[FF] Poetry and Melody

Aku kehilangan cahaya matahariku..

Cahaya matahari yang selalu menghangatkanku..

Menyinariku.. Membuatku ceria..

Tapi sekarang..

Cahaya matahari itu telah pergi..

Pergi selamanya..

Meninggalkan aku sendiri di kegelapan..

——————————————————-

Kim Hyunmi mendudukkan dirinya di kursi panjang di taman itu. Dia meletakan kruknya di sebelah kanan tangannya. Dia menatap sekeliling. Langit sore kali ini indah. Meski sekarang masih musim dingin dan langit sore tidak secerah biasa, namun entah kenapa rasanya menyenangkan sekali menatap ke langit hari ini. Hyunmi menatap sekeliling lagi. Dia tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku. Dia tersenyum senang dan menuliskan sesuatu di buku itu. Dia menulis perasaannya hari ini. Tetapi dalam bentuk puisi. Dari dulu sampai sekarang dia memang pandai membuat puisi.

Kali ini ia menulis tentang langit sore hari ini. Hyunmi terus tersenyum selama ia menulis sebuah puisi. Dia menyukainya. Bukan, dia mencintainya. Dia sangat mencintai puisi.

Kim Hyunmi tenggelam dalam puisinya sampai tiba-tiba seorang lelaki tersenyum di hadapannya. Hyunmi mendongak lalu ikut tersenyum ramah.

“Di sebelahmu kosong kan? Boleh aku duduk di sampingmu? Aku lelah sekali.” Bisa dia lihat wajah lelaki itu yang agak pucat dan sarat akan kelelahan. Hyunmi mengangguk.

“Tentu saja. Kursi ini bukan milikku kok.” Hyunmi tersenyum ramah dan lelaki itu tertawa kecil. Lelaki itu duduk di sebelahnya.

“Namaku Lee Sungmin.” Sungmin tersenyum ramah.

“Aku Kim Hyunmi.” Hyunmi membalas senyumnya.

“Kau sendirian tadi?”

“Ya. Kau sendiri?”

“Ah.. ya aku sendiri.” Sungmin mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Hyunmi memperhatikannya.

“Kau lari ke sini?”

“Ah ya begitulah.” Sungmin tertawa kecil lalu kembali mengatur nafasnya. Hyunmi terlihat berpikir sambil terus memperhatikan Sungmin.

“Kau suka padaku?” ucap Sungmin tiba-tiba. Hyunmi tercekat. Apa katanya?

“Apa?”

“Benar kan? Benar kan? Kau suka padaku kan?”

“Kau ini ngomong apa?”

“Sedari tadi aku memperhatikanmu kau selalu memperhatikanku.”

“Kalau kau memperhatikanku, berarti kau yang suka padaku,” ucap Hyunmi bercanda. Dalam hati ia tertawa.

“Ya. Aku memang suka padamu.” Sungmin tersenyum. Hyunmi menoleh kaget.

“Kenapa? Suka dalam artian tidak membenci kok. Tenang saja.” Sungmin tertawa. Hyunmi merasakan jantungnya berdegup kencang. Saat melihat senyum Sungmin, rasanya dia seperti melihat cahaya matahari yang membuatnya ceria. Cahaya matahari yang sempat hilang dari hidupnya.

“Kau tinggal di daerah mana? Dekat sini?” Sungmin cepat mengalihkan pembicaraan. Hyunmi menyukai caranya berbicara. Dia tidak mendesak Hyunmi untuk menjawab pertanyaannya.

“Ya. Aku tinggal dua blok dari sini.”

“Wah dekat dengan rumahku! Rumahku hanya tiga blok dari sini.” Sungmin antusias. Hyunmi tersenyum. Dia berpikir, sepertinya apa yang membuat lelaki ini begitu antusias?

“Kau masih sekolah?” Kali ini Hyunmi merasa sedang diwawancara oleh Sungmin.

“Ehm.. ya..tidak..”

“Hah? Jadi kau ini masih sekolah atau tidak?” Sungmin bingung mendengar jawaban Hyunmi. Ya, setiap orang pasti bingung mendengar jawabannya.

“Aku sekolah di rumah. Yah..kau sendiri tahu kan? Keadaan kakiku..” Hyunmi menatap kakinya dengan tatapan sendu. Sungmin mengamati kaki Hyunmi yang di gips.

“Kakimu kenapa?” tanyanya.

“Kecelakaan 1 tahun lalu. Dari sekeluarga hanya aku yang selamat.” Hyunmi menatap langit dengan tatapan menerawang. Sungmin mengamatinya sambil menopangkan dagu.

“Kecelakaan apa?” Sungmin memecahkan keheningan.

“Pesawat. Waktu itu keluargaku mau pergi ke Indonesia. Tapi ternyata pesawat yang ditumpangi kami meledak. Dan ajaibnya aku selamat.” Hyunmi tersenyum samar. Sungmin melepaskan topangannya. Dia tersenyum.

“Sepertinya Tuhan masih menginginkan kamu hidup, Hyunmi ah.”

“Tapi kenapa aku? Di pesawat itu ada adikku yang punya cita-cita yang tinggi sekali. Adikku tampan, baik, disukai banyak orang, pintar, dan dia sebentar lagi akan masuk ke SMA yang dia inginkan. SMA terpopuler di Seoul. Kau tahu kan? Tapi saat liburan, Tuhan malah mengambil nyawanya. Dan bukan aku. Kenapa?” Hyunmi merasa matanya hangat. Dia mengerjapkan matanya untuk menghalau air mata. Sungmin memperhatikannya dengan tatapan nanar.

“Kau tahu? Aku benci orang yang menyalahkan Tuhan.”

“Aku tidak menyalahkan Tuhan.” Hyunmi merasa tersinggung dengan perkataan Sungmin.

“Ya kau menyalahkan Tuhan. Resapi kalimatmu tadi.” Sungmin menatap Hyunmi kesal. Hyunmi terdiam lalu berpikir. Dia mengingat kata-katanya tadi. Ya, dia memang seperti sedang menyalahkan Tuhan.

“Maafkan aku.” Hyunmi menangis. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Sungmin menghela napas lalu tersenyum. Dia memeluk Hyunmi.

“Sudahlah.. maaf aku terlalu kasar.” Hyunmi merasakan kehangatan pelukan Sungmin. Cahaya mataharinya sepertinya sudah dekat. Hyunmi merasa.. Sungmin lah cahaya matahari yang dulu sempat menghilang dari hidupnya.

“Hei, sudah malam. Sekarang sudah pukul 6.”

“Kau bilang itu malam?” Hyunmi tersenyum. Sungmin memasang tampang cemberut. Seperti anak kecil.

“Setidaknya hari sudah gelap dan sekarang dingin sekali.” Sungmin berdiri. Hyunmi terus menatapnya. Sungmin tersenyum lalu berjongkok di depan Hyunmi. Hyunmi terkejut.

“Naiklah. Kuantarkan sampai rumah.” Sungmin tersenyum. Hyunmi tersenyum manis.

“Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri.” Hyunmi hendak mengambil kruknya tetapi dia kalah cepat. Sungmin sudah mengambil kruknya. Hyunmi kesal.

“Hei, kembalikan krukku!”

“Katanya bisa jalan sendiri.” Sungmin masih berjongkok di hadapannya. Hyunmi mendengus. Dia memutarkan bola matanya yang berwarna coklat itu.

“Ok fine.” Hyunmi melompat ke punggung Sungmin. Sungmin tersenyum lalu berdiri. Dia menggendong Hyunmi sampai rumah.

“Aigoo…Hyunmi ah..kau ringan sekali.” Hyunmi tertawa kecil. Sungmin ikut tertawa.

“Di rumahmu ada siapa?”

“Ada nenekku.”

“Oh baguslah. Aku kira tidak ada yang menemanimu.”

“Lagipula kalau tidak ada yang merawatku, aku bisa merawat diriku sendiri. Lagipula setiap hari Senin-Sabtu guruku selalu datang. Tenang saja.”

“Yaa.. apa-apaan itu?”

“Apa-apaan bagaimana?” tanya Hyunmi heran. Sungmin tidak menjawab karena mereka sudah sampai di depan rumah.

“Ah tidak terasa sudah sampai.” Sungmin membuka pagar dan berdiri di depan pintu. Hyunmi membuka pintu, masih tetap di gendongan Sungmin. Hyunmi membuka pintu dan mereka berdua pun masuk.

“Dimana kau harus kuturunkan?”

“Hm..sepertinya nenek sedang di kamar. Turunkan aku di sofa itu saja.” Hyunmi menunjuk sofa di ruang TV. Sungmin pun menurunkan Hyunmi di tempat yang ia inginkan. Dia lalu meregangkan ototnya.

“Aigoo..” lirihnya sambil tetap meregangkan otot-ototnya. Hyunmi menatapnya kesal.

“YA! Kalau kau merasa keberatan dan capek jangan menggendongku!”

“Haha mianhaeyo (maafkan aku) Hyunmi ah. Aku hanya bercanda.” Sungmin tersenyum.

“Hyunmi, ada siapa?” tanya seseorang. Sepertinya nenek Hyunmi. Sudah bisa ditebak dari suaranya yang agak serak.

“Nek, kenalkan temanku. Namanya Lee Sungmin. Sungmin ah, ini nenekku.” Hyunmi mengenalkan mereka. Sungmin tersenyum ramah. Nenek mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Tampan sekali. Hahha.. silahkan duduk Sungmin ssi. Nah, mau minum apa?” tawar nenek Hyunmi ramah.

“Ah tidak usah repot-repot.”

“Sudahlah anggap saja rumah sendiri. Nenek bikinkan teh ya?”

“Oh biar saya bantu.” Sungmin berdiri hendak membantu nenek Hyunmi tapi dia ditahan oleh neneknya. Sungmin duduk kembali.

“Sudahlah, kalian ngobrol berdua saja ya. Nenek senang sekali ada yang mau main ke rumah kami.” Nenek Hyunmi tersenyum lalu berlalu ke dapur. Hyunmi hanya tersenyum ke Sungmin. Sungmin ikut tersenyum.

“By the way, sepertinya kehadiranku di sini sangat diharapkan.” Sungmin tertawa. Hyunmi ikut tertawa.

“Yah.. memang jarang sekali yang datang kemari. Aku kan sekolah di rumah jadi tidak bertemu orang-orang baru. Yah..tak banyak yang mengenaliku. Bertemu denganmu saja sudah membuatku sangat senang.” Hyunmi menjelaskan sambil tersenyum. Sungmin tertegun. Kehadirannya sangat dinantikan. Baru kali ini ia merasa begitu. Setelah kecelakaan itu..

“Sungmin ssi? Kau kenapa?” Hyunmi melambaikan tangannya di depan Sungmin. Sungmin terkesiap.

“Ah tidak..aku tidak apa-apa.” Sungmin tersenyum dipaksakan. Hyunmi terdiam. Masih memandangnya.

“Apa kau.. ehm sudahlah.” Sungmin mengerutkan kening.

“Ada apa? Cerita saja.”

“Tidak. Lupakan.” Obrolan mereka terputus karena nenek Hyunmi sudah masuk sambil membawa minuman serta makanan ringan. Hyunmi dan Sungmin membantu merapikan makanan tersebut di atas meja.

“Duh.. ibu terima kasih.” Sungmin merasa tidak enak. Nenek Hyunmi tersenyum senang.

“Setelah bertahun-tahun, baru kali ini ada anak muda yang memanggilku ibu.” Nenek Hyunmi tersenyum senang lalu berlalu dari hadapan mereka.

“Gomawoyo (terima kasih), Sungmin ssi,” ucapnya ramah sebelum keluar dari ruang TV. Hyunmi tersenyum.

“Kau sangat diterima di rumah ini,” katanya. Sungmin tertawa.

“Berarti aku boleh dong sering-sering kemari?”

“Tentu saja. Tidak ada yang melarang.” Mereka pun berbincang-bincang. Tak terasa sudah makin malam. Sungmin pun pamit pulang.

“Hyunmi, pacarmu itu tampan sekali. Baik pula.” Nenek Hyunmi tiba-tiba nyeletuk dari dapur. Ia sedang membuat minuman panas untuk mereka berdua.

“Pacar yang mana nek?” Hyunmi pura-pura tidak tahu. Sebenarnya ia tahu yang neneknya maksud adalah Sungmin.

“Itu yang tadi. Masa kau sudah lupa? Kau ini memangnya mengidap amnesia?” Hyunmi tertawa kecil mendengarnya. Tak berapa lama neneknya datang dan mereka berdua minum minuman panas berdua.

“Wah.. hari ini tidak secerah kemarin.” Hyunmi memperhatikan langit sore di atasnya. Dia baru saja selesai belajar di rumah. Dia menarik napas lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Apa lagi kalau bukan buku tercintanya. Dia tersenyum lalu mulai menuliskan sesuatu. Dia menuliskan tentang Sungmin. Dia berharap sekarang bisa bertemu dengan lelaki itu lagi. Dan kenyataannya pun terkabul.

“Permisi, bolehkah aku duduk di sebelahmu?” tanya Sungmin. Hyunmi mengerutkan kening melihat sikap Sungmin yang terlalu sopan.

“Tentu saja, Sungmin ah. Ini kan bukan kursi milikku. Tampangmu lucu kalau formal begitu.” Hyunmi tertawa pelan. Tawanya langsung reda saat melihat tatapan aneh Sungmin.

“Kenapa kau bisa tahu namaku?” tanya Sungmin.

“Hah? Tentu saja. Kita kan kemarin bertemu dan berkenalan. Kau bahkan main ke rumahku.”

“Benarkah? Tapi kalau begitu, namamu siapa?” Sungmin mengerutkan kening bingung. Berusaha mengingat gadis di hadapannya. Tapi ia tidak bisa.

Hyunmi tercengang. Tidak percaya pada apa yang terjadi sekarang. Sungmin melupakannya secepat ini? Tidak mungkin. Apa mungkin Sungmin mengidap amnesia? Tidak, tidak mungkin amnesianya separah itu.

“Aku Kim Hyunmi.” Hyunmi berharap lelaki di hadapannya mengingatnya. Namun harapannya tidak terkabul.

“Maafkan aku, Hyunmi ssi. Aku tidak bisa mengingatmu. Aku mengidap amnesia yang sudah cukup parah.” Sungmin tersenyum. Hyunmi tercengang. Dia tidak percaya. Jadi..Sungmin melupakan semua yang telah terjadi kemarin? Kata-katanya? Dia melupakan rumahku? Dia lupa pernah menggendongku? Dia melupakanku?

“Hyunmi ssi, kau kenapa?” Sungmin membawa Hyunmi kembali ke alam sadar.

“Ah tidak apa-apa. Benar kau tidak mengingat pernah bertemu denganku?” Hyunmi masih meyakinkan dirinya. Sungmin mengangguk.

“Aku kecelakaan 1 tahun lalu. Saat itu aku sedang berlibur ke Indonesia. Namun pesawat yang kutumpangi meledak. Ajaibnya, aku selamat.” Dia tersenyum lalu melirik kaki Hyunmi.

“Kenapa kakimu?” tanyanya. Hyunmi hanya mendengarkan sampai kata selamat yang diucapkan lelaki itu. Jadi..dia ada di pesawat yang sama dengannya? Kenapa kemarin dia tidak menceritakannya padaku? Apa amnesianya sudah separah itu? Bahkan kecelakaan yang menyebabkan dia amnesia pun dilupakan?

“Aku kecelakaan setahun lalu saat akan berlibur ke Indonesia. Tetapi pesawatku meledak dan ajaibnya aku selamat.” Hyunmi menatap Sungmin, menunggu reaksinya. Sungmin tercengang.

“Benarkah itu?”

“Untuk apa aku berbohong?”

“Oh..baiklah kalau begitu. Senang bertemu denganmu, Hyunmi ah.” Sungmin tersenyum. Masih senyum yang sama dengan yang kemarin.

“Tunggu, Sungmin ssi, bolehkah aku berfoto bersamamu? Aku tidak ingin besok harus mengenalkan diriku lagi padamu.” Hyunmi mengeluarkan ponselnya. Sungmin tersenyum lalu mengiyakan.

Mereka berdua pun berfoto bersama. Hyunmi tersenyum puas melihat hasilnya. Hyunmi lalu melirik gitar yang dibawa Sungmin.

“Kau bermain gitar?”

“Ya.” Sungmin tersenyum sambil memandang gitarnya.

“Bisa memainkan sebuah lagu untukku? Ehm..kalau tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak, nona manis. Mau lagu apa?”

“Apapun yang kau suka.”

“Apapun? Baiklah. Lagu kesukaanku ya?” Sungmin tersenyum dan Hyunmi mengangguk senang. Dia menunggu dengan antusias.

Sungmin mulai memetik senar gitarnya. Alunan lagu yang indah pun terdengar. Sungmin hanya bermain gitar. Dia tidak bernyanyi. Lagu ini asing di telinga Hyunmi. Tapi hatinya langsung tenang begitu mendengar lagu ini. Dia sendiri bukan tipe yang mudah suka dengan lagu. Tapi entah kenapa dia langsung menyukai lagu yang dimainkan Sungmin.

Sungmin selesai memainkan gitarnya lalu menunduk sedikit. Hyunmi bertepuk tangan dengan meriah. Sungmin tertawa kecil. Tawanya kali ini membuat Hyunmi berdebar. Hyunmi tertegun. Sungmin berhenti tertawa.

“Jadi bagaimana menurutmu? Ini lagu buatanku sendiri.” Sungmin memecah keheningan. Hyunmi tersadar.

“Ah ini lagu buatanmu? Benarkah? Bagus sekali.” Hyunmi terkejut. Sungmin tersenyum lebar.

“Ya. Tapi belum ada judul. Kira-kira apa ya yang pas?” Sungmin tampak berpikir.

“Aku sih tidak akan tahu judul yang pas kalau tidak tahu lagu ini tentang apa. Kemana liriknya?” Hyunmi berkata tidak sabar. Sungmin tersenyum dibalik tangannya yang sedang digunakannya untuk menopang dagunya.

“Lagu ini tentang seseorang yang spesial. Aku tidak bisa membuat lirik. Hanya bisa membuat melodinya saja.” Sungmin mengaku. Hyunmi mengangguk-angguk mengerti.

“Aku bisa membuat lirik. Aku pandai membuat puisi, kau tahu?”

“Benarkah?” Senyum Sungmin merekah. Hyunmi mengangguk.

“Sekarang aku membawa buku berisi puisi-puisiku.” Hyunmi menatap buku yang ada di tangannya sebentar lalu memberikannya pada lelaki di hadapannya itu. Sungmin terdiam lalu menerima buku itu. Dia membuka-buka halamannya. Dia terhenti pada satu halaman dan serius membaca puisi yang tertera di sana. Tak berapa lama dia tersenyum.

“Puisi yang ini cocok untuk laguku,” ucapnya. Senyumnya merekah dan membuat Hyunmi sedikit gelagapan.

“Ah be-benarkah? Memangnya itu yang mana?” Hyunmi melihat bukunya. Sungmin menyodorkan buku ke dekat Hyunmi namun buku itu masih ada di tangan Sungmin. Dia masih tetap tersenyum. Ternyata Sungmin menunjuk puisi yang menceritakan tentang pertemuan Hyunmi dan Sungmin. Wajah Hyunmi memanas. Dia bisa merasakan wajahnya pasti memerah. Sungmin masih bersemangat di sampingnya.

“Bagaimana? Cocok kan? Judulnya juga. My sunshine. Keren sekali. Kupakai ya?” Sungmin sangat bersemangat. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat seperti itu. Padahal dia hanya menemukan puisi yang cocok untuk lagunya. Oke, lirik yang cocok.

Sungmin berpikir sebentar lalu mulai menyanyi. Masih lagu yang sama dengan lirik dari puisi Hyunmi. Sungmin menyanyikannya sambil terus tersenyum. Hyunmi tercengang. Perpaduan yang sangat pas. Tak lama senyum Hyunmi mengembang. Sungmin pun selesai menyanyikan lagunya.

“My sunshine,” gumam Sungmin pelan.

“Tak kusangka puisiku bisa menjadi sebuah lagu,” gumam Hyunmi.

Lalu mereka berpandangan. Dan tersenyum.

“Hei, kerja sama yang bagus, kawan!” Sungmin mengulurkan tangannya untuk melakukan hi-five dengan Hyunmi. Dan Hyunmi menerima tangannya.

“Uhm.. kau tidak keberatan kan kalau kurekam lagumu?”

“Tentu saja tidak. Hei, jangan bilang laguku. Ini lagu kita!”

“Baiklah. Lagu kita. Lagu kita sudah kurekam tadi. Seandainya besok kita bertemu lagi, aku akan mengingatkanmu pertemuan kita hari ini dengan lagu kita ini.” Hyunmi tersenyum manis. Sesaat jantung Sungmin berhenti berdetak saat melihat senyumnya. Lalu dia langsung menepis perasaan yang menggelitiknya sekarang.

“Oh ya. Akan menyenangkan kalau bertemu lagi. Akan lebih menyenangkan kalau aku ingat hari ini.” Sungmin tersenyum samar. Hyunmi melirik arlojinya.

“Waw sudah mulai larut. Aku harus pulang.”

Sungmin berdiri lalu berlutut di hadapan Hyunmi. Memunggunginya.

“Naiklah. Kuantarkan sampai rumah.” Deja vu. Bagi Hyunmi, ini deja vu. Tapi tidak bagi Sungmin karena dia tidak mengingat pernah melakukan hal ini sebelumnya.

“Tidak usah. Terima kasih. Aku bisa berjalan pulang.” Hyunmi mengambil kruknya tapi dia kalah cepat. Kruknya sudah diambil Sungmin. Hyunmi tertegun.

“Sungmin ah, ayolah kembalikan krukku! Aku tidak bisa pulang kalau tidak ada benda itu!”

“Kalau begitu naik ke punggungku saja.”

“Aku berat lho.”

“Kelihatannya memang begitu.” Hyunmi memukul punggul Sungmin. Sungmin mengerang dengan gaya yang berlebihan.

“Sudahlah aku mau pulang.” Hyunmi langsung naik ke punggung Sungmin. Dengan mudahnya, Sungmin berdiri.

“Aigoo.. kau ringan sekali.” Hyunmi tertegun. Kenapa kata-katanya sama persis dengan kemarin? Tapi Hyunmi memutuskan untuk mengabaikannya.

“Hyunmi ah..”

“Hm?”

“Apa aku pernah…menggendongmu seperti ini?” Hyunmi berpikir sejenak. Tidak, dia tidak berpikir. Hanya terdiam.

“Ya. Kau mengingatnya?” Hyunmi segera menyesali ucapannya.

“Tidak. Aku hanya merasa…tubuhku sudah tidak asing dengan tubuhmu. Yah semacam itulah.” Hyunmi tidak merespon.

“Ah itu rumahku.” Hyunmi berseru ketika rumahnya terlihat 5 meter di depan mereka. Sungmin menurunkan Hyunmi.

“Mau mampir?” tawar Hyunmi. Sungmin menggeleng sopan.

“Aku sudah harus pulang sekarang. Terima kasih tawarannya.” Sungmin tersenyum. Hyunmi membalas senyumnya lalu masuk ke rumah. Hyunmi menutup pintu dengan perasaan bahagia. Lalu ia mendesah. Besok ia harus berkenalan lagi dengan Lee Sungmin.

Seperti dugaan Hyunmi, memang benar dia harus berkenalan lagi dengan Sungmin. Meski agak melelahkan akhirnya Sungmin percaya karena ia mendengar lagu mereka dan foto berdua mereka.

“Kalau sudah foto berdua seperti ini…kau pasti orang yang berharga untukku, kan?” ucapnya riang. Hyunmi tertegun mendengarnya.

“Maksudmu?”

“Aku mengingat satu hal. Biasanya orang yang berfoto berdua saja bersamaku adalah orang yang benar-benar kusayangi. Kau pasti.. orang yang kusayangi kan?” Pertanyaan Sungmin terdengar bodoh di telinga Hyunmi.

“Aku hanya memintamu berfoto berdua supaya aku tidak susah-susah mengingatkan siapa diriku kepadamu. Itu saja. Kurasa.. aku bukan orang yang se-spesial itu.” Mendengar perkataan Hyunmi, Sungmin terlihat kecewa. Dia terus menatap gadis dihadapannya. Hyunmi menjadi salah tingkah dilihati begitu.

“Kenapa?” tanya Hyunmi gugup.

“Kurasa…akan menyenangkan punya pacar seperti kau.” Sungmin menatap langit. Hyunmi terperanjat.

“Ma-maksudmu?”

“Kau tidak mengerti?” tanya Sungmin cemas. Sebenarnya Hyunmi mengerti kemana arah pembicaraan ini. Tapi ia sebisa mungkin menghindarinya. Daripada jantungnya tiba-tiba terlepas karena terus berdebar.

“Ngomong-ngomong apa ingatanmu tidak bisa kembali? Atau.. ehm..kau er..sudahlah lupakan.” Sungmin menatap gadis di sampingnya.

“Hei, pandai sekali mengalihkan pembicaraan, eh? Dokter bilang ingatanku mungkin saja kembali. Tapi kemungkinannya satu banding seribu.” Dia terdiam sejenak. “Tadi kau mau bilang apa?”

“Ah bukan apa-apa. Tidak penting.” Hyunmi memaksakan seulas senyum. Sungmin terus memperhatikannya. “Sungguh, tidak penting,” tambah Hyunmi. Sungmin terdiam menatapnya.

“Kurasa…kau ingin tahu apakah saat aku sadar aku amnesia, aku lupa namaku siapa, aku dimana, kenapa aku bisa, dan sebagainya ya?” tebak Sungmin. Dan anehnya, tebakannya tepat. Mau tidak mau Hyunmi mengangguk.

“Saat aku sadar, aku ingat siapa aku. Yang tidak kuingat hanya kejadian sehari sebelumnya. Lalu keesokan harinya aku tidak ingat kemarin terjadi apa. Ini membuatku frustasi. Rasanya seperti…selalu terlahir kembali, kau tahu? Bayangkan saja, saat kau terbangun dari tidur, kau tidak tahu mengapa terbangun. Kau bahkan tidak ingat bagaimana bisa tertidur di situ, dan semacamnya. Mengerikan.” Sungmin bergidik. Hyunmi masih menatapnya. Menunggu kelanjutan ceritanya. Hyunmi masih merasakan nada menggantung di suara Sungmin tadi.

“Dan itu sudah terjadi selama satu tahun. Entahlah kenapa aku bisa ingat aku mengidap amnesia sudah selama satu tahun. Mungkin karena aku menandai tanggal di kalender.” Hyunmi mengangguk 3 kali.

“Kakimu sendiri..kenapa?” Sungmin menunjuk kaki Hyunmi. Hyunmi mendesah. Dia bosan menceritakan hal ini terus menerus. Jadi lebih baik sekarang ia merekamnya.

“Kau mau apa?” tanya Sungmin heran ketika Hyunmi mengeluarkan alat perekam suara. Hyunmi menoleh sebentar lalu berkata, “Merekam.”

“Merekam apa?” Sungmin masih bingung.

“Dengar Sungmin, aku sudah bosan menceritakan hal ini padamu. Jadi biarkan aku merekamnya agar besok aku tidak perlu menceritakan hal ini lagi sampai aku ingat omonganku sendiri diluar kepala. Mengerti?”

“Oh jadi kau sudah menceritakannya berkali-kali.” Hyunmi mengangguk. Dia lalu mulai berbicara mengapa kakinya bisa begitu sementara alat perekamnya terus merekam pembicaraan mereka. Setelah ceritanya selesai, ia mematikan perekamnya. Lalu ia menatap Sungmin.

“Well, aku membawa gitar hari ini. Apa kemarin aku juga membawa gitar dan…melakukan sesuatu dengan gitarku?” tanya Sungmin. Hyunmi mengangguk.

“Ya, kau memainkan gitarmu dan membuat lagu dari puisi yang kubuat. Aku merekam lagunya. Kau sudah dengar tadi.”

“Oh benarkah? Ah aku bahkan sudah lupa.”

“Apa tidak ada cara untuk menyembuhkan amnesiamu?”

“Hei, pintar sekali mengganti topik, nona manis. Hmm..sepertinya..ada..tetapi..tidak ada yang tahu bagaimana caranya.”

“Bagaimana kalau membuat kepalamu terbentur? Bisa saja ingatanmu kembali. Kau kan amnesia karena kepalamu terbentur sesuatu. Kalau kita membenturkan kepalamu ke sesuatu, kemungkinan…”

“kecil ingatanku kembali.” Sungmin melanjutkan kata-kata Hyunmi lalu mendengus. Kemudian dia tertawa. “Ayolah, itu teori anak SD, kau tahu? Memangnya ada yang berhasil dengan cara seperti itu?”

“Setahuku tidak tapi…hei, kita bisa mencobanya kan? Bagaimana kalau kau berlari ke tengah jalan dan menunggu mobil datang? Lalu kau sengaja menabrakkan diri ke mobil itu dan saat jatuh kau memosisikan kepalamu agar terbentur ke trotoar. Lalu setelah itu..”

“Kau ingin aku mati? Terus terang saja, kau cerewet hari ini.” Sungmin berkata seperti itu seolah-olah dia ingat pernah bercakap-cakap dengannya sebelum hari ini. Hyunmi berhenti mengoceh dan menatap Sungmin heran. Lelaki itu tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.

“Er…apa aku pernah bilang bahwa aku sudah terbiasa dengan kamu?”

“Ehm.. ya tapi kata-katanya berbeda. Kemarin kau bilang, tubuhku sudah tidak asing dengan tubuhmu.”

“Ya itu benar.” Sungmin terdiam. “Tunggu dulu, kenapa aku bicara seperti itu?  Memangnya apa yang kita lakukan kemarin?” Hyunmi berusaha keras untuk tidak tertawa saat melihat ekspresi kaget Sungmin. Akhirnya seulas senyum menghiasi wajah cantik Hyunmi. Lelaki dihadapannya makin bingung dibuatnya.

“Kau menggendongku  kemarin. Dan yah….hanya itu. Kita tidak melakukan apa-apa.”

“Baiklah. Bagus kalau begitu.”

“Jadi tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan ingatanmu?” Hyunmi membalikkan topik. Sungmin menatapnya.

“Tsk. Pintar sekali. Sudah kubilang tidak ada.”

“Coba benturkan kepalamu!”  Hyunmi bersikeras.

“Hei! Pikirlah sedikit! Sudah kubilang kemungkinannya satu banding seribu. Masih untung kalau aku jatuh lalu selamat, bagaimana kalau tertabrak lalu mati? Hah? Bagaimana?”

“Tapi aku pernah lihat di film, orang amnesia membenturkan kepalanya lalu ingatannya kembali.”

“Itu hanya FILM, Kim Hyunmi. Hanya fiksi.”

“Tapi..tapi…cobalah dulu..”

“Kau ingin mencelakakan aku?” Nada suara Sungmin meninggi.

“Tidak. Aku hanya ingin ingatanmu kembali.” Hyunmi mengangkat dagunya, menantangnya.

“Tapi bukan begini caranya..” Nada suara Sungmin melembut. Bahkan seperti memohon. Hyunmi tertegun. Lelaki di hadapannya ini sedang memohon padanya.

“Lalu bagaimana? Terapi? Kau udah mencoba terapi? Atau..relaksasi? Mediasi? Reinkarnasi? Atau pengobatan alami? Atau..kau coba berendam di air tertentu lalu..”

“Ya Tuhan.. kau ini benar-benar. Masa sampai mencantumkan reinkarnasi? Memangnya aku arwah? Sungguh Kim Hyunmi, kau cerewet sekali. Apa kau seperti ini sebelumya?” Sungmin berusaha sabar. Dia mengerti perempuan ini mengkhawatirkannya. Dia malah merasa senang.

Hyunmi cemberut. “Baiklah. Kau hilang ingatan selamanya juga bukan urusanku. Maaf telah ikut campur.” Hyunmi menunduk. Sungmin salah tingkah diperlakukan seperti itu.

“Ehm..ok ok.. sudahlah. Aku juga minta maaf.” Sungmin merasa tidak enak. Hyunmi tersenyum.

“Aku harus pulang sekarang.” Hyunmi mengambil kruknya sebelum lelaki di hadapannya ini mengambilnya. Dia lalu  berdiri dan tersenyum. “Sampai nanti.”

Sungmin hanya bisa terdiam memandangi sosok gadis itu mejauh. Tepat ketika Hyunmi menyebrangi jalan, sebuah mobil melaju dengan kencang. Hyunmi tidak bisa menghindar. Sungmin spontan berlari dan mendorong Hyunmi menjauh. Dan suara tabrakan pun menggelegar di kesunyian kota Seoul sore itu.

Sungmin membuka matanya. Lalu dia menutupnya lagi. Kepalanya terasa berat. Dia menggerakan jarinya. Lalu dia sadar. Dia tidak sendiri di sana. Ada yang menggenggami jarinya. Sungmin mengerjapkan mata. Dia membuka mata dan membiasakannya dengan keadaan sekitar. Pukul 12 malam. Dimana? Kenapa? Apa yang terjadi? Sungmin terus bertanya pada dirinya sendiri. Dia langsung mengetahui dia ada di rumah sakit ketika dia melihat tangannya ditempeli selang infus. Dia menyentuh kepalanya. Dia meringis. Kepalanya diperban. Rasanya sakit sekali. Dia lalu melihat seseorang yang menggenggam tangannya. Gadis ini Kim Hyunmi. Sungmin tersenyum dan membelai rambut Hyunmi lembut. Dia menyingkirkan poni Hyunmi yang menutupi wajahnya. Merasakan sentuhan, Hyunmi membuka matanya dan mengerjap-ngerjap.

“Halo…gadis..manis…” Suara Sungmin serak dan pelan. Namun itu cukup membuat Hyunmi terperanjat dan melotot menatap Sungmin. Lelaki itu tersenyum lemah melihat reaksinya yang agak berlebihan.

“Sungmin? Kau sudah sadar?” Hyunmi memastikan dia tidak bermimpi. Sungmin membelai pipi Hyunmi.

“Ya..aku sudah sadar. Aku haus sekali..” Suara Sungmin masih serak. Hyunmi tidak tahan mendengarnya. Maka ia segera mengambilkan minum dan memberikannya pada Sungmin.

“Sebenarnya ada apa?” Suara Sungmin membaik berkat air mineral yang diteguknya.

“Sungmin ah, pertama terima kasih. Kau kemarin menolongku. Kau mendorongku menjauh saat sebuah mobil akan menabrakku. Kau..kau yang tertabrak. Kepalamu..terbentur trotoar. Maafkan aku. Gara-gara ucapanku…kamu jadi..”

“Ssshh..sudahlah tidak apa-apa. Bukan salahmu kok.”

“Tapi tapi…berkat kecelakaan itu..entah kenapa kakiku sembuh!” Hyunmi tersenyum riang. Sungmin ikut tersenyum.

“Tunggu dulu, kecelakaan itu kemarin?”

“Ya.” Hyunmi mengangguk mantap. Sepertinya ia tidak sadar. Ia terlalu bahagia karena keadaan Sungmin membaik dan kakinya sembuh.

“Kemarin ya..tapi kenapa aku masih mengingatmu? Aku bahkan mengingat bagaimana pertama kali kita bertemu. Dan..apa yang terjadi antara kita berdua. Aku ingat nenekmu. Aku ingat rumahmu. Aku ingat ceritamu. Aku ingat semuanya, Hyunmi ah. Aku sembuh.” Sungmin berkata dengan bersemangat. Hyunmi yang mendengarnya tersenyum haru. Spontan, dia langsung memeluk Sungmin. Mereka merasa sangat bahagia.

“Kubilang juga apa…metodeku berhasil kan? Ingatanmu kembali? Siapa bilang itu teori anak SD.” Hyunmi pura-pura cemberut. Sungmin mengelus puncak kepala gadis itu. Dia tertawa.

“Baiklah baiklah…aku mengalah. Kuakui kau benar. Terima kasih sudah menempatkanku pada kecelakaan itu.” Hyunmi terbahak mendengarnya. Lalu tawanya langsung terhenti.

“Hmm..kalau begitu..alat perekamku sudah kurang berfungsi lagi.” Kali ini Sungmin yang terbahak sementara Hyunmi mengerutkan kening, bingung.

“Ada apa?” tanya Hyunmi polos. “Ada yang lucu?”

“Kukira ada masalah penting sampai-sampai tawamu berhenti tiba-tiba. Ternyata hanya masalah alat perekam.” Sungmin tertawa lagi. “Kalau begitu kita rekam lagu sebanyak-banyaknya saja seperti yang kita lakukan dua hari lalu.” Mereka berdua tersenyum. Hyunmi mengangguk bersemangat.

“Yap! Berarti alat perekamku tidak akan menganggur!” Mereka berdua tertawa.

THE END

20 thoughts on “[FF] Poetry and Melody

  1. HyukCan~ says:

    WHOAAA~~ FANFICNYA BAGUS, KEREN p:DDD
    mau dong di gendong sungmin~~ /bhuaaaagh~
    untung amnesianya sembuh, coba kalo gak sembuh, capek bener itu tiap hari mesti ngenalin diri, huwahaha xDD

  2. Dinnanukyunie says:

    Stelah ak bca ni ep ep, klo ada yg amnesia mending kepalanya dibenturin aja biar sembuh *plaaak*
    Suka ma perannya umin disini ^^

  3. dhikae says:

    kyaa umin amnesia…
    pswt meledak tpi slamt..
    jgn mpe deh suju ke indo pswtnya meledak.. kekekke
    tpi akhirnya happye end..
    like it..

  4. raekiyopta says:

    akhirnya aku melanjutkan membaca FF ini😀 keren dah!! :bd but.. actually, wkt awal ak rada bngung. amnesia yg trjadi brulang kali tiap hri.a. ada? yg ku tau amnesia tuh ada yg mlupakan hal yg paling penting, wkt2 trakhr, hal yg paling d sukai, permanen, smntara, dll *pengalaman.haha* eh eh eh bikin yang banyak lagi yaa! kya.a ak jd pmbaca tetap d sini. boleh?

  5. raekiyopta says:

    kalau di liat dari data2 kesehatan wkt kcil ga ada. tapi aku ngerasa ada sesuatu yg hilang dan bkal muncul bbrapa ingatan klo ak dngerin msik ato nyium aroma2 yg khas *dramatis* hahaha
    jadi jawabannya adalah.. Sepertinya.. tidak (jawab gni aja lama bgt “=,=a) hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s