[FF] Mission Possible part 2

The beginning of the end

“Kemana Henry dan Zhou Mi?” tanyaku pada Elle. Aku melepaskan kaca mataku. Dia mengedikkan bahu.

“Kurasa mereka sedang membuat rencana rahasia untuk menyelamatkan 12 experts lainnya.” Aku terdiam sambil membersihkan lensa kaca mata.

“Perang sudah dimulai?” tanya Elle. Aku mengenakan kaca mataku lagi. Lalu melirik jam tangan.

“Sudah. Sejak 2 menit yang lalu. Hah.. udara di sini pengap sekali kalau disembunyikan di bawah tanah.” Elle mengangguk menyetujui ucapanku.

“Grisel, bolehkah aku ikut perang kali ini?” tanyanya. Aku menatapnya.

“Berapa umurmu?”

“Hei, aku sudah 20 tahun! Kau lupa bahwa aku seumuran denganmu?” Elle mendengus kesal. Aku tersenyum.

“Maaf, maaf. Wajahmu terlihat lebih muda dariku,” ucapku jujur, tak mau memperpanjang. Elle terlihat tersipu. Tapi ini bukan saatnya untuk membahas masalah ini. Aku berjalan sambil mengeluarkan pistolku dan memasukkan peluru ke dalamnya. Aku menoleh pada Elle. Benteng sudah terlihat di depan.

“Serius akan turun sekarang?” tanyaku. Elle mengeluarkan pistolnya dan memasukkan peluru ke dalamnya. Sekali hentakan, pistolnya sudah siap. Dia tersenyum.

“Tentu saja. Ayo.”

Seperti deja vu. Tembak-tembakan, darah dimana-mana, mayat tergeletak begitu saja. Ck, sehabis perang ini selesai aku akan mencekik Siwon habis-habisan. Pantas saja dia menghilang! Ternyata mengerahkan pasukannya lagi. Memangnya tidak cukup 1000 pasukannya mati di perang ini dan akses internet serta telepon di negaranya rusak karena virusku? Ck, memangnya dia punya berapa juta pasukan?

Aku memicingkan mata mencari Siwon. Kalau bisa sekalian 2 orang itu. Ck, apa jangan-jangan dia di helikopter? Aku menembaki beberapa tentara yang berusaha menembakku. Ish, tanganku kena. Sialan. Aku langsung menembak orang itu dengan sekali tembakan di ulu hati. Mati. Bagus. Aku menyelinap di belakang pepohonan. Aku menggunakan teropong di leherku. Benar saja, di salah stau helikopter, terdapat Siwon yang sedang memegang senapan. Keadaan sulit. Kalau aku menembaknya, bisa saja dia mati. Aku harus mendapatkannya hidup-hidup. Kalau aku menembak helikopternya, bisa meledak dan itu memungkinkan dia untuk mati. Berarti aku harus memancingnya untuk turun dari helikopter.

Aku mengendap-ngendap mendekati helikopter. Aku memasukkan peluru baru ke pistol.

“Stop, nona manis,” ucap seseorang. Aku berbalik. Dia..ahh.. agen baru. Henry Lau. Aku mendengus.

“Kenapa setiap orang yang bertemu denganku selalu bilang aku manis? Termasuk kau. Negaramu diajari begitu ya?” ucapku sambil memutar bola mata. Henry tersenyum. Aku masih memikirkan taktik untuk menangkap Siwon dan Henry. Aku melihat dari sudut mataku, tak ada yang bisa di harapkan. Henry tersenyum puas. Dia maju mendekatiku dengan tatapan meremehkan. Tiba-tiba, Henry tersungkur dan seseorang yang mendorongnya tadi langsung memborgolnya. Oh, ternyata Marcus. Aku berlutut di hadapan Henry yang masih terduduk dan mencium ujung pistolku sambil menatapnya dengan tatapan mengejek. Henry terlihat kesal.

“Sayang sekali aku tidak menembakmu, pria tampan,” ucapku lalu mendegungkan kepalanya. Marcus langsung membawanya ke markas. Bagus, 2 lagi. Aku melihat Siwon. Dia sudah turun dari helikopter! Kenapa dia malah mempermudah? Jangan sampai aku terjebak di dalamnya..

Mataku mengunci Siwon. Keadaan sudah cukup lenggang, Siwon sendirian di sana. Aku langsung melangkah maju. Tapi tiba-tiba dari arah kiri seseorang menembakku dan mengenai samping pundakku, nyaris mengenai leher. Aku meringis kesakitan. Aku mencari pelakunya dan ternyata Zhou Mi. Cowok itu tersenyum. Aku menjulurkan pistolku dan berniat menembaknya. Tapi dari arah belakang ada seseorang yang mengurung leherku dengan tangan kirinya dan mengambil pistolku dan melemparkannya. Dia juga menempelkan pistolnya di pelipisku. Aku berusaha memberontak tapi orang itu menekan luka tembakku dengan tangan kirinya.

“Arrghh!!” erangku. Sepertinya yang melakukan hal ini laki-laki. Terlihat jelas dari kekuatannya dan tangannya. Zhou Mi mendekati kami. Dia mengarahkan pistolnya padaku. Sekarang nyawaku terancam. Pistolku dibuang, dan dua pistol diarahkan kepadaku. Apalagi luka di dekat pundakku.

“Kau tidak terlalu pintar untuk hal ini, nona Griselda Marchbanks.” Aku kenal suara itu. Siwon. Sialan.

“Hey! Lepaskan dia!!” teriak seorang laki-laki. Aku mencari sumber suara. Vincent langsung mengarahkan pistolnya ke Zhou Mi.

“Vincent, jangan!” seruku. Vincent menoleh padaku. Siwon menekan lukaku lagi. Aku berteriak kesakitan dan masih berusaha memberontak. Seorang tentara negara lawan datang dan memborgol kedua tanganku. Aku berteriak frustasi. Vincent terlihat bingung.

“Vincent, jangan membunuhnya! Dia orang yang kita butuhkan,” ucapku. Vincent lalu menurunkan pistolnya dengan berat. Matanya tak lepas dari mataku.

“Baiklah, sampai disini adegan romantisnya. Ayo, nona manis! Ikut denganku. Kita makan malam!” Siwon langsung menarikku. Vincent langsung bertindak. Dia langsung menendang ulu hati Zhou Mi, dan meninju pipi kiri Siwon. Aku terlepas. Aku berusaha melepaskan diri dari borgol ini tapi seseorang tiba-tiba menembak tangan kananku. Aku berlutut kesakitan. Ya Tuhan.. apa yang harus kulakukan? Lalu beberapa tentara datang dan menghancurkan borgol di tanganku. Mereka memberiku sebuah pistol dan langsung kugunakan dengan baik. Kami menembaki tentara lawan itu satu per satu. Kena semua. Tanganku gemetaran. Satu kali tembakan meleset. Tapi langsung ditutupi dengan tembakan lain oleh tentara pembentuk.

“Grisel awas!!” teriak seseorang. Sepertinya Griss. Baru saja aku akan waspada, seseorang telah membekapku dan menyeretku masuk helikopter. Aku melirik pelakunya dan ternyata Kibum! Bagaimana mungkin dia ada di sini?! Lalu bagaimana tawanan lainnya?

“Kim Kibum melepaskan diri! Dia membuat suatu alat yang dapat mengeluarkannya dari penjara! Dia merusak tembok penjara dan 6 tawanan lainnya melarikan diri. Termasuk Henry! Siaga dua!! Kerahkan pasukan cadangan!!” teriak Dennis.

Kibum menggoreskan pisaunya ke tangan kiriku. Lukanya memanjang. Aku mengerang. Aku sudah hampir mati kehabisan darah.

“Sekarang kau merasakan apa yang Hyukjae rasakan!” ucapnya penuh rasa dendam. Kepalaku terasa pening dan mataku mulai berkunang-kunang. Tubuhku sudah lemas. Aku dimasukkan ke helikopter lawan dalam keadaan tak sadarkan diri.

Saat aku membuka mata, aku sudah duduk di kursi besi. Dan di dalam sebuah tabung. Tabung yang sempit namun tinggi. Aku tidak bisa melihat atas tabung ini. Aku menggerakkan tanganku namun tidak bisa. Kedua tangan dan kakiku diikat erat ke kursi. Tampaknya kursi listrik. Agak panas duduk disini. Sepertinya kursi ini baru dipakai. Dan lantainya..basah. Aku melihat ke sekeliling ruangan besar ini. Ruangan serba hitam. Tak jauh dari tabung ini terdapat sebuah komputer. Aku menatap kabelnya dan ternyata komputer itu terhubung dengan tabung ini. Aku menelan ludah. Kita lihat apa yang terjadi.

Pintu besar di hadapanku terbuka lebar. Sekitar 7 orang laki-laki memasuki ruangan. Salah satu langsung duduk di depan komputer, sedangkan yang lain menghampiri tabung. Mereka semua menyeringai. Jantungku berdegup kencang. Firasatku tidak enak. Di hadapanku ada Siwon, Zhou Mi, Henry, Hangeng, Jungsoo, Kangin, dan Kibum di depan komputer. Sisanya masih ada di markasku.

“Hm.. sekarang tinggal pilih. Mau duduk nyaman di kursi listrik atau berenang di dalam tabung?” tanya Hangeng. Nafasku memburu. Gawat.

“Ahh.. kau pasti ingin membusuk di dalam sana?” tanya Jungsoo. Aku menelan ludah.

“Sekarang beri tahu kami, dimana kau letakkan virusmu itu?” Siwon memulai.

“Aku tidak tahu! Adiknya Hyukjae mengambilnya dariku!” ucapku. Mereka terlihat kesal. Tiba-tiba dari atas turun air, membasahi sekujur tubuhku. Air itu berhenti. Sekarang mata kakiku sudah terendam air. Air yang merah karena darahku sendiri. Luka yang tadi tidak mereka obati. Aku menatap mereka marah. Kaca mataku entah dimana. Meski begitu aku masih bisa melihat dengan jelas karena kaca mata yang aku gunakan hanya berfungsi untuk melindungi mataku dari debu. Aku mengibaskan rambutku yang basah. Aku menatap mereka dengan tatapan penuh amarah.

“Kibum, tambah!” seru Siwon. Kibum menekan sesuatu di keyboard komputer dan lagi-lagi air turun membasahiku. Kali ini mencapai tulang keringku. Nafasku makin memburu.

“Kau tahu itu kursi listrik?” ujar Kangin. Aku mengangguk.

“Dan kau tahu jika terkena air kursi itu akan menyetrum?” tanya Zhou Mi. Aku mengangguk lagi.

“Kalau begitu beritahu kami dimana virus itu dan kau tidak akan mati konyol di sana.” Henry mengancamku. Aku menatapnya garang.

“Maaf, pria tampan. Aku sendiri tidak tahu dimana virus itu.” Lagi-lagi air turun. Kali ini lututku sudah tergenang oleh air.

“Kalau kursimu sudah mencapai atas kepalamu, kau akan mati karena kursi itu akan menyetrum.” Hangeng menjelaskan. Aku hanya terdiam.

“Aku tidak butuh penjelasanmu.” Aku menantang. Kangin berdecak kesal. Kibum menambahkan airnya lagi. Kali ini airnya tidak berhenti. Terus menambah, merendam perutku. Dan masih naik lagi. Mendekati dada. Aku memberontak.

“Lima menit lagi kau tenggelam. Bersiap-siaplah.” Kibum berkata dengan ringan. aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tanganku. Tapi tak bisa. Tanganku masih gemetaran dam lemas. Aku menghela nafas. Lalu aku mencoba lagi. Air yang turun makin deras. Aku sudah kesulitan bernafas. Tenagaku sudah habis. Airnya sudah mencapai leherku.

“Kalau kau ingin selamat, cepat katakan dimana virusnya!” bentak Kangin. Aku menggeleng.

“Aku tidak tahu,” ucapku sambil berusaha menggapai udara. Air sudah mencapai bibir bawahku. Semakin lama air semakin cepat naik. Sudah mencapai hidungku. Aku menarik leherku agar bisa menggapai udara. Susah sekali menghirup udara di dalam tabung berisi karbondioksida ini. Apalagi air terus turun dari atas kepalaku.

“Kumohon..lepaskan aku!” teriakku parau. Airnya sudah mencapai kantung mata. Aku tidak bisa bernafas. Aku berjinjit-jinjit untuk mengambil udara. Percuma. Akhirnya aku menarik nafas panjang dan menahannya. Air sudah mencapai keningku. Sudahlah. Biar saja aku tenggelam di air bercampur darah ini. Air pun sudah mencapai ujung rambutku dan tiba-tiba..

BRAAAKK

Seseorang membawa mobil masuk dan langsung menabrakkan mobilnya ke tabung ini. Dan aku pun langsung menghirup nafas panjang. Kursi ini hancur. Aku terlepas. Ikatannya saja yang masih menempel di tanganku. Yang di kaki terlepas. Aku terbatuk-batuk. Aku berusaha mengatur nafasku ketika samar-samar kulihat orang yang mengemudikan mobil tadi memborgol ke tujuh lelaki itu. Ternyata tentara-tentara pembentuk. Dan dipimpin oleh Vincent. Ketiga lelaki itu dimasukkan ke mobil besar itu. Vincent langsung berlari menghampiriku.

“Kau tak apa?” tanyanya. Aku masih berusaha mengatur nafas. Vincent lalu membantuku masuk ke mobil. Kami langsung menuju markas utama negara pembentuk.

“Ya ampun, Grisel! Ada apa denganmu, sayang?” tanya Caroline saat aku dipapah masuk. Kelima belas tawanan itu sudah dimasukkan ke penjara yang lebih aman dan kuat di ruang bawah tanah. Aku langsung didudukkan di ranjang medis. Caroline adalah salah satu petugas medis. Dia yang mengobati agen-agen yang terluka. Tentu saja bersama banyak petugas lainnya. Aku masih meringis kesakitan. Luka di tubuhku rasanya makin sakit saja.

“Dia tertangkap oleh negara lawan dan ia disiksa disana. Di sini luka tembak, di sini juga. di sini goresan pisau. Dia dimasukkan ke sebuah tabung yang diisi oleh air. Ia hampir mati kalau kami tidak cepat menolongnya,” jelas Vincent panjang lebar. Caroline terlihat sangat terkejut. Dia langsung menatapku prihatin.

“Ya Tuhan.. kau harus diberi perawatan intensif!”

“Tidak usah! Negara lawan masih akan menyerang! Aku harus ikut perang lagi.” Suaraku terdengar serak. Caroline membelalakkan matanya.

“Apa katamu? Kau mau berperang dalam keadaan babak belur begini?!” seru Caroline. Aku menatap meja di sampingku dengan kesal.

“Lagipula sehabis diobati olehmu juga pasti sembuh.” Aku memberikan alasan. Caroline melipat tangannya dan mendengus kesal.

“Untuk perang selanjutnya, kau tidak boleh ikut! Sini, kuobati lukamu. Caterine, bantu aku!” Saudari kembarnya pun datang dan mereka berdua mengobati luka-lukaku. Sakit sekali rasanya. Aku sampai harus menggigit bantal agar meredam teriakanku. Vincent memegangi tanganku yang terus berontak. Sekitar beberapa menit kemudian akhirnya luka-lukaku sudah diperban.

“Untung saja tidak ada peluru yang bersarang di sini.” Caroline menunjuk pinggir pundakku dan tanganku. Aku hanya diam.

“Griss mana? Michelle? Fay?” tanyaku.

“Euh.. kalau tidak salah mereka ada di lobby tadi. Terakhir kulihat mereka ada disana.” Aku mengangguk-angguk. Syukurlah mereka selamat.

“Elle bagaimana? Callula?” tanyaku lagi. Vincent tersenyum.

“Tenag saja. Mereka semua selamat. Hanya beberapa tentara yang tewas.”

“Spencer? Marcus? Jeremy? Dennis?” ucapku mengabsen.

“Mereka selamat.” Vincent tersenyum menenangkan. Aku menghela nafas lega. Caroline akan memasangkan infus padaku. Aku terkejut dan memberontak lagi.

“Kau mau apa? Aku tidak perlu iinfus!” seruku. Caroline terlihat kesal. Caterine menyiapkan jarum suntik.

“Kalau begitu disuntik?”

“Apapun asal jangan infus.”

“Baiklah.” Caterine pun menyuntik lenganku. Selesai. Setidaknya tidak ada selang yang menjuntai dan mengganggu.

“Vincent, kemari sebentar,” panggil Marcus. Vincent pun menghampiri Marcus. Marcus tersenyum sekilas padaku. Aku membalas senyumnya. Marcus dan Vincent berpapasan dengan Griss, Michelle, dan Fay di pintu. Mereka bertiga langsung tersenyum melihatku. Aku pun duduk di atas ranjang dan membalas senyum mereka. Kulihat terdapat goresan memanjang di pipi kanan Griss, lalu tangan kanan Fay diperban, dan Michelle tidak mendapat luka apa pun. Seperti biasa ia mengontrol komputer.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Fay.

“Baik. Mungkin. Caroline mengobatiku dengan kasar sekali!” ucapku sedikit berbisik. Mereka bertiga tertawa.

“Grisel kalau kau membicarakan tentang aku di belakangku, nanti kau kuinfus!” Tiba-tiba terdengar suara Caroline. Aku mengedipkan mata, terkejut. Mereka mertiga tertawa lagi.

“Jadi bagaimana tawanan kita? Sudah diberitahu tugas mereka?” tanyaku.

“Kurasa kekerasan tidak akan menang.” Michelle berkata. Aku menatapnya.

“Lalu bagaimana?”

“Sepertinya kita harus membicarakannya baik-baik. Kalau mau nanti malam.” Aku mengangguk-angguk.

“Bisa dicoba.”

Malamnya, sesuai yang dijanjikan kami berkumpul di ruang rapat utama. Ruangan yang besar dan terdapat meja oval besar di tengahnya. Ada komputer juga. Dan tak lupa, proyektor. Michelle yang akan memimpin rapat kali ini. Sial sekali aku harus menghadiri rapat dengan keadaan diperban begini. Aku duduk diujung. Di hadapanku ada kelima belas tawanan dan Fay juga Griss. Tempat duduk Michelle tepat di seberangku. Kami semua masih diam.

“Pertama-tama, mari kita ikuti rapat kali ini dengan perasaan damai dan tak ingin membunuh satu sama lain.” Michelle memulai. Kami semua tersenyum tipis. Kecuali Kangin. Dia sedang sibuk meminum wine di hadapannya. Sungmin langsung mengambil gelas wine dari Kangin sebelum pria itu mabuk.

“Nah, sekarang kami sedang melakukan gencatan senjata. Bukan berarti kami mengaku kalah. Kami hanya ingin bicara baik-baik dengan kalian sekarang, dimohon jangan memotong kata-kata saya,” ucap Michelle cepat sebelum experts negara lawan memprotes. Ruangan hening. Michelle mengangguk puas.

“Kedua,  kami tidak akan meminta maaf pada kalian karena di antara kita semua tidak ada yang salah! Urusan virus buatan Grisel akan dibahas kali ini. Sekarang Grisel akan menyampaikan sesuatu pada kalian, experts yang terhormat.” Michelle mempersilahkanku. Aku mengangguk dan memajukan dudukku.

“Well, selamat malam semuanya. Saya hanya akan menegaskan bahwa saya tidak akan menyiksa kalian lagi karena saya sudah melupakan kasus pencurian virus tersebut. Saya mengajak kalian bekerja sama untuk menghancurkan negara asing. Beberapa orang akan bertugas mencari virus tersebut, dan yang lainnya membuat formula baru untuk menghancurkan negara asing. Ciptakan senjata baru. Kami mengajukan ide kerja sama ini disertai surat. Ini suratnya, silahkan di tanda tangani.” Aku menyodorkan map berisi surat. Jungsoo menerimanya. Dia memperhatikan ekspresi experts yang lainnya. Semuanya mengangguk setuju. Aku mengulum senyum ketika Jungsoo menandatangani surat tersebut. Kami pun berjabat tangan.

“Terima kasih. Dengan begini, VR resmi bekerja sama dengan SJ.” Michelle mengumumkan. Kami semua tersenyum. Ternyata menyelesaikan masalah tanpa kekerasan adalah jalan yang terbaik. Kami pun bersulang. Meski kami sudah bekerja sama, tetap saja masih ada ekspresi tidak suka dari beberapa orang.

“Nah, Yesung, Hyukjae, Jungsoo, Heechul, Kangin, Shindong, Elle dan Griss kelompok pencari virus yang hilang,” ucapku. Mereka mengangguk.

“Hangeng, Sungmin, Donghae, Siwon, Kibum, Ryeowook, Kyuhyun, Grisel dan aku akan membuat formula baru. Siap?” Michelle melanjutkan kata-kataku.

“Bagaimana dengan kami?” tanya Zhou Mi dan Henry.

“Zhou Mi, Henry, Fay, Spencer, dan Callula akan membuat taktik perang. Bagaimana? Setuju semua?” Griss menjelaskan. Semuanya mengangguk. Tak ada yang protes. Bagus.

“Kalau begitu.. ayo kita mulai sekarang!” komdandoku. Kami pun mulai berpencar. Aku dan kelompokku mulai berunding di ruang rapat yang lebih kecil dari ruangan yang kemarin. Kami duduk berkeliling.

“So, senjata apa yang akan kita buat?” Donghae memulai. Aku merapihkan blazer 10 cm di atas lututku. Lalu aku menatapnya.

“Eng.. bagaimana kalau kita buat semacam bom?” saran Kibum. Tatapanku beralih pada Kibum.

“Bom? Bom atom?” tanyaku. Kibum mengangguk.

“Semacam itulah,” ucapnya.

“Menurutku sebaiknya kita membuat sesuatu yang bisa menghancurkan negara asing itu dengan sekali serang.” Itu saran yang keluar dari mulut Kyuhyun.

“Ah…aku ada ide,” kata Sungmin. Semua menatapnya. Sungmin tersenyum.

“Kita membuat.. SV-413 Bazooka.” Agen VR menatapnya heran. SJ menatapnya dengan tatapan kaget.

“Kau yakin?” tanya Hangeng. Agen SJ yang ada di situ terlihat menyetujui pertanyaan Hangeng. Sungmin mengangguk yakin.

“Hei, memangnya ada apa dengan SV-413 Bazooka itu?” tanyaku. Ryeowook menatapku.

“Itu senjata lama yang sudah terkubur sekitar 200 tahun lamanya. Senjata itu tidak boleh digunakan lagi karena efeknya sangat dasyat.” Begitu kata Ryeowook.

“Sekali tembak, akan keluar 5 peluru. Masing-masing peluru akan mengeluarkan gas berbahaya saat ditembakkan. Dan jika terkena tanah, akan meledak sampai mencapai jarak 4 km,” sambung Siwon.

“Hanya menggunakan satu senjata itu saja setengah negara yang diserang sudah hancur,” Donghae melanjutkan. Aku dan Michelle terpana. Para exsperts SJ terlihat ragu. Tapi aku bersemangat.

“Hei, bukankah itu bagus? Kita bisa menghancurkan mereka dengan cepat!” ucapku. Sungmin mengangguk. Kyuhyun terlihat ingin membantah.

“Memang bagus, tapi berpikirlah sedikit. Negara asing yang akan kita serang tidak berdiri sendiri. Mereka mempunyai beberapa negara yang akan membantu mereka. Sekitar 5 negara. Negara-negara tersebut mempunyai senjata yang jauh lebih dasyat dari SV-413 Bazooka. Senjata mereka juga tidak boleh digunakan. Kalau kita menggunakan SV-413 Bazooka, mereka akan mengeluarkan senjata lama mereka juga.” Kyuhyun menjelaskan panjang lebar. Aku membuka mulut tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Michelle terlihat berfikir.

“Kau mau menciptakan perang dunia?” tanya Donghae, agak kesal. Aku menimbang-nimbang. Benar juga. Ini sama saja seperti melempar boomerang. Musuhmu kena, boomerang itu tidak akan kembali padamu. Musuhmu tidak kena, boomerang itu akan kembali padamu. Mungkin lebih kencang balasannya karena musuhmu tahu kau ada di sana dan melemparkan boomerang pada mereka. Tapi bagaimana kalau boomerang itu mengenai musuh dengan sempurna?

“Aku akan mencoba SV-413 Bazooka,” tegasku. Semua menatapku kaget. Aku mengangguk meyakinkan.

“Apa kau tidak pernah mendengar sejarah SV-413 Bazooka itu?” tanya Michelle.

“Bukankah tadi kita dengar sendiri dari mereka?” tanyaku balik.

“Bukan. Apa kau tidak tahu bahwa gas beracun dari SV-413 bisa membunuh penembaknya sendiri?” tanya Michelle. Aku terdiam. Aku lalu menatap Siwon.

“Kau yang bilang sendiri kehebatan SV-413 itu. Kau tahu siapa yang menembakkan senjata itu?” tanyaku.

“Ya.” Siwon menjawab.

“Dia masih hidup?”

“Masih,” jawabnya. Aku tersenyum puas. Aku lalu menatap Michelle.

“Kau mau ambil resiko?” tanya Michelle.

“Dalam perang, tak ada yang tak beresiko,” ucapku ringan.

“Baiklah kalau itu maumu…” ucap Michelle. “Sungmin, bantu kami membuat SV-413 Bazooka.”

Sementara itu, tim pencari virus yang hilang..

“Virusnya tidak terlacak di radar mana pun. Seakan hilang ditelan bumi.” Yesung berkata. Yang lain menyetujui.

“Ini aneh. Aku jadi meragukan virus itu sebenarnya ada atau tidak..” celetuk Heechul. Hyukjae terlihat lebih pendiam dari yang lainnya. Shindong langsung menghampirinya. Dia merangkul pundak sahabatnya itu.

“Aku tahu kau keberatan. Tapi ayolah, setidaknya hubungan VR dan SJ sudah semakin membaik.” Shindong berbisik di telinga Hyukjae.

“Bukan itu. Hanya saja.. rasanya aku merasakan bahwa adikku masih hidup. Saat menjejakkan kaki di sini rasanya aku merasakan kehadiran adikku juga.” Hyukjae berbicara dengan pelan. Shindong tersenyum.

“Hanya sugesti,” ucapnya meyakinkan. Akhirnya mereka melanjutkan pencarian. Mereka berusaha mencari petunjuk namun sia-sia. Virus itu seperti menghilang bersamaan dengan menghilangnya adik Hyukjae. Tak ada yang tahu kemana perginya.  Hyukjae menatap tanah kosong, tempat terjadinya pembunuhan itu.

“Lee Hyocan, aku yakin kau masih hidup,” bisik Hyukjae.

Di ruang rapat, Sungmin terlihat sedang menjelaskan bagaimana cara SV-413 Bazooka bekerja. Dia menunjuk-nunjuk bagian SV-413 yang tertera di layar. Kami memang sedang menggunakan proyektor agar lebih mempermudah penjelasannya.

“Kurasa aku akan menambahkan pelindung di SV-413 Bazooka ini.” Sungmin menambahkan. Kami semua mengangguk-angguk.

“Baik. Mari kita buat bersama-sama!” Michelle menegaskan. Tiba-tiba jam digital di tanganku berbunyi. Aku tertegun ketika melihat nama Hyukjae di ‘layar’. Aku menjawab dengan ragu-ragu.

“VR 04 di sini. Ada apa?” tanyaku. VR 04 itu nicknameku. Michelle mempunyai nick: VR 01, Griss: VR 02, Fay: VR 03, dan begitu seterusnya. Kami memang menggunakan nick itu kalau sedang berkomunikasi dengan alat.

“SJ 08, tim pencari kesulitan. Virus menghilang tanpa jejak.” Aku terdiam.

“SJ 09 di sini, aku akan membuatkan robot pelancak untuk kalian.” Donghae tiba-tiba menarik tanganku dan bicara pada Hyukjae lewat alat itu. Aku mendesah kesal.

“SJ 08, oke. Kami tunggu. Kami sedang berada di markas SJVR.” Aku heran.

“VR 04, hei, kapan ada markas seperti itu?”

“SJ 08. Maksud kami, kami sedang berlindung di sebuah gudang bekas. Di sini hujan.”

“VR 04. baiklah, terserah. Tunggu sambil terus mencari.” Pip. Jam digital ku matikan.

Aku menatap yang lain. Lalu kami mengangguk dan mulai membuat SV-413 Bazooka. Terkecuali Donghae yang sedang membuat robot pelacak.

Seminggu kemudian SV-413 Bazooka sudah selesai. Kami membuat 10 unit. Robot sudah dibuat namun tim pencari belum menemukan virusnya. Akhirnya kami semua sedang bersiap mendengarkan taktik perang dari tim pembuat taktik perang.

“SV-413 Bazooka?” tanya Fay. Kami mengangguk. “Oh..baiklah.. kurasa taktik perang yang kita buat sudah cukup baik. Yang membawa SV-413 Bazooka akan menaiki helikopter dan 5 buah SV-413 akan dipasang di 5 pesawat jet tanpa awak. Michelle yang akan mengendalikan pesawat jet itu, dibantu dengan Jeremy dan Marcus. 5 orang yang membawa SV-413 Bazooka harus laki-laki. Aku percayakan ini pada Spencer, Kangin, Jordan, Sungmin, dan Vincent. Sisanya akan menyerang di sini.. lalu menghalau lawan. SV-413 Bazooka akan menghancurkan negara asing, sisanya kita bunuh tentara mereka dengan 300 tank baja ini, 20 unit helikopter, 5000 senapan, dan beberapa membawa pistol cadangan. Jelas?” Semua mengangguk.

“Baiklah. Radar menunjukkan musuh sudah mendekat. Bersiap ke posisi dan kita mulai permainan ini.”

To Be Continued

13 thoughts on “[FF] Mission Possible part 2

  1. haeny_elfishy says:

    di ff ni member suju keliatan keren, macho, cool, genius, pokoknya TOP bgt ! tp kalo aslinya . . . . hahaha
    ga ada yg ga sarap, kekeke
    tambah seru nih ! *kabur lagi kpart lanjutnya*

    • sungheedaebak says:

      err sama gitu? #GEPLAK saya juga bingung😄 kalo gak salah sih mereka ini ada masalah apa gitu jadi dua agen itu berantem. masalahnya apa ya lupa. hahahaha ini dah lama banget sih jadi udah lupa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s