[FF] Saranghaeyo, Appa

“Eomma!! Eomma kenapa? Appa, eomma kenapa?” tanyaku pada appa. Appa hanya menangis menatap eomma yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Beberapa suster menutupi seluruh tubuh eomma dengan kain putih. Aku terdiam. Aku mengerti sekarang. Eomma meninggalkan kita. Untuk selamanya. Itulah mengapa appa menangis. Appa sangat mencintai eomma pastinya.

Tubuh eomma dibawa ke salah satu ruangan. Aku memeluk appa yang masih menangis. Aku ikut mengeluarkan air mata. Selama ini aku lebih dekat dengan eomma. Sekarang eomma tiada. Aku tidak terlalu dekat dengan appa. Appa selalu sibuk dengan pekerjaannya. Lalu aku sama siapa?

Itu 5 tahun yang lalu. Kini umurku 15 tahun dan sudah bersekolah kelas 2 di Nadam High School. Selama 5 tahun ini aku hidup dengan kesunyian. Aku jarang bercengkrama dengan appa. Appa yang frustasi makin menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Sementara aku? Eomma bilang aku harus menjadi anak yang pintar dan tidak menyusahkan appa. Sudah. Aku ikut akselerasi dan sering menjuarai beberapa olimpiade. Menyusahkan appa? Kurasa tidak. Mau menyusahkan bagaimana? Appa saja hanya pulang 3 hari seminggu.

Baiklah baiklah.. aku memang sering menyusahkan appa. Soalnya appa tidak tahu apa kesukaanku. Dia selalu memberikan sesuatu yang eomma suka padaku. Meskipun aku tidak suka. Baju misalnya. Eomma suka sekali memakai baju berwarna putih dan pas di tubuh. Sedangkan aku suka memakai baju berwarna gelap dan longgar. Aku bahkan sering memarahi appa. Sering sekali kulihat gurat kecewa di wajahnya. Menyesal? Tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi? Sulit rasanya akrab dengan appa.

Oh namaku Cho Hana. Appaku bernama Cho Kyuhyun. Dialah appa yang selalu sibuk dengan pekerjaan, jarang pulang, tidak mengerti anaknya. Aigo.. tapi meski begitu tetap saja aku menyayangi appa.

“Hana ah, wake up!” Itulah sapaan paginya. Aku menghampiri meja makan.

“I woke up already,” ucapku. Appa hanya terdiam dan menghidangkan makanan di depan meja makan. Tak ada senyum. Tak seperti saat eomma ada.

“Hari ini kau sekolah?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Kenapa?” tanyanya lagi.

“Kelas 3 sedang perpisahan.” Ya, sebentar lagi aku kelas 3. Dan umurku masih 15 tahun.

“Benarkah? Kalau begitu kau sebentar lagi kelas 3?” Kyuhyun appa memasukkan makanan ke mulutnya. Sedari tadi dia tidak menatapku. Aku menunduk menatap makanan.

“Ya.” Aku lalu memasukkan makanan ke mulut. Setelah itu hening. Hanya terdengar suara jam dinding. Setelah selesai makan aku membersihkan meja. Aku heran ketika melihat appa hanya memakai T-shirt dan celana panjang longgar.

“Appa tidak kerja?” tanyaku. Appa menggeleng.

“Karena kau sekarang libur, ayo kita adakan acara ayah dan anak! Kita sudah terlalu lama canggung.” Kyuhyun appa tersenyum. Aku masih terdiam.

“Tidak usah appa. Pekerjaan appa lebih penting kan?” ucapku. Sedikit menyindirnya. Kyuhyun appa mengangkat alis.

“Sebenarnya hari ini seharusnya appa sibuk. Tapi ayolah Hana ah, jarang sekali kita jalan-jalan bersama.” Kyuhyun appa masih membujuk. Aku tersenyum tipis.

“Tak usah appa. Appa bekerja saja. Kita bisa berjalan-jalan lain waktu.” Lagi-lagi aku melihat gurat kecewa itu. Tapi ia masih tersenyum. Kyuhyun appa mengangguk.

“Oke. Kalau begitu appa ke kantor saja.” Kyuhyun appa masuk ke kamarnya. Tak lama dia keluar lagi dengan memakai baju dinasnya. Kyu appa tersenyum sekilas sebelum keluar rumah. Aku melambai setelah mobilnya menghilang dari pandangan.

Keesokan harinya aku sekolah lagi. Kali ini sekolah sepi. Tentu saja karena hanya ada murid kelas 1 dan 2. Aku masuk ke dalam kelas. Aku langsung duduk di bangkuku, di sebelah Lee Sunghee.

“Masih belum baikan dengan appamu?” tanya Sunghee. Aku mendengus. Sunghee terkekeh.

“Ya.. sampai kapan kau mau berdiam-diaman begitu dengan appamu? Ayolah..” Sunghee membujuk. Aku tetap diam. Tersenyum pun tidak. Sifat appa mulai menular padaku ternyata. Sunghee menggembungkan pipinya kesal.

“Baiklah. Susah ya bicara denganmu.” Pelajaran pun dimulai.

Saat pelajaran terakhir ponselku bergetar. Aku membaca pesan yang masuk. Dari Kyuhyun appa.

‘Kau pulang jam berapa?’ Begitu bunyinya. Aku langsung membalasnya.

‘Jam 2.’

‘Baik. Jam 2. dijemput.’ Aku tidak membalasnya. Tapi kemudian aku berpikir. Jam 2 dijemput? Bagaimana pekerjaannya?

Kyuhyun appa datang tepat waktu. Aku menghampiri mobilnya yang terparkir di depan gerbang. Aku tersenyum sekilas menatap wajah Kyu appa yang berkeringat. Hari ini memang panas.

“Kau sudah makan?” tanya Kyu appa ketika aku masuk ke dalam mobil. Aku terdiam sebentar lalu menggeleng.

“Aigo.. kau ini bagaimana? Makan yang banyak biar tidak sakit. Kau kan tahu sendiri kalau kau telat makan sekali saja kau langsung sakit.” Kyu appa menegurku. Aku terdiam. Ternyata Kyu appa masih peduli denganku.

“Ya sudah. Ayo kita makan dulu. Sekalian beli keperluan sehari-hari.” Aku mengangguk. Kami pun makan di salah satu restauran yang besar. Kami duduk berhadapan. Lagi-lagi kami makan dalam diam.

“Setelah ini kau mau kemana?” tanya Kyu appa yang sedang mengaduk minumannya. Aku mengelap bibirku dengan tisu dan terdiam sebentar.

“Aku butuh buku baru, appa. Aku kan sebentar lagi kelas 3.” Kyu appa mengangguk.

“Kalau begitu ayo kita beli buku.” Kyu appa berdiri. Aku tersenyum dan ikut berdiri.

“Hana ah.. saranghaeyo..” batin Kyuhyun.

Kyu appa memang baik. Dia selalu membelikan apa yang kuinginkan. Tapi aku tidak pernah meminta yang macam-macam. Aku selalu ingat pesan eomma agar tidak menyusahkan appa. Mulai sekarang aku berjanji tidak akan marah-marah pada appa lagi kalau ia membelikan sesuatu yang tidak kusuka. Toh dia berniat baik kan?

Tak terasa aku sudah kelas 3. Aku memang berjanji untuk tidak menyusahkan appa tapi.. rasanya masih canggung untuk mengajak bicara duluan. Karena seperti biasa, appa masih sibuk dengan pekerjaannya.

Siang ini rasanya kepalaku pusing. Aku terus-terusan memijit-mijit kepalaku. Tumben appa tidak mengirimi SMS atau menelepon. Biasanya jam segini dia selalu bertanya aku pulang jam berapa.

“Hana ah, mau bareng?” tanya Sunghee. Aku menatap keluar jendela.

“Kau pulang sendiri? Tidak bersama Eunhyukmu?” godaku. Sunghee tersenyum salah tingkah.

“Ya.. sama Hyuk sih.. tapi ayolah diluar mendung lho mau hujan.” Dia masih membujukku.

“Sudahlah kalian pulang berdua saja. Aku tidak mau mengganggu acara kalian.” Sunghee menggembungkan pipinya kesal. Tapi bisa dilihat dengan jelas ada rona merah di pipinya.

“Baiklah kalau itu maumu. Kau bawa payung kan? Kepalamu sakit?” tanya Sunghee. Aku menggeleng.

“Hyaa kau ini! Nih, kebetulan aku bawa payung. Kalau ada apa-apa telepon aku, oke?” ucapnya.

“Ne, eomma..” ucapku. Sunghee hanya tersenyum. Dia tidak keberatan kupanggil eomma karena dia mengerti aku sudah kehilangan eomma sejak umur 10 tahun. Sebenarnya Sunghee lebih tua dariku satu tahun. Sekarang umurku 16 dan dia 17. Tapi dia seperti eomma saja untukku. Apalagi dia tidak mau dipanggil unnie.

Aku berjalan keluar sekolah dengan gontai. Benar saja, gerimis sudah turun. Aku segera memakai payung pinjaman dari Sunghee. Aku berjalan dengan cepat menuju halte bus. Sebisa mungkin menghindari hujan yang makin deras. Dan akhirnya sampai di halte bus. Kepalaku rasanya berat sekali. Uh.. aku menyesal tidak menerima tawaran Sunghee tadi. Kan lumayan daripada begini. Aku memijat-mijat kepalaku. Ugh..pusing sekali. Ingin minta jemput appa tapi dia pasti masih sibuk.

“Gwaenchanayo?” suara seorang lelaki. Aku mendongak. Laki-laki yang sepertinya lebih tua sedikit dariku tersenyum hangat. Rasanya sekitarku langsung hangat padahal sedang hujan deras.

“Ne, gwaenchana,” ucapku datar. Aku mengalihkan pandangan.

“Kelihatannya tidak seperti itu,” ucap cowok tadi ringan dan duduk di sebelahku. Bisa kurasakan dia menatapku. Aku menoleh ke arahnya.

“Mwo?” tanyaku. Tiba-tiba cowok itu menempelkan punggung tangannya di keningku. Dia geleng-geleng kepala saat menarik tangannya kembali. Aku masih terdiam.

“Panas. Sebentar, aku sepertinya membawa obat.” Cowok itu membuka tasnya dan mencari sesuatu di dalamnya. Dia tersenyum ketika menemukan apa yang dia cari. Dia memberikan satu tablet obat padaku dan memberikan sebotol air mineral yang isinya tinggal setengah. Aku menatapnya ragu.

“Ini bekasmu?” tanyaku sambil menunjuk pada botol air mineral. Cowok itu mengangguk dengan polosnya.

“Minum saja. Daripada menelan tablet itu dengan air hujan.” Aku tersenyum tipis menanggapinya. Bagaimana pun juga, ini kan sama saja ciuman tak langsung. Tapi..kepalaku memang sakit sekali. Ya sudah daripada pingsan di tengah jalan. Aku pun memasukkan tablet obat ke dalam mulut dan mendorongnya dengan meneguk air mineral. Sebisa mungkin aku menghindari menyentuh pinggiran botolnya tapi apa daya? Kepala botol itu lebar, jadi aku harus menempelkan bibirku pada pinggirannya agar airnya tidak tumpah kemana-mana. Setelah selesai, aku mengembalikan botol itu pada cowok tadi.

“Kamsahamnida,” ucapku formal. Cowok tadi mengernyit heran.

“Memangnya umurmu berapa? Kenapa formal sekali?”

“Aku 16 tahun.” Cowok tadi terlihat kaget.

“MWO?! Tapi itu.. di bajumu betnya.. kamu kelas 3..” Memang benar. Di sekolahku, seragam kelas 1, 2, dan 3 di bedakan dari betnya. Kelas 1 betnya berwarna kuning, kelas 2 berwarna hijau, dan kelas 3 berwarna biru.

“Aku memang kelas 3. Tapi aku ikut akselerasi dan sering memenangkan olimpiade yang tingkatnya jauh diatasku, jadi aku dianggap sudah paham materi di kelas itu. Jadilah aku di kelas 3 sekarang.” Cowok tadi tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Terlihat jelas dari wajahnya. Apalagi matanya yang tak berhenti memandangku. Lama-lama risih juga.

“Wow.. berarti kau lebih muda setahun dariku ya? Aku juga kelas 3 tapi umurku 17 tahun.” Aku mengangguk.

“Well, dari tadi kita mengobrol terus tanpa tahu nama masing-masing. Kenalkan, namaku Lee Donghae. Dan namamu?” Cowok itu mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya.

“Cho Hana.” Kami berjabat tangan sambil tersenyum.

“Tunggu sebentar, kenapa kau tahu aku sudah kelas 3? Bukankah hanya sekolahku saja yang tahu arti dari warna bet ini?” tanyaku heran. Dia tersenyum.

“Sahabatku bersekolah di sana. Aku tahu karena dia menceritakan hal itu padaku.”

“Sahabatmu siapa? Siapa tahu aku kenal?”

“Lee Hyukjae. Kenal dia?” Donghae tersenyum. Aku terpana.

“Aku kenal dia! Dia pacar sahabatku!” ucapku spontan.

“Jinja? Wah.. ternyata dunia tidak selebar itu ya.. siapa tahu ternyata sahabat kita pacaran?” Donghae tertawa. Aku tertawa sekilas. Rasanya sakit kepalaku hilang seketika.

Bus yang kutunggu sudah datang. Aku segera masuk ke dalamnya. Kukira Donghae akan masuk bersamaku tapi ternyata tidak. Dia melambaikan tangan. Bibirnya bergerak, aku mengartikannya sebagai.. “Annyeong.”

Sampai di rumah sepi sekali. Appa kemana ya? Kenapa rasanya aku kangen sekali dengannya? Ah sudahlah. Pasti appa akan datang 2 jam lagi.

Aku mengganti bajuku dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Aku membasuh mulai dari kening. Aku teringat sentuhan Donghae di keningku tadi. Rasanya menenangkan dan.. aish mikir apa aku ini! Aku kembali membasuh wajahku sampai tanganku tak sengaja menyentuh bibirku. Aku jadi teringat ‘ciuman’ tidak langsung tadi. Bagaimana kalau tiba-tiba dia menciumku.. arrghh!!! Cho Hana kau gila!! Aku segera mematikan keran dan keluar dari kamar mandi. Aku tertegun ketika melihat Kyu appa sedang rebahan di sofa. Seperti biasa, dia terlihat sangat kelelahan. Dia menutup matanya. Saat ia membuka mata, ia langsung menatapku.

“Oh kau sudah pulang?” ucapnya. Aku mengangguk.

“Bisa tolong simpankan tas appa di kamar? Appa capek sekali..” Aku mengangguk dan menyimpankan tasnya. Aku agak ragu memasuki kamarnya karena rasanya jarang sekali aku masuk ke kamar ini lagi setelah eomma meninggal. Aku terkejut melihat tulisan-tulisan di pigura, ada fotoku juga. Aku menyimpan tas appa di tempatnya dan berjalan menuju pigura itu. Ada fotoku saat aku kecil hingga saat ini. Kapan ia mengambilnya? Bahkan ada fotoku saat baru masuk SMA. Kalau tidak salah waktu itu aku berangkat sendiri ke sekolah. Lalu siapa yang memotretnya? Aku mulai membaca tulisan-tulisan itu satu persatu di dalam hati.

“Hana kecilku sudah memasuki kelas 5 SD. Kilau di matanya menghilang sedikit demi sedikit. Aku mengerti. Dia masih membutuhkan eommanya, dan aku? Aku seorang appa yang payah. Aku bahkan tidak bisa mengembalikan kilauan matanya lagi..”

“Puteri Hana memasuki SMP dengan nilai yang jauh di atas rata-rata. Aku sangat senang. Aku ingin sekali mencium pipinya. Tapi saat aku ingin melakukannya, aku malah melihatnya menangis sambil memandangi foto istriku..”

“Ulang tahun Hana yang ke 13. Dia tidak meminta dirayakan. Dan aku hanya bilang, “Saengil chukkae.” Tanpa embel-embel apa pun lagi. Aku minta maaf, Hana ah. Saranghaeyo.”

“Hana sudah lulus SMP. Wajahnya semakin lama semakin mirip dengan istriku. Sangat cantik. Banyak sekali pria yang mendekatinya. Dan aku rasanya tidak suka melihat laki-laki itu mendekati puteriku.”

“Memasuki SMA, Hana kecil semakin disukai para namja. Dia sekarang sudah beranjak dewasa. Dia memenangkan berbagai olimpiade dan mengikuti akselerasi. Dan berhasil. Aku bangga sekali padanya.”

“Aku ingin mengucapkan ini padanya.. Hana, my little princess, saranghaeyo..”

Mataku menghangat membacanya. Aku segera menghalau air mataku. Appa..na ddo saranghaeyo. Mianhaeyo appa.. aku tidak mengerti. Aku terlalu egois. Mianhae..

Aku keluar dari kamar appa. Kyu appa masih rebahan di sofa. Aku tersenyum. Aku menghampirinya. Aku menunduk menatap wajah damai appa.

“Appa, kalau kau mencintaiku, bilang saja terus terang.” Aku berusaha bercanda. Kyu appa langsung membuka matanya dan menatapku heran.

“Mworago?” tanyanya.

“Appa mencintaku kan? Ayolah akui saja.” Aku menahan tawa melihat ekspresi herannya. Akhirnya pertahananku runtuh. Tawaku meledak. Kyu appa makin heran. Di hadapannya tertawa lepas seperti ini mungkin hanya 2 tahun sekali. Itu juga ada sebab yang pasti. Dan sekarang?

“Yah.. Hana ah, gwaenchanayo?” Wajahnya terlihat khawatir.

“Kenapa kau makin hari makin mirip dengan mendiang ibumu sih?” tanyanya lagi. Aku tersenyum. Kata-kata yang aku ucapkan tadi memang kata-kata eomma waktu Kyuhyun appa masih malu-malu mendekati eomma. Memang Kyu appa tidak pandai menyembunyikan perasaannya dari eomma, makanya eomma memancing Kyu appa dengan bicara seperti itu. Bedanya, kali ini nama Kyuhyun kuganti dengan appa. Aku tahu itu karena eomma pernah menceritakannya padaku.

“Appa, aku sudah membaca tulisan di pigura di kamar appa..” Mataku menghangat lagi. Kyu appa terdiam, menunggu.

“Waeyo, appa? Kenapa appa selalu bilang appa gagal? Appa yang tidak baik? Waeyo appa? Bagiku, appa adalah appa terbaik di dunia ini. Saranghaeyo appa.” Aku memeluk Kyuhyun appa. Ia balas memelukku meskipun agak ragu. Kami berpelukan agak lama. Aku menyesal. Kenapa baru sekarang? Sudah berapa tahun kami lewatkan dengan kesunyian?

“All I wanna do is find a way back into love… I can’t make it through without a way back into love..” Aku mulai bersenandung. Ini lagu kesukaan eomma dan appa. Lagu Way Back Into Love.

“And if I open my heart to you..” Sambung Kyu appa. Aku tersenyum.

“I’m hoping you’ll show me what to do..” sambungku.

“And if you help me to start again..” sambung Kyu appa.

“You know that I’ll be there for you in the end…” Kali ini kami bernyanyi bersamaan. Kami bernyanyi masih dalam posisi berpelukan. Akhirnya aku melepaskan pelukanku. Kyu appa tersenyum. Senyum yang sangat tulus. Aku ikut tersenyum.

“Saranghaeyo, my little princess.”

“Saranghaeyo my best appa.”

Hari kelulusan tiba. Akhir-akhir ini dia jadi sangat perhatian terhadapku. Aku jadi merasakan kehadiran appa dan ‘eomma’ di keluargaku. Sekarang saja appa dengan setia menemaniku memasuki gerbang sekolah. Di kejauhan kulihat Donghae yang sedang bercengkrama dengan Eunhyuk. Donghae sekarang pacarku. Kyu appa sepertinya merestui. Hanya saja.. tatapannya saat melihat Donghae seperti kurang bersahabat.

Kepala sekolah mengumumkan siapa juara umum dan pemenang beasiswa ke Amerika selama 2 tahun. Kami harap-harap cemas. Aku melirik Kyu appa yang tersenyum menenangkan dan Donghae oppa yang tersenyum. Aku balas tersenyum. Senangnya memiliki 2 namja baik seperti mereka.

“Baiklah.. siswa yang berhasil memenangkan beasiswa ke Amerika dan menjadi juara umum adalah… Cho Hana dari kelas 3-1!” Aku menganga. Aku? Aku? Aku ke Amerika? Kudengar semua bertepuk tangan. Aku menatap heran pada Kyu appa dan Hae oppa. Mereka bertepuk tangan dan menyemangatiku. Aku pun maju. Aku berdiri di belakang podium.

“Ah.. annyeonghaseo. Aku tidak menyangka bisa mendapatkan ini.. ahhahaha.. kamsahamnida untuk appa, teman-teman semua, guru-guru sekalian, dan eomma… kamsahamnida.. saranghamnida.” Semuanya bertepuk tangan untukku. Senyumku tak henti-hentinya menghiasi wajahku. Aku senang sekali.

Aku berlari menghampiri Kyu appa dan memeluknya. Kyu appa mengacak-acak rambutku.

“Aigo.. putri kecil appa akan pergi ke Amerika hah? Hebatnya..”

“Gomawoyo appa.” Aku tersenyum. Aku lalu menatap Hae oppa yang daritadi berdiri di sebelah Kyu appa. Aku pun memeluknya. Kali ini Kyu appa tersenyum.

“Kau hebat, jagiya!” Hae oppa mengelus kepalaku. Aku tertawa. Rasanya menyenangkan sekali.

“Oh, appa! Kepala sekolah bilang aku akan pergi dua hari lagi.” Kyu appa mengangguk.

“Kalau begitu ayo kita pulang dan berkemas-kemas.” Kyu appa merangkulku. Hae oppa masih berdiri di tempatnya.

“Ah, jankamannyo, appa!” Aku melepaskan rangkulannya dan menghampiri Hae oppa. Dia tersenyum lalu menarik tanganku. Dia membawaku ke suatu tempat. Ternyata ke taman belakang sekolah.

“Hana, aku benar-benar bangga kepadamu. Kau memang sangat pintar.” Aku tersenyum.

“Gomawo.”

“Hana, boleh aku meminta sesuatu?”

“Hm..apa?”

“Bolehkah aku memelukmu dan menciummu untuk yang terakhir kalinya?”

“Mwo? Kenapa terakhir kali..” Ucapanku terputus karena Hae oppa sudah menempelkan bibirnya di bibirku. Dia lalu melepaskan bibirnya dan memelukku. Bisa kurasakan debar jantungnya yang tidak karuan.

“Oppa.. gwaenchana?” tanyaku.

“Ne. Hana ah, dua hari lagi kau akan ke Amerika kan? Kurasa.. sebaiknya kita putus saja..”

“Mworago?!” ucapku tak percaya. Aku menatap ke matanya dan keseriusan tertangkap dengan jelas oleh mataku.

“Waeyo?” tanyaku. Donghae oppa menunduk.

“Mianhaeyo. Saranghae.” Aku masih menganga. Dia memelukku lagi.

“Mianhae merusak kebahagiaanmu.. kalau kita jodoh, kita pasti akan bertemu lagi.” Donghae oppa tertawa parau. Aku terdiam. Akhirnya aku mengangguk.

“Keputusan oppa sepertinya benar. Aku akan belajar dengan giat di sana. Aku janji.”

“Bagus. Ini dia putri kecil Hana.” Kami tertawa.

Hari keberangkatanku tiba. Kyu appa terlihat bersemangat. Heran.. memangnya tidak sedih ya ditinggal puteri semata wayangnya ini?

“Nah, sebentar lagi kau pergi kan, Hana? Jaga diri baik-baik di sana ya.. jangan serius main game, seriuslah belajar. Setiap hari hubungi appa ya? Appa janji kalau appa punya waktu, appa akan mengunjungimu ke sana. Ara?” ucapnya panjang lebar. Aku mengangguk semangat.

“Ne, appa. Aku janji akan terus menghubungi appa. Saranghaeyo, appa.” Aku memeluk Kyu appa. Ia balas memelukku. Tiba-tiba aku melihat Hae oppa berlari ke arahku. Aku lalu melepaskan pelukanku. Hae oppa berdiri tepat di hadapanku, masih ngos-ngosan.

“Ha..Hana ah, jaga diri baik-baik!” ucapnya. Aku tersenyum. Hae oppa memelukku singkat. Tiba-tiba terdengar suara pengumuman bahwa pesawat yang akan kutumpangi berangkat sebentar lagi.

“Aku harus pergi appa, oppa. Annyeong!” Aku tersenyum dan berjalan menjauhi mereka. Mereka melambaikan tangannya. Aku balas melambai. Saat berbalik aku meneteskan air mata.

Setahun sudah berlalu. Aku masih tinggal di apartement di Amerika. Aku menatap ponsel di tanganku. Aku menekan nomor appa dan mendekatkan ponsel ke telinga. Tetap sama, tidak bisa dihubungi. Dari kemarin begini terus. Ada apa ya? Apa jangan-jangan appa ganti nomor? Ah tidak mungkin. Dia pasti memberitahuku. Dan Donghae oppa? Sesekali dia masih mengirimiku pesan singkat. Begitu juga dengan Sunghee. Tapi dengan Sunghee lebih sering menggunakan web-cam. Aku memutar-mutar ponselku. Ada apa dengan appa? Kenapa sibuk sekali? Dia kan yang menyuruhku untuk menghubunginya setiap hari. Dia juga berjanji akan menemuiku kalau punya waktu luang. Aigo.. aku sangat merindukan appa..

2 tahun sudah berlalu. Akhirnya aku akan kembali ke Korea. Setahun terakhir ini appa tidak menghubungiku. Rasanya kangen sekali. Tidak sabar ingin pulang.

“Hana ssi, selamat jalan. Hati-hati ya,” ucap Kibum oppa. Dia tetangga sebelah apartementku. Dia juga kuliah di Amerika tapi bukan karena beasiswa.

“Ne, oppa. Good bye.” Aku menunduk. Kibum oppa tersenyum. Dia melambaikan tangannya. Bibirnya bergerak. Aku mengernyit ketika sadar dia mengucapkan “Annyeong.” Aku jadi teringat Donghae oppa.

Sampai di Korea, Eunhyuk menjemputku. Tapi kemana Sunghee?

“Sunghee mana?” Sama seperti Sunghee, Eunhyuk tidak mau kupanggil oppa.

“Dia ada urusan.” Eunhyuk menjawab sekenanya. Aku heran. Kenapa rasanya tidak ada yang bahagia dengan kedatanganku?

Eunhyuk membawa koper besarku dan memasukkannya ke bagasi mobilnya. Aku masuk ke mobilnya dan dia mengantarku pulang. Sampai di rumah, Eunhyuk hanya menurunkan koperku dan bergegas pamit pergi. Aku heran. Apa jadwalnya sangat padat ya?

Aku menatap rumah besar di hadapanku. Sepi. Aku membuka pagarnya dan menyimpan koperku di teras. Aku lalu melihat Heechul ahjussi sedang menelepon di halamannya. Aku dengan sabar menunggunya. Saat ia sudah selesai menelepon dan hendak masuk ke dalam rumahnya, aku segera mencegahnya.

“Jankamannyo, Heechul ahjussi!” panggilku. Heechul ahjussi menoleh.

“Oh! Hana ssi! Sudah lama tidak bertemu!” Senyumnya melebar. Aku membalas senyumnya sekilas.

“Kyuhyun appa…mana?” tanyaku langsung. Seketika ekspresi Heechul ahjussi berubah suram. Ada apa ini?

“Hana ssi, appamu.. sudah meninggal setahun yang lalu. Dia sengaja bilang padaku untuk tidak memberitahukannya padamu.” Aku tercengang. Apa? Tidak mungkin. Tidak mungkin. Dia pasti bercanda.

“Ahjussi..jangan mengerjaiku lagi. Aku tahu ahjussi pasti bercanda. Ya kan?” Aku tetap bersikukuh. Heechul ahjussi menghela napas.

“Itu benar. Kalau tidak percaya kau tanya saja pada warga yang lain.”

“Ani..aniyo.. ahjussi pasti bercanda.. ya aku tahu..hahaha..kau pasti bercanda kan, ahjussi?” Aku tertawa garing. Air mata mulai menuruni pipiku. Aku berjalan menuju halaman rumah dengan gontai. Aku terduduk di teras. Aku menelungkupkan wajahku ke lipatan tanganku. Tidak mungkin..

“Appa.. appa saranghaeyo!! Appa jangan pergi..appa. Appa mianhae aku suka marah-marah padamu dulu. Padahal aku tahu appa berniat baik.. appa mianhaeyo..saranghae…selamat jalan..” ucapku di sela tangis.

“Selamat jalan kemana, Hana ah?” Aku tertegun. Itu kan suara..Kyuhyun appa?! Aku mendongak. Aku tidak bisa mempercayai penglihatanku. Kyuhyun appa memasuki pekarangan rumah sambil menenteng kantung plastik berisi minuman dan sebagainya.

“A..appa?” tanyaku.

“Ne. Waeyo? Pulang-pulang menangis di sini.” Kyu appa menghampiriku. Aku memegangi tangannya, menatap kakinya, memegang-megang wajahnya. Tidak mungkin..

“Hee..Heechul ahjussi bilang appa sudah meninggal..jadi aku menangis..” Kyuhyun appa tertawa mendengarnya.

“HEECHUL AHJUSSI, NEO..”

“Saengil chukkahamnida…saengil chukkahamnida..saranghaeyo Cho Hana ah..saengil chukkahamnida..” Aku tertegun melihat Kyu appa, Heechul ahjussi, Donghae oppa, Sunghee, Eunhyuk, dan seluruh teman-teman sekelasku di SMA menyanyikan lagu untukku. Memangnya sekarang hari apa? Bukankah.. OMONA!! Benar! Waktu Amerika dan Korea kan beda! Aish paboya..

Aku menatap wajah-wajah itu satu persatu. Air mataku mengalir lagi. Kali ini air mata bahagia.

“Appa!!!” Aku menghambur ke pelukan appa. Semua tertawa melihat tingkahku.

“Aigo..Hana ah, kau punya seseorang yang ingin dikenalkan padaku tidak? Dari Amerika mungkin?” tanya Kyu appa tiba-tiba. Aku mengernyit heran.

“Maksud appa…?”

“Mwo? Jadi kau tidak mempunyai kekasih di sana? Orang yang disukai? Tak ada? Aish.. kukira pulang dari Amerika kau akan menggaet seorang lelaki yang memenuhi kriteria appa. Ternyata tidak. Dengar, dulu appa itu menjadi pujaan semua wanita. Semuanya menyukai appa. Sedangkan kau? Satu pun tak ada?” Kyu appa mengoceh panjang lebar. Aku cemberut.

“Appa kau ini!!” Tiba-tiba aku mendengar suara tawa. Ternyata Hae oppa.

“Tenang, Hana ah. Kan masih ada aku disini,” ucapnya. Wajahku memerah. Kyu appa tersenyum.

“Bagus bagus. Setidaknya masih ada yang menyukaimu.” Dengan gemas aku menginjak kaki Kyu appa. Donghae oppa berjalan mendekatiku.

“Hana ah, nawa gyeohronhaejullae?” Donghae oppa berlutut di hadapanku sambil menyodorkan sebuah cincin. Aku tertegun. Kyu appa mulai menyanyi sebuah lagu. Lagu Marry U. Semuanya pun ikut menyanyi.

“I do..” ucapku. Semuanya bertepuk tangan. Donghae oppa memasangkan cincinnya di jariku dan mengecup keningku lembut.

“Hya! Kau belum menjadi suaminya! Jangan sentuh anakku!” celetuk Kyu appa. Aku melirik Sunghee. Dia mengangguk semangat menyetujui perkataan Kyuhyun appa. Dasar eomma..

“Gomawoyo semua.. Ini hari ulang tahun terindahku. Saranghaeyo, appa.” Aku memeluk Kyuhyun appa lagi.

“Na ddo saranghaeyo, my little princess.” Kyuhyun appa mengecup keningku lembut.

THE END

27 thoughts on “[FF] Saranghaeyo, Appa

  1. Dini Agustin says:

    Wahh ternyata heechul oppa ngebohongin anaknya kyu wahh kebangetan. Kok nama anaknya kyu Hana kaya nama eomma nya kyuhyun aja. Oh ya istrinya kyu itu siapa. Next ya chingu

  2. hyena says:

    aku salah fokus ke bet sekolah nya deh ko sama persis ya sama d sekolahku..jangan2 author nyaa..#abaikan

    tapii over all ceritanya ketdjeeh..bayangin kyu kalau ntar punya anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s