[FF] Dreamers

Namaku Nisa. Aku adalah seorang pemimpi. Aku hanyalah seorang gadis Indonesia yang bekerja sebagai penulis. Ada yang bilang, tulisanku mirip sekali dengan kisahnya. Ternyata memang benar. Bahkan sampai mendetail mirip sekali dengan kisahnya. Tak hanya sekali, dua kali kisah yang kubuat sama dengan kisah temanku itu. Aku sendiri tidak terlalu mengambil pusing hal tersebut. Cerita yang kubuat memang sering mirip dengan kisah orang lain. Bahkan menjadi kenyataan. Jadi, untuk membuktikan kebenaran tersebut, aku membuat sebuah cerita tentang seorang pemimpi. Pemimpi ini berharap akan bertemu pujaan hatinya, seorang dari negeri yang jauh. Dia menghanyutkan sebuah surat dalam botol ke laut. Berharap akan mencapai negara pujaan hatinya. Korea Selatan. Kuharap akan menjadi kenyataan.

Aku mengetik kata THE END di keyboard. Cerita ini sudah selesai. Aku menyimpan pekerjaanku dan menutup laptopku. Aku lalu menulis sesuatu di selembar kertas.

“Lee Hyukjae, Hope you’ll find this letter. I’m Nisa. I’m from Indonesia. I’m waiting for your reply. Here is my address…” Aku terus menulis di atas kertas tersebut. Setelah selesai aku memasukkan kertas tersebut ke dalam botol. Aku lalu berjalan keluar rumah, berjalan selama 15 menit dan akupun sampai di pantai. Aku menunduk untuk menghanyutkan botol itu. Ketika ombak datang, aku meletakkan botol itu. Botol itu pun pergi bersama ombak. Aku tersenyum.

“Kuharap yang menemukannya adalah Lee Hyukjae, sahabat kecilku.”

Di Korea Selatan, pinggir pantai.

Kim Ryeowook’s POV

Aku menatap pantai bersih di hadapanku. Sepertinya enak jika bermain air sekarang. aku melirik jam. Masih ada waktu satu jam hingga waktunya aku kembali ke dorm. Aku pun melepas sepatuku dan menggulung celana panjangku hingga selutut. Aku maju menerjang ombak. Aku rindu pantai ini. Aku melepas kerinduanku dengan memainkan air ombak dengan kakiku. Aku maju selangkah.

Terkadang aku mengkhayal, aku sedang berdiri di sini dan tiba-tiba menemukan surat dalam botol. Haha..tapi itu tidak akan menjadi kenyataan. Zaman sudah canggih, mana mungkin masih ada orang yang mengirimkan surat dalam botol? Kalaupun ada untuk siapa coba? Haha pemikiranku bodoh sekali.

Aku maju selangkah lagi. Aku merunduk dan menjulurkan tangan kananku, berharap ada kerang yang hinggap di tanganku. Tiba-tiba sebuah benda dingin menyentuh tanganku. Aku terkejut dan terlompat sedikit. Aku lalu memperhatikan benda yang menyentuhku tadi. Sebuah botol? Surat dalam botolkah? Ah tidak mungkin. Ini pasti hanya sebuah botol bekas. Baiklah akan kubuktikan. Aku lalu mengangkat botol itu. Aku tertegun ketika ternyata sepucuk surat yang ada di dalam botol itu. Aku berjalan ke pasir dan duduk di atasnya. Aku membuka botol itu dan membaca isinya. Aku semakin terkejut.

“Lee Hyukjae? Eunhyuk Super Junior? Apa Hyukjae yang lain?” Ah rasanya tidak mungkin kalau Eunhyuk hyung yang mendapatkannya. Hmm..Nisa ya? Indonesia. Kyuhyun pengin sekali berlibur ke sana. Kuharap sushow kali ini juga kami akan mengunjungi Indonesia. Beberapa artis yang pernah ke sana bilang bahwa Indonesia itu menyenangkan. Aku jadi penasaran.

Masalah sekarang hanya satu, apa yang harus kulakukan dengan surat ini? Menyimpannya? Membalasnya? Di sini ada alamatnya sih..tapi apa aku harus membalasnya? Apa aku harus berpura-pura sebagai Lee Hyukjae atau tetap sebagai Kim Ryeowook? Ah sudahlah aku akan membalasnya tanpa memberitahukan identitasku. Tapi aku akan membalasnya di rumah saja. Botol ini akan kusimpan.

“Ryeowook ah, kemana saja dirimu? Kukira kau tersasar,” celetuk Eunhyuk hyung. Aku tersenyum.

“Mana mungkin aku tersasar di sini? Sudah berapa tahun aku tinggal di sini?” ucapku sambil lalu. Aku masuk ke kamarku dan menyimpan botol itu di bawah tempat tidur. Aku lalu duduk di depan meja dan mulai menulis surat balasan. Intinya, aku bilang padanya bahwa suratnya sampai di Korea Selatan dan aku yang menemukannya. Selesai. Aku memasukkan surat itu ke dalam amplop dan mencantumkan alamat yang dituju. Pengirim? Erh..dari.. SJ. Nah selesai. Semoga sampai ke tempatnya.

“Ryewook ah…aku lapar..” rengek Eunhyuk hyung manja. Aku menghela nafas.

“Mau makan apa, hyung?”

“Apa saja. Cepatlah aku lapar stadium 5!” Kulihat Donghae hyung langsung memukul kepala Eunhyuk hyung. Pasti bukan Lee Hyukjae ini yang Nisa maksud. Yang Nisa maksud pasti Lee Hyukjae yang lain, yang bukan seorang artis. Pasti..

Aku pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat itu. Setelah selesai aku langsung pergi ke gedung SBS. Di backstage, aku mendengar Eunhyuk hyung bercerita. Aku yang sedang dirias hanya terdiam mendengarkan.

“Aku dulu mempunyai seorang sahabat perempuan. Dia baik sekali. Dulu kami itu layaknya sepasang anak kembar. Dimana ada aku, disitu pula ada dia.” Begitu awal cerita Eunhyuk hyung. Yang lain serius mendengarkan kecuali Kyuhyun. Dia sedang mengutak-atik handphonenya.

“Dia gadis yang manis. Rambutnya dikucir dua, panjang. Warnanya hitam. Kulitnya tidak terlalu putih karena dia orang Indonesia.” Aku tertegun.

“Orang Indonesia?” Kyuhyun tertarik dan mulai ikut mendengarkan. Eunhyuk hyung mengangguk semangat.

“Dulu dia tinggal di Korea, sebelah rumahku. Tapi saat kami memasuki kelas 3 sekolah dasar, dia pindah sekolah. Dia pulang ke Indonesia, ke kampung halamannya. Kami berjanji akan selalu bertukar salam. Aku yang dulu bodoh sekali. Aku menyuruhnya megirimiku surat dalam botol yang dihanyutkan ke laut.” Eunhyuk hyung tertawa. Semuanya terkekeh kecuali aku. Aku seperti mendapat tamparan. Berarti memang Eunhyuk hyung yang Nisa maksud.

“Dia pasti tidak akan melakukannya. Mana ada orang ang mengirimkan surat dalam botol? Bodoh sekali.” ujar Heechul hyung. Aku tersentak. Riasanku sudah selesai dan aku sontak berdiri. Aku menatap mereka satu persatu.

“Ada! Masih ada yang mengirim surat dalam botol!” seruku. Aku terkejut. Apa yang kulakukan?

“Siapa? Kamu?” tanya Heechul hyung. Semua terkekeh kecuali Eunhyuk hyung. Dia mentapku penuh arti. Aku menunduk dan segera berlalu pergi.

Perform kali ini berjalan lancar. Kami pulang ke dorm dengan cepat. Ah..aku lelah sekali. Aku lalu merebahkan tubuhku di tempat tidur. Oh ya, surat itu! Aku segera merangkak ke bawah dan mengambil botol surat itu. Aku melirik Yesung hyung yang sudah tertidur. Aku tersenyum dan memejamkan mata. Aku tertidur masih sambil memeluk botol surat dari Nisa.

Nisa’s POV

“Kak, ada surat buatmu tuh!” seru adikku dari lantai dasar. Aku segera meninggalkan laptopku dan berlari ke lantai bawah.

“Dari siapa?” tanyaku. Adikku mengangkat bahu.

“Entahlah. Liat aja sendiri,” ucapnya acuh tak acuh sambil menyerahkan sebuah amplop padaku. Aku menerimanya dan langsung berlari ke kamarku. Aku membuka amplop itu dengan brutal. Aku membaca isinya dan harapanku melambung. Dari Korea Selatan!! Sesuai dengan ceritaku! Tapi siapa ini? SJ? Aku melihat cerita yang kubuat. Kenapa beda? Di ceritaku surat ini diambil oleh Hyukjae. Tapi…yah ini membuktikan bahwa tidak semua ceritaku menjadi kenyataan. Baik, kita lihat endingnya bagaimana. Akhirnya aku bertemu dengan Hyukjae. Happy ending. Kuharap kisahku kali ini juga begitu.

Tanpa membuang waktu aku segera menulis balasan. Intinya aku menanyakan namanya dan bilang bahwa aku senang suratku sampai di Korea Selatan. Aku menyambar jaketku dan segera pergi ke kantor pos.

Setelah mengirim surat balasan aku tidak langsung pulang. Aku pergi ke toko buku. Aku menyapa seorang temanku di sana. Dia sedang berdiri di belakang kasir.

“Hello, Nisa! Makin kemari makin banyak yang membeli bukumu,” ucap Rio ramah. Aku tersenyum.

“Yo, kamu percaya ga kalau ceritaku itu sering mirip sama cerita orang?” tanyaku.

“Ya ga tau. Aku kan ga tau itu mirip cerita siapa aja.” Sudah kuduga aku akan mendapatkan jawaban yang seperti itu.

“Kenapa tanya-tanya begitu?” tanya Rio. Seorang pelanggan menghampirinya. Aku menyingkir tanpa di suruh. Aku berdiri di samping Rio. Setelah pelanggan itu pergi, aku memain-mainkan pensil yang ada di samping meja kasir.

“Ga kenapa-napa sih..penasaran aja,” gumamku. Rio mengangguk tidak jelas karena seorang pelanggan menghampirinya lagi. Aku masih tetap memainkan pensil itu ketika ternyata ada orang yang membeli bukuku. Aku melirik orang itu. Dia ternyata sedang memperhatikanku. Dia terkejut ketika tahu ada aku di sini.

“Nisa? Penulis buku ini kan?” ucapnya semangat sambil menunjuk bukuku. Aku mengangguk sambil tersenyum ramah. Gadis itu memekik.

“Kyaaa…aku fans beratmu!! Tolong tanda tangani buku ini!” Dia menyobek segel bukuku dan menyodorkan buku itu padaku. Aku lalu menandatangani buku itu dengan pensil yang dari tadi kumainkan. Gadis itu menyodorkan sebuah pulpen padaku dan aku menandatangani buku itu lagi.

“Waahh..terima kasih banyak! Oh ya, aku Yuni!” Kami berjabat tangan. Dia pun tersenyum dan pergi.

“Seharusnya kau ke sini memakai kaca mata gelap, syal tebal, topi besar, jaket bulu, celana longgar lusuh, dan sepatu kumal. Pasti tak akan ada yang mengenalimu,” celetuk Rio. Aku terkekeh.

“Seperti Super Junior tuh. Aku pernah baca cerita..FF gitu namanya? Lupa. Pokoknya ada yang nyeritain kalo mereka kemana-mana pake baju yang aku ceritain tadi.”

“Super Junior? Apaan tuh? FF? Apa pula itu?” tanyaku heran. Rio menatapku tak percaya.

“Kau tidak tahu mereka? Super Junior itu band terkenal di seluruh dunia! Terus..FF itu fan fiction. Cerita fiksi yang dibuat oleh seorang fans memakai nama tokoh idolanya.” Rio menjelaskan. Aku mengangguk tidak jelas.

“Yah..aku kan setiap hari berkencan dengan laptopku. Jadi aku tidak tahu.”

“Nih kusebutkan membernya ya.. Park Jungsoo atau Leeteuk, Kim Heechul, Hangeng, Kim Jongwoon atau Yesung, Kim Youngwoon atau Kangin, Shin Dong Hee atau Shindong, Lee Sungmin, terus Lee Hyu..”

“Sudah sudah cukup. Banyak sekali. Memang ada berapa membernya?” tanyaku tak semangat.

“Ada 13. Ditambah 2 member Super Junior – M. Henry Lau dan Zhou Mi.”

“Jadi totalnya 15?” tanyaku. Rio mengangguk semangat.

“Banyak sekali. Mau bikin tim sepak bola? 11 pemain, 1 wasit dan 3 cadangan?” Aku terkekeh. Rio cemberut.

“Baiklah baiklah aku tahu kau tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Tapi sekali-kali cobalah browsing tentang mereka. Kau pasti akan takluk!” Rio berbicara dengan semangat berapi-api.

“Rio, aku meragukan orientasi seksmu,” celetukku. Sontak, Rio menjitak kepalaku gemas.

“Aku hanya mengagumi mereka yang bisa nyanyi sambil dance! Tidak lebih!” Aku tertawa.

“Baiklah..kau suka pada mereka juga tidak masalah toh.” Aku berlalu pergi. Rio berdecak kesal.

Super Junior ya.. kalau disingkat menjadi SJ. SJ?! Tunggu..pengirim surat itu kan..

Kim Ryeowok’s POV

“Wookie, surat untukmu.” Yesung hyung melemparkan sebuah amplop padaku. Aku menangkapnya dengan semangat dan membuka isinya. Aku tersenyum lebar ketika mengetahui pengirim surat tersebut. Ini dia yang kutunggu-tunggu! Aku segera membacanya. Ahh..dia menanyakan namaku. Apa yang harus kulakukan? Dia senang sekali suratnya dibalas. Pasti dia akan lebih senang kalau suratnya dibalas oleh Eunhyuk hyung. Tapi..entah kenapa aku tidak rela jika Eunhyuk hyung yang membalasnya.

Aku mengambil pulpen dan segera menuliskan balasan.

“Nisa, ini aku Lee Hyukjae. Terima kasih kau sudah melakukan apa yang kusuruh. Apa kau punya alamat e-mail? Kurasa aku membutuhkannya karena jadwalku sibuk sekali sekarang. Aku tidak selalu punya waktu lengang untuk membalas suratmu. Ini alamat e-mailku. Kirimi aku e-mail ya…”

Aku tersenyum dan memasukkan surat itu ke dalam amplop. Aku segera keluar dari kamar dengan wajah berseri-seri.

“Wookie ah, kau bahagia sekali? Ada apa?” tanya Leeteuk hyung. Aku tidak menjawabnya dan segera pergi ke kantor pos.

Setelah mengirimkan surat itu, aku tidak merasa tenang. Apa tidak apa-apa kalau berbohong begini? Tapi aku tidak mau membuat Nisa kecewa. Tapi..berbohong demi membuat orang lain senang sepertinya tak apa.

“Ryeowook ah, ada surat lagi untukmu.” Ini sudah seminggu sejak aku mengirim surat balasan. Akhirnya datang juga. Aku membuka surat itu dengan semangat. Aku bersorak ketika tahu bahwa Nisa mencantumkan alamat e-mailnya. Aku pun segera mengiriminya e-mail. Tak sampai 10 menit, sudah ada balasan.

“Hyukjae ah, bogoshipoyo. Tak kusangka surat dalam botolku berhasil. Aku senang kita bisa bertukar e-mail begini. Sebulan lagi aku akan ke sana. Aku sudah menjadi seorang penulis. Aku akan mempromosikan bukuku ke sana. Rencananya bukuku akan dijadikan film di Korea. Aku sengaja memakai tokoh orang Korea karena aku suka Korea. Kuharap kita bisa bertemu.” Begitu isi e-mail dari Nisa. Aku tersenyum dan membalasnya.

“Na ddo bogoshipo. Aku akan menunggumu. Kuharap kita bisa bertemu.” Aku mengetik balasan dan mengirimkannya pada Nisa. Suara pintu kamarku diketuk. Aku melirik Yesung hyung yang mengajakku makan.

“Sebentar hyung.” Aku kembali fokus ke komputer. Yesung hyung mendesah dan keluar kamar.

“Sebentar Nisa, aku disuruh makan dulu.”

“Kau memang selalu begitu dari dulu. Ayo cepat makan.” Aku tersenyum melihat balasannya. Aku pun berjalan ke meja makan.

“Kau sedang jatuh cinta ya, wookie?” tanya Leeteuk hyung.

“Mwo?” ucapku kaget.

“Terlihat jelas dari wajahmu dan tingkah lakumu. Kau selalu senyum-senyum sendiri, bersemu merah sendiri, ngelamun sendiri. Kau jatuh cinta ya?” ujar Donghae hyung. Apa benar aku seperti itu?

“Satu lagi, matamu selalu berbinar-binar kalau dapat surat. Surat dari siapa sih?” tanya Sungmin hyung. Aku menunduk.

“Hey..kita ini kan keluarga. Kalau kau punya pacar tak apa asal jangan ketahuan fans. Ayo ceritakan siapa gadis beruntung itu?” tanya Eunhyuk hyung. Aku tetap menunduk. Gadis itu sahabatmu hyung! Ingin sekali aku berteriak begitu.

“Ah tidak..aku tidak apa-apa.” Aku mempercepat makanku dan kembali ke kamar. Semua menatapku heran.

Tak terasa sudah satu bulan aku dan Nisa selalu bertukar e-mail. Besok dia akan kemari. Dia ingin aku menjemputnya di bandara. Bukan.. bukan aku. Dia ingin Eunhyuk hyung menjemputnya di bandara. Aku bingung. Apa yang harus kukatakan? Apa dia masih mengenal wajah Eunhyuk hyung? Bagaimana kalau dia tahu bahwa selama ini dia dibohongi olehku? Apa yang harus kulakukan?

Nisa’s POV

Hari ini hari keberangkatanku ke Seoul. Aku berangkat bersama beberapa crew film dan sahabat-sahabatku. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Hyukjae. Seperti apa ya wajahnya sekarang? Suaranya seperti apa ya?

Tak terasa sudah sampai. Aku terlalu sibuk memikirkan Hyukjae. Dari e-mailnya yang kudapat, dia orang yang menyenangkan. Dari dulu tak berubah. Aku semakin penasaran.

Aku melihat sekeliling untuk mencari Hyukjae sementara yang lain sudah memasuki mobil van ke hotel. Aku melihat seorang pria yang membawa papan bertuliskan namaku. Aku tersenyum dan menghampirinya.

“Lee Hyukjae?” tanyaku.

“Ehm..ne.. Nisa?” ucapnya. Dia mengucapkan “Nisa” dengan logat yang aneh. Membuatku geli saja.

“Hyukjae bogoshipoyo!” seruku. Dia tersenyum.

“Na ddo. Sekarang mau kemana?” ucapnya.

“Antar aku ke hotel saja untuk check-in. Setelah itu aku diberi kesempatan untuk berjalan-jalan. Kau mau mengantarku?”

“Eh..tentu saja.” Dia tersenyum. Aku menatapnya lama. Sepertinya…dia berbeda. Bukan seperti Hyukjae yang kukenal.

Kim Ryeowook’s POV

Kenapa jantungku berdebar begini? Duh..dia mengajakku berjalan-jalan. Aku bisa meledak! Ternyata dia lebih cantik dari foto yang ia berikan. Beruntung sekali Eunhyuk hyung.

“Ah sudah sampai. Tunggu sebentar aku check-in dulu. Kau tunggu di mobil saja.” Nisa berlalu pergi. Aku bersyukur tidak perlu turun. Aku takut ELF akan memergokiku. Tak lama, Nisa sudah kembali.

“Sekarang mau kemana?” tanyaku.

“Kau saja yang menunjukkan tempat yang bagus. Aku sudah lama tidak kemari jadi aku tidak tahu,” ucapnya polos sambil tersenyum. Aku mengangguk dan mulai menyetir mobil ke pantai itu.

“Ini tempat favoritmu?” tanyanya. Aku mengangguk. Aku memainkan air dengan kakiku.

“Ternyata kalau aslinya kau pendiam ya. Padahal kalau di e-mail kau ceria sekali. Kau malu ya?” Nisa menggodaku. Gawat..wajahku memanas. Aku segera menunduk, berpura-pura mencari kerang.

“Kau kan tahu sendiri aku pemalu kalau di dekat perempuan.” Ah..untung saja aku ingat tingkah Eunhyuk hyung yang malu-malu jika berada di dekat perempuan.

“Iya aku tahu. Tapi aku kan sahabatmu. Dulu kau tidak segan-segan memegang tanganku kok.” Mati aku.

“Ah..habisnya..” Aku tergagap. Oh Tuhan tolong lenyapkan aku sekarang! Tiba-tiba terdengar suara tawa yang renyah. Aku menatap Nisa. Nisa sedang tertawa sambil melihat ke arahku.

“Kau lucu, Hyukjae!” Dia melanjutkan tawanya. Mau tak mau aku tertawa juga. Kami pun pergi ke tempat selanjutnya.

Sekarang acara dimulai. Nisa sudah duduk di depan meja yang cukup panjang. Banyak wartawan di depannya. Dia sedang menceritakan konsep film yang akan dibuat. Kami, Super Junior, akan tampil dalam acara ini juga. Itu sebabnya banyak sekali ELF yang datang.

Giliran kami pun tiba. Kami membawakan lagu terbaru kami. Kulirik Nisa yang duduk di bangku penonton paling depan. Dia selalu menatap ke arah Eunhyuk hyung. Yah wajar saja. Eunhyuk hyung mudah sekali mendapatkan fans. Saat giliranku menyanyi, aku menatap ke arahnya. Nisa tersenyum manis. Dia juga menatapku seakan memberiku dukungan. Aku segera memalingkan wajah. Aku tidak mau wajahku bersemu merah sekarang.

“Annyeonghaseo, Park Jungsoo a.k.aLeeteuk imnida.” Leeteuk hyung mengenalkan diri. ELF bertepuk tangan meriah. Gawat. Bagaimana ini?

“Annyeonghaseo, Sungmin imnida.” Setelah itu giliran Eunhyuk hyung! Tolong jangan sebut nama aslimu hyung…

“Annyeonghaseo, Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk imnida.” Kulirik Nisa, dia tertegun. Beberapa saat akhirnya tiba giliranku.

“A..annyeonghaseo..Kim..Ryeowook imnida.” Aku menatap Nisa dengan penuh perasaan bersalah. Nisa menunduk. Aku sangat merasa bersalah. Hingga akhirnya tiba giliran Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun imnida.” Kyuhyun membungkuk.

“URI NEUN SUPER JUNI.. O~E~O!”

Di backstage aku ditegur Leeteuk hyung.

“Kau kenapa, wookie? Kenapa kau tergagap tadi?”

“Entahlah hyung. Mungkin aku gugup.” Aku memberi alasan. Leeteuk hyung mendesah.

“Baiklah tak apa.” Tapi aku tidak yakin. Tiba-tiba pintu terbuka. Aku terkejut ketika Nisa memasuki ruangan. Dia menghampiriku.

“Kau bohong, Kim Ryeowook,” ucapnya dingin. Aku menatapnya.

“Mianhae.” Aku pasrah. Biar saja jika dia mau menamparku atau membunuhku silahkan saja.

“Kenapa berbohong padaku?”

“Aku hanya tidak mau membuatmu kecewa karena yang membalas suratmu itu aku. Bukan Hyukjae hyung..” Eunhyuk hyung melirik ke arah kami. Nisa menghela nafas.

“Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu. Aku malah kecewa.”

“Mianhae.”

“Sekarang mana Hyukjae?” tanyanya. Eunhyuk hyung maju.

“Ini aku. Nisa..” ucapnya. Sebersit rasa cemburu muncul di hatiku.

“Hyukjae…mianhae..” Aku terbelalak mendengar ucapan Nisa.

“Waeyo?” Eunhyuk hyung heran.

“Aku sebenarnya mau memberitahu bahwa aku akan menikah sebulan lagi. Tapi rasanya berat sekali mengatakannya karena aku menyukaimu.” Kami tertegun.

“Aku juga menyukaimu,” ucap Eunhyuk hyung.

“Mianhae…” Nisa menjulurkan sebuah amplop pada Eunhyuk hyung. Dia menerimanya.

“Awalnya aku ingin mengobrol untuk terakhir kalinya denganmu. Tapi ternyata Ryeowook yang membalas e-mailku.” Semua mata tertuju padaku. Aku salah tingkah.

“Maafkan aku. Awalnya aku ingin menemuimu karena aku mencintaimu. Tapi ternyata aku malah menyukai orang yang membalas surat botolku.” Nisa menatap ke arahku.

“Aku menyukaimu, Kim Ryeowook,” ucapnya tulus. Aku terdiam.

“Maaf. Kalian tidak perlu bertengkar karena aku akan menikah dengan pria lain. Aku tidak akan merusak Super Junior.” Nisa menunduk. Aku terpaku. Orang yang kucintai akan menikah dengan pria lain? Rasanya tidak rela meskipun pria itu bukan Eunhyuk hyung.

“Tak apa. Aku usahakan akan datang di acara pernikahanmu,” ucap Eunhyuk hyung. Aku mengangguk menyetujui. Nisa tersenyum.

“Terima kasih. Hyukjae, terima kasih sudah menjadi sahabat baikku. Terima kasih sudah menyukaiku. Ryeowook, terima kasih sudah mau membahagiakanku. Aku mengerti, kau hanya ingin menghiburku. Terima kasih banyak. Aku menyukaimu. Sebagai teman.”

“Aku mencintaimu. Sebagai seorang perempuan,” kataku. Nisa menatapku.

“Aku salah mencintaimu. Ya aku tahu. Maka dari itu maafkan aku,” lanjutku.

“Aku juga..maafkan aku menyukaimu.” Aku memeluknya. Nisa lalu melepaskan pelukanku.

“Se..selamat tinggal.” Aku berusaha memakai bahasa Indonesia meskipun tergagap dan logatnya aneh. Nisa tersenyum. Dia menyentuh pundak kiriku.

“Bukan selamat tinggal, tapi sampai jumpa.” Dia menggunakan bahasa Indonesia. Aku tidak mengerti.

“Mian. Maksudku..” Dia mengulangi ucapannya dalam bahasa Korea. Aku mengangguk paham.

“Sampai jumpa,” ucapku dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya sushow berhasil ke Indonesia. Bertepatan sekali setelah hari pernikahan Nisa. Kami menampilkan yang terbaik di depan para ELF Indonesia. Tanggapan yang kami terima baik sekali. Kami sangat senang.

Film yang dibuat berdasarkan buku Nisa pun sukses besar. Nisa semakin terkenal. Begitu juga dengan kami. Kurasa ini happy ending yang kuinginkan dari khayalanku selama ini.

Nisa’s POV

Kita lihat bagaimana ending dari ceritaku. Aku memang bertemu dengan Hyukjae. Tapi aku tidak menikah dengannya. Kami semua semakin sukses. Hmm..sepertinya ceritaku yang satu ini juga menjadi kenyataan. Apa aku harus membuat cerita lagi? Aku tersenyum dan duduk di depan laptop. Kali ini aku akan membuat cerita dengan main cast: Kim Ryeowook, seorang pemimpi. Sama sepertiku.

“Nisa…jangan kencan dengan laptopmu terus! Ada suamimu di sini!”

“Iya, yo.” Aku menutup laptopku dan segera menghampiri suamiku.

THE END

4 thoughts on “[FF] Dreamers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s