[FF] Mission Possible part 4

The true killer

Aku duduk sendirian di ruangan gelap ini. Hanya ada lampu kecil di sudut ruangan. Di hadapanku terdapat 15 buah foto seluruh badan. Aku mengambil sebuah panah kecil, mengecek ketajamannya, dan melemparkannya pada gambar pertama. Bagus sekali, mengenai leher. Bagian yang kusuka.

“Hah. Tunggu saja aku, Jungsoo. Aku akan memberimu mimpi indah malam ini.” Aku bangkit dari kursi goyangku dan berjalan keluar ruangan.

Aku berdiri di depan pintu kamar Jungsoo. Sekarang pukul 12 tengah malam. Aku sudah memastikan bahwa dia sedang tidur nyenyak. Aku memasukkan kode di pintu itu. Pintu pun terbuka. Jangan salah, aku sudah memasang penyadap di setiap kamar. Termasuk kamera CCTV. Aku tahu apa yang dia lakukan dan kode apa yang dia ketik.

Aku masuk ke dalamnya. Terlihatlah Jungsoo sedang tertidur nyenyak. Aku tersenyum licik. Aku mengeluarkan pisau kecil andalanku dari balik blazer hitam kelamku. Aku memainkan pisau itu sebentar. Aku duduk di pinggiran ranjang, menatap wajah Jungsoo yang tertidur. Aku menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang mengganggu. Aku tersenyum lagi. Aku mengontak seseorang yang bersedia membersihkan tempat ini dan membakar jasadnya. Lalu aku menyeringai.

“Jungsoo, selamat tinggal.” Aku menggorok lehernya menggunakan pisau kecilku. Aku tertawa. Jungsoo membuka matanya dan tak lama ia menutupnya lagi karena aku menusuk jantungnya. Dari mulutnya keluar darah segar. Tawaku semakin besar. Aku menusukkan pisauku lagi dan mencabutnya. Lalu menusukkannya lagi. Aku mengambil pisauku yang menancap di dadanya. Dengan santai, aku membersihkan pisau kecilku ke bajunya. Aku memasukkan pisau itu ke dalam blazerku dan pergi meninggalkan kamarnya. Aku kembali ke ruangan gelap itu.

Aku duduk di kursi goyang. Kakiku memainkan kursi itu. Aku mengambil panah kecil lagi dan menargetkannya pada foto kedua. Aku melemparkan panah itu, kena bagian ulu hati. Aku tersenyum lebar. Aku sangat suka bagian itu!

Sekarang sudah jam 1 dini hari. Aku duduk di samping ranjang. Heechul tertidur nyenyak sekali. Aku mengeluarkan pisau kecil lagi. Aku mengelus pipi mulus Heechul sebentar. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku tahu dia akan berteriak jadi kubungkam saja dengan mulutku. Aku menempelkan bibirku di bibirnya dan segera menancapkan pisau itu ke ulu hatinya. Dia memberontak dan mencoba berteriak namun aku melumat bibirnya. Aku mencabut pisau itu lalu menancapkannya lagi hingga kurasakan nafasnya telah tiada. Gerakannya juga sudah berhenti. Bagus sekali. Sekarang aku harus cepat kembali ke kamarku agar tak ada yang curiga.

Keesokan harinya berjalan seperti biasa. Tak ada yang mengetahuinya karena jasadnya sudah dibakar dan kamar rapi seperti semula. Mereka hanya mengira Jungsoo dan Heechul sedang lari pagi.

“Tumben sekali Heechul mau lari pagi,” gumam Hangeng. Aku menatapnya dengan tatapan ingin membunuh. Tapi segera kuhilangkan tatapan itu. Aku menatapnya ramah.

“Mungkin dia sedang cari udara segar sehabis perang,” ucapku ringan. Hangeng mengangguk. Aku tersenyum.

Malam sudah datang. Rasanya sore cepat sekali berlalu tadi. Aku duduk di kursi goyang itu lagi. Kali ini ditemani kakakku, Griss. Aku melemparkan panah lagi. Kena bagian paru-paru Hangeng. Aku menyerahkan sebuah panah kecil pada Griss. Dia langsung melemparnya ke foto Donghae, mengenai ulu hati. Aku lalu melemparkan panah lagi. Kali ini mengenai pergelangan tangan Yesung. Aku menyerahkan sebuah panah pada Griss lagi. Dia melemparkan panahnya dan mengenai lengan Kangin.

“Meleset,” ucapnya.

“Baiklah, gores tangannya dan tusuk jantungnya,” kataku. Dia mengangguk.

“Malam ini akan ada 4 lelaki yang mati.” Kami berkata bersamaan. Kami saling bertatapan dan tersenyum licik.

Aku membuka pintu kamar Hangeng. Ternyata dia belum tidur. Dia sedang push-up. Saat menyadari kedatanganku, dia tersenyum meski agak kaget.

“Hello, Grisel. Kenapa belum tidur?” tanyanya. Dia menghentikan kegiatan push-upnya dan berdiri menghampiriku yang sudah duduk di depan meja komputernya. Aku menatapnya. Tubuhnya yang mengenakan kaus tipis dan celana pendek menggodaku. Bentuk tubuhnya yang tegap terlihat jelas.

“Kau sendiri? Aku hanya tidak bisa tidur.”

“Well, aku hanya sedang melakukan latihan.” Aku mengangguk-angguk. Sebenarnya aku tidak peduli. Kau tidak akan membutuhkan latihan itu lagi. Hangeng berjalan menuju lemari es kecil di samping TV. Dia membukanya dan mengambil sebuah kaleng soft drink.

“Kau mau?” Dia mengacungkan kaleng itu. Aku menggeleng. Dia mengedikkan sebelah bahunya dan menutup pintu kulkas itu. Dia pun membuka tutup kaleng dan meneguknya.

“Aah.. segar sekali,” katanya sambil duduk di pinggir tempat tidur. Aku masih memperhatikannya. Mencari waktu yang tepat untuk membunuhnya.

“Kau tahu dimana Jungsoo dan Heechul? Aneh sekali. Mereka belum pulang.” Wajah Hangeng berubah serius. Aku menopangkan daguku dengan sebelah tangan.

“Entahlah. Semoga mereka baik-baik saja. Lagipula diluar sana kan banyak agen SJ dan negara asing yang bertebaran. Mereka pasti aman.” Hangeng mempercayai kebohonganku. Dia menunduk menatap kaleng soft drinknya. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan mendekatinya. Aku berjalan ke sisi tempat tidur yang lain dan merayap menaiki tempat tidur. Kurasakan punggung Hangeng menegang. Aku tersenyum dan merangkulnya dari belakang. Aku menyandarkan kepalaku ke kepalanya. Aku menghela nafas. Tangan kananku mengambil pisau kecil.

“Hangeng.. baru kusadari ternyata kau tampan.” Aku semakin mendekatkan pisauku. Hangeng menelan ludah.

“Tapi sayang.. kau harus.. mati sekarang!” Aku langsung menancapkan pisau kecil itu di paru-parunya. Dia mengerang kesakitan dan segera kututupi dengan tanganku yang merangkulnya tadi. Aku menusuknya berkali-kali sampai akhirnya tubuhnya tergeletak tak berdaya. Aku terkekeh. Aku pun segera berjalan menuju kamar Yesung.

Sementara itu Griss di kamar Kangin..

Griss melihat Kangin yang sedang terlelap. Dia membawa pisau yang lebih besar dari milik Grisel. Seperti yang dilakukan Grisel, ia duduk di pinggiran tempat tidur. Pertama-tama dia membius Kangin dahulu agar tidak berteriak atau menendangnya. Setelah dibius, lengannya digores dengan pisau. Darah segar keluar dari lengannya. Griss lalu menatap dada Kangin. Dia mengacungkan pisaunya ke arah dada Kangin.

“Selamat jalan,” ucapnya singkat sebelum menancapkan pisaunya ke dada Kangin. Kangin pun tewas seketika.

Kembali pada Grisel yang sudah berada di kamar Yesung.

“Oh my God. Kenapa kau tidur dengan hanya memakai jas? Tanpa memakai kemeja apa pun? Kau mempermudah aku untuk membunuhmu,” bisikku.

“Tapi sayang.. aku harus membunuhmu dengan memutus urat nadimu.” Aku mengambil tangannya dan menggoreskan pisauku ke nadinya. Dia kejang sebentar sebelum akhirnya benar-benar tertidur untuk selamanya. Aku terlalu bernafsu untuk membunuhnya hingga tangannya hampir putus. Untung aku cepat sadar. Hmm.. mudah sekali membunuh mereka, semudah mereka percaya pada kebohongan kami.

Di kamar Donghae, Griss agak sedikit terkejut ketika melihat tempat tidur kosong. Tapi keadaannya sudah berantakan. Sepertinya Donghae sedang ada di kamar mandi. Terdengar dari suaranya. Griss pun membuka blazernya. Ruangan itu rasanya panas. Dia pun memakai blazernya di pinggang. Donghae keluar dari kamar mandi dan sedikit terlompat ketika menatap Griss, berdiri di dekat pintu dengan kaus tanpa lengan, blazer di pinggang, dan celana panjang hitam. Meski begitu, Donghae memaksakan seulas senyum.

“Ehm.. hai..Griss,” ucapnya gugup. Dengan salah tingkah, dia menghanduki rambutnya yang masih basah.

“Hai, Donghae,” balas Griss ramah.

“Kenapa kau..bisa ada di kamarku?” tanya Donghae.

“Aku kesepian di kamarku. Kuharap kau bisa menemaniku.” Griss mendekati Donghae yang sedang merapikan baju di lemari. Donghae bergumam tidak jelas. Griss tersenyum. Donghae menatap Griss lama. Tiba-tiba dia mendorong Griss ke tembok dan menguncinya dengan kedua tangannya.

“Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini.” Donghae menyeringai.

“Ya. Begitupun denganku.” Griss terkekeh pelan. Donghae memiringkan kepalanya dan melumat bibir Griss dengan ganas. Griss mengalungkan tangan kirinya ke leher Donghae ketika tangan kanannya mengeluarkan pisau. Keadaan ini menguntungkan untuk Griss. Dia tidak perlu repot-repot untuk menutup mulut Donghae karena lelaki itu sendiri yang menutupnya. Ciuman terlepas sebentar karena saling menarik nafas. Donghae baru akan menerobos mulut Griss ketika Griss menusukkan pisaunya ke ulu hati Donghae. Ciuman pun terlepas. Griss menusuk ulu hati Donghae lagi. Griss menatap tatapan kosong Donghae di hadapannya.

“Hehe.. selamat tinggal, sayang.” Griss melepaskan rangkulannya dari leher Donghae dan lelaki itu pun ambruk ke lantai. Griss berjalan keluar kamar dengan santai.

“Kemarin Jungsoo dan Heechul, kenapa sekarang Hangeng, Yesung, Kangin, dan Donghae juga tidak ada?” gerutu Shindong. Aku saling bertatapan dengan Griss. Kami mengulum senyum.

“Apa mungkin mereka sedang mencari Jungsoo dan Heechul?” tanya Michelle. Fay mengangguk menyetujui.  Para experts SJ mengangguk paham. Tapi ada beberapa yang merasa curiga. Hyukjae, Kibum, dan Kyuhyun.

“Tak biasanya Donghae tiba-tiba menghilang. Biasanya dia selalu bilang padaku,” kata Hyukjae. Aku hanya menaikkan sebelah alis mendengarnya. Mana mungkin mati bilang-bilang?

Sekarang giliran Shindong, Sungmin, Siwon. Mereka akan kubunuh siang hari.

“Ehm..Shindong, kau tidak penasaran dimana mereka berada? Aku akan mencarinya sekrang. Kau mau ikut?” ajakku. Shindong mengangguk semangat.

“Ya tentu saja!”

“Ada yang mau ikut lagi?” tanyaku.

“Aku mau ikut!” ucap Sungmin. Aku melirik Siwon. Dia mengangguk mengiyakan. Aku tersenyum.

“Baiklah. Ayo berangkat!” Aku langsung berjalan menuju mobil van.

“Fay, kau mau ikut juga?” seruku. Fay mengangguk. Dia pun berlari menghampiri kami. Tak lama kemudian mobil van pun lepas landas.

“Coba kalian cari di sana, ada tidak?” tanyaku sambil menunjuk ke arah timur. Fay dan Siwon berjalan ke arah yang kutunjuk. Shindong dan Sungmin masih bersamaku.

“Shindong dan Sungmin, kau ke arah selatan ya. Aku akan ke utara.” Aku berkata seraya masuk ke dalam mobil van. Mereka mengangguk. Mereka pun berjalan ke arah yang kutunjuk. Setelah agak jauh, aku menginjak gas mobil. Aku melaju dengan kecepatan tinggi dan menghantam mereka berdua. Aku mengulangi hal tadi sampai yakin mereka benar-benar mati karena terlindas. Aku turun dari van dan mengecek nadi mereka. Negatif. Mereka mati. Tak lama aku mendengar suara tembakan. Kurasa Fay berhasil membunuh Siwon. Baiklah 6 experts lagi.

Aku dan Fay kembali ke markas utama dengan tertawa-tawa.

“Bagaimana kau membunuh kedua orang bodoh itu?” tanya Fay.

“Aku melindas mereka.” Aku kembali tertawa. “Bagaimana dengan kau?”

“Well, saat dia sedang sibuk mencari aku segera menembakkan peluruku padanya. Sekali tembak dan DAR.. dia mati.” Fay tertawa. Aku terkekeh. 6 experts.. mudah sekali. Sebentar lagi VR akan menguasai SJ dan negara asing.

Malam ini kami makan dengan tidak semangat. 6 pasang mata memperhatikan gerak-gerik aku dan Fay. Ekspresi curiga di wajah Hyukjae, Kibum, dan Kyuhyun semakin terlihat. Tapi aku bertingkah seperti tak terjadi apa-apa.

“Tadi mereka bilang akan mencari sendiri. Kebetulan tadi kami menemukan mobil sisa peperangan. Entahlah, mungkin mereka sangat menyayangi teman kita itu. Sampai melakukan segala cara untuk menemukan teman kita.” Aku beralibi. Mereka menunduk menatap makanan di hadapan mereka. Makan malam pun berakhir. Menunggu beberapa jam dan akhirnya tengah malam tiba. Aku berada di ruangan gelap itu lagi. Sisa 6 foto. Hmm.. sebaiknya malam ini aku membunuh Kibum, Ryeowook, dan Kyuhyun. Atau sekalian dengan Henry dan Zhou Mi? Ah kurasa tidak. 3 orang dulu saja.

Aku memasuki pintu kamar Kibum. Dia pernah bilang kalau ruangan kamarnya ini kedap suara. Dia tidak mau terganggu dengan keributan diluar. Suara dari dalam pun tak akan terdengar ke luar. Bagus. Aku sekarang bisa menggunakan pistolku.

Kibum masih duduk di depan komputer. Dia sedang mengetik sesuatu.

“Kibum!” panggilku. Dia menoleh. “Say cheese..” DAR.. peluru kutembakkan. Tepat mengenai paru-paru. Dia tewas seketika. Aku melirik komputernya sebentar dan membaca tulisan yang tertera di monitor.

“Aku tahu kemana mereka pergi. Ke surga. Aku tahu siapa yang membunuh mereka. Griselda Marchbanks dan kawan-kawannya. Berhati-hatilah.” Aku langsung mengklik tombol DELETE.

“Apa kau tidak tahu kalau semua alat di kamar kalian dipasangi penyadap? Kalau Griss membacanya dia akan marah besar, kawan.” Aku menendang tubuh Kibum yang tergeletak tak berdaya di lantai. Aku terkekeh pelan dan berjalan menuju kamar selanjutnya, kamar Ryeowook.

Untuk kali ini aku tidak akan bermain-main terlebih dahulu. Aku ingin langsung menusuknya saja.

“Hai dan selamat tinggal anak kecil.” Aku menghunjamkan pisaukan ke dadanya. Dia mengejang dan darah segar keluar dari mulutnya. Dia menghembuskan nafas terakhirnya.

“Berterima kasihlah padaku yang segera membunuhmu.” Aku terkekeh. Aku pun bergegas ke kamar selanjutnya sebelum fajar datang. Kurasa orang yang beruntung kali ini sedang main game di kamarnya. Sama seperti Kibum, kamarnya kedap suara. Dia tidak suka diganggu jika sedang main game, dan tak ingin mengganggu dengan teriakan-teriakan kesalnya saat bermain game.

Benar saja, Kyuhyun sedang menyandar di tempat tidur sambil memainkan game di PSPnya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Kyuhyun melirikku sebentar namun ia kembali memperhatikan layar PSP.

“Starcraft?” tanyaku. Kyuhyun mengangguk. Aku berlagak memperhatikan permainannya.

“Kau bermain lambat sekali,” komentarku. Kyuhyun mem-pause gamenya dan menoleh kesal padaku.

“Butuh taktik, nona,” ucapnya. Aku mengerling.

“Kutunjukkan kau cara bermain yang cepat.” Aku menempelkan pistolku pada bagian ginjalnya dan menarik pelatuknya. Dia tertembak tapi tidak segera mati. Dia mencoba menggapai udara seperti ikan terdampar. Aku berdiri di hadapannya sekarang. Aku menodongkan pistolku ke kepalanya.

“Selamat tinggal.” Aku menarik pelatuk pistolku dan pria di hadapanku ini mati mengenaskan. Nah, beres untuk hari ini karena fajar segera menjelang. Besok akan kubunuh 3 experts lainnya.

“Kenapa makin ke sini meja makan ini semakin kosong? Kemana yang lain?” tanya Zhou Mi. Kali ini aku hanya diam. Firasatku tidak enak.

“Entahlah aku juga heran. Mereka bilang ingin mencari yang lain.” Griss yang menjawab. Zhou Mi, Henry, dan Hyukjae hanya terdiam. Aku tidak sabar menunggu malam tiba. Malam ini akan menjadi puncak kejayaan bagi VR.

Akhrnya malam yang kutunggu sudah tiba. Zhou Mi akan dibunuh oleh Fay, Griss oleh Henry, dan Hyukjae olehku. Pertama Fay yang beraksi.

Fay sedang mengajak Zhou Mi berjalan-jalan keluar markas. Mereka sekarang berada di taman.

“Fay, apa kau tidak sedih kehilangan yang lainnya?” tanya Zhou Mi tiba-tiba. Fay melirik lelaki itu.

“Sedih. Tapi hei, mereka kan masih hidup. Tenang saja.” Fay menghibur Zhou Mi dengan senyum palsunya. Zhou Mi tersenyum.

“Berada di sisimu nyaman juga,” ujarnya.

“Oh ya?” tanya Fay basa-basi sementara ia mengeluarkan pistol dari balik jaketnya. Dia menggunakan V-154, pistol yang tidak menimbulkan suara apapun. Zhou Mi sedang memunggunginya. Bagus. Fay pun menarik pelatuk pistol itu dan Zhou Mi langsung tergeletak tak bernyawa. Itulah hebatnya V-154, meskipun mengenai kaki, lawanmu akan tewas dalam waktu 3 detik. Fay pun akan kembali ke kamarnya ketika tiba-tiba dari arah kanan seseorang menembakkan pelurunya dan tepat mengenai ulu hati Fay.

Sekarang Griss yang sedang membuka pintu kamar Henry. Dia tersenyum ketika melihat Henry sedang mengatur biolanya. Henry menengadah dan tersenyum melihat Griss. Bagus sekali, kamar ini juga kedap suara. Griss bisa menembaknya.

“Griss, kau belum tidur?” tanya Henry ramah. Griss menggeleng.

“Panas, tidak bisa tidur.” Henry mengangguk menyetujuinya.

“Tadi aku berusaha tidur tapi gagal.” Henry kembali serius pada biolanya. Griss duduk di sebelah Henry, memperhatikannya.

“Kau suka sekali dengan biola ya?” Griss berbasa-basi. Henry mengangguk.

“Dari kecil aku cinta biola.” Griss mengangguk-angguk. Dia diam-diam mengeluarkan pistol V-154.

“Uhm..Henry.. bolehkah aku berkata sesuatu?” tanya Griss pura-pura gugup.

“Tentu saja. Apa?” tanya Henry sambil tersenyum.

“Tapi kau jangan marah.” Henry mengangguk.

“Aku ingin mengucapkan.. selamat tinggal, Henry Lau!” Griss menembakkan V-154 ke jantung Henry. 3 detik kemudian pria itu mati. Griss terkekeh. Dia pun keluar dari kamar ketika tiba-tiba seseorang memukulnya dari arah kiri. Sebelum Griss sempat melihat siapa pelakunya, dia suda ditembak dengan mengunakan V-154. Griss pun terkulai di lantai. Terdengar suara kekehan pelan.

Aku membuka pintu kamar. Kulihat Hyukjae sedang tertidur. Aku duduk di sampingnya. Aku lalu membiusnya. Aku lalu menggores lengannya. Lalu membuat luka memanjang dari pundak sampai pinggang. Aku lalu menusuk perutnya. Darah terus keluar tanpa henti. Aku menggoreskan pisauku pada lehernya. Sentuhan terakhir, aku bersiap menusuk jantungnya ketika sebuah tangan menahanku. Tangan Hyukjae. Aku terkejut. Hyukjae terlihat sudah kehabisan nafas.

“Kumohon..jangan bunuh aku.. aku ingin bertemu Hyocan.. ia ada di sini… aku bisa merasakannya. Kumohon.. Grisel.. kumohon..lempari aku kotak obatmu..” Hyukjae meringis. Aku menarik kembali pisauku. Aku menatapnya.

“Hyukjae..”

“Grisel.. kumohon…” Hyukjae berusaha menatapku. Darah segar terus keluar dari tubuhnya. Tidak. Ini pasti jebakan.

“Aku tahu semua teman-temanku mati karenamu. Tapi kumohon..jangan bunuh aku dulu..pertemukan aku dengan Hyocan..”

“Tidak.” Aku berkata dengan dingin. Hyukjae meraih tanganku dan menggenggamnya dengan segenap kekuatannya yang masih tersisa.

“Aku temanmu..” ucapnya. Aku menggeleng kuat-kuat.

“Maaf, Hyukjae.. aku tidak bisa tertipu olehmu.” Genggamannya semakin erat.

“Aku tidak menipumu. Kumohon.. aku merasakannya.. aku merasakan Hyocan ada di sini.” Hyukjae menatapku. Tangannya meremas tanganku. Aku merasa risih. Darah tak berhenti mengalir. Dia mati pelan-pelan. Genggamannya melemah. Matanya meredup. Kepalaku rasanya pusing melihatnya begitu.

“Kau..tidak ingat.. seberapa dekatnya kita? Aku sampai mencicipi bibirmu.. menggenggam tanganmu..” Sekarang suara Hyukjae hanya terdengar seperti bisikan. Aku terdiam.

“Tak ingatkah kau melindungiku sampai mobilmu terguling?” ucapnya lagi. Aku masih terdiam.

“Kau yang menungguiku di ruangan medis.. kumohon.. kau tega membunuhku?”

“Ya aku tega.” Aku menarik pelatuk V-154, tepat mengenai jantungnya. “Maaf, Lee Hyukjae.” Peluru itu masuk ke tubuhnya. Hyukjae pun tewas. Tangannya terlepas dari tanganku. Aku terdiam. Sedetik kemudian aku menyeringai.

“Sandiwara yang bagus, Hyukjae.” Aku berjalan meninggalkan ruangan itu. Aku berjalan menuju kamarku. Aku pun merebahkan tubuhku di tempat tidur. Nyaman sekali rasanya. Badanku pegal-pegal. Aku pun menutup mataku.

Tiba-tiba aku mendengar suara orang membuka pintu. Suara langkah kaki mendekat. Siapa? Siapa yang mengetahui kode kamarku? Aku membuka mata dan terkejut dengan apa yang mataku dapatkan. Aku tidak bisa berkata apapun. Lee Hyocan menyeringai di hadapanku. Aku terduduk di tempat tidur. Hyocan masih menatapku.

“Ka-kau?! Bukankah kau sudah mati?” tanyaku. Hyocan tersenyum licik.

“Ingat-ingat kembali. Aku belum mati benar. Kau lupa mengecek nafasku.” ujarnya. Aku mencoba mengingat. Saat itu..

FLASHBACK

“Hei kau mencuri V-601!” teriak Grisel. Hyocan melemparkan virus itu ke salah satu rekannya dan rekannya itu melarikan diri dengan cepat. Grisel marah dan menembakkan pelurunya ke kaki Hyocan yang sedang berlari. Dia terjatuh di tanah kosong itu. Grisel berlari ke arahnya.

“Kecil-kecil kau berbakat menjadi pencuri, hah?!” bentak Grisel. Hyocan meringis kesakitan. Grisel menendang tubuh Hyocan.

“Aku tahu kau agen SJ! Kurang ajar sekali! Kalian meminta peperangan hah?!” tantang Grisel. Hyocan tak bisa menjawab. Grisel menendang tubuhnya lagi. Grisel mengarahkan pistolnya ke dada Hyocan. Gadis itu menarik pelatuknya dan Hyocan terjatuh. Grisel tertawa pelan. Grisel pun berlari masuk ke helikopter.

Sementara itu Hyocan berusaha bangun. Dia terduduk mencoba menahan rasa sakit. Dia melihat kartu nama yang dijatuhkan Grisel.

“Griselda Marchbanks, VR 04, Experts virus. Sekarang aku tahu kau.” Hyocan menyeringai dan berjalan menjauh dengan langkah yang timpang.

END OF FLASHBACK

“Kau ingat semuanya, Griselda Marchbanks?” tanya Hyocan. Aku menelan ludah.

“Kau tidak bisa menguasai SJ dan negara asing.. karena aku yang akan menguasainya!” Hyocan menusukkan pisaunya ke jantungku. Aku pun menghembuskan nafas terakhir.

Hyocan tertawa.

“Kau tidak sepintar itu, Grisel!” Hyocan kembali terbahak. Dia mengambil kaca mata yang tergantung di kaus Grisel dan memakainya. Dia menatap ke arah pembaca.

“Apa kau korbanku selanjutnya?” Hyocan menatap para pembaca dengan sadis.

THE END

21 thoughts on “[FF] Mission Possible part 4

  1. Ami_cutie says:

    kyaaaaaaaaa…kereeennn…
    tapi shindong, sungmin, ama won kurang kerasa coz deskripsinya kurang…
    overall..nice!

    mm..maksud kalimat hyochan pas terakhir itu apa?

    • sungheedaebak says:

      iya soalnya aku lagi ga ada ide di situ wkwkwk

      jadi kita kan serasa nonton film bacanya, klo film hyocan ngadep ke kamera, trus blg gitu. jadi seakan kita ada di dalem cerita gitu.. hehe

      • Ami_cutie says:

        ooo..baru mudeng..
        tapi sbnrnya cara mati mereka ber3 yang tragis bin sadis, coz mereka ga sadar…
        apalagi sungmin n shindong…dilindes mobil…ckckck

        btw, hyochan serem juga ya…grisel juga..(ditabok nisa)

      • sungheedaebak says:

        hehehe
        iya betul cuman krg deskripsi aja ya un. aku pling suka bagian hyuk ma donghae hohohoho
        ga sekedar mobil un, mobil van.
        iya emang wkwkwk

      • Ami_cutie says:

        iya..apalagi mobil van…
        aku juga paling suka bagian donghae ama eunhyuk…interaksi pembunuh ama target lumayan lama, jadi kerasa..hehehe

        (btw, aku baca ulang nih, ga bosen2)

      • sungheedaebak says:

        apalagi yg donghae tuh. hohhoho *senyum2 mesum*
        oh ya? haha iya aku juga kalo lagi bosen baca ff aku yg ini berulang2 *sama aja mengagumi diri sendiri* wkwkwk

  2. haeny_elfishy says:

    Hae mesum sumpah >:-(! *tabok hae*
    nis, kau sungguh sangat keren disini ! wow. . .
    hyochan mau bunuh kita para readers yg cantik (sesuju kan? wahaha) ini ? heu, liat aja arwah suami” kita bentar lg bakal gentayangan buat nglindungin kita ! wkwkwkwk thumb up saeng !

    • sungheedaebak says:

      iya tuh. hae yadong ah *dipelotitin hae* *ih mau dong pelototin terus* (sarap stadium 15)
      nisa itu keren dimanapun. wkwkwkwkwk *GEPLAAAK
      aku ga cantik, aku miinah *bener2 minta dibunuh*
      hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s