[FF] Not Her Fault

Title: Not Her Fault

Casts: Hyukjae, Donghae, Kyuhyun, ocs.

Genre: Tragedy, Angst

Rating: PG-15

Note: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Tidak ada niatan untuk menimbulkan kesan-kesan buruk terhadap karakter di dalam cerita ini. Cerita ini 100% tidak nyata. Buah dari imajinasi liar sang penulis.

= = =

“Hyuk, kemarin aku lihat Sunghee pergi dengan Kibum ke club malam..”

“Hyuk ah, seminggu yang lalu aku memergoki Sunghee sedang dicium cowok lain di café..”

“Hey Hyuk, tahu tidak? Sunghee menjadi cewek bayarannya Heechul..”

“Hyukjae, putuskan saja Sunghee. Selama ini kami selalu melihatnya pergi dengan lelaki lain. Terakhir ia janjian dengan Hankyung di Sungai Han. Mereka berangkulan mesra..”

Sudah cukup! Aku muak! Sunghee ini, Sunghee begitu, aku sudah muak dengannya!

Mereka pikir aku menjadikan Sunghee sebagai pacarku adalah karena aku mencintainya? Salah! Itu karena aku taruhan dengan Donghae dan Kyuhyun. Kyuhyun akan memberikan PSP kesayangannya dan rumahnya di Mokpo. Sedangkan Donghae akan memberikan laptop dan mobilnya jika aku berhasil memacari Sunghee, selama enam bulan.

“Aku tidak mau barang bekas seperti dia,” ujarku saat disuruh memacari Sunghee. Kyuhyun dan Donghae berpandangan.

“Kalau begitu kami yang menang. Berikan kartu kreditmu.” Kyuhyun menadahkan tangannya.

“Arasseo!” ujarku kesal. Akhirnya aku menerima taruhan itu.

 

Sejak awal, aku sudah curiga. Sunghee bukan gadis baik-baik. Jika aku mengajaknya kencan malam-malam, dia selalu menolak. Dia bilang dia sibuk. Suara bising dimana-mana. Seperti di club malam.

Suatu hari lagi aku mengajaknya berkencan. Siang-siang. Namun dia tetap menolak. Dia selalu berkata sedang sibuk. Sampai akhirnya aku tidak tahan dan menemuinya sepulang kuliah. Tapi kata teman-temannya ia sudah pulang. Aku cari dia ke seluruh Seoul. Dan aku menemukannya sedang berpelukan dengan seorang laki-laki di café. Aku sudah muak!

Kutarik ia dengan kasar. Tak peduli rintihannya. Aku membawanya ke taman depan café. Tak peduli tatapan kasihan yang ditujukan padanya dan tatapan marah yang ditujukan padaku.

Kulepas tangannya dengan hentakan yang keras. Sunghee limbung dan nyaris terjatuh tapi dia bisa menjaga keseimbangan. Aku langsung menyentuh kedua pipinya dan menghadapkannya padaku dengan kasar. Sunghee meringis kesakitan.

“Kau selalu menolak ajakan kencanku dan malah pergi dengan lelaki lain?! Kau sadar siapa pacarmu, hah?!” bentakku.

“Ma-maaf…yang aku cinta hanya kau, Hyukjae. Tadi itu Sungmin oppa…dia..”

“Persetan dengan lelaki-lelaki itu! Mulai sekarang kau tidak boleh menemui lelaki selain aku! Termasuk Appa-mu!”

“Apa?! Kenapa?! Aku berhak untuk hidup! Aku berhak untuk bersosialisasi dengan orang lain! Kau bukan Tuhan-ku! Punya hak apa kau mengatur hidupku?!” Sunghee membentak balik. Aku tidak tahan. Kutampar wajah putihnya.

“Jika kau benci aku, kita putus saja!” DEG. Jangan, belum enam bulan. Aku tidak boleh kalah taruhan. Terpaksa aku meminta maaf.

“Maafkan aku, Sunghee..aku terlalu cemburu. Tentu saja kau boleh bertemu Appa-mu, kau boleh berteman dengan mereka..lelaki-lelaki itu..” Aku menariknya ke dalam pelukanku. Dia menangis. Aku tahu ia tersiksa. Tapi aku terlampau membencinya.

Karena Sunghee, sepupuku bunuh diri. Ia begitu mencintai Sunghee, tapi gadis itu malah menolaknya. Gadis itu berpelukan dengan lelaki lain, di depan mata sepupuku. Aku tidak terima. Ia harus mati. Menggantikan nyawa sepupuku yang terbuang sia-sia.

= = =

Enam hari lagi tepat enam  bulan aku dan Sunghee bersama. Ingin sekali aku cepat-cepat mengakhiri semua ini. aku ingin cepat-cepat mendapatkan harta mereka. Si duo bodoh, Kyuhyun dan Donghae. Dan aku ingin sekali cepat-cepat membalaskan dendam.

Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa aku akan membalas dendam pada Sunghee. Tapi ketika Kyuhyun dan Donghae menawariku taruhan itu, sesuatu langsung terlintas di otakku. Kenapa tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk balas dendam?

Nyaris setiap hari aku memarahinya, membentaknya. Dan hampir setiap minggu ia menangis karenaku. Tapi ia tetap sabar selama ini. Ia hanya tersenyum. Hanya menurut pada apa yang kusuruh. Mengiyakan apa yang kukatakan. Tapi kemarin Sunghee benar-benar berbeda. Dia berani membentakku. Dia berani meminta putus. Apa Sunghee sudah jenuh denganku?

Tentu saja, Lee Hyukjae! Enam bulan disiksa dengan orang yang kau cintai itu benar-benar menyiksa fisik dan batin!

Sering aku ditelepon Appa Sunghee, memintaku datang ke rumahnya karena Sunghee tidak mau makan berhari-hari hanya karena melihatku dipukuli geng berandalan dan dia tidak bisa membantu. Aku menganggapnya bodoh. Saat di rumah sepi, aku membentaknya lagi.

“Hanya karena aku dipukuli kau tidak mau makan?! Apa yang ada di otakmu?! Dasar wanita jalang yang bodoh!”

“Di otakku hanya ada kau! Berhari-hari aku mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif! Berhari-hari aku bertanya pada temanmu tapi tak ada yang tahu kau dimana! Aku sampai mengunjungi rumahmu dan mereka berkata tidak tahu! Apa yang ada di otakmu, Hyukjae? Aku bahkan mengira kau kelaparan di luar sana hingga aku tidak mau makan sebelum kau membari kabar!” PLAAK..kutampar lagi wajahnya. Mau bagaimanapun, aku masih membenci gadis di hadapanku itu.

“Aku ada di villa milik pamanku! Aku berpesta dan tidak pernah merasa kelaparan! Kau puas? Sekarang makan makananmu! Jika kau tidak mau aku dimarahi Appa-mu.”

Sunghee menurut lagi. Dia memang bodoh.

Donghae sering berkata padaku bahwa Sunghee mencintaiku. Aku tahu. Tapi aku tidak akan menerima cintanya sampai kapanpun. Aku hanya berniat balas dendam dan memenangkan taruhan itu.

“Kau keterlaluan, Hyuk..jika aku jadi Sunghee, aku tidak akan kuat dan lari darimu saat itu juga. Tapi aku kagum dengan gadis itu. Dia kuat berada di sisimu.”

“Kau tidak tahu apa yang Sunghee pikirkan, Donghae! Air matanya palsu! Hatinya hitam seperti oli! Kotor! Tampilan luar memang baik seperti malaikat, tapi dalamnya. Sangat kotor, Hae.”

“Hyukjae, buka matamu! Sunghee begitu baik terhadapmu! Dia setia denganmu!”

“Setia denganku? Hah! Kau lihat, Donghae! Lihat sekitar! Dia selalu bergaul dengan namja lain!”

“Apa kau berusaha mengatakan bahwa kau cemburu?” Kyuhyun ikut bicara. Aku menggeleng kuat-kuat.

“Mana mungkin aku cemburu?! Tidak akan!”

“Aku menyerah! Persetan dengan taruhan itu! Ambil saja semua hartaku, Hyuk! Ambil! Aku pergi!”

“Mau kemana kau?” seru Kyuhyun.

“Aku akan melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang pacar. Dan Sunghee akan menerima perlakuan yang pantas dariku!”

“Donghae!”

Aku menggeleng kuat. Kejadian tadi siang masih terpatri di otakku. Sekarang kejadian itu terulang-ulang lagi seperti kaset rusak. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Ada apa dengan Donghae? Cowok itu tiba-tiba merasa kasihan dengan Sunghee? Tunggu saja, Donghae pasti dicampakkan lagi. Percaya padaku.

= = =

“Akhir-akhir ini aku jarang melihat Sunghee…dia kemana ya?” Aku mendengar desas-desus di kampus. Katanya, Donghae dan Sunghee sudah tidak pergi ke kampus lagi sejak terakhir aku bertemu dengan Donghae. Sejak Donghae berkata bahwa ia akan melakukan sesuatu yang pantas untuk Sunghee.

“Jika kau tidak bertemu dengan Sunghee sampai tanggal 4 April nanti, kau kalah taruhan.” Kyuhyun memanas-manasi. Aku mengepalkan tangan dengan kesal.

“Arayo! Sekarang aku tinggal mencari dimana Sunghee berada. Dia masih berstatus sebagai pacarku!”

“Tidak jika tak ada bukti. Aku kan tidak tahu jika tak kau bawa Sunghee ke hadapanku dan mengenalkannya sebagai pacarmu.”

“Arasseo, Cho Kyuhyun!” ujarku gemas. Apa Kyuhyun tidak mengerti bahwa aku khawatir? Apa? Khawatir? Ah bukan, bahwa aku takut Sunghee memutuskanku tiba-tiba dan aku akan kehilangan kekayaanku?  Dia tidak mengerti karena dia tidak berada di posisiku sekarang!

“Itu Donghae..” Kyuhyun menatap ke suatu arah. Aku mengikuti arah pandangnya. Benar. Donghae sedang berjalan cepat menuju ke gedung sastra. Dia memakai kaca mata bening. Mungkin menyamar? Aku tidak peduli dan segera berlari ke arahnya. Ketika sudah dekat, aku menarik tangannya, menghadapkannya padaku.

“Mau apa kau?” tanyanya dingin. Ia membetulkan letak kacamatanya yang agak miring karena hentakanku.

“Yang seharusnya bertanya adalah aku. Mau apa kau membawa Sunghee pergi? Mau apa kau berhari-hari tidak masuk kampus? Mau menyandera Sunghee agar aku tidak memenangkan taruhan? Rendah sekali kau..” desisku. Donghae melepaskan tangannya dan menatapku marah.

“Apa kau tidak tahu bahwa selama ini Sunghee mencintaimu dengan tulus?! Apa kau tidak tahu bahwa selama ini Sunghee ingin mewujudkan apa yang kau inginkan?! Sunghee sudah cukup menderita dan kau malah menambah penderitaannya! Sunghee sakit! Ia menginap di rumahku!” seru Donghae. Beberapa mahasiswa menatap ke arah kami dengan heran. Aku melayangkan tanganku di udara, hendak memukul Donghae ketika sebuah tangan kekar menghentikanku.

“Geumanhae. Tak ada gunanya saling pukul.” Kyuhyun menurunkan tanganku. Aku mendengus kesal.

“Donghae Hyung, kenapa kau membawa Sunghee?”

“Agar dia bahagia! Aku memperlakukannya dengan baik! Tak seperti si bangsat itu!” Donghae menunjuk mukaku. Aku menepis tangannya.

“Tapi dia masih pacarku!”

“Hanya demi taruhan!” Donghae menatapku jijik. “Rendah sekali kau..” Dia mendengus dan berbalik pergi. Aku mengepalkan tangan marah. Aku tidak mau tahu. Lee Donghae harus menderita karena merebut Sunghee dariku! Harus!

“Hyuk Hyung, hentikan saja permainan ini. Batas waktu lusa dan Sunghee sudah sakit. Lagipula aku juga sudah merasa kasihan padanya.”

“Dia bukan orang yang pantas untuk dikasihani!” seruku dan berlalu pergi. Kutinggalkan Kyuhyun di belakang.

Kenapa dua orang itu malah mengalah? Kemana Kyuhyun dan Donghae yang biasanya semangat jika ada taruhan? Kenapa sekarang mereka malah membiarkanku menang? Kemana Kyuhyun yang tidak mau kalah dan Donghae yang keras kepala?

“Mereka berdua payah!”

= = =

Kyuhyun terdiam di tempatnya berdiri. Dia menatap punggung sahabatnya dengan iba.

“Hyukjae Hyung, aku mengalah karena aku tahu siapa Sunghee. Dia orang baik, Hyung. Akulah yang jahat, telah mempengaruhimu.”

Kyuhyun menghela napasnya. Ia sudah tidak peduli dengan taruhan tersebut.

“Jika PSP-ku melayang, aku masih bisa membeli baru. Rumah di Mokpo atau di Daegu atau di Busan, ambil saja. Aku tidak peduli.”

= = =

Donghae keluar dari gedung sastra. Ini kesempatan emas bagiku. Akan kukorek setiap informasi dari mulutnya.

Donghae berjalan menunduk. Aku melihat sekeliling. Sepi. Dengan sekali gerakan kutarik Donghae dari tempat itu.

“Yah! Hyukjae!” Donghae memprotes. Tapi aku tak peduli. Cengkeraman tanganku lebih kuat darinya. Dia tidak bisa kabur lagi. Dia harus menjelaskan semuanya.

Aku melepaskannya di sebuah gudang belakang kampus yang sudah tidak dipakai. Aku langsung menarik kerahnya kasar. Dia hanya diam.

“Kau apakan Sunghee?” desisku.

“Aku hanya membuatkannya makanan setiap hari…menyiapkan air untuk mandinya…menemaninya setiap saat…mengajaknya berkencan…membantu pekerjaannya..yah, hanya melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pacar.” Donghae membalas dengan nada sarkastis.

“Tapi ia pacarku!”

“Tidak lagi. Mulai sekarang, Sunghee bukan pacarmu lagi. Ia pacarku.”

BUGH…aku meninju wajahnya. Sangat keras hingga darh segar mengalir dari ujung mulut seorang Lee Donghae.

“Pukul saja aku, Hyuk…pukul saja.” Donghae bangkit berdiri. Tapi baru setengah jalan, aku menedang punggungnya. Lee Donghae tersungkur lagi. Ia merintih kesakitan. Tapi kemudian ia tertawa. Dengan sekali gerakan ia bangkit dan menendang perutku. Aku tersungkur. Dengan cepat, ia menarik kerahku dan memukul wajahku berkali-kali hingga rasanya seluruh darahku keluar dari hidung dan bibir.

“Minta ampun?” tanya Donghae. Aku menggeleng. Aku menendang dadanya hingga ia terjatuh. Aku menginjak perutnya dan membungkuk menatap matanya.

“Kau kemanakan Sunghee?”

“Di rumahku…di Mokpo..”

“Kenapa kau bawa ia kesana, hah?!” Aku menendang kakinya. Donghae meringis kesakitan. Kakinya menendang kakiku dan kini ia yang menguasai perkelahian. Aku terjatuh dengan posisi terlentang dan Donghae berada di atas tubuhku. Ia mencekik leherku. Aku mencengkeram tangan Donghae. Tapi entah kenapa tanganku tak cukup kuat untuk menyingkirkan tangannya. Tenaga Donghae menjadi lebih besar karena ia marah.

“Karena di sana tempat yang aman! Tempat ia bisa leluasa bekerja! Hanya demi apa?! Hadiah ulang tahunmu!” Aku tertegun sejenak. Melihatku yang diam, Donghae tersenyum getir.

“Siang dan malam Sunghee bekerja…dia bekerja untuk membelikanmu laptop! Laptop untuk menggantikan laptopmu yang kurusakkan!” Tangan Donghae mencengkeram leherku lebih kuat. Aku terbatuk kehabisan napas.

“Itu sebabnya aku mundur…aku membantunya. Karena..hell, itu bukan salahnya! Itu salahku! Aku yang merusakkan laptopmu kenapa ia yang harus menggantikannya?!”

Aku masih diam. Ingatan-ingatan tentang Sunghee berputar di kepalaku.

“Sunghee tidak pernah selingkuh…laki-laki yang mencium kening Sunghee itu..adalah…”

BRAAAK..pintu terbuka lebar dan terlihatlah Kyuhyun berdiri di sana. Dia terperangah sejenak sebelum akhirnya berlari dan menarik Donghae dari atas tubuhku. Aku megap-megap berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

“Kalian ini apa-apaan?! Sudah kubilang adu pukul tidak akan menyelesaikan masalah!” bentaknya. Kyuhyun terengah-engah. Ia tampak sangat marah.

“Aku tak percaya kalian hanyalah dua anak kecil! Pikiran kalian belum dewasa, Hyungdeul. Kini..ya Tuhan, Hyukjae Hyung lihat hidung dan bibirmu! Sepertinya seluruh darahmu keluar dari sana. Dan Donghae Hyung! Kau harus segera pergi ke rumah sakit jika tidak mau meninggal dengan cepat! Perutmu kenapa?”

“Diam, Kyu. Kau tidak usah ikut campur..” Aku mencoba berdiri. Tapi aku ambruk kembali. Kyuhyun hanya melirikku sinis. Dia tak berinisiatif untuk membantuku berdiri.

“Tidak usah ikut campur katamu? Aku harus. Karena ini bukan salah kalian saja. Ini adalah salahku,” kata Kyuhyun. Aku dan Donghae berpandangan. Kyuhyun menunduk. Kemudian ia berlutut.

“Aku yang memprovokasi Donghae Hyung untuk mengadakan taruhan..aku yang…menyebarkan gossip tentang Sunghee..” Kyuhyun berkata dengan sangat pelan. Tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Gosip apa?” tanya Donghae.

“Gosip bahwa Sunghee menjual diri.” Kyuhyun menengadahkan kepalanya. Aku bisa melihat dengan jelas matanya yang merah.

“Aku sempat membenci Sunghee. Karena dia tidak mau diajak kencan denganku. Dia tidak mau didekati. Itu sebabnya aku marah padanya dan mengadakan taruhan ini. Aku selalu mengatakan bahwa aku mencintainya. Tapi ia selalu menolakku.

Aku senang ketika Hyukjae Hyung mau menerima taruhan ini. Aku sempat berpikir rencanaku berhasil, Sunghee akan tersiksa karena menolakku.

Tapi…sekarang sudahi saja semuanya. Aku…sudah merasa bersalah..” Kyuhyun menatapku. Aku memalingkan wajah dan beranjak berdiri. Kulupakan rasa sakit di perutku dan wajahku. Aku menatap mereka berdua tajam.

“Kalian telah melakukan dosa besar karena mencintai Sunghee. Sunghee pasti membujuk kalian. Sunghee pasti mempengaruhi kalian. Andwae…aku tidak akan terpengaruh. Aku akan terus membalas dendam!” Aku berlari keluar. Tak peduli panggilan-panggilan mereka. Aku tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun. Kebencianku pada Sunghee sudah memuncak! Untuk apa dia mempengaruhi kedua sahabatku? Dasar wanita jalang!

= = =

4 April. Inilah hari yang paling kutunggu selama enam bulan terakhir. Bukan karena ini hari ulang tahunku. Tapi karena hari ini, Lee Sunghee akan mati ditanganku. Dan aku akan memenangkan taruhan itu! Hahahahaha kau hebat, Lee Hyukjae.

Aku mengendap-endap ke belakang rumah Donghae. Rumah ini sepi. Hm…sebuah kamar masih menyala lampunya. Aku mendekati kamar itu. Sebuah siluet seorang gadis tertangkap oleh kedua mataku. Sepertinya ini kamar Sunghee, karena aku tahu Donghae tidak punya saudara perempuan. Ibunya tak mungkin semolek ini.

Sepertinya gadis itu sedang berganti baju. Terlihat tangannya yang terangkat ke atas dan melemparkan kausnya ke sembarang arah. Lalu terlihat tangan gadis itu sedang bergerak-gerak beraturan ke arah lehernya. Seperti sedang mengipas. Aku mengakui bahwa malam ini memang panas, tak seperti biasa.

Gadis itu tampaknya tak menyadari kehadiranku. Baik, akan kubuat ia menyadarinya.

Kubuka jendela itu. Tak terkunci. Bagus. Aku melompat naik. Sunghee, gadis itu, menatap terkejut ke arahku. Tapi kemudian tatapannya berubah gembira.

“Hyuk?! Oh, aku merindukanmu!” ucapnya tertahan. Sepertinya takut orang lain mendengarnya. Aku hanya tersenyum tipis. Hm…Sunghee hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek 15 cm di atas lutut. Ia menggelung rambutnya sehingga terlihat lehernya yang jenjang dan basah.

“Mau menggodaku?” sinisku. Sunghee tersentak.

“Apa maksudmu? Aku tidak tahu kau akan kemari! Mana mungkin aku mau menggodamu?!” Sunghee berjalan menuju gantungan jaket dan meraih sebuah jaket baseball. Tapi aku menghalanginya. Aku membuang jaket itu menjauh dan menarik Sunghee ke arah tempat tidur. Aku menjatuhkannya dan menindihnya. Aku melumat bibirnya yang basah. Rasa stroberi menyapa lidahku. Aku melirik ke meja, ada susu stroberi yang tersisa setengah.

“H-Hyuk! Apa yang kau lakukan?!” pekiknya tertahan. Aku terus mengulum bibirnya karena rasanya lezat. Susu stroberi adalah minuman kesukaanku.

“Aku hanya melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh kekasih,” ujarku mengkopi kata-kata Donghae.

“Ta-tapi..ini tidak benar..” Sunghee berusaha melepaskan diri. Tapi aku mencengkeram kedua tangannya.

“Kau sudah biasa melakukan ini dengan lelaki lain, bukan?” bisikku di telinga Sunghee. Gadis itu tersentak. Ia lalu mendorongku menjauh.

“Aku tidak pernah melakukan hal keji seperti ini!”

“Haha. Jangan munafik, Sunghee. Aku tahu akal bulusmu!”

“Ka-kau bicara apa?!”

“Jangan pura-pura tolol! Aku tahu semuanya! Kau wanita jalang yang membuat sepupuku bunuh diri!”

Sunghee tersentak. Ia menatapku kaget.

“Aku…aku menyesal dengan kematian sepupumu..tapi..bisa kujelaskan..”

“Aku tak butuh penjelasan apapun lagi! Aku hanya ingin membalaskan dendam sepupuku! Kau tahu? Setelah ia bunuh diri, ayahnya masuk penjara karena mabuk dan tabrak lari, dan ibunya masuk rumah sakit jiwa! Itu semua karena kau!”

“Aku..aku minta maaf..tapi aku tidak serendah itu! Aku bukan perempuan murahan seperti yang ada di otakmu!”

“Kalau begitu kenapa minta maaf? Kau salah? Tidak.” Aku mengatakannya dengan nada mengejek. Sunghee mulai menitikkan air mata.

“Aku benar-benar menyesal! Seandainya tahu bahwa ia akan bunuh diri, aku tidak akan menolaknya!”

“Jika kau tidak tahu ia akan bunuh diri, kau akan menolaknya dan langsung berpelukan dengan lelaki lain. Begitu?”

“Aku bisa jelaskan! Lelaki itu..”

“Orang yang membayarmu pastinya. Sudah, aku tidak mau banyak bicara denganmu! Perutku mual hanya mendengar suaramu! Aku akan menghabisi nyawamu dengan cepat!” Aku membekap Sunghee dengan sapu tangan yang sudah kuberi racun sebelumnya. Sunghee pingsan seketika. Aku menggendong tubuhnya ke sebuah gudang di belakang rumah Donghae.

Aku melemparkan tubuhnya dan meraih kursi di pojok ruangan. Aku meraih tali tambang dan mengangkat tubuh Sunghee. Aku mendudukkan tubuhnya ke kursi dan mengunci kedua tangan dan kakinya. Aku menampar Sunghee dengan sangat keras. Dia terbangun. Dengan darah di ujung bibirnya yang baru saja kulumat itu.

“H-Hyukjae..aku bisa menjelaskan semuanya..” ucapnya. Aku menamparnya lagi. Sunghee terpana sejenak.

“Kenapa…kenapa kau membenciku?”

“Karena kau memang pantas dibenci!” Aku meraih senapan yang tergantung dengan manis di tembok gudang yang diberi paku. Sepertinya ini senapan untuk berburu rusa dan sebagainya. Rumah Donghae yang ini memang dekat dengan hutan dulunya. Sekarang hutan itu semakin menipis. Tapi beberapa masih ada pepohonan yang melindungi tanah.

“Kau…mau apa?” Sunghee menatapku ngeri. Aku mengambil botol wine yang sudah kusiapkan sebelumnya. Aku meneguk isinya. Aku mengalungkan tali senapan dan mendekat ke arah Sunghee. Aku memegang ujung mulutnya dan memaksanya terbuka. Sunghee menjerit tertahan. Aku segera memasukkan wine ke mulut Sunghee.

“Enak, Sayang?” tanyaku kejam. Sunghee meneteskan air matanya. Sebotol Vodka telah meluncur ke lambungnya. Sunghee terbatuk.

“Hmm…habis tak tersisa. Lalu…aku harus menyirammu dengan apa?” Aku melihat sekeliling. Ada sebuah drum. Aku melihat isinya.

“Hanya sekedar air..tak ada minyak tanahkah?” ucapku dengan nada jenaka. Sunghee menatapku takut. Tangan dan kakinya berontak minta dilepaskan.

“Kumohon lepaskan aku, Hyukjae…aku…aku minta maaf jika aku salah..” mohonnya. Aku meliriknya sekilas. Aku mengambil drum berisi air itu dan membuka tutupnya. Aku lalu mengguyurkan isinya ke tubuh Sunghee. Bajunya melekat ke tubuhnya karena basah. Sunghee terengah-engah. Air itu cukup membuatnya sesak.

“Ini yang dikatakan dengan tak ada rotan, akar pun jadi.” Aku mengangguk senang.

“Bagaimana, Sayang? Sudah dingin? Tadi kau kepanasan, kan?” Sunghee membalas dengan tatapan takut.

“Jangan menatapku seperti itu. Kemana tatapan penuh cintamu, Sayangku?” ejekku. Aku lalu mendengus. Aku membidik perut Sunghee dengan senapan itu. Sunghee menggeleng kuat.

“Jangan…jangan lakukan itu!” jerit Sunghee. Aku tersenyum dan menarik pelatuknya. Peluru itu bersarang ke perut Sunghee. Aku tersenyum puas. Aku lalu membidik kaki Sunghee dan menarik pelatuknya. Kaki Sunghee tertembak dengan sempurna.

“Oh..kau tak akan bisa kabur dariku..” Aku menatapnya dengan pandangan pura-pura iba. Sunghee meringis kesakitan. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit.

“Oh tidak tidak..ini tidak benar..” Aku menyentuh kedua ujung  mulut Sunghee, membukanya dengan tenaga penuh. Sunghee menangis kesakitan.

“Jangan gigit bibir bawahmu, Sayang..” Aku melemparkan senapan itu ke sembarang arah dan mengeluarkan pisau dari saku celana. Aku lalu melumat bibirnya sambil menusukkan pisau ke bagian perutnya yang lain. Sunghee memekik. Tapi suaranya tidak keluar karena aku membekapnya dengan bibirku.

“Owh..rasa stroberinya masih ada..” Aku menjilat bibirku. “Agar lebih terasa..aku akan mengoleskan wajahmu dengan selai stroberi..” Aku menggerakkan pisau itu dan menusuk pipi Sunghee. Aku membuat luka memanjang sepanjang sepuluh senti. Sunghee menjerit kesakitan. Dia memintaku untuk menghentikan semuanya. Tapi tak mempan. Aku sudah terlanjur benci dengannya.

Darah mengalir dari luka yang kubuat. Wajah cantiknya rusak. Aku tersenyum puas.

“Selai stroberi..” Aku mencolek darahnya dan menjilat jariku yang berdarah. Aku menatapnya sadis. Sunghee memejamkan matanya. Kepalanya sudah terkulai ke sana ke mari. Tapi ia tetap berusaha membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. Dia menatapku dengan tatapan penuh cintanya.

“Saranghae…nan niga jeongmal saranghae…Saengil…Saengil chukkae..” ucapnya serak. Aku mendengus.

“Saengil chukkae, hah? Aku tidak butuh. Lebih baik kau ucapkan, ‘Selamat Hyukjae, kau memenangkan taruhan ini’.”

“Taruhan..?”

“Iya. Kau pikir aku menjadikanmu pacar karena aku mencintaimu? Salah besar! Itu karena aku terlibat taruhan dengan Kyuhyun dan Donghae! Aku akan mendapatkan laptop baru, mobil baru, rumah baru, PSP baru!”

“A…apa..?” Sunghee menatapku tak percaya. “Donghae…?”

“Ya. Seorang bodoh yang mencintaimu..”

GLEGAAR…petir menyambar. Suara hujan deras menyusul. Aku melihat keluar jendela.

“Di otakku hanya ada kau! Berhari-hari aku mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif! Berhari-hari aku bertanya pada temanmu tapi tak ada yang tahu kau dimana! Aku sampai mengunjungi rumahmu dan mereka berkata tidak tahu! Apa yang ada di otakmu, Hyukjae? Aku bahkan mengira kau kelaparan di luar sana hingga aku tidak mau makan sebelum kau membari kabar!” Aku terkesiap. Apa ini? Kenapa suara Sunghee terngiang di kepalaku?

“Kau keterlaluan, Hyuk..jika aku jadi Sunghee, aku tidak akan kuat dan lari darimu saat itu juga. Tapi aku kagum dengan gadis itu. Dia kuat berada di sisimu.”

“Hyukjae, buka matamu! Sunghee begitu baik terhadapmu! Dia setia denganmu!” Donghae..

“Karena di sana tempat yang aman! Tempat ia bisa leluasa bekerja! Hanya demi apa?! Hadiah ulang tahunmu!” Ha-hadiah? Aku ingat…sama sekali tak ada yang memberiku hadiah ulang tahun saat ulang tahunku yang kemarin.

“Siang dan malam Sunghee bekerja…dia bekerja untuk membelikanmu laptop! Laptop untuk menggantikan laptopmu yang kurusakkan!”

“Aku yang memprovokasi Donghae Hyung untuk mengadakan taruhan..aku yang…menyebarkan gossip tentang Sunghee..” Kyuhyun..Kyuhyun yang mempengaruhiku! Sunghee tidak salah! Sunghee tidak salah!

Sepupuku bunuh diri karena Sunghee menolak cintanya. Lantas kenapa? Bukan Sunghee yang salah! Dia berhak menolak sepupuku jika ia tak menyukainya! Sepupukulah yang salah! Pikirannya terlalu pendek!

“Yang aku cinta hanya kau, Hyukjae..” Itulah suara Sunghee saat aku marah padanya. Aku cemburu. Iya aku cemburu! Aku mencintainya!

Kutolehkan kepalaku ke tempat Sunghee duduk. Tapi aku terkejut ketika melihat kursi itu kosong. Aku panik dan menatap sekeliling. Jendela gudang terbuka lebar. Sial! Sunghee melarikan diri ketika aku lengah!

 

Aku segera mengejarnya. Sunghee tidak akan jauh-jauh dari sini. Mana bisa berlari jauh dengan kaki yang terluka?

Aku melihat sekeliling. Kegelapan malam dan hujan deras mengaburkan pandanganku. Sial. Dimana dia? Dia terluka dengan parah! Air hujan akan menambah nyerinya! Aku segera berlari menuju mobilku dan menyalakan lampunya. Dan aku segera meluncur menembus kegelapan malam dan derasnya hujan.

Aku menelusuri jalanan kecil ini. Kanan kiriku terdapat pepohonan yang rindang. Mulutku tak henti mengucapkan kata maaf. Aku benar-benar menyesal. Kenapa aku baru menyadari bahwa aku mencintai Sunghee sekarang? Kenapa tidak sedari dulu? Ketika Sunghee masih sehat, masih memberiku tatapan penuh cintanya. Tidak seperti ini..

Aku menangkap sesosok perempuan berlari ke tengah jalan. Aku menginjak rem dan membanting setir. Tapi terlambat. Mobilku sudah menghantam sosok itu. Aku segera keluar dari mobil dan tertegun ketika melihat sosok yang terbaring tak bergerak.

“Sunghee!” Aku menyerukan namanya dan berlari mendekatinya. Aku mendekap tubuhnya. Sunghee memejamkan matanya. Aku mengguncang tubuhnya. Berharap masih ada nyawa di dalam tubuhnya.

“Hyukjae…”

“Ya, Sunghee?” Terima kasih, Tuhan! Ia masih hidup!

“Saranghae…yeongwonhi..”

“Na…na ddo saranghae!” Aku mulai terisak. Jangan…jangan ambil ia sekarang…aku akan memperbaiki kesalahanku. Jangan ambil ia..

“Saengil..chukkae..”

“Sunghee, mianhae! Mianhae!!!” Aku menangis meraung-raung. Aku memeluk tubuhnya yang sudah tak bernyawa. Aku benar-benar menyesal. Aku terlalu keras kepala. Aku terlalu bodoh. Aku menyalahkan orang lain..tapi akulah yang salah!

“Mianhae..”

Sirene polisi dan ambulans menghampiriku. Donghae berlari ke arahku. Dia terperangah melihat kondisi Sunghee.

“Apa yang kau lakukan, bajingan!” hardiknya. Seorang lelaki lain, berlari dari belakang Donghae. Ia berlutut di samping tubuh Sunghee. Di hadapanku. Lelaki itu menatap Sunghee tak percaya. Dia menatapku. Aku tertegun. Lelaki itu…lelaki yang berpelukan dengan Sunghee, lelaki yang mencium kening Sunghee..dia..siapa?

“Kau membunuh adikku!” jeritnya parau. Aku merasa seperti tertampar. Beberapa petugas medis mencoba untuk mengangkat tubuh Sunghee. Tapi aku menghalangi mereka.

“Jangan! Jangan pisahkan aku dengannya! Aku mencintainya! Aku ingin selalu bersama dengannya!! Tidaaak!!! Jangan pisahkan aku dengannya!!!!” jeritku percuma. Petugas itu mengambil jasad Sunghee dan memasukkannya ke mobil ambulans. Aku menangis meraung-raung. Bajuku penuh darah Sunghee. Darahnya luruh ke tanah. Aku mendekap bajuku erat.

“Jangan hapus darah Sunghee, hujan! Jangan!! Aku mencintainya!” Aku mencium bajuku yang dilumuri darah Sunghee seperti orang gila. Ya, aku gila. Aku gila karena Sunghee.

Tiba-tiba tanganku ditarik ke belakang. Aku merasakan benda dingin melingkar di kedua pergelangan tanganku. Dua orang polisi menarikku berdiri dengan paksa. Aku pasrah saja.

Dari sudut mataku, aku melihat Donghae menatapku dengan miris. Sungmin pergi dengan Sunghee ke rumah sakit. Dan sebuah mobil berhenti. Sinar lampunya menyorot langsung ke mataku. Aku memperhatikannya. Sesosok jangkung keluar dari mobil itu. Kyuhyun. Ia melihatku iba.

“Hyung, maaf a..” ucapannya terpotong dengan jeritanku. Aku menendang-nendang udara.

“Kau bajingan!! BAJINGAAAAN!!!” seruku. Kyuhyun hanya diam.

“AARGGHH!!! LEPASKAN AKU!!!”

“Hyuk..” Donghae menghampiriku. Aku menendangnya. Kyuhyun berlari ke arah Donghae dan membantunya berdiri. Polisi-polisi itu menyeretku ke mobil polisi. Salah satu polisi membuka pintunya lebar dan dua orang yang memegangiku melemparkan tubuhku ke dalam mobil polisi.

“Aku mencintaimu, Sunghee!!! HAHAHAHAHAHAHAHA!!!!”

= = =

“Semakin hari keadaannya malah semakin buruk,” ujar Choi Siwon, ketua kepolisian. Donghae dan Kyuhyun terdiam.

“Dia selalu bilang ‘maaf’, ‘aku mencintaimu, Sunghee’, dan tertawa-tawa sendiri. Dia sering teriak-teriak dan memukuli teman satu selnya. Karena itu ia dipisahkan.” Siwon membuka pintu besar dan mempersilakan Kyuhyun dan Donghae masuk. Di ujung ruangan itu, Hyukjae mendekam di sebuah penjara yang kecil. Kakinya diberi pemberat. Donghae nyaris menangis melihat kondisi sahabatnya. Kyuhyun meremas pundaknya, memberikan ketegaran meski ia sendiri merasa miris.

Hyukjae menatap ke arah mereka berdua. Rambutnya acak-acakan, bajunya lusuh, tubuhnya kurus kering.

“Hyuk ah..kenapa kau jadi begini..” Donghae menggeleng pelan.

“Maafkan aku..” gumam Kyuhyun.

“Sebaiknya ia dibawa ke rumah sakit jiwa. Tapi masa hukumannya tetap berlangsung sampai ia sembuh total.”

Tapi kapan ia akan sembuh?

“Baik. Terima kasih.” Kyuhyun membungkuk mewakili Donghae. Hyukjae dilepaskan. Beberapa polisi mengawalnya pergi ke rumah sakit jiwa.

Beberapa bulan kemudian..

Hyukjae menatap kosong ke luar jendela. Jendela itu tak bisa dibuka. Tak ada kunci. Hanya kaca saja. Tidak layak untuk disebut jendela. Ruangan itu pun benar-benar polos. Putih. Hanya ada tempat tidur yang dipasang permanen.

Kyuhyun dan Donghae membungkuk berterima kasih pada suster yang membawa mereka kemari. Donghae membuka pintu dan mereka berdua masuk.

“Annyeong, Hyukjae! Lihat, kami bawa apa?” Donghae berkata dengan riang. Dia menoleh ke Kyuhyun. Cowok itu meletakkan sebuah tas laptop di atas tempat tidur.

“Laptop hadiah dari Sunghee, lho!” seru Donghae riang. Kyuhyun membuka laptop tersebut. Hyukjae menoleh mendengar nama Sunghee disebutkan. Dia menatap layar laptop yang menampilkan fotonya dan foto Sunghee. Hyukjae menganga. Donghae dan Kyuhyun tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi di wajah Hyukjae.

“Sayangku..” gumam Hyukjae serak. Suaranya sudah lama tidak digunakan.

Donghae dan Kyuhyun berpandangan. Kemudian mereka bertukar senyum.

“Oke, kami pulang dulu ya, Hyukjae. Cepat sembuh.” Donghae dan Kyuhyun meninggalkan ruangan. Pintu tertutup rapat kembali. Hyukjae memeriksa tas laptop tersebut. Dia menggeledahnya seperti hendak menemukan sesuatu. Dan ia menemukannya. Sebuah pisau lipat kini berada di genggaman tangannya. Entah siapa yang meletakkannya di sana.

“Gomawo, Sunghee. Aku akan menyusulmu.” Hyukjae menatap pergelangan tangannya yang diborgol. Tatapannya beralih pada pisau lipat di tangan kananya. Hyukjae menyeringai. Dia lalu mengiris pergelangan tangannya, memutuskan urat nadinya.

Hyukjae terjatuh ke lantai. Kedua bola matanya terbelalak lebar.

THE END

About these ads

31 thoughts on “[FF] Not Her Fault

  1. jujur, aku nangis bacanya..
    sumpah kasian Sunghee :((

    Eunhyuknya juga huaaa :(

    tapi aku suka kata-katanya sama alur ceritanya.. :D
    FFnya keren :D

  2. GLEK
    gilaaaaaaaaaaaaa

    *stab the author*
    *ketularan psycho*

    aih, ini bener2 DAEBAK!
    penyesalan emang selalu terlambat ya?

  3. sungheeeeeeeeeeee~
    jeongmal mianhae~ aku dah baca lama tapi baru bisa comment skg hehehe/plakk *pngakuan dosa*
    nih ffnya antara tragis sama mengharukan
    si hyuk jahat amat disini ><
    niceeeeeeeeee ff
    ffnya keren n daebak!!!! buatku agak ngeri pas hyuk kyk psycho..

  4. YAAAAA AMPPPUUUNNN~
    saia SYOOOK bacanya loh, ternyata si hyukjae jadi seorang psycho gitu O_________O
    duh, gara-gara seorang cewek segala hal yang tidak diinginkan terjadi.

    er, btw… saia belom sapa authornya.
    gomen.. dateng-dateng langsung tendang (?)
    new reader ini hahaha~
    begitu baca, ffnya langsung bikin tegang. Jarang-jarang menjumpai ff kae gini, biasa saia baca ff yang panjang suka bosen di tengah, tapi di ff ini pedeskripsian klimaksnya dapet banget, alhasil saia malah bengong… scroll, scroll terus sampe ke bawah.

    beneran ga nyangka deh, tragic-nya se-tragic ini :)
    padahal saia kira, eh ceritanya udah abis pas si donghae bawa sunghee ke rumahnya di mokpo, tapi ternyata si hyuk masih belom bisa terima.
    bener-bener tragis, ga nyangka dia bakal ikut menyusul sung hee juga..
    DAEBAK deh pokoknya, author!~

    from: @azuracaelestis

    http://azura-caelestis.livejournal.com

  5. aduh, tragis bgt author, kyu evil bgt, tpi hyuk kejam amat, kok sampe tega gitu, lgian ngapain ngejar pake mobil, lari aj kan bisa!! sunghee setia smpai mati, ckckck, pengorbanan cintany rumit… T.T

    nice tragedy ff author, kena bgt, btw, salam kenal, sy reader bru^^

    • Annyeong! Salam kenal ^^ makasih udah mau baca dan komen ya…

      iya lagi pengen bkin yg tragis2 jadi aja…hehehe. Ya kan Sunghee-nya keburu jauh jadi pake mobil :p biar lbih jelas tanya deh ke hyuk kenapa dia ngejer pake mobil.

      hehe makasih banyak ya! jangan bosen mampir ke sini oke? ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s