[FF] You’re My Sun

“Eh, kelas kita nanti kedatangan murid baru lho! Kalian sudah tahu? ” celetuk seorang laki-laki. Aku menatapnya. Jokwon, laki-laki itu, balik menatapku dengan tatapan meminta persetujuan. Aku hanya mengangkat bahu. Jokwon cemberut dan meminta jawaban pada anak yang lain. Aku melihat keluar jendela. Sudah masuk musim gugur ternyata. Pantas saja banyak daun berguguran. Mataku terhenti ketika di bangku taman terlihat seorang perempuan yang sedang tertidur. Perempuan itu memakai headphone menutupi telinganya. Rambutnya coklat, dikucir pinggir berantakan. Dari cara berpakaian sudah terlihat bahwa dia anak yang bermasalah. Sepertinya dia murid baru itu.

Bel masuk berbunyi. Aku terkesiap. Ternyata sudah setengah jam aku memperhatikan gadis itu. Suara pintu digeser dan Han songsaengnim masuk. Wajahnya terlihat cerah seperti biasa. Han songsaengnim perempuan yang masih muda. Umurnya masih sekitar 25 tahun. Dia lalu menyapa kami semua.

“Annyeonghaseo, semuanya! Pagi ini kita kedatangan murid baru!” sapa Han songsaengnim. Jokwon terlihat gembira karena berita itu benar. Han songsaengnim melirik keluar dan yang ada hanya kepala sekolah. Dia mengerutkan kening. Kepala sekolah itu memutuskan untuk masuk ke dalam kelas.

“Han songsaengnim, apa Lee Sunghee belum datang?” tanya kepala sekolah. Han menggeleng. Kepala sekolah itu terlihat bingung.

“Seharusnya dia sudah ada di sini sejak tadi,” kata kepala sekolah. Guru Han mengecek keluar jendela dan didapatinya murid baru itu tertidur pulas di bangku taman sekolah. Guru Han menghela napas dan bergegas menghampiri murid baru itu.

Aku memperhatikan gadis itu dibangunkan oleh guru Han. Guru Han mendorong punggung gadis itu lembut dan gadis itu menepisnya. Dia berjalan cepat menuju kemari.

Dan dia datang. Pintu kelas dibuka dan gadis itu langsung berjalan menuju bangku belakang tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu. Dia langsung duduk dan memainkan i-pod di tangannya. Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan agak terkejut. Dia orang yang sangat sangat dingin dan cuek. Bahkan sekedar berdiri di depan kelas dan memberi tahu namanya saja dia tidak mau. Mengucapkan salam saja tidak. Tak lama, guru Han menyusul. Dia geleng-geleng kepala melihat kelakuan murid baru itu.

“Sunghee-sshi, mind intro, dear?” tanya guru Han lembut. Gadis yang bernama Sunghee itu hanya diam. Guru Han menghela napas. Dia lalu menatap murid-muridnya.

“Namanya Lee Sunghee, dia baru datang dari Inggris kemarin malam. Mungkin dia kecapekan sampai tidak bisa memperkenalkan diri sejenak. Semoga kalian bisa berteman baik dengannya.” Aku menatap ke gadis itu. Hal yang sama dilakukan teman-temanku. Dia cuek. Dia sedang menuliskan sesuatu di buku agenda yang dibawanya. Headphonenya masih bertengger di kepalanya.

———————–

Entah kenapa aku merasa mataku selalu ingin menatap gadis itu. Apa yang dilakukannya, yang ditulisnya, dan yang didengarnya dari headphone itu. Sekarang saja ketika teman-temanku pergi ke kantin untuk beli makanan aku diam di kelas sambil memperhatikan gadis itu. Tentu saja diam-diam.

Sunghee menutup bukunya. Matanya tak sengaja menatap mataku. Dia melepaskan headphonenya dan mengalungkannya di leher. Dia lalu berjalan santai keluar ruangan. Bukunya dibiarkan tergeletak di meja. Sepertinya dia sengaja melakukannya. Menggodaku untuk membukanya. Aku berjalan menuju bangkunya. Sekarang, di hadapanku tergeletak buku itu. Dari depan seperti buku agenda biasa. Mungkin isinya jadwalnya sehari-hari. Kalau begitu aku boleh membacanya? Aku baru mau mengambil buku itu ketika suara Sunghee mengagetkanku.

“Hei, kau!” katanya. Aku menoleh. Dia menatap agendanya di tanganku dan aku mengerti. Aku menyimpan buku itu di atas mejanya dan mengangkat kedua tangan.

“Sorry. Belum kubaca,” kataku. Sunghee menatapku tajam.

“Itu buku orang lain! Kau harus meminjamnya dulu baru bisa membacanya! Kalau langsung ambil namanya pencuri!” ucapnya ketus. Aku menaikkan sebelah alis.

“Aku hanya penasaran. Sedari tadi kau selalu serius menulis. Boleh aku lihat apa yang kau tulis?”

“Tidak. Kau tidak perlu tahu isinya dan kau akan menyesal kalau membacanya.” Tatapannya tajam mengenaiku. Aku mengerutkan kening. Gadis yang misterius. Menarik untuk diteliti lebih jauh.

“Well..well..Lee Sunghee, hah? Namamu manis tetapi kenapa orangnya tidak? Aku yakin, kalau kau bersifat sedikit feminine saja pasti banyak lelaki mengantri di belakangmu.” Aku tersenyum. Sunghee menyenggol pundakku dan duduk di bangkunya. Aku masih menatapnya.

“Aku tidak akan menjadi feminine. Aku tidak butuh laki-laki. Mulai sekarang jangan mendekati aku lagi, Park Yoochun. Silahkan pergi. Aku menyarankanmu untuk pergi dariku sebelum terlambat.” Selamat Sunghee, ucapanmu kuanggap sebagai angin lalu.

“Kau tahu namaku? Kurasa kita belum berkenalan.” Sunghee mulai memakai headphonenya lagi. Dia menatap mejanya.

“Tentu saja aku tahu. Aku meneliti semua data murid di sekolah ini.” Sunghee mengeluarkan i-podnya dan mulai asyik dengan musik yang mengalun. Aku terdiam sebentar. Dia benar-benar menarik. Untuk apa coba meneliti semua data murid di sekolah ini? Mencari seseorang?

—————

“Park Yoochun! Sudah kubilang jangan dekati aku!” Sunghee membalikkan tubuhnya. Dia menatap garang padaku. Ternyata dia sadar aku ikuti dari tadi. Kini dia sedang berjalan ke suatu tempat. Mungkin rumahnya. Aku penasaran. Makanya aku sampai mengikutinya ke sini. Jalan yang cukup sepi.

“Aku hanya penasaran. Kau ini gadis yang misterius. Aku jadi ingin tahu lebih banyak tentang kamu.” Blah..kata-kata khas playboy mengalir dari mulutku. Sunghee menatap tanpa ekspresi.

“Hei playboy nomor satu di sekolah, aku memberitahumu sekarang, jangan dekati aku lagi. Sungguh kau akan menyesal. Dekati saja gadis lain. Masih banyak gadis di luar sana yang jauh lebih misterius dibanding aku.” Aku ingin tertawa mendengar enam kata pertama. Dia benar-benar meneliti semua murid di sekolah. Bahkan julukanku saja dia sudah tahu.

Tak mendapat respon, dia mulai berjalan lagi. Semakin lama jalan yang dilalui semakin sepi. Sebenarnya mau kemana anak ini? Memang gadis misterius.

“Cukup sampai di sini.” Sunghee bersidekap. Aku menatapnya heran. Ternyata dia membawaku ke daerah rumahku. Aku baru tahu ada jalan pintas ke jalan ini. Hebat, Sunghee. Sehebat apa dirimu sampai alamat rumahku saja kau tahu? Bahkan aku yang sudah bertahun-tahun tinggal di daerah ini baru tahu ada jalan pintas.

“Te…” Kata-kataku terpotong karena Sunghee sudah menghilang. Aku mengerutkan kening dan membuka pagar rumah dengan heran. Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia..?

Keesokan harinya, seperti biasa, Sunghee duduk menyendiri dan berkutat dengan agendanya. Kali ini wajahnya terlihat lebih capek dari biasanya. Rambutnya seperti biasa, acak-acakan, apalagi seragamnya. Padahal masih pagi. Apa tidak dimarahi orang tuanya karena berpakaian seperti itu? Aneh.

Kurasa, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Karena dia misterius. Aku jadi penasaran. Bahkan aku sampai bawa bekal makanan demi memperhatikan Sunghee yang terdiam di kelas. Aku sampai sengaja tidak membawa mobil demi mengikuti kemana Sunghee pergi. Ada apa denganku? Sebegitu penasarannyakah aku dengannya? Baru pertama kali aku begini.

Sekarang jam pelajaran olah raga. Kita dibebaskan untuk bermain basket. Aku bersiap main ketika mataku menangkap sosok Sunghee yang duduk di pinggir lapangan sambil mencoret-coret sesuatu di buku agendanya. Still, headphone di kepalanya. Aku bertekad untuk mendiamkannya sebentar dan mulai bermain. Ternyata pemainnya kurang satu. Aku langsung menatap Sunghee.

“Kau yakin mau mengajak cewek itu?” tanya Donghae. Aku mengangguk mantap. Aku langsung berjalan tegap menuju Sunghee. Aku berdiri di hadapannya. Dia mendongak menatapku.

“Wanna play?” Aku mengulurkan tangan. Sunghee terdiam lama menatap tanganku. Dia lalu melihat ke belakang pundakku. Dia lalu menatap wajahku.

“Aku tidak bermain hal-hal seperti ini.” Sunghee berdiri dan berjalan menjauh. Aku lalu menarik tangannya.

“Ayolah.. kita kekurangan pemain.” Aku memohon. Sunghee melepaskan tanganku. Dia lalu mengangguk. Aku tersenyum puas dan memberikan bola di tanganku padanya. Dia memainkan bola itu sebentar dan berjalan ke tengah lapangan. Tiba-tiba dia melemparkan bola itu ke ketua OSIS yang sedang menonton pertandingan kecil-kecilan karena sekarang memang sudah waktu istirahat. Aku terkejut. Ketua OSIS itu menoleh pada Sunghee.

“Maaf, sengaja,” bisik Sunghee dingin dan berjalan santai meninggalkan ruangan. Aku tercengang. Yang lain juga. Tiba-tiba Jaejoong berlari mengejarnya. Dia menarik Sunghee. Sunghee membiarkan tangannya digenggam tangan Jaejoong dan dengan santai menatap mata Jaejoong.

“Kau harus minta maaf,” kata Jaejoong. Sunghee hanya menaikkan alis.

“Haruskah? Aku tidak bermaksud untuk melemparkannya ke sana. Bolanya saja yang mengenai orang itu.” Dengan tidak sopannya, Sunghee menunjuk si ketua OSIS.

“Kau pasti tidak tahu dia siapa,” bisik Jaejoong. Sunghee tersenyum santai.

“Aku tahu. Dia ketua OSIS kan? Namanya Choi Siwon. Nilainya selalu di atas rata-rata dan sering menjuarai berbagai olimpiade. Pernah sekolah di luar negeri, anak orang kaya dan mempunyai beberapa swalayan. Pernah menjadi kapten basket tetapi berhenti karena lebih fokus pada pelajaran. Ayahnya adalah salah satu dari 5 donatur terbesar untuk sekolah ini. Sekarang saja ayahnya menjadi kepala sekolah disini. Itu sebabnya guru-guru menghormatinya. Target hidup selanjutnya adalah kuliah di luar negeri. Benar kan?” ucap Sunghee santai. Aku tercengang. Dia tahu sebanyak itu? Berapa lama dia meneliti murid-murid di sekolah ini?

Siwon mendekati Sunghee dengan tatapan kagum. Jaejoong masih tercengang.

“Kau..tahu darimana? Sebanyak itu?” tanya Siwon. Sunghee menatap Siwon.

“Mencari,” gumam Sunghee tidak jelas dan berlalu pergi. Aku masih terpaku. Benar-benar misterius.

Mungkin aku memang sudah gila. Sepertinya, mengikutinya sepulang sekolah sudah menjadi kebiasaanku.

Ternyata dia pergi ke sebuah cafe and restaurant. Dia masuk ke dalam. Aku mengikutinya. Dia sudah tidak terlihat. Aku terkejut ketika kulihat Sunghee muncul dengan berpakaian seragam pelayan. Dia berdiri di belakang mesin kasir dan memamerkan senyum ramahnya. Dia terlihat sangat cantik kalau tersenyum. Tapi sayang dia jarang tersenyum jika di sekolah. Seorang pelayan menghampiriku. Aku memesan secangkir mocca. Aku tidak akan berlama-lama di sini. Setelah pesanan datang aku meneguknya dengan cepat.

Beberapa jam kemudian Sunghee sudah memakai baju biasa. T-shirt longgar berwarna hitam dan celana jeans panjang berwarna biru tua. Rambutnya masih acak-acakan seperti biasa. Hanya saja sekarang lebih rapi. Dia menggendong tasnya dan bergegas keluar cafe. Aku yang berdiri di depan pintu cafe langsung mengikutinya ketika dia keluar cafe. Ternyata dia masuk ke salah satu club malam. Aku terkejut. Aku lalu memutuskan untuk masuk ke dalam.

Ternyata dia menjadi seorang DJ. Baru selesai kerja di cafe langsung menjadi DJ. Pantas saja dia selalu ketiduran dan terlihat lelah. Pukul 1 malam dia baru pulang. Herannya aku masih mengikutinya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah.

Keesokan harinya aku terbangun pagi-pagi sekali. Rasanya tidak bisa tidur. Aku mencuci muka dan berjalan keluar rumah. Aku melihat ke ujung gang. Ada seseorang yang sedang memakai sepeda. Oh, pengantar koran. Perempuan itu melemparkan koran-koran yang terdapat di keranjang sepedanya. Rumahku pun mendapatkannya. Gadis itu tidak memakai penutup kepala apapun sehingga aku bisa melihat jelas wajahnya. Lee Sunghee? Dia menyadariku dan mempercepat laju sepedanya. Ingin rasanya aku berteriak memanggil namanya tapi tidak bisa.

Di sekolah aku menatap resah ke bangku Sunghee. Kenapa gadis itu belum datang? Apa tertidur di taman lagi? Ah..sekarang aku tahu kenapa rambutnya selalu acak-acakan. Kenapa dia selalu terlihat mengantuk dan lemas. Kenapa bajunya acak-acakan sekarang aku tahu. Ini karena dia bekerja pagi siang malam. Tapi untuk apa dia bekerja seberat itu? Untuk siapa? Rasa penasaranku makin bertambah.

Bel masuk sudah berbunyi. Sunghee belum juga datang. Aku tidak bisa diam di bangkuku. Aku selalu melihat ke bangku taman, ke bangku Sunghee, ke pintu kelas, ke gerbang, berharap melihatnya. Kim Junsu yang duduk di sebelahku sampai pusing melihat tingkahku.

“Yah! Mencari gadis itu lagi?” tegur Junsu. Aku mengangguk sekilas sambil tetap memperhatikan gerbang. Junsu mendesah.

“Ya ampun.. memangnya apa yang menarik darinya? Dia kan anak yang bermasalah. Kudengar di sekolahnya yang dulu dia sering membuat teman-temannya masuk rumah sakit karena ulahnya. Waktu SMP dia terkenal dengan julukan si pembunuh. Katanya… adiknya meninggal karena dia.” Aku menatap Junsu. Dia mengangguk-angguk padaku.

“Benarkah? Kau tahu darimana?” tanyaku.

“Banyak orang yang tahu itu. Di mading ada,” ucap Junsu ringan. Aku terkejut.

“Apa? Di mading?!” Aku langsung berlari menuju mading. Tidak memperdulikan Kim songsaengnim yang menegurku.

Mading sedang sepi karena murid-murid sudah masuk kelas. Aku melihat satu artikel tentang dia. Di sana ditulis bahwa Sunghee pernah mendorong seorang anak kecil dari atas seluncuran dan anak kecil itu patah kakinya. Sunghee juga pernah memukul kakak kelasnya habis-habisan sampai kakak kelas itu hampir meninggal. Kalau tidak ada guru yang menahannya, dia pasti sudah membunuh anak itu. Saat SD adiknya meninggal saat berada berdua dengannya. Tubuh adiknya penuh dengan darah. Media mengatakan dia yang membunuhnya. Orang tuanya juga sudah meninggal. Tapi ini karena kecelakaan mobil. Dan kecelakaan yang disengaja oleh seseorang. Saat SMP dia dibenci oleh semua orang. Itu karena dia pernah mematahkan lengan kakak kelasnya saat sedang bermain basket. Aku menelan ludah membacanya. Apa yang menyebabkanmu menjadi seperti ini, Sunghee? Aku lalu memberanikan diri untuk melanjutkan membaca. Oh ternyata Sunghee terkena gangguan mental. Dia bahkan pernah membuat sekolahnya kebakaran karena memainkan api di lab kimia. Lalu dia juga… Belum sempat aku melanjutkan membaca, seseorang sudah merobek kertas itu. Aku menoleh pada orang itu. Ternyata Sunghee. Dia menatapku garang. Aku tidak percaya Sunghee di hadapanku adalah Sunghe yang dituliskan di artikel tadi. Aku masih belum bisa mencerna semuanya.

“Sunghee..” hanya kata itu yang dapat meluncur dari bibirku.

“Apa?! Siapa yang melakukan ini? Akan kubunuh dia!” Sunghee berkata dengan kesal. Aku hanya menggeleng tanda tidak tahu. Sunghee berdecak kesal. Dia merobek-robek kertas itu dan berlalu menuju kelas. Aku mengikuti di belakangnya.

Seperti biasa, tanpa mengucapkan salam, dia langsung berlalu menuju bangkunya. Aku menunduk pelan pada guru Kim dan berlalu menuju bangkuku. Mataku masih menatap sosoknya. Lagi-lagi Sunghee memakai headphonenya dan menuliskan sesuatu di agendanya. Tiba-tiba sebuah spidol tepat mengenai kepalaku. Aku mengaduh kesakitan.

“Park Yoochun! Kerjakan soal nomor 23 di depan!” kata guru Kim keras. Aku melirik Sunghee sekilas. Dia sedang menatapku. Tatapannya menunjukkan ekspresi…sedih?

Sepulang sekolah lagi-lagi aku mengikutinya. Kali ini dia tidak langsung pulang. Dia pergi ke ruang OSIS. Aku penasaran dan mengendap-ngendap untuk memperhatikannya. Di sana, dia berdiri berhadapan dengan Choi Siwon, sang ketua OSIS. Mereka berbicara sebentar. Sialnya jarakku kurang dekat jadi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Lalu kepala sekolah datang ke antara mereka berdua. Kepala sekolah memberikan segepok uang pada Sunghee. Aku mengernyit heran. Siwon terlihat mengacak-acak rambut Sunghee sambil tersenyum. Seperti perlakuan pada adik. Tapi bukankah Sunghee membenci Siwon? Bukannya waktu itu dia pernah melemparkan bola pada Siwon? Tapi kenapa? Kurasa kepalaku jadi pening. Dan reaksi Sunghee diluar dugaanku. Dia tersenyum! Ya ampun jarang sekali aku melihat senyum itu! Siwon bahkan memeluk singkat Sunghee. Sunghee menunduk dan membuka pintu. Aku langsung pergi dari tempat itu dengan tergesa.

Sudah satu bulan aku mengikuti dia terus. Tapi aku belum menemukan rumahnya. Rumahnya masuk ke gang yang kecil. Sangat jauh dari keramaian. Kali ini aku bertekad untuk mengikutinya sampai ke rumahnya.

Bel pulang yang kutunggu sudah terdengar. Aku langsung bergegas mengikuti Sunghee. Selama perjalanan aku masih aman, karena Sunghee tidak menoleh tiba-tiba. Mungkin dia sengaja karena instingnya tajam sekali. Tak mungkin dia tidak menyadari aku di belakangnya. Dan benar saja. Di depan gang dia berbalik padaku. Wajahnya terlihat sedih. Aku mengernyit.

“Yoochun ah..kenapa kau selalu mengikutiku?” ucapnya serak. Aku bingung. Kenapa tiba-tiba dia jadi seperti ini? Biasanya dia akan berteriak kasar. Sepulang sekolah tadi saja dia masih sempat merusak tong sampah. Kenapa moodnya cepat berubah begini?

“Aku..aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Aish.. aku hanya ingin tahu rumahmu dimana.” Bodoh. Kata-kata khas playboy lagi. Sunghee menunduk.

“Kau akan menyesal kenal denganku.”

“Tidak akan. Aku ingin menjadi temanmu,” ucapku tanpa hambatan. Sunghee mendesah pelan.

“Kau sudah baca artikel tentang aku di mading itu kan? Masih mau berteman denganku? Punya nyawa berapa kau?” tantangnya. Aku terdiam sebentar.

“Seorang teman tidak akan tega menyakiti temannya sendiri. Aku yakin kau juga begitu. Sejahat apa pun kamu, pasti ada sisi baiknya. Aku yakin sebenarnya kau baik. Kau tidak akan menyakiti temanmu sendiri. Bukankah sejak awal kita bertemu kau tidak pernah menyakiti aku? Kau hanya berteriak kasar padaku. Tidak pernah menyentuhku untuk menyakitiku.” Aku menatap reaksinya. Dia masih menunduk. Perlahan dia mengangkat kepala. Menatap lurus. Kalau diperhatikan seharusnya dia melihat tubuhku tapi tatapannya terlihat kosong.

“Aku capek,” ucapnya pelan dan masih serak. Terang saja! Dia kan bekerja pagi siang malam.

“Aku tahu kau selama ini mengikutiku. Kau kan yang membantu pekerjaanku jadi lebih cepat selesai? Aku selalu menyadari keberadaanmu. Kau.. mau apa?” ucap Sunghee lagi. Aku terdiam.

“Aku capek diikuti olehmu. Kumohon beritahu aku apa tujuanmu mengikutiku dan setelah tujuanmu tercapai kau pergi dari kehidupanku. Kalau tidak aku yang pergi. Bagaimana?” tawarnya. Aku terdiam. Tidak mungkin aku pergi darinya.

“Aku ingin… ke rumahmu.” Ah kenapa hanya bilang itu? Harusnya aku berkata lebih banyak lagi.

“Baiklah ikuti aku.” Sunghee berbalik dan melanjutkan perjalanan. Aku mengikuti di belakangnya. Gang yang kita lewati benar-benar sempit. Terkadang aku harus menyamping untuk melewatinya. Tapi Sunghee yang berbadan kecil dengan mudah melewati gang itu. Dan sampailah kita di depan rumah yang kecil. Tapi rumah itu tertata dengan rapi. Pekarangannya juga asri dan banyak ditumbuhi bunga-bunga. Rasanya aku senang melihatnya. Dia membuka pagar dan masuk ke dalam pekarangan rumah. Aku mengikuti di belakangnya. Kami melepas sepatu terlebih dahulu. Dia lalu membuka pintu.

“Annyeonghaseo…aku pulang,” ucap Sunghee lirih. Aku mengernyit. Memangnya dia tinggal bersama siapa?

“Duduk saja di sini dulu,” kata Sunghee. Aku menurut. Dia berlalu ke belakang. Dia lalu membawa minuman ke tempatku.

“Kau sudah tahu rumahku. Apa lagi yang kau inginkan?” tanyanya.

“Dengan siapa kau tinggal?” Aku menjawab dengan pertanyaan. Sunghee mengangguk lalu menyuruhku mengikutinya. Dan masuklah kami ke dalam kamar yang cukup kecil. Di atas ranjang, terbaring sesosok tubuh lemah. Perempuan. Kulitnya terlihat pucat dan tubuhnya sangat kurus. Satu-satunya yang menandakan dia masih hidup adalah dadanya yang naik turun karena bernafas. Sunghee menatap sosok di hadapannya dengan sedih.

“Ini kakakku,” jelas Sunghee. Aku menatap mereka bergantian. Spontan, aku menunduk pada sosok kakaknya.

“Annyeong, noona. Aku teman Sunghee.” Sunghee mendengus pelan mendengarnya.

“Kau bahkan tidak perlu menunduk.” Sunghee berkata sambil lalu dan berjalan menuju meja yang di atasnya tersimpan banyak botol obat-obatan. Dengan cepat, dia meracik obat dan memberikannya pada kakaknya.

“Kakak, bangun dan minum obatnya,” kata Sunghee. Percuma, kakaknya masih terbaring lemah. Sunghee lalu meminum obat itu lalu membuka mulut kakaknya. Dia meminumkan obat itu pada kakaknya. Aku tertegun melihat pemandangan di hadapanku. Setelah selesai meminumkan obat, Sunghee meletakkan gelas itu di meja kecil di samping ranjang. Dia masih menatap kakaknya.

“Namanya Lee Yemi. Nama yang manis, kan?” Sunghee tertawa pelan. Tawa yang terdengar sedih. Dia terduduk di kursi. Aku masih berdiri di sampingnya.

“Saat kau bilang namaku manis, reaksiku diluar dugaan ya? Aku berpikir, nama yang manis hanya cocok untuk kakakku. Benar-benar pikiran yang bodoh.” Aku masih diam. Aku membiarkan dia yang menjelaskan semuanya.

“Aku bekerja pagi siang malam untuk kakakku. Untuk membeli obat-obatan itu. Aku tahu sebanyak apapun obat yang kuberikan untuknya, dia akan tetap seperti ini. Tapi aku percaya ada keajaiban. Bisa saja kakaku membuka matanya dan mengucapkan sesuatu padaku. Ya kan?” Aku mengangguk. Sunghee tersenyum tipis. Matanya terlihat berair. Tiba-tiba terdengar suara ribut diluar. Beberapa laki-laki meneriakkan nama Sunghee. Sunghee memutarkan bola mata dan berdiri.

“Yoochun ah, titip kakakku ya,” ucapnya lirih. Dia mulai berjalan tapi aku menahannya.

“Mereka siapa? Ada apa?” tanyaku cemas.

“Penagih hutang.” Sunghee tersenyum menenangkan dan dengan berani berjalan keluar. Aku masih menatapnya dengan cemas. Tak lama dia kembali lagi.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kehidupanmu? Kenapa kau begitu menderita?” tanyaku parau. Sunghee masih tersenyum.

“Ini berawal dari orang-orang itu. Dulu kami keluarga yang tercukupi. Orang tuaku memegang sebuah perusahaan yang besar. Tapi karena ada kasus di perusahaan itu dan orang-orang tidak suka pada orang tuaku, ada yang menyebabkan mereka kecelakaan. Sengaja. Orang tuaku meninggal dan rumah kami dirusak. Kami dipaksa pindah. Tak ada satupun harta orang tua kami yang mampir ke tangan kami. Semua diambil oleh mereka. Aku sendiri tidak mengerti kenapa. Kakakku lalu pergi menyewa rumah. Dia berhenti sekolah untuk menghidupi kami bertiga. Kakakku, aku dan adikku. Dulu kami berdua bersikeras berhenti sekolah juga, tapi kakakku melarang. Dia bilang kami harus jauh lebih sukses dari dirinya.” Setetes air mata turun menuruni pipinya. Aku masih terdiam. Perlahan aku mulai bisa merasakan seberapa menderita dirinya.

“Aku dan adikku bersekolah di sekolah yang sama. Dulu kami masih SD dan kakakku SMP. Aku dan adikku pulang sekolah bersama. Kakakku masih bekerja saat itu. Saat aku dan adikku masih ada di rumah, tiba-tiba orang-orang yang mengambil semua harta kami dan membunuh orang tua kami datang. Dia mengobrak-abrik rumah kami karena mencari data tertentu. Waktu itu adikku sedang sakit panas. Aku mencoba melindunginya. Tapi tidak bisa. Mereka membawa pistol dan menembakkanya ke atap rumah. Tapi salah seorang dari mereka salah menembak. Pelurunya terkena tubuh adikku. Darah mengucur dari tubuhnya. Aku.. aku langsung menghajar mereka habis-habisan. Aku mematahkan lengan yang menembakkan peluru ke adikku. Mereka akhirnya pergi dengan membawa data yang mereka cari. Aku mencoba menyelamatkan adikku tapi terlambat. Saat aku menghajar mereka semua…adikku…dia..sudah meninggal.” Sunghee menutup mukanya. Dia menangis tersedu-sedu. Kurasa mataku mulai berair. Aku duduk mendekat padanya. Aku merangkulnya dan menariknya untuk bersandar padaku. Setelah menenangkan diri, dia kembali duduk tegak.

“Masih ingin mendengar lanjutannya?” tanya Sunghee dengan suara yang sangat serak.

“Kalau itu membuatmu sakit, jangan lanjutkan. Aku tidak ingin melihatmu menangis.” Sunghee tersenyum.

“Tak apa. Aku lanjutkan ya.” Aku menatapnya khawatir. Dia berdeham dan mulai melanjutkan ceritanya.

“Tak lama setelah itu kakakku datang. Dia terkejut melihat rumah kami berantakan dan adikku berlumuran darah. Setelah itu kami tinggal berdua. Selama 3 bulan aku tidak ingin sekolah. Kakakku selalu membujukku. Dia bilang, jangan seperti adikmu dan kakakmu. Jadilah seorang yang sukses.” Sunghee berhenti sebentar. Dia menatap kakaknya dengan tatapan penuh kasih sayang. Aku menatap ke dalam mata Sunghee. Dan aku menyesal telah melakukannya karena sekarang aku tenggelam ke dalam matanya.

“Lalu..kenapa kau akrab dengan Siwon?” tanyaku tiba-tiba. Sunghee menoleh kaget. Aku sedikit menyesali kata-kataku. Berarti aku ketahuan mengikutinya. Tapi aku memang penasaran.

“Ceritanya jangan disini.” Sunghee lalu mengajakku duduk di ruang tamu. Sunghee menunduk dan aku masih menatapnya.

“Kau pasti mengikutiku.” Dia memulai. Aku mengangguk.

“Sudahlah aku tidak akan mempermasalahkan itu lagi. Sebenarnya.. kepala sekolah itu adalah sahabat ayahku. Ayahku menitipkan keluarga kami padanya. Dan Choi Siwon itu anaknya. Dia menganggapku sebagai adiknya. Aku senang masih ada yang membantu kami tapi… Siwon menyukai kakakku. Tapi kakakku tidak menyukainya. Aku agak kesal dengan tingkah Siwon dulu. Dia sering mengganggu kakakku. Maka dari itu aku menimpuknya pakai bola. Tapi akhirnya Siwon tidak menyukai kakakku lagi. Itu karena kupaksa habis-habisan.” Sunghee tersenyum. Aku ikut tersenyum.

“Kau pasti melihat kepala sekolah memberikan segepok uang padaku?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Itu uang untuk sebulan. Awalnya dia mengajakku tinggal bersamanya. Tapi aku menolak. Aku takut membebani mereka. Lagipula aku akan canggung jika berada di sana. Akhirnya mereka mengirimkan kami uang per bulan. Dan satu hal, aku dan Siwon bersandiwara jika berada di depan orang banyak.”

“Lalu kenapa kau bekerja pagi siang malam?”

“Karena uang dari mereka aku gunakan untuk sekolah dan makan kami. Aku bekerja untuk ditabung. Jadi suatu saat aku tidak akan membutuhkan uang dari mereka lagi.” Aku mengangguk-angguk mendengarnya.

“Sekarang apa lagi? Kau sudah tahu semuanya?” tanya Sunghee. Aku menggeleng. Sunghee menunggu.

“Kenapa kau suka sekali mematahkan tulang orang lain? Kenapa kau suka memukul orang lain?”

“Karena aku frustasi.” Sunghee menjawab dingin dan dengan tatapan kosong. Aku masih menunggu kelanjutannya.

“Bayangkan saja, aku mengalami semua hal itu saat aku masih SD. Dimana seharusnya umur segitu kita harus dididik sebaik mungkin dan dijauhkan dari hal bunuh membunuh. Akhirnya…aku jadi senang menghajar orang lain. Sebagai pelampiasan pada orang yang membunuh orang tuaku dan adikku.”

“Lalu kakakmu sakit apa?”

“Serangan jantung. Sudah lama.”

“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?”

“Aku tidak mau merepotkan orang lain. Aku tidak bisa bergantung pada keluarga Choi.”

“Oh begitu. Kalau kau tidak mau bergantung pada keluarga Choi, kau bisa bergantung padaku. Demi kakakmu, aku akan membayar biaya rumah sakit. Bagaimana?” tawarku. Sunghee terdiam menatapku. Dia lalu menggeleng.

“Tidak, terima kasih. Aku tidak mau bergantung pada siapapun.” Aku mendesah.

“Ayolah, demi kesembuhan kakakmu.” Sunghee terlihat berfikir ketika suara benda berat jatuh dari kamar Yemi. Sunghee langsung berlari dan terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Aku mengikuti di belakangnya. Yemi sadar! Dia membuka matanya. Dia tadi menjatuhkan sebuah pigura yang terletak di samping meja. Yemi memang sadar tapi keadaannya sepertinya semakin memburuk. Dia sengaja menjatuhkan pigura untuk memberitahu kami. Nafas Yemi tersengal-sengal. Sunghee panik. Aku langsung menelepon ambulans.

“Kakak..kakak ada apa?” Sunghee mulai berlinang air mata.

“Su…Sunghee.. hh..hh…tolong…sukses…jangan seperti..adikmu dan kakakmu..tolong..” ucap Yemi sambil tersengal-sengal. Dia memegangi dadanya. Sunghee menangis sambil terus menggenggam tangan kakaknya. Sunghee yang panik sepertinya lupa memberi obat. Aku langsung meneguk obat yang tadi dan meminumkannya pada Yemi. Sunghee terkejut melihatnya. Yemi terlihat lebih tenang. Dia tersenyum. Aku mengelap bibirku yang basah dengan punggung tangan. Ambulans pun datang dan langsung membawa Yemi. Kami ikut ke dalam ambulans.

“Maaf, Yemi sudah tidak tertolong..” Dokter itu terlihat menyesal. Sunghee terduduk lemas. Tak ada air mata yang mengalir. Tapi wajahnya terlihat sangat sedih. Aku merangkul tubuhnya. Aku meremas pundaknya, mencoba memberi ketegaran.

“Selamat tinggal, kakak..” bisiknya lemah. Setetes air mata menuruni pipinya. Dan aku segera menghapusnya.

Sudah 2 tahun semenjak kematian Yemi. Kami sudah lulus SMA. Sekarang kita berada di pinggir pantai. Rambut Sunghee rapi dan digerai. Dia memakai rok terusan selutut berwarna hitam merah. Dihiasi dengan high heels berwarna merah. Kami masih kuliah.

“Sudah kubilang kau akan menyesal kalau berteman denganku.” Sunghee memulai. Aku menghela napas.

“Menyesal kenapa? Aku senang berteman denganmu.”

“Kau tertarik ke dalam kehidupanku yang menderita. Kau jadi ikut menderita karena memikirkan temanmu kan? Maaf.” Aku terkejut. Sunghe mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke laut.

“Kenapa kau minta maaf? Aku senang bisa mengurangi bebanmu. Aku tidak ikut menderita. Aku ingin kau ikut bahagia bersamaku.” Sunghee tersenyum. Dia menatap wajahku. Aku menatap matanya. Lagi-lagi aku tenggelam ke dalam matanya.

“Yoochun ah, aku memutuskan untuk pergi ke Inggris.” Aku tercengang.

“Apa?” tanyaku. Sunghee mengangguk.

“Kau kan sudah tahu ucapanku waktu itu… kalau tujuanmu sudah tercapai salah satu dari kita harus pergi, bukan? Aku akan pergi ke Inggris. Bersama keluarga Choi. Mungin aku akan serumah dengan Siwon di sana.” Darahku berhenti mengalir. Kukira itu hanya gertakan saja.

“Karena kau tidak pergi dariku maka aku yang akan pergi. Aku akan ke Inggris. Besok.”

“Apa?! Besok? Kau gila!” Aku benar-benar terkejut. Sunghee menggumam sambil mengangguk.

“Tapi… Sunghee…”

“Sudah ya! Aku mau beres-beres.” Sunghee tersenyum dan bergegas pergi. Aku terdiam terpaku.

Keesokan harinya aku menunggunya di bandara. Tak lama dia datang sambil membawa koper. Ada Siwon disisinya. Dia bilang hanya mereka berdua yang pergi karena kepala sekolah masih harus bekerja. Aku berdiri dan menghampiri Sunghee. Dia terlihat cantik. Sepeninggal kakaknya, dia jadi lebih feminine dan manis. Aku suka.

“Sunghee ah..” panggilku. Dia tersenyum. Matanya mengerling. Jantungku seakan berhenti.

“Ne, Yoochun ah?” ucap Sunghee lembut. Siwon tersenyum dan berlalu untuk mengambil tiket. Sekarang hanya ada kami.

“Kau tega,” kataku. Sunghee mengernyit bingung.

“Kau meninggalkanku disaat aku mencintaimu.” Aku mengeluarkan seuntai kalung dan memakaikannya pada Sunghee. Saat memakaikannya aku berbisik di telinga Sunghee, “Aku mencintaimu.” Aku lalu menatapnya. Tanganku menelusuri pundaknya hingga ke pergelangan tangan. Aku menggenggam kedua tangannya. Sunghee terpaku. Tapi matanya berkilau.

“Yoochun ah..” ucapnya. Aku tersenyum.

“A..aku.. 2 tahun lagi aku akan kembali dan kau harus menungguku.” Sunghee berkata dengan tegas. Aku mengangguk.

“Tentu saja.” Kami berdua tersenyum. Tak lama Siwon datang dan mereka pun pergi. Sunghee sempat menoleh padaku dan tersenyum sebelum benar-benar pergi meninggalkan aku.

Sudah 2 tahun aku menunggunya. Akhir-akhir ini aku menunggunya di pantai. Tak mungkin aku menunggu di bandara setiap hari. Aku tidak tahu kapan dia pulang. Yang jelas tahun ini.

Sebuah tangan dingin menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh kaget. Dan aku semakin kaget ketika seseorang itu langsung mencium pipiku. Dan ternyata.. itu orang yang aku tunggu-tunggu. Lee Sunghee baru saja mencium pipiku. Dia terkekeh pelan melihat  aku terperangah.

“Kenapa, honey?” godanya. Jantungku berdegup kencang.

“2 tahun lalu kau menyatakan cinta padaku kan? Beberapa menit setelah itu aku menjawabnya. Kau pasti melihatku menoleh padamu kan? Saat itu aku mengucapkan, aku mencintaimu.” Sunghee tersenyum. Aku mendengus pelan.

“Kau ini! Kukira kau hanya tersenyum! Kenapa tidak bilang di hadapanku?” Aku pura-pura kesal. Sunghee tersenyum dan duduk di pasir. Aku mengikutinya.

“Karena aku ingin membuat kejutan!” suara Sunghee terdengar ceria. Aku tersenyum mendengarnya.

“Dan kejutanmu berhasil.”

“Tentu saja.” Sunghee tertawa ringan. Aku ikut tertawa. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Oh ya Sunghee..”

“Yoochun..” Kami berdua berkata bersamaan. Kami tersenyum malu dan aku mempersilahkan dia duluan.

“Tidak. Kau duluan saja,” ucapnya.

“Baiklah..aku hanya ingin bertanya apa yang kau tulis pada buku agendamu dan apa yang kau dengar dari headphonemu itu.” Wajah Sunghee terlihat terkejut.

“Oh! Aku juga ingin menjelaskannya tadi. Wah..ternyata kita satu pikiran.” Kami berdua tersenyum.

“Baiklah, kau baca saja agendaku sendiri.” Sunghee menyerahkan buku agenda itu. Aku membukanya. Hanya jadwal kerja dia sehari-hari. Aku melewatkan bagian itu dan aku terkejut ketika aku melihat lukisan wajahku sendiri.

“Ini kamu yang melukisnya?” tanyaku tak percaya. Sunghee mengangguk.

“Kau pasti pernah melihatku mencoret-coret sesuatu pada buku agendaku. Waktu itu aku sedang menggambar dirimu.” Aku berusaha mengingat dan memang benar. Aku membuka halaman selanjutnya. Masih jadwal kerja. Halaman selanjutnya, tertulis namaku dan dihias dengan indah. Aku terdiam. Aku membuka halaman selanjutnya. Jadwal kerja lagi. Halaman berikutnya membuat nafasku tercekat. Di sana ada tulisan, Park Yoochun, matahari yang datang di malam hari. Aku bingung. Aku menoleh pada Sunghee, meminta penjelasan.

“Kau datang di saat aku sendirian. Kau ada di saat aku kesulitan. Kaulah matahari yang datang di malam hari. Matahari yang datang ketika malam membutuhkannya. Kau matahari dan aku malam.” Sunghee menjelaskan. Aku tertegun. Aku tersenyum tipis dan melanjutkan membuka-buka agenda itu. Banyak sekali tentang diriku. Puisi tentang diriku, cerita pendek tentang diriku, data diriku, dan masih banyak lagi. Aku tertegun pada kalimat terakhir di agenda itu. “Selamanya, aku akan mencintai seorang Park Yoochun.” Begitu bunyinya. Aku tersenyum.

“Ternyata kau begitu mencintaiku,” komentarku. Dia tersenyum malu. Dia lalu memakaikan headphonenya padaku.

“Kau akan tahu seberapa besar cintaku dengan mendengarkan ini.” Sunghee berkata lalu memainkan i-podnya. Terdengar suara yang lemah. Nasihat-nasihat kakaknya, tawa adiknya, kata-kata orang tuanya. Semuanya ia rekam. Dan ada suaraku. Aku ingin tertawa ketika mendengar suaraku saat pertama menyapanya, saat mengajaknya bermain basket, bahkan suaraku saat menyatakan cinta padanya di bandara pun ada. Aku sekarang tahu, dia hanya menulis dan merekam hal yang dicintainya saja. Dan aku termasuk. Aku tersenyum bahagia. Aku agak terkejut ketika mendengar suara Sunghee. Dia bilang: “Park Yoochun, entah apa yang membuatku berdebar saat menatap matamu. Entah apa yang membuatku terdiam di kelas menunggumu datang padaku. Entah apa yang membuatku begitu merindukanmu. Kurasa…aku mencintaimu.” Aku menunggu suara selanjutnya dan ternyata sudah selesai.

“Oh sudah selesai ya?” Sunghee mematikan i-podnya dan menerima headphonenya kembali. Aku tersenyum menatapnya yang sedang memasukkan i-pod ke dalam tas. Setelah selesai, dia menoleh kepadaku. Kami berdua bertatapan agak lama.

“Mulai sekarang jangan ragu untuk bergantung padaku lagi. Would you marry me, my sweetheart?” ucapku. Sunghee terlihat terkejut. Aku menyodorkan sebuah kotak cincin padanya. Aku membukanya. Dia terdiam lalu mengangguk. Dia tersenyum haru. Aku melepaskan cincin itu dari tempatnya dan memasangkannya di jarinya. Aku merasa menjadi orang paling bahagia di dunia ini.

“Tapi janji satu hal.” Sunghee mengacungkan jari telunjuknya.

“Apa?”

“Setelah kita menikah nanti, tidak ada yang boleh meninggalkan yang lainnya. Kita harus bersama selamanya.” Aku tersenyum mendengarnya.

“Akan kutepati janji itu.” Aku menariknya ke dalam pelukanku. Dia balas memelukku.

“Yoochun ah..” ucapnya masih dipelukanku.

“Hm?”

“Tadi aku merekamnya lho. Akan aku dengar terus nanti. Lumayan kalau tidak bisa tidur mendengar suaramu mungkin saja bisa tidur.” Kami tertawa.

“Kalau kau tidak bisa tidur, aku yang akan menyanyikan lagu secara live di sampingmu. Oke?”

“Oke!” Kami tersenyum. Sunghee melepaskan pelukanku. Dia mendongak menatapku. Dia membelai rambut coklat pendekku lembut. Dia lalu menghela napas.

“A..ada apa?” tanyaku menegang.

“Hah..kenapa kau bisa begitu tampan?” desah Sunghee. Aku mencubit pipinya gemas.

“Argh!! Kukira ada apa!” Sunghee tertawa lepas. Aku tersenyum. Diam-diam, kurekam tawa Sunghee. Akan aku jadikan matahari yang datang di malam hari.

“Tunggu dulu! Kenapa kau meneliti data murid di sekolah?” tanyaku. Sunghee tersenyum. Dia berbisik di telingaku.

“Karena aku mencari namamu.” Dan kata-kata itu sukses membuatku tercengang. Sunghee tersenyum misterius. Kurasa, dia akan terus menjadi gadis yang misterius.

THE END

Note: Ini sekuel dari ff The Lost Memory. Jadi ini cerita saat Sunghee masih mencari ‘pangeran TK’nya. hehehe

11 thoughts on “[FF] You’re My Sun

    • sungheedaebak says:

      hehe awalnya ga kepikiran sekuel, tapi karena byk yg nanya endingnya penasaran, ngegantung dan sebagainya jadinya aku jadiin sekuel aja
      oh ya? emang idenya gimana? aku ga nyadar loh asal tulis aja wkwkwk gomawo

      • Ami_cutie says:

        mmm..gimana ya?
        aku dah pernah baca cerita tentang cewek yang susah diatur, tapi blm pernah baca yang kaya gini…keliatannya cuek, padahal tanggungannya berat banget…di luarnya kuat, tapi sebenarnya rapuh…dia dingin terhadap orang lain, tapi ga asal…tetap masuk akal n enak dibayangin…

        like this deh pokoknya!

  1. vidiaf says:

    sepertinya aku harus baca yang the lost memory dulu .__.
    rada kaget pas baca awalnya, dikirain Hyuk POV, taunya Yoochun POV ._.v
    huaaaaaa suka banget ceritanya :’) sampe merinding + nangis nih bacanya u,u
    Sunghee di sini kasian banget, ga tega lah aslinya…
    Yoochunnya di ending aaaaa /melting
    like it!!😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s