bayi mungil. Aku terkekeh. Kyora tersenyum menatapku.

“Chukkae…cepat menikah ya.” Kyora mengedipkan sebelah mata. Aku tersenyum. Lagu Happy Together masih mengalun. Cafe Vanilla Peace benar-benar menenangkan dan cocok dengan moodku.

 

= = =

“Sudah kubilang aku menyukai vanilla, jadi aku menamai cafe itu dengan nama Vanilla Peace,” kata Chaerin ketika kami sedang berdua di rumah. Aku menanyainya tentang kenapa dia menamai cafe itu dengan Vanilla Peace (lagi). Dia sekarang sedang bermain bersama seekor anjing bernama Vanilla.

“Sudah cukup cafe dan anjing saja yang kau namai Vanilla. Aku tidak mau anak kita bernama Vanilla juga,” kataku tegas. Chaerin tertawa.

“Oke, yeobo..” katanya. Aku tersenyum.

 

THE END

 

 

 

 

 

 

 

 

36 thoughts on “[FF] Cafe of Love (Donghae’s POV)

  1. Ami_cutie says:

    so sweet bgt…
    aku belum bisa bikin seromantis ini…cocok ama karakter donghae…xixixixi
    ada hyorin! kayak nakorku! jadi senyum2 bayanginnya…

  2. haeny_elfishy says:

    hue. . .
    ikanq so sweet bngt . . .❤
    , td sempet sebel ma hyosun , ganggu hae ma chaerin aja, . .
    ,hyuk jd tukang foto copy ? hohoho
    "bang mau foto copy !" *tereak ma hyuk*
    gmana jadinya tu t4 foto copy lox pegawainya pelit ? *d jitak nissa*

  3. haerin says:

    baru baca stengah aja gw dah melting…
    gimana nyampe akhir?
    tunggu aku slese baca nyampe akhir dulu ya…
    hehe sori

  4. haerin says:

    udah slese!!!
    aku dendam sama hyosun.. ganggu aja
    aku bahagia sekali!!!!
    ampe hampir ga bisa napas
    kamsahamnida chingu!!!!!

  5. rabbitpuding says:

    wuih, keren sunghee !
    Donghae dah nikah tuh ! Kapan kmu ma eunhyuk nikah.a ?
    Aku pengen ke cafe vanila, mungkin aku bisa ketemu shi won ma tae min ?! Hehe
    aku lagi ngehayal nih.

  6. mrschokyuhyun says:

    wohohoho~~
    ituuu *nunjuk makanan* jadi ngiler😛 wkwkwk

    hhahahaha… donghae kenapa sih ngga bisa lepas dari sisi ‘gentle’ sama ‘romance’

  7. raekiyopta says:

    LIKE THIS! Benar apa kata kyora. Knp org2 (mksdku donghae) mudah sekali jatuh cinta? Haha. Cerita selanjutnya tentang siapa nih? Kutunggu jandamu! *baca, “ceritamu”*

  8. Dinnanukyunie says:

    Ini side story nya please love and her yo? Donghae romantis ^^
    Ada kyuhyun jg. Laris bgt ya kyuhyun d ff walaupun cm figuran *plaaak*
    Bagus nisa, lanjutkan!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s