[FF] Doctor and Nurse

“Sooyeon ah, pasien di kamar 401 menunggu.” Sooyeon mengangguk dan segera berjalan menuju ruangan tersebut. Sooyeon memasangkan infus pada pasien itu. Dia lalu mencatat keadaan pasien tersebut.

“Omona.. kau terkena leukimia..” Sooyeon berbicara sendiri. Dia adalah seorang suster di rumah sakit terkemuka di Korea Selatan. Sooyeon baru menjadi suster di rumah sakit tersebut jadi dia lebih sering ditugaskan untuk mengajak bicara pasien yang koma. Siapa tahu suaranya membangkitkan pasien itu lagi sehingga pasien tersebut sadar. Kali ini pasien Sooyeon adalah seorang pria yang berumur sekitar 24 tahun. Ia mengidap leukimia yang parah sampai dia tergeletak tak berdaya. Dia sadar tapi dia tidak mau membuka matanya.

“Lee Sungmin, bukalah matamu. Kau pasti mempunyai mata yang indah. Perlihatkan padaku.” Sooyeon membujuk Sungmin. Lelaki itu masih tidak bergerak. Sooyeon menyingkirkan beberapa helai rambut Sungmin yang menutupi matanya.

“Bukalah mata itu, Sungmin,” ucap Sooyeon. Tapi lelaki di hadapannya tidak bergerak sedikit pun. Sooyeon menghela nafas. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Telepon dari dr. Yesung. Dia memutar bola mata.

“Yobosaeyo?”

“Yeobo..” Sooyeon memutar bola mata lagi.

“Ne, oppa? Waeyo?”

“Ke ruanganku cepaatt!!!” Sooyeon pun mematikan ponsel.

“Sungmin ah, aku pergi dulu ya. Annyeong.” Sooyeon meninggalkan ruangan, ke ruangan dr. Yesung.

“Ada ada, oppa?” tanya Sooyeon ketika berada di hadapan dr. Yesung.

“Yeobo..jangan terlalu mesra dengan pasien yang bernama Sungmin itu..” ucap Yesung manja. Sooyeon membelalakkan matanya.

“Ne?! Oppa, aku kan ditugaskan untuk menyadarkan dia.. dia itu sebenarnya sudah sadar tapi sulit sekali membuka matanya. Aku sampai tidak yakin dia itu sadar atau tidak. Padahal ya oppa, dia itu seharusnya sudah sadar dari kemarin! Tapi sampai sekarang tidak membuka matanya sama sekali! Aish oppa..kau tak tahu bagaimana rasanya terkurung dalam alam bawah sadar? Aku hanya berusaha mengembalikan dia ke alam yang sesungguhnya!” ucap Sooyeon panjang lebar. Yesung tercengang.

“Ah..ne..tapi..” Yesung mendekati wajahnya ke wajah Sooyeon.

“Kau mau apa, oppa? Kalau sampai ada yang lihat bagaimana?”

“Tak apa kan mencium istriku sendiri?”

“Oppa..ta..tapi..” Tiba-tiba pintu terbuka. Suster bernama Sunghee menganga di depan pintu sambil tangannya memegangi sebuah map putih besar. Yesung segera menjauhkan wajahnya dari wajah Sooyeon.

“Eh ehm..mian kalau aku mengganggu tapi..i-ini..” Sunghee tergagap. Yesung segera mengambil map yang ada di tangan Sunghee tanpa berkata apa pun. Sunghee pun segera menutup pintu. Sooyeon menatap Yesung yang berjalan ke arahnya dengan kesal.

“Sudah kubilang kan kalau ada yang lihat bagaimana?” sembur Sooyeon.

“Ah tapi kan Sunghee itu pendiam. Dia tidak akan memberitahukannya pada siapa pun.”

“Aku tidak percaya.” Sooyeon memalingkan wajah sambil memasang ekspresi kesal.

“Yah..Sooyeon ah.. dia itu kan temanmu juga masa tidak percaya?”

“Ya sudahlah..”

“Ngomong-ngomong.. yang tadi kita lanjutkan di rumah ya.” Yesung mengedipkan sebelah matanya nakal. Sooyeon terbelalak melihatnya. Dia lalu memukul lengan Yesung gemas.

“Aish oppa..sudahlah aku ada pasien lagi nih!”

“Awas jangan teralu dekat dengan pasienmu.” Sooyeon pura-pura tidak mendengar dan keluar dari ruangan sambil bersiul. Yesung menekuk wajahnya muram.

Di lorong rumah sakit, tak sengaja Sooyeon berpapasan dengan Sunghee. Sunghee langsung salah tingkah. Sooyeon lalu mendekati Sunghee.

“Sunghee yah, jangan bilang pada siapa-siapa ya?”

“Ah ehm..i-iya tapi.. hubunganmu dengan dr. Yesung apa?” tanyanya gugup. Sooyeon mendekat ke telinganya.

“Dia suamiku.”

“MWO?!” Sooyeon langsung menutup mulut Sunghee.

“Sst..jangan keras-keras..” Sooyeon menatap ke sekeliling dengan panik. Dia menghembuskan nafas lega setelah tahu lorong sedang sepi. Sunghee menatap Sooyeon dengan tatapan aneh.

“Se..sejak kapan? Kenapa..ke-kenapa tidak bilang-bilang?” tanyanya setengah berbisik. Sooyeon menatap Sunghee.

“Kau janji tidak akan memberitahukannya pada siapapun kan?”

“Iya aku janji.”

“Baiklah ikut aku.” Sooyeon membawa Sunghee ke taman belakang rumah sait. Mereka berdiri berhadapan di samping kolam ikan.

“Kau kan tahu sendiri kalau di rumah sakit ini tidak boleh ada yang pacaran atau suami istri?” tanya Sooyeon. Sunghee mengangguk.

“Ya aku masih ingat peraturan aneh itu.”

“Nah, makanya aku sengaja tidak memberitahu kalian semua. Aku dan Yesung oppa sudah menikah sejak kami lulus SMA.”

“Tidak kuliah?” tanya Sunghee heran.

“Kuliah. Tapi demi menjaga kehormatanku, akhirnya kami menikah muda. Aku kan tidak suka berada di dekat laki-laki yang suka iseng, mesum, dan sebagainya.” Sunghee mengangguk-angguk.

“Ya aku mengerti.”

“Baiklah..kurasa sudah cukup.”

“Kau..memanggilnya Yesung oppa?” tanya Sunghee geli.

“Iya memangnya kenapa?” Sooyeon heran. Sunghee berusaha kuat menahan tawanya.

“Entahlah..rasanya lucu saja.” Sunghee menepuk pundak Sooyeon dan berlalu pergi.

“Eh? Dasar anak aneh.”

Sepulang kerja, Yesung mengantar Sooyeon pulang. Tentu saja dengan diam-diam. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah.

“Sampai kapan peraturan bodoh itu berlaku?” gerutu Yesung sambil melepas kemejanya. Sooyeon hanya menghela nafas. Yesung lalu memperhatikan Sooyeon yang sedang merapihkan baju di lemari.

“Apa liat-liat?” tanya Sooyeon galak. Yesung tercengang. Sooyeon lalu tersenyum manis. Yesung menghembuskan nafas lega.

“Oppa kena!” Sooyeon tertawa. Yesung mendekati Sooyeon. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Sooyeon.

“Kita lanjutkan yang tadi.” Yesung langsung menempelkan bibirnya di bibir Sooyeon. Mereka berdua pun berciuman cukup lama. Sampai akhirnya Sooyeon yang melepaskan ciuman Yesung.

“Sudah oppa, aku mau masak.” Sooyeon langsung pergi ke luar kamar. Yesung hanya tersenyum.

Selesai makan, Yesung dan Sooyeon menonton TV. Posisi mereka sangat mesra. Sooyeon yang tiduran di sofa serta kepalanya diletakkan di paha Yesung. Yesung yang sedang memakan kudapan sambil tangan kirinya sesekali mengusap kepala Sooyeon lembut.

“Yeobo..saranghae..” bisik Yesung oppa. Sooyeon tersenyum. Wajahnya mulai memerah.

“Yah! Sudah berapa tahun kita bersama? Kamu masih merona kalau aku bilang saranghae?” Yesung tertawa. Sooyeon memukul lengan Yesung.

“Tapi tak apa. Kau lucu.” Yesung melanjutkan tawanya. Sooyeon akhirnya terkekeh. Tiba-tiba bel berbunyi. Mereka langsung gelagapan.

“Omona oppa bagaimana kalau teman kita? Dokter atau suster? Oppa cepat sembunyi!!”

“Kau kira ini rumahmu saja? Kalau yang datang teman oppa bagaimana?”

“Eh iya tapi…aahh sebentar!” Sooyeon langsung mengintip melalui jendela. Sesosok perempuan berdiri di depan pintu. Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya putih, rambut coklat tua digerai sebahu, dan pakaiannya pun sopan. Dia teman Sooyeon, Lim Kyora.

“Oh..dia Kyora. Kalau dia kan sudah tahu pernikahan kita jadi oppa tak perlu sembunyi.”

“Oh baguslah..” Yesung bergumam sementara Sooyeon membuka pintu.

“Annyeong!” sapa Kyora. Sooyeon membalas sapaannya.

“Sooyeon, aku hanya ingin memberikan undangan pernikahan. Minggu depan aku akan menikah dengan Hangeng oppa.” Kyora mengedipkan sebelah mata. Sooyeon terkejut.

“Jinja? Uwaahh..chukkae!! Hangeng memang cocok untukmu! Wah..semoga langgeng ya.” seruan Sooyeon yang ribut membuat Yesung tertarik.

“Ada apa?” tanya Yesung.

“Undangan pernikahanku.” Kyora tersenyum.

“Wah chukkae ya..”

“Ya sudah aku harus menyebarkan undangan ini ke yang lainnya juga. Annyeong.” Kyora pun pamit pergi. Sooyeon menoleh pada Yesung. Mereka bertatapan sebentar.

“Sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi begini?!!” Sooyeon berteriak frustasi.

“Aku juga tidak tahu!” balas Yesung. Sooyeon akhirnya diam. Dia menatap Yesung.

“Baiklah kita jalani saja. Kalau ketahuan aku yang akan keluar dari rumah sakit itu.” Yesung menawarkan diri.

“Kenapa?” tanya Sooyeon kaget.

“Kau suka bekerja di sana kan? Lagipula aku bisa bekerja di rumah sakit lain. Tak ada bedanya. Doker dan suster kan berbeda pekerjaannya. Kau pasti sudah nyaman dengan pasien-pasienmu dan teman-temanmu.”

“Tapi…”

“Kalau aku yang keluar, aku akan setia menjemputmu kok.” Yesung mengedipkan sebelah mata. Sooyeon tersenyum tipis.

“Yeobo kau baik sekali..” Sooyeon memeluk Yesung singkat. Yesung tertawa.

Keesokan harinya, Sooyeon segera masuk ke kamar nomor 401. Dilihatnya Sungmin masih terbaring. Sooyeon langsung mengganti infus Sungmin. Setelah selesai, dia memberikan peralatan pada suster lainnya dan segera mengajak Sungmin mengobrol.

“Sungmin ah annyeong!” sapanya. Tetap tak ada jawaban. Sooyeon tersenyum. Dia melambaikan tangannya di depan wajah Sungmin. Ada respon. Sooyeon tertegun sebentar. Dia lalu mencubit lengan Sungmin. Sungmin mengerang perlahan membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjap sebentar. Setelah pengihatannya normal, dia langsung melihat ke arah Sooyeon.

“Kau..siapa?”

“Sungmin ah kau sadar! Aku suster yang menungguimu. Namaku Kim Sooyeon. Kau tak perlu mengenalkan diri karena aku sudah mengenalmu.”

“Namaku..Sungmin?” Sungmin terlihat heran. Sooyeon terpaku.

“Eh? I-iya namamu Lee Sungmin.”

“Ah tunggu sebentar.” Sungmin menutup matanya. Dia mengernyit, berusaha menahan rasa sakit. Sooyeon menatapnya khawatir. Sungmin memegangi kepalanya.

“Sungmin ah, gwaenchana?” tanya Sooyeon.

“Tunggu jangan panggil aku Sungmin…tunggu dulu..” Sungmin terlihat berpikir. Sooyeon heran. Dia tidak pernah mendapat situasi seperti ini sebelumnya.

“Ah…ya..aku sudah ingat sekarang. Namaku Lee Sungmin.” Sungmin tersenyum lemah. Sooyeon tersenyum.

“Minum dulu ya.” Sooyeon menyodorkan sebotol air pada Sungmin. Sungmin pun meneguknya.

“Ah..terima kasih.”

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Sooyeon bersiap mencatat.

“Aku masih merasa pusing. Saat menelan air tadi tenggorokanku rasanya ada yang menyumbat. Tapi sekarang tidak apa-apa.” Sooyeon tersenyum. Pasiennya sudah mengalami kemajuan.

“Perlu kupanggilkan dokter? Ada keluhan lain?”

“Ah tidak usah.. aku baik-baik saja.” Sungmin memamerkan senyumnya. Manis, pikir Sooyeon.

“Jadi..kau suster yang menjagaku selama ini?” tanya Sungmin. Sooyeon mengangguk sambil tersenyum.

“Gomawo.” Sungmin memamerkan senyum manisnya. Sooyeon tertegun sebentar.

“Ah Sungminnie, kau harus minum obat.” Sooyeon mengambil beberapa botol obat.

“Mwo? Aku kan baru sadar..”

“Lho memangnya kenapa? Obat ini tidak mempengaruhi baru sadar atau tidaknya kok. Tenang saja, obat buatan dr. Yesung itu tanpa efek samping.” Sungmin tertawa kecil. Akhirnya dia mau meminum obatnya.

“Nah, karena mau tidak mau dokter juga harus memeriksamu, aku panggilkan dokter ya. Aku masih ada pasien lain. Annyeong!” Sooyeon tersenyum dan hendak berlalu pergi ketika tangan Sungmin menahannya.

“Kita akan bertemu lagi kan?” tanya Sungmin. DEG. Jantung Sooyeon sepertinya berhenti berdetak saat itu. Tapi Sooyeon bisa mengontrol perasaannya. Dia berbalik dan tersenyum pada Sungmin.

“Tentu saja Sungmin ah. Besok aku akan kemari. Tenang saja.” Sungmin tersenyum.

“Gomawo..maaf kalau memaksa tapi..keluargaku tewas dalam kecelakaan jadi..kurasa..aku senang kalau kau mau menemaniku.” Sooyeon terharu tapi dia bisa mengontrolnya.

“Ne, Sungmin. Aku akan kembali. Aku akan menemanimu.” Sungmin melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Sooyeon pergi.

“Sooyeon ah..makin hari kau makin mesra saja dengan pasienmu itu..” Yesung merajuk. Sooyeon yang sedang menonton TV langsung terbelalak.

“Hah? Ya ampun oppa terlalu cemburuan deh..” Sooyeon kesal. Yesung langsung duduk di sebelah Sooyeon.

“Yeobo, aku mengerti kalau Sungmin itu pasien spesialmu tapi jangan sampai pegang-pegangan tangan dan suap-suapan dong..”

“Yesung honey, urusan suap-suapan itu memang tugasku! Sudahlah lagipula kau juga senang kan kalau Sungmin sudah membaik?”

“Iya. Tapi ingat, jangan sampai membuat dia jatuh cinta padamu.”

“Aniyo oppa.. kau aneh-aneh saja.” Sooyeon tertawa. Yesung menghela nafas.

“Baiklah..aku percaya padamu.” Yesung tersenyum.

“Sooyeon ah, sepertinya kau dengan dr. Yesung dekat ya?” tanya Sungmin sebelum memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sooyeon tertegun sebentar.

“Yah.. dulu kami satu kampus jadi dekat sekali.” Sooyeon berbohong. Sungmin tersenyum sambil mengunyah. Dia lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya lagi.

“Keadaanmu makin hari makin membaik, Sungmin ah. Kurasa sebentar lagi kau boleh pulang.”

“Ya. Tapi rasanya aku suka di sini.” Sooyeon menatap mata Sungmin heran. Sungmin balas menatapnya.

“Kenapa?” tanya Sooyeon.

“Di rumah aku kan tidak ada siapa-siapa. Kalau disini kan ada kau yang selalu menemaniku.” Sooyeon tersenyum. Sungmin menggenggam tangan Sooyeon.

“Maukah kau terus menemaniku?” tanya Sungmin. Sooyeon terdiam sebentar. Akhirnya ia menjawab, “Ne.”

Hening sejenak. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Oh ya Sungmin ah, kau ada terapi hari ini. Mau kuantar?” Sooyeon tersenyum. Sungmin mengangguk semangat.

“Tentu saja! Terapiku pasti akan berjalan dengan lancar kalau ada kau disisiku.” Sooyeon hanya tersenyum. Kumohon jangan simpan perasaan apapun padaku.. kau tak akan kuat jika tahu aku sudah menikah.

“Kau gombal sekali, Sungmin ah.” Sooyeon tertawa. Sungmin terkekeh.

Akhirnya Sungmin menjalani terapi dengan Sooyeon yang setia di sisinya. Sungmin merasa ‘sembuh’ hanya karena melihat senyum Sooyeon. Sooyeon sendiri tidak menaruh perasaan apapun pada Sungmin karena dia telah menjadi istri seorang dr. Yesung.

“Sungmin ah, annyeong! Aku harus pergi ke pasien lain.” Sooyeon melambaikan tangannya dan keluar dari kamar rawat Sungmin. Sooyeon pergi menuju pantry. Ternyata ada Sunghee di sana. Dia sedang menonton TV mati dan tertawa-tawa sendiri. Sooyeon memperhatikan Sunghee sambil mengisi gelas dengan air dari dispenser.

“Kau gila?” tanya Sooyeon. Sunghee masih tertawa. Sooyeon menatap TV di hadapan Sunghee. Mati, tak ada yang lucu. Dia lalu menatap Sunghee lagi. Kali ini Sunghee sedang mengusap air matanya karena terlalu banyak tertawa.

“Sunghee yah annyeong!!” Sooyeon melambaikan tangannya di depan Sunghee. Berhasil, gadis itu menoleh, masih tetap tertawa.

“Sooyeon ah, lihat itu lucu sekali!” Sunghee menunjuk TV mati. Sooyeon heran.

“Kau gila ya? Apa yang lucu dari sebuah TV mati?”

“Hei..aku sedang menonton acara komedi. Asyiknya menonton TV mati kan kita bisa membayangkan apa yang ingin kita tonton. Kalau TV nyala, mau tak mau kita harus menonton apa yang ada di layar. Kalau begini kan asyik.” Sunghee melanjutkan tawanya. Sooyeon meletakkan gelas di meja sambil menggeleng-geleng. Sunghee memang gadis yang aneh. Unpredictable. Hah? Unpredictable? Sama kayak suamiku dong.

“Sooyeon ah, tolong ke ruanganku sebentar.” Begitu suara dr. Yesung di interkom di pantry. Sunghee melirik Sooyeon yang sedang membalas panggilan Yesung. Sunghee lalu senyum-senyum sendiri.

“EHEM! Panggilan dari suami tercinta..?” goda Sunghee. Sooyeon menginjak kaki Sunghee gemas. Sunghee mengaduh kesakitan.

“Selamat berkencan dengan TV matimu itu.” Sooyeon pun melengos pergi. Tak lupa dia menekan tombol di interkom dan menyambungkannya pada dr. Leeteuk.

“YAH! Aku punya pacar dan namanya Lee Hyukjae! Bukan TV mati!” seru Sunghee. Sooyeon menghela nafas.

“LEE SUNGHEE!! Temui saya di ruangan saya sekarang!” Itu suara dari interkom. Sepertinya dari dr. Leeteuk. Sooyeon melirik Sunghee yang gelagapan.

“Sooyeon ah, kau tidak mematikan interkom ya?!” Sooyeon tertawa sementara Sunghee panik setengah mati.

“Kenapa kamu terlihat bahagia begitu?” tanya Yesung ketika Sooyeon tiba di hadapannya dengan tersenyum.

“Ani..hanya saja..Sunghee itu lho. Makin kemari dia makin aneh saja.” Sooyeon tersenyum geli. Yesung tersenyum lega.

“Kukira karena Sungmin.” Sooyeon terdiam. Yesung menatap Sooyeon serius.

“Lee Sungmin…bisa pulang dua hari lagi. Kau tidak akan merasa kehilangan kan?” Yesung berkata. Sooyeon tersentak. Sebersit rasa kehilangan hinggap di hatinya. Yesung menangkapnya.

“Kau merasa kehilangannya?” tanya Yesung. Sooyeon masih terdiam. Dia lalu mengagguk pelan.

“Aku merasa kehilangan karena dia menyenangkan. Lagipula aku selalu merasa kehilangan jika ada pasien yang pulang. Contohnya Kim Kibum. Kau tahu sendiri kan?” Sooyeon memang pernah kehilangan Kibum. Pasiennya yang satu itu meninggal dunia setelah mengucapkan terima kasih padanya. Tentu saja Sooyeon merasa kehilangan. Dulu dia sangat dekat dengan Kibum. Dia sudah menganggap Kibum sebagai adiknya sendiri. Setelah Kibum meninggal, Sooyeon terus menangis di rumahnya. Yesung sampai harus menghiburnya terus menerus.

“Aku mengerti.” Yesung berkata dengan singkat. Sooyeon tertunduk. Yesung yang merasa tidak enak akhirnya menghampiri Sooyeon dan memeluknya.

“Mianhae kalau aku membuatmu sedih.”

“Gwaenchanayo.” Sooyeon tersenyum. Tapi dia tersadar sesuatu.

“Oppa, lepaskan nanti kalau ada yang lihat bagaimana?!” Sooyeon mendorong tubuh Yesung. Yesung mundur dua langkah. Dia hampir jatuh.

“Omona..Sooyeon ah, kau mengagetkanku saja!”

“Mian.”

“Sooyeon ah, kita rusak peraturan itu yuk. Kita tiadakan peraturan itu,” ujar Yesung tiba-tiba yang membuat Sooyeon terkejut.

“Bagaimana caranya?” Yesung terdiam sebentar. Dia kemudian tersenyum lebar.

“Aku tahu sesuatu…”

“Apa?” Sooyeon was-was. Yesung membisikkan sesuatu di telinga Sooyeon.

“Mwo?! Shireo!”

“Waeyo? Dengan cara ini kita bisa menghancurkan peraturan itu!”

“Tapi aku malu oppa..”

“Hei, jangan malu. Ini demi rumah sakit ini juga. Demi temanmu juga, Sunghee itu.” Sooyeon terdiam memikirkan perkataan Yesung.

“Nanti kita libatkan Hyukjae dan Sunghee juga.”

“Ne?!”

“Bagaimana?” Yesung mengangkat sebelah alisnya. “Cemerlang bukan?”

Sooyeon hanya terdiam.

Keesokan harinya Sooyeon melihat Sungmin sedang tertidur pulas. Dia tersenyum dan meletakkan nampan berisi makanan di meja. Dia mendekati Sungmin. Merasakan kehadiran Sooyeon, Sungmin langsung membuka matanya. Dia tersenyum menyapa Sooyeon.

“Sooyeon ah, selamat pagi.”

“Selamat pagi, Sungmin.” Sooyeon tersenyum manis. Dia mengambil makanan dan bersiap menyuapi Sungmin. Sungmin tercengang.

“Kenapa baru bangun tidur langsung diberi makanan?” protesnya. Sooyeon lalu mengambil segelas air dan meminumkannya pada Sungmin.

“Sekarang kau sudah minum. Jadi sekarang kau harus makan.” Sooyeon pun mulai menyuapi Sungmin dengan bubur yang ada di mangkuk di tangan kirinya.

“Lama-lama aku tidak betah kalau makanannya seperti ini terus,” gerutu Sungmin pelan.

“Kalau begitu kau harus cepat sembuh agar bisa cepat pulang. Oh ya, kudengar dari dr. Yesung, kau boleh pulang besok.” Sungmin membelalakkan matanya.

“Jinjayo?” ucapnya. Ekspresinya antara senang bercampur sedih. Sooyeon mengangguk semangat. Baiklah, pura-pura semangat.

“Jinja. Kau bisa bebas dari makanan tawar ini, alat-alat ini, terapi-terapi yang kau benci.. kau bisa kembali ke rumahmu.” Tanpa diduga, Sungmin tiba-tiba menggenggam tangan Sooyeon yang sedang memegang sendok. Refleks, Sooyeon meletakkan sendoknya. Dia terkejut dengan perlakuan Sungmin.

“Sungmin ah..”

“Tapi aku ingin berada di sini.. dengan orang yang kucintai.” Sungmin menatap mata Sooyeon dalam.

“Sungmin ah, hentikan..”

“Aku ingin terbebas dari penyakit ini tapi tidak ingin kehilangan orang yang kucintai. Kehilangan..” Sungmin sengaja menggantung kalimatnya. Sooyeon menunggu dengan resah.

“Kehilangan kamu. Saranghae.” Ucapan Sungmin seperti tamparan untuk Sooyeon. Dia sudah berjanji tidak akan membuat Sungmin jatuh cinta padanya. Tapi toh..siapa yang bisa mengendalikan cinta? Sooyeon bingung. Dia tidak tahu harus berkata apa.

“Sungmin ah, mianhaeyo..”

“Kau tidak mencintaiku?” Terlihat sebersit rasa kecewa di wajah Sungmin. Sooyeon semakin salah tingkah.

“Bukan begitu tapi..aku..”

“Kau sudah punya seseorang?” tanya Sungmin. Sooyeon mengangguk. Sungmin pun melepaskan genggaman tangannya.

“Mian. Aku tidak tahu.” Sungmin memalingkan wajahnya. Sooyeon merasa bersalah. Kumohon oppa..jangan memarahiku…aku tidak menepati janji..oppa datanglah…

“Sungmin ah mianhaeyo.. jeongmal mianhaeyo.”

“Gwaenchana.” Sungmin memaksakan seulas senyum. Sooyeon menatap Sungmin khawatir. Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar.

“Naui buin (istriku), kau mengingkari janjimu?!” Sooyeon menelan ludah. Yesung membuka pintu kamar rawat Sungmin. Dia menghambur ke dalamnya dan menarik Sooyeon keluar. Sungmin heran. Dia lalu bangun dari tempat tidur, membawa tiang infus, dan berjalan mengikuti Sooyeon.

“Naui buin, saranghae!! Jeongmal saranghaeyo!” teriak Yesung. Semua orang menoleh pada mereka semua. Sungmin terkejut mendengarnya. Hatinya sakit tetapi dia tersenyum geli juga melihat tingkah Yesung.

“Oppa kau apa-apaan?!” teriak Sooyeon kesal.

“Ingat rencana kita? Mulai sekarang aku akan memanggilmu naui buin dan kau harus memanggilku naui nampyeon. Ara?” Sooyeon mengangguk. Ini memang rencana mereka.

“NAUI NAMPYEON, YESUNG, SARANGHAE!!!” teriak Sooyeon. Leeteuk datang menghampiri mereka. Dialah yang membuat peraturan bodoh itu.

“A..apa-apaan kalian?” tanya Leeteuk. Yesung langsung menatap dokter yang lebih senior darinya.

“Kumohon hancurkan peraturan bodoh itu, dr. Leeteuk. Aku sekarang mau jujur..” Semua orang memperhatikannya. Diam-diam, Sunghee menarik tangan Hyukjae mendekati kerumunan.

“Aku, seorang Yesung mencintai istriku yang bernama Kim Sooyeon. Kami sudah bersuami istri sejak kira-kira 3 tahun yang lalu!” Wajah Sooyeon memerah. Kenapa jadi begini?? Renca awal tidak begini kok..

Semua orang di situ terkejut. Kecuali Sunghee dan Hyukjae. Sungmin menyandar pada pintu, masih memegangi tiang infus. Leeteuk tidak bisa berkata apa pun.

“Kalian pasti bercanda. Seseorang beritahu aku tanggal berapa sekarang? Bukan April Mop kan?” ujar Leeteuk.

“Memang bukan! Ini kenyataan! Ini surat nikah kami!” Yesung menyodorkan sebuah surat di tangannya. Leeteuk membuka-buka sebentar dan mengangguk.

“Jadi peraturan itu ditiadakan?” tanya Yesung. Semua memandang penuh harap pada Leeteuk.

“Tidak,” ucap Leeteuk ringan. Sunghee yang tidak terima langsung maju.

“Dokter, kumohon tiadakan peraturan itu! Memangnya apa gunanya membuat peraturan semacam itu?”

“Untungnya? Banyak. Salah satunya kita jadi konsentrasi dalam bekerja dan menangani pasien, tidak banyak yang bermesraan sendiri.”

“Apa? Tapi kan..” ucapan Sunghee terpotong dengan Yesung.

“Jebal.. aku malah tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku sendiri. Apa kau tahu bagaimana rasanya cemburu? Sooyeon terlalu dekat dengan Sungmin. Aku selalu memikirkannya sampai melupakan pasienku. Aku capek berbohong terus menerus, bersandiwara dengan istriku sendiri seolah tidak ada hubungan apa-apa di antara kita. Kalau kau menghapus peraturan itu, aku tidak akan khawatir lagi akan ada yang jatuh cinta dengan istriku.” Yesung melirik Sungmin. Sungmin tersenyum dipaksakan. Leeteuk masih terdiam.

“Pertama-tama, maaf membuat rumah sakit ini ribut. Tapi..aku benar-benar ingin menghancurkan peraturan tersebut. Kedua..tolong hapus peraturan itu.”

“Yesung sshi,” ucap Leeteuk.

“Ne?”

“Noneun nomu paboya!” ujar Leeteuk tiba-tiba. Dia tekekeh geli. Yesung menatap seniornya bingung.

“Wa..wae?” tanya Yesung.

“Peraturan itu sudah kuhapus sejak kemarin-kemarin. Sunghee yang melaporkannya padaku. Aku mengerti dan segera menghapus peraturan itu. Kau tidak tahu?” Leeteuk melanjutkan tawanya. Yesung dan Sooyeon menganga. Sunghee langsung terbahak. Leeteuk juga. Sungmin masih belum mengerti.

“Sunghee ah, aktingmu TOP!” Leeteuk mengacungkan kedua jempolnya. Sunghee membalas mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum lebar. Sepasang suami istri itu masih tertegun.

“Maksudmu…” Yesung berkata dengan pelan.

“Kita..” sambung Sooyeon.

“Tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini untuk menghapus peraturan itu?” ucap Yesung dan Sooyeon berbarengan.

“Tepat sekali.” Leeteuk melanjutkan tawanya.

“Tunggu dulu, tanggal berapa ini?” Yesung bingung. Leeteuk tak kuasa menahan tawanya. Dia terbahak bersama Sunghee.

“Ingat hari apa ini? Bukankah hari ini hari ulang tahun pernikahan kalian yang ketiga?” ucap Sunghee di sela tawanya. Yesung dan Sooyeon terpaku. Mereka lalu saling pandang.

“Benar juga ya..” ucap mereka bersamaan.

“HAPPY ANYVERSARY!” koor semua orang di tempat itu, tak terkecuali Sungmin. Dia tertawa.

“Tunggu dulu! Waktu itu bukannya dr. Leeteuk marah karena Sunghee punya pacar? Interkom itu..” kata Sooyeon.

“Waktu itu aku memanggil Sunghee untuk membicarakan rencana ini. Ternyata sukses.” Leeteuk menjelaskan. Sooyeon menatap Sunghee tajam. Sementara yang ditatap hanya bersiul-siul ringan di belakang punggung Hyukjae.

“LEE SUNGHEE!! KAU INI DIAM-DIAM MENGHANYUTKAAANN!!!!” teriak Sooyeon. Sunghee pura-pura tidak mendengarnya.

“Ya sudah..sekarang selamat ya,” ucap Leeteuk. Yesung mengangguk. Sekilas dia menatap Sungmin.

“Sungmin ah.”

“Ne?” Sungmin melangkah mendekati mereka. Yesung memegang pundak Sungmin.

“Mianhae, aku selalu cemburu kepadamu,” ucap Yesung tulus. Sungmin mengangguk.

“Aku mengerti, hyung.” Sungmin tersenyum. Yesung balas tersenyum.

“Sunghee ah..” panggil Hyukjae. Sunghee menoleh.

“Nawa gyuhrunhaejullae?” Hyukjae berlutut di hadapan Sunghee sambil mengulurkan kotak berisi cincin.

“I do.” Sunghee tersenyum. Hyukjae memasangkan cincin di jari manis Sunghee. Tak disangka, Sunghee segera menarik tangan Hyukjae.

“Ayo jagiya, kita menikah sekarang!” Sunghee berlari menjauh.

“Jigeum aniyaaa… (tidak sekarang)!!!” Hyukjae berteriak pasrah. Semua yang melihatnya tertawa. Yesung langsung melirik Sooyeon. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Sooyeon. Dia lalu mengecup kening Sooyeon penuh rasa sayang.

“Saranghae yeongwonhi, naui buin.”

“Na ddo saranghae yeongwonhi, naui nampyeon.” Yesung pun mencium bibir mungil Sooyeon. Semua yang melihatnya tersenyum. Satu persatu mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.

“Sekarang kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi.” Mereka berucap bersamaan.

***

“Appa, kenapa kura-kura itu menatapku terus? Dia suka padaku?” tanya seorang bocah laki-laki kecil pada Yesung, appanya. Yesung melihat ke dalam akuarium di ruangannya.

“Hah? Bukankah itu selingkuhan Yesung appa?” ucap Yesung.

“Ne?” Bocah laki-laki itu terkejut.

“Yeobo..kau jangan mengajari hal aneh begitu pada anakmu sendiri.” Sooyeon memasuki ruangan kerja Yesung. Yesung hanya cengengesan.

“Oh ya, ada dokter baru. Ayo kita sambut dia.” Sooyeon tersenyum. Mereka pun keluar ruangan.

Di sebuah ruangan yang cukup besar, berdirilah seorang lelaki yang memakai jas dokter. Dia menunduk menyapa semua orang.

“Annyeonghaseo, joneun Lee Hyukjae imnida. Aku dokter spesialis anak.” Hyukjae memperkenalkan diri. Seorang suster bertanya kepadanya.

“Apa kau sudah punya pacar?”

“Tidak. Aku tidak punya pacar. Tapi dia istriku.” Hyukjae menunjuk Sunghee yang berdiri di sampingnya. Suster itu mendengus kecewa. Seorang berjas dokter menghampiri Hyukjae. Dia menepuk pundaknya.

“Hyukjae yah, selamat datang di keluarga kami.” Hyukjae tersenyum. Sungmin yang menepuk pundaknya. Dia juga dokter di sini. Dokter bedah.

“Mohon bantuannya, Sungmin ah.”

“Appa, kenapa noona yang satu itu memperhatikanku terus? Apa dia juga suka padaku?” Anak laki-laki itu menunjuk Sunghee. Yang ditunjuk langsung bersembunyi di punggung Hyukjae sambil bersenandung ringan.

“Ne?!” Yesung dan Sooyeon terkejut.

“Omonaa..Hyukjae sshi, tolong sembuhkan penyakit gila anakku!!!” seru Sooyeon histeris. Dia mengguncang-guncang tubuh Hyukjae.

“Mi..mianhae Sooyeon sshi, aku dokter spesialis anak! Bukan dokter jiwa!”

“Tapi dia juga anak-anak! Cepat sembuhkan!!!” paksa Sooyeon. Semua yang ada di situ tertawa.

“Kalian lupa ada psikiater di sini?” celetuk Sungmin. Sooyeon menatap Sungmin. Sungmin menunjuk ke arah lain. Leeteuk memasuki ruangan sambil tersenyum.

“Ternyata…rumah sakit ini makin heboh ya,” katanya ringan. Semua tersenyum.

“dr. Leeteuk, sepertinya anakku menunjukkan gejala tidak normal. Tolong tangani dia…” Sooyeon memelas. “Oh ya, sekalian suamiku juga.” Sooyeon mendorong punggung Yesung. Leeteuk tertawa.

“Baiklah baiklah.. akan kutolong keluarga kalian. Sementara Yesung dan anakmu kuperiksa, posisi Yesung digantikan dengan Sungmin ya.” Leeteuk mengedipkan sebelah matanya. Sungmin terkekeh.

“Yah! Apa-apaan itu! Aku tidak mau!” seru Yesung. Sooyeon tersenyum. Dia menghampiri Yesung dan langsung memeluknya.

“Biarpun kau aneh, aku tetap mencintaimu kok, naui nampyeon.”

“EHEM! Tebak ada siapa di sini?” Bocah kecil itu menghentakkan kakinya. Sooyeon segera melepaskan pelukannya.

“Ah biarkan aku tangani anak ini sekarang.” Leeteuk langsung menggendong bocah itu. Hyukjae dan Sunghee pun pergi. Tak terasa tinggal mereka berdua di sana. Yesung langsung mencium bibir Sooyeon.

“Saranghae.” Mereka berkata bersamaan.

THE END

25 thoughts on “[FF] Doctor and Nurse

    • sungheedaebak says:

      iya nih aku juga ga ngerti. mian klo mengecewakan. aku jg ga ngerti knp yesung jadi begini. bkin.a pikirannya sambil melanglang buana sih jadi ga bagus. wkwkwk mian ya

  1. mrschokyuhyun says:

    nisaaaa~tok tok *ketok blog (?)* hahaha main di blogmu🙂 kekeke~~

    Suka ff-nya >.< yesung kocak hhaha kebayang deh uratnya putus teriak2 di koridor rumah sakit😛 *ditabok yesung*
    Hhahaha~~

    Eh aku 'kartika nurfadhilah' yang di fb hahahaha
    call me chika😀

  2. Acan~ says:

    *bayangin yesung jadi dokter* ah, gak bisa *akhirnya menyerah* [digetok nissa]
    ngakak pas bagian yesung sama sooyeon mau ngancurin peraturannya sama pas bagian si sooyeon stres gara2 anaknya jadi gila kaya appanya, muwahahaha xDD padahal tadi abis nangis baca ff kamu yg compelete us, mood ku cepet berubah yah, keke~
    kenapa yg dilamar hyukjae itu si sunghee sih ? kenapa bukan AKU ? ! *ditimpukin reader yg lain*
    mian, kalo komennya kepanjangan, fufufu~

    • sungheedaebak says:

      aku juga sbnernya sulit. aku cma bayangin dia pake jas dokter doang. wkwkwk
      haha bner aku jg pgn ketawa pas bagian sooyeon stress.
      hehe baguslah..aku sengaja tau publish a complete us dlu baru parody dunia lain, tujuannya biar reader habis nangis lsg ketawa lagi. eh km malah baca parody duluan. dasar..hahaha

      karena aku authornya MUAHAHAHAHA

  3. raekiyopta says:

    huwaaaaaaaa~ melting~ ciuman nya banyaaak~ yesungie~ selingkuh XP
    yesung: tuntutan pekerjaan yeobo.. Mianhae.. Only u in my heart..
    Me: arraseo…😀

  4. rabbitpuding says:

    sunghee, aku baca ff ini lagi dan komen lagi. hehe

    hmm, ff ini lebih ke romance ma komedi. komedi.a di banyakin dikit lagi, dan rincian sooyeon ma yesung nikah.a kurang. ceritain dong gimana yesung dan sooyeon.a jatuh cinta.

    mian saran.a kebanyakan. gomowoyo~ ^^
    aku akan jadi reader yg baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s