[FF] Mei Lin

Namaku Mei. Aku punya saudara kembar bernama Lin. Tapi keadaan kembaranku tidak seperti aku. Kedua matanya buta sejak lahir. Kedua kakinya lumpuh. Tubuhnya sangat lemah. Sedikit-sedikit dia harus beristirahat jika tidak mau menginap di RS. Selama ini aku yang merawatnya. Selama ini aku yang menjaganya. Selama ini aku yang menghiburnya. Dan selama ini pula aku yang menceritakan keadaan dunia luar padanya. Orang tua kami juga menjaganya dengan sepenuh hati. Kami bergantian bercerita tentang jadwal sehari-hari dan dunia luar. Meski banyak kekurangan, Lin tidak pernah mengeluh. Dia selalu ceria. Dia tidak mau membuat orang lain sedih hanya karena dia. Kami sangat sayang padanya. Jika dia harus didonorkan darah, maka aku senantiasa mendonorkan darahku padanya. Kami seperti satu. Darahku darahnya juga. Mataku matanya juga. Kakiku kakinya juga. Tubuhku tubuhnya juga. Aku selalu memberikan segalanya untuknya.

Suatu hari aku dan Lin sedang duduk berdua di kamar. Aku baru saja selesai menceritakan kehidupanku di sekolah tadi.

“Mei…” Lin berbisik di dekatku. Kepalanya bersandar ke pundakku.

“Ya, Lin?” Tatapanku lurus. Aku menggigit bibir bawahku. Rasanya aku ingin menangis. Aku…hampir sering menangis jika berada di dekatnya. Meski dia tidak bisa melihatku menangis, tapi dia mendengar aku menangis. Indranya yang lain menjadi lebih tajam dibanding manusia normal lainnya. Pendengarannya sangat tajam. Dia meraba dimana aku dan dia mengusap air mataku lembut. Dia selalu bilang, “Tidak apa-apa. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Aku langsung tersenyum. Andai dia tahu, bahwa umurnya hanya sampai usia 17. Dan sekarang kami berumur 16. itu yang membuatku menangis terus.

“Mei…aku ingin sekolah.” Lin berkata lirih. Aku masih terdiam.

“Aku juga pasti sangat senang jika kau ikut sekolah bersamaku, tapi kau tidak bisa sekolah.”

“Aku mengerti.” Lin menghela napas. Aku merasakan mataku menghangat. Aku tidak boleh cengeng. Aku langsung mengusap air mataku.

“Mei, kau tidak menangis kan?”

“Tidak. Aku tersenyum.”

“Baguslah. Aku tidak senang kalau kamu menangis.”

“Aku tidak akan menangis lagi.” Aku mengelus kepalanya pelan. Di luar sedang hujan gerimis. Aku langsung memberitahu keadaan itu pada Lin.

“Hujan ya? Bagaimana bentuk hujan? Seperti apa?”

“Hujan itu…bentuknya air yang turun ke bumi dalam jumlah banyak. Hmm…pokoknya hujan itu indah. Setelah hujan kita bisa melihat pelangi yang berwarna-warni.” Aku berkata dengan nada ceria. Berharap Lin terhibur. Lin mengangguk-angguk tanda paham.

“Lalu…warna favoritmu apa?” Lin bertanya lagi. Aku berpikir sejenak.

“Biru langit. Biru muda juga oke.”

“Warna biru itu bagaimana, Mei? Aku ingin melihat warna yang kau sukai.”

“Ok! Akan kukirimkan warna biru itu lewat mimpi kita nanti malam.” Aku tertawa. Lin ikut tertawa.

——————————–

Aku sampai di sekolahku. Aku berjalan lambat. Aku ingin terus menamani Lin di rumah. Tapi aku harus sekolah. Aku harus menceritakan kehidupanku di sekolah hari ini pada Lin.

“Hai, Mei!” sapa seorang laki-laki. Dia Henry. Laki-laki yang kusukai. Dia tersenyum lalu menghampiriku. Dia berjalan di sampingku. Aku tersenyum.

“Mei, hari ini katanya ada ulangan fisika dadakan lho! Aku taunya dari anak kelas sebelah. Kau sudah belajar?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia tampak takjub.

“Wow…rajin sekali!” Tentu saja, gumamku. Aku harus mendapatkan beasiswa untuk biaya sekolahku. Uang orang tuaku sudah menipis untuk biaya pengobatan Lin. Aku harus membiayai kehidupanku semampuku.

“Aku kan ingin mendapat beasiswa.” Aku berterus terang. Henry mengangguk 3 kali. Dia lalu merangkulku.

“Hei, kau kan pencerita yang baik, nanti kau ceritakan tentang kehidupanmu ya!” Aku tersentak.

“Apa?! Kenapa?” Henry tampak heran melihat tanggapanku.

“Memangnya kenapa? Ceritakan ada siapa saja di keluargamu. Ayolah aku ingin tahu! Please….” Henry memasang tampang memohon. Hatiku luluh juga. Akhirnya aku mengangguk. Henry tersenyum senang.

“Makasih! Kau memang sahabatku yang paling baik!” Henry masih terus merangkulku. Dia memang begitu ke semua orang. Dia orang yang supel. Orang pun nyaman berada di dekatnya.

————————————-

Istirahat siang aku dan Henry duduk bersama di salah satu meja di sudut ruangan. Sambil makan aku bercerita tentang keluargaku.

“Aku punya saudara kembar.” Aku memulai ceritaku. Henry terkejut. Sendok yang dipegangnya terjatuh ke piring.

“Kau punya saudara kembar? Masa? Kenapa kau tidak pernah cerita?” Henry memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dia mengunyah masih tetap menatap padaku. Menungguku bercerita kembali. Aku menelan makanan yang ada di mulutku lalu aku kembali bercerita.

“Namanya Lin. Dia…berbeda dengan orang lain. Kedua matanya buta dan kedua kakinya lumpuh. Tubuhnya sangat lemah. Dia harus selalu beristirahat jika tidak mau menginap di rumah sakit. Tapi meskipun dia punya banyak kekurangan, dia tidak pernah mengeluh. Dia selalu ceria dan menghiburku saat aku sedih. Dia tidak pernah meminta macam-macam. Dia orang yang menerima apa adanya. Aku sekeluarga sangat sayang padanya. Tetangga pun menyukainya karena sifatnya yang bagus.” Aku tersenyum saat membayangkannya. Di pikiranku terlintas wajah Lin. Henry terlihat menaruh simpati pada ceritaku. Piring kami berdua sudah kosong sedang jam istirahat masih ada 15 menit lagi. Aku pun lanjut bercerita.

“Dia selalu bertanya tentang kegemaranku. Dia bertanya apa warna kesukaanku. Aku pun menjawabnya. Warna kesukaanku biru. Dia langsung bertanya seperti apa warna biru itu? Aku menjawabnya sambil tersenyum. Aku bilang, aku akan mengirimkan warna biru itu ke mimpi kita nanti malam. Dia tersenyum. Senyum yang berbeda denganku. Senyum yang jauh lebih ceria dibanding senyumku.” Henry terdiam menatapku. Mataku hangat. Rasanya ingin menangis kalau ingat dia hanya akan tinggal di dunia ini selama 3 bulan lagi. 3 bulan lagi ulang tahun kami yang ke 17.

“Kau saudara kembar yang baik. Dan kembaranmu juga sangat baik. Aku suka kalian berdua. Sifat kalian sama baiknya meski tubuh kalian beda kekuatannya.” Henry terlihat terharu. Dia tersenyum menatapku.

“Hei, Lin pasti akan senang jika aku menceritakan tentangmu. Dia selalu bertanya tentang sahabat lelakiku. Ya, aku pernah menceritakan kalau aku punya sahabat laki-laki yang bernama Henry. Itu saja. Kurasa dia akan senang.” Aku dan Henry tersenyum. Bel berdering. Aku dan Henry berjalan ke kelas kami.

——————————–

“Aku pulang.” Aku melihat sekeliling. Mana Lin?

“Mama, dimana Lin?” tanyaku pada mama yang sedang berada di ruang kerjanya.

“Ada di kamar.” Mama tidak menoleh padaku. Aku mengangguk lalu berjalan keluar ruang kerja.

“Mei, kalau mau makan ada makanan kok di meja makan. Tadi mama dan Lin yang membuatnya.”

“Apa? Lin memasak?” Aku terkejut. Mama tersenyum.

“Dia sendiri yang memaksa. Tenang saja, hanya yang ringan-ringan saja yang dilakukannya. Itupun atas arahan tetangga yang lagi mampir.” Aku ber-o ria. Aku pun berjalan ke kamarku dan kamar Lin. Lin sedang duduk bersandar di tempat tidur. Dia menoleh ke arahku seakan menyadari kehadiranku. Dia memang menyadari kehadiranku.

“Mei! Akhirnya kau pulang!” Lin tersenyum senang. Aku ikut tersenyum. Aku langsung duduk di sebelah Lin tanpa mengganti baju seragamku dulu. Aku sudah kangen padanya. Aku ingin bercerita tentang Henry.

“Lin, tadi di sekolah aku mengobrol dengan Henry lho! Itu lho, sahabatku sekaligus orang yang kusukai. Masa waktu aku baru masuk ke sekolah, Henry langsung menyapaku dan merangkulku. Wuaahh…rasanya seperti mau meledak!” Lin tertawa mendengarnya. Aku tertawa sebentar lalu melanjutkan.

“Terus, waktu istirahat sekolah kami duduk berdua di satu meja dan membicarakan tentang hal yang menarik. Sangat sangat menarik. Kau tahu apa yang kita bicarakan?” Aku diam sejenak. Menunggu Lin yang terlihat berpikir. Lin kemudian menggeleng.

“Kalian membicarakan apa?” Lin tampak antusias. Aku semakin semangat melihatnya menyukai ceritaku. Dia seperti diaryku.

“Kami berbicara tentang….jangan kaget ya…kami berbicara tentang kamu, Lin!” Lin terlihat terkejut lalu senang.

“Apa saja yang kalian bicarakan?” Lin terlihat semakin semangat. Dia menggeser letak duduknya menjadi lebih merapat padaku.

“Aku berbicara tentang kehidupan kita. Tentang sifatmu yang baik. Dia terlihat antusias ketika aku menceritakanmu! Kurasa dia menyukaimu.” Hatiku sakit saat mengatakannya. Lin terdiam.

“Tidak mungkin dia menyukaiku.”

“Eh, dia bilang sendiri lho! Dia bilang dia menyukai kita berdua! Kita berdua, Lin! Bukan aku saja!” Kurasakan nada bicaraku sangat ceria. Lin tersenyum senang.

“Lalu ada kejadian apa lagi di sekolah?”

“Hmm…tadi tiba-tiba ada tes fisika mendadak. Kalau aku sih tenang-tenang saja karena sudah belajar. Tapi coba kau bayangkan ekspresi anak satu kelas. Kacau! Ya. Sangat sangat kacau. Mereka terlihat stress karena mendapat tes dadakan. Apalagi gurunya tidak mau berhenti memelototi murid satu persatu. Menyontek pun jadi tidak bisa! Kasihan sekali ya! Hahahaha.” Lin ikut tertawa bersamaku. Dia menikmati saat-saat seperti ini. Dia memeluk lenganku lalu kepalanya disandarkan di bahuku.

“Mei, kau sedang memakai seragam ya?” tanyanya.

“Ya.”

“Seperti apa corak dan warna seragammu?”

“Seragamku hari ini berwarna hijau muda dengan rok kotak-kotak hijau tua. Dilengkapi sweater tanpa lengan warna hijau kecoklat mudaan. Euh…apa ya bilangnya? Ya pokoknya warna yang manis. Kuharap kau bisa melihatnya suatu saat nanti.” Lin tersenyum mendengar perkataanku yang kacau balau.

“Kenapa kau belum berganti baju? Bau lho!” Aku tertawa menanggapi candaan Lin. Lin melepaskan pelukannya dan kepalanya dari pundakku. Dia mendorongku. Menyuruhku berganti baju.

“Baiklah, aku ganti baju dulu. Jangan ngintip ya!” Aku tertawa kecil. Lin ikut tertawa. Bagaimana mungkin dia bisa mengintipku.

———————————–

Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Aku punya firasat buruk pagi ini. ah tapi sudahlah. Mungkin nanti ada tes dadakan lagi.

Lagi-lagi Henry menyapaku. Dia menanyakan kondisi Lin. Aku menceritakan tentang kemarin. Kali ini aku harus bercerita untuk dua orang. Siang untuk Henry dan sore dan malam untuk Lin. Tapi aku senang. Henry tampak takjub dengan ceritaku.

“Wah, aku penasaran dengan kembaranmu. Dia mirip denganmu? Kembar identik?”

“Ya.”

“Wow….aku ingin sekali melihatnya.” Aku hanya tersenyum. Mulai kemarin, setiap kami bicara pasti topiknya adalah Lin. Henry selalu menanyakan Lin. Dia tertarik pada Lin. Aku sendiri selama ini masih senang-senang saja karena ada yang menyukai saudara kembarku. Meskipun orang itu adalah orang yang kusukai. Tak apa. Aku bisa mencari lelaki lain.

Jam ke 3 sudah dimulai. Dugaanku tadi pagi tepat. Ujian dadakan lagi. Kali ini IPS. Ponsel dikumpulkan ke guru.

Tinggal 5 nomor lagi. Tiba-tiba Hpku berdering. Ada telepon masuk. Guru itu langsung melihatnya dan mengangkatnya. Mereka terlibat percakapan yang serius. Lalu guru itu memanggilku. Aku berjalan ke arah guru itu sambil terheran-heran. Guru itu memberikan ponselku padaku. Aku menjawabnya.

“Halo?” ujarku was-was. Jarang-jarang mama meneleponku saat jam pelajaran.

“Mei?”

“Ya, ma. Ada apa?”

“Mei, Lin masuk ke rumah sakit 3 jam yang lalu. Dia sedang berada di kamar 385. Keadaannya cukup kritis. Kalau bisa kau kesini secepatnya. Dia selalu memanggil namamu, Mei.”

“Ah baik, ma. Aku akan segera ke sana.”

Aku menutup teleponnya dan memberikannya lagi pada guru. Guru itu tersenyum dan bertanya.

“Ada apa? Kau terlihat pucat.”

“Saudara kembarku sakit. Dia sedang dirawat di rumah sakit. Keadaannya kritis. Aku harus segera kesana.”

“Awas nilaimu. Berapa soal lagi?”

“Tinggal 5. Tenang saja. Aku menjawabnya dengan sungguh-sungguh.” Guru itu tersenyum. Aku berlari ke bangkuku lalu langsung mengerjakan soal yang tersisa. Selama 1 menit aku sudah selesai dan sedang berjalan mencegat taksi. Napasku ngos-ngosan. Taksi pun berhenti di hadapanku. Aku langsung naik ke kursi belakang. Setelah menyebtukan nama rumah sakit yang dituju, taksi pun meluncur kencang di jalanan yang agak renggang.

Sampai di rumah sakit aku langsung menuju kamar 385. Di depan kamar mama dan papa sedang duduk menunggu. Aku berlari ke arah mereka.

“Bagaimana keadaan Lin?” tanyaku. Napasku masih ngos-ngosan. Mama menenangkanku dulu.

“Sudah lebih baik daripada sebelumnya.” Mama tersenyum menghiburku. Papa berdiri mendekati kami.

“Papa harus bekerja lagi.” Mama mengangguk. Papa mengecup keningku.

“Jaga saudaramu,” ucapnya. Aku mengangguk mantap. Kami menatap papa sampai menghilang di belokan lorong rumah sakit.

“Ma, Lin kenapa?” Mama menghela napas.

“Lin tiba-tiba pingsan. Dokter bilang dia hanya kekurangan darah. Hanya saja karena kondisinya dari lahir sudah buruk, sakit yang sederhana jadi parah.”

“Apa dia membutuhkan darahku lagi?” tanyaku cemas. Mama menghela napas lagi lalu mengangguk.

“Kapan aku bisa memberikan darahku?” Aku berkata dengan nada terburu-buru. Mama bertanya pada dokter dan dokter menjawab 1 jam lagi. Aku terduduk di sebelah mamaku di depan kamar.

“Mei…” sapaan yang kuingat. Aku menoleh ke arah suara. Henry. Aku terkejut.

“Henry, kenapa?”

“Aku mau menjenguk kembaranmu. Aku khawatir dengan kalian berdua.” Henry tersenyum tulus. Aku terharu. Henry memang sahabatku yang paling baik. Bahkan dia peduli pada kembaranku yang bahkan baru dia tahu kemarin.

2 jam kemudian Lin boleh pulang. Aku sudah mendonorkan darahku untuknya. Lin mengucapkan terima kasih berkali-kali.

“Terima kasih, Mei. Terima kasih.” Lin tersenyum haru.

“Sudahlah, Lin. Oh ya, di sebelah kirimu ada Henry lho! Percaya tidak?” ucapku. Tangan Lin mencari-cari. Henry langsung menggenggam tangan yang mencarinya itu. Lin tersenyum.

“Hai, Lin! Aku pasti sudah diceritakan kembaranmu yang cantik itu ya? Tunggu, kalau dia cantik berarti kau cantik juga. Muka kalian persis lho!” Lin tertawa kecil. Aku hanya tersenyum sambil menggenggam tangannya yang satunya.

“Lin, kebaranmu ini cerewet sekali saat berbicara. Dia selalu menceritakanmu dengan panjang lebar dan antusias.” Lin tersenyum senang. Henry mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku tertawa.

“Mulai sekarang aku selalu mampir ke rumah kalian ya! Boleh?” Aku dan Lin mengangguk.

Semenjak kejadian itu Henry menetapi janjinya. Dia selalu mampir ke rumahku dan bercerita serta bercanda bersama. Lin pendengar yang baik. Sementara aku dan Henry selalu berebut saat mau bicara. Kami ingin bicara duluan. Lin tertawa mendengar perdebatan seru antara aku dan Henry. Akhirnya kami bertiga tertawa bersama. Selalu begitu sampai 2 bulan kemudian. Tidak kusangka tinggal 1 bulan lagi. Akhir-akhir ini aku semakin sering mendonorkan darahku untuk Lin. Keadaan Lin memburuk. Aku juga. Aku selalu pusing. Aku mulai tidak bisa berkonsentrasi ke pelajaran. Nilaiku menurun sedikit demi sedikit. Aku sering kelelahan. Mama bilang aku kekurangan darah. Oh jangan. Jika aku juga kekurangan darah, lalu siapa yang akan mendonorkan darah untuk Lin?

Darahku merupakan ‘mukjizat’ bagi Lin. Dulu dia hanya dikira akan hidup sampai usia 14. Ternyata karena darahku yang dipakai untuk diberikan padanya, Lin bisa hidup sampai sekarang. Aku sendiri berpikiran itu bukan karena aku. Itu karena dia. Karena sifatnya yang baik. Dia berhak mendapat balasan yang baik.

Tak terasa sudah 3 minggu berlalu. Henry menunjukkan gejala kalau dia mencintai Lin. Lin menolak karena aku. Tapi aku bilang aku sudah punya lelaki lain. Henry menembak Lin dan Lin menerimanya. Aku senang jika mereka bahagia.

Keadaan Lin semakin memburuk. Sekarang aku dan orang tuaku sedang berada di rumah sakit. Ini tepat ulang tahun kami yang ke 17. Seperti yang diperkirakan, Lin akan meninggal sebentar lagi. Pokoknya saat dia berumur 17 tahun. Dan sekarang umurnya sudah 17 tahun.

Aku memegang kaca di hadapanku. Di dalam kaca itu ada Lin. Lin yang rapuh. Tak ada senyum dan tawa. Tak ada tangan yang menggapai-gapai. Tak ada pertanyaan yang semua orang normal tahu jawabannya. Aku merindukannya. Sudah beberapa hari Lin terkurung di kaca itu. Keadaannya makin parah. Dia butuh donor di sana-sini. Saat aku mau mendonor untuknya, dokter melarangku. Aku sudah terlalu lemah. Aku tidak bisa mendonor lagi. Lin, maafkan aku.

Aku memijat kepalaku. Pusing sekali. Kakiku lemas. Aku mencari tempat duduk. Di depan ruangan. Aku duduk di sana. Ada yang aneh. Dari tadi aku tidak melihat Henry. Padahal dia selalu ada di sini. Menemani kekasihnya di sana.

Dokter menghampiri orang tuaku. Mereka bicara bertiga di salah satu ruangan. Aku hanya diam. Aku sudah terlalu lemas untuk mengikuti mereka.

Beberapa menit kemudian orang tuaku kembali. Mereka terlihat senang.

“Sayang, ternyata ada yang mau mendonor untuk Lin. Semua sudah cocok. Pendonoran dilakukan sebentar lagi. Nanti Lin akan persis sepertimu. Bisa melihat, bisa berjalan, dan bisa banyak beraktivitas.” Mama terlihat bahagia.

“Memangnya orang itu mau mendonorkan kakinya?”

“Tentu tidak. Organ orang itu akan merangsang saraf kaki Lin. Dia jadi bisa berjalan lagi nanti.” Aku mengangguk-angguk.

Beberapa jam menanti akhirnya operasi selesai. Aku boleh menjenguk Lin. Sekarang Lin ada di hadapanku. Dia tertidur di ranjang. Dia terlihat damai. Aku duduk di sebelah ranjang.

“Lin?” tanyaku. Lin bergerak. Aku senang. Lin menoleh padaku. Dia membuka matanya perlahan. Dokter memperhatikan di sebelahku. Lin berhasil membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjap perlahan. Aku terdiam.

“Mei?” tanya Lin. Aku tersenyum senang.

“Lin, kau bisa melihatku?”

“Mei….Mei apa itu kau?” Lin menggapai pipiku. Dia mangelus pipiku. Aku mengedipkan mata karena jarinya menyentuh mataku.

“Iya ini aku, Lin! Kau bisa melihatku!” Lin tersenyum gembira.

“Coba gerakan kakimu, Lin,” ucap dokter. Lin menggerakan kakinya perlahan. Dia berhasil! Kakinya tidak lumpuh lagi!

“Mei, aku tidak lumpuh lagi!” Lin berseru senang. Aku tertawa kecil. Aku menggenggam tangannya. Orang tuaku tersenyum haru di belakangku.

“Mama? Papa?”

“Iya sayang, ini kami.” Lin tersenyum haru sekaligus senang.

“Mana Henry? Aku ingin melihatnya. Dimana dia?” Lin tampak bersemangat. Aku melirik orang tuaku. Aku sendiri tidak tahu kemana Henry.

“Dia sedang beristirahat, sayang. Dia selalu menjagamu selama kau sakit,” kata mama.

“Dia sangat perhatian padamu.” Papa menambahkan. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Lin lalu tersenyum.

“Aku sangat mencintainya. Mei, apa kau juga masih mencintainya?” tanya Lin. Aku berpikir lalu mengangguk. Lin terlihat bersalah.

“Tapi aku sudah menemukan orang lain.” Aku berbohong. Aku tidak ingin Lin merasa bersalah. Dari dulu Henry lah yang paling kucintai. Dia cinta pertamaku.

“Aku ingin bertemu orang yang mendonor untukku.” Lin mengangetkan orang tuaku. Aku bingung. Ada apa memangnya? Orang itu siapa?

“Dia sudah meninggal. Dia mendonorkan banyak organ tubuhnya untukmu. Dia sudah tidak bisa bertahan hidup tanpa organ penting.” Papa menjelaskan.

“Kalau begitu siapa orang itu?” desak Lin. Mereka menghela napas. Aku mengenggam tangan Lin semakin erat.

“Dia adalah orang yang kalian cintai dan mencintai kalian. Dia adalah Henry.” Ucapan papa tadi membuat kami bagai tersambar petir. Henry? Lelaki yang kami cintai telah tiada? Dia mendonorkan organ-organ pentingnya untuk Lin?

“Dia menitipkan surat ini sebelum menjalani pendonoran.” Mama memberiku lipatan kertas. Aku membetulkan posisi dudukku agar Lin bisa melihat isi surat itu meski Lin tidak bisa membacanya. Aku mulai membaca surat yang dibuat oleh tulisan tangan tersebut.

“Dear kekasihku Lin dan sahabatku Mei, kalian dua orang yang sangat kucintai.

Aku tahu memberikan surat seperti ini sudah sering dipakai di sinetron. At least, aku tahu dari tanteku. Yah, tapi mau bagaimana lagi? Ah sudahlah. Bukan ini yang ingin kubicarakan atau kuberi tahu.

Lin, kau pasti sudah bisa melihat dan berjalan kan sekarang? Kau sudah seperti orang normal lainnya. Andai aku bisa melihatmu saat kau normal kembali, aku akan sangat senang. Kita bisa berjogging bersama. Lalu kita pergi ke taman rekreasi dan membeli permen kapas yang berwarna pink itu. Kau akan melihat banyak warna di sana. Dan kau akan melihat warna biru langit yang indah jika berada di pinggir pantai. Biru langit warna kesukaan adik kembarmu kan? Nah, kau harus melihatnya suatu saat nanti. Aku juga menyukai warna itu.  Warna yang menenangkan.

Lin, aku ingin sekali menikmati berjalan-jalan bersamamu. Tapi jangan jalan-jalan ke rumah sakit. Hahaha. Kita jalan ke sekolahku. Dan kau melihat seragam-seragam serta orang-orang yang menjadi teman kami. Kau pasti menyukainya.

Lin, aku ingiiiiinnn sekali menikah denganmu. Ahahah jangan kaget. Ini memang asli angan-anganku kok. Tapi ya sudahlah. Kita menikah di surga saja. Hahahahahaa

Sekian untukmu, Lin. Aku akan bicara dengan kembaranmu yang cerewet itu.

Hai, Mei. Begitu sapaanku setiap pagi, bukan? Nah, aku sudah tidak bisa menyapamu seperti itu lagi. Jadi kau saja yang menyapaku di makamku nanti. Ok? Bawa juga kembaranmu itu. Kita bercanda lagi bertiga. Tapi sekarang gantian. Kalian yang bercerita padaku dan aku yang mendengarkan. Okok? Setuju ya?

Mei sahabatku yang cerewet, aku ingin mengucapkan satu hal. Sekarang kan Lin sudah sembuh, dan aku sudah tidak ada. Nanti di sekolah kau cari teman yang banyak ya? Cari sahabat yang jauuuhhh lebih baik dariku. Tapi urusan cakep atau tidak sih pasti aku lah yang paling cakep. Hahaha ngomong apa aku ini. Narsis ya?

Meeeii!!!! Ingat tidak waktu kita pertama ketemu di SMP? Waktu itu kau jalan terburu-buru di aula sedangkan aku sedang dihukum mengepel aula. Dan kau terpeleset! Hahahahaha aku masih ingat saat itu. Kau sangat sangat lucu.  Waktu itu kau masih polos. Sekarang sih…wahaha jangan ditanya!

Mei, jangan nangis lagi ya kalau menceritakan tentang kembaranmu. Sekarang kau harus meneritakannya dengan bangga. Bilang: “Ini nih kembaranku! Lolos dari maut!” Ahahaha jangan marah ya kalian berdua. Aku kan memang suka bercanda.

Mei, aku tahu kau pintar. Jangan komentar tentang gaya tulisanku yang acak-acakan ini ya? Ok? Simpan saja ilmumu untuk disumbangkan pada yang membutuhkan. Ahaaha…

Dan ingat kau Mei Lin! *wew..nama yang bagus* Aku melakukan ini semua bukan karena Lin. Bukan juga untuk Mei. Aku melakukan ini semua untuk Mei Lin. Wanita yang kucintai. Sejak dahulu sampai sekarang.

Sudah dulu ya. Tanganku pegal nih. See you later!

Love, Henry si anak paling ganteng.”

Aku dan Lin menangis tersedu-sedu. Kami menangisi kepergian lelaki yang kami cintai.

2 tahun kemudian aku dan Lin sudah kuliah kedokteran. Kami sama-sama ingin menjadi dokter. Sekarang kami sedang berjalan menuju makan Henry. Akhirnya kami sampai.

“Henry, tau ga? Ternyata Lin itu cantiiiikkk banget kalau seperti orang normal lainnya. Sayang sekali kau tidak di sini.” Aku memulai. Lin tersenyum.

“Yang dikatakan Mei benar. Aku memang cantik ternyata. Tenang Mei, itu berarti kau juga cantik. Henry, aku merindukanmu nih. Kapan ya kita bisa bertemu lagi? Oh ya, Henry tau ga? Mei lho…dia sudah tunangan! Cowoknya baik, setia, ramah, pintar, bisa nyanyi, wahh semua ada deh. Tapi bagiku sih lebih cakepan kamu ya daripada cowoknya dia.” Lin belum selesai bicara tapi aku langsung memotongnya.

“Hei! Sudah sudah. Bagiku cowoku lebih ganteng daripada kau, Henry! Hahahaha.”

“See, Henry? Kita nepatin janji. Kau bilang kami berdua yang bercerita padamu. Malah kami sampai berebutan seperti kau dan Mei dulu.”

“Tapi meski rebutan begini, kami tetap kompak! Tenang saja,Henry! Lin-mu aman di sini bersamaku!” Kami tertawa. Aku melirik jam.

“Ya ampun, Lin! Kita harus kuliah sekarang!”

“Oh iya! Aduh…ya sudah Henry sampai jumpa ya! Nanti kita cerita-cerita lagi! Bye bye!”

“Doakan kamiya, Henry! Semoga kita bisa menjadi dokter nanti!”

“Mey Lin yakin kau mendengarnya!” seru kami bersamaan. Aku menjulurkan tanganku dan Lin menyambutnya. Kami bergandengan tangan keluar pemakaman sambil tertawa-tawa dan bercanda. Terima kasih, Henry! Kau memang sahabatku yang paling baik!

The End

26 thoughts on “[FF] Mei Lin

  1. raekiyopta says:

    *Speechless* KEREN B.G.T!! mian baru baca~ ya ampun aku bener2 lupa udah pernah komen ini apa belum. tapi.. ada beberapa kalimat yang.. yang membuat aku deg deg an! mata aku perih. pokok.a good job😀

  2. Lena says:

    😥 ini ff pling awal yg ada diblog kmu? udh ya ga ada lgi sblmnya?
    henrynya T.T
    ih makin suka deh sma kmu *ffnya*😄

  3. Lena says:

    itu kan udah baca di notes fb kamu._.
    wahaha iya aku suka kamu *ffnya (again)* <–sekarang kebaca ga ya?:/😀 hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s