[FF] Please Love Me and Her part 3

“Benar! Dia orangnya!” Seruan Hyosun membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu terkejut.

“Jadi benar, suami Kim Kyora ini pelakunya?” kata Donghae. Dia baru saja menunjukkan foto-foto Kibum pada Hyosun. Dan jawabannya ternyata tidak diluar dugaan Sunghee.

“Dia sudah menikah?” tanya ayah Hyosun. Sunghee mengangguk.

“Dia suami temanku, Kim Kyora.”

“Tapi apa boleh dia menikahi Hyosun?” tanya ibunya cemas. Hening sejenak.

“Kalau begitu…aku saja yang bertanggung jawab,” kata Donghae parau. Tidak, Hyosun tidak terima. Dia sudah terlalu banyak bergantung dan merepotkan Donghae. Dia tidak mau merepotkan Donghae lagi, bahkan selamanya.

“Tidak mau! Aku mau menikah dengan ayah biologis dari anak ini!” ucapan Hyosun memang tidak diluar dugaan. Tapi dalam keadaan seperti ini, mereka tetap saja kaget.

“Tapi Kibum sudah menikah..” kata ibunya mencoba sabar.

“Tapi..tapi…tapi aku sudah terlalu banyak menyusahkan Donghae oppa! Aku tidak mau menyusahkannya selamanya! Oppa pantas medapat gadis yang jauh lebih baik daripada aku! Aku tidak rela jika oppa harus menderita bersamaku..” tangis Hyosun mulai pecah.

Donghae tertegun. Semua orang diam. Hanya terdengar isak tangis Hyosun berkali-kali.

“Baiklah. Appa akan mengunjungi Kibum.” Mereka berpandangan sebentar. Ayah Hyosun pun segera pergi keluar rumahnya, diikuti yang lain. Sepanjang perjalanan Hyosun selalu menunduk dan memainkan jari-jarinya resah. Donghae yang melihatnya langsung menggenggam tangan Hyosun, berusaha memberinya ketenangan. Berhasil. Hyosun merasa tenang meski sedikit. Setidaknya dia percaya, dia tidak sendiri. Banyak orang lain yang menyayanginya.

Sampai di rumah Kibum, ayah Hyosun memarkirkan mobilnya di belakang mobil sedan hitam milik Kibum. Mereka pun keluar dari mobil dan memencet bel. Tak berapa lama kemudian sesosok yang Hyosun kenali pun muncul. Kibum membuka pintunya.
“Annyeonghaseyo, benar ini rumah Kim Kibum?” tanya ayah Hyosun. Kibum mengangguk. Dari sebuah ruangan, muncul kepala Kyora. Dia penasaran akan apa yang sedang terjadi.
“Ya, saya sendiri. Ada apa ya?” ucap Kibum. Dia menatap Hyosun yang menunduk. Dia seakan mengingat pernah bertemu perempuan itu tapi entah dimana.

“Kau harus bertanggung jawab.” Ayah Hyosun tidak mau membuang waktu lagi. Kibum mengerutkan kening.

“Ah…sebaiknya kita bicarakan ini di dalam. Sepertinya sangat penting.” Kibum membuka pintu rumahnya lebih lebar dan mempersilahkan mereka masuk. Tentu saja sangan penting! pikir Sunghee kesal.

“Begini Kibum, kau mengenalinya?” tanya ayah Hyosun ketika mereka semua sudah duduk. Dia menunjuk Hyosun. Kyora memutuskan untuk berdiam di kamar. Dia duduk di belakang pintu kamarnya. Dia mendengarkan semuanya.

“Ehm…” Kibum memiringkan kepala. Dia menatap Hyosun lekat-lekat. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Wajahnya memucat dan tubuhnya menegang. Keringat dingin keluar dari wajahnya.

“Ya..aku mengenalinya,” ucap Kibum akhirnya. Hyosun mendongak kaget. Kibum menatap mata perempuan itu. Hyosun cepat-cepat menundukkan kepalanya kembali.

“Dia hamil karenamu. Kau harus bertanggung jawab,” kata ayah Hyosun. Kibum membelalak tak percaya. Kyora yang mendengarnya tertegun.

“Ji..jinja? Apa buktinya? Bisa saja bukan denganku!” Kibum berusaha menyanggah.

“Tidak mungkin! Aku baru melakukannya pertama kali dan itu denganmu!” seru Hyosun. Mendadak marah. Kibum terdiam.

“Tapi apa itu sebuah bukti yang kuat?”

“Kau yang mengetahuinya kan! Ingat-ingat lagi!” tangis Hyosun pecah. Kyora tidak tahan. Dia tidak menyangka suaminya berbuat seperti itu diluar sepengetahuannya. Air matanya mengalir lebih deras. Dia segera menghapus air matanya dan berdiri di depan cermin. Sebisa mungkin dia memastikan bahwa mereka tidak akan menyangka bahwa dia habis menangis. Setelah yakin akan hal itu, Kyora keluar dari kamar. Dia mengejutkan semua yang ada di sana.

“Kibum ah, bisa bicara sebentar?” tanyanya tepat di telinga Kibum. Tanpa berkata apapun, Kibum mengikuti Kyora ke dalam kamar. Kyora langsung berdiri di hadapan Kibum dan menatap namja itu tajam.

“Nikahi dia,” kata Kyora dingin.

“Apa?” Kibum terkejut.

“Jebal, nikahi dia. Kau harus bertanggung jawab.”

“Bagaimana denganmu? Kamu istriku!”

“Memang!” Kyora mendorong tubuh suaminya ke tembok. Dia menarik nafas sebentar sebelum berkata lagi.

“Selama ini aku selalu menurut padamu, kali ini aku yang menyuruhmu. Ini perintahku. Nikahi dia,” katanya dengan suara parau. Kibum tertegun. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Yang bisa dia lakukan hanya mengangguk dan menghela nafas.

“Mianhae. Saranghae.” Kibum mendekatkan wajahnya ke Kyora dan mencium bibir istrinya itu lembut. Kyora membalas ciumannya. Kyora pun melepas ciuman Kibum. Dia menatap Kibum sebentar.

“Keluarlah. Aku tahu kau bisa melakukannya,” titah Kyora. Kibum mengangguk. Dia membuka handle pintu dan mereka berdua keluar ruangan. Semua orang menatap ke arahnya. Tapi tidak dengan Donghae. Dia menangkap mata Kyora yang sedikit memerah karena menangis.

“Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi Hyosun,” kata Kibum tegas. Semua sempat tertegun. Hyosun pun berterima kasih. Ayah Hyosun pun mengangguk puas. Sementara Donghae masih diam. Sunghee, yang sedari tadi diam saja, langsung menyadari keadaan oppanya. Dia kira Donghae sakit hati karena Hyosun menikah dengan pria lain. Tapi dugaannya salah. Donghae sakit hati karena melihat mata Kyora yang memerah karena menangis.

“Sebaiknya pernikahan diadakan secepatnya dan tidak usah mengadakan pesta besar-besaran,” saran Donghae. Ayah Hyosun menatapnya heran.

“Kenapa? Aku selalu menginginkan pernikahan putriku yang meriah.”

“Bagaimana pikiran mereka tentang Kibum yang menikah lagi? Boleh saja mengadakan pesta besar-besaran asal jangan mengundang teman Kibum atau…Kyora.” Kyora menatap Donghae. Dia merasakan sesuatu dari cowok itu.

Ayah Hyosun terlihat berpikir. Kemudian ia mengangguk.

“Aku mengerti. Baiklah, pernikahan kita adakan 2 minggu lagi saja. Kurasa cukup. Donghae, aku butuh bantuanmu.”

“Ne.” Donghae membungkuk sopan. Ayah Hyosun dan Sunghee pun keluar ruangan. Donghae sempat melirik Kyora, yang sedang menatapnya, sebelum keluar ruangan. Hyosun menatap Kyora dengan pandangan bersalah.

“Ehm…annyeonghaseyo unnie? Jwaesonghamnida..aku merusak pernikahan kalian..” Hyosun membungkuk. Kyora tertegun.

“Ani. Kau tidak merusak pernikahan kami. Umurku 22. Kau?” tanya Kyora, berusaha ramah. Kibum terdiam memperhatikan mereka.

“Aku 20 tahun. Unnie, jeongmal mianhaeyo…Kibum oppa, mianhaeyo.. seandainya aku..” Air mata Hyosun mulai mengalir lagi. Diam-diam, Donghae dan Sunghee menatapnya dari luar jendela.

“Ssshh..gwaenchana. Aku mengerti.” Diluar dugaan, Kyora memeluk Hyosun dan menenangkannya. Kibum tertegun. Dipelukan Kyora, tangis Hyosun malah pecah.

“Unnie..mi..mianhaeyo…jeongmal..jeongmal mian..hae..” ucap Hyosun sambil sesenggukan.
“Sudahlah.. tak apa.” Kyora tersenyum menenangkan. Hyosun melepaskan pelukannya dan memegang bahu Kyora dengan kedua tangannya. Hyosun tersenyum.

“Kibum oppa..sangat beruntung bisa memiliki istri seperti unnie.” Kyora tersenyum mendengarnya.

“Aku pergi dulu. Sekali lagi mianhae dan..gomawo..” Hyosun pun berbalik dan pergi bersama yang lain. Kyora menatap Kibum setelah mereka semua pergi.

“Kau baik sekali…” komentar Kibum. Kyora tersenyum.

= = =
Hari pernikahan pun tiba. Kibum dan Hyosun sudah didandani sebaik mungkin. Kyora dan Donghae pun terlihat cantik. Kyora berperan sebagai pendamping Hyosun dan Donghae sebagai pendamping Kibum. Undangan yang datang tidak lebih dari 100 orang. Sengaja.

“Kalian sudah resmi menjadi suami istri. Silahkan mencium pasangannya.” Donghae memperhatikan Kyora. Air matanya merebak. Kibum membuka penutup wajah Hyosun ragu. Dia menyibakkannya dengan gerakan yang kaku. Dia lalu mendekat ke wajah Hyosun. Kibum pun meletakkan bibirnya di bibir Hyosun. Kyora memejamkan mata, berusaha menghalau air matanya. Akhirnya dia menyerah. Dia langsung berjalan cepat keluar ruangan. Donghae segera menyusulnya.

“Kalau mau menangis, jangan di sini,” kata Donghae ketika dia melihat Kyora sedang menangis di pinggir gedung. Kyora melirik ke arah Donghae. Dia lalu menunduk dan sibuk melenyapkan air matanya.

“Jangan berlagak kuat kalau kau rapuh,” kata Donghae lagi. Kyora masih diam. Air matanya sudah berhasil dia hentikan. Donghae maju dua langkah.

“Jangan bertingkah baik kalau kau marah..” lanjut Donghae sambil melangkah mendekati Kyora. Kali ini Kyora menatap Donghae, merasa tersinggung.

“Wae? Kenapa kau bilang begitu? Kau sudah lama menghilang dan kau muncul lagi kemarin, lalu sekarang kau mengataiku. Begitu?” Kyora mulai terpancing emosi. Donghae duduk di sebelah Kyora, di sebuah bangku panjang.

“Ani. Aku punya alasan sendiri.” Donghae menunduk memandangi sepatunya. “Aku hanya tidak ingin..kamu.. sakit hati dan menutupinya.”

“Kau ini bicara apa?” tanya Kyora.

“Aku tahu ini terlambat dan sangat tidak masuk akal tapi..apakah ada cinta yang masuk akal?” Donghae menatap ke depannya dengan tatapan menerawang. Kyora sepertinya mulai menyadari kemana arah pembicaraan ini. Tapi dia tidak mau menyimpulkan terlebih dahulu.

“Saranghae,” kata Donghae pelan. Kyora sudah menduganya tapi tetap saja dia terkejut. Seakan kata “saranghae” yang dilontarkan Donghae mengandung listrik 2000 volt. Listrik yang menyengat seluruh tubuhnya. Kyora diam. Dia tidak tahu mau bilang apa.

“Mianhae.” Malah Donghae yang membuka pembicaraan.

“Wae?” tanya Kyora singkat. Bagi orang yang telinganya tajam, pasti bisa mendengar nada senang di perkataannya tadi.

“Ani..hanya saja rasanya aku merasa tidak pantas mencintai orang yang sudah menikah. Seperti.. mengharapkan membangun istana di langit.” Donghae menatap langit yang agak mendung. Kyora mengikuti arah pandangannya.
“Benar. Harapan yang tidak akan terkabul.”

“Sebenarnya masih ada kemungkinan.” Donghae berdiri. Kyora menatapnya.

“Hanya saja…jika pasangan suami istri itu kau dan Kibum, sangat sulit untuk memisahkannya. Aku memutuskan untuk mundur saja.” Donghae tersenyum sekilas dan melangkah menjauh.

Donghae berbalik, “Tapi mundur, bukan berarti menyerah. Dan..diingat-ingat kau tidak pernah memanggilku oppa.” Donghae tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Kyora termenung. Dia tidak mengerti. Kemarin-kemarin kehidupannya normal, tapi kenapa sekarang jadi begini?

Donghae menghampiri Sunghee yang sedang menyalami beberapa tamu. Dia tersenyum ke tamu itu, yang terdiri dari dua perempuan muda, lalu menarik Sunghee agak menjauh. Dua perempuan itu tidak mempermasalahkannya. Mereka malah terpesona pada ketampanan Donghae.

“Bisa kau lakukan sesuatu untukku?” bisik Donghae. Tangan kanannya masih menggenggam lengan kiri Sunghee.

“Apa lagi? Membersihkan rumah?” gurau Sunghee. Mengingat kisah sedihnya saat ditinggal Donghae untuk membersihkan rumah sendirian di hari Minggu.

“Ani. Jauh lebih penting daripada membersihkan rumah.” Donghae mendekatkan mulutnya ke telinga adik satu-satunya itu. Sunghee mendengarkan dengan seksama.
“Aku ingin kau melakukan…”

= = =
Tak kusangka pernikahanku berakhir seperti ini. Lihat itu. Kamu menggendong Hyosun masuk ke rumah dan membaringkannya di kamar kita. Kamar kita! Itu tempatku! Aish..
Ditambah lagi masalah Donghae. Apa maksudnya dia berkata seperti itu? Seperti dia tahu segalanya saja.

Aku mendengar suara tawa dari dalam kamar. Aish..suara tawa itu menggangguku! Aku cemburu, memang! Tapi apa ada seorang istri yang tidak cemburu ketika suaminya menikahi perempuan lain? Kalau ada, aku akan menyembahnya habis-habisan! Aku mendengus.

“Kyora sshi!” Seseorang memanggil namaku. Itu pasti suara Hyosun. Kenapa dia tidak memanggilku unnie?

“Ne?” jawabku pelan dan singkat.

“Bisa tolong ambilkan tasku yang tertinggal di meja tamu? Jebal..” Aku menghela napas. Aku menyambar tas yang tergeletak di ruang tamu dan menyerahkannya pada Hyosun di dalam kamar. Aku melirik kamu yang sedang berdiri di samping TV, menatapku penuh arti.

“Aahh…gomawoyo unnie!” Hyosun tersenyum. Aku mengangguk singkat dan pergi.

Aku memang tidak bisa langsung menerima Hyosun di rumah. Semua butuh proses bukan? Lagipula kalau urusan adaptasi, aku bukan ahlinya. Jadi, maklum lah kalau aku masih bersikap ketus padanya.

Aku duduk di ruang keluarga yang besar. Sendirian. Aku mengangkat kakiku ke atas sofa dan memeluknya dengan kedua tanganku. TV di hadapanku menyala tapi pikiranku tidak ke sana. Aku sedang memikirkan ucapan Donghae tadi.

“Tapi mundur, bukan berarti menyerah. Dan..diingat-ingat kau tidak pernah memanggilku oppa.”

Oppa? Yah..sekalipun aku memang tidak pernah memanggilnya oppa meskipun dia lebih tua 2 tahun dariku. Donghae oppa…rasanya geli memanggilnya begitu. Aku tersenyum sendiri. Donghae oppa..

“Donghae oppa..” Aku berbisik sendiri. Aku mengernyit. Aneh rasanya.

“Donghae oppa..” ucapku lebih keras. Lalu aku tersenyum sendiri. Sepertinya dia akan terkejut jika kupanggil oppa besok.

Author’s POV

Tanpa Kyora sadari, Kibum berdiri di ujung tangga dan mendengar semua perkataan Kyora. Sebersit rasa cemburu muncul di dadanya. Dia tidak suka melihat istrinya memanggil nama pria lain sambil tersenyum sendiri. Dengan mata yang berbinar dan sikap tubuh yang menunjukkan seorang gadis sedang ‘jatuh cinta’. Kibum menghela napas.
“Donghae itu…ada hubungan apa dengan Kyora?” gumam Kibum sangat pelan.

Author’s POV end

Kyora’s POV

Keesokan harinya aku benar-benar memanggilnya oppa.

“Donghae oppa!” panggilku ketika dia hendak masuk ke dalam lift. Dia membatalkan niatnya dan berbalik menghadapku. Dari ekspresinya terlihat jelas dia kebingungan dan terkejut. Aku terkekeh.

“Donghae oppa..” ucapku lagi. Agak manja kedengarannya. Sekilas kulihat wajah Donghae memerah. Dia segera memalingkan muka dan masuk ke dalam lift. Aku mengikutinya.

“Kenapa kau..memanggilku oppa?” tanya Donghae.

“Tidak bolehkah? Baiklah aku akan memanggilmu Donghae sshi.”

“Ah bukan begitu maksudku! Aku senang dipanggil oppa tapi rasanya mengejutkan saja,” kata Donghae cepat. Aku tersenyum.

“Awalnya memang aneh berlatih memanggilmu oppa. Tapi lama kelamaan aku terbiasa juga.”

“Apa? Kau berlatih memanggilku oppa di rumah?” Donghae terbelalak, namun senyumnya merekah. Aku mengangguk semangat.

“Ne, oppa. Saat Kibum sedang bersama Hyosun, aku menyendiri di ruang keluarga sambil melatih mengucapkan “Donghae oppa”.”

Ekspresi Donghae berubah…sedih?

“Bagaimana kabar Hyosun?”

“Ah..dia baik. Kudengar dia mantanmu ya?”

“Ya. Tapi aku sudah tidak mencintainya lagi.”

“Apa?” Aku terkejut. “Dari dulu aku hanya bisa mencintai Kibum seorang. Kibum itu cinta pertamaku dan terakhirku. Aku heran kenapa orang lain bisa mencintai orang dengan mudahnya.” Aku berpikir. Tapi sudut mataku menangkap wajah Donghae berubah muram. Aku baru sadar akan pengakuan cintanya waktu itu.

“Mian Donghae oppa, bukan maksudku menyinggungmu..” Aku merasa bersalah. Donghae tersenyum.

“Gwaenchana. Aku tidak tersinggung kok.” Lift terbuka dan Donghae turun duluan. Lift menutup lagi dan membawaku ke lantai 4. Dan rutinitas kerjaku dimulai.

Saat jam makan siang, aku pergi ke kantin dengan Sunghee dan Raeki. Mereka sahabat baruku. Sunghee dan Hyukjae katanya sudah jadian. Makanya kali ini mereka berdua yang mentraktir kami. Saat kami sedang menunggu makanan, Donghae datang menghampiri kami. Hyukjae dan Sunghee tidak mau mentraktir Donghae. Aku dan Raeki tertawa mendengar alasannya.

“Dia itu sudah seperti pasangan kembarku, aku tidak mau mentraktirnya. Lagipula dia bukan orang yang spesial,” kata Hyukjae sadis. Membuat Donghae cemberut.

“Kalau kau mau kutraktir, kau harus traktir aku duluan,” kata Sunghee tajam. Donghae menatap adiknya dengan tatapan kesal.

“Baiklah baiklah aku bisa beli sendiri.” Setelah bicara begitu, Donghae langsung berjalan ke meja kasir. Serentak, Hyukjae dan Sunghee langsung menghampiri Donghae dan mentraktirnya.

“Aku bercanda oppa..kau ini!”

“Sunghee, pakai uangmu saja. Ini aku menyumbang sedikit.” Hyukjae menyodorkan selembar uang kertas ke Sunghee. Gadis itu melirik pacarnya dengan kesal. Donghae hanya terkekeh. Akhirnya kami semua duduk di kursi masing-masing dan mulai menyantap makanan yang dihidangkan. Setelah makan, kami menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol.

“Akhir-akhir ini aku merasa seperti ada seseorang yang mengikutiku kemanapun aku pergi..” Raeki memulai. Semua menatapnya heran.

“Stalker?” celetuk Sunghee.

“Semacam itu..mungkin. Tapi..hyaaa masa aku punya stalker?” Raeki pucat.

“Lho? Bukankah bagus? Jadi diam-diam ada yang melindungimu,” kata Hyukjae. Raeki menatap Hyukjae cepat.

“Tapi…akhir-akhir ini aku jadi sering parno sendiri. Tidak tenang..”

“Mungkin hanya sugesti..” ucap Donghae ringan. Raeki menatap namja itu sebentar dan kemudian mengangguk.

“Mungkin. Semoga saja.” Tak terasa waktu jam makan siang sudah selesai. Raeki dan Sunghee berjalan ke bagian keuangan, bos menyuruh mereka mengambil berkas-berkas lama di sana. Sedangkan Hyukjae kembali ke ruangannya di bagian HRD. Sementara aku ke ruangan dengan Donghae. Di lift kami mengobrol.

“Bagaimana keadaan Hyosun?” tanya Donghae.

“Baik. Dia sudah tidak kuliah..”

“Sudah kuduga. Lalu bagaimana denganmu?” tanya Donghae.

“Apa?” tanyaku heran.

“Bagaimana denganmu? Masa kau tidak mengerti?” Donghae gemas.

“Aku baik-baik saja..oppa,” kataku pelan. Lift sudah sampai di lantai 3 dan Donghae langsung keluar lift setelah tersenyum padaku. Aku menghela napas panjang. Apa ini yang namanya cinta segitiga? Atau segi empat? Entahlah..

Sepulang kerja aku sengaja tidak menyuruhmu menjemputku. Kau harus menemani Hyosun terus, Kibum. Dia membutuhkanmu.

“Kau pulang sendiri?” Aku mendongak, menatap siapa pemilik suara itu. Donghae lagi.

“Ya.”

“Tumben..tidak dengan suamimu?” Donghae mengimbangi langkahku. Aku menggeleng.

“Dia kan harus menemani Hyosun.”

“Kurasa tidak harus.”

“Kaurasa.” Aku menekankan kata itu. Donghae mengangguk paham.

“Kalau begitu boleh aku yang mengantarmu?”

“Hm? Boleh..” kataku sedikit ragu.

“Tenang saja, tidak berdua. Sunghee juga ikut bersamaku.” Donghae tersenyum menenangkan. Aku tersenyum.

“Oppa… aku pulang bersama Hyukjae oppa ya!!” Suara Sunghee itu melenyapkan senyumku. Aku menatap si pemilik suara yang sedang keluar kantor dengan Hyukjae di sampingnya. Mereka berdua tersenyum menatap kami sebentar dan berlalu pergi.

“Aish anak itu! Dua-duanya sama saja!” gerutu Donghae. Aku terkekeh.

“Oppa, Hyukjae denganmu masih tuaan Hyukjae kan? Tapi dengan sifatmu yang begini kau jadi terlihat lebih tua.” Aku terkekeh.

“Bukan tua, tapi dewasa!” Dia menekankan kata “dewasa”. Aku sukses tertawa karenanya. Tapi tawaku lenyap. Aku menyadari sesuatu. Sunghee tak ada berarti..aku pulang berdua diantar Donghae? Argh tidak…

“Lho? Sunghee yah? Kenapa kau masih di sini?” tanya Donghae ketika melihat Sunghee berdiri di samping mobilnya.

“Oppa, Hyukjae oppa mendadak ada urusan. Dia ke rumah sakit. Katanya ada teman kalian yang kecelakaan,” jelas Sunghee.

“Siapa?” Donghae menegang. Sunghee mengangkat bahu.

“Entahlah. Kurasa Hyukjae oppa ingin kau ke rumah sakit itu juga. Dia ada di Gyungdo Hospital.”

“Oke, aku ke sana. Kyora ah, kau pulang bersama Sunghee saja ya.” Donghae melemparkan kunci mobil pada Sunghee dan berlari menjauh. Aku bengong.

“Ka jja, unnie!” Sunghee membuka kunci mobil dan membuka pintunya. Dia terdiam menatapku ketika melihat aku masih bengong.

“Unnie mau tunggu sampai mobil ini menjadi rongsokan? Ayo naik!” Sunghee duduk di belakang kemudi. Aku tersadar dan segera masuk ke mobil.

= = =

Sampai di rumah, sepi sekali. Hanya ada Hyosun yang duduk sendiri di ruang keluarga sambil menonton TV.

“Kibum mana?” tanyaku. Hyosun menoleh dan tersenyum sebelum menjawab.

“Dia bilang ada urusan dengan kantornya. Yang pencurian itu.”

“Oh itu..” Aku menggumam tidak jelas dan berjalan menaiki tangga, menuju kamar ‘baruku’. Itu karena aku memberikan kamarku denganmu untuk Hyosun. Aku memakai kamar yang sama besar tapi hampa. Hanya ada barang-barang pibadiku. Dengan kasur besar, rasanya sedikit aneh tidur sendirian di malam hari.

Aku melirik ke foto pernikahanku denganmu. Kamu terlihat gembira sekali. Aku jadi teringat janjimu. Dan sekarang kamu mengingkari janjimu, Kibum ah.

“Saranghae yeongwonhi..” gumamku menirukan kata-katamu dulu.

To be continued

11 thoughts on “[FF] Please Love Me and Her part 3

  1. mrschokyuhyun says:

    Nisaaaa~part 4! Hahahahaha~~
    Kyora ngga bakal cere’ kan?😮 jangan buat cere’ yaaaa~:-) *author mangut-mangut kekekeke

  2. haeny_elfishy says:

    Hyuk tetep pelit !
    kapan ya penyakit jagiyamu itu sembuh saeng ?
    hae baek bngt sih ??? *popo hae*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s