[FF] Mission Possible part 1 (PG-13)

Note: pertama-tama biar ga bingung aku ceritain dulu kenapa tiba-tiba begini. Ini bercerita tentang perang antara negara yang ada di sini sama negara lawannya. Aku sih ga mau nyiptain perang dunia, jadi ga ditulis nama negaranya. Silahkan bayangkan sendiri. Di sini ada semacam FBI dan CIA gitu, tapi beda nama. Sisi pemeran utama di sini nama agennya VR, terus sisi super junior namanya SJ. Lalu, kalo VR tujuannya menghancurkan negara lawan, negara yang membentuk SJ, begitu sebaliknya. VR berhasil menyandera 13 experts dari negara lawan dan memanfaatkan mereka untuk menghancurkan negara lawan itu. Awalnya bercerita dari adik Hyuk yang mencuri virus untuk menghancurkan negara lawan, dan ingin menggunakannya untuk menghancurkan negara pembentuk VR. Tapi gagal. (negara lawan: sisi SJ, negara pembentuk: sisi VR) Have a nice reading and don’t be scared.

Aku menutup laptopku dan menoleh ke belakang. Di atas tempat tidur, sesosok tubuh tergeletak tak berdaya. Aku tersenyum licik. Aku mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik blazer panjangku dan mulai berjalan perlahan mendekati sosok di atas ranjang itu. Hmm..lelaki yang cukup tampan. Aku menelusuri keningnya hingga dagunya menggunakan pinggiran pisau. Tanpa menyakitinya sedikit pun. Aku lalu duduk di sampingnya. Memperhatikannya lama. Dia tak sadarkan diri dari kemarin. Aku membunuh adiknya dan kubawa dia kemari. Sepertinya dia masih shock. Klasik.

“Hmmh.. kau sudah terlalu lama terlena dengan alam mimpi, Lee Hyukjae. Bangunlah.” Aku menggoreskan pisau kecil itu ke lengannya. Berhasil. Dia mengerang kesakitan dan membuka matanya. Aku tersenyum. Bukan senyum ramah. Lebih menyerupai seringai penuh kemenangan.

“Akh.. kau..siapa? Ka-kau! Kau yang membunuh adikku!!” ucapnya. Aku menggeleng-geleng perlahan.

“Kuat juga kau. Baru sadar langsung bicara seperti itu. Obati dulu lukamu.” Aku beranjak berdiri dan menatap keluar jendela. Masih kudengar Hyukjae mengerang kesakitan. Tapi aku masih tetap diam. Aku bersidekap. Kamar ini berantakan dan pengap. Suasananya juga tidak enak karena sering terjadi pembunuhan di sini. Tapi inilah kamarku. Inilah tempat persembunyianku. Mau bagaimana lagi?

“Kau.. kau membunuh adikku. Apa maumu?!” seru lelaki itu. Aku terdiam. Aku mengambil kaca mata yang bertengger di kausku dan memakainya. Aku tersenyum samar.

“Karena aku membencinya,” ucapku santai. Aku berbalik. Kutatap Hyukjae yang sedang menutupi tangannya dengan kausnya. Rupanya dia melepas kausnya. Cari mati.

“Kenapa kau membenci adikku? Ia salah apa? Kau tidak tahu bahwa umurnya masih 17 tahun?!” Dia membentak lagi. Aku terdiam melihat dadanya. Bekas goresan pisauku masih terlihat dengan jelas di sana.

“Aku tahu. Tapi adikmu sudah berbakat menjadi seorang pencuri, Hyukjae.” Dia membuka mulutnya tapi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Mataku menelusuri tubuhnya. Di pinggir perutnya terdapat bekas jahitan. Itu ulahku juga.

“Kau yang pencuri! Bukan adikku!” Dia masih menyanggah. Pegangannya pada tangannya yang berdarah semakin kuat. Bodoh. Kenapa tidak berdiri dan mengambil kotak obat? Ck, menyusahkan saja. Aku lalu mengambil kotak obat di lemari yang penuh debu. Aku meniupnya sebentar dan mengeluarkan obat merah, perban, dan sebagainya. Aku lalu menghampiri Hyukjae dan mengobati lukanya. Hyukjae menatapku penuh amarah.

“Seharusnya kau berterima kasih padaku.”

“Tak akan pernah,” balasnya sengit. Aku tersenyum setengah.

“Aku suka pemberontakanmu.” Aku menyimpan kotak obat kembali pada tempatnya. Hyukjae melihat sekeliling. Aku menyandar pada meja dan memperhatikan gerak-geriknya. Dia masih bertelanjang dada karena kausnya sudah penuh dengan darahnya sendiri.

“Sekali lagi kutanyakan padamu. Kenapa kau membunuh adikku?”

“Sekali lagi kukatakan kepadamu, karena dia pencuri. Dia menyelinap memasuki markas kami dan mengambil sebuah virus untuk menghancurkan negara lawan. Itu hasil karyaku selama 6 bulan dan adikmu seenaknya saja mengambilnya. Maka aku sendiri tidak segan untuk membunuhnya. Aku tahu kalian juga membutuhkan virus itu, tapi cobalah kalian buat sendiri. Bagiku, mencuri sama saja mencari mati.” Aku menatapnya tajam. Dia menatap lurus ke depan. Nafasnya tersengal-sengal karena amarah. Rahangnya mengeras. Terlihat jelas urat di keningnya. Dia sangat marah.

“Kau..kalau mau bunuh saja aku! Jangan adikku!” Akhirnya ia bicara. Suaranya bergetar.

“Kalau kau yang mencuri virus itu, kau yang akan kubunuh. Tapi sayang, adikmu yang mencurinya. Lagipula kau adalah kunciku. Sayang sekali kalau kau kubunuh lebih dulu.”

“Itu sebabnya kau membawaku ke sini?”

“Tepat sekali.”

“Kau psikopat.” Aku tertawa sekilas mendengarnya. “Ya, kau benar.” Aku menyeringai.

“Kau.. aku harus memanggilmu apa?” tanya Hyukjae. Aku mengedikkan bahu.

“Terserah. Apapun yang kau mau. Tapi banyak orang memanggilku Grisel. Kau tahu Grisel kan? Itu aku.” Hyukjae terlihat terkejut tapi ia cepat-cepat menunduk untuk menutupi ekspresinya.

“Jadi kau? Grisel yang sering sekali menghancurkan negara lawanmu dengan bom atau virus?”

“Bingo! Otakmu lancar juga.” Hyukjae berdecak kesal dan segera berjalan menuju pintu. Dia memutar pegangan pintu dan tak ada perubahan apa pun. Pintu tak akan bisa terbuka kecuali dengan kodeku.

“Percuma, sayang. Sudahlah kau di sini saja dulu. Temani aku.” Aku menjilati pisau kecil tadi yang kupakai untuk menggores lengannya. Lalu aku menempelkan pisau itu pada dadanya dan memainkannya seperti memainkan mobil-mobilan di lantai. Nafasnya memburu. Tangan kananku melingkar di belakang pinggangnya. Kepalaku kusandarkan pada pundaknya. Tangan kiriku masih memainkan pisau itu di tubuhnya.

“You have such a nice body, honey,” ucapku. Hyukjae lalu menepisku. Aku mundur satu langkah.

“Kau mau apa?! Lepaskan aku dari sini!” serunya. Aku tersenyum meremehkan.

“Aku mau kau! Kau harus bekerja pada kelompokku. Kau yang tahu banyak kode rahasia di luar sana. Kau yang tahu kode rahasia untuk menjebol akses internet di negara lawan. Kau harus ikut dengan kami. Setelah itu kau kulepaskan.”

“Bagaimana jika aku tidak ingin?”

“Mati saja.” Hyukjae menatapku. Menantang.

“Bunuh aku saja sekarang. Daripada aku bekerja pada kalian, aku lebih senang mati.” Sebuah senyum tersungging di bibirku.

“Hm. Nanti setelah kau bantu kami,” ucapku santai. “Lagipula kau tak punya tempat kembali. Seluruh teman-temanmu sudah kami bunuh, Hyukjae. Jadi bekerjalah pada kami. Lagipula ketua kalian sudah mengakui kekalahan kalian.”

“Nanti. Setelah aku mengetahui dimana jasad adikku.” Aku mengangkat sebelah alis.

“Sudah mereka kubur. Kau tenang saja.” Hyukjae terduduk lemas di atas tempat tidur. Dia melihat sekeliling lagi. Dia mencari senjata.

“Baiklah. Aku akan bekerja pada kalian asal kalian memberitahu dimana letak teman-temanku.”

“Di lantai bawah,” ucapku enteng. Hyukjae menatapku curiga. Aku tersenyum. Sungguh, setiap kali aku tersenyum itu bukan senyum bahagia. Melainkan senyum licik. Senyum khasku.

“Lepaskan mereka. Kalau kau mau menjadikan aku sebagai tawanan dan memanfaatkan aku, silahkan. Tapi jangan mereka.” Hyukjae menatapku. Aku diam menatapnya.

“Wow. Hebat. Tapi aku tidak akan menjadikanmu sebagai tawanan, sayang. Aku juga tidak memanfaatkanmu.” Aku tertawa. Hyukjae menunduk. Dia lalu mengacak rambutnya frustasi. Hm.. rambutnya yang berantakan membuatnya terlihat makin keren.

“Hyukjae, lain kali jangan acak-acak rambutmu atau kau kumakan.” Hyukjae menoleh cepat padaku. Tak dapat disembunyikan ekspresi bingung dan takutnya.

“Apa maksudmu?” Aku menyeringai dan berjalan menghampirinya. Aku duduk di sampingnya, di pinggir tempat tidur. Aku mengeluarkan pisau kecil itu lagi.

“Aku akan melakukannya perlahan.” Aku lalu menjilati lehernya sementara tangan kananku memegangi lehernya dan tangan kiriku menggoreskan pisau di sepanjang dada sampai perut. Hyukjae berteriak kesakitan. Darah mengucur lagi dari tubuhnya. Aku menyeringai. Aku lalu menutup bibirnya dengan bibirku. Teriakannya tertahan. Aku mengacungkan pisauku ke arah ulu hatinya. Sekali tusukan ia akan mati. Tapi aku tidak jadi menusuknya. Aku pun melepaskan bibirku dari bibirnya dan menjilat bibir bawahku. Aku menyeringai. Hyukjae meringis kesakitan. Dia menatapku penuh amarah. Aku berjalan mengambil kotak obat dan melemparkannya padanya.

“Obati lukamu dan kita akan bertemu teman-temanmu,” ucapku tanpa ekspresi. Hyukjae menatapku garang di sela kesakitannya. Tangan kanannya memegangi lukanya dan tangan kirinya membuka kotak obat. Aku membuka laptopku lagi. Ada pesan.

From: Griss

Yo, sis! Come here. You wont missed it, I bet. Guess what? I got Kyuhyun and Donghae.

To: Griss

Good job. And here is Hyukjae with me. We’re going downstair now.

Aku menekan tombol enter dan pesan pun terkirim. Aku berbalik dan melihat Hyukjae sedang berusaha memakai perban. Aku menatapnya tanpa ekspresi. Dia terlihat kesulitan. Lukanya memang memanjang dan sulit untuk mengobatinya sendirian. Aku melirik jam tanganku. Hyukjae memperlambat waktu. Aku pun mendekatinya dan memasangkan perban di lukanya dengan kasar. Setelah itu aku melemparkan jaket hitamnya. Kausnya yang penuh darah kubakar. Hyukjae memakai jaketnya. Perban masih terlihat jelas. Tapi tak apa.

Aku memasukkan kode di dekat pintu dan pintu pun terbuka. Aku melangkah keluar dan Hyukjae mengikuti di sampingku. Kami menuruni tangga ke lantai bawah. Well, sebenarnya markas kami besar dan megah, ini hanya tempat persembunyian dan tempat penyiksaan korban. Jadi segalanya serba sederhana dan penuh debu. Bahkan darah kering.

Aku meletakkan ibu jariku di mesin di samping pintu yang besar itu. Pintu terbuka sedikit. Aku menatap Hyukjae sebentar.

“Siap bertemu temanmu?” tanyaku tanpa membutuhkan jawaban karena setelah aku menanyakan hal itu, aku langsung masuk ke dalam ruangan. Dan terlihatlah ruangan mewah serba hitam dan abu. Banyak layar yang tertempel di dinding. Meja bundar besar di tengah ruangan, di tengahnya terdapat 5 komputer pengontrol. Di depan salah satu komputer telah duduk seorang Michelle, dia sedang mencoba menerobos firewall negara lawan. Griss sedang membujuk Kyuhyun untuk meberitahu kode rahasia. Dan Fay, dia menodongkan sebuah pisau ke leher Kyuhyun. Tapi aku tidak melihat Donghae. Griss bilang dia sudah mendapatkan cowok itu.

Kyuhyun menoleh pada Hyukjae. Terlihat sekali ekspresi cemasnya. Hyukjae ingin sekali mendekati ‘adiknya’ itu, tapi kutahan. Aku melihat sekeliling. Hanya ada mereka yang kusebutkan tadi saja. Hyukjae menggertakkan giginya marah.

“Pesanku padamu, jangan percaya pada kata-kata orang asing,” ucapku pelan. Aku lalu menarik Hyukjae dan mendudukkannya di depan salah satu komputer. Di layar sudah terdapat tulisan: Enter the password, and click submit. Cursor pun sudah diletakkan di kolom yang ada di sana. Hyukjae tinggal mengetik saja. Tapi pria itu hanya diam. Aku menopangkan tangan kananku pada pundaknya. Dan dia masih diam. Tangannya bergerak ke atas keyboard. Tapi tidak mengetik apa-apa. Aku menatapnya marah. Aku lalu menahan amarah dan berjalan menuju Griss. Aku melirik Kyuhyun sekilas. Dia sedang memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku mengabaikannya dan langsung berbicara dengan Griss.

“Kau bilang kau mendapatkan Donghae?” tanyaku. Griss mengangguk.

“Dia tidak mau melakukan apa yang kuminta. Dia sedang bersama dengan saudara-saudaranya di ruang bawah tanah.” Griss berkata agak kencang. Aku melirik punggung Hyukjae yang menegang. Aku tersenyum licik. Aku lalu berbisik di telinga Griss, “Terima kasih pancingannya.” Aku lalu menatap Kyuhyun. Lalu Fay. Dia sekarang sedang memainkan pisaunya. Kyuhyun tidak berkutik karena kedua tangan dan kakinya diikat ke kursi besi.

“Cho Kyuhyun. Sudah puas memperhatikanku?” Kyuhyun menatapku. Tanpa ekspresi. Dia tidak menjawab. Aku menghela nafas sambil melipat tanganku. Aku masih menatapnya.

“Vous avez à faire ce que nous demandons, sinon votre garantie à vie,” ucapku. Kau harus melakukan apa yang kami minta, kalau tidak nyawamu jaminannya.

“Et si je refuse?” Bagaimana jika aku tidak mau?

“Comme je vous l’ai dit, tu meurs.” Seperti yang sudah kubilang, kau mati. Dia terdiam. Fay menatapku heran.

“Kenapa kau berbicara bahasa Prancis dengan orang Korea?” tanyanya. Aku tersenyum. Aku menunduk mendekati wajah Kyuhyun dan mengeluarkan pisau kecil itu lagi. Aku menempelkan pisau kecil itu pada pipinya. Kyuhyun memiringkan wajahnya sedikit.

“Karena dia agen yang dilatih di Prancis. Agen spesialis teknologi. Dan dia baru datang dari Prancis seminggu yang lalu.” Aku berbicara sambil tersenyum pada cowok itu. Fay mengangguk paham. Aku mengalihkan perhatianku dari Kyuhyun pada Hyukjae yang masih terdiam. Aku lalu melangkah mendekatinya. Aku menatapnya.

“Kau mau bertemu dengan saudara-saudaramu kan?” ucapku. Hyukjae mengangguk sekali.

“Oke. Ayo.” Aku memasangkan sebuah borgol di tangan kirinya dan aku menarik borgol itu. Hyukjae heran melihat tingkahku tapi aku mengabaikannya. Aku menariknya dengan tenang layaknya aku menarik anjing peliharaan.

Kami menuruni tangga lagi. Masuk ke ruangan bawah tanah yang pengap. Di sini kebanyakan pembunuhan terjadi. Banyak kursi listrik, akuarium (beberapa berisi tubuh korban yang sudah mati), dan bahkan ada kolam yang diisi dengan air keras. Penjara pun bertebaran di mana-mana. Ruangan ini sangat lembap. Siapapun tidak akan mau bermalam di sini.

“Mereka ada di sana.” Aku menunjuk penjara yang paling ujung. Aku tetap menariknya. Dan sampailah di penjara itu. Ada dua penjara. Yang satu berisi 4 orang dan yang satu berisi 3 orang.

“Kemana tiga lagi?” tanyaku pada diriku sendiri. Tak lama Callula datang menghampiriku. Dia agen VR juga.

“Maksudmu Kim Kibum, Choi Siwon, dan Hangeng? Mereka belum tertangkap.” Aku mengangguk mendengar penjelasannya.

“Nah, Hyukjae. Bagaimana? Kau tinggal memilih mau berenang di kolam air keras, duduk nyaman di atas kursi listrik, atau bermain di dalam akuarium?” ucapku santai. Hyukjae diam. Dia menatap teman-temannya.

“Ahh..aku tahu. Kau pasti mau membusuk disini bersama teman-temanmu. Ya kan?” Aku tertawa sinis.

“Aku lebih memilih..dibunuh olehmu.” Hyukjae menatapku. Tanpa ekspresi. Aku membuka mulutku tapi tidak mengucapkan sehuruf pun. Tiba-tiba lampu mati lalu menyala lagi. Mati-nyala terus menerus. Suara alarm yang menunjukkan keadaan gawat pun terdengar. Semua panik. Aku menatap layar yang ada di atas pintu penjara. Michelle memanggil namaku.

“Griselda Marchbanks! Cepat borgol semua tahanan. Callula, bantu Grisel! Negara lawan mulai menyerang! Fay! Kerahkan sepertiga pasukan yang kita miliki. Sisakan cadangan! Griss! Halau Negara lawan, keluarkan benteng!” komando Michelle. Aku langsung bertindak. Aku melepaskan borgol Hyukjae dan berlari menuju tempat rahasia. Di sana ada mesin kontrol utama untuk memborgol para tahanan secara otomatis. Callula memasukkan Hyukjae ke dalam penjara yang hanya berisi 3 orang. Aku memasukkan kode rahasia dan semua tahanan sudah terborgol di penjara. Aku berlari menemui Callula lagi. Kami menatap monitor. Kosong. Tak lama Fay datang sambil membawa Kyuhyun. Callula langsung membuka pintu penjara dan memasukkan Kyuhyun ke dalamnya. Alarm tak berhenti berbunyi. Di samping pintu ada monitor kecil dan keyboard kecil juga. Aku mengetik sebuah kode dan monitor itu menyala. Radar. Musuh semakin dekat. Diantara tanda merah yang merupakan pasukan negara lawan, ada tanda biru. Tiga buah. Rupanya itu Kibum, Siwon, dan Hangeng. Oh ada tanda kuning juga. Henry dan Zhou Mi, experts baru mereka. Aku terdiam. Lampu sudah menyala dengan normal.

“Teman kalian sedang menjemput kalian ternyata,” ucapku sekilas sebelum berlari ke atas bersama Fay. Callula menjaga mereka di sana.

“Callula, awasi mereka! Aku akan turun sekarang!” teriakku pada Callula. Yang kumaksud dengan turun adalah turun ke medan perang.

“Ya. Tentu saja. Aku akan mengawasi dari radar ini,” balas Callula. Aku dan Fay berlari menyusuri lorong. Dan di hadapan kami sekarang adalah peperangan yang terjadi antara negara pembentuk dan negara lawan. Ck, bagaimana mungkin mereka menemukan markas rahasia ini?

“Elle!! Elle!” teriakku memaggil salah satu agen melewati walky-talky.

“Ya?” Elle menjawab.

“Cepat sembunyikan markas kita! Masukkan ke dalam tanah untuk sementara! Keadaan darurat!”

“Baik. Roger.” Walky-talky tetap kunyalakan. Aku mengambil pistol dari saku blazerku dan mulai berlari ke kerumunan. Fay ada di sampingku. Michelle tidak ikut dalam perang ini karena dia berusaha menghancurkan lawan dengan membuat taktik baru dan memasukkan virus yang kubuat ke negara lawan. Benteng masih berdiri dengan tegap sehingga lawan tidak tahu bahwa markas sudah disembunyikan.

Aku meloncati sebuah batu besar dan mulai menerkam salah satu tentara lawan yang ingin menerobos masuk. Aku menembakkan pistolku tepat di kepalanya. Dia tewas seketika. Aku berguling ke kanan, ada tempat persembunyian. Aku mulai menembaki tentara-tentara lawan dengan senapan tentara tadi. Kena semua. Aku tersenyum senang. Tapi senyumku menghilang ketika leherku terasa dingin. Seseorang menempelkan pistol ke leherku. Aku menoleh pelan. Aku terkejut ketika tahu bahwa Kibum yang menempelkan pistolnya ke leherku. Tapi aku tetap memasang wajah dingin, berusaha menutupi rasa terkejutku. Kibum tersenyum.

“Ikut denganku, nona manis.”

“Oh, tidak terima kasih, pria tampan. Pacarku sudah menunggu.” Aku tersenyum manis dan menendang tubuh Kibum. Dia terjatuh ke belakang dan aku segera menodongkan pistolku padanya.

“Masih berani menggodaku?” Aku tertawa sinis. Kibum masih tersenyum.

“Tentu saja. Aku tidak akan menyerah. Ikut denganku, atau kulumat dirimu.”

“Hmh.. berani juga kau. Tapi sudah kubilang..pacarku sudah menunggu. Tapi biarkan aku bermain-main disini sebentar.” Aku menempelkan pistolku ke lehernya. Dia tersenyum.

“Baiklah. Aku mau bermain denganmu.” Kibum pun menempelkan pistolnya di leherku.

“Oh, spesial untukmu, biarkan aku memakai dua boneka.” Kibum mengeluarkan pistol lain dari sakunya. Aku menghela nafas. Tak peduli berapa pistol yang ia gunakan, jika aku yang menembaknya duluan pasti dia akan mati juga.

Aku tersenyum lalu melepaskan pistolku darinya. Dia juga melakukan hal yang sama.

“Maaf, Kibum. Pacarku sudah menunggu terlalu lama. Ayo, kukenalkan kau dengan pacarku.” Dengan cepat, aku segera memborgolnya. Kedua pistolnya kuambil. Kibum terlihat terkejut. Aku tidak peduli dan segera menariknya menuju markas.

Michelle menyambutku ketika aku membawa Kibum ke dalam. Aku sendiri merasa kurang enak membawa Kibum kemari. Aneh, dia sama sekali tidak berontak. Dia pasti merencanakan ini. Gawat.

“Well, ini pacarku, Kibum,” ucapku sambil menunjuk sebuah komputer. Kibum tertawa. Michelle menatapku heran. Tapi kemudian dia mengedikkan bahu dan kembali fokus pada monitor di hadapannya.

“Grisel! Griss dalam keadaan bahaya! Dia tertangkap oleh Hangeng, cepat kejar dia!” Aku mengangguk. Michelle berbicara di mikrofon: “Callula, siapkan penjara untuk Kibum.”

Aku berlari mencari Griss. Dimana dia? Di tengah perang senapan ini sulit sekali menemukannya. Aku memicingkan mataku. Berharap menemukannya dan tidak ada yang menempelkan pistol padaku lagi. Ah ketemu! Aku langsung berlari mendekati Griss yang sedang ditahan oleh Hangeng. Dia diseret ke helikopter. Banyak tentara mendekatiku. Aku langsung menembak mereka semua. Darah mereka mengenai wajahku dan bajuku. Tapi aku tidak peduli. Yang harus kulakukan sekarang adalah menyelamatkan kakakku!

Aku tidak akan membunuh Hangeng karena dia sangat kubutuhkan. Tetapi tentara yang membawa helikopter itu bisa kubunuh. Hm, ada rencana.

“Hey kau! Grissella Marchbanks!” Hangeng dan Griss menoleh. Seketika itu juga aku menembak pilot helikopter itu dan helikopter itu pun terjatuh dan terbakar sampai akhirnya meledak. Griss menghampiriku dan mengucapkan terima kasih. Aku mengangguk. Kulihat Hangeng menyodorkan pistolnya padaku dan bersiap menarik pelatuknya. Aku melemaskan otot-ototku, bersiap menghadapinya. Tiba-tiba dari arah kanan, seorang tentara negara pembentuk menjatuhkan pistol di tangan Hangeng dan segera memitingnya. Aku berlari ke arahnya dan memasangkan borgol pada Hangeng.

“Terima kasih, Spencer.” Aku tersenyum. Spencer tidak membalas, dia menembakkan pelurunya ke belakang pundakku. Aku menoleh. Seorang tentara sudah mati. Spencer membantuku menarik Hangeng ke markas.

“Hangeng sudah kumasukkan ke penjara, sekarang dimana Siwon?” ucap Callula di monitor. Aku mengedikkan bahu.

“Menghilang tiba-tiba bersama 2 experts pemula lainnya. Siaga satu saja. Awasi Kibum dan Hangeng lebih ketat,” perintahku. Callula mengangguk. Dia memang juniorku.

Beberapa jam kemudian perang berhenti. Tak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Markas kami aman karena terletak di dalam tanah. Benteng hanya rusak sedikit. Dan yang terpenting, 12 experts SJ sudah ada di hadapanku. Ya, mereka kulepaskan dan sekarang kami berada di ruang interogasi.

“Hyukjae, kau tidak ingin ditinggalkan keluargamu lagi kan?” tanyaku. Hyukjae mengangguk. Wajahnya terlihat pasrah.

“Kalau begitu kau tidak ingin teman-temanmu mati di sini kan?” tanyaku lagi. Hyukjae hanya mengangguk pelan.

“Pasti kau mau memberitahuku kode rahasia menembus firewall negaramu?” Hyukjae menggeleng. Aku menggebrak meja. Mereka kaget. Hyukjae menengadah, menatapku. Aku menatapnya tajam.

“Kau sudah melihat teman-temanmu, Hyukjae! Sekarang berikan kodenya padaku!” bentakku.

“Aku akan melakukannya ketika aku sudah bertemu dengan temanku yang lain.”

“Maksudmu ketiga experts bodoh itu?” ucapku kasar.

“Mereka tidak bodoh.”

“Sudahlah, aku tidak mau membahas kepintaran mereka! Aku hanya membutuhkan kalian ber 13! Bonus 2 ekor tidak masalah.”

“Kenapa kau membutuhkan kami?” tanya Jungsoo. Aku menoleh padanya.

“Tentu saja. Satu dunia membutuhkan kalian. Kalian sendiri tahu negara asing itu mulai menyerang benua ini. Kalian bukan musuh kami satu-satunya. Kami membutuhkan kalian untuk membuat suatu formula khusus dan menghancurkan negara asing itu.”

“Kalau begitu kenapa tidak dengan cara baik-baik?” tanya Ryeowook. Tatapan tajamku beralih kepadanya.

“Kalau adik Hyukjae tidak mencuri virusku, aku akan membicarakannya baik-baik dengan kalian! Tapi sayangnya adiknya sudah mencuri virusku,” ucapku seraya menunjuk Hyukjae.

“Lagipula, aku sudah terlalu benci dengan kalian. Kalau saja VR tidak membutuhkan kalian..” Tiba-tiba alarm berbunyi lagi. Aku menekan tombol di mesin komunikasi dan tampaklah Elle di monitor.

“Ya, Elle? Ada apa?” tanyaku.

“Grisel, Siwon sudah ditemukan. Kali ini dia membawa pasukan kembali. Bersiaplah untuk perang lagi.” Dan monitor pun mati. Aku memutar bola mata. Lalu menatap 12 pria di hadapanku. Aku menekan-nekan di tombol komunikasi itu lagi.

“Spencer, Fay, kerahkan cadangan. Jangan pakai pasukan yang tadi. Mereka harus istirahat. Dan Jeremy, Callula, siapkan penjara berlistrik untuk tawanan kita kali ini.”

To be continued

P.S:  huwaa ff ku yang ini gaje banget beneran T_T tolong kasih komen dan kritik ya

17 thoughts on “[FF] Mission Possible part 1 (PG-13)

  1. haeny_elfishy says:

    ah,akhrnya bsa buka jga , opera sial emang ,
    ,
    tp kereeeeen . . !
    hyuk kasian ih, nyeri bayanginnya, hohoho *kabur k part lnjutnya*

  2. vidiaa says:

    sebenernya sih aku baru baca di sujuff ._.
    tapi karena ingin langsung komen di sumbernya, jadi disini deh ._.

    keren, aku suka. idenya itu looh..
    eh btw sungminnya mana nih? ._. mati ngga?
    penasaran. *cabut ke part 2*

  3. sophiemorore says:

    wuahh,.ep ep ny sadis bgt. itu loh..bntar2 unyuk diiris2 pke pisau ihh…jahat…
    tp yg aq bgung kok smudah itu VR menang perang terus lwan suju?kok mrk pda lemah??? o.O

    • sungheedaebak says:

      iya sadis tapi aku suka hahaha *psikopat*
      gatau saya juga. ini ff lama udah gak inget ceritanya gimana😄 intinya VR punya pasukan lebih banyak, senjata lebih banyak, dan sebagainya mungkin ya hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s