[FF] Please Love Me and Her part 2

Donghae tiba di rumah Hyosun. Rumah itu sepi. Donghae membunyikan klaksonnya. Hyosun bergegas keluar dari pintu dan membuka pagar. Donghae mematikan mesin mobilnya dan menghampiri Hyosun. Hyosun pun mengajak pacarnya masuk ke rumahnya.

“Kemana keluargamu?” tanya Donghae datar.

“Sedang keluar kota. Besok baru pulang.” Donghae duduk di kursi ruang tamu sementara Hyosun membuatkan minuman untuk dirinya dan Donghae. Dia pun meletakkan secangkir kopi susu di depan Donghae dan teh hangat di depan dirinya sendiri. Hyosun menunduk. Donghae juga diam. Benteng pemisah perlahan mulai tampak.

“Maafkan aku, jagiya..” suara Hyosun serak.

“Jangan panggil aku jagiya lagi,” kata Donghae, masih datar. Hyosun menahan tangis.

“Aku tau kau marah padaku. Maafkan aku. Tapi waktu itu aku tidak sengaja…” Hyosun benar-benar sedang menangis sekarang. Suaranya bergetar. Biasanya Donghae selalu menghampiri pacarnya itu dan menggenggam tangannya. Hyosun langsung menyandarkan kepalanya di pundak Donghae. Tapi itu semua tidak lagi berlaku sekarang. Donghae membiarkan Hyosun menangis. Dia sendiri menatap lurus ke bawah.

“Saat itu..aku..aku sedang bosan jadi pergi ke sana..” Hyosun sesenggukan lagi. Donghae tidak bergeming.

“Aku..aku dihampiri oleh seorang laki-laki.. dia mabuk..akhirnya kita melakukannya..” Hyosun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis sesenggukan. Donghae perlahan mendongak dan menoleh ke samping kiri, ke tempat Hyosun duduk di sofa kecil. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Donghae. Bahkan di otaknya pun tak ada.

“Aku minta maaf..” Hyosun masih menangis. Donghae diam menatapnya. Sama sekali tidak tergerak untuk merangkulnya, memberinya tisu, memberikan pundaknya untuk menangis. Rasa sayang itu menghilang begitu saja.

“Donghae oppa…apa yang harus kulakukan..? Aku malu. Aku masih ingin kuliah..” Hyosun tidak berani menatap Donghae. Tapi dia sadar Donghae sedang menatapnya tajam.

“Siapa yang menghamilimu?” tanya Donghae dingin.

“Kim..Kim Kibum..” Donghae tidak tahu siapa dia.

“Orang mana?” tanya Donghae lagi. Hyosun menggeleng, tanda tidak tahu. Donghae menghela napas. Kemarahan yang tadi hilang mendadak merasuki jiwanya lagi.

“Kau tidak tahu siapa dia dan kau mau tidur dengannya?!” Suara Donghae meninggi. Membuat Hyosun semakin terpojok.

“Maaf..” Hyosun hanya bisa mengeluarkan kata itu. Dia bingung.

“Aku tidak butuh maafmu, Hyosun ah..” Suara Donghae melembut kembali. Bagaimanapun dia tidak tega melihat wanita menangis. Meskipun wanita itu mengkhianatinya dan mengecewakannya.

“Lantas aku harus bagaimana?!” Hyosun tidak sabar.

“Yang terbaik, kau harus memberitahu keluargamu..”

“Jangan! Kumohon jangan..” Hyosun menatap Donghae dengan tatapan memohon. Donghae diam.

“Biar aku yang bicara dengan keluargamu.” Donghae menawarkan diri. Hyosun menggeleng.

“Lalu maumu apa?” Donghae berusaha sabar.

“Aku tidak tahu…aku tidak tahu harus bagaimana..aku ingin kuliah..aku tidak mau menikah dulu..tapi aku malu..” Hyosun menunduk.

“Ini jalan yang terbaik, bicarakan masalah ini dengan orang tuamu. Orang tuamu tau jalan yang terbaik untukmu. Untuk masa depanmu. Bagaimanapun kamu, orang tuamu pasti menyayangimu.” Hyosun menatap Donghae haru. Dia sudah mengecewakan pacarnya itu tapi herannya, pacarnya itu masih mau membantunya.

“Aku akan mencoba membicarakan masalah itu dengan orang tuamu.” Donghae tersenyum. Hyosun ingin sekali memeluk malaikat di hadapannya itu tapi dia malu.

“Kenapa kamu mau melakukan ini oppa? Kau sudah bukan pacarku lagi..kan?”

“Hm? Memang bukan. Tapi sesama manusia harus saling menolong bukan?” Hyosun tertegun. Betapa baiknya pria dihadapannya ini. Dia sangat menyesal telah mengkhianatinya. Betapa beruntungnya dia kalau yang mejadi pendamping hidupnya adalah seorang Lee Donghae. Seorang namja berhati malaikat. Hyosun sangat menyesal.

“Kamu..tidak marah padaku..?” tanya Hyosun. Donghae menyandar pada sandaran sofa.

“Tentu saja aku marah. Tapi aku tidak suka marah lama-lama. Sebenarnya..aku juga mau minta maaf. Aku juga mengkhianati cintamu.”

“Maksudmu, oppa?” Hyosun sudah berhenti menangis. Dia mengusap air matanya. Donghae menatapnya serba salah.

“Aku..akhir-akhir ini aku mendekati orang lain. Aku..sempat..tidak mencintaimu lagi.”

“Ka..kapan oppa?”

“Sejak..3 bulan yang lalu…” Donghae mengaku. Hyosun tersentak. Sosok malaikat di hadapannya seakan berubah menjadi sesosok iblis. Tapi itu lebih baik daripada Hyosun. Hyosun ingin marah, tapi dia ingat dimana posisinya sekarang.

“Maafkan aku,” kata Donghae akhirnya.

“Gwaenchana…kita berdua sama-sama salah..” Hyosun tersenyum. “Semoga kau bisa bahagia dengannya, oppa.”

“Tidak akan.” Hyosun menatap Donghae yang sedang menatapnya.

“Wae?”

“Dia sudah menikah.” Hyosun terkejut.

“Mian oppa..” ucap Hyosun.

“Kau punya nomor telepon Kibum?” tanya Donghae. Hyosun menggeleng.

“Baiklah..besok kalau orang tuamu datang, beritahu aku. Aku akan datang ke rumahmu dan membantu meluruskan masalah ini.” Hyosun mengangguk.

“Gomawoyo, oppa. Jeongmal gomawo.”

“Cheon, Hyosun.” Donghae melirik jam.

“Aku pulang dulu. Kau di rumah sendiri?” Hyosun lagi-lagi hanya mengangguk. Donghae cemas.

“Tidak apa-apa? Apa kusuruh adikku kemari saja?”

“Tidak usah oppa..” Padahal saat itu Hyosun merasa tidak enak badan. Wajahnya pucat. Mata tajam Donghae menangkapnya. Dia langsung menelepon Sunghee, adiknya.

“Sunghee ah, kau bisa ke rumah Hyosun sekarang?”

“Waeyo..? Aku sedang makan bersama Hyukjae oppa.”

“Jadi kau tidak bisa? Kumohon…” Donghae menjauh dari Hyosun. Hyosun menunduk.

“Memangnya ada masalah apa lagi?” tanya Sunghee di seberang sana.

“Hyo..” Donghae melirik ke arah Hyosun sebentar, mengisyaratkan kata maaf padanya dan berlalu keluar rumah. “Hyosun hamil.”

“MWO?!” seru Sunghee terkejut. Makanan yang sedang dipegangnya langsung jatuh ke piring. Dan garpu yang dipegangnya terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara bising. Hyukjae yang melihatnya terkejut. Hyukjae segera meminta maaf pada beberapa orang yang terlihat terganggu. Dia pun mengganti garpu Sunghee.

“Kau apakan dia, oppa?!” Sunghee kali ini berkata dengan sedikit pelan. Setidaknya lebih pelan dari yang tadi. Sunghee mengangguk berterima kasih saat Hyukjae menyodorkan sebuah garpu baru padanya.

“YAH! Bukan aku!”

“Lalu siapa?” tanya Sunghee. Hyukjae menatapnya penasaran.

“Kim Kibum.”

“Hah? Siapa dia?”

“Molla.” Sunghee heran.

“Molla? Maksudmu? Hyosun unnie..”

“Apa?” tanya Donghae tidak sabar.

“Kau mengerti maksudku lah oppa..”

“Ya sudahlah nanti saja di rumah kuceritakan detailnya. Sekarang kau bisa tidak menemani Hyosun? Kasihan dia sendirian. Wajahnya pucat. Sepertinya dia sakit.” Sunghee terdiam. Dia melirik makanannya yang sudah sedikit.

“Baiklah oppa. Aku akan segera ke sana.”

“Tapi jangan bersama Hyukjae, jangan suruh dia menginap di sana juga.”

“Wae?” Sunghee sudah mengerti tapi ia ingin menggoda oppanya dulu.

“Masa kau tidak tahu dia seperti apa? Sudahlah pokoknya jangan!” Sunghee terkekeh.

“Baiklah oppa. Tunggu saja di sana.” Klik. Telepon di putus. Sunghee menatap Hyukjae.

“Oppaku bilang, setelah ini aku harus ke rumah Hyosun unnie. Kau tidak keberatan kan mengantarku ke sana?”

Hyukjae mengangguk, “Tentu saja.” Setelah selesai makan, mereka langsung meluncur ke rumah Hyosun.

Donghae menatap Hyosun yang masih menunduk. Donghae menghampirinya perlahan.

“Sunghee mau ke sini. Dia akan menemanimu,” kata Donghae. Hyosun mendongak.

“Kenapa merepotkannya?”

“Tidak. Dia sama sekali tidak merasa kerepotan. Dia akan kesini sebentar lagi. Sementara menunggu dia datang, aku saja yang menemanimu.”

“Gomawo.”

“Gwaenchana..kita teman, bukan?” Hyosun tersenyum mendengarnya.

Agak lama kemudian, sekitar 30 menit, Sunghee datang diantar Hyukjae. Mereka masuk ke dalam rumah.

“Yah! Lama sekali,” omel Donghae. Sunghee menatapnya garang.

“Masih untung aku buru-buru makan tadi untuk memenuhi permintaanmu!” Sunghee lalu melirik Hyosun yang menunduk.

“Ah, mian unnie. Aku tidak bermaksud..” Sunghee merasa bersalah. Hyosun mendongak dan tersenyum.

“Gwaenchana. Silakan duduk dulu.” Sunghee dan Hyukjae pun duduk di ruang tamu.

“Sebentar ya aku ambilkan minum.” Hyosun hendak berdiri ketika Sunghee mencegahnya.

“Ah tidak usah unnie.. kami sudah makan tadi. Sudah kenyang.” Sunghee terkekeh. Hyukjae tersenyum.

“Ya sudah sebaiknya aku pulang saja sekarang. Baik-baik ya. Kalau ada apa-apa cepat telepon aku,” kata Donghae sambil berdiri. Hyukjae pun ikut berdiri.

“Kalau telepon ke dia tidak tersambung, telepon ke aku saja.” Hyukjae tersenyum.

“Terima kasih…kalian baik sekali.” Hyosun terharu. Dia memiliki teman-teman yang baik. Yang mau menerimanya apa adanya.

Donghae dan Hyukjae pun pulang. Sekarang tinggal Sunghee dan Hyosun di rumah yang cukup besar itu.

“Ah kau tidur di kamar tamu saja ya? Di sofa banyak nyamuk..” kata Hyosun. Sunghee mengangguk.

“Atau mau tidur di kamarku?” tanya Hyosun. Sunghee berfikir sebentar.

“Lihat nanti saja. Aku bisa tidur dimanapun.” Sunghee terkekeh. Hyosun tersenyum. Melihat wajah Hyosun yang pucat, Sunghee segera membuatkan teh untuk perempuan yang lebih tua 7 bulan darinya. Hyosun berterima kasih dan meneguk teh itu.

“Kalian kakak beradik yang sangat baik. Bahkan kau memiliki pacar yang baik juga,” puji Hyosun. Wajah Sunghee memerah.

“Aniyo..dia bukan pacarku unnie..” Hyosun terkekeh.

“Lalu siapa? Tunanganmu?”

“Unnie!” Wajah Sunghee makin merah padam. Hyosun tertawa melihatnya.

“Kau lucu sekali! Seperti kakakmu..” Hyosun tersenyum. Namun Sunghee bisa menangkap dengan jelas ada kesedihan di pancaran matanya. Mata kakak-beradik itu sama-sama tajam.

“Ah unnie..kamu membuatku ge-er nih!” Sunghee menutup kedua pipinya. Hyosun tertawa gemas.

= = =

Aku menyadari ada sesuatu yang menimpamu, Kibum ah. Tapi apa? Kamu terlihat sedih akhir-akhir ini. Kamu terlihat bingung. Kamu terlihat resah. Ada masalah apa, Kibum ah? Ceritalah padaku..

“Yeobo? Jam 8 kau sudah mengantuk?” tanyaku. Kamu sedang berbaring di atas tempat tidur. Kamu mengangguk singkat.

“Aku capek sekali..” katamu. Aku mengangguk paham. Melihatmu lelah aku jadi ikut merasa lelah. Aku lalu memutuskan untuk membuatkanmu kopi susu. Saat masuk ke kamar, aku sudah melihatmu tertidur nyenyak. Aku tidak tega membangunkanmu. Akhirnya aku sendiri yang meminum kopi itu. Kebetulan pekerjaanku cukup banyak. Pak Jungsoo itu selalu saja memberiku tugas. Memangnya aku anak sekolahan?

Tiba-tiba ponselmu berdering. Sepertinya ada SMS masuk karena getarannya sebentar. Aku lalu mengambil ponselmu ragu dan membuka isinya. Dari siapa ini? Ah isinya juga seputar pekerjaan. Aku tidak mengerti. Aku lalu menyimpan ponselmu di meja di sebelah tempat tidur. Ponsel itu berdering lagi dan kau terbangun. Kamu mengambil ponselmu dan membaca isinya. Setelah membalas pesannya, kamu bangkit dari tempat tidur dan bergegas berganti baju. Aku heran.

“Kenapa, yeobo?” tanyaku.

“Si bos menyuruhku datang ke kantor. Ada kasus pencurian uang.”

“Mwo? Berapa yang tercuri?” tanyaku cemas.

“700 juta.” Dan nominal itu benar-benar membuatku menahan napas. Kamu memang bekerja di sebuah bank. Dan kecurian seperti itu bisa menyebabkan kerugian besar, bahkan terancam bangkrut.

“Pencurinya sudah tertangkap?”

“Masih menjadi buronan.” Kamu memakai jaket hitam berkerahmu dan bersiap pergi. Tapi kamu melirik jam.

“Tak apa malam-malam begini kutinggal?” tanyamu ragu. “Atau kau mau ikut?” tanyanya. Aku ragu sejenak. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut saja.

= = =

Di dalam mobil kamu terlihat resah. Tanganmu gemetaran. Aku tahu kamu menakutkan satu hal. Bangkrut. Kalau bank itu bangkrut, terpaksa kamu harus mencari pekerjaan lain. Dalam hati aku bersyukur sudah bekerja. Setidaknya jika kemungkinan itu terjadi, aku bisa menghidupi kita sementara sampai kamu dapat kerja.

Sampai di lokasi, keadaan ramai sekali. Ada dua buah mobil polisi dan 4 orang polisi di luar. Sepertinya di dalam ada 2 orang polisi yang sedang memasang garis polisi. Kamu langsung menghampiri bosmu. Aku mengikuti di belakangmu.

“Kronologis kejadiannya bagaimana?” tanyamu pada bosmu itu.

“Hhh..satpam kita lengah. Ada suara gaduh dari dalam tapi dia tidak mendengarnya,” jelas bosmu. Kamu mengerutkan kening. Tanganmu menghampiri tanganku. Kamu menggenggam tanganku. Menjagaku.

“Rasanya itu tidak mungkin. Jarak pos satpam dengan TKP sangat dekat. Apalagi ini malam hari, pasti terdengar.” Kamu menjelaskan. Bosmu mengangguk menyetujui perkataanmu.

“Aku mengendus unsur persekongkolan di sini..” katamu. Bosmu menatapmu.

“Kurasa juga begitu.” Kalian mengangguk bersamaan. Kamu mengeratkan genggamanmu.

“Kita persiapkan untuk kemungkinan terburuk saja. Tapi kita harus berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan perusahaan,” kata bosmu. Kamu hanya mengangguk. Aku meremas tanganmu, berusaha memberi ketegaran. Kamu menoleh padaku dan tersenyum lembut. Aku membalas senyummu.

“Dia istrimu?” tanya bosmu sambil menatapku. Kamu mengangguk. Aku sadar, ini saatnya mengenalkan diri.

“Annyeonghaseo, joneun Kim Kyora imnida.” Aku membungkuk. Bosmu menunduk sedikit.

“Annyeong. Joneun Choi Siwon imnida.” Siwon tersenyum. Aku membalas senyumnya sedikit.

“Sekarang sudah jam 1 malam lho, Kibum. Sebaiknya kau membawa istrimu pulang,” saran Siwon. Kamu menatapku, seakan meminta persetujuan.

“Aku menurut apa katamu saja,” kataku sambil tersenyum. Kamu balas tersenyum. Siwon yang melihat kita hanya bisa tersenyum tipis.

“Baiklah kita pulang saja.” Kamu pun undur diri dari hadapan bosmu. Sepertinya Siwon lelaki yang baik, dia mengerti keadaan di sekitarnya. Dia sepertinya tahu dari tadi aku mengantuk dan kedinginan.

Sampai di rumah kami langsung tidur.

= = =

“Donghae oppa, orang tuaku datang,” ucap Hyosun di telepon. Suaranya berbisik. Sekarang masih jam 10 pagi dan dipastikan Donghae masih berada di kantornya.

“Baiklah aku akan segera ke sana.” Donghae membereskan map-mapnya.

“Tapi oppa masih bekerja!”

“Tak apa. Bosku baik kok.”

“Ah..gomawoyo oppa..” Hyosun menutup teleponnya. Dia memandang ke pintu kamarnya dengan cemas. Apa reaksi orangtuanya? Marah besarkah? Kecewa? Sedih? Sudah pasti! Dan Hyosun tidak tega jika harus melihat air mata ibunya.

20 menit kemudian Donghae datang. Semua orang menyambutnya ramah. Tapi setetes keringat dingin mengalir dari kening Hyosun. Dia menatap Donghae penuh arti.

“Ada apa Donghae? Tumben sekali kemari,” sapa ibunya Hyosun ramah. Donghae tersenyum. Mereka semua, termasuk Hyosun, duduk di ruang tamu.

“Begini..sebenarnya ada yang harus kuberitahukan kepada kalian. Sangat penting,” Donghae memulai. Hyosun menunduk.

“Tentang apa, Donghae ssi?” tanya ayahnya Hyosun.

“Tentang putri kalian.” Sontak, orang tua Hyosun menatap ke arahnya. Hyosun semakin menunduk.

“Ada apa dengannya?” Ibunya mulai khawatir. Donghae menarik napas panjang. Hyosun rasanya ingin menghilang saat itu juga.

“Hyosun..hamil.” Perkataan Donghae meluncur tanpa ada yang bisa mencegahnya. Seketika hening datang.

“Apa..?” Suara ibu Hyosun memecah keheningan. “Dengan siapa? Denganmu?” Suaranya meninggi.

“Bukan. Bukan denganku. Dengan orang yang bernama Kim Kibum.” Donghae cepat-cepat menjelaskan. Ayah Hyosun mengepalkan tangannya. Tapi ia tidak bicara apa-apa.

“Benarkah itu, Hyosun ah?” tanya ibunya sedih. Hyosun hanya bisa mengangguk.

“Lalu kenapa kamu yang bilang?” tanya ibu Hyosun pada Donghae.

“Hyosun tidak sanggup bilang hal ini pada kalian. Aku sebagai temannya, harus membantunya.”

“Lalu bagaimana..? Dimana Kim Kibum itu?” Ayahnya mulai bersuara. Hyosun heran. Kenapa orang tuanya tidak meledak-ledak? Kenapa ekspresinya malah sedih dan kecewa? Tak ada marah?

“Aku belum tahu. Aku masih mencari keberadaannya. Dia tidak meninggalkan nomor teleponnya.”

“Hyosun, kau harus menikah secepatnya!” putus ayahnya. Hyosun mendongak. Dia lalu mengangguk pasrah.

“Tapi harus dengan Kim Kibum! Dia yang harus bertanggung jawab!”

“Kalau Kibum tidak ditemukan..aku bersedia bertanggung jawab.” Suara itu membuat semua orang menoleh padanya. Donghae tersenyum. Wajahnya kali ini menyiratkan ketegasan yang sangat besar. Hyosun terkejut dengan ucapan Donghae. Bukankah kemarin ia menolak? Kenapa sekarang malah..?

“Donghae ssi..kamu terlalu baik..” Ibu Hyosun terharu. Ayahnya diam saja.

“Tapi kuusahakan agar kita menemukan Kim Kibum dulu.” Donghae menatap Hyosun sambil tersenyum. Mau tak mau Hyosun membalas senyumnya.

“Ya sudah..kamu ke kamar saja, Hyosun. Tapi sebelumnya makan dulu,” kata ibunya. Hyosun mengangguk dan berlalu pergi. Ayah Hyosun menatap Donghae. Tatapannya seperti tatapan berterima kasih.

“Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang baik, Donghae.” Donghae tersenyum. Kalau mengingat Kyora, rasanya dia tidak bisa memikirkan kehidupan yang baik.

= = =

Di kantor rasanya ada yang berbeda. Donghae tidak menyapaku lagi. Sunghee sendiri masih baik-baik saja meski aku melihat kantung mata yang cukup besar di bawah mata coklatnya. Sepertinya dia kurang tidur. Ada apa ini? Tapi Raeki masih seperti biasa. Hyukjae juga. Hanya kakak-beradik itu yang terlihat lebih lesu.

“Sunghee yah, kenapa kakakmu tidak bareng-bareng kita lagi?” tanyaku. Sunghee menatapku.

“Entahlah. Masalah sama pacarnya membuatnya pusing kali.” Lagi-lagi Sunghee berkata dengan ringan seakan tingkah Donghae sekarang itu sudah wajar. Aku heran dengannya. Apakah jika ada gempa berskala 7,6 SR dia masih bilang “Hanya goyangan kecil” dengan santainya? Atau jika ada tsunami dia malah berjalan santai sambil memainkan i-podnya? Anak ini mengherankan sekali.

“Memangnya dia sering seperti itu?” tanyaku akhirnya. Aku ingin memastikan kalau jika benar sering seperti itu, berarti tidak aneh Sunghee berkata dengan santainya. Tapi jika tidak, dugaanku tentang bencana alam tadi sepertinya bisa benar juga.

“Tidak. Baru kali ini,” kata Sunghee santai. Ow..prediksiku benar! Aku heran kenapa namja seperti Hyukjae bisa menyukai yeoja aneh ini. Aku jadi ingin tertawa.

“Unnie, kenapa tanya-tanya begitu? Unnie naksir pada oppaku?” tanya Sunghee. Lagi-lagi dengan santainya, malah ditambah adegan mengaduk-aduk jus pakai sedotan.

“Tentu saja tidak! Aku kan punya suami yang baik, ganteng, pengertian! Untuk apa pula selingkuh?” kataku sengit. Sunghee terkekeh.

“Tenang unnie. Aku hanya bercanda. Kalau boleh tau, siapa nama suamimu?” tanya Sunghee.

“Namanya Kim Kibum,” kataku bangga. Tapi diluar dugaan Sunghee malah tertegun. Aku heran. Kenapa lagi dia? Baru sadarkah kalau dirinya itu aneh?

“Oh..nama yang bagus.” Sunghee meminum jusnya santai. Tapi aku bisa menangkap setetes keringat dingin di pelipisnya. Meskipun ruangan ini full AC.

Sepulang kerja aku dijemput olehmu. Kamu sengaja membukakan pintu mobil untukku. Sebelum aku masuk ke mobil, kamu mencium pipiku sekilas. Aku terkekeh malu. Setelah siap, kamu pun mengemudikan mobilku pulang.

= = =

Suara kamera sudah 4 kali terdengar. Sunghee baru saja memotret adegan Kyora dengan suaminya di dekat mobil tadi. Sunghee mencurigai bahwa Kibum itu yang menghamili Hyosun. Donghae yang ada di sebelahnya merasa tidak semangat. Hatinya sakit melihat Kyora bersama suaminya.

“Ini bisa jadi benda yang sangat penting!” kata Sunghee setelah fotonya keluar. Dia memang menggunakan kamera yang sekali foto bisa langsung diambil. Itupun hasil pinjaman ke Sungmin.

“Apanya? Kameranya?” sahut Donghae acuh tak acuh. Sunghee menginjak kaki kakaknya gemas.

“Fotonya! Kyora unnie bilang suaminya bernama Kim Kibum! Aku ingin memastikan apa benar Kibum yang ini dengan membawa fotonya ke Hyosun unnie.” Sunghee menjelaskan. Donghae terdiam. Jika benar, apa yang akan terjadi nanti? Pikirannya kembali berkecamuk. Jika Kibum harus menikah dengan Hyosun, hidup Kyora pasti akan menderita. Dia tidak tega. Tapi di sisi Hyosun, dia pasti ingin sekali menikah dengan ayah biologis dari anaknya. Dan Kibum, sebagai ayah biologis pasti tidak akan rela jika anaknya ‘diambil’ orang lain. Donghae bingung. Dia tidak mau membuat Kyora menderita. Dia ingin menggantikan posisi Kibum. Bukan sebagai suami Kyora, tapi sebagai yang bertanggung jawab pada Hyosun. Dia melihat Kyora bahagia dengan Kibum. Dia tidak mau menghancurkan kebahagiaan Kyora. Meski dia tidak akan bahagia menikah dengan orang yang tidak dia cintai, dan memiliki anak bukan darah dagingnya sendiri. Asalkan demi Kyora.

“Oppa, kau kenapa?” Sebuah suara lembut menghancurkan pikiran Donghae. Dia menatap adiknya.

“Pusing? Sakit? Mukamu pucat, oppa.” Sunghee menatapnya khawatir.

“Ani..gwaenchana.” Donghae memaksakan seulas senyum. Sunghee menatapnya khawatir.

“Tidak, Sunghee. Aku tidak apa-apa.”

“Ya sudah kalau begitu. Ayo kita ke rumah Hyosun unnie sekarang.”

To be continued

18 thoughts on “[FF] Please Love Me and Her part 2

  1. ami_cutie says:

    keren…donghae asli baek bgt…
    oy, saeng..kamera yang sekali foto lgsg bisa diambil itu kamera polaroid kan?
    hehehehe

    lanjut!

  2. raekiyopta says:

    seruuu~ kapan part selanjutnya? Ada brp part nih? Donghae nya disini… Keren! Tapi, itu ada nama yg bikin aku penasaran. “hyunmi” nyelip sekali. Dia siapa? Oya, rasa ganjil yg ku ksh tau d komen sebelumnya terasa kmbali. Mngkin d akhir crita ak bkal tau kali y? Haha pokoknya HWAITING!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s