[FF] Please Love Me and Her part 1

Kamu tersenyum memandangku. Tatapanmu memberitahuku bahwa kau sangat mencintaiku. Aku membalas tatapanmu dengan senyum.

“Saranghaeyo, naui buin. Saranghae yeongwonhi. Kaulah satu-satunya wanita dalam pernikahan ini…kau satu-satunya untukku. Aku janji akan membahagiakanmu. Aku janji hanya kau satu-satunya milikku. Saranghaeyo, Kim Kyora.” Kamu mengucapkan namaku dengan marga baru. Bukan Lim Kyora lagi tetapi Kim Kyora.

“Kupegang janjimu, Kibum.” Aku mempercayaimu, suamiku. Aku pegang janjimu. Kamu memelukku hangat. Aku membalas pelukanmu.

= = =

1 tahun setelah pernikahan itu, kami belum memiliki anak. Kamu sendiri tenang-tenang saja. Kamu selalu berfikiran logis. Mungkin belum saatnya, begitu katamu. Aku sebagai istrimu hanya bisa mengikuti semua perkataanmu. Aku mempercayaimu. Aku untukmu.

Aku memutuskan untuk bekerja. Aku tidak mau melihatmu sibuk bekerja sementara aku diam di rumah. Kamu selalu kecapekan setiap pulang kerja. Aku tidak tega melihatmu seperti itu. Aku mencari kerja dan langsung mendapat pekerjaan itu. Otakku seencer otakmu, Kim Kibum.

Hari itu setelah menyiapkan sarapan untukmu dan mengantarmu ke depan rumah, aku segera bersiap-siap untuk bekerja. Aku sudah mendiskusikan hal ini padamu. Tapi aku hanya bilang bahwa aku ingin bekerja karena ingin mandiri. Awalnya kamu membantah. Tapi aku terus membujukmu. Tentu saja aku tidak memberitahumu bahwa aku ingin bekerja agar kamu tidak terlalu kesusahan menghidupi kita.

Aku pun berangkat ke kantorku dengan menggunakan bis. Kamu bersikukuh untuk mengatarku dan melewatkan meeting penting. Tapi aku melarangmu. Kamu harus mendatangi meeting itu, kamu orang penting disana, begitu ucapku tadi. Akhirnya kamu menurut.

Aku sampai di kantor. Semua menyapaku hangat.

“Annyeonghaseo, Kim Kyora imnida.” Aku membungkuk. Semuanya membalas sapaanku dan balas membungkuk. Aku senang menyebut namaku sendiri sebagai Kim Kyora.

Saat jam makan siang, aku bersiap turun ke lantai bawah. Tapi saat aku melihat lift, semangatku langsung hilang. Lift rusak! Aish..masa aku harus menuruni tangga dari lantai 4 ke lantai 1 dengan hak tinggi 5 cm ini?! Ah..ya sudahlah. Lagipula perutku sudah teriak minta makan. Aku tidak akan bisa bekerja dengan benar kalau perutku kosong seperti ini. Akhirnya aku menuruni tangga masih dengan menggerutu dalam hati. Oke, aku mengerti ini bukan perusahaan yang besar tapi…apa lift harus rusak di saat-saat seperti ini? Aish..

Karena terlalu sibuk menggerutu, aku tidak memperhatikan ada seorang namja yang menaiki tangga dengan terburu-buru. Dia tidak sengaja menabrakku dan karena aku sedang tidak fokus pada jalan, aku limbung dan hampir terjatuh. Baru hampir, karena lelaki yang menabrakku itu cepat menangkapku. Dia menopang punggungku dengan tangan kirinya dan wajahnya menghadap ke wajahku, seakan ingin tahu reaksiku. Tapi ternyata, karena dia menopang tubuhku, tumpukan map yang dibawanya jatuh berhamburan. Aku segera berdiri dan membungkuk meminta maaf.

“Jeongmal jwaesonghamnida. Aku tidak sengaja. Maafkan aku.” Aku membungkuk 90 derajat.

“Ne, gwaenchanayo. Maafkan aku juga yang sudah menabrakmu.” Aku mendongak melihat siapa lelaki itu. Lelaki itu sedang membungkuk mengumpulkan mapnya yang berjatuhan. Aku yang merasa tidak enak segera membantunya mengumpulkan map. Setelah selesai, aku menyerahkan map itu padanya. Dia menerimanya sambil tersenyum.

“Kamsahamnida,” ucapnya formal. Aku melirik kartu pengenal di jasnya. Namanya Lee Donghae.

“Sepertinya kau seumuran denganku,” kataku tiba-tiba. Dia sedikit terkejut.

“Aku 24,” katanya.

“Oh ya? Aku 22! Ternyata kau lebih tua dariku,” seruku senang. Dia tersenyum tenang.

“Baiklah. Hm..Kyora sshi, gomawoyo. Mian aku pergi duluan ya.” Donghae pun meninggalkanku.

“Cheonmanhae, Donghae sshi,” bisikku pelan. Aku tersenyum. Senyum dia manis sekali. Tapi masih kalah dengan senyum kamu, Kibum yeobo. Aku terkekeh dalam hati.

Saat pulang kantor, kamu menjemputku. Aku menghampirimu yang menunggu di lobby. Kamu menarik sikutku lembut dan membimbingku ke dalam mobil. Semua orang memperhatikan kita dengan tatapan iri. Aku mengulum senyum. Kamu sendiri tidak bisa berhenti tersenyum. Itulah yang membuat para yeoja memperhatikan kita. Kamu memang selalu menarik perhatian. Bahkan saat kau diam saja pasti banyak yeoja yang melirik ke arahmu atau memandangmu dengan terang-terangan. Aku beruntung memilikimu.

“Yeobo, kau sudah makan?” tanyamu. Aku mengangguk.

“Kapan?” tanyamu lagi. Aku mengulum senyum.

“Tadi siang.” Kamu menatapku terkejut karena mendengar jawabanku.

“Apa? Tadi siang? Kau tahu sekarang jam berapa? Jam 7 malam! Ayo kita makan!” Kamu menarikku ke dalam mobil dengan semangat. Aku hanya terkekeh. Aku pun duduk di kursi penumpang, di sampingmu yang sedang menyetir. Aku melirik wajahmu yang kuyu.

“Kita makan di rumah?” tanyaku. Kamu menggeleng.

“Kamu bisa kecapekan. Kita makan diluar saja.”

“Aniya..aku tidak kecapekan, yeobo. Aku masih bisa memasak kok.”

“Tidak tidak. Lagipula kalau masak lebih lama lagi. Telat makan bisa bahaya,” ceramahmu. Aku tersenyum.

“Ne, naui nampyeon. Aku hanya bisa mengikuti kata-katamu.” Aku mengedipkan sebelah mata. Kamu tersenyum.

Kita sampai di salah satu restauran keluarga. Kamu merangkulku sambil jalan memasuki restauran itu. Kamu menarikkan kursi untukku dan mempersilahkanku untuk duduk. Aku tidak bisa berhenti tersenyum karena perlakuanmu. Setelah memesan makanan, kita menunggu sambil berbincang ringan.

“Jadi bagaimana hari pertamamu di kantor?” tanyamu.

“Menyenangkan. Orang-orang di sana sangat ramah.” Aku tersenyum. Mengingat kantor, aku jadi mengingat Donghae.

“Jinja? Baguslah kalau begitu.” Kamu tersenyum.

Selesai makan kamu kembali menyetir ke rumah. Terlihat jelas di wajahmu dan matamu bahwa kau sangat kelelahan. Tapi kau selalu mementingkan aku. Kamu selalu menanyakan keadaanku, apakah aku capek atau tidak. Tapi kamu sendiri tidak pernah bilang bahwa kau capek.

Aku membuka kunci pintu rumah ketika kamu sedang mematikan mesin mobil. Aku segera masuk dan menyalakan lampu. Kamu mengikuti di belakangku. Aku berganti baju dan duduk di sofa. Rasanya kakiku ngilu. Apa karena insiden di tangga tadi ya? Efeknya baru terasa sekarang.

Aku memijat-mijat kakiku. Kamu menatapku heran.

“Kakimu kenapa?” tanyamu. Aku hanya menggeleng sambil terus memijit-mijit kakiku. Kamu segera pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian kamu menghampiriku dengan membawa sebaskom air hangat dan beberapa salep pereda nyeri. Aku menatapmu heran. Kamu bahkan belum sempat mengganti kemejamu. Kamu bahkan masih memakai dasi. Tapi kamu langsung memijitku. Kamu memasukkan kakiku ke dalam air dan memijat-mijat dengan lembut.

“Yeobo…” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku terpana dengan kelakuanmu.

“Hm?” gumammu.

“Ani..” ucapku malu. Kamu tersenyum. Kamu pun menghanduki kakiku dan membereskan peralatan memijat itu.

“Nah, sudah selesai. Sebentar lagi pasti kakimu sembuh.” Kamu membawa baskom itu ke belakang. Kamu lalu menatapku.

“Bagaimana rasanya?” tanyamu.

“Hm..lebih baik daripada yang tadi. Gomawo..” kataku. Kamu tersenyum puas dan berlalu ke kamar. Tak lama kemudian kamu keluar dengan memakai T-shirt berwarna putih dan celana panjang longgar berwarna abu-abu. Kamu pun duduk di sebelahku. Kamu terlihat sangat kecapekan.

“Mau kupijit?” tawarku. Kamu menggeleng. Kamu memijat-mijat tengkukmu sendiri.

“Tidak usah. Aku hanya pegal sedikit di bagian tengkuk dan pundak. Dari tadi menunduk terus.” Aku terdiam. Aku lalu berdiri dan menghampiri punggungmu. Aku lalu memijit punggungmu. Kamu sempat kaget namun kamu tidak berontak. Kamu sendiri merasa nyaman.

“Bagaimana rasanya?” tanyaku begitu selesai memijit. Kamu meregangkan ototmu.

“Aaahh..enak sekali. Gomawo yeobo ah!”

“Cheonmanhae,” kataku manis.

“Sudah jam setengah 10. Sebaiknya kita tidur sekarang.” Aku mengangguk. Seperti biasa, aku untukmu. Apapun yang kau perintahkan aku akan melaksanakannya selama itu baik untuk kita semua.

= = =

Sudah 3 bulan aku bekerja di kantor ini. Entah kenapa sejak kejadian di tangga itu aku jadi sering bertemu dengan Donghae. Meskipun dia selalu diam dan hanya tersenyum tenang. Tapi itu membuatku heran juga. Apa dia memang suka berada di tempat yang sama denganku dari dulu? Yah mungkin saja. Toh waktu itu kan memang hari pertamaku.

“Kyora sshi, kau sudah makan siang?” tanya Donghae. Aku menggeleng.

“Kalau begitu mau makan siang denganku?” Aku ragu sejenak. Tapi aku sendiri tidak ada teman makan siang. Semuanya sudah makan. Baiklah, toh Donghae orang baik.

“Oke,” jawabku. Dia pun segera menuju kantin kantor. Tanpa menyentuhku sedikitpun. Aku sendiri merasa senang dengan perlakuannya.

“Kau mau pesan apa? Aku yang bayar,” kata Donghae. Aku menatapnya.

“Jinja? Tapi aku bisa bayar sendiri.”

“Sudahlah tidak apa.. kita kan teman.” Donghae tersenyum. Mau tak mau aku membalas senyumnya.

“Baiklah. Aku ingin makan..” Aku pun memesan makanan. Kami menunggu di salah satu kursi di tengah ruangan. Tak lama kemudian pesanan datang. Kami makan dalam diam. Selesai makan, Donghae mengantarku ke ruanganku. Aku merasa sedikit risih tapi aku tidak bisa menolak perbuatan baik seseorang. Aku harus membalasnya dengan kebaikan juga.

“Gomawoyo, Donghae sshi. Lain kali traktir aku lagi ya!” ucapku bercanda. Aku terkekeh. Donghae tersenyum.

“Ne, tentu saja. Besok aku traktir lagi.” Setelah berkata itu, Donghae pun kembali ke ruangannya yang terletak di lantai 3. Aku pun kembali melaksanakan pekerjaanku.

= = =

Aku menunggumu pulang, Kibum ah. Kenapa sudah jam 11 malam kau tidak datang juga? aku telefon tidak aktif. Kemana kamu? Jangan membuatku cemas seperti ini.

Aku mencoba menelepon Siwon oppa, teman baikmu. Dia bilang dia tidak tahu. Aku mencoba menelepon temanmu yang lain, Heechul oppa. Jawaban sama yang kudapat. Aku semakin gelisah. Dimana kamu, yeobo?

Pukul 1 malam kau tak kunjung datang. Aku sudah mulai mengantuk tapi aku memaksakan diri untuk menunggumu. Aku semakin gelisah. Setiap 5 menit aku meneleponmu. Tetap tidak ada jawaban. Aku semakin khawatir. Aku tidak ingin kemungkinan terburuk menimpamu. Aku tidak berhenti mendoakan keselamatanmu.

Pukul setengah 4 dini hari kamu membuka pintu. Namun alangkah terkejutnya aku ketika melihatmu mabuk berat. Aku segera memapahmu ke kamar. Tubuhmu berat karena tidak ada tenaga.

“Kibum ah. Kibum yeobo! Apa yang terjadi padamu? Kamu kenapa, sayang?” tanyaku. Kamu diam tak menjawab. Duniamu masih berputar. Kamu belum sadar sepenuhnya. Kamu menggumam tidak jelas. Aku tidak bisa menangkap apa yang kamu bicarakan.

“Kau istirahat saja dulu ya. Aku ambilkan air minum.” Aku langsung pergi ke dapur dan mengambilkan segelas air untukmu. Setelah mengambil air itu, aku meminumkannya padamu. Setelah minum kamu memejamkan mata. Sepertinya kamu masih berusaha mengumpulkan kesadaranmu. Sepertinya aku tidak bisa mengganggumu dulu. Aku lalu berjalan ke arah pintu. Samar aku mendengar kamu berkata, “Maafkan aku.”

Aku menoleh ke arahmu. Tapi kamu terlihat sedang tertidur pulas. Aku tidak berani mengganggumu. Akhirnya aku keluar dari kamar dan membiarkan pintu terbuka. Supaya jika kamu membutuhkanku, aku bisa segera menghampirimu.

= = =

Di sebuah ruangan yang kecil, seorang gadis sedang gemetar hebat. Dia gemetar melihat sebuah benda kecil yang berada di tangan kanannya. Sebuah test pack. Positif. Dia terduduk di lantai kamar mandinya. Sudah 5 kali dia melakukan hal yang sama. Hasilnya tetap positif. Gadis itu menangis. Air matanya sudah bercampur dengan keringat dingin yang meluncur deras dari keningnya. Dia bingung. Dia resah. Ingatannya kembali ke malam itu. Saat ia mabuk. Dan lelaki itu juga. Dia sungguh menyesal.

Apa yang harus dia katakan pada orang tuanya? Apa yang harus dia lakukan dengan kuliahnya? Apa yang harus ia ucapkan pada lelaki itu? Bagaimana nasibnya nanti? Bagaimana jika lelaki itu sudah menikah? Bagaimana jika cita-citanya sebagai dokter tidak akan tercapai karena putus kuliah? Kenapa dia bisa begitu ceroboh? Dia sudah melakukan kesalahan besar. Bagaimana nasib keluarganya?

“Kibum oppa..eottokhaeyo…?” Gadis itu membisikkan sebuah nama. Nama lelaki itu.

= = =

“Yeobo! Sarapan dulu!” Aku membangunkanmu. Kamu menggosok matamu sebentar lalu tersenyum padaku. Aku membalas senyummu. Kamu sudah sadar. Semalaman aku tidak tidur karena menungguimu. Aku takut kamu membutuhkanku. Untunglah kamu sudah sadar sepenuhnya.

Sehabis mandi kamu menghampiriku di meja makan. Kita mulai makan dalam diam. Kamu yang menyuruhku untuk diam selama makan. Tidak baik makan sambil mengobrol, begitu katamu. Seperti biasa, aku menurut.

“Hari ini kau kuantar ya?” tanyamu setelah kita selesai makan.

“Tak ada meeting penting kan?” Aku balik bertanya.

“Tidak ada. Tenang saja..pekerjaanku akhir-akhir ini jadi lebih ringan.” Kamu tersenyum.

“Baguslah.” Aku tersenyum dan menyambar tas kerjaku. Kamu merangkulku ke mobil. Kamu pun mengatarku ke kantor.

“Kau pulang jam berapa? Kujemput,” tanyamu setelah kita sudah sampai di kantorku.

“Hm..sepertinya jam 5. Itu juga kalau bos tidak menyuruhku macam-macam.”

“Ah baiklah. Nanti kalau kau mau pulang, telepon aku saja.”

“Ne.” Aku tersenyum. Aku melambai padamu sebentar. Mobilmu pun meluncur ke kantormu. Aku melirik jam. Omo..kamu sudah terlambat 10 menit demi mengantarku! Lain kali aku tidak akan menerima ajakanmu untuk mengantarku lagi!

Aku pun melangkah ke dalam ruanganku. Hanya 2 bangku yang tersisa. Tak lama kemudian 2 orang yang menduduki 2 bangku itu datang. Yang satu aku kenal, namanya Kang Raeki. Kalau gadis berambut panjang di sebelahnya..aku tidak tahu. Raeki tersenyum ke semuanya.

“Annyeonghaseo, yeorobun! Kenalkan ini sahabatku, dia akan bekerja di sini mulai hari ini.” Raeki menepuk pundak gadis yang lebih tinggi kira-kira 6 cm darinya itu dengan lembut. Gadis itu tersenyum dan membungkuk.

“Annyeonghaseo, joneun Lee Sunghee imnida…mannaseo bangapseumnida.” Dia tersenyum hangat. Rasanya senyumnya mirip seseorang. Ah mungkin hanya sugesti. Kami semua membalas sapaannya dengan ramah. Rasa kekeluargaan di sini sangat kuat. Itulah salah satu alasan kenapa aku memilih perusahaan ini.

“Ka jja, Sunghee!” Raeki mendorong punggung Sunghee lembut. Sunghee pun duduk di sampingnya. Aku terus menatap ke arah Sunghee. Entah kenapa aku masih bersugesti bahwa Sunghee itu mirip dengan seseorang. Tapi siapa?

Tak sengaja Sunghee menatap ke arahku. Dia tersenyum.

“Kyora unnie?” katanya. Aku tersenyum salah tingkah dan mengangguk. Darimana ia tahu namaku?

“Kakakku selalu menceritakan tentangmu, unnie.” Sunghee tersenyum manis. Matanya agak menyipit karena senyumnya. Giginya yang putih rapi terlihat. Benar-benar mirip seseorang.

“Kakakmu..?” tanyaku pelan.

“Ah mian?” tanyanya. Aku lalu mengulangi pertanyaanku dengan suara yang lebih keras.

“Oohh..kakakku Lee Donghae. Mianhaeyo unnie, aku terlalu sering memakai headset. Rasanya telingaku mulai terganggu.” Dia terkekeh pelan. Aku tersenyum. Ternyata benar. Pantas saja senyumnya mirip dengan senyum Donghae.

Istirahat siang Raeki dan Sunghee mengajakku makan bersama. Mereka sebenarnya lebih muda 2 tahun dariku. Tapi mereka menganggapku sebagai kakak mereka sendiri. Aku sendiri merasa senang. Aku tidak suka jika ada seseorang yang terlalu menghormatiku.

“Unnie, kau mau pesan apa?” tanya Sunghee. Hm..dia cepat akrab.

“Aku pesan jjajangmyun saja,” kataku.

“Tidak mau ddukboki? Aku yang traktir,” kata Raeki.

“Mwo? Dalam rangka apa?” tanya Sunghee. Raeki tersenyum penuh arti. Sunghee menatapnya curiga. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Tiba-tiba punggungku ditepuk oleh seseorang. Aku menoleh. Ternyata Donghae dan seorang temannya.

“Annyeong. Kenalkan ini Lee Hyukjae,” sapa Donghae. Lelaki bernama Hyukjae itu membungkuk sopan dan mengenalkan dirinya. Aku melirik Raeki dan Sunghee. Aku tidak kaget ketika melihat sedikit rona merah di pipi Sunghee ketika menatap Hyukjae. Kalau dia merona saat bertemu Donghae, itu baru mengejutkan.

“Baiklah anggap saja dalam rangka kau diterima di kantor ini.” Raeki memecahkan keheningan sesaat. Sunghee tertawa. Aku melirik Hyukjae. Lagi-lagi aku tidak kaget melihat sedikit rona merah di pipi lelaki itu. Matanya terus-terusan menatap Sunghee.

“Apa aku juga ditraktir?” tanya Donghae. Raeki menatap Donghae sekilas.

“Asal jangan membawa monyet di sebelahmu,” ucap Raeki ringan. Hyukjae lantas mencubit pipi Raeki yang agak tembem itu dengan gemas.

“Aah..baiklah oppa aku akan menraktirmu juga.” Hyukjae tersenyum senang. Akhirnya kami duduk di meja yang cukup panjang. Aku duduk di sebelah Donghae, di sebelah sana lagi ada Raeki. Sementara Sunghee dan Hyukjae duduk bersebelahan, di seberang kami. Aku menahan tawa melihat mereka berdua yang selalu salah tingkah.

Pesanan kami pun datang. Sementara yang lain makan dengan sedikit mengobrol, aku diam saja. Aku masih ingat nasihatmu, Kibum. Jangan makan sambil mengobrol. Aku tersenyum.

“Hei, kau kenapa?” tanya Hyukjae. Aku mendongak.

“Ah tidak..”

“Daritadi kau diam saja, lalu tiba-tiba tersenyum sendiri. Ayo keluarkan suaramu.” Mau tak mau aku tertawa mendengar perkataan Hyukjae.

“Aku diajarkan oleh suamiku untuk tidak mengobrol sambil makan.” Aku memberikan senyum manisku. Seketika mereka semua menatapku terkejut. Tidak dengan Donghae. Donghae menunduk menatap layar ponselnya.

“Jadi kau sudah menikah, unnie? Kapan?” tanya Sunghee.

“Hm…sekitar 1 setengah tahun yang lalu.”

“Waaah…chukkaeyo unnie! Kau tampak masih muda..” ujar Raeki.

“Memang aku masih muda!” sanggahku sambil tersenyum.

“Umurmu berapa?” tanya Hyukjae.

“22.”

“Ah..sudah kuduga.” Hyukjae tertawa. Kami tertawa. Tapi ada satu suara tawa yang tidak kudengar. Suara Donghae. Aku meliriknya. Dia menunduk sambil mengaduk-aduk jus di hadapannya dengan sedotan. Kenapa dia?

“Donghae..?” ucapku pelan. Donghae tidak menjawab. Dia beranjak dari duduknya dan segera pergi dari tempat itu. Sunghee menatap kakaknya heran.

“Jangan-jangan masalah dengan pacarnya lagi,” ujar Sunghee tenang, seakan bilang: “Jangan-jangan dia membeli cemilan lagi.”

“Dia punya pacar?” tanyaku. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Sunghee mengangguk.

“Uh-huh. Akhir-akhir ini hubungannya dengan pacarnya memang renggang,” jelas Sunghee. Aku mengangguk-angguk. Jam makan sudah berhenti. Kami pun kembali ke ruangan masing-masing.

Hubungan Donghae dan pacarnya sedang renggang. Apa karena aku? Akhir-akhir ini Donghae memang sering mendekatiku. Tapi kan hanya sebagai teman. Lagipula pacarnya saja siapa aku tidak tahu.

Saat hendak menaiki tangga masuk ke dalam gedung, aku tercengang melihat apa yang ada di hadapanku. Donghae marah. Dengan seorang perempuan yang ada di hadapannya. Perempuan itu menangis. Samar-samar aku bisa mendengarkan percakapan mereka. Aku pun mencari tempat persembunyian. Aku bersembunyi dibalik tembok.

“Oppa! Kau tidak mengerti rasanya jadi aku!” Perempuan itu berteriak parau. Banyak orang yang melihat ke arah mereka. Donghae hanya diam.

“Hyosun ssi, jangan bicarakan hal seperti itu di sini. Jebal..” Donghae memohon. Apa? Ini pertama kalinya aku melihat Donghae memohon! Siapa sebenarnya gadis itu? Pacarnya?

“Oppa…saranghaeyo!” Ah perkataan gadis bernama Hyosun itu menjawab pertanyaanku.

“Aku tahu. Sepulang kerja aku akan menjemputmu. Kita bicarakan di tempat yang sepi. Oke?” Tatapan Donghae melembut. Hyosun mengangguk. Dia menghapus air matanya. Hyosun pun berjalan keluar. Aku yang terkejut langsung berjalan ke arah kiriku. Tapi tiba-tiba aku menubruk seseorang. Aku terkejut ketika melihat siapa dia.

“Ppp…ppak…Pak Jungsoo?!” pekikku tertahan. Aku langsung menunduk. Omona..mati aku. Tertangkap basah sedang mencuri dengar di saat jam kerja? Sama bos pula!

“Jwaesonghamnida…jeongmal jwaesonghamnida,” ucapku. Aku lalu menegakkan tubuhku. Tapi kepalaku masih menunduk.

“Kau ini kenapa?” tanyanya. Aku mendongak menatap wajahnya.

“Aku juga sedang melakukan hal yang sama denganmu. Aku penasaran ada apa dengan Donghae?”

“Hah..?” Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

= = =

Donghae langsung mengemudikan mobilnya ke rumah Hyosun, pacarnya. Perasaannya tidak menentu. Tadi siang di kantor, Hyosun bilang bahwa dia hamil dan meminta Donghae untuk menikahinya. Donghae tidak pernah melakukan hubungan seintim itu dengan Hyosun. Selama pacaran dengan Hyosun, dia paling-paling hanya menggenggam tangannya dan sekali-sekali merangkul. Tidak pernah lebih. Menciumnya saja tidak pernah. Bahkan memeluk pun harus Hyosun yang memulai. Tidak pernah lebih dari itu.

Donghae sendiri bingung. Ada rasa marah dan kecewa di hatinya. Ada sakit hati juga. Tapi sakit hari itu tidak disebabkan oleh Hyosun. Tapi oleh Kyora. Hatinya sakit setelah mengetahui bahwa Kyora sudah menikah. Memang akhir-akhir ini rasa cintanya pada Hyosun sedikit-sedikit menghilang. Hyosun selalu pergi ke kelab malam untuk minum-minum, Donghae tidak suka hal itu. Hyosun selalu manja padanya dan bertingkah seenaknya. Selama ini Donghae mencoba sabar. Tapi lama-lama dia tidak tahan. Sampai suatu ketika dia bertabrakan dengan Kyora. Hatinya mulai terusik. Ada sesuatu yang menggelitik saat Kyora tersenyum padanya. Jauh lebih menggelitik daripada saat Hyosun yang memanggil namanya.

Donghae semakin bingung. Dia mulai tidak fokus menyetir. Beberapa membunyikan klaksonnya dengan marah. Donghae memilih untuk memilih jalur lambat. Dia menyetir dengan perlahan. Ada badai yang bergemuruh di hatinya. Badai yang tidak bisa ia hindari.

To be continued

15 thoughts on “[FF] Please Love Me and Her part 1

  1. haeny_elfishy says:

    Saeng ,
    aku datang . . . *bdoa moga” komenq masuk*
    ,
    haeee. . .
    keren ! tetep kamu ma hyuk yah . . .
    hyosun hamil ma ki bum y ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s