[FF] Take care of my girlfriend part 5

kalau mau lihat part sebelumnya ke web ini: http://www.imaginationsandloves.tumblr.com/

“Ada bir yang sekali teguk langsung mabuk ga?” tanya Junhyung. Jaejoong terdiam sebentar lalu mulai mencari.

“Ada. Mau?” kata Jaejoong dingin.

“Tidak. Kapan-kapan saja.” Junhyung menatap sekeliling. Tiba-tiba seseorang menyapanya.

“Hai.” Sapa seorang cowok. Junhyung melirik sebentar dan membalas, “Hi.” Junhyung melirik cowok itu sebentar lalu dia teringat sesuatu. Kalau tidak salah dia pernah melihatnya di TV. Ah..guru dance baru, pikir Junhyung.

“Lee Hyukjae?” tanya Junhyung. Cowok itu mengangguk.

“Kau bisa memanggilku Eunhyuk.”

“Eunhyuk hyung tepatnya. Aku lebih muda darimu.”

“Ya aku tahu.” Eunhyuk tersenyum. “Well, aku pernah melihatmu di VRS. Kau salah seorang trainee juga kan?”

“Ne.”

“Rap ya? Dance juga?” tanya Eunhyuk. “Uh-huh.” Junhyung menjawab sambil mengangguk-angguk.

“Tunggu, siapa namamu?”

“Yong Junhyung.” Eunhyuk menggumam tidak jelas. Junhyung meliriknya sekilas.

“Di daftarku, kau juga jadi muridku. Ya kan?” Junhyung mengangkat bahu. Eunhyuk menatap Junhyung lama. Jadi ini pacar baru Sunghee? hah..apa kelebihannya? Kenapa Sunghee sampai memilihnya? Dan bibir itu..bibir yang telah mencium bibir pacarku, pikir Eunhyuk. Dadanya terasa panas melihat Junhyung. Junhyung yang ditatap begitu merasa risih.

“Apa?” tanya Junhyung. Eunhyuk menggeleng. Dia lalu beranjak dan berjalan ke dance floor. Junhyung memperhatikan Eunhyuk yang mulai menari. Sekilas Junhyung kagum dengan kemampuan Eunhyuk. Junhyung tersenyum miring dan mulai melawan Eunhyuk.

“Hebat juga kau, guru dance.” Junhyung tersenyum sinis. Eunhyuk mengangkat alis.

“Kenapa kau harus tersenyum sinis pada gurumu?” Eunhyuk menyindir. Junhyung hanya tersenyum tipis. Semakin lama mereka semakin akrab. Eunhyuk melupakan sejenak perasaannya yang kacau balau. Dia memutuskan untuk menganggap Junhyung sebagai adik sendiri.

“Kau terlibat skandal dengan Shin Gaeul ya?” tanya Junhyung. Eunhyuk sedikit terkejut. Tapi dia mengangguk. Junhyung tersenyum.

“Sabar, hyung. Mereka memang selalu mencari sensasi.” Yang dimaksud oleh Junhyung dengan kata mereka adalah para wartawan. Junhyung menepuk-nepuk pundak Eunhyuk pelan, memberi semangat. Eunhyuk merasa perlakuan Junhyung sangat baik. Dia mulai bisa menerima Junhyung berpacaran dengan pacarnya.

“Oppa, tadi ada yang membayar bukuku.” Sunghee langsung berbicara ketika Donghae duduk di hadapannya. Donghae terdiam sebentar.

“Dongsaeng ah…kau memanggilku ke sini hanya karena itu?” Donghae menghempaskan diri di sofa. Sunghee tersenyum tipis.

“Kau bahkan belum memberiku minum.” Donghae melirik arah dapur. Sunghee tertawa dan berjalan menuju dapur.

“Mau minum apa, oppa? Dingin? Hangat? Teh? Kopi?” Sunghee melihat-lihat isi lemari makanan. Sunghee melirik Donghae karena cowok itu tak juga menjawab. Ternyata Donghae sedang serius menatap layar kaca.

“Aigoo..kawanku ini.. siang malam ada saja beritanya.” Donghae bergumam. Sunghee paham maksudnya.

“Pasti Eunhyuk oppa,” ujar Sunghee dengan malas. Donghae mengangguk. Karena cuaca sedang dingin, akhirnya Sunghee memutuskan untuk membuat cappucino panas. Dia lalu menyajikannya di depan Donghae.

“Oh, gomawoyo.” Donghae menyeruput cappucino tersebut dengan nikmat. Sunghee hanya mengangguk.

“Oppa, kira-kira siapa ya yang membayar buku itu?” Sunghee memulai lagi. Sebenarnya dipikiran Donghae terbersit sebuah nama, Lee Hyukjae, tapi dia sengaja tidak mengatakannya.

“Mollayo. Kenapa kau sampai kepikiran begitu?” Donghae menatap Sunghee. Sunghee balas menatap Donghae dengan tatapan menyelidik. “Wae?” Donghae merasa risih. Sunghee menyipitkan mata.

“Kau pasti sedang memikirkan seseorang. Orang yang membayar buku itu. Kau tahu kan?” tanya Sunghee.

“Ani. Aku tidak tahu. Ciri-cirinya saja aku tidak tahu.” Sunghee lalu memberitahu Donghae ciri-ciri si pembayar buku yang diberitahu oleh kasir tadi. Donghae mengernyit mendengarnya.

“Cho Kyuhyun? Trainee vocal itu?” Donghae menebak.

“Tadinya juga aku berpikir dia yang membayar tapi rasanya aku dan dia tidak terlalu dekat. Jadi rasanya tidak mungkin.” Donghae mengangguk-angguk.

“Jangan-jangan sebenarnya dia suka padamu, tapi dia tidak berani mengungkapkannya jadi dia diam-diam memperhatikanmu lalu dia melihatmu masuk ke toko buku dan membayar buku-bukumu sebelum kau sadar lalu dia pergi dan…” Donghae terus berceloteh sementara matanya menatap langit-langit, berpikir.

“Aish..oppa!” Sunghee menempelkan telapak tangannya di mulut Donghae. Donghae terdiam.

“Kayaknya itu tidak mungkin!” Sunghee memprotes celotehan Donghae.

“Lalu siapa? Eunhyuk?” Donghae melotot menyadari dirinya salah bicara. Sunghee terpaku.

“Ah…bukan maksudku menyebut nama itu lagi…Sunghee..” Donghae merasa bersalah. Sunghee tersenyum.

“Gwaenchana, oppa. Tidak apa kau menyebut namanya jutaan kali pun di depanku.” Donghae mengangkat alis. Sunghee menghela napas. Donghae melirik jam di dinding. Sudah hampir pukul setengah 10 malam.

“Sunghee yah, kau masih aktif latihan di VRS?” Donghae mencoba menghancurkan suasana tegang. Sunghee menggeleng. “Kenapa?” tanya Donghae.

“Molla. Mungkin karena kenangan di sana banyak sekali.” Sunghee menyandar pada sandaran sofa. Raut wajahnya terlihat sedih. Donghae jadi sedikit merasa bersalah. Dia merangkul Sunghee dan menepuk-nepuk pundak gadis itu pelan.

“Tak apa kalau kau tak mau kembali lagi ke sana, tapi ayolah kenangan-kenangan itu tidak bisa dihindari, entah yang manis atau yang pahit. Kau jangan berlari menghindarinya, Sunghee. Kalau kau menghindarinya kau pengecut.” Donghae berkata dengan lembut. Sunghee menatap lantai. Tiba-tiba pintu terbuka dan Sunghee terkejut ketika dilihatnya Junhyung berdiri di depan pintu. Donghae melepaskan rangkulannya dan berdiri.

“Oh..oppa.” Sunghee tersenyum dipaksakan. Junhyung agak terkejut melihat Donghae ada di sana dan merangkul Sunghee.

“Oh hyung ada disini juga rupanya.” Junhyung tersenyum. Donghae membalas senyumnya.

“Donghae hyung, ada guru baru ya di VRS? Aku menjadi muridnya.” Junhyung menahan perasaan herannya. Donghae menaikkan alis.

“Hyukjae?”

“Ye. Dia bilang memanggilnya Eunhyuk saja.” Junhyung tersenyum ketika tatapannya beradu dengan tatapan Sunghee. Senyumnya meredup ketika Sunghee terlihat sedih. Donghae bersiap untuk pamit pulang.

“Yo, Sunghee ah, Junhyung ah, aku pulang duluan oke? Sudah malam.”

“Ne, oppa. hati-hati.” Sunghee melambaikan tangan. Donghae pun pergi. Sunghee dan Junhyung bertatapan lagi.

“Ada sesuatu antara kau dan sunbae mu?” Junhyung memulai pembicaraan. Dia duduk di sofa ruang TV. Sunghee berdiri di belakangnya.

“Aniyo. Dia sudah menganggapku sebagai adik sendiri. Tadi aku semacam…cerita..padanya lalu dia merangkulku dan menepuk pundakku untuk menenangkanku.”

“Dan kenapa kau memanggilnya? Bukan aku?” Junhyung tak menatap Sunghee. Sunghee melingkarkan tangannya ke leher Junhyung.

“Karena kau tidak akan mengerti apa yang ingin kubicarakan dan kau juga tak ingin membicarakannya.” Sunghee berkata dengan pelan. Junhyung mendongak menatap Sunghee. Mereka berdua bertatapan lama. Junhyung bangkit dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sunghee. Tapi ternyata dia malah menyeringai dan berlalu keluar ruangan. Sunghee menatap punggung Junhyung dengan gemas. Junhyung berdiri di ambang pintu. Dia menatap Sunghee.

“Jagi, aku tidak marah kalau yang merangkulmu adalah orang yang dekat juga denganku tapi kalau tidak..entahlah bagaimana nasib cowok itu. Mungkin mati di tanganku.” Sunghee melotot mendengarnya.

“Mati di tanganku dalam arti yang sebenarnya. Kubunuh dengan tanganku sendiri.” Junhyung melanjutkan. Sunghee mendengus.

“Kau berlebihan, oppa. Sekarang sudah malam, aku mau istirahat.” Sunghee terlihat lelah. Junhyung mengangguk dan berlalu pergi.

“Gaeul noona?” Eunhyuk heran melihat idolanya sedang berdiri di lobby VRS Ent. Perempuan itu memakai topi berwarna hitam yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Rambutnya diikat berantakan. Dia juga memakai kaca mata hitam dipadu dengan T-shirt ketat dan jaket longgar dengan celana jeans longgar berwarna hitam. Meskipun penampilannya beda jauh dengan dirinya yang sebenarnya, Eunhyuk masih mengenali Gaeul. Eunhyuk lalu mendekati Gaeul dengan heran. Gaeul mendongak perlahan menatap Eunhyuk di hadapannya. Senyumnya lalu mengembang.

“Kau masih mengenaliku, huh?” ucap Gaeul. Eunhyuk tersenyum dan mengangguk.

“Jadi, apa yang membawamu kemari?” tanya Eunhyuk. “Membuat skandal denganku lagi?”  Gaeul mendengus mendengarnya.

“Aish.. kau ini..tentu saja tidak! Aku hanya mau mengundangmu ke pesta perpisahanku minggu depan. Aku akan kembali ke Amerika. Ahh..aku akan merindukan tempat ini.” Gaeul melihat sekeliling. Eunhyuk menatap amplop undangan yang diberikan Gaeul padanya tadi. Dia membacanya sekilas.

“Semua orang di VRS Ent. diundang?” Eunhyuk membaca salah satu kalimat di kartu undangan itu. Gaeul mengangguk mantap.

“Kau datang juga kan?” Gaeul menurunkan kaca matanya sehingga dia bisa menatap Eunhyuk dengan jelas. Eunhyuk ragu sejenak lalu mengangguk. Gaeul tersenyum puas.

“Aku tau kau pasti datang.” Gaeul tersenyum manis. “Oke, harus pergi sekarang… see you next week! Bye!” Gaeul menepuk pundak Eunhyuk sekilas dan bergegas pergi. Eunhyuk menatap punggung Gaeul sampai hilang dari pandangan. Dia lalu kembali ke ruang latihan.

“Junhyungie!” Eunhyuk memanggil Junhyung. Junhyung yang sedang meregangkan otot-ototnya menoleh.

“Ne?”

“Kau datang ke pesta perpisahan Gaeul noona nanti?” tanya Eunhyuk. Junhyung berpikir sambil menunduk untuk menyentuh ujung-ujung jari kakinya. Dia lalu berdiri tegak.

“Engh…molla. Mungkin ikut. Hyung ikut?” Junhyung balik bertanya. Belum sempat Eunhyuk menjawab, Junhyung sudah memotong. “Ah pertanyaan bodoh. Sudah pasti kau akan datang. Dia pacarmu kan?” goda Junhyung.

“Yah…dia bukan pacarku. Kau ini ada-ada saja.” Eunhyuk tertawa. Junhyung memamerkan senyum miringnya.

“Kalau kau mau membawa pasangan juga tak apa,” tambah Eunhyuk. Junhyung mengangkat alis.

“Kurasa aku akan membawanya.” Junhyung mengangguk-angguk. Eunhyuk tertegun. Dia berpikir siapa tahu bisa bertemu dengan Sunghee.

Hari pesta pun tiba. Eunhyuk melihat sekeliling ruangan yang besar itu. Dia mencari sosok Sunghee. Tapi dia tidak menemukannya. Tiba-tiba sebuah tangan dingin menepuk pundaknya dari belakang. Eunhyuk menoleh kaget. Donghae menyeringai di belakangnya.

“Hae, tanganmu dingin sekali..” Eunhyuk berkomentar. Donghae tertawa sekilas.

“Tentu saja. Tadi aku memegang minuman dingin. Mau?” Donghae menawarkan minuman. Eunhyuk tersenyum dan menggeleng.

“Mencari dia?” tanya Donghae. Eunhyuk mengangguk. Donghae menghela napas. Eunhyuk menahan napas ketika dilihatnya Junhyung masuk ke ruangan. Dia menggandeng seorang perempuan. Nafas Eunhyuk makin tercekat ketika dilihatnya Sunghee yang ada di samping Junhyung. Akhirnya dia melihat pacarnya lagi. Junhyung melihat ke arah Eunhyuk dan tersenyum. Sunghee membisikkan sesuatu ke telinga Junhyung dan dia berlalu ke arah yang lain. Eunhyuk agak kecewa. Tapi dalam hati ia bersyukur. Junhyung berjalan ke arah mereka dan berdiri tepat di hadapan Eunhyuk.

“Hi, hyung,” sapanya. Eunhyuk tersenyum. Donghae melakukan hal yang sama.

“Kemana pacarmu?” tanya Eunhyuk. Junhyung melirik ke belakang.

“Dia bilang dia mau bertemu kawan lamanya,” kata Junhyung sambil tersenyum melihat Sunghee yang sedang bercengkrama dengan beberapa temannya. Pesta pun berlalu dengan meriah. Sunghee jarang berada di sisi Junhyung. Entah kenapa. Junhyung pun merasa seperti tidak membawa pasangan.

“Hyung, sepertinya aku pergi ke pesta sendirian,” keluh Junhyung. Eunhyuk tersenyum.

“Kalau begitu samperin sanah.” Eunhyuk mendorong punggung Junhyung. Junhyung hanya maju selangkah. Dia terdiam.

“Biarlah, hyung. Sama aku sih sudah sering. Bosan kayaknya.” Mereka berdua tertawa. Eunhyuk tertawa meskipun hatinya terasa sakit mendengar kalimat itu. Pacarnya sering bersama lelaki lain. Bukan dirinya. Begitu menyakitkan.

“Hei!” Gaeul berdiri di hadapan Eunhyuk dengan tatapan gembira. Eunhyuk tersenyum. Entah kenapa rasa kagumnya pada Gaeul semakin hari semakin berkurang. Tapi anehnya, perasaan cintanya pada Sunghee semakin hari malah semakin bertambah. Mungkin karena permohonan pada bintang jatuh waktu itu. Cinta abadi..

“Eunhyuk ah, boleh bicara denganmu sebentar?” pinta Gaeul. Junhyung melirik mereka berdua bergantian. Eunhyuk berpikir sebentar lalu mengangguk.

Gaeul membawa Eunhyuk ke tempat yang sepi di gedung itu. Langkah Gaeul terhenti tiba-tiba. Eunhyuk sampai hampir menabrak tubuhnya. Gaeul berbalik. Wajahnya terlihat sedih.

“Eunhyuk ah, aku akan merindukanmu,” ungkapnya. Eunhyuk menaikkan alis.

“Aku juga..”

“Tapi, sebelum itu aku akan mengucapkan sesuatu.” Gaeul menatap Eunhyuk dalam. Eunhyuk menunduk, membalas tatapan Gaeul.

“Aku.. mulai menyukaimu,” ucap Gaeul. Eunhyuk sedikit terkejut. Tapi dia dengan cepat menghalangi rasa terkejutnya. Dia tersenyum lembut.

“Aku tahu. Tampang polosku ini memang memikat banyak wanita.” Eunhyuk tersenyum bangga. Gaeul ternganga. Eunhyuk tertawa. Gaeul tertawa garing.

“Mian, noona. Terima kasih sudah menyukaiku. Tapi maaf.. aku hanya kagum padamu.” Gaeul mengangguk paham.

“Gwaenchana, hyuk ah. Boleh kupanggil begitu?” Gaeul bertanya. Eunhyuk mengangguk.

“Dengan senang hati, Eul noona.” Mereka berdua tertawa.

“Padahal… tadinya aku berencana akan kembali lagi ke Korea untuk menemuimu. Tapi kalau kau hanya kagum, aku akan terus berkarir di luar negeri. Tetaplah kagum padaku, oke?” Gaeul terkekeh. Eunhyuk juga. Senyuman di wajah Gaeul menghilang. Matanya mulai berair.

“Hyuk ah, bisakah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?” pintanya. Eunhyuk terdiam dan mengangguk.

Sunghee berjalan menuju toilet. Dia merasa agak bersalah juga mengabaikan Junhyung. Tapi apa boleh buat? Dia sudah lama tidak bertemu kawan-kawannya. Jadi wajar saja kalau dia lebih sering bersama temannya. Begitu pikirnya.

Duh, dimana sih toiletnya? Ini gedung besar amat, pikir Sunghee. Tiba-tiba dia berhenti. Keringat dingin mengucuri lehernya. Jangan bilang aku kesasar.. batin Sunghee cemas. Dia mulai berjalan cepat mencari toilet. Sepanjang perjalanan, dia merutuki dirinya sendiri. Arrgh… harusnya aku menerima tawaran Jun oppa untuk mengantarku. Tapi kenapa aku malah pergi sendiri? Aish..pabo ya.. Kalau sudah gini gimana coba? Masa aku terse… Batin Sunghee terhenti ketika menatap pemandangan yang tidak mengenakkan di depannya. Eunhyuk sedang memeluk seorang gadis. Wajah Eunhyuk mengarah kepadanya jadi dia langsung tahu bahwa itu Eunhyuk. Sunghee terpaku. Eunhyuk membuka matanya dan tersentak ketika melihat Sunghee. Dia sontak melepaskan pelukannya. Gaeul terkejut dan berbalik. Sunghee menunduk gugup dan berjalan cepat melewati mereka. Namun Eunhyuk menahannya. Dia menarik Sunghee dan hampir memeluknya kalau Sunghee tidak menahannya. Tak sengaja, tangan Sunghee mendarat di dada Eunhyuk. Dia bisa merasakan debaran Eunhyuk. Tapi dia bingung. Untuk siapa debaran ini.

“Itu debaran untukmu, Sunghee ya..”  bisik Eunhyuk pelan seakan menjawab pikiran Sunghee. Gadis itu terdiam. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menghalau air matanya. Orang yang sempat dicintainya.. bahkan masih, orang yang tak pernah bisa ia lupakan, yang membuat kenangan indah, dan yang meninggalkannya ada di hadapannya.

“Mulai sekarang.. jangan berdebar untukku lagi. Mianhae, lupakan aku.” Sunghee melepaskan tangannya dari dada Eunhyuk dan pergi dengan cepat.

“Sunghee ya! Aku harap kau tidak lupa permohonan kita berdua!” seru Eunhyuk. Sunghee tetap berjalan dengan cepat. Eunhyuk masih terpaku menatap punggung Sunghee. Gaeul menunduk.

“Hyuk ah, aku pergi. Annyeong.” Gaeul langsung pergi dari tempat itu. Meninggalkan Eunhyuk yang bahkan masih menatap ke arah kepergian Sunghee. Tak menghiraukan perkataannya sedikit pun.

Sunghee sampai di toilet. Dia berdiri di depan wastafel. Menatap bayangannya di cermin. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia mengibaskan poni yang menutupi matanya. Permohonan kita berdua.. batin Sunghee sambil menatap nanar ke cermin.

FLASHBACK Sunghee’s POV

“Sunghee ya! Sunghee ya!” Eunhyuk berseru memanggilku. Aku yang sedang menyiapkan daging panggang menoleh pada Eunhyuk yang sedang meneropong bintang.

“Ada bintang jatuh! Cepaaaatt!!!” ucap Eunhyuk gemas. Aku langsung berlari menghampirinya.

“Cepat! Cepat! Ini!” Eunhyuk menyodorkan teleskop. Kami berdua mengintip bintang jatuh itu bersamaan.

“Make a wish,” bisik Eunhyuk.

Aku berharap cinta kami bisa bertahan selamanya, abadi dan tak akan musnah apapun alasannya.” Kami berucap bersamaan. Kami berpandangan satu sama lain dan tertawa.

“Oppa, kau mengikuti keinginanku!” seruku.

“Ani! Kau yang mengikutiku! Dulu aku mencintaimu duluan, lalu kau ikut-ikutan!” Eunhyuk membalas dengan gemas.

“Apa? Aku yang mencintaimu duluan! Enak saja!” Aku tertawa. Eunhyuk terkekeh.

“Dasar kau ini! Yang melihatmu duluan kan aku!”

“Ani, aku yang melihatmu duluan dan aku yang mencintaimu duluan!” ucapku.

“Tunggu Sunghee ya, bukankah.. kita bertemu bersamaan? Maksudku.. tak ada yang melihat duluan.” Eunhyuk berpikir. Aku ikut berpikir.

“Iya juga ya..” Kami tertawa.

“Oppa kau bodoh sekali,” ucapku di sela tawaku. Eunhyuk menyentil keningku gemas. Tapi masih tetap tertawa.

END OF FLASHBACK

Sunghee menangis di depan cermin. Dia memang masih mencintai Eunhyuk. Dia bahkan tidak bisa melupakan sedetik pun kebersamaannya saat bersama Eunhyuk. Sepertinya Junhyung hanya digunakan sebagai pelarian. Sunghee merasa bersalah. Sangat bersalah. Dia menengadahkan kepala dan menghela napas. Dia membasuh mukanya lagi. Dia tersenyum pahit. Sunghee lalu berjalan keluar toilet.

“Lupakan Eunhyuk…lupakan dia..lupakan…lupa…Kyaa!!!” Tiba-tiba seseorang menarik Sunghee ke suatu tempat. Sunghee berusaha memberontak dan berteriak namun tangan orang itu menutupi mulut Sunghee dan mencengkram lengannya dengan kuat. Dia menarik Sunghee ke depan mobil mewah berwarna hitam metalik. Lelaki lain membuka pintu mobil dan membantu mendorong paksa Sunghee untuk masuk ke dalam mobil. Lelaki yang membekap Sunghee langsung menutup mata Sunghee sehingga dia tidak tahu kemana dia akan dibawa pergi.

Sunghee didorong masuk ke suatu ruangan yang pengap. Sunghee kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tutup matanya langsung dibuka. Sunghee menatap para penculiknya. Wajahnya sangar-sangar. Ternyata ada 4 orang. Semuanya berbadan tegap. Dan banyak tato. Ruangan itu sangat menyeramkan. Di sekitarnya banyak pisau, golok, bahkan gergaji yang ditempelkan di magnet. Sunghee bergidik. Salah seorang lelaki membawa tali yang cukup besar dan langsung mengikatkannya ke tangan Sunghee sebelum dia sempat berkutik. Sunghee meringis kesakitan. Seorang laki-laki lagi menyeringai di sebelahnya. Dia melepaskan rokok dari mulutnya dan meniupkan asap dari mulut. Sunghee bergidik menatap pria itu. Pria itu mendekatkan rokoknya ke tangan Sunghee yang sedang diikat. Sunghee terbelalak dan berusaha menghindar. Tapi pria yang satu lagi semakin erat mencengkram tangan Sunghee. Akhirnya pria yang memegang rokok menempelkan rokoknya ke tangan Sunghee. Sunghee mengerang kesakitan.

“Apa yang kalian lakukan?! Siapa kalian?!!” Sunghee berseru lantang. Tapi masih terengah-engah karena menahan teriak. Keempat pria itu berdiri di hadapannya.

“Diamlah, nona manis. Kau seharusnya bersyukur bisa berada di sini.” Pria yang memegang rokok terkekeh. Sunghee menatapnya geram.

“Kenapa aku dibawa kesini?” tanya Sunghee.

“Tentu saja karena kami ingin uang! Mana nomor orang tuamu?!” bentak pria yang berdiri. Sunghee menggeleng.

“Orang tuaku tidak ada disini. Mereka ada diluar negeri. Percuma.” Pria yang memegang rokok lagi-lagi menempelkan rokoknya ke tangan Sunghee. Gadis itu meringis.

“Hentikan!” Sunghee berusaha menggerakkan tangannya tapi tidak bisa.

“Hei, kalau dia tidak bisa memberi kita uang.. sebaiknya kita melakukan sesuatu pada tubuhnya saja.” Pria yang daritadi diam tiba-tiba berbicara. Sunghee merinding. Yang lain menyeringai setuju. Pria yang membawa rokok melemparkan rokoknya dan menginjaknya. Dia menghampiri Sunghee dan mengelus pipi Sunghee. Sunghee berusaha bergerak. Tapi kepalanya ditahan pria yang mengusulkan untuk melakukan sesuatu pada tubuhnya.

“Usul yang bagus… aku mulai..” Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sunghee. Sunghee dapat mencium bau rokok dan alkohol dari nafasnya. Tiba-tiba pria itu berdiri.

“Lepaskan bajunya,” ucapnya dingin. Sunghee menganga. Ketiga lelaki itu mulai bergerak untuk membuka baju Sunghee ketika terdengar suara gaduh. Ternyata seseorang menabrakkan mobilnya ke pintu besi ruangan itu. Keempat pria itu terdiam. Sunghee menghela napas sedikit lega. Seseorang keluar dari mobil itu. Sunghee terkejut ketika dilihatnya Eunhyuk datang bersama Donghae. Mereka berdua langsung menghajar keempat pria itu. Tak lama kemudian Junhyung datang. Mereka berdua menghabisi keempat penculik itu. Tapi tiba-tiba Junhyung membenturkan pria yang hampir mencium leher Sunghee ke tembok. Dia lalu memukul kepala pria itu dengan batu besar di tangannya. Donghae berusaha menahannya tapi terlambat. Kepala pria itu terlanjur pecah. Seketika pria itu meninggal dunia. Ketika pria yang lain langsung berlari keluar ruangan.

“Aku akan melaporkanmu ke polisi!!” ucap salah satu dari mereka. Junhyung terpaku. Tangan Donghae gemetaran. Eunhyuk menghampiri Sunghee yang maish histeris dan memeluknya.

“Mianhae, Sunghee. Sekarang saja, tolong biarkan aku berdebar untukmu dan memelukmu. Aku takut.” Eunhyuk mengusap kepala Sunghee pelan. Sunghee menangis di pelukan Eunhyuk. Junhyung lemas. Batu di tangannya terlepas ke tanah. Donghae mundur beberapa langkah. Dia meringis menatap mayat si pria. Suasana hening. Hanya terdengar isakan Sunghee. Tiba-tiba polisi datang. Seorang polisi langsung menghampiri Junhyung dan memborgolnya. Beberapa langsung mengamankan barang bukti dan mayat si pria. Junhyung langsung diseret oleh polisi. Dia menatap Sunghee nanar.

“Sunghee ya…mianhaeyo…saranghae.” Sunghee tertegun.

“OPPA!! Oppa jangan pergi, oppa!!! OPPA!!!” suara Sunghee terdengar serak. Junhyung menggerakkan mulutnya. Sunghee menangkapnya sebagai: “mianhae”. Tangis Sunghee semakin keras. Dia ingin berlari mengejar Junhyung tapi ditahan oleh Eunhyuk. Sunghee berusaha memberontak tapi Eunhyuk memeluknya dari belakang. Sunghee akhirnya diam. Dia hanya bisa memanggil nama Junhyung. Donghae masih gemetar di tempatnya. Dia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Tubuh Sunghee melemas. Dia pun pingsan.

Sunghee membuka matanya. Tangannya terasa tak karuan. Dia melihat Donghae sedang duduk di depan TV mati. Tatapannya kosong. Sunghee menghela napas. Donghae menoleh ke arah Sunghee dan terkejut ketika melihat Sunghee sudah sadar. Dia langsung menghampiri Sunghee.

“Sunghee ya, gwaenchana?” tanyanya. Sunghee mengangguk.

“Oppa, berapa lama aku pingsan? Junhyung oppa dimana?” tanya Sunghee. Dia memijat kepalanya. Donghae terdiam.

“Kau pingsan dari kemarin. Masih pusing ya..” ucap Donghae lembut. Tapi dia tidak menjawab pertanyaan kedua.

“Oppa, Junhyung oppa dimana?” Sunghee mengulangi pertanyaannya. Donghae terlihat sedih.

“Dia..masih dalam tahap pemeriksaan minggu ini. Mau bagaimanapun..dia sudah membunuh orang.” Sunghee menghela napas mendengarnya.

“Mungkin ini maksudnya..” bisik Sunghee.

“Ne?” Donghae heran.

“Dia pernah bilang siapapun yang menyakitiku, akan mati ditangannya. Mati dengan tangannya sendiri. Dia sudah membuktikan ucapannya.” Sunghee mencoba untuk duduk, dan berhasil. Wajahnya terlihat sendu dan rambutnya berantakan. Donghae mendongak menatap Sunghee. Dia lalu duduk di sebelah Sunghee. Dia memegang kening Sunghee.

“Panas. Oppa ambilkan obat dulu ya.” Donghae berdiri tapi Sunghee menarik bajunya. Donghae duduk kembali. Pandangan Sunghee lurus kedepan.

“Hyuk oppa.. dimana?” tanyanya serak. Sunghee menatap Donghae dengan tatapan sedih. Donghae terenyuh.

“Jebal.. berutahu aku dimana Hyuk oppa. Aku ingin bertemu dengannya. Jebal..” Sunghee memohon.

“Dia ada di VRS Ent. Mau kesana?” Sunghee mengangguk.

“Ya sesudah minum obat dan panasmu turun.” Donghae beranjak pergi mencari kotak obat.

“Aish..oppa.. pasti lama! Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga.” Donghae hanya tersenyum. Sunghee mendengus kesal. Tiba-tiba pintu dibuka dan seseorang masuk. Sunghee menoleh ke pintu. Jantungnya berdebar ketika dilihatnya Eunhyuk masuk dan melepas topi. Senyum Eunhyuk mengembang ketika melihat Sunghee sudah sadar.

“Sudah sadar, Sunghee ah?” sapa Eunhyuk. Sunghee mengangguk. Eunhyuk tersenyum kaku. Donghae menyeringai melihat kami berdua yang kikuk.

“Ya! kalian berdua! Sudah pernah pacaran kok jadi canggung sih?” Entah salah lihat atau apa, Sunghee berpikir bahwa wajah Eunhyuk merona meski sedikit. Sunghee langsung menutupi wajahnya dengan bantal.

“Sudahlah oppa, cepat bawakan obatnya!” seru Sunghee dari balik bantal. Donghae tertawa. Eunhyuk hanya terkekeh pelan.

“Ya! Hyukkie, kau tahu tidak? Tadi Sunghee menanyakan ka…”

“OPPA CEPAT BAWA SINI OBATNYA!!!” Sunghee melepaskan bantalnya dan terlihatlah wajahnya yang kuyu, namun dengan rona merah menghiasi pipinya.

“Tadi dia menanyakan..”

“Oppa!”

“Menanyakan kamu dimana, pengen ketemu saat ini juga.”

“Oppa!!!!!” Sunghee kesal. Donghae tertawa puas.

“Aku pingsan lagi nih!” ancam Sunghee. Donghae makin tertawa. Sunghee mendengus kesal dan kembali tiduran di sofa. Dia menutup wajah dengan bantal.

“Hyuk oppa..” Sunghee menurunkan bantalnya.

“Hm?” tanya Hyuk. Sunghee terdiam sebentar.

“Jangan percaya kata-kata Hae oppa. Hae oppa, pikirkan saja Chaerin-mu!” Donghae terdiam.

“Sunghee ya, kau baru pingsan sehari sudah ketinggalan banyak berita ya? Chaerin kemarin sudah jadian dengan Yunho,” celetuk Eunhyuk.

“Mworago? Jinja? Aigo..mianhae Hae oppa.” Sunghee terlihat bersalah. Donghae tersenyum menenangkan.

“Ani. gwaenchana. Nah sebagai gantinya begini saja. Kau yang jadi pacarku.” Sunghee dan Eunhyuk terentak bersamaan.

“Jangan bercanda, oppa.”

“Aku serius.” Donghae tersenyum. Sunhee terlihat berpikir. Ia melirik Eunhyuk yang sedang menunduk sambil memegang cangkir. Cowok itu bersandar pada dinding.

“Aku…”

“Aku serius, Sunghee ya. Aku serius sedang mengerjaimu sekarang.” ucap Donghae sambil menahan tawa. Melihat ekspresi Sunghee yang polos, Donghae langsung terbahak. Eunhyuk tertawa. Dan Sunghee sempat melihat, Eunhyuk menarik napas lega.

3 thoughts on “[FF] Take care of my girlfriend part 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s